Anda di halaman 1dari 13

Pengertian Ragam Bahasa dan Jenis-jenisnya

Ragam bahasa adalah variasi pemakaian bahasa. Bachman (1990, dalam


Angriawan, 2011:1), menyatakan bahwa ragam bahasa adalah variasi
bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang
dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang
dibicarakan, serta menurut medium pembicara. Dengan kata lain, ragam
bahasa adalah variasi bahasa yang berbeda-beda yang disebabkan
karena berbagai faktor yang terdapat dalam masyarakat, seperti usia,
pendidikan, agama, bidang kegiatan dan profesi, latar belakang budaya
daerah, dan sebagainya.
Akibat berbagai faktor yang disebutkan di atas, maka Bahasa Indonesia
pun mempunyai ragam bahasa. Chaer (2006:3) membagi ragam Bahasa
Indonesia menjadi tujuh ragam bahasa.
Pertama, ragam bahasa yang bersifat perseorangan. Ragam bahasa ini
disebut dengan istilah idiolek. Idiolek adalah variasi bahasa yang menjadi
ciri khas individu atau seseorang pada saat berbahasa tertentu.
Kedua, ragam bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggota
masyarakat dari wilayah tertentu, yang biasanya disebut dengan istilah
dialek. Misalnya, ragam Bahasa Indonesia dialek Bali berbeda dengan
dialek Yogyakarta.
Ketiga, ragam bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggota
masyarakat dari golongan sosial tertentu, biasanya disebut sosiolek.
Misalnya ragam bahasa masyarakat umum ataupun golongan buruh kasar
tidak sama dengan ragam bahasa golongan terdidik.
Keempat, ragam bahasa yang digunakan dalam kegiatan suatu bidang
tertentu, seperti kegiatan ilmiah, sastra, dan hukum. Ragam ini disebut
juga dengan istilah fungsiolek, contohnya ragam bahasa sastra dan ragam
bahasa ilmiah. Ragam bahasa sastra biasanya penuh dengan ungkapan
atau kiasan, sedangkan ragam bahasa ilmiah biasanya bersifat logis dan
eksak.
Kelima, ragam bahasa yang biasa digunakan dalam situasi formal atau
situasi resmi. Biasa disebut dengan istilah bahasa baku atau bahasa
standar. Bahasa baku atau bahasa standar adalah ragam bahasa yang
dijadikan dasar ukuran atau yang dijadikan standar. Bahasa baku biasanya
dipakai dalam situasi resmi, seperti dalam perundang-undangan, surat
menyurat dan rapat resmi, serta tidak dipakai untuk segala keperluan
tetapi hanya untuk komunikasi resmi, wacana teknis, pembicaraan di

depan umum, dan pembicaraan dengan orang yang dihormati. Di luar itu
biasanya dipakai ragam tak baku.

Keenam, ragam bahasa yang biasa digunakan dalam situasi informal atau
tidak resmi yang biasa disebut dengan istilah ragam nonbaku atau
nonstandar. Dalam ragam ini kaidah-kaidah tata bahasa seringkali
dilanggar.
Ketujuh, ragam bahasa yang digunakan secara lisan yang biasa disebut
bahasa lisan. Bahasa lisan sering dibantu dengan mimik, gerak anggota
tubuh, dan intonasi. Sedangkan lawannya, ragam bahasa tulis tidak bisa
dibantu dengan hal-hal di atas. Oleh karena itu, dalam ragam bahasa tulis
harus diupayakan sedemikian rupa agar pembaca dapat menangkap
dengan baik bahasa tulis tersebut.
Selain itu, Moeliono (1988, dalam Abidin, 2010:1) juga membagi ragam
bahasa menurut sarananya menjadi ragam lisan dan ragam tulis. Ragam
lisan yaitu ragam bahasa yang diungkapkan melalui media lisan yang
terikat oleh kondisi, ruang dan waktu sehingga situasi saat pengungkapan
dapat membantu pemahaman pendengar. Sedangkan ragam tulis adalah
ragam bahasa yang dipergunakan melalui media tulis, yang tidak terikat
oleh ruang dan lwaktu.
Penggunaan kedua ragam bahasa ini juga umumnya berbeda.
Penggunaan ragam bahasa lisan mempunyai keuntungan, yaitu karena
ragam bahasa lisan digunakan dengan hadirnya lawan bicara, serta sering
dibantu dengan mimik, gerak gerik anggota tubuh, dan intonasi ucapan.
Sedangkan dalam bahasa tulis, mimik, gerak gerik anggota tubuh, dan
intonasi tidak mungkin diwujudkan.

