Anda di halaman 1dari 9

IDENTIFIKASI

JENIS MINERAL BATUAN

Jenis mineral batuan dapat diidentifikasi berdasarkan data


yang diperoleh dari Log Density, Log Neutron, Log Sonik
dan Log Gamaray Spektral (Tool Porositas).

Mineral primer yang menjadi perhatian adalah : Sanstone,


limestone, Dolomite dan Anhydrite, sedangkan mineral
sekundernya adalah : Gybsum, Salt, Polyhalite, dan Sulfur

Ada tiga metode identifikasi multi mineral. Berdasarkan


kombinasi data dari tool Porositas sebagai berikut :
1. Plot M N
2. Plot MID (Matrix Identification)
3. Metode Litho-Density-Neutron.
4. Plot M-N
Data dari log-log Porositas yaitu Log Sonik, Log Neutron
dan Log Densitas, ketiganya diperlukan untuk menghitung
variabel-variabel M dan N, yaitu variabel-variabel yang
tergantung pada Lithologi.
Plot M-N dilakukan untuk mengeliminasi efek variasi
porositas

dalam

analisis

matrixbatuan

dan

hanya

diaplikasikan berdasarkan data dari Log CNL, FDC dan


BHC (Sonik)
Harga M dan N dihitung dengan persamaan berikut
(schumberger 1972) :

M = 0.01 (tf tlog) / (b f)


N = (Nf N) / (b t)
Keterangan :
tf

: Transite time fluida (189 sec/ft untuk fresh mud


dan 185 sec/ft untuk salt mud)

tlog

: Transite time batuan dari log

: Density fluida ( 1,0 for fresh mud dan 1,1 for salt
mud)

: Bulk density dari formasi.

Nf

: Porositas neutron fluida ( = 1.0)

: Porositas neutron formasi dari log porositas CNL


atau SNP.

Sesungguhnya nilai M dan N ini adalah bebas dari porositas


matrix batuan (sucrosic dan intergranular).
Kenaikan dan penurunan porositas batuan akan memperkecil
atau memperbesar pembilang dan penyebut peersamaan M
dan N, sehingga parameter M dan N menjadi bebas / tidak
tergantung pada variasi porositas batuan, sedangkan variasi
litologi (matrix) akan mempunyai pengaruh yang nyata
dalam perubahan harga M dan N.

Tabel
Nilai-nilai konstanta M dan N, dihitung untuk mineral yang umum.

Sandstone (1) Vma = 18.000


Sandstone (2) Vma = 19.500
Limestone
Dolomite (1) = 5,5 30 %
Dolomite (2) = 1,5 5,5 %
Dolomite (3) = 0 1,5 %
Anhydrite ma = 2,98
Gybsum
Salt

Fresh Mud
( f = 1,0 )
M
N

Salt Mud
(f = 1,1 )
M
N

0.810
0.835
0.827
0.778
0.778
0.778
0.702
1.015

0.835
0.862
0.854
0.800
0.800
0.800
0.718
1.064
1.269

0.628
0.628
0.585
0.516
0.524
0.32
0.505
0.378

0.669
0.669
0.62
0.54
0.55
0.56
0.53
0.40
1.03

Pada plot gambar 1, digambarkan dua segitiga yang


merupakan kombinasi umum sandstone calcite
dolomite dan calcite dolomite anhydrite

GYPSUM

1.0

SECONDARY POROSITY

0.9

GAS

LIMESTONE
SANDSTONE

0.8

DOLOMITE

ANHYDRITE

0.7

APPROXIMATE
SHALE REGION

0.6
0.4

0.6

0.5

0.7

N
Titik titik data mengelompokkan didalam segitiga litologi
yang dibatasi oleh tiga sudut : Dolomite, Anhydrite dan
Limestone.
Dalam kasus ini, batuan teridentifikasi sebagai Dolomite
mengandung gamping dan Anhydrite (Anhydrite Limey
Dolomite).
Plot dua titik diatas garis limestone - dolomite dan masuk
kedalam zona porositas sekunder. Hal ini menunjukkan
porositas sekunder from vugs atau fracture / rekahan.

Segitiga litologi diatas di plot dari nilai-nilai matrix yang


umum untuk M dan N dari tabel 1.
Prosedur plot M N sebagai berikut :
1. Membaca b dan N dari Log Density Neutron.
2. Menghitung M N berdasarkan persamaan 1 dan 2
3. Memplot harga M N pada chart
4. Jika suatu formasi terdiri dari dua macam mineral, maka
titik akan jatuh pada garis yang menghubungkan dua titik
mineral.
Formasi yang mengandung tiga jenis mineral akan jatuh
dalam segitiga yang dibentuk oleh tiga titik mineral.
Jika suatu titik jatuh pada kombinasi dua segitiga, maka
komposisi yang lebih tepat ditentukan berdasarkan
segitiga yang lebih tepat.
Pada beberapa kasus Plot M dan N tidak akurat karena :
1. Titik silika kalsit dolomite tidak dipisahkan secara
luas.
2. Posisi titik tergantung pada asumsi tma yang digunakan.
3. Sebenarnya ada fluktuasi statistik pada pembacaan kurva
Density Neutron.
Kehadiran shale, gybsum, porositas sekunder, gas, salt atau
sulfur menyebabkan titik-titik berpindah dari segitiga kearah
yang ditunjukkan dalam chart, sehingga hasil terbaik yang
digunakan adalah hasil statistik melalui clustering.
Gambar. 2. menunjukan suatu contoh sekuen karbonat
komplek berporositas rendah ( Basin Permian, Texas Barat).

Plot a) menunjukan komposisi campuran dolomite


calcite dan dolomite anhydrite dengan porositas sekunder.
Plot b) menunjukan campuran calcite dolomite dan
kecenderungan

naiknya

porositas

sekunder

karena

pertambahan dolomite.
Plot c) menunjukan kehadiran gybsum dan shaleness
dalam campuran calcite dolomite anhydrite.
Plot d) menunjukan shale dalam campuran sandstone
limestone
I.

Plot MID (Matrix Identification)


Plot MID ini, sama seperti plot M & N yaitu cara gambar
silang (crosspot) yang mana membantu mengidentifikasi
litologi dan porositas sekunder, bersasarkan plot ma Vs tm.
Plot MID memerlukan data dari Log Neutron ( N), Dendity
(b) dan Log Sonik (tlog )
Prosedur Plot MID, sebagai berikut :
1.

Baca harga b, N dan tlog pada log.

2.

Plot N dan b pada crossplot.


Neutron Density (gambar 3) untuk menentukan ( ma)a .
atau dengan persamaan

ma

3.

b f . ND
1 ND

Plot N dan tlog pada Crossplot sonic


Neutron, gambar 4. untuk menentukan (tma)a atau :
(tma)a = tlog (1-1.59 ND)

4.

Plot (ma)a Vs (tma)a pada gambar 5.


untuk mengidentifikasi mineral / matrix.

5.

Sejumlah titik-titik sampel yang lain


ditentukan dengan langkah-langkah yang sama, kemudian
dikelompokkan

untuk

mengetahui

kecenderungan

komposisi matrix. Hal ini dilakukan karena satu titik saja


tidak signifikan untuk mengidentifikasi komponen matrix
suatu formasi.
Pada plot MID ini, kehadiran shale mendorong titik potong
(ma)a Vs (tma)a ke bawah, sedangkan salt dan gas
mendorongnya kekanan atas.
Keuntungan menggunakan plot MID dibandingkan dengan
plot M N :
1. Tidak memerlukan perhitungan.
2. titik matrix pada chart tidak tergantung pada dan
salinitas
3. Parameter-parameter

hasil

plot

mempunyai

arti

psuendofisik.
Kombinasi plot M-N dan MID diperlukan untuk analisis
mineral-mineral yang tidak umum (salt, gybsum dan sulfur).

MID PLOT
2.0

SALT
SALT
CNL
SNP

2.2

2.4

( ma)a , Sr /c

GAS

2.6

SANDSTONE
LIMESTONE

2.8
DOLOMITE

3.0

ANHYDRITE

30

50

40
(

tma)a ,

60

70

sec /ft

Titik-titik data mengelompok didalam segitiga litologi yang


dibatasi oleh tiga sudut : Anhidrite Dolomite dan
Limestone.
Litologi batuan teridentifikasi sebagai dolomite gampingan
dan anhidritan (Anhydritie limey Dolomitic).
Tigatitik yang terplot diatas garis Dolomite Limestrume
menunjukkan porositas sekunder.

CONTOH KASUS

Berdasarkan kurva kombinasi Log-Log Gamma Ray,


Neutron, Density dan Sonic dari sumur Cinta #1
(terlampir), lakukan identifikasi jenis lithologi form multi
mineral pada interval kedalaman 11870 11900 ft,
menggunakan metode-metode :
M-N Plot
MID Plot
Data :
tma : 48 sec/ft
tf

: 189 sec/ft

ma
f

: 2,71 gr/cc
: 1,1 gr/cc

Sonic : 85 % dari neutron.

TUGAS.
1. Hitung harga M & N, (ma)a & (tma)a pada kedal;aman
11875, 11880, 11885, 11890, 11895.
2. Plot M N pada grafik M N
Plot (ma)a & (tma) pada grafik (ma)a & (tma).
3. Simpulkan hasil identifikasi multimineral tersebut.