Anda di halaman 1dari 7

KKPMT IIA

Nama

: Ayu Romadhona A. W

NIM/Kelas

: 1504000043/1A

1. Oral leukoplakia :
Bercak atau plak mukosa keputihan yang disebabkan oleh penebalan
epidermis atau hyperkeratosis epitel dan sering terjadi pada pipi. Tempat
berkembangnya karsinoma epidermoid.
2. Dental caries :
Disebut juga karies gigi, yaitu pembusukan yang berkenaan pada gigi yang
menyebabkan kerusakan pada enamel dan dentin, dengan kavitasi gigi.
3. Herpetic gingivostomatitis :
Infeksi virus yang paling umum dari jaringan gusi karena infeksi virus herpes
simplex, dengan kemerahan pada jaringan mulut, pembentukan beberapa vesikel dan
nyeri pada ulkus, dan demam.
4. Tukak deodenum dengan pendarahan dan perforasi :
Sakit maag hingga terjadi pendarahan dan berlubangnya dinding lambung,
usus kecil, dan usus besar sehingga isinya masuk ke dalam rongga abdomen
5. Gastrointeritis hipersensitifitas susu, usia 20 tahun :
Infeksi atau iritasi pada saluran pencernaan, terutama lambung dan usus,
disebabkan karena lambung dan usus sangat sensitif pada susu. Gejala utama biasanya
mual dan muntah, diare, dan kram perut. Gejala ini kadang juga disertai dengan
demam dan lemas.
6. Gastroenteritis keracunan makanan tercemar peptisida :
Infeksi atau iritasi pada saluran pencernaan, terutama lambung dan usus,
disebabkan karena keracunan makanan yang dimakan tercemar oleh peptisida.
7. Observasi tifoid :
Diagnosa atau pemeriksaan demam tifoid yang disebabkan Salmonella
thyposa, yang secara klinis ditandai dengan demam lebih dari 7 hari disertai gangguan
kesadaran dan gangguan pencernaan.
8. Gastroenteritis non infectious (bayi usia 4 tahun) :
Peradangan pada lambung dan usus karena makanan atau kerang intoksikasi
(yang disebabkan oleh racun bakteri), obat, kemoterapi, atau efek samping terapi
radiasi.
9. Diare akibat infeksi amebiasis :

Diare yang disebabkan karena keadaan terinfeksi amuba terutama oleh


Entamoeba histolytica, agen kausatif pada disentri amuba.
10. Hepatitis intoksikasi obat anti-TB :
Radang pada hati yang disebabkan keracunan atau masuknya obat anti-TB ke
dalam tubuh melalui mulut, kulit, saluran napas dalam jumlah yang berlebihan.
11. Batu saluran empedu disertai choledochocystitis :
Adanya batu pada saluran empedu yang menyebabkan sakit perut bagian
kanan atas dan menjalar ke bahu kanan karena aliran terblokir dan disertai dengan
kista pada saluran empedu.
12. Pancreatitis sitomegalovirus :
Peradangan pada pankreas yang disebabkan oleh infeksi sitomegalovirus
(virus herpes)
13. Tuberculosis mesentritis dan peritonitis :
Penyakit menular yang disebabkan

oleh

mikroorganisme

bakteri,

Mycobacterium, dengan diikuti radang pada peritonium dan bagiannya yang


berbentuk kipas.
14. Gigi berlubang :
Defek (lesi) karies yang ditimbulkan oleh destruksi enamel dan dentin pada
gigi.
15. Sariawan mulut :
Sariawan atau stomatitis adalah radang selaput lendir pada mulut, pipi, gusi,
lidah, bibir, atau langit-langit mulut.
16. Abses gusi rahang bawah :
Adanya nanah pada gusi rahang bawah yang terbentuk akibat kerusakan
jaringan
17. Gagal hati akibat alkoholisme :
Dapat disebut sirosis hati, yaitu suatu penyakit hati di mana sirkulasi mikro,
anatomi pembuluh darah besar dan seluruh sistem arsitektur hati mengalami
perubahan, menjadi tidak teratur dan terjadinya pertambahan jaringan ikat (fibrosis) di
sekitar parenkim hati yang mengalami regenerasi.
18. Gangguan pencernaan post operasi usus kecil :
Gangguan atau penyakit saluran pencernaan yang terjadi setelah melakukan
operasi pada usus kecil, atau efek samping.
19. Hematemesis dan melena :
Hematemesis adalah muntah darah. Sedangkan melena adalah feses berwarna
hitam.
20. Gastroenteritis eltor :
Infeksi atau iritasi pada saluran pencernaan, terutama lambung dan usus yang
disebabkan oleh bakteri vibrio cholera.
21. Radang kandung empedu dengan kolekisititis akut :