Bahasa adalah salah satu alat komunikasi. Melalui bahasa manusia dapat
saling berhubungan atau berkomunikasi, saling berbagi pengalaman,
saling belajar dari yang lain, dan meningkatkan kemampuan intelektual.
Bahasa Indonesia memang banyak ragamnya. Hal Ini karena bahasa
Indonesia sangat luas pemakaiannya dan bermacam-macam ragam
penuturnya. Oleh karena itu, penutur harus mampu memilih ragam
bahasa yang sesuai dengan dengan keperluannya, apapun latar
belakangnya.
Ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbedabeda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara,
kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara

(Bachman, 1990). Seiring dengan perkembangan zaman yang sekarang


ini banyak masyarakat yang mengalami perubahan. Bahasa pun juga
mengalami perubahan. Perubahan itu berupa variasi-variasi bahasa yang
dipakai sesuai keperluannya. Agar banyaknya variasi tidak mengurangi
fungsi bahasa sebagai alat komunikasi yang efisien, dalam bahasa timbul
mekanisme untuk memilih variasi tertentu yang cocok untuk keperluan
tertentu yang disebut ragam standar (Subarianto, 2000)

Ragam Bahasa Indonesia dibagi menjadi 3 jenis yaitu


1.

berdasarkan media

2.

berdasarkan cara pandang penutur

3.

berdasarkan topik pembicaraan.

1. Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan media

Ditinjau dari media atau sarana yang digunakan untuk menghasilkan


bahasa, ragam bahasa terdiri

Ragam bahasa lisan

Ragam bahasa tulis

Bahasa yang dihasilkan melalui alat ucap (organ of speech) dengan


dinamakan ragam bahasa lisan, sedangkan bahasa yang dihasilkan
dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya,
dinamakan ragam bahasa tulis. Jadi dalam ragam bahasa lisan, kita
berurusan dengan lafal, dalam ragam bahasa tulis, kita berurusan dengan
bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf
sebagai unsur dasarnya
Ragam Lisan
Ragam bahasa baku lisan didukung oleh situasi pemakaian sehingga
kemungkinan besar terjadi pelesapan kalimat. Namun, hal itu tidak
mengurangi ciri kebakuannya. Walaupun demikian, ketepatan dalam
pilihan kata dan bentuk kata serta kelengkapan unsur-unsur di dalam
kelengkapan unsur-unsur di dalam struktur kalimat tidak menjadi ciri
kebakuan dalam ragam baku lisan karena situasi dan kondisi pembicaraan

menjadi pendukung di
disampaikan secara lisan.

dalam

memahami

makna

gagasan

yang

Pembicaraan lisan dalam situasi formal berbeda tuntutan kaidah


kebakuannya dengan pembicaraan lisan dalam situasi tidak formal atau
santai. Jika ragam bahasa lisan dituliskan, ragam bahasa itu tidak dapat
disebut sebagai ragam tulis, tetapi tetap disebut sebagai ragam lisan,
hanya saja diwujudkan dalam bentuk tulis. Oleh karena itu, bahasa yang
dilihat dari ciri-cirinya tidak menunjukkan ciri-ciri ragam tulis, walaupun
direalisasikan dalam bentuk tulis, ragam bahasa serupa itu tidak dapat
dikatakan sebagai ragam tulis. Kedua ragam itu masing-masing, ragam
tulis dan ragam lisan memiliki ciri kebakuan yang berbeda.

Ciri-ciri ragam lisan:


a. Memerlukan orang kedua/teman bicara;
b. Tergantung situasi, kondisi, ruang & waktu;
c. Tidak harus memperhatikan unsur gramatikal, hanya perlu intonasi
serta bahasa tubuh.
d. Berlangsung cepat;
e. Sering dapat berlangsung tanpa alat bantu;
f. Kesalahan dapat langsung dikoreksi;
g. Dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik wajah serta intonasi
Contoh ragam lisan adalah Sudah saya baca buku itu.

Ragam Tulis
Dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis makna kalimat yang
diungkapkannya tidak ditunjang oleh situasi pemakaian, sedangkan
ragam bahasa baku lisan makna kalimat yang diungkapkannya ditunjang
oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan
unsur kalimat. Oleh karena itu, dalam penggunaan ragam bahasa baku
tulis diperlukan kecermatan dan ketepatan di dalam pemilihan kata,
penerapan kaidah ejaan, struktur bentuk kata dan struktur kalimat, serta
kelengkapan unsur-unsur bahasa di dalam struktur kalimat.

