Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam fenomena manajemen dunia perumah sakitan saat sekarang ini telah
menumbuhkan polemik baru dari segi filosofis, yaitu apakah rumah sakit dimungkinkan
dikelola secara bisnis dalam arti menjadi suatu instansi yang profit marking. Polemik ini
sudah tentu menyangkut landasan kenegaraan/falsafah kenegaraan kita, yaitu Pancasila
dan UUD 1945.
Meskipun demikian, dalam perkembangan dewasa ini, rumah sakit tidak mungkin
dikelola semata-mata social. Dalam keadaan sekarang seluruh rumah sakit swasta
menghadapi realita kehidupan yang semakin matrealistis. Rumah sakit harus membayar
teknologi kedokteran, listrik, air, dapur, dan bahkan imbalan jasa dokter dan paramedic
dengan mengikuti harga pasar.
Dalam keadaan inilah, dari segi manajemen rumah sakit seolah-olah ketinggalan
kereta. Tidak terlepas dalam hubungan ini adalah rumah sakit pemerintah dimana
meskipun seluruh biaya eksploitasi/personel/gedung dan lain sebagainya ditanggung oleh
pemerintah (secara teoretis), keperluan mengelola rumah sakit sesuai dengan prinsipprinsip manajemen adalah mutlak.
B. Batasan Masalah
Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam dunia perumahsakitan saat sekarang ini
banyak sekali masalah-masalah yang terjadi akibat ketidakmantapan struktur rumah sakit
itu sendiri, dan masih banyak lagi masalah yang menjadi sorotan.
Mengingat banyaknya masalah-masalah tersebut maka dalam penulisan makalah
ini hanya mengambil dari segi masalah manajemen dan kecenderungannya kemasa depan
akibat kesalahan manajemen.
C. Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini diharapkan dapat mengembangkan pengetahuan kepada
mahasiswa terutama mahasiswa keperawatan tentang perumahsakitan yang nantinya
dapat memperbaiki dan meningkatkan manajemen rumah sakit. Dan sejalan dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam peningkatan pelayanan kesehatan
kepada pasien dan masyarakat luas.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Manajemen Rumah Sakit


Rumah sakit sebagai salah satu subsistem pelayanan kesehatan menyelenggarakan dua
jenis pelayanan untuk masyarakat yaitu pelayanan kesehatan dan pelayanan administrasi.
Pelayanan kesehatan mencakup pelayanan medik, pelayanan penunjang medik, rehabilitasi
medik dan pelayanan perawatan. Pelayanan tersebut dilaksanakan melalui unit gawat darurat,
unit rawat jalan, dan unit rawat inap. Dalam perkembangannya pelayanan rumah sakit tidak
terlepas dari pembangunan ekonomi masyarakat. Perkembangan ini tercermin pada perubahan
fungsi klasik RS yang pada awalnya hanya memberikan pelayanan yang bersifat penyembuhan
(kuratif) terhadap pasien melalui rawat inap. Pelayangan RS kemudian bergeser karena kemajuan
ilmu pengetahuan khususnya ilmu kedokteran, peningkatan pendapatan dan pendidikan
masyarakat. Pelayanan kesehatan di RS saat ini tidak saja bersifat kuratif (penyembuhan), tetapi
juga bersifat pemulihan (rehabilitatif). Keduanya dilaksanakan secara terpadu melalui upaya
promosi kesehatan (promotif) dan pencegahan (preventif). Dengan demikian, sasaran pelayanan
kesehatan RS bukan hanya untuk individu pasien, tetapi juga berkembang untuk keluarga pasien
dan masyarakat umum. Fokus perhatiannya memang pasien yang datang atau yang dirawat
sebagai individu dan bagian dari keluarga. Atas dasar sikap seperti itu pelayanan kesehatan di RS
merupakan pelayanan kesehatan yang paripurna (komperhensif dan holistik)
Pelayanan RS di Indonesia saat ini sudah bersifat padat modal, padat karya, dan padat
teknologi dalam menghadapi persaingan global. Dalam hal rujukan medik, RS juga diandalkan
untuk memberikan pengayoman medik (pusat rujukan) untuk pusat-pusat pelayanan yang ada di
wilayah kerjanya. Sifat pengayoman sangat erat kaitannya dengan klasifikasi Rumah Sakit. Ada
empat jenis RS berdasarkan klasifikasi perumahsakitan di Indonesia yaitu kelas A, B, C, dan D.
Kelas RS yang lebih tinggi (A) mengayomi kelas Rumah Sakit yang lebih rendah dan
mempunyai pengayoman wilayah yang lebih luas. Pengayoman dilaksanakan melalui dua sistem
rujukan yaitu sistem rujukan kesehatan (berkaitan dengan upaya promotif dan preventif seperti
bantuan teknologi, bantuan sarana dan operasionalnya) dan rujukan medik (berkaitan dengan
pelayanan yang bersifat kuratif dan rehabilitatif)

Dan berubahnya RS kelas A dan B menjadi RS seadanya, bahkan ada yang menjadi Perusahaan
Jawatan (Perjan), menejemen klasik RS di Indonesia sudah pasti mengalami perubahan.
Perubahan dalam hal peningkatan profesionalisme staf, tersedianya peralatan yang lebih canggih,
dan lebih sempurnanya sistem administrasi RS yang akan bermanfaat untuk peningkatan mutu
pelayanan kesehatan RS

