Anda di halaman 1dari 10

Pengertian Paragraf, Ciri, Fungsi dan Jenis Paragraf

Advertisement

Pengertian Paragraf, Ciri, Fungsi dan Jenis Paragraf Sahabat yang baik hatinya, saya ingin
mengajak anda mengulas mengenai paragraf. Apa sih pengertian paragraf? apa saja ciri ciri paragraf,
fungsi paragraf, dan jenis jenis paragraf itu? Kita akan mengulasnya dalam episode khusus hari ini.
Mungkin secara tidak kita sadari bahwa kita sering kali membuat sebuah paragraf. Dalam surat cinta,
catatan harian atupun tugas sekolah. Bahkan kita sering membaca paragraf yang terdapat pada koran,
status facebook, ataupun buku mata pelajaran sekolah. Namun kita tidak tahu itu jenis paragar apa? Dan
bagaimana ciri-cirinya? Nah dalam artikel ini akan kita pelajari tentang pengertian paragraf, jenis-jenis
paragraf dan ciri-cirinya.
Pengertian Paragraf
Paragraf ialah suatu kumpulan dari kesatuan pikiran yang kedudukannya lebih tinggi serta lebih luas dari
pada kalimat. Atau dapat diartikan pula paragraf adalah bagian dari sebuah karangan yang terdiri dari
beberapa kalimat, yang berisiskan tentang informasi dari penulis untuk pembaca dengan pikiran utama
sebagai pusatnya dan juga pikiran penjelas sebagai pendukungnya. Paragraf terdiri dari beberapa
kalimat yang berhubungan antara satu dengan yang lain dalam suatu rangkaian yang mengahasilkan
sebuah informasi. Paragarf juga dapat disebut sebagai penuangan ide dari penulis melalui beberapa
kalimat yang berkaitan dan memiliki satu tema. Paragraf juga dapat disebut sebagai karangan yang
singkat.
Ciri Ciri Paragraf
Setelah kamu mengetahui tentang pengetian dari paragraf kini mari kita pelajari tentang ciri-ciri sebuah
paragraf. Adapun ciri-cirinya sebagai berikut:
1. Kalimat pada baris pertama terletak agak dalam. Yakni, dengan jarak lima ketukan spasi untuk
jenis karangan yang biasa. Untuk kalimat pada baris selanjutnya biasanya lebi maju dari kalimat
pad abaris pertama.
2. Paragraf memiliki dua jenis kalimat. Yakni, kalimat utama dan kalimat penjelas.
3. Sebuah paragraf biasanya memakai satu kalimat utama dan beberapa kalimat penjelas.
Kalimat utama atau disebut juga kalimat topik merupakan kalimat pokok atau gambaran umum tentang
ide yang ingin di sampaikan. Sedangkan kalimat penjelas merupakan gambaran rinci dari ide yang akan
di sampaikan. Dengan kata lain kalimt penjelas menguraikan ataupun menerangkan pikiran utama yang
terdapat pada kalimat topik. Misalnya, kita ingin membahas masalah bola. Maka kalimat utama paragraf
tersebut merupakan gambaran umum tentang bola, sedangkan kalimat penjelasnya bisa berupa
gambaran khusus tentang bola tersebut.
Jenis Jenis Paragraf
Dengan ciri-ciri paragraf yang telah disebutkan di atas, kita dapat memahami bagai mana dentuk sebuah
paragraf itu. Selanjutnya akan kita bahas tentang jenis-jenis dari paragraf. Adapun jenisnya sebagai
berikut:

Paragraf berdasarkan jenis ceritanya yakni:


1. Paragraf Narasi
Paragraf Narasi merupakan paragraf yang menceritakan suatu kejadian berdasarkan urutan waktunya.
Paragraf narasi terdiri dua jenis yakni narasi kejadian dan narasi runtut cerita. Paragraf narasi kejadian
merupakan paragraf yang menceritakan suatu kejadian. Sedangkan paragraf narasi runtut cerita yaitu
paragraf yang pola pengembangannya dimulai dengan sebuah tindakan yang menghasilkan sesuatu
berlanjut ketahap berikutnya hingga tahap ahir dari cerita.
2. Paragraf Eksposisi
Paragraf Eksposisi merupakan paragraf yang bertujuan untuk memaparkan, menyampaikan informasi,
menjelaskan dan juga menerangkan suatu topik kepada orang lain. Tujuan paragraf eksposisi ialah
untuk memberikan informasi kepada oarang lain. Untuk memahami paragraf eksposisi kita harus
mengana lisis dan juga menghubungkan dengan pengetahuan ynag kita miliki.
3. Paragraf Agumentasi
Paragraf Agumentasi merupakan paragraf yang diguakan untuk mengungkapkan ide, gagasan, ataupun
pendapat penulis yang disertai bukti dan juga fakta (yang benar terjadi). Paragraf argumentasi bertujuan
untuk meyakinkan orang lain bahwa ide, gagasan, dan pendapat tersebut adalah benar adanya dan
terbukti nyata.
4. Paragraf persuasi
Paragraf persuasi merupakan paragraf yang mempunyai tujuan untuk membujuk orang lain supaya
melakuan sesuatu yang di inginkan oleh penulisnya. Agar tujuan tersebut bisa tercapai, penulis harus
bisa pembaca percaya dengan disertai pembuktian yang nyata.
Paragraf berdasarkan letak dari pikiran utamanya:
1. Paragraf deduktif
Paragraf deduktif merupakan paragraf yang kalimat utamanya terlatak di awal paragraf. Dan untuk
kalimat penjelasnya diletakkan setelah kalimat utama.
2. Paragraf induktif
Paragraf induktif merupakan paragraf yang kalimat utamanya terletak diakhir paragraph. Dan kalimat
penjelsanya diletakan sebelum kalimat utama.
3. Paragraf campuran (deduktifinduktif)
Paragraf campuran (deduktifinduktif) merupakan paragraf yang kalimat utamanya terletak di awal dan
akhir paragraf. Sedangkan kalimat penjelasnya berada di tengah-tengah paragraf.
Fungsi Paragraf
Adapun fungsi dari pagraf sediri adalah :
1. Mengekspresikan gagasan yang tertulis

Maksudnya mengekspresikan gagasan disisni ialah memberikan bentuk suatu pikiran dan juga perasaan
ke dalam rangkaian kalimat yang tersusun sehingga membentuk suatu kesatuan.
2. Untuk menandai peralihan gagasan baru
Maksudnya sebuah karangan yang terdiri beberapa paragraf memiliki beberapa ide atau gagasan. Dan
ide atau gagasan tersebuat teletad di masing masing paragraf. Sehingga jika kita membuat paragraf baru
maka kita juga membuat gagasan baru.
3. Untuk memudahkan menulis dan pembaca
Yakni memudahkan penulis dalam menyusun gagasannya. Dan untuk memudahkan pembaca dalam
memahami gagasan dari penulis.
4. Memudahkan pengembangan topik
Yakni dalam mengembangkan topik sebuah karangan ke dalam bentuk pemikiran yang lebih kecil.
5. Untuk memudahkan pengendalian variable
Yakni pengarang lebih mudah dalam mengendalikan variabel, terutama pada karangan yang terdiri dari
banyak variabel.
Pencarian :pengertian paragraf ,paragraf ,paragraf adalah ,Pengertian paragraph ,apa yang kamu
ketahui mengenai paragraf persuasif dan apa saja ciri-cirinya? ,pengertian dan jenis jenis paragraf
,Pengertian paragraf dan ciri cirinya ,fungsi paragraf narasi ,pengertian paragraf jenis dan ciri cirinya
,paragraf dan jenis paragraf

Sumber: http://definisipengertian.net/pengertian-paragraf-ciri-fungsi-dan-jenis-paragraf/

MENYUSUN
PARAGRAF YANG BAIK
Bagaimana Caranya?
Oleh: Imron Rosidi

Kemampuan menulis bukan karena bakat. Bakat hanya 10% dari pendukung kemampuan menulis
seseorang, selebihnya adalah kemauan atau niat, wawasan, daya imajinasi, disiplin, kreativitas, persepsi,
tangguh atau tidak mudah putus asa, penguasaan teknik menulis, dan kemampuan berbahasa.
Selain kesulitan untuk memulai sebuah tulisan, seorang penulis pemula pada umumnya kesulitan untuk
menyusun sebuah paragraf yang koheren. Seorang penulis pemula belum memiliki kemampuan yang cukup
untuk mengakhiri sebuah paragraf dan untuk mengawali sebuah paragraf. Pergantian paragraf hanya dilakukan
apabila ada keinginan untuk berganti atau karena sudah terlalu panjang, bukan karena adanya pergantian ide.
Kesulitan penulis pemula di atas dapat diatasi dengan mempelajari terlebih dahulu syarat-syarat

paragraf yang baik. Tidak cukup sampai di situ saja, seorang penulis perlu terus berlatih menulis sehingga ada
semacam sensor otomatis yang membuat seorang penulis ingin berganti paragraf ketika menulis. Hal itu bisa
terjadi karena penulis sudah terbiasa dengan keadaaan bahwa setiap pergantian ide akan diikuti dengan
pergantian paragraf.
Pergantian paragraf perlu dilakukan oleh seorang penulis untuk memberi kesempatan kepada pembaca
berkonsentrasi kepada paragraf selanjutnya. Tulisan yang tanpa paragraf atau menggunakan paragraf yang
kacau akan mempersulit pembaca dalam memahami setiap ide yang ada. Pembaca akan merasa tersiksa karena
harus membaca berulang-ulang apa yang telah dibacanya.
Apa itu Paragraf?
Sebuah tulisan yang utuh, misalnya artikel, esai, berita, dan resensi pasti disusun atas beberapa
paragraf. Setiap paragraf tersusun atas beberapa kalimat. Kalimat-kalimat yang menyusun paragraf tentunya
haruslah saling berhubungan satu dengan lainnya. Kalimat kedua tentunya menjelaskan kalimat sebelumnya,
begitu juga kalimat ketiga pasti akan berhubungan dengan kalimat yang keempat. Kalau itu terjadi, paragraf
tersebut dapat dikatakan koheren atau padu.
Selanjutnya, apa yang dimaksud dengan paragraf? Beberapa ahli berpendapat bahwa paragraf adalah
kelompok kalimat yang saling berhubungan untuk membentuk sebuah ide. Paragraf dapat dikatakan sebagai
suatu kumpulan pernyataan penulis sebagai suatu unit atau kesatuan dalam pengembangan persoalannya.
Paragraf dapat pula diartikan sebagai kesatuan pikiran yang lebih tinggi atau lebih luas daripada kalimat.
Masih banyak lagi tentang paragraf, tergantung dari sudut pandang pendefinisiannya. Paragraf adalah
unit pikiran atau perasaan yang biasanya tersusun atas beberapa unit (kalimat) dan bertindak sebagai bagian
dari unit yang lebih besar, yaitu wacana. Paragraf dapat dinyatakan sebagai (1) bagian tulisan yang lebih
panjang, (2) sekelompok kalimat yang berhubungan secara logis, disusun dari bagian-bagian yang menyatu
dan didasarkan pada satu topik tunggal, (3) sebentuk kalimat luas, dan (4) sebuah karangan berbentuk mini.
Dari berbagai pendapat tersebut selalu disebutkan bahwa paragraf adalah sebuah kumpulan atau
kelompok kalimat. Dengan demikian, sebuah paragraf selalu dibangun atas beberapa kalimat yang saling
berhubungan satu dengan lainnya. Kalimat yang satu bertindak sebagai kalimat topik, sedangkan yang lain
berkedudukan sebagai kalimat penjelas.
Syarat Paragraf yang Baik
Tidak semua kumpulan kalimat dapat dikatakan sebagai sebuah paragraf, dan tidak semua paragraf
dapat dikatakan sebagai paragraf yang baik. Kumpulan kalimat yang saling berhubungan dan memenuhi
persyaratan tertentu sajalah yang dapat dikatakan sebuah paragraf. Paragraf yang baik hendaklah memenuhi
persyaratan: kesatuan, kepaduan, kelengkapan, dan urutan.
Paragraf hendaknya hanya memuat satu kalimat topik dan setiap paragraf hendaknya memiliki unsur
kelengkapan, yaitu memiliki beberapa kalimat penjelas yang bisa berupa fakta-fakta atau contoh-contoh.
Selain itu, kalimat-kalimat yang membangun paragraf tersebut hendaknya benar-benar saling berhubungan.
Secara lengkap, syarat paragraf yang baik adalah sebagai berikut.
1) Kesatuan (Unity)
Anda tentunya pernah mengalami kesulitan tentang cara mengakhiri atau berganti paragraf ketika
mendapat tugas mengarang dari guru Anda. Kesulitan itu terjadi karena Anda kurang memahami bahwa tulisan
Anda telah berganti kalimat topik. Perubahan topik itu merupakan tanda pergantian paragraf.
Paragraf yang mengandung banyak kalimat topik dapat mengaburkan maksud sehingga dapat
membingungkan para pembaca. Apabila ada sebuah paragraf yang memiliki dua kalimat topik, paragraf
tersebut dapat dikatakan tidak memiliki unsur kesatuan. Paragraf harus memperlihatkan suatu maksud dengan
jelas, yang biasanya didukung oleh sebuah kalimat topik atau kalimat utama, seperti tampak pada contoh

paragraf di bawah ini!


Di masa kecil, Bung Hatta berkembang seperti anak-anak biasa, tetapi ia kurang memiliki sahabat
bermain. Hal itu disebabkan tetangga-tetangga Bung Hatta tidak mempunyai anak seusianya dan di
keluarganya sendiri Hatta merupakan satu-satunya anak lelaki. Kadang-kadang Bung Hatta bermain sendiri
dengan cara membuat miniatur lapangan bola, sedangkan pemain-pemainnya dibuat dari gabus yang dibebani
dengan timah. Bola dibuatnya dari manik bundar. Hatta memainkan sendiri permainan sepak bola itu
dengan asyiknya.
Bung Hatta termasuk orang hemat. Setiap kali diberi uang belanja orang tuanya, yang pada waktu itu
sebenggol, ia selalu menabungnya. Caranya, uang logam itu disusunnya sepuluh-sepuluh dan disimpan di atas
mejanya. Jadi, setiap orang yang mengambil atau mengusiknya, Hatta selalu tahu. Namun, kalau orang
meminta dengan baik dan Hatta menganggap perlu diberi, tak segan-segan ia akan memberikan apa yang
dimilikinya.
(cetak miring: kalimat topik)
2) Kepaduan (coherence)
Paragraf yang baik harus memperlihatkan hubungan antarkalimat yang erat. Paragraf yang dibangun dari
kalimat-kalimat yang loncat-loncat berarti paragraf tersebut tidak koheren atau tidak padu. Apabila tidak ada
kepaduan (koherensi), loncatan-loncatan pikiran, urutan waktu dan fakta yang tidak teratur akan terjadi
sehingga menyimpang dari kalimat topik.
Selanjutnya, bagaimana cara menciptakan kepaduan antarkalimat dalam sebuah paragraf? Sebelum
menjawab pertanyaan tersebut, masih ingatkan Anda ketika Anda masih kecil menyanyikan lagu Bangun
Tidur? Secara lengkap, apabila ditulis dalam sebuah paragraf akan berbunyi sebagai berikut.
Bangun tidur kuterus mandi (1). Tidak lupa menggosok gigi (2). Habis mandi kutolong ibu (3).
Membersihkan tempat tidurku (4).
Paragraf di atas dibangun atas empat kalimat. Kalimat pertama sampai keempat saling berhubungan
karena adanya urut-urutan waktu dan tempat. Waktu menggosok gigi dilakukan sebelum mandi, dan setelah
mandi membantu ibu di kamar tidur untuk membersihkan tempat tidur.
Uraian di atas merupakan salah satu cara agar kalimat yang disusun dalam sebuah paragraf padu. Cara
yang dapat Anda lakukan agar kalimat-kalimat dalam paragraf yang Anda susun padu adalah dengan (1)
mengulang kata atau kelompok kata yang sebelumnya sudah disebutkan dengan kata atau kelompok kata yang
sama atau dengan sinonimnya, dan (2) menggunakan kata penunjuk itu, ini, tersebut, atau dengan kata di atas,
dan (3) membangun urut-urutan ide. Perhatikan contoh berikut!
Saya merasa stres ketika mendapat tugas mengarang. Saya bingung untuk memulainya. Selain itu, saya
sering berhenti ketika mengarang karena kehabisan ide. Kehabisan ide tersebut terjadi karena saya kurang
memiliki wawasan yang cukup tentang apa yang saya tulis.
3) Kelengkapan (completeness)
Paragraf dikatakan lengkap apabila dibangun atas beberapa kalimat penjelas yang cukup untuk
menunjang kejelasan kalimat topik. Paragraf dikatakan tidak lengkap apabila hanya dikembangkan dan
diperluas dengan pengulangan-pengulangan, atau kurang memiliki kalimat penjelas yang memadai. Dengan
demikian, paragraf yang mengandung unsur kelengkapan selalu dibangun atas beberapa kalimat, bukan satu
atau dua kalimat. Paragraf yang hanya memiliki satu atau dua kalimat dapat membuat pembaca merasa
kesulitan memahami makna detil dalam paragraf.
4) Urutan (orderly)
Urutan ini berhubungan dengan kalimat-kalimat yang membangun paragraf hendaknya memiliki urut-urutan
ide secara logis. Syarat ini mirip dengan kepaduan. Hanya saja, untuk urutan, kalimat yang membangun

paragraf hendaknya memiliki keruntunan.


Komponen Paragraf
Komponen paragraf adalah unsur-unsur yang membentuk sebuah paragraf. Komponen yang pertama
berupa ide pokok yang dinyatakan dalam kalimat topik dan komponen yang kedua berupa ide penjelas yang
dinyatakan dalam kalimat penjelas. Kalimat topik merupakan kalimat yang mengungkapkan ide pokok. Semua
penjelasan harus mengacu kepada kalimat topik. Apabila kalimat topik masih bersifat umum perlu
dikembangkan dalam pernyataan-pernyataan yang lebih khusus.
Kalimat penjelas merupakan kalimat yang berisi ide penjelas yang berfungsi untuk menjelaskan
kalimat topik sehingga terdapat kesatuan dan kepaduan paragraf. Kalimat penjelas dapat berupa rangkaian
detil, contoh-contoh, atau fakta-fakta yang dapat digunakan untuk memperjelas kalimat topik. Kalimat-kalimat
penjelas tersebut hendaknya disusun dengan urut-urutan logis.
Letak Kalimat Topik
Ka1imat topik dapat terletak pada awal paragraf, akhir paragraf, awal dan dipertegas di akhir paragraf,
dan menyebar di seluruh paragraf. Perhatikan contoh-contoh berikut!
1) Ka1imat topik/utama pada awal paragraf
Bagi penulis pemula, penyusunan paragraf yang dimulai dengan kalimat utama merupakan jenis
paragraf yang sering dilakukan. Dengan menuliskan kalimat topik terlebih dahulu, penulis dapat lebih mudah
mengembangkannnya dengan kalimat-kalimat penjelas yang bisa berupa contoh-contoh, pengembangan
dengan sebab-akibat, akibat-sebab, analogi, ataupun dengan generalisasi. Paragraf yang dimulai dengan
kalimat topik disebut dengan paragraf deduktif. Perhatikan contoh paragraf di bawah ini yang dimulai dengan
kalimat topik dan dikembangkan dengan akibat-sebab-akibat.
Perangai Ani sekarang sudah berubah. Pada awalnya Ani memaksakan diri kontrak bersama anak-anak
yang kaya. Lalu, ia terbiasa meminta makan makanan anak-anak orang kaya. Ia meminta dibelikan baju seperti
milik anak-anak orang kaya. Ia meminta dikirimi uang sebesar kiriman anak-anak orang kaya. Sekarang ia
telah bergaya hidup seperti anak orang kaya sehingga orang tuanya tak mampu lagi membiayai sekolahnya.
Paragraf di atas dimulai dengan kalimat topik Perangai Ani sekarang sudah berubah. Perubahan
perangai Ani selanjutnya dijelaskan dengan empat kalimat penjelas. Kalimat topik berupa akibat dari kalimat
penjelas pertama, sedangkan kalimat penjelas kedua, ketiga, dan keempat merupakan akibat dari kalimat
penjelas pertama.
2) Kalimat topik di akhir paragraf
Adakalanya seorang penulis memulai paragrafnya dengan kalimat-kalimat penjelas. Kalimat-kalimat penjelas
tersebut bisa berupa fakta-fakta yang akan diakhiri dengan kalimat topik yang berupa kesimpulan. Paragraf
seperti ini disebut dengan paragraf induktif, seperti yang tampak pada contoh berikut.
Pihak yang berkepentingan dan paling utama dalam mengatasi masalah itu adalah orang tua. Selain itu,
sekolah juga ikut berperan dalam mengurangi kenakalan remaja, khususnya melalui program BP. Begitu juga
masyarakat di lingkungan remaja itu tinggal. Lingkungan yang kurang baik dapat menyeret remaja ke dalam
perbuatan yang kurang baik pula, misalnya penyalahgunaan narkoba, tawuran, dan minum-minuman keras.
Untuk itu, kenakalan remaja merupakan masalah yang harus menjadi tangung jawab semua pihak.
kalimat topik
3) Kalimat topik di awal dan akhir paragraf
Bukanlah paragraf yang baik apabila di dalamnya terdapat dua kalimat topik. Akan tetapi, tentunya
Anda pernah membaca sebuah paragraf yang diawali dengan kalimat topik dan diakhiri dengan kalimat topik

pula. Paragraf seperti itu dapat dikatakan baik apabila kalimat topik di akhir paragraf tersebut bukanlah kalimat
topik baru, tetapi hanya mengulang atau menegaskan kembali kalimat topik yang ada di awal paragraf. Contoh
paragraf seperti itu tampak di bawah ini.
Jakarta sebagai ibukota RI tidak aman karena diduduki tentara Inggris dan tentara NICA yang
memancing insiden. Insiden tersebut mengakibatkan ribuan orang menjadi korban. Bahkan, presiden dan wakil
presiden beserta keluarganya pindah ke Yogyakarta yang untuk sementara waktu dijadikan ibukota RI. Sultan
Hamengku Buwono IX mendukung sepenuhnya pemindahan itu, baik dengan dukungan politik maupun
dukungan materi yang tidak terhitung jumlahnya. Memang, tentara Inggris dan NICA-lah yang membuat
ibukota RI tidak aman.
4) Kalimat topik menyebar di seluruh paragraf
Ketika Anda membaca sebuah karangan deskripsi (lukisan), Anda tentunya sering merasa kesulitan
untuk menemukan kalimat topiknya. Paragraf tersebut bukan berarti tidak memiliki kalimat topik. Paragraf
tersebut memang hanya mengandung kalimat-kalimat penjelas. Untuk menemukan kalimat topik pada paragraf
tersebut, Anda perlu menyimpulkan isi keseluruhan paragraf tersebut. Dengan demikian, kalimat topik pada
paragraf tersebut tersembunyi di antara kalimat-kalimat penjelas yang ada.
Pulau itu memiliki danau yang airnya begitu jernih. Berbagai jenis ikan hidup di dalamnya. Selain itu,
di pulau tersebut juga terbentang hamparan sawah yang begitu subur dan hijau. Laut yang jernih dengan
gelombang kecil menambah keanggunan pulau tersebut. Belum lagi, air terjun dengan hawa sejuk dapat
ditemui di pulau tersebut.
Paragraf di atas merupakan paragraf yang melukiskan keindahan sebuah pulau yang memiliki danau,
sawah, laut, dan air terjun yang begitu indah. Paragraf tersebut dikembangkan dengan kalimat-kalimat
penjelas. Dengan demikian, apabila Anda mencari kalimat topiknya, Anda dapat menyimpulkan kalimatkalimat penjelas tersebut, yaitu Keindahah sebuah pulau.
Sumber: http://guru-umarbakri.blogspot.co.id/2009/06/keterampilan-berbahasa.html

Senin, 20 April 2009


PENGEMBANGAN PARAGRAF
1. Pengertian Paragraf
Paragraf adalah suatu bagian dari bab pada sebuah karangan atau karya ilmiah yang mana
cara penulisannya harus dimulai dengan baris baru. Paragraf dikenal juga dengan nama lain
alinea. Paragraf dibuat dengan membuat kata pertama pada baris pertama masuk ke dalam
(geser ke sebelah kanan) beberapa ketukan atau spasi.
2. Ciri-Ciri Paragraf
Berdasarkan pengertian paragraf tersebut, kita dapat mengenal ciri-ciri paragraf. Tarigan
dalam Mudlofar (2002: 95) menyatakan beberapa ciri paragraf, yaitu:
3. Macam-macam Paragraf
a.
Berdasarkan sifat dan tujuannya paragraf dibedakan menjadi tiga, yaitu:
1) Paragraf pembuka

Paragraf pembuka merupakan paragraf yang berperan sebagai pengatur untuk sampai
kepada masalah yang akan diuraikan
2) Paragraf penghubung
Paragraf penghubung ialah semua paragraf yang terdapat antara paragraf pembuka dan
penutup yang berisi uraian masalah yang dibahas.
3) Paragraf penutup
Paragraf penutup ialah paragraf yang dimaksudkan untuk mengakhiri karangan atau bagian
karangan.
b. Berdasarkan kalimat utamanya, paragraf terbagi menjadi:
1) Paragraf deduksi
Paragraf deduksi ialah paragraf yang kalimat utamanya terletak diawal.
2) Paragraf Induksi
Paragraf induksi adalah paragraf yang kalimat utamanya terletak diakhira paragraf
3) Paragraf kombinasi (campuran)
Paragraf kombinasi ialah paragraf yang kalimat utamanya terletak diawal dan diakhir
paragraf.
4)

Paragraf deskripsi

Paragraf Deskripsi adalah paragraf yang tidak memiliki

c. Berdasarkan isi, paragraf terbagi menjadi:


1) Paragraf narasi
Secara sederhana, narasi dikenal sebagai cerita. Pada narasi terdapat peristiwa atau
kejadian dalam satu urutan waktu. Di dalam kejadian itu ada pula tokoh yang menghadapi
suatu konflik. Ketiga unsur berupa kejadian, tokoh, dan konflik merupakan unsur pokok
sebuah narasi. Jika ketiga unsur itu bersatu, ketiga unsur itu disebut plot atau alur. Jadi,
narasi adalah cerita yang dipaparkan berdasarkan plot atau alur. Narasi dapat berisi fakta
atau fiksi. Contoh narasi yang berisi fakta: biografi, autobiografi, atau kisah pengalaman.
Contoh narasi yang berupa fiksi: novel, cerpen, cerbung, ataupun cergam.
Paragraf deskripsi
Paragraf deskripsi ialah karangan yang berisi gambaran mengenai suatu hal atau keadaan
sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasakan hal tersebut.
Paragraf eksposisi
Karangan ini berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi
informasi atau pengetahuan tambahan bagi pembaca. Untuk memperjelas uraian, dapat
dilengkapi dengan grafik, gambar atau statistik.
Paragraf argumentasi

Karangan ini bertujuan membuktikan kebenaran suatu pendapat/ kesimpulan dengan data/
fakta sebagai alasan/ bukti. Dalam argumentasi pengarang mengharapkan pembenaran
pendapatnya dari pembaca. Adanya unsur opini dan data, juga fakta atau alasan sebagai
penyokong opini tersebut.
Paragraf persuasi
Karangan ini bertujuan mempengaruhi pembaca untuk berbuat sesuatu. Dalam persuasi
pengarang mengharapkan adanya sikap motorik berupa motorik berupa perbuatan yang
dilakukan oleh pembaca sesuai dengan yang dianjurkan penulis dalam karangannya.

4. Syarat-syarat Pengembangan Paragraf


Sama halnya dengan kalimat yang baik, maka paragraf yang baik juga harus memenuhi
syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat itu ialah:
a. Kesatuan
Yang dimaksud dengan kesatuan ialah paragraf harus memperhatikan dengan jelas suatu
maksud atau sebuah tema tertentu. Sebuah paragraf dikatakan memiliki kesatuan bila
unsur-unsurnya bersama-sama bergerak menunjang sebuah maksud tunggal atau gagasan
utamanya.
b. Koherensi
Sebuah paragraf bukanlah sebuah tumpukan kalimat-kalimat yang masing-masing bersdiri
sendiri, tetapi kalimat-kalimat itu dibangun oleh adanya hubungan timbal-balik. Dengan
demikian diperlukan urutan pikiran yang koheren (terpadu), sehinga tidak terdapat loncatan
pikiran yang membingungkan. Suatu paragraf dikatakan koheren jika kalimat-kalimat itu
saling berhubungan untuk mendukung pikiran utama.

5. Pengembangan Paragraf
a. Pengembangan alamiah
Pengembangan secara alamiah ini seorang penulis dapat menggunakan pola yang sudah
ada pada obyek atau kajian yang dibicarakan. Penulis dapat menggunakan dua pola.
Pertama, pola spesial atau urutan ruang, misalnya gambaran dari depan ke belakang, dari
luar kedalam dan sebagainya. Kedua, pola kronologis atau urutan waktu, misalnya
gambaran urutan terjadinya peristiwa, perbuatan atau tindakan, tadi sekarang, nanti, besok,
dan sebagainya.
b.

Pengembangan klimaks dan antiklimaks

Pembuatan klimaks dilakukan dengan penampilan gagasan utama yang rinci dari persoalan
yang paling rendah kedudukannya. Sementara itu pengembangan antiklimaks merupakan
kebalikan dari klimaks.

c. Pengembangan Perbandingan dan Pertentangan


Paragraf perbandingan dan pertenntangan ialah cara pengarang menunjukkan kesamaan
atau perbedaan antara dua orang , subjek atau gagasan dengan bertolak dari segi-segi
tertentu (Keraf dalam Mudlofar 2002: 99).
Fanatisme dan semangat yang dua hari lalu sempat pudar, di pertandingan semi final hari
Kamis malam telah kembali. Dengan modal itu pula dan teknik permainan yang lumayan
baik PSSI A maju ke final turnamen sepak bola Piala Kemerdekaan V, setelah mendudukkan
Malaysia 2-0 (1-0). Di final hari Sabtu, PSSI A menghadapi Australia yang mengalahkan
Thailand 2-0. (Sumber: Kompas)
d. Pengembangan analogi
Pengembangan analogi biasanya digunakan untuk membandingkan sesuatu yang sudah
terkenal umum dengan yang tidak dikenal umum.
e. Pengembangan contoh-contoh
Gagasan yang terlalu umum sifatnya sulit dipahami. Agar pembaca menjadi jelas diperlukan
ilustrasi-ilustrasi konkret. Ilustrasi konkret inilah yang nantinya dikembangkan menjadi
contoh-contoh.
f. Pengembangan Akibat -Sebab akibat
Hubungan kalimat dalam sebuah paragraf dapat berupa hubungan sebab akibat dan akibat
sebab. Sebab dapat bertindak sebagai kalimat utama, sedangkan akibat merupakan kalimat
penjelas. Dapat pula sebaliknya , akibat sebagai pikiran utama dan sebab sebagai pikiran
penjelas.
g. Pengembangan definisi luas
Yang dimaksud pengembangan definisi luas ialah pengarang bermaksud memberikan
keterangan atau arti terhadap sebuah istilah atau hal (keraf dalam Mudlofar 2002: 102).
h. Pengembangan klasifikasi
Dalam pengembangan karangan kadang-kadang diperlukan pengelompokan hal-hal yang
mempunyai persamaan. Pengelompokan ini bekerja kedua arah yang berlawanan, yaitu
pertama mempersatukan satuan-satuan kedalam satu kelompok., dan kedua, memisahkan
satuan-satuan tadi dari kelompok yang lain (keraf dalam Mudlofar 2002: 103).
i. Pengembangan umum khusus-khusus umum
Cara pengembangan paragraf umum khusus-khusus umum merupakan cara yang paling
umum dipakai. Paragraf umum khusus dikembangkan dengan meletakkan pikiran utama
pada awal paragraf kemudian rician-rincian berada pada kalimat-kalimat berikutnya.
Sebaliknya paragraf khusus umum, mula-mula dikembangkan rincian-rincian kemudian pada
akhir paragraf disampaikan generalisasinya. Jadi paragraf umum khusus bersifat deduktif,
sedangkan paragraf induktif bersifat khusus umum.

Sumber: http://pengembanganparagraf.blogspot.co.id/