Ciri-ciri ragam tulis :


1.Tidak memerlukan orang kedua/teman bicara;
2.Tidak tergantung kondisi, situasi & ruang serta waktu;
3.Harus memperhatikan unsur gramatikal;
4.Berlangsung lambat;
5.Selalu memakai alat bantu;
6.Kesalahan tidak dapat langsung dikoreksi;
7.Tidak dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik muka, hanya
terbantu dengan tanda baca.
Contoh ragam tulis adalah Saya sudah membaca buku itu.

2.Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan cara pandang penutur


Berdasarkan cara pandang penutur, ragam bahasa Indonesia terdiri dari
beberapa ragam diantara nya adalah :

Ragam dialek

Contoh : Gue udah baca itu buku.

Ragam terpelajar

Contoh : Saya sudah membaca buku itu.

Ragam resmi

Contoh : Saya sudah membaca buku itu.

Ragam tak resmi

Contoh : Saya sudah baca buku itu.

3.Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan topik pembicaraan


Berdasarkan topik pembicaraan, ragam bahasa terdiri dari beberapa
ragam diantara nya adalah :
1.

Ragam bahasa ilmiah

2.

Ragam hukum

3.

Ragam bisnis

4.

Ragam agama

5.

Ragam sosial

6.

Ragam kedokteran

7.

Ragam sastra

Contoh ragam bahasa berdasarkan topik pembicaraan:


Dia dihukum karena melakukan tindak pidana. (ragam hukum)
Setiap pembelian di atas nilai tertentu akan diberikan diskon.(ragam
bisnis)
Cerita itu menggunakan unsur flashback. (ragam sastra)
Anak itu menderita penyakit kuorsior. (ragam kedokteran)
Penderita autis perlu mendapatkan bimbingan yang intensif. (ragam
psikologi)

Ragam bahasa baku dapat berupa: ragam bahasa baku tulis dan ragam
bahasa baku lisan.
Beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya keragaman bahasa,
diantaranya :
Faktor Budaya atau letak Geografis
Faktor Ilmu pengetahuan
Faktor Sejarah
Kesimpulan
Ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbedabeda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara,
kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut media pembicara.

Ragam bahasa terbagi dua jenis yaitu bahasa lisan dan bahasa baku tulis.
Pada ragam bahasa baku tulis kita harus menguasai penggunaan bahasa
Indonesia yang baik dan benar dan menguasai EYD, sedangkan untuk

ragam bahasa lisan kita harus mampu mengucapkan dan memakai


bahasa Indonesia dengan baik serta bertutur kata sopan.

Apa yang ada di pikiran anda ketika guru bahasa indonesia menyuruh
anda untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar? Apakah
menurut anda dia menyuruh untuk selalu menggunakan bahasa baku
yang terkesan kaku dan tidak lazim didengar dalam percakapan seharihari? Masih banyak orang yang berpikiran seperti itu, terlebih apabila guru
bahasa indonesia anda tidak menjelaskan dengan baik maksud dari
bahasa indonesia yang baik dan benar.

Setelah sebelumnya kami membahas tentang Fungsi Bahasa Indonesia,


kali ini untuk meluruskan pemahaman yang kurang tepat tentang maksud
serta arti dari bahasa indonesia yang baik dan benar, maka
www.namaku.meSetelah sebelumnya kami membahas tentang Fungsi
Bahasa Indonesia, kali ini untuk meluruskan pemahaman yang kurang
tepat tentang maksud serta arti dari bahasa indonesia yang baik dan
benar, maka www.namaku.me akan menjelaskannya untuk anda. Untuk
lebih mengerti tentang maksud dari bahasa Indonesia yang baik dan
benar, maka kita harus mengerti terlebih dahulu apa yang dimaksud
dengan bahasa Indonesia yang baik, serta kita juga harus mengerti
maksud dari bahasa Indonesia yang benar.
Pengertian Bahasa Indonesia Yang Baik
Maksud dari bahasa Indonesia yang baik adalah bahasa Indonesia yang
digunakan sesuai dengan kebiasaan orang banyak, ataupun sesuai
dengan norma serta peraturan yang berlaku di masyarakat kita.
Contohnya saja, saat kita nongkrong di kafe dengan teman-teman, maka
bahasa yang digunakan menurut norma yang berlaku adalah bahasa
santai yang membuat suasana cair. Begitu juga ketika kita sedang
berbicara dengan guru ataupun dosen di kelas, maka bahasa yang
digunakan adalah bahasa yang resmi dan sopan. Itulah maksud dari
bahasa yang baik.
Paling tidak terdapat 5 ragam bahasa yang biasa digunakan orang untuk
berbagai kepentingan serta situasi yang berbeda. 5 ragam tersebut
dibedakan berdasarkan derajat keformalannya.
1. Ragam Beku (frozen), digunakan dalam kondisi hikmat dan cendrung
sangat formal. Biasanya ragam beku ini digunakan dalam putusan
pengadilan, undang-undang, maupun upacara pernikahan.