B. JENIS RUMAH SAKIT DI INDONESIA


Di Indonesia dikenal tiga jenis RS sesuai dengan kepemilikan, jenis pelayanan dan
kelasnya. Berdasarkan kepemilikannya, dibedakan tiga macam RS yaitu RS Pemerintah (RS
Pusat, RS Propinsi, RS Kabupaten), RS BUMN/ABRI, dan RS Swasta yang menggunakan dana
investasi dari sumbar dalam negeri (PMDN) dan sumber luar negeri (PMA). Jenis RS yang
kedua adalah RS Umum, RS Jiwa, RS Khusus (mata, paru, kusta, rehabilitasi, jantung, kanker,
dsb). Jenis RS yang ketiga adalah RS kelas A, kelas B (pendidikan dan non-pendidikan), RS
kelas C dan RS kelas D (Kepmenkes No.51 Menkes/SK/II/1979). Pemerintah sudah
meningkatkan status semua RS Kabupaten menjadi kelas C.
Kelas RS juga dibedakan berdasarkan jenis pelayanan yang tersedia. Pada RS kelas A
tersedia pelayanan spesialistik yang luas termasuk spesialistik. RS kelas B mempunyai pelayanan
minimal sebelas spesialistik dan subspesialistik terdaftar. RS kelas C mempunyai minimal empat
spesialistik dasar (bedah, penyakit dalam, kebidanan, dan anak). Di RS kelas D hanya terdapat
pelayanan medis dasar.
Keputusan Menteri Kesehatan No.134 Menkes/SK/IV/78 Th.1978 tentang susunan
organisasi dan tata kerja Rumah Sakit Umum di Indonesia antara lain
Pasal 1 : Rumah Sakit Umum adalah organisasi di lingkungan Departemen Kesehatan yang
berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Dirjen Yan Medik.
Pasal 2 : Rumah Sakit Umum mempunyai tugas melaksanakan pelayanan kesehatan (caring) dan
penyembuhan (curing) penderita serta pemulihan keadaan cacat badan dan jiwa (rehabilitation).

Pasal 3 : Untuk menyelenggarakan tugas tersebut RS mempunyai fungsi :


1. Melaksanakan usaha pelayanan medik
2. Melaksanakan usaha rehabilitasi medik
3. Usaha pencegahan komplikasi penyakit dan peningkatan pemulihan kesehatan
4. Melaksanakan usaha perawatan
5. Melaksanakan usaha pendidikan dan latihan medis dan paramedis
6. Melaksanakan sistem rujukan
7. Sebagai tempat penelitian
Pasal 4

1. RS Umum yang dimaksud dalam keputusan ini adalah RS kelas A, kelas B, kelas C.
2. RS Umum kelas A adalah RSU yang melaksanakan pelayanan kesehatan yang spesialistik
dan subspesialistik yang luas
3. RS Umum kelas B adalah RSU yang melaksanakan pelayanan kesehatan spesialistik
yang luas.
4. RS Umum kelas C adalah RSU yang melaksanakan pelayanan kesehatan spesialistik
paling sedikit empat spesialis dasar yaitu: Penyakit Dalam, Penyakit Bedah, Penyakit
Kebidanan/Kandungan, dan Kesehatan Anak.
C. SUSUNAN ORGANISASI RSU DI INDONESIA

Untuk Rumah Sakit Umum kelas A, susunan organisasinya diatur sesuai dengan SK
Menkes No. 543/VI/1994 adalah sebagai berikut.
1. Direktur

2. Wakil Direktur yang terdiri dari:

Wadir Pelayanan Medik dan Keperawatan

Wadir Penunjang Medik dan Instalasi

Wadir Umum dan Keuangan

Wadir komite Medik


Tiap-tiap Wadir diberikan tanggung jawab dan wewenang mengatur beberapa

bidang/bagian pelayanan dan keperawatan serta instalasi. Instalasi RS diberikan tugas untuk
menyiapkan fasilitas agar pelayanan medik dan keperawatan dapat terlaksana dengan baik.
Instalasi RS dipimpin oleh seorang kepala yang diberikan jabatan non struktural. Beberapa jenis
instalasi RS yang ada pada RS kelas A adalah instalasi rawat jalan, rawat darurat, rawat inap,
rawat intensif, bedah sentral, farmasi, patologi klinik, patologi anatomi, gizi, laboratorium,
perpustakaan, pemeliharaan sarana rumah sakit (PSRS), pemulasaran jenazah, sterilisasi sentral,
pengamanan dan ketertiban lingkungan, dan binatu.
Komite Medik (KM) juga diberikan jabatan nonstruktural yang fungsinya menghimpun
anggota yang terdiri dari para kepala Staf Medik Fungsional (SMF). KM diberikan dua tugas
utama yaitu menyusun standar pelayanan mediks dan memberikan pertimbangan kepada direktur
dalam hal:
1. Pembinaan, pengawasan dan penelitian mutu palayanan medis, hak-hak klinis khusus
lepada SMF, program pelayanan medis, pendidikan dan pelatihan (diklat), serta penelitian
dan pengembangan (litbang).
2. Pembinaan tenaga medis dan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan etika profesi.
Semua kepala SMF diangkat oleh Dirjen Yan. Medik Depkes RI berdasarkan usulan dari
Direktur RS. Dengan mengkaji struktur organisasi dan tugas-tugas pokok RS, dapat dibayangkan
bahwa manajemen sebuah RS hampir mirip dengan manajemen hotel. Yang berbeda, tujuan
mereka yang berkunjung dan jenis pelayanannya. Masyarakat yang berkunjung ke RS bertujuan

untuk memperoleh pelayanan medis karena kejadian sakit yang dideritanya, sedangkan mereka
yang berkunjung ke hotel adalah untuk bersenag-senang.
Pembentukan KM di RS sangat diperlukan untuk membantu tugas-tugas direktur RS
dalam menjaga mutu dan etika pelayanan RS. KM dibentuk berdasarkan SK Dirjen Yan. Medik
Depkes RI sesuai dengan usul Direktur RS. Masa kerja Wadir KM adalah tiga tahun. Di bawah
Wadir KM terdapat panitia infeksi nasokomial, panitia rekam medis, farmasi da terapi, audit
medik, dan etika.
SMF yang menggantikan UPF ( Unit Pelaksanaan Fungsional) terdiri dari dokter umum,
dokter gigi, dokter spesialis, dan dokter subspesialis. Mereka mempunyai tugas pokok
menegakkan diagnosis, memberikan pengobatan, pencegahan penyakit, peningkatan dan
pemulihan kesehatan, penyuluhan, pelatihan dan penelitian pengembangan pelayanan medis.
Untuk RS kelas A jumlah SMF yang dimiliki minimal 15 buah yakni(1) Bedah (2) Kesehatan
Anak (3) Kebidanan dan Penyakit Kandungan (4) Penyakit Dalam (5) Penyakit Saraf (6)
Penyakit Kulit dan Kelamin (7) THT (8) Gigi dan Mulut (9) Mata (10) Radiologi (11) Patologi
Klinik (12) Patologi Anatomi (13) Kedokteran Kehakiman (14) Rehabilitasi Medik (15)
Anestesi.
Masing-masing Wadir juga dilengkapi sekretariat khusus dan bidang-bidang yang dibagi
lagi menjadi subbagian dan seksi ( sesuai dengan SK Menkes No. 134). Susunan RSU kelas B
hampir sama dengan kelas A. Bedanya hanya terletak pada jumlah dan jenis-jenis masing-masing
SMF. Untuk RSU kelasB tidak ada subspesialisasinya.Susunan organisasi RS kelas C dan D
lebih sederhana jika dibandingkan dengan kelas A dab B. Di sini tidak ada wakil direktur, tetapi
dilengkapi dengan staf khusus yang mengurus administrasi. Kondisi ini berpengaruh pada jenis
pelayanan medis dan jumlah staf profesional (medis dan paramedis) yang dipekerjakan pada
tiap-tiap RS ini. Secara umum, jenis kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan juga akan
ikut menentukan peningkatan kelas sebuah RS di suatu wilayah, terutama yang berlokasi di ibu
kota provinsi.
.
D.PENERAPAN MANAJEMEN RUMAH SAKIT