Peradangan pada saluran empedu yang menyebabkan sakit perut bagian kanan
atas dan menjalar ke bahu kanan karena aliran terblokir dan disertai dengan radang
kista pada saluran empedu akut.
22. Karang gigi akibat rokok :
Adanya plak gigi yang diakibatkan karena merokok yang menumpuk dalam
waktu yang lama dan mengeras.
23. Tuberculosis saluran pencernaan :
Penyakit menular yang disebabkan

oleh

mikroorganisme

bakteri,

Mycobacterium. Bakteri tersebut ikut terbawa masuk ke usus halus dan berkembang
biak di tempat yang barudan juga menyebar ke kelenjar-kelenjar getah bening usus,
peritonium, dan bagian-bagian lain.
24. Ilius obstructiva akibat gumpalan cacing ascaris :
Gangguan peristaltik usus akibat adanya gumpalan cacing ascaris yang
menyumbat saluran usus.
25. Hernia femoralis kiri dengan ganggrene :
Penonjolan tulang paha kiri melalui selaput rongga tempat tulang berada
sehingga terjadi kematian dan kerusakan pada jaringannya. Hal ini disebabkan karena
ketegangan otot, cedera, dll.
26. Perforasi usus kompilasi demam typhoid :
Berlubangnya dinding lambung, usus kecil, dan usus besar yang menyebabkan
isinya masuk ke dalam rongga abdomen yang disebabkan oleh demam typhoid.
27. Hepatitis B dengan koma :
Infeksi atau radang pad hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B. infeksi ini
dapat mengakibatkan kerusakan pada hati, kanker hati, dan koma.
28. Hepatitis keracunan obat antibiotika rifampicin :
Radang pada hati yang disebabkan keracunan atau masuknya obat antibiotika
rifampicin ke dalam tubuh melalui mulut, kulit, saluran napas dalam jumlah yang
berlebihan.
29. Hematogenic liver abscess :
Abses hati atau adanya nanah di dalam hati akibat penyebaran hematogen
melalui vena portal.
30. Abses hati amebiasis :
Abses hati atau adanya nanah di dalam hati akibat Entamoeba histolytica.
31. Carcinoma colon :
Kanker pada usus besar
32. a. Appendicitis :
Peradangan pada appendix/usus buntu
b. Cito appendectomy :
Pembedahan pada usus buntu yang dilakukan segera atau saat itu juga.
33. Anodontia :
Tidak adanya gigi-geligi secara kongenital.
34. Odontodysplasia :