2. Ragam Resmi (formal), ragam resmi digunakan dalam komunikasi yang


bersifat resmi, seperti rapat resmi, pengumuman resmi, jurnal ilmiah,
penulisan karya ilmiah, maupun pidato.
3. Ragam Konsultatif (consultative), ragam ini digunakan dalam
percakapan yang bersifat pertukaran informasi, atau percakapan dua arah
yang saling bertukar informasi, seperti di kampus, di sekolah, ataupun di
pasar.
4. Ragam santai (casual), dari namanya saja kita sudah tahu kalau ragam
ini digunakan dalam komunikasi yang santai. Ragam ini biasa digunakan
juga dalam komunikasi santai orang yang mungkin tidak saling kenal,
ataupun mungkin sudah kenal tapi belum akrab.
5. Ragam akrab (intimate), ragam akrab digunakan untuk komunikasi
diantara orang-orang yang sudah memiliki hubungan yang sangat akrab.

Pengertian Bahasa Indonesia Yang Benar


Bahasa Indonesia yang benar merupakan bahasa Indonesia yang sesuai
dengan kaidah serta tata aturan bahasa Indonesia yang berlaku. Kaidah
bahasa Indonesia meliputi banyak hal, mulai dari penggunaan ejaan yang
benar seperti yang tertulis dalam Kamus Besar bahasa Indonesia (KBBI),
kaidah dalam pembentukan kata, pembuatan kalimat, hingga penyusunan
paragraf. Ketika bahasa Indonesia yang digunakan mengikuti kaidah
bahasa Indonesia secara konsisten, maka bisa dikatakan sebagai bahasa
Indonesia yang benar. Bahasa Indonesia yang benar bisa juga kita sebut
dengan Bahasa Indonesia yang baku.
Pengertian Bahasa Indonesia Yang Baik dan Benar
Setelah mengurai pengertian bahasa Indonesia yang baik, serta
pengertian bahasa Indonesia yang benar, maka sekarang kita bisa
mengambil kesimpulan mengenai maksud dari bahasa Indonesia yang
baik dan benarSetelah mengurai pengertian bahasa Indonesia yang baik,
serta pengertian bahasa Indonesia yang benar, maka sekarang kita bisa
mengambil kesimpulan mengenai maksud dari
Apabila kita melakukan percakapan dengan bahasa yang sangat formal
dengan teman di warung kopi, maka kita tidak termasuk kategori orang
yang menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, walaupun
kita menggunakan bahasa sesuai kaidah bahasa Indonesia. Begitupun
sebaliknya, apabila kita menggunakan bahasa gue-elu dengan dosen

serta guru kita di kelas, maka kita juga termasuk orang yang tidak
menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Itulah pengertian mengenai bahasa Indonesia yang baik dan benar yang
sangat penting diketahui. Sebagai warga negara Indonesia yang baik,
sudah sepatutnya kita menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan
benar dalam pergaulan kita sehari-hari.