Rumah sakit perlu menerapkan sistem manajemen yang berorientasi pada kepuasan
pelanggan. Untuk itu rumah sakit di Indonesia harus menciptakan kinerja yang unggul. Kinerja
yang unggul atau Performance Excellence merupakan salah satu faktor utama yang harus
diupayakan oleh setiap organisasi untuk memenangkan persaingan global, begitu juga oleh
perusahaan penyedia jasa pelayanan kesehatan.
Banyak cara yang dapat dilakukan oleh para pengelola rumah sakit untuk menciptakan
kinerja yang unggul diantaranya melalui pemberian pelayanan yang bagus serta tindakan medis
yang akurat dan mekanisme pengelolaan mutu tentunya.
Salah satu strategi yang dilakukan oleh pengelola rumah sakit swasta dalam
mempertahankan atau meningkatkan jumlah konsumen adalah pelayanan. Tuntutan untuk
mendapatkan pelayanan yang berkualitas dan nyaman semakin meningkat, sesuai dengan
meningkatnya kesadaran arti hidup sehat. Keadaan ini dipengaruhi oleh tingkat pendidikan,
sosial budaya dan sosial ekonomi masyarakat yang perlu mendapat perhatian dari pengelola
rumah sakit.
Untuk memenuhi tuntutan masyarakat tersebut, di setiap kota besar seperti Jakarta
banyak sekali usaha rumah sakit dengan kualitas pelayanan dan peralatan medis yang prima
dapat kita temukan di setiap sudut kota, sehingga masyarakat konsumen yang tadinya harus ke
luar negeri demi servis dan kualitas dokter yang prima, sekarang tidak perlu lagi ke luar negeri.
Dalam usaha peningkatan kualitas pelayanan terhadap konsumen, rumah sakit berusaha
untuk mempunyai tenaga dokter ahli yang tetap, sekaligus memperkerjakan dokter waktu dan
dokter kontrak. Bahkan di beberapa rumah sakit di kota besar seperti Jakarta dapat kita jumpai
pelayanan Unit Gawat Darurat (UGD) yang ditangani oleh dokter tetap maupun dokter kontrak.
Bahkan ada rumah sakit yang menyediakan tempat dan sarana lengkap seperti
laboratorium dengan tenaga analis, radiologi dan tempat perawatan yang serba lengkap.
Sedangkan untuk tenaga dokternya mereka mengambil dokter-dokter spesialis yang terkenal dan
pengelola rumah sakit menganggap dokter spesialis dan pasiennya sebagai customer mereka

Untuk menjaga agar dokter spesialis ternama tersebut tetap menjadi customer mereka,
maka pihak rumah sakit melakukan strategi sedemikian rupa. Diantaranya dengan menyediakan
peralatan medis yang dikehendaki oleh para dokter tersebut
Sedangkan untuk menghasilkan mekanisme pengelolaan mutu yang bagus, perusahaan
dalam hal ini rumah sakit perlu menerapkan metode pengukuran yang efektif untuk dapat
menganalisis dan menemukan dimensi mutu 0 yang perlu diperbaiki atau ditingkatkan untuk
mencapai mutu yang tinggi. Salah satu model pengukuran yang sudah dikenal luas dan terbukti
secara efektif membantu keberhasilan penerapan sistem manajemen mutu adalah sistem Malcolm
Baldrige National Quality Award. Malcolm Baldrige National Quality Awards (MBNQA)
merupakan sistem manajemen yang sangat efektif untuk menghasilkan loyalitas pelanggan dan
kinerja tinggi bila diterapkan dengan tepat.
Kriteria penilaian/pengukuran kinerja yang dimiliki oleh MBNQA juga dapat digunakan
oleh industri jasa pelayanan kesehatan, yang disebut dengan Performance Excellence for Health
Care based on MBNQA. Kriteria dari Performance Excellence for Health Care based on
MBNQA terdiri dari 7 kategori, yaitu: Health Care Results, Patient -and Other CustomerFocused Results, Financial and Market Results, Staff and Work System Results, Organizational
Effectiveness Results, Governance and Social Responsibility Results.Dengan penerapan sistem
manajemen mutu secara menyeluruh dan model pengukuran tepat maka perusahaan akan
menjadi perusahaan kelas dunia yang siap memenangkan persaingan.Dalam penerapannya,
manajemen di rumah sakit dapat dilihat dari fungsi perencanaan rumah sakit dan fungsi
pergerakan dan pelaksanaan rumah sakit.
E.FUNGSI PERENCANAAN RUMAH SAKIT
Perencanaan merupakan proses yang menyangkut upaya yang dilakukan untuk
mengantisipasi kecenderungan di masa yang akan datang dan penentuan strategi dan taktik yang
tepat untuk mewujudkan target dan tujuan suatu organisasi. Ada dua alasan mengapa
perencanaan diperlukan yaitu untuk mencapai Protective bennefits yaitu merupakan hasil dari
pengurangan kemungkinan terjadinya kesalahan dalam pembuatan keputusan dan Positive
benefit yaitu untuk peningkatan pencapaian tujuan organisasi.