Kelainan pada perkembangan gigi, ditandai dengan kekurangan pembentukan


enamel dan dentin. Biasa disebut ghost teeth.
35. Teething syndrome :
Sekumpulan gejala yang terjadi pada gigi secara bersama-sama atau sejumlah
tanda setiap keadaan sakit yang terjadi pada gigi
36. Impacted teeth :
Keadaan gigi yang terdorong masuk secara erat seperti gigi impaksi.
37. Embeded tooth :
Fiksasi spesimen jaringan dalam media yang keras.
38. Odontogenesis :
Asal dan histogenesis (pembentuka atau perkembangan jaringan) gigi.
39. Caries dentis :
Disebut juga karies gigi, yaitu pembusukan yang berkenaan pada gigi yang
menyebabkan kerusakan pada enamel dan dentin, dengan kavitasi gigi.
40. Hypercementosis :
Penimbunan berlebihan sementum sekunder pada akar gigi yang mugkin
disebabkan oleh trauma lokal atau peradangan, erupsi gigi yang berlebihan, atau
deformasi osteitis.
41. Odontoclasia :
Osteoklas yang berhubungan dengan absorpsi akar gigi susu atau hancur atau
fraktur gigi.
42. Dental calculus :
Sesuatu yang keras seperti batu, yang terbentuk pada gigi atau gigi palsu
melalui pengapuran plak gigi. Bervariasi dalam warna dari kuning krem hingga hitam.
43. Motted teeth :
Keadaan gigi yang berbintik-bintik (burik).
44. Traditional abrasion of teeth :
Pengelupasan melalui proses abnormal secara sederhana pada gigi.
45. Gingiva :
Gusi (membran mukosa disertai jaringan fibrosa penyangga yang menutupi
batas rahang yang dilekati gigi).
46. a. Mandibula :
Rahang bawah
b. Maxilla :
Rahang atas
47. Sialoadenitis :
Peradangan kelenjar air liur, yang menimbulkan mulut kering (xerostomia)
dan mata kering (keratokonjungtivitisika).
48. Sialolitiasis :
Adanya batu atau kalkulus pada kelenjar ludah atau salurannya.
49. Xerostomia :
Kekeringan pada mulut dikarenakan gangguan pada kelenjar ludah.
50. Hypoptyalism :
Penurunan sekresi air liur secara abnormal.

51. Glossitis :
Peradangan pada lidah.
52. Glossodynia :
Sakit atau nyeri pada lidah, lidah terasa seperti terbakar.
53. Esophagitis :
Peradangan pada esofagus yang disebabkan infeksi, iritasi karena tabung
nasogastrik atau aliran balik asam lambung dari perut.
54. Peptic ulcer :
Hilangnya jaringan yang melapisi bagian bawah esofagus, perut, atau
duodenum.
55. Dyspepsia :
Dapat didefinisikan sebagai nyeri, kesulitan, atau pencernaan yang terganggu,
yang mungkin disertai dengan gejala seperti mual dan muntah, mulas, kembung, dan
ketidaknyamanan perut.
56. Hernia :
Tonjolan atau penonjolan suatu organ melalui struktur atau otot yang biasanya
berisi organ tersebut.
57. Paralysis ilious :
Kehilangan atau gangguan fungsi motorik pada suatu bagian akibat lesi pada
mekanisme saraf atau otot, juga secara analogi gangguan fungsi sensorik pada usus.
58. Megacolon :
Pelebaran yang ekstrim dan hipertropi kolon.
59. a. Mouth :
Rongga mulut, yang membentuk awal dari sistem pencernaan dan bagian
dalamnya dilapisi dengan selaput lendir.
b. Tongue :
Organ berotot di mulut yangmembantu dalam mengunyah, menelan, dan
berbicara dan organ perasa.
c. Salivary glands :
Kelenjar yang mengeluarkan air liur, terdapat tiga kelenjar yaitu parotis,
submaxillary, dan sublingual.
d. Oesophagus :
Musculomembran yang membentang dari faring ke perut, terdiri dari lapisan
luar berserat, lapisan otot, lapisan submukosa dan selaput lendir. Persimpangan
antara perut dan esofagus ditutup oleh cincin otot yang dikenal dngan sfingter,
yang membuka untuk memungkinkan makanan masuk ke dalam perut.
e. Stomach :
Dinding perut terdiri dari 4 lapisan, yang pertama lapisan serosa luar, lapisan
otot, lapisan submukosa, dan lapisan lendir atau membran yang membentuk
lapisan dalam.
f. Gaster :

Terletak diantara esofagus dan duodenum pada kuadran kiri atas perut. Lapisan
dinding lambung dari dalam ke luar yaitu, lapisan mukosa, lapisan sub mukosa,
lapisan musularis, dan lapisan serosa.
g. Cardiac orifice :
Pembukaan pada esofagus ke perut yang berbentuk seperti terompet.
h. Pylorus :
Pembukaan pada ujung lambung yang membuka ke duodenum.
i. Fundus gaster :
Bagian bawah atau bagian terendah dari lambung
60. Trypsin :
Enzym proteolytic yang diproduksi pancreas, diekskresi ke dalam duodenum
dalam cairan pankreas. Berfungsi menyederhanakan protein dan pepton.
61. Amylase :
Enzim yang dihasilkan oleh kelenjar ludah (parotis) di mulut dan kelenjar
pancreas yang berfungsi mengubah amilum menjadi maltose.
62. Lipase :
Enzim yang berfungsi menghidrolisis lemak menjadi asam lemak dan gliserol.
63. Villi :
Jonjot-jonjot vaskular yang kecil, khususnya permukaan membran yang bebas.
64. Jejunum :
Usus yang panjangnya 23 meter dan berkelok-kelok, terletak di sebelah kiri
atas intestinum minor. Dengan perantaraan lipatan peritoneum yang berbentuk kipas
(mesentrium) memungkinkan keluar masuknya arteri dan vena mesentrika superior,
pembuluh limfe, dan saraf ke ruang antara lapisan peritoneum. Penampang jejunum
lebih lebar, dindingnya lebih tebal, dan banyak mengandung pembuluh darah.
65. Colon :
Usus besar, dibagi menjadi, colon ascendens yang arahnya ke atas dari sekum
ke tepi bawah hati; colon transversum yang melintasi rongga perut dari kanan ke kiri
bawah perut; colon descendens yang memanjang ke bawah perut di sepanjang sisi kiri
perut; colon sigmoid, kurva berbentuk S yang mengarah ke sakrum dan menjadi
rektum.
66. Colon ascendens :
Memanjang dari sekum ke fosa ikilia kanan sampai ke sebelah kanan
abdomen. Panjangnya kira-kira 13 cm, terletak di abdomen sebelah kanan di bawah
hati melengkung ke kiri. Lengkungan ini disebut fleksura hepatica (flexura coli
dekstra).
67. Toxic liver diseases :
Penyakit hati yang disebabkan oleh racun
68. Cholestasis :
Penyakit yang terjadi jika hati gagal untuk memproduksi atau mengeluarkan
cairan empedu dalam tubuh. Jika hal ini terjadi maka akan terjadi pula kegagalan
dalam penyerapan lemak, vitamin (A.D,E,K) pada usus. Penyakit ini juga

menyebabkan penumpukan bilirubin, asam empedu serta kolesterol di hati. Penyakit


ini pun memiliki gejala atau tanda seperti kulit penderita menjadi kuning, warna feses
terang dan urine berwarna gelap
69. Fibrosis :
Pembentukan jaringan fibrosa
70. Cirrhosis :
Peradangan interstisial pada hati
71. Bile :
Cairan yang disekresi oleh hati, dipekatkan dalam kandung empedu dan
dikeluarkan ke dalam usus halus melalui saluran empedu, yang membantu proses
alkalisasi isi usus dan memegang peranan dalam emulsifikasi, absorpsi, dan
pencernaan lemak.
72. Fatty liver :
Di dalam sel-sel hati terdapat trigliserida dan lemak yang jumlahnya berlebih
dan diikuti dengan perubahan warna kuning pada hati karena degenerasi lemak.
73. Cholangitis :
Peradangan duktus biliaris
74. Cholecystolithiasis :
Kolelitiasis, yaitu merupakan endapan satu atau lebih komponen empedu yaitu
kolesterol, bilirubin, garam empedu, kalsium, protein, asam lemak, dan fosfolipid.
Batu ini mungkin terdapat dalam kandung empedu cholecystolithiasis atau dalam
ductus choledochus choledocholithiasis.
75. Choledocolithiasis :
Kalkuli dalam duktus biliaris komunis.
76. Haematemesis :
Muntah darah
77. Melena :
Feses berwarna hitam
78. Colostomy :
Pembuangan lubang secara bedah antara kolon dan permukaan tubuh.
79. Colotomy :
Insisi/pemotongan pada colon