PERBEDAAN RAGAM BAHASA LISAN DAN RAGAM BAHASA TULIS


Ragam Bahasa Lisan adalah ragam bahasa yang diungkapkan melalui
media lisan, terkait oleh ruang dan waktu sehingga situasi pengungkapan
dapat membantu pemahaman. Ciri-ciri ragam bahasa lisan diantaranya :
1. Memerlukan kehadiran orang lain,
2. Unsur gramatikal tidak dinyatakan secara lengkap,
3. Terikat ruang dan waktu dan
4. Dipengaruhi oleh tinggi rendahnya suara.
Ragam bahasa lisan memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan.
Adapun kelebihan ragam bahasa lisan diantaranya sebagai berikut:
1. Dapat disesuaikan dengan situasi.
2. Faktor efisiensi.
3. Faktor kejelasan karena pembicara menambahkan unsur lain berupa
tekan dan gerak anggota badan agar pendengar mengerti apa yang
dikatakan seperti situasi, mimik dan gerak-gerak pembicara.
4.
Faktor kecepatan, pembicara segera melihat reaksi pendengar
terhadap apa yang dibicarakannya.
5.
Lebih bebas bentuknya karena faktor situasi yang memperjelas
pengertian bahasa yang dituturkan oleh penutur.
6.
Penggunaan bahasa lisan bisa berdasarkan pengetahuan dan
penafsiran dari informasi audit, visual dan kognitif.
Sedangkan kelemahan ragam bahasa lisan diantaranya sebagai berikut:
1.
Bahasa lisan berisi beberapa kalimat yang tidak lengkap, bahkan
terdapat frase-frase sederhana.
2. Penutur sering mengulangi beberapa kalimat.
3. Tidak semua orang bisa melakukan bahasa lisan secara baik.
4. Aturan-aturan bahasa yang dilakukan seringkali menggunakan ragam
tidak formal.
Ragam bahasa tulis adalah ragam bahasa yang digunakan melalui
media tulis, tidak terkait ruang dan waktu sehingga diperlukan
kelengkapan struktur sampai pada sasaran secara visual atau bahasa

yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai


unsur dasarnya. Dalam ragam tulis, kita berurusan dengan tata cara
penulisan dan kosakata. Ciri-ciri ragam bahasa tulis adalah sebagai
berikut:
a. Tidak memerlukan kehadiran orang lain.
b. Unsur gramatikal dinyatakan secara lengkap.
c. Tidak terikat ruang dan waktu
d. Dipengaruhi oleh tanda baca atau ejaan.
Sama halnya dengan ragam bahasa lisan, ragam bahasa tulis juga
memiliki kelemmahan dan kelebihan. Adapun kelebihan dari ragam
bahasa tulis diantaranya:
Informasi yang disajikan bisa dipilih untuk dikemas sebagai media atau
materi yang menarik dan menyenangkan.
Umumnya memiliki kedekatan budaya dengan kehidupan masyarakat.
Sebagai sarana memperkaya kosakata.
Dapat digunakan untuk menyampaikan maksud, membeberkan
informasi atau mengungkap unsur-unsur emosi sehingga mampu
mencanggihkan wawasan pembaca.
Sedangkan kelemahan dari ragam bahasa tulis diantaranya sebagai
berikut:
Alat atau sarana yang memperjelas pengertian seperti bahasa lisan itu
tidak ada akibatnya bahasa tulisan harus disusun lebih sempurna.
Tidak mampu menyajikan berita secara lugas, jernih dan jujur, jika
harus mengikuti kaidah-kaidah bahasa yang dianggap cenderung miskin
daya pikat dan nilai jual.
Yang tidak ada dalam bahasa tulisan tidak dapat diperjelas/ditolong,
oleh karena itu dalam bahasa tulisan diperlukan keseksamaan yang lebih
besar.
Berdasarkan beberapa cirri serta kelebihan dan kelemahan yang
dimiliki oleh ragam bahasa lisan maupun tulis, berikut ini dapat kita tarik
beberapa perbedaan diantara kedua ragam bahasa tersebut.

Bahasa lisan didukung isyarat paralinguistik.

Bahasa tulis dapat menyimpan informasi tanpa bergantung pada


ruang dan waktu.

Bahasa tulis dapat memindahkan bahasa dari bentuk oral ke


bentuk visual, memungkinkan kata-kata lepas dari konteks aslinya.

Sintaksis bahasa lisan kurang terstruktur dibandingkan dengan


sintaksis bahasa tulis.

Bahasa tulis banyak mengandung penanda metalingual yang


menghubungkan antara frasa-klausa.

Struktur bahasa tulis umumnya subjek-predikat, bahasa lisan


memiliki struktur topik-sebutan (topic-comment) (Givon).

Bahasa lisan jarang menggunakan konstruksi pasif.

Bahasa lisan sering mengulangi bentuk sintaksis.

Bahasa lisan dapat diperhalus sambil terus berbicara.

PUSTAKA ACUAN
Syamsuddin AR. 1992. Studi Wacana. 1992. Bandung: Mimbar Bahasa dan
Seni

Perbedaan Variasi Bahasa dengan Kontaminasi Bahasa


Bahasa merupaka ujaran yang bermakna yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Fungsi
bahasa yakni sebagai alat komunikasi yang digunakan oleh manusia atau masyarