Anda di halaman 1dari 5

Dari percobaan tersebut didapatkan hasil yaitu kadar Hb probandus: 13 g %.

Hal ini
menunjukkan kadar Hb probandus masih dalam batas normal karena menurut Dacie kadar
Hb normal laki-laki dewasa yaitu 12,5 -18,0 g %.
Kedua bagian molekul hemoglobin ( hem dan globin ) memiliki jalur pembentukan
yang sangat berbeda. Berikut merupakan proses sintesis hemoglobin:
I.

Sintesis Heme
Gugus heme terdiri dari empat struktur 4-karbon berbentuk cincin simetris yang
disebut cincin pirol, yang membentuk satu molekul porfirin. Cincin porfirin ini juga
dijumpai pada protein lain selain hemoglobin , termasuk mioglobin dan enzim lain.
Cincin cincin ini terbenam dalam kantung kantung heme di dalam struktur protein.
Biosintesis heme melibatkan dua pembentukan bertingkat sebuah rangka porfirin, diikuti
oleh insersi besi ke masing masing dari empat gugus heme.
Sintesis porfirin memerlukan sebuah rantai lurus gugus karbon yang menutupi sebuah
cincin pirol. Empat pirol kemudian menyatu, dan setelah beberapa kali perubahan dan
pertukaran gugus substituen, terbentuk senyawa bebas-besi yang disebut protoporfirin.
Konstituen gugus karbon yang membentuk cincin ini berasal dari asam amino glisin
dan sebuah koenzim, suksinil koenzim A. Sintesis heme berasal dari senyawa senyawa
ini dan berjalan dalam pola yang cukup dapat diperkirakan, sebagai berikut:
a) Pada awalnya, dua senyawa ini ( glisin dan suksinil koenzim A ) menyatu untuk
membentuk senyawa asam aminolevulinat ( ALA ). Senyawa lurus ini adalah
prekursor pertama yang nyata berkaitan dengan sintesis heme. Enzim mengkatalisis ,
ALA sintetase, tampaknay merupakan enzim penentu kecepatan jalur metabolik ini.
Piridoksal fosfat adalah koenzim untuk reaksi ini. Reaksi ini dirangsang oleh adanya
hormon eritropoietin dan dihambat oleh pembentukan heme. Jalur ini dimulai di
mitokondria dan sitoplasma sel yang sedang berkembang.
b) Dua molekul ALA menyatu untuk membentuk porfobilinogen, sebuah molekul cincin.
c) Kemudian, empat molekul senyawa ini menyatu untuk membentuk sebuah senyawa
bercincin empat, yang disebut uroporfirinogen.
d) Senyawa ini diubah menjadi koproporfirinogen.
e) Koproporfirinogen diubah menjadi protoporfirin.
f) Akhirnya, protoporfirin berikatan dengan besi dengan bantuan enzim penentu
kecepatan jalur metbolik yang lain, yaitu ferokelatase. Koproporfirin dan uroporfirin
yang tidak digunakan dieksresikan melalui urine dan feses. Apabila sintesis heme

terganggu, mungkin terjadi ekskresi senyawa senyawa ini serta metabolit lain dalam
jumlah yang tidak normal.
II. Sintesis Globin
Sintesis globin diperkirakan juga berada dibawah kendali eritropoietin, walaupun
tempat kerja molekulernya tidak diketahui. Sintesis globin juga dipicu oleh heme bebas.
Sintesis globin terutama terjadi di eritroblas dini, atau basofilik dan berlanjut, dengan
tingkat yang terbatas, bahkan sampai di retikulosit tidak berinti. Diperkirakan bahwa
sampai 15 20 % hemoglobin disintesis selama stadium yang disebut terakhir gen gen
untuk sintesis globin terletak di kromosom 11 ( rantai gama, delta, dan beta ) dan 16
( alfa )
Hemoglobin adalah pigmen pengangkut oksigen utama dan terdapat di eritrosit. Untuk
menghitung kadar hemoglobin kita dapat menggunakan 2 metode, yaitu:
I.

METODE SAHLI
Dalam metode ini kita alat yang kita gunakan adalah hemometer sahli dan pipet.
Bahan kita perlukan adalah darah vena / kapiler, HCl 0,1N, dan aquades. Cara kerjanya
adalah sebagai berikut:
1. Isi tabung pengencer dgn HCl 0,1N sampai angka 2
2. Hisap darah dgn pipet Hb sampai angka 20 l hapus ujungnya masukan dlm
tabung pengencer campur dgn HCl
3. Diamkan 1 menit
4. Tambahkan aquades setetes demi setetes aduk bandingkan dgn warna larutan
standar
5. Baca skala di tempat terang
Hal yang penting dalam melaksanakan metode ini adalah darah sampel tidak boleh >
24 jam dan pembacaan segera kadar Hb. Persentase kesalahan dalam menggunakan
metode ini adalah 10%.

II. METODE SIANMETHEMOGLOBIN


Metode ini adalah metode yang paling luas digunakan karena reagen dan instrument
dapat dengan mudah dikontrol terhadap standar yang stabil dan handal. Hemoglobin
dapat diukur dengan menggunakan spektrofotometer. Tingkat kesalahan pada metode ini
adalah 1 3 %.
Adapun penyakit yang berkaitan dengan pemeriksaan kadar Hb antara lain:
I.

ANEMIA
Anemia merupakan berkurangnya hingga dibawah nilai normal jumlah sel darah
merah, kuantitas hemoglobin dan volume packed red blood cells (hematokrit) per 100 ml
darah. Pada anemia, kadar Hb biasanya kurang dari 13,5 gr/dl pada pria dewasa dan
kurang dari 11,5 gr/dl pada wanita dewasa.
Klasifikasi anemia berdasarkan morfologi dan etiologi :
1. Anemia hipokromik mikrositer
a.

Anemia defisiensi besi

b.

Thalasemia major

c.

Anemia akibat penyakit kronik

d.

Anemia sideroblastik

2. Anemia normokromik normositer


a.

Anemia pasca perdarahan akut

b.

Anemia aplastik

c.

Anemia hemolitik didapat

d.

Anemia akibat penyakit kronik

e.

Anemia pada gagal ginjal kronik

f.

Anemia pada sindrom mielodisplastik

g.

Anemia pada keganasan hematologik

3. Anemia makrositer
a) Bentuk megaloblastik:
1. Anemia defisiensi asam folat
2. Anemia defisiensi B12, termasuk anemia pernisiosa
b) Bentuk non-megaloblastik
1. Anemia pada penyakit hati kronik
2. Anemia pada hipotiroidisme
3. Anemia pada sindrom mielodisplastik

Pemeriksaan Untuk diagnosis Anemia:


1. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan ini terdiri dari: pemeriksaan penyaring (screening test), pemeriksaan
darah seri anemia, pemeriksaan sumsum tulang dan pemeriksaan khusus.
2. Pemeriksaan penyaring
Pemeriksaan ini terdiri dari pengukuran kadar hb, indeks eritrosit dan hapusan
darah tepi.
3. Pemeriksaan darah seri anemia
Pemeriksaan ini meliputi hitung leukosit, trombosit, hitung retikulosit dan laju
endap darah.
4. Pemeriksaan sumsum tulang
5. Pemeriksaan Khusus
Pemeriksaan ini hanya dilakukan atas indikasi khusus, misalnya pada:
a. Anemia defisiensi besi : serum iron,TIBC, saturasi transferin, protoporfirin
eritrosit, feritin serum, reseptor transferin dan pengecatan besi pada sumsum tulang
(Perls stain).
b. Anemia megaloblastik: folat serum, vitamin B12 serum, tes supresi deoksiuridin
dan tes Schiling.
c. Anemia hemolitik : bilirubin serum, test Coomb, elektroforesis hemoglobin.
d. Anemia aplastik : biopsi sumsum tulang.
II. DEMAM BERDARAH DENGUE
Demam dengue/DF dan demam berdarah dengue/DHF adalah penyakit infeksi yang
disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot dan/atau nyeri
sendi yang disertai lekopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia dan diatesis
hemoragik.
Pemeriksaan Penunjang:
Pemeriksaan darah yang rutin dilakukan untuk menapis pasien tersangka demam
dengue adalah melalui pemeriksaan kadar hemoglobin, hematokrit, jumlah trombosis dan
hapusan darah tepi untuk melihat adanya limfositosis relatif disertai gambaran limfosit
plasma biru.
Diagnosis pasti didapatkan dari hasil isolasi virus dengue (cell culture) ataupun
deteksi antigen virus RNA dengue dengan teknik RT-PCR (Reverse Transcriptase
Polymerase Chain Reaction) namun karena teknik yang lebih rumit, saat ini tes serologis

yang mendeteksi adanya antibodi spesifik terhadap dengue berupa antibodi total, IgM
maupun IgG. ( Ronald A.Sacher, 2004 )

DAFTAR PUSTAKA
Sacher, Ronald A. 2004. Dalam : Tinjauan klinis hasil pemeriksaan laboratorium.
Metode hematologi. Jakarta : EGC. 32 - 33