Anda di halaman 1dari 17

TUGAS KELOMPOK

POLITIK PEMERINTAHAN ASIA SELATAN


KONFLIK ETNIS DI SRILANKA : KONFLIK ETNIS SINHALA-TAMIL

DISUSUN OLEH KELOMPOK 2

Abdi Nelson Simatupang


Achmad Fauzi
Achmad Giffari G
Andreas Said
Fikri Hadi
M. Real Afif Nanda P
Mutia Yirdam
Shela Aprilia

JURUSAN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS RIAU
2015

Abstract
Ethnic conflict which happened in Srilanka caused of
different right form Tamil ethnic and Sinhala ethnic on this country.
This conflict has been happened since 1947 until 2003. Were Tamil
ethnic is a party whose want to separate from Srilanka government. It
happened because Srilanka government does not give equal right to
Tamil ethnic. Tamil ethnic claim that the government given the right
just for Sinhala ethnic. Tamil ethnic through LTTE does many ways to
get the equal right from Srilanka government including doing
demonstration, kidnap, robbing, gun attacks etc.
Keywords: Ethnic conflict, Srilanka government, Tamil.

PENDAHULUAN
Konflik etnis yang terjadi di Srilanka merupakan konflik yang melibatkan
etnik Sinhala dan etnik Tamil. Dimasa penjajahan Inggris etnis Tamil merupakan
etnis yang mendapatkan keistimewaan hak dari penjajah Inggris. Hak yang diperoleh
oleh etnis tamil karena pemerintah kolonial menilai etnis ini lebih rajin daripada
etnis Sinhala yang cenderung lebih malas, namun sejak memperoleh kemerdekaan
dari penjajahan Inggris pada tahun 1947, etnis Sinhala mengambil alih system
pemerintahan Srilanka dan menghapuskan semua hak yang dimiliki oleh etnis Tamil
ketika masa penjajahan Inggris.
Karena merasa termajinalakan etnis Tamil mendirikan sebuah gerakan
pemberontakan yaitu Macan Tamil. Gerakan separatis ini menginginkan pemisahan
diri dari pemerintahan Srilanka. Banyaknya serangan yang disebabkan oleh usaha
Tamil untuk memisahkan diri membuat pemerintah Srilanka memutuskan untuk
melakukan perdamaian dengan pihak Macan Tamil namun selalu mengalami
kegagalan.
1. Sejarah Konflik Srilanka
Konflik di Sri Lanka yang hingga kini terus bergejolak telah berlangsung
sejak lama, jauh sebelum masa penjajahan dan kemerdekaan Ceylon yang

merupakan nama lain dari Sri Lanka sebelum diperoleh kemerdekaan. Di Sri Lanka
terdapat enam kelompok etnis yaitu Sinhala, Tamil-Sri Lanka, Indian-Malaiyaha
Tamil, Sri Lankan Moor, Burgher dan Malay. Diantara keenam klasifikasi etnis,
Sinhala memiliki populasi paling besar diantara, sedangkan populasi paling kecil
berasal dari suku Burgher dan Moor.[56]
Sejarah timbulnya berbagai suku di Sri Lanka berawal dari lahirnya suku
Sinhala disertai dengan kedatangan Pangeran Vijaya ke Sri Lanka tahun 543 dari
India Utara. Kedatangan Pangeran Vijaya bertepatan dengan wafatnya Buddha
Gautama kemudian dilanjutkan dengan perkawinan Vijaya dengan putri setempat
dari suku Veddha yang sudah mendiami pulau itu. Dengan demikian, Pangeran
Vijaya dianggap sebagai Raja Sinhala yang pertama. Kedatangan Vijaya kemudian
disusul dengan datangnya kelompok suku Arya dan suku Dravida (Tamil) dari India
Selatan.
Pada waktu Raja Devanampiyantissa yang bertahta di Anuradhapura (267
SM), di India bertahta Raja Asoka. Pada tahun itu, Asoka mengutus puteranya
Pangeran Mahendra untuk menyebarkan agama Buddha di Sri Lanka. Misi
Mahendra memperoleh sukses dimana Raja Anuradhapura, keluarganya dan para
pejabat kerajaan mulai memeluk agama Buddha.
Seiring berjalannya waktu, kerajaan suku Sinhala sering diserang dan
diduduki oleh tentara India Selatan, yaitu suku Pandyan dan Chola. Mereka
kemudian mendirikan kerajaan suku Tamil di Sri Lanka bagian Utara, yang pada
umumnya memeluk agama Hindu. Kedua kerajaan berbasis etnis tersebut selalu
bersaing dan tidak jarang saling serang satu sama lain. Sejarah inilah yang sampai
sekarang menjadi dasar tuntutan suku Tamil Sri Lanka bahwa mereka mempunyai
hak untuk mendirikan negara sendiri (Tamil Eelam) dengan wilayah Provinsi Utara
dan Timur Sri Lanka.
Pada tahun 1505, bangsa Portugis tiba di Galle (bagian Selatan) Sri Lanka
karena kehilangan arah sewaktu hendak menuju Maldives. Pada waktu itu terdapat 3
kerajaan kuat yaitu, Kotte dengan dominasi suku Sinhala yang terletak 5 km di
sebelah Timur Colombo, Kandy dengan dominasi suku Sinhala dan terletak di
dataran tinggi Provinsi Tengah dan Jaffna dengan mayoritas suku Tamil yang terletak
di Propinsi Utara. Kerajaan-kerajaan tersebut sudah ada sejak lebih dari 5 abad.