Fungsi perencanaan di bidang kesehatan adalah proses untuk merumuskan masalahmasalah kesehatan di masyarakat, menentukan kebutuhan dan sumber daya yang tersedia,
menetapkan tujuan program yang paling pokok, dan menyusun langkah-langkah untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan.
Perencanaan merupakan fungsi yang penting karena akan menentukan fungsi-fungsi
manajemen yang lainnya dan merupakan landasan dasar dari fungsi manajemen secara
keseluruhan. Perencanaan manajerial akan memberikan pola pandang secara menyeluruh
terhadap semua pekerjaan yang akan dijalankan, siapa yang akan melakukan dan kapan akan
dilakukan. Perencanaan merupakan tuntutan terhadap proses pencapaian tujuan secara efektif
dan efisien.
F.Manfaat Perencanaan Rumah Sakit
Melalui perencanaan program di rumah sakit akan dapat diketahui:
1. Tujuan program di rumah sakit dan bagaimana cara mencapainya.
2. Jenis dan kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan
tersebut.
3. Struktur organisasi rumah sakit yang dibutuhkan.
4. Jumlah dan jenis kualifikasi staf yang diinginkan, dan uraian tugasnya.
5. Sejauh mana efektifitas kepemimpinan di rumah sakit.
6. Komunikasi

serta

bentuk

dan

standar

pengawasan

yang

perlu

dikembangkan oleh manajer dan perlu dilaksanakan.


Keuntungan perencanaan rumah sakit yang baik:
1. Aktifitas di rumah sakit lebih terarah untuk mencapai tujuan.
2. Mengurangi atau menghilangkan jenis pekerjaan yang tidak produktif.

3. Alat pengukur hasil kegiatan yang dicapai.


4. Memberikan landasan pokok fungsi manajemen lainnya yaitu fungsi
pengawasan.
Kerugian perencanaan rumah sakit:
1. Keterbatasan dalam ketepatan informasi dan fakta-fakta tentang masa
yang akan datang.
2. Memerlukan biaya yang cukup besar.
3. Hambatan psikologis.
4. Menghambat timbulnya inisiatif.
5. Terhambatnya tindakan yang perlu diambil.
Langkah-langkah Perencanaan Rumah Sakit:
1. Analisis situasi
Tujuannya adalah untuk mengumpulkan data atau fakta. Analisis situasi ini
melibatkan beberapa aspek ilmu yaitu:

Epidemiologi (distribusi penyakit dan determinannya) yakni kelompok


penduduk sasaran (who) yang menderita kejadian tersebut, dimana,
kapan masalah tersebut terjadi. Misalnya: data jenis penyakit yang
dapat dicegah dari imunisasi.

Antropologi (aspek budaya dan perilaku sehat, sakit masyarakat)

Demografi

(angka-angka

vital

statistik).

Misalnya:

kelompok umur, jumlah kelahiran dan kematian,


sebagainya.

berdasarkan

jumlah AKI dan

Statistik (mengolah dan mempresentasikan data).

Ekonomi

(pembiayaan

kesehatan)

meliputi

pendapatan,

tingkat

pendidikan, norma sosial, dan sistem kepercayaan masyarakat.

Geografis yaitu meliputi semua informasi karakteristik wilayah yang


dapat mempengaruhi masalah tersebut.

Organisasi

pelayanan

meliputi

motivasi

kerja

staf

dan

kader,

keterampilan, persediaan vaksin dan sebagainya.


Jenis informasi yang diperlukan untuk perencanaan adalah:

Penyakit dan kejadian sakit di wilayah kerja.

Data kependudukan.

Jenis dan organisasi pelayanan kesehatan yang tersedia.

Keadaan lingkungan dan aspek geografisnya.

Sarana dan sumber daya penunjang.

Pengumpulan data dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung,


yaitu:

Mendengarkan keluhan masyarakat di lapangan.

Membahas masalah-masalah kesehatan dengan tokoh-tokoh formal


dan informal masyarakat.

Membahas masalah-masalah bersama petugas lapangan kesehatan.

Membaca laporan kegiatan program kesehatan.

Mempelajari peta wilayah, sensus penduduk, laporan khusus, hasil


suatu survei, juklak program, laporan tahunan.

Masalah kesehatan tersebut meliputi:

Masalah penyakit (medis), intervensi medis yaitu diagnosa penyakit,


pengobatan dan tindak lanjut.

Masalah kesehatan masyarakat (Public health), surveilen, analisis


epidemiologi,

intervensi

yaitu

promosi

kesehatan,

perlindungan

spesifik atau imunisasi dan deteksi dini.


2. Mengidentifikasi masalah dan prioritasnya
Masalah dapat dibagi dalam tiga kategori yaitu masalah tentang penyakit,
masalah manajemen pelayanan kesehatan (masalah program), dan masalah
perilaku, sikap dan pengetahuan masyarakat. Prioritas masalah secara
praktis dapat ditetapkan berdasarkan pengalaman staf, dana, dan mudah
tidaknya maslah dipecahkan. Prioritas masalah dijadikan dasar untuk
menentukan tujuan.
Contoh masalah tentang penyakit antara lain KIA/ KB, tingginya prevalensi
anemia pada remaja putri dan wanita hamil, partus kasep, kematian ibu
bersakin, BBLR, kematian neonatal dan perinatal (misalnya akibat tetanus
neonatorum, ISPA, diare), infertility, mioma, Ca. Cervix, Ca. Mammae serta
masalah komplikasi pemakaian IUD.
Contoh masalah program adalah sebagai berikut:

Masalah input, jumlah staf kurang, keterampilan dan motivasi kerja


rendah, peralatan kurang memadai, jenis obat yang tersedia tidak
sesuai.

Masalah proses, terkait dengan fungsi manajemen (POAC) yaitu kurang


jelas

tujuan

program,

kurang

jelas

rumusan

masalah

program

(Planning), pembagian tugas tidak jelas (Organizing), kepemimpinan


kurang (Actuating), pengawasan atau supervisi lemah (Controlling).
Contoh

masalah

manajemen

pelayanan

kesehatan

antara

lain

tingginya jumlah anak yang menderita diare, air minum yang terkontaminasi
air limbah, kebutuhan masyarakat akan penyuluhan kesehatan, banyaknya
tumpukan sampah di sepanjang jalan umum, pemilikan jamban keluarga
yang

masih

rendah,

kurangnya

persediaan

oralit

di

Posyandu

dan

tervatasnya jumlah staf yang mampu melakukan deteksi dini diare. Yang
menjadi prioritas atau masalah utama adalah tingginya jumlah anak yang
menderita diare.
Kriteria penetapan prioritas masalah kesehatan:

Apakah masalah tersebut menimpa sebagian besar penduduk?

Apakah masalah tersebut potensial sebagai penyebab tingginya


kematian bayi?

Apakah masalah tersebut mempengaruhi kesehatan dan kematian


anak balita?

Apakah

masalah

tersebut

mengganggu

kondisi

kesehatan

dan

mengakibatkan kematian ibu hamil?

Apakah masalah kesehatan tersebut bersifat kronis, mnimbulkan


kecatatan, dan mengganggu produktifitas kerja masyarakat di suatu
wilayah?

Apakah masalah tersebut mengakibatkan kepanikan masyarakat


secara luas?

Kriteria berdasarkan fisibilitas di lapangan:

Apakah daerah itu mudah dicapai?

Bagaimana partisipasi masyarakat setempat?

Berapa cakupan kegiatan program yang telah mampu dicapai selama


ini?

Apakah masalah kesehatan tersebut adalah salah satu prioritas


program kesehatan nasional?

Apakah masalah kesehatan tsb. dapat dipecahkan dengan potensi yg.


Ada?

3. Penentuan tujuan program


Kriteria penentuan tujuan program:

Tujuan adalah hasil yang diinginkan (tolok ukur keberhasilan kegiatan).

Tujuan harus sesuai dengan masalah, bisa dicapai, bisa diukur, bisa
dilihat hasilnya.

Tujuan penting untuk membuat perencanaan dan mengevaluasi


hasilnya.

Target operasional berhubungan dengan waktu.

Tetapkan kegiatan program untuk mencapai tujuan.

Tetapkan masalah dan faktor-faktor penghambat sebelum tujuan dan


target operasional ditetapkan.

Contoh: Untuk meningkatkan cakupan pemeriksaan antenatal care ibu-ibu


hamil, dirumuskan tujuan pelayanan meningkatnya cakupan K1 (kunjungan
ibu hamil yang pertama) dari 80% menjadi 100%, dan K4 60% menjadi
80%. Perlu didistribusikan bidan di setiap desa. Perlu penyediaan kit bidan
lengkap.
4. Mengkaji hambatan dan kelemahan program
Sebelum menentukan tolak ukur, perlu dipelajari hambatan-hambatan
program kesehatan yang pernah dialami atau diperkirakan baik yang
bersumber dari masyarakat, lingkungan, Puskesmas maupun dari sektor
lainnya.
Hambatan program dalam manajemen rumah sakit antara lain:

Hambatan pada sumber daya yaitu meliputi motivasi yang rendah


pada staf pelaksana, partisipasi masyarakat yang rendah, peralatan
tidak lengkap, informasi tidak valid, dana yang kurang dan yang waktu
kurang.

Hambatan pada lingkungan yaitu meliputi geografis (jalan rusak),


iklim, tingkat pendidikan rendah, sikap dan budaya masyarakat (mitos,
tabu,

salah

persepsi)

serta

perilaku

perlu

dilakukan

masyarakat

yang

kurang

partisipatif.
Langkah-langkah

yang

adalah

membuat

daftar

hambatan dan kendala program kemudaian mengeliminasi, memodifikasi,


serta mengurangi yang tidak bisa dilakukan dan menyesuaikannya dengan
tujuan operasional kegiatan program.

5. Membuat rencana kerja operasional


Dengan Rencana Kerja Operasional (RKO) akan memudahkan pimpinan
mengetahui sumber daya yang dibutuhkan dan sebagai alat pemantau.
Pembahasan rencana kerja operasional meliputi:

Mengapa kegiatan ini penting dilaksanakan?

Apa yang akan dicapai?

Bagaimana cara mengerjakannya?

Siapa yang akan mengerjakan dan siapa sasaran kegiatannya?

Sumber daya pendukung?

Dimana kegiatan akan dilaksanakan?

Kapan kegiatan ini akan dikerjakan?


F.FUNGSI PENGGERAKAN DAN PELAKSANAAN

(ACCTUATING) DI RUMAH SAKIT


RS adalah sebuah organisasi yang sangat kompleks. Manajemennya hampir sama dengan
manajemen sebuah hotel. Yang membedakan hanya pengunjungnya. Pengunjung RS adalah
orang yang sedang sakit dan keluarganya.Mereka pada umumnya mempunyai beban sosialpsikologi akibat penyakit yang diderita oleh salah seorang dari anggota keluarganya.
Kompleksitas fungsi actuating di sebuah RS dipengaruhi oleh dua aspek yaitu:

Sifat pelayanan kesehatan yang ientasi kepada konsumen penerima jasa pelayanan
(customer service). Hasil perawatan pasien sebagai customer RS ada tiga kemungkinan
yaitu sembug sempurna, cacat (squalae), atau mati. Apapun kemungkinan hasilnya,

kualitas pelayananharus diarahkan untuk kepuasan pasien (customer satisfaction) dan


keluarganya.

Pelaksanaan fungsi actuating cukup kompleks karena tenaga yang bekerja di RS terdiri
dari berbagai jenis profesi.
Kompleksitas ketenagaan dan jenis profesi yang dimiliki oleh RS, menuntut

dikembangkannya kepemimpinan partisipatif. Model kepemimpinan manajerial seperti ini akan


menjadi salah satu faktor yang ikut menentukan mutu pelayanan RS (quality of services) karena
pelayanan kesehatan di RS hampir semuanya saling terkait satu sama lain. Atas dasar ini,
pelayanan di RS harus mengembangkan sistem jaringan kerja internal (networking) yang solid
dan menunjang satu sama lain.
Semua staf RS harus memahami visi dan misi pengembangan RS serta kebijakan
operasional pimpinan. Untuk menjaga otonomi profesi dari masing-masing SMF, kualitas
pelayanan di RS harus disesuaikan dengan standar profesi yang harus ditetapkan oleh setiap
perkumpulan dokter ahli (ikatan profesi). Stanndar profesi dikenal denga medical of conduct dan
medical ethic juga harus selalu diperhatikan oleh semua staf SMF dalam rangka menjaga mutu
pelayanan RS (quality of care).
Sehubungan dengan kompleksitas sistem ketenagaan dan misi yang harus diemban oleh
RS, penerapan fungsi actuating di RS akan sangat tergantung dari empat faktor. Faktor pertama
adalah kepemimpinan direktur RS; kedua adalah koordinasi yang dikembangkan oleh masingmasing Wakil Direktur dengan kepala SMF dan kepala instalasinya; ketiga adalah komitmen dan
profesionalisme tenaga medis dan non medis di RS (dokter, perawat, dan tenagapenunjang
lainnya), dan keempat adalah pemahaman pengguna jasa pelayanan RS (pasien dan keluarganya)
akan jenis pelayanan kesehatan yang tersedia di RS.
Peranan dokter spesialis sangat besar pengaruhnya di dalam penerapan fungsi actuating
ini. Sifat otonomi profesi di tiap-tiap SMF harus diiatur agar tidak menjadi penghambat
penerapan fungsi actuating di RS. Untuk itu, mereka harus memahami benar visi dan misi RS
yang ingin dikembangkan oleh pihak manajemen (direktur) RS. Oleh karena itu, fungsi RS harus

dilihat dalam konteks kesatuan kerja dari sebuah tatanan sistem yang terpadu.Pelayanan
kesehatan dimasing-masing SMF adalah subsistemnya.
Di pihak lain, intensitas dan frekuensi komunikasi abtara pihak pimpinan RS dan semua staf
profesional harus berlangsung dinamis. Kepemimpinan, komunikasi, koordinasi merupakan
faktor penting didalam pengembangan fungsi actuating. Ketiganya akan memudahkan
penjabaran visi dan misi serta strategi pimpinan RS menembangkan mutu pelayanan kesehatan di
masing-masing SMF.Di sisi lain, dibutuhkan juga peningkatan keterampilan manajerial di pihak
pimpinan RS sehingga lebih mampu mengintregasikan masing-masing tugas SMF ke dalam satu
kesatuan gerak (networking) yang harmonis dan saling menunjang peningkatan mutu pelayanan
RS demi kepuasan pelanggannya. Jika pendekatan ini kurang dipahami oleh pihak manajemen
RS dan pimpinan SMF, budaya kerja yang berorientasi kepada peningkatan mutu pelayanan RS
tidak akan berkembang. Meraka cenderung akan bertindak sendiri, arogansi profesi dan
dukungan sarana dan prasarana (input) pelayanan RS (teknologi dan peralatan kedokteran,
logistik, keuangan, dan sebagainya) kurang mendapat perhatian. Untuk itu pengembangan
budaya kerja staf di SMF harus diarahkan untuk mendukung tercapainya visi dan misi RS.
Meraka harus menyadari akan peranannya sebagai staf RS yang diberikan tugas istimewa
memberikan asuhan pelayanan medik dan kesehatan kepada masyarakat (customer) yang
menggunakan jasa pelayanan RS.
G.REKAM MEDIS DAN KESEHATAN DI RUMAH SAKIT\
Dalam pelayanan kesehatan dan kedokteran terutama di rumah sakit maupun praktik
pribadi, peranan pencatatan Rekam Medik sangat penting dan sagat melekat pada pelayanaan.
RM adalah orang ketiga dalam pelayanan kesehatan. Catatan demikian akan berguna untuk
merekam dan mengingatkan dokter engan keadaan, hasilpemeriksaan dan pengobatan yang telah
diberikan bila pasien daang kembali untuk berobat ulang setelah beberapa hari, bulan bahkan
tahu.
Untuk mendukung peningkatan mutu dan peranan RM dalam pelayanan kesehatan, IDI
juga menerbitkan Fatwa IDI tentang RM, dalam SK No. 315/PB/A.4/88, yang menekankan

bahwa praktek profesi kedokteran harus meaksanakan RM, tidak saja untuk dokter yang bekerja
di rumah sakit tetapi juga bagi dokter yang praktik pribadi.
Sebelum RM populer seperti sekarang kalangan kesehatan dulunya menggunakan istilah
status pasien tetapi belakangan ini orang lebih cenderung menngunakan istilah Rekam Medis
sebagai terjemahan dari medical record. RM adalah kumpulan keterangan tentang identitas,
hasilanamnesis, pemeriksaan dan catatan segala kegiatan para pelayan kesehatan atas pasien dar
waktu ke waktu. Catatan ini berupa tulisan maupun gambar, dan belakangan ini dapat pula
berupa rekaman elektronik seperti komputer, mikrofilm dan rekaman suara.
Dalam PERMENKES No. 749a/MenKes/XII/89 tentang RM disebut pengertian RM
adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan,
pengobatan, tindakan, dan pelayanan lain kepada pasien pada sarana pelayanan kesehatan.
Di rumah sakit terdapat 2 jenis RM, yaitu:

RM untuk pasien rawat jalan

RM untuk pasien rawat inap

Untuk pasien rawat jalan, termasuk pasien gawat darurat RM mempunyai informasi pasien
antara lain:

Identitas dan formulir perizinan

Riwaya penyakit

Laporan pemeriksaan fisik termasuk pemeriksaan laboratorium.

Diagnosa atau diagnosis banding

Instruksi diagnostik dan terapeutik dengan tanda tangan pejabat kesehatan yang
berwenang.

Untuk pasien rawat inap, sama seperti sebelumnya hanya denagan tambahan:

Persetujuan tindakan medik

Catatan konsultasi

Catatan perawat da tenaga kesehatan lainnya

Catatan observasi klinik dan pengobatan

Resume akhir dan evaluasi pengobatan

Untuk di rumah sakit biasanya yang terpenting pelu diperhatikan untuk pasien rawat inap,
yaitupenmbuatan resume akhir. Yang isinya antara lain menjelaskan :

Anamnesis

Hasil penting pemeriksaan fisik diagnostik, laboratorium, rongent dan lain lain.

Pengobatan dan tindakan operasi yang dilaksnakan.

Keadaan pasien waktu keluar

Anjuran pengobatan dan perawatan.

Tujuan pembuatan resume ni antara lain:

Untuk menjamin kontinuitas pelayanan medik dengan kualitas yang tinggi serta bahan
yang berguna bagi dikter pad awaktu menerima pasien untuk dirawat kembali.

Bahan penilai staf medik rumah sakit

Untuk memenuhi permintaan dari badan badan resmi tentang perawatan seorang pasien.

Sebagai bahan informasi bagi dokter yang bertugas, dokter ang mengirim, dan dokter
konsultan

Secara umum kegunaan RM adalah:

Sebagai alat komunikasi antara dokter dan tenga kesehatan lainnya yang ikut andil dalam
pelayanan kesehatan.

Merupakan dasar untuk perencanaan pengobatan dan perawatan yang harus diberikan
kepada pasien

Sebagai bukti tertulis segala pelayanan, perkembnagna penyakit dan pengobatan selama
pasien berkunjung atau dirawat di rumah sakit.

Sebagai dasar analisis, study, evaluasi terhadap mutupelayanan yang di beriakn kepada
pasien

Melindungi kepentingan hukum bagi pasien, rumah sakit maupun dokter dan tenaga
kesehatan lainnya

Menyedikan data data khusus yang sangat berguna untuk penelitian dan pendidikan

Sebagai dasar di dalam perhitungan biaya pembayaran pelayanan medik pasien

Menjadi sumber ingatan yang harus didokumentasikan, serta sebagai bahan


pertanggungjawaban dan laporan

Dalam pelaksanaan kegunaan RM di atas maka staf medik dan tenaga kesehatan lainnya dituntut
untuk mengisi RM scara cepat, akurat, dan mudah dibaca. Tanpa adanya informasi medik yang
dicatat dengan baik oleh kalangan medik maupun paramedik, maka kegunaan seperti yang di
kemukakan sebelumnya tidak akan tercapai.
H. INDIKATOR PENILAIAN MUTU ASUHAN KESEHATAN

Mutu asuhan kesehatan sebuah RS akan selalu terkait dengan struktur, proses, outcome
sistem pelayanan RS yersebut. Mutu asuhan pelayanan RS juga dapat dikaji dari tingkat
pemanfaatan sarana pelayanan oleh masyarakat, mutu pelayanan dan tingkat efisiensi RS.
Aspek struktur
Struktur adalah semua masukan (input) untuk system pelayanan sebuah RS yang meliputi tenaga,
peralatan, dana dan sebagainya. Ada sebuah asuransi yang mengatakan bahwa jika struktur
sistem RS tertata dengan baik, akan lebih menjamin mutu asuhannya. Baik tidaknya struktur RS
diukur dari tingkat kewajaran, kuantitas, biaya, efisiensi, mutu dari masing masing komponen
struktur.
Proses
Proses adalah semua kegiatan dokter dan tenaga professional lainnya yang mengadakan interaksi
secara profesional dengan pasiennya. Interaksi ini diukur antara lain dalam bentuk penilaian
tentang pasien, penegakan diagnosa, rencana tindakan pengobatan, indikasi tindakan,
penanganan penyakit, dan prosedur pengobatan.
Dalam hal ini juga dianut asumsi bahwa semakin patuh tenaga profesi menjalankan standards
of good practice yang telah diterima dan diakui oleh masing masing ikatan profesi, akan
semakin tinggi pula mutu asuhan terhadap pasien. Baik tidaknya pelaksanaan proses pelayanan
di RS dapat diukur dari tiga aspek yaitu relevan tidaknya proses itu bagi pasien, efektivitas
prosesnya, dan kualitas interaksi asuhan terhadap pasien.

Outcome
Outcome adalah hasil akhir kegiatan dokter dan tenaga profesi lainnya di RS terhadap pasien. Di
sini diperlukan pedoman untuk mengukur mutu asuhan pelayanan kesehatan. Indikator mutu
pelayanan medis meliputi :

1. Angka infeksi nosokomial


2. Angka kematian kasar (Gross Death Rate)
3. Kematian pasca bedah
4. Kematian ibu melahirkan ( Maternal Death Rate-MDR)
5. Kematian bayi baru lahir (Infant Death Rate-IDR)
6. NDR (Net Death Rate di atas 48 jam)
7. ADR (Anasthesia Death Rate)
8. PODR (Post Operation Death Rate)
9. POIR (Post Operative Infection Rate)
Indikator mutu pelayanan untuk mengukur tingkat efisiensi RS :
1. Unit cost untuk rawat jalan
2. Jumlah penderita yang mengalami dekubitus
3. Jumlah penderita yang jatuh dari tempat tidur
4. BOR (Bed Occupancy Rate)
5. BTO (Bed Turn Over)
6. TOI (Turn Over Interval)
7. ALOS (Average Length of Stay)
8. Normal Tissue Removal Rate
Indikator mutu yang berkaitan dengan tingkat kepuasan pasien dapat diukur dengan :

1. Jumlah keluhan dari pasien/keluarganya


2. Surat pembaca di koran
3. Surat kaleng
4. Surat masuk dari kotak saran, dan sebagainya
5. Survei tingkat kepuasan pengguna pelayanan kesehatan RS
Indikator cakupan pelayanan sebuah RS terdiri dari :
1. Jumlah dan pesentase kunjungan rawat jalan/inap menurut jarak PS dengan asal pasien
2. Jumlah pelayanan dan tindakan medik
3. Jumlah tindakan pembedahan
4. Jumlah kunjungan SMF spesialis
5. Pemfaatan oleh masyarakat
6. Contact rate
7. Hospitalization rate
8. Out patient rate
9. Emergency out patient rate
Untuk mengukur mutu pelayanan sebuah RS, angka-angka standar tersebut di atas
dibandingkan dengan standar (indikator) nasional. Jika tidak ada angka standar nasional,
penilaian dialkukan dengan menggunakan hasil pencatatan mutu pada tahun sebelumnya di RS
yang sama setelah dikembangkan kesepakatan pihak manajemen / direksi RS yang bersangkutan
dengan masing-masing SMF dan staf lainnya yang terkait.

Indikator mutu yang mengacu pada keselamatan pasien:


1. Pasien terjatuh dari tempat tidur/kamar mandi
2. Pasien diberi obat yang salah
3. Tidak ada obat/alat emergensi
4. Tidak ada oksigen
5. Tidak ada alat penyedot lendir
6. Tidak tersedia alat pemadam kebakaran
7. Pemakaian obat tidak sesuai standar
8. Pemakaian air, listrik, gas, dan sebagainya.
Mutu pelayanan medis dan kesehatan di RS sangat erat kaitannya dengan manajemen RS
(quality of services) dan keprofesionalan kinerja SMF dan staf lainnya di RS (quality of care).
Keduanya merupakan oucome dari manajemen manjaga mutu di RS (quality assurance) yang
dilaksanakan oleh gugus kendali mutu RS. Dalam hal ini, gugus kendali mutu dapat ditugaskan
kepada komite medik RS karena mereka adalah staf fungsional (nonstruktural) yang membantu
direktur RS dengan melibatkan semua staf SMF RS.
Rumus untuk menghitung mutu pelayanan RS
BOR (Bed Occupancy Rate)
Persentase pemakaian tempat tidur pada satu satuan waktu tertentu. Indikator ini memberikan
gambaran tentang tinggi rendahnya tingkat pemanfaatan tempat tidur RS.
Jumlah hari perawatan RS dalam waktu tertentu x 100%
Jumlah TT x Jumlah hari dalam satu satuan waktu

ALOS (Average Length of Stay)


Rata-rata lamanya perawatan seorang pasien. Indikator ini di samping merupakan gambaran
tingkat efisiensi manajemen sebuah RS, indikator ini juga dapat dipakai untuk mengukur mutu
pelayanan apabila diagnosis penyakit tertentu dapat dijadikan tracernya (yang perlu pengamatan
lebih lanjut).
Jumlah hari perawatan pasien keluar rumah sakit
Jumlah pasien keluar rumah sakit (hidup + mati)
BTO (Bed Turn Over)
Frekuensi pemakaian tempat tidur dalam satu satuan waktu (biasanya per tahun) tempat idur RS.
Indikator ini akan memberikan gambaran tingkat pemakaian tempat tidur RS.
Jumlah pasien keluar RS (hidup + mati)
Jumlah tempat tidur
TOI (Turn Over Interval)
Rata-rata hari tempat tidur tidak ditempati dari saat ke saat sampai terisi berikutnya. Indikator ini
juga menberikan gambaran tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur.
(Jumlah TT x hari) hari perawatan RS
Jumlah pasien keluar (hidup + mati)
NDR (Net Death Rate)
Angka kematian di atas 48 jam setelah dirawat untuk tiap-tiap 100 penderita keluar RS.
Jumlah pasien mati di atas 48 jam dirawat x 100%
Jumlah pasien RS kematian di bawah 48 jam

GDR (Gross Death Rate)


Angka kematian umum penderita keluar RS
Jumlah pasien mati seluruhnya dirawat x 100%
Jumlah pasien keluar (hidup + mati)
Net Death Rate
Total kematian > 48 jam dalam periode waktu tertentu x 100%
Total pasien keluar hidup & mati dalam periode yang sama
Net Infection Rate
Total penderita infeksi yang didapat RS dalam periode tertentu x 100%
Jumlah pasien keluar hidup & mati dalam periode yang sama
Anasthesia Death Rate
Total kematian Anasthesia dalam periode tertentu x 100%
Total pasien yang mendapat anasthesia dalam periode yang sama
Post Operation Death Rate
Total kematian dalam 10 kali operasi dalam periode waktu tertentu x 100%
Total pasien yang dioperasi dalam periode yang sama
Normal Tissue Removal Rate
Total normal tissue yang diangkat x 100%
Total tissue yang diperiksa

Maternal Death Rate


Jumlah pasien kebinanan yang meninggal dalam periode tertentu x 100%
Jumlah pasien kebidanan yang eluar hidup + mati
Foetal Death Rate
Jumlah kematian bayi dengan U.K.>20 minggu x 100%
Jumlah semua kelahiran dalam periode tertentu
Contact Rate (5 mil)
Total pasien keluar hidup + mati x 100%
Jumlah populasi
Hospitalization Rate
Total hari rawat x 100%
Jumlah populasi
Out Patient Rate
Total kunjungan (baru + lama) x 100%
Jumlah populasi
Emergency Out Rate Patient
Total kunjungan pasien gawat darurat x 100%
Jumlah populasi

Hasil perhitungan standar mutu pelayanan RS tersebut harus dibandingkan dengan masingmasing standar mutu nasional. Untuk ukuran mutu yang tidak ada standar nasionalnya, angkanya
dibandingkan dengan hasil penilaian tahun-tahun sebelumnya.
Standar nasional untuk asuhan kesehatan RS di Indonesia
1. BOR : 75-85%
2. ALOS : 7-10 hari
3. TOI : 1-3 hari
4. BTO : 5-45 hari
5. NDR (48 jam) : < 2,5%
6. GDR : <3%
7. Anasthesia Death Rate : 1/5000
8. Post Operation Death Rate : <1%
9. Post Operative Infection Rate : <1%
10. Normal Tissue Removal Rate : <10%
11. Maternal Death Rate : <0,25%
12. Neonatal Death Rate : <2%
13. Angka Infeksi Nosokomial : 1-2%

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah penyusunan makalah ini penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa:
Rumah sakit sebagai salah satu subsistem pelayanan kesehatan
menyelenggarakan dua jenis pelayanan untuk masyarakat yaitu pelayanan
kesahatan dan pelayanan administrasi.
Pelayanan kesehatan di RS saat ini tidak saja bersifat kuratif (penyembuhan),
tetapi juga bersifat pemulihan (rehabilitatif). Keduanya dilaksanakan secara
terpadu melalui upaya promosi kesehatan (promotif) dan pencegahan
(preventif).
Untuk mencapai organisasi rumah sakit yang baik diperlukan penerapan
manajemen yang baik pula.
B. Saran
Berdasarkan materi pembahasan diatas dapat diberikan saran sebagai berikut:
1. Organisasi rumah sakit haruslah jelas dan berubah agar dapat mengantisipasi
berbagai perubahan sebagai upaya yang perlu dilaksanakan oleh para pengelola
rumah sakit dalam mempersiapkan diri menyambut masa depan.

2. Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan harus memiliki
peran yang strategis dalamn upaya untuk mempercepat peningkatan derajat
kesehatan masyarakat Indonesia.
System pelayanan rumah sakit yang berjalan selama ini harus ditinjau
kembali untuk mengantisipasi persaingan tingkat dunia.
Rumah sakit merupakan suatu lembaga kesehatan yang memberikan
pelayanan yang bermutu dan dapat memuaskan para konsumen.
Semoga pula manajemen rumah sakit yang sedang berkembang ini dapat terus
dikembangkan di Negara kita, agar bersama-sama dengan manajemen kesehatan
lainnya dapat member peran maksimal dalam upaya kita bersama meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat dan bangsa kita, bangsa Indonesia kedepan.

DAFTAR PUSTAKA
Sulastomo, 2003. Manajemen Kesehatan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Sulstomo, 1998. Beberapa Masalah Pelayanan Kesehatan. Jakarta: LISIK.