Perdagangan kayu manis di Ceylon membuat bangsa Portugis tertarik terhadap


wilayah tersebut. Kedatangan bangsa Portugis yang kemudian berubah menjadi
penjajahan menyebabkan keruntuhan dinasti kerajaan Sinhala seiring dengan
ditaklukkannya juga wilayah Jaffna dan Kotte oleh tentara Portugis.
Penjajahan Portugis pun tidak bertahan lama dengan diusirnya bangsa
tersebut oleh armada perang Belanda yang berkekuatan sekitar 2.000 tentara pada
abad ke-18. Belanda kemudian bekerjasama dengan Kerajaan Kandy dimana
berdasarkan kesepakatan Belanda memonopoli perdagangan rempah-rempah,
sedangkan daerah-daerah pantai yang dikuasai Portugis dikembalikan ke Kerajaan
Kandy. Dikemudian hari, ternyata Belanda mengingkari kesepakatan yang telah
dibuat dan menguasai daerah-daerah tersebut kembali.
Selama menjajah Sri Lanka, Belanda merubah kota Colombo menjadi kota
militer, memberlakukan hukum Romawi Belanda, kodifikasi hukum adat Tamil yang
disebut Thesavalami, memperluas perbentengan di Galle, memperkenalkan Gereja
Reformasi, mengorganisir tata niagarempah-rempah, membangun jalan dan kanal,
memperbarui sistem tanam padi dan lain-lain. Terdapat juga kawin campur antara
penduduk lokal dan kaum pendatang Belanda menghasilkan masyarakat yang
disebut Burgher.
Pada tahun 1976, perkembangan politik di Eropa sesudah Revolusi Perancis
membuka kesempatan bagi Inggris untuk meluaskan jajahannya di Asia. Inggris
sudah berada di India ketika berminat menguasai Ceylon, hingga pada akhirnya
Inggris berhasil mengambil alih kekuasaan Belanda. Sejak itu, Kerajaan Kandy
dikuasai Inggris setelah peperangan selama 25 tahun. Kota Colombo kemudian
dijadikan ibukota. Diantara para penjajah yang telah menduduki Sri Lanka, hanya
Inggris satu-satunya yang mampu menguasai seluruh wilayah Ceylon. Pada tahun
1818, Inggris memberlakukan sistem pemerintahan terpusat. Suatu kebijakan yang
menghapus tata administrasi pemerintahan di daerah-daerah yang mayoritas
penduduknya suku Tamil.
Inggris juga membuka perkebunan teh dengan tenaga suku Tamil yang
didatangkan dari India Selatan dengan jumlah sekitar 1 juta jiwa. Munculnya
golongan intelektual kelas menengah dan tumbuhya kesadaran nasionalisme serta

berkembangnya Buddhisme dan Hinduisme menimbulkan banyak tuntutan agar


orang-orang Ceylon dapat ikut serta dalam pemerintahan.
Pada tahun 1947 Ceylon diberi status Dominian (hak berkuasa) dan pada tanggal 4
Februari 1848 Inggris memberikan kemerdekaan kepada Ceylon. Hingga tahun
1972, Ceylon tetap sebagai anggota Persemakmuran. Akan tetapi, pada tahun
tersebut Ceylon menyatakan diri sebagai Republik Sri Lanka dan melepaskan
ikatannya dari kerajaan Inggris, namun tetap dalam lingkungan Persemakmuran.
Sejak diberikannya kemerdekaan oleh kolonial Inggris sampai pada abad ke 20,
selalu saja terdapat perbedaan dan tawar menawar dalam hal pembagian kekuasaan
antara suku Tamil dan Sinhala.
Pada masa penjajahan Inggris, tokoh-tokoh dan cendekiawan suku Tamil Sri
Lanka yang dibawa oleh Inggris untuk bekerja pada perkebunan teh Sri Lanka,
banyak diantaranya yang duduk pada posisi penting. Keadaan tersebut menimbulkan
kecemburuan dan kebencian suku Sinhala kepada suku Tamil. Sikap itu semakin
menonjol ketika diberlakukan sistem pemerintahan demokrasi melalui pemilihan
umum, yang selalu dimenangkan oleh suku mayoritas Sinhala.
Pemerintahan nasional pertama yang dibentuk adalah United National Party
(UNP) dipimpin oleh Perdana Menteri D.S. Senanayake. Namun pada tahun 1953,
salah seorang anggota partai UNP, S.W.R.D. Bandaranaike menyatakan keluar dari
partai UNP dan membentuk partai sendiri, Sri Lanka Freedom Party (SLFP).
Bandarainake pun menyatakan bahwa apabila sekiranya partai SLFP menang dalam
pemilu, maka bahasa Sinhala akan dijadikan satu-satunya bahasa nasional.
Setelah

kemenangannya

dalam

Pemilu,

S.W.R.D.

Bandarainake

mengeluarkan sebuah keputusan sesuai dengan rencananya yaitu Sinhala Only Act
yang diresmikan pada tanggal 14 Juni 1956.[57] Keputusan ini menetapkan bahasa
resmi yang digunakan hanya bahasa Sinhala dan semua sekolah yang sebelumnya
menggunakan bahasa Inggris diganti dengan Bahasa Sinhala. Akan tetapi, di daerahdaerah Tamil tetap menggunakan bahasa Tamil, namun di perkantoran menggunakan
bahasa Sinhala.
Selain itu, dampak dari peralihan kekuasaan oleh mayoritas suku Sinhala
menimbulkan rasa nasionalisme yang berlebihan sehingga tidak jarang berbagai

bentuk tekanan dan penindasan dilakukan oleh pemerintah Sinhala terhadap


masyarakat Tamil. Bentuk-bentuk tekanan dan penindasan antara lain berupa
perlakuan diskriminatif dan hak-hak masyarakat Tamil yang tidak pernah dipenuhi
oleh pemerintahan Sinhala, terutama dari segi bahasa, pendidikan dan pekerjaan
ataupun hak milik atas tanah yang sifatnya turun-temurun. Selain itu kehidupan
agama dan budaya suku Tamil juga cenderung terancam. Pihak pemerintah pun
bahkan pernah melakukan pembunuhan secara besar-besaran yang mengarah pada
pembasmian masyarakat Tamil dalam jumlah yang besar dan kerusakan terhadap
barang-barang milik mereka.
2. Konflik Sinhala-Tamil
Konflik terbuka antara orang-orang Sinhala dengan orang-orang Tamil pecah
pada awal tahun 1980-an, yakni ketika puluhan orang meninggal dunia karena
terjadinya perang antar kelompok masyarakat. Kemudian, beratus-ratus ribu orang
Tamil melarikan diri ke Propinsi Jaffna di Utara yang mayoritas dihuni oleh orangorang Tamil.
Sejak terjadinya kerusuhan itu, maka di Sri Lanka mulai timbul gejala-gejala
konflik yang bersifat terorisme, seperti pembunuhan-pembunuhan serta perampasan.
Di antara kelompok Tamil yang paling berpengaruh adalah Macan Tamil (Harimau
Tamil) yang membentuk dirinya menjadi suatu gerakan bersenjata. Gerakan Macan
Tamil inilah yang pertama kali melakukan gerilya kota dan memaklumkan perang
rakyat terus menerus terhadap Pemerintah, yang disebutnya sebagai pemerintah
Sinhala.
Serangan gerilyawan Tamil atas konvoi angkatan darat Sri Langka di
samping merupakan contoh keberanian, tetapi juga sekaligus merupakan kenekatan
mereka. Serangan yang sangat berani dilakukan beberapa kali disertai pembantaianpembantaian membabi-buta terhadap penduduk sipil Sinhala.Melihat hebatnya
gempuran-gempuran dari pihak gerilyawan Tamil, terutama dari kelompok Macan
Tamil, maka Pemerintah Sri Lanka berkesimpulan bahwa sejak awal India
bersimpati terhadap gerakan separatis itu, yakni dengan cara melatih mereka di
negara bagian Tamil Nadu, India Selatan. Hal ini disebabkan, karena gerakan
pertama gerilyawan Tamil itu membuat pihak keamanan Sri Lanka kedodoran dan
hampir kehilangan kontrol.

Gerilyawan Macan Tamil mengebom pangkalan udara di dekat bandara


internasional di selatan Kolombo, Srilanka, pukul 2 dinihari tadi. Dua orang tewas,
17 lainnya luka-luka akibat bom yang dijatuhkan menggunakan pesawat ringan yang
berhasil menembus pertahanan pangkalan militer itu. Tak ada korban sipil dalam aksi
ini. Bandara internasional,tak jauh dari sasaran luput dari serangan, namun segera
ditutup oleh pemerintah untuk berjaga-jaga jika ada serangan lanjutan.
Kelompok Tamil telah menyatakan bertanggungjawab atas serangan itu.
Mereka menyebut serangan dilakukan menggunakan dua pesawat ringan dan
keduanya pulang ke pangkalan dengan selamat. "Itu kami lakukan untuk melindungi
warga sipil Tamil dari pengeboman oleh Angkatan Udara Srilanka. Serangan
berikutnya akan menyusul," demikian bunyi pernyataan mereka.
Pihak militer Srilanka menyebut serangan itu hanya membawa kerusakan
kecil dan operasi perburuan mengejar para gerilyawan akan ditingkatkan.
Ini adalah serangan kedua setelah sebelumnya terjadi tahun 2001. Dalam serangan
pertama, kelompok Tamil menggunakan pasukan bom bunuh diri. Saat itu, nyaris
separuh armada pesawat penerbangan nasional Sri Lanka hancur.
Kelompok Tamil selama ini berjuang melawan pemerintah yang dikuasai
kelompok Sinhala. Mereka menuntut kemerdekaan di kawasan selatan dan timur
Srilanka. Sejak konflik ini, sedikitnya 64.000 orang tewas dan jutaan lainnya
terpaksa mengungsi. Pertempuran berkecamuk antara pasukan Pemerintah Sri Lanka
dan kaum gerilyawan Macan Tamil di sebuah kota pesisir di Sri Lanka timur laut,
Kamis (3/8).
Tembakan artileri Macan Tamil dikabarkan menghantam sebuah sekolah dan
menewaskan 10 warga sipil yang berlindung di sana. Pihak Departemen Pertahanan
Sri Lanka mempersalahkan para gerilyawan atas meletusnya pertempuran artileri di
kota Muttur. Sebaliknya, sebuah pernyataan yang dilansir di situs pro-Macan Tamil,
TamilNet, menuduh justru pasukan pemerintah yang memprovokasi penembakan.
Menurut Departemen Pertahanan Sri Lanka, di samping 10 korban tewas,
juga ada 20 hingga 30 korban luka-luka. Dalam pertempuran sehari sebelumnya,
yang terjadi di kota pelabuhan Trincomalee dan Muttur, pasukan pemerintah berhasil
menewaskan lebih dari 40 gerilyawan Tamil dan mencederai 70 orang lainnya.

Kedua pihak sama-sama mengklaim berada dalam posisi unggul dalam kontak
tembak yang terjadi. Akan tetapi, tak ada cara untuk memantau situasi di lapangan
secara independen karena tertutupnya lokasi pertempuran bagi wartawan dan pihak
asing lainnya.
Situs internet TamilNet juga mengutip beberapa penduduk setempat yang
menyatakan, pertempuran sengit tengah berlangsung di Muttur. Di sana ratusan
gerilyawan Macan Tamil yang bersenjata berat, sebelumnya telah mengambil alih
pusat kota, mulai melakukan pengepungan atas empat kamp tentara Sri Lanka di
daerah pinggiran.
Pemerintah Sri Lanka menuding sejumlah lembaga hak asasi manusia dan
organisasi internasional menyokong kelompok gerilyawan Macan Pembebasan Tamil
Eelam. Mereka menuduh lembaga-lembaga asing berniat memperpanjang perang
sipil di negeri itu.
Tudingan itu dilancarkan setelah Human Rights Watch menuduh militer Sri
Lanka membombardir secara membabi-buta wilayah zona bebas perang di wilayah
utara Sri Lanka, tempat pemberontak Macan Tamil bertahan. Dia menerima sejumlah
laporan bahwa penduduk sipil terbunuh dan cedera setiap hari di zona bebas
pertempuran itu. Tapi pemerintah Sri Lanka telah menanggapi keprihatinan
internasional dengan amarah. Lebih lanjut, lembaga yang berbasis di New York,
Amerika Serikat, tersebut mengatakan ada lebih dari 150 ribu warga sipil etnis Tamil
yang terjebak.
Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan lebih dari 2.800 warga sipil diduga
tewas terbunuh dan lebih dari 7.240 lainnya cedera dalam pertempuran yang
berlangsung sejak 20 Januari lalu itu. Ketua Hak Asasi PBB Navi Pillay belum lama
ini memperingatkan bahwa kedua pihak di dalam konflik tersebut bisa dituduh
bersalah melakukan kejahatan perang.
Sebagaimana diungkapkan Human Rights Watch, Macan Tamil juga
memakai warga sipil yang terjebak di sepanjang wilayah pantai sebagai benteng
pertahanan gerilyawan Macan Tamil, yang kini tersudut oleh serangan besar militer.
Adapun Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton mendesak Kolombo
menghentikan serangan.

Militer Sri Lanka menegaskan mereka telah mengizinkan lebih dari seribu
warga sipil meninggalkan zona perang tersebut. Komite Palang Merah Internasional
mengatakan pada Ahad lalu mereka telah mengungsikan 493 pasien beserta keluarga
melalui laut dari Puttumattalan menuju Kota Pulmoddai di Sri Lanka timur laut.
Beberapa pengungsi lainnya dikabarkan berjalan kaki melewati hutan. Juru
bicara Palang Merah, Sarasi Wijeratne, mengatakan pihaknya telah mengirim obat ke
rumah sakit darurat di Puttumattalan, jauh di dalam wilayah yang dikuasai
pemberontak, di mana puluhan ribu orang masih terperangkap akibat pertempuran.
Palang Merah mengklaim berhasil mengungsikan hampir 5.000 pasien
beserta keluarga dari Puttumattalan untuk dirawat di daerah-daerah yang dikuasai
pemerintah. Militer mengatakan telah membunuh dua pemimpin Macan Tamil.
Namun, tak ada keterangan mengenai korban di pihak pasukan pemerintah.
Belum ada pula pernyataan segera mengenai hal itu dari Macan Tamil, yang
diklaim Kolombo hampir kalah dalam perang puluhan tahun guna mendirikan negara
Tamil merdeka. Laporan-laporan independen dari zona konflik hampir tidak bisa
diperoleh karena sebagian besar wartawan, pekerja bantuan, dan pengamat
internasional dilarang ke sana. Sejumlah analis mengatakan Macan Tamil semakin
mendekati kekalahan dan perang akan segera berakhir. Presiden Sri Lanka Mahinda
Rajapaksa telah memperingatkan agar pemberontak Macan Tamil menyerah tanpa
syarat atau dibunuh. Dia mengatakan bahwa mereka (Macan Tamil) harus
mengizinkan warga sipil pergi dan kemudian menyerah tanpa syarat.
Lebih dari 70 ribu orang tewas dalam konflik separatis panjang di Sri Lanka
itu sejak 1972. Sekitar 15 ribu pemberontak Tamil memerangi pemerintah Sri Lanka
dalam konflik etnis berkepanjangan tersebut. Masyarakat Tamil mencapai sekitar 18
persen dari penduduk Sri Lanka yang berjumlah 19,2 juta orang.
Kelompok etnis Tamil berkumpul di provinsi-provinsi utara dan timur, yang
dikuasai Macan Tamil. Kelompok Macan Tamil masuk daftar teroris yang
dikeluarkan Amerika Serikat, Uni Eropa, Kanada, dan India. Penyebabnya, antara
lain, kelompok gerilya itu melancarkan serangan-serangan bom bunuh diri selama
perang saudara tersebut.

Lebih dari 150 ribu warga sipil terjebak di tengah-tengah zona bebas
bentrokan senjata antara Angkatan Bersenjata Sri Lanka dan gerilyawan Macan
Pembebasan Tamil Eelam. Satu per satu benteng Macan rontok digempur serdadu Sri
Lanka. Macan kini kian terpojok di benteng pertahanan terakhir mereka di wilayah
utara Sri Lanka.
Kelompok hak asasi manusia yang bermarkas di New York, Amerika Serikat,
Human Rights Watch, menyebutkan, pengeboman membabi-buta yang dilakukan
militer Sri Lanka terhadap gerilyawan Macan Tamil ikut menewaskan sejumlah
penduduk sipil setiap hari di zona bebas perang tersebut. Meski demikian, menurut
Direktur Human Rights Watch Brad Adams, Sri Lanka terus membantah adanya
serangan-serangan itu. Sebaliknya. Macan Tamil tetap memakai warga sipil di sana
sebagai tameng hidup dalam sejumlah pertempuran berdarah tersebut. Menurut
Perserikatan Bangsa-Bangsa, lebih dari 2.800 warga sipil diduga telah
Setelah pemerintahan di Kolombo yakin sekali bahwa India membantu
gerakan Tamil, maka semua kapal-kapal penangkap ikan India yang berada di
sebelah utara perairan Sri Lanka dihantam oleh angkatan laut Sri Lanka. Akibatnya,
angkatan laut kedua negara terlibat langsung dalam pertikaian itu. Baru setelah
menawarkan jasa baik untuk melaksanakan gencatan senjata antara Pemerintah Sri
Lanka dengan organisasi Tamil demi kesatuan Sri Lanka, maka keterlibatan India
secara langsung dalam konflik itu terhenti. Bahkan akhirnya pasukan India pun
ditarik mundur tanpa membawa hasil.
Dengan ditariknya pasukan India dari Sri Lanka, berarti bahwa pasukan Sri
Lanka harus menghadapi sendiri gerilyawan Tamil. Konflik antara Pemerintah Sri
Lanka dengan Macan Tamil ini diwarnai dengan gelombang perang dan gencatan
senjata. Meskipun gencatan senjata disetujui, kaum gerilyawan secara sporadis
menembaki asrama-asrama angkatan darat. Inilah yang menyebabkan sering
gencatan senjata itu gagal dilaksanakan.
Setelah Pemerintah Sri Lanka mengerahkan kekuatannya untuk menggempur
pasukan Macan Tamil secara besar-besaran, maka pertahanan Macan Tamil dapat
dipatahkan. Namun Pemerintah belum berhasil menumpas seluruh kekuatan Macan

Tamil. Hal inilah yang memungkinkan Pemerintah bertindak lebih keras dan makin
diskriminatif.

3. Kronologi dan Periodisasi Konflik Sinhala-Tamil


1976:
Macan Pembebasan Tamil Eekam (LTTE) didirikan. Kelompok pembela etnis Tamil,
yang minoritas di Sri Lanka, ini menuntut kemerdekaan.
1984-1986:
Gerilyawan Macan Tamil menangkap sejumlah pemimpin faksi yang menjadi rival
dan membunuh mereka.
1987:
Pasukan Perdamaian India bentrok dengan gerilyawan Tamil setelah gagalnya
sebuah upaya perdamaian.
1990:
Pasukan Perdamaian India meninggalkan Sri Lanka. Sulit tercipta perdamaian antara
kedua pihak yang berseteru itu.
1991:
Macan Tamil membunuh Perdana Menteri India Rajiv Gandhi. Dunia gempar.
1993:
Presiden Sri Lanka Ranasinghe Premadasa dibunuh.
2002:
Macan Tamil menduduki dan menguasai wilayah utara Sri Lanka. Upaya perdamaian
yang dicomblangi Norwegia kandas setelah Macan menolak berkompromi dan
menuntut kemerdekaan penuh.

2004:
Seorang komandan gerilyawan macan Tamil, Kolonel Karuna, menyeberang ke
pemerintah. Semua anak buah Karuna ikut membelot.
2005:
Macan Tamil mengimbau agar etnis Tamil memboikot pemilu yang dimenangi tokoh
garis keras Mahinda Rajapaksa. Setahun kemudian (2006), Rajapaksa menyerukan
perang total terhadap Macan Tamil. Lebih dari 70 ribu orang tewas terbunuh
semenjak konflik senjata antara pemerintah dan Macan Tamil meletus pada 1983.
4. Upaya Penyelesaian Konflik
a. Keterlibatan serta Intervensi Kemanusiaan oleh India
Tamil juga merupakan salah satu suku yang ada di India Selatan dan suku ini
memiliki hubungan yang erat dengan suku Tamil di Sri Lanka utara. Melihat konflik
di Sri Lanka, India pada awalnya berusaha untuk menahan diri dari ikut campur
dalam konflik tersebut. Padahal, suku Tamil yang ada di India berusaha keras agar
India dapat turun dan menupayakan kehidupan yang lebih sejahtera bagi warga
Tamil di Sri Lanka. Namun, konflik ini semakin meluas dan India terkena getahnya.
India dituduh pihak pemerintahan Sri Lanka, yang menganggap India membiarkan
penyelundupan senjata dari negara itu ke warga tamil di Sri Lanka. Di samping itu
juga terjadi penggungsian warga Tamil Sri Lanka ke India, yang kemudian
menyebabkan tuduhan tersebut semakin kencang.
Etnis Tamil yang berada di negara bagian Tamil Nadu, India Selatan, semakin
resah akibat dari penindasan yang dilakukan pemerintahan Sri Lanka terhadap suku
Tamil di negara tersebut. Dan hal tersebut membuat India pusat mau tidak mau haru
ikut campur agar konflik tersebut tidak meluas menjadi konflik antar negara. Namun,
sebelum negara India pusat mulai ikut campur, pada awal tahun 1980 negara-negara
bagian India telah lebih dahulu masuk ke dalam konflik tersebut. Melalui badan
intelejen, India menyediakan persenjataan, pelatihan dan pendanaan kepada sejumlah
kelompok garis keras Tamil di Sri Lanka. Pemberian dukukungan ini dimaksudkan
bahwa suku Tamil di India juga mendukung suku Tamil di Sri Lanka, dan juga ada

pesan tersembunyi yang ingin disampaikan India untuk menanamkan pengaruh India
kepada setiap kelompok tersebut.
Intervensi kemanusiaan India pertama kali datang pada tanggal 4 Juni 1987.
Lima pesawat transport dan dikawal empat jet mirage IAF, mereka menjatuhkan 25
ton makanan dan obat-obatan di semanjung Jaffna (Sri Lanka Utara) bagi penduduk
Tamil yang telah menderita sangat tidak manusiawi yang diakibatkan oleh blokade
tentara Sri Lanka. Ke ikut campur tanganan India dalam konflik Sri Lanka bukan
untuk menghentikan serangan Sri Lanka atau untuk memperkuat gerilyawan militer
tetapi, seperti India menyatakan, untuk memberikan beberapa bantuan kemanusiaan.
Dengan kata lain, India mengklaim telah campur tangan dalam urusan Sri Lanka atas
dasar kemanusiaan.
Walaupun yang tentara lawan adalah para militan, namun penderitaan warga
sipil terlihat sangat nyata. Tujuan resmi yang India samapikan dalam intervensi ini
adalah : (i) untuk memberikan bantuan pangan kepada rakyat Sri Lanka yang
kelaparan di bawah blokade selama enam bulan; (ii) untuk melindungi etnis Tamil
dari buruan kebijakan genosida yang dijalankan oleh Colombo di pantai utara Sri
Lanka; (iii) untuk memberikan bantuan medis kepada korban yang terluka akibat
operasi militer Sri Lanka.
Enam minggu kemudian, pada 29 Juli 1987, atas kesepakatan pemerintahan
Sri Lanka yang dipimpin Presiden Jayawardane, dengan pemerintahan India yang
diwakilkan Perdana Menteri India Rajiv Gandhi, yang dituangkan dalam perjanjian
Indo-Lanka atau Indo-Sri Lankan Accord, India pun mengirimkan pasukan
perdamaiannya ke Sri Lanka. Dengan tujuan untuk menegahi konflik antar
pemerintahan Sri Lanka dengan kelompok Tamil. Operasi tersebut dinamakan Indian
Peace Keeping Force (IPKF). Pergerakan IPKF tersebut merupakan kontigen militer
India yang berusaha untuk menjaga perdamaian di Sri Lanka yang dimulai pada
tahun 1987 sampai 1989/1990. Indian Peace Keeping Force dibentuk dibawah
mandat dari Indo-Sri Lankan Accord atau kerukunan keturunan Sri Lanka, yang
ditanda tangani oleh pihak India dan Sri Lanka pada tahun 1987.
Dalam kesepakatan kedua negara diatur bahwa sebuah dewan provinsi akan
dipilih untuk memerintah wilayah Jaffna, dengan diberi otonomi yang substansial
selama preiode percobaan. Akan tetapi kesepakatan tersebut tidak memuaskan pihak

manapun. Macan Tamil langsung memprotes sebelum India mengisolasi kelompok


mereka dan mempersenjatai kelompok Tamil lainnya, dan penetangan ini juga
muncul dari etnis Sinhala dan komunitas pendeta Buddha. Hal ini kemudian
menyebabkan kekerasan terhadap pasukan perdamaian tersebut. Ketika Presiden
Ranasinghe Premadasa menggantikan Jayawardane, pemimpin baru Sri Lanka itu
meminta pasukan India ditarik pada Maret 1990. Dengan hal itu selesai sudah
intervensi atau campur tangan India dalam konflik Sri Lanka.
b. Mediasi oleh Norwegia
Pada pertengahan tahun 2000, kelompok Hak Asasi Manusia memperkirakan
lebih dari satu juta di Sri Lanka mengunggsi dan tinggal di kamp-kamp
penampungan. Oleh karena itu, gerakan perdamaian yang siginifikan dikembangkan
pada akhir 1990-an, baik melalui jalur organisasi perdamaian, konferensi, pelatihan
dan mediasi perdamaian, dan upaya lain untuk menjembatani kedua belah pihak.
Pada awal Februari 2000, Norwegia diminta untuk memediasi kedua belah pihak,
dan awal diplomatik internasional mulai mencari penyelesaian yang dinegosiasikan
dalam konflik tersebut.
Menjelang akhir tahun 2001, namun, LTTE mulai menyatakan kesediaan
mereka untuk ikut dalam langkah-langkah untuk penyelesaian konflik. LTTE
diyakini telah mengambil tindakan ini setelah takut tekanan internasional dan
dukungan AS terhadap pemerintah Sri Lanka sebagai bagian dari War on Terror.
Pada tanggal 19 Desember 2001 Norwegia membawa pemerintah dan Macan Tamil
ke meja perundingan, LTTE mengumumkan gencatan senjata 30 hari dengan
pemerintah Sri Lanka dan berjanji untuk menghentikan semua serangan terhadap
pasukan pemerintah. Pemerintah yang baru menyambut hal tersebut dengan baik,
dan pemerintah juga mengumumkan gencatan senjata selama satu bulan dan
menyetujui untuk mengangkat embargo ekonomi di wilayah yang dikuasai
pemberontak. Kedua belah pihak kemudian menandatangani Memorandum of
Understanding (MoU) pada tanggal 22 Februari 2002, dan menandatangani
perjanjian gencatan senjata permanen (CFA). Norwegia menjadi mediator, dan
diputuskan bahwa mereka, bersama-sama dengan negara-negara Nordik lainnya
memantau gencatan senjata melalui komite ahli bernama Sri Lanka Monitoring
Mission.

Namun, gencatan senjata itu akhirnya berakhir pada tahun 2008. Gencatan
senjata berumur 6 tahun itu, sudah ribuan kali dilanggar, baik oleh pihak pemerintah
maupun pemberontak, terutama 2 tahun terakhir. Dengan pembatalan secara resmi,
pemerintah membuka jalan untuk serangan militer besar-besaran terhadap kelompok
separatis Macan Tamil Eelam, LTTE. Kesepakatan gencatan senjata yang dicapai
dengan susah payah tahun 2002 menumbuhkan harapan akan terwujudnya solusi
damai. Namun pengambilalihan kekuasaan dari tangan mayoritas Singhala oleh
Presiden Rajapakse dua tahun silam, memperburuk situasi secara dramatis. Kedua
pihak menolak untuk sepaham dan memilih jalan kekerasan dan pemerintah
mengumumkan diakhirinya secara resmi perjanjian gencatan senjata.
5. Akhir Perang
Setelah berbagai upaya resolusi konflik yang digagas gagal, pemeritah Sri
Lanka telihat sangat concern terhadap upaya militer dalam menumpas kelompok
LTTE ini. Panglima Angkatan Darat Sri Lanka, Sarath Fonseka menyatakan
kemenangan mereka pada tanggal 16 Mei 2009. Namun, perang tidak berakhir
sampai hari berikutnya. Pasukan Sri Lanka bergegas membersihkan kantong
perlawan LTTE terakhir. LTTE pun hancur, tentara Sri Lanka membunuh 70
pemberontak yang berusaha melarikan diri dengan perahu. Keberadaan pemimpin
LTTE Vellupillai Prabhakaran yang juga merupakan pendiri LTTE dan para
pemimpin pemberontak lainnya, diumumkan oleh pemerintah Sri Lanka, bahwa
Prabhakaran telah meninggal pada tanggal 17 Mei 2009.
LTTE akhirnya mengakui kekalahan pada 17 Mei 2009, melalui kepala
pemberontak dalam bidang 'hubungan internasional, Selvarasa Pathmanathan,
menyatakan pada website yang berbunyi "Pertempuran ini telah mencapai akhir yang
pahit ... Kami telah memutuskan untuk membungkam senjata kita." Dengan adanya
peryataan tersebut serta dengan kematian pendiri LTTE, Prabhakaran gerakan Macan
Tamil dan Konflik Sri Lanka ini berakahir.

KESIMPULAN
Konflik etnis yang terjadi di Srilanka merupakan konflik yang sangat panjang
dalam periode waktunya, konflik ini dipicu oleh rasa termarjinalkan oleh
pemerintahan yang lebih mengutamakan satu etnis dari yang lainnya. Jalan panjang
yang ditempuh dalam menyelesaikan konflik ini juga tidak satu saja, setiap upaya
tentunya memiliki kekurangannya masing-masing. Hal ini memberikan gambaran
bagi pemerintah dan penstudi agar dapat nantinya meminimalisir serta menghindara
konflik yang sama terulang lagi, banyak pelajaran yang bisa diambil pemerintah agar
tidak sembarangan dan perlunya pertimbangan yang matang dalam membuat suatu
kebijakan, terutama yang berkaitan dengan masalah etnis, agama, suku dan
sebagainya.

REFERENSI
"Norway role in Sri Lanka peace plan". Susannah Price (BBC News). February 1,
2000. Diakses pada 28 Juli 2015.
"Sri Lanka rebels announce truce". BBC News. December 19, 2001. Diakses pada 28
Juli 2015.
"Sri Lanka enters truce with rebels". BBC News. December 21, 2001. Diakses pada
28 Juli 2015.
"Colombo lifts ban on Tamil Tigers". BBC News. August 26, 2002. Diakses pada 28
Juli 2015.
http://www.dw-world.de/dw/article/0,,3059713,00.html. Diakses pada 28 Juli 2015.
"Is LTTE chief Prabhakaran dead? Yes, says Lanka govt". Diakses pada 28 Juli 2015.
From correspondents in Colombo (May 17, 2009). "Tamil Tigers admit defeat in
civil war after 37-year battle". News.com.au. Diakses pada 28 Juli 2015.
http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=197516&actmenu=39 Diakses pada 28 Juli
2015.
http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/03/25/Internasional/krn.20090
325.160529.id.html. Diakses pada 28 Juli 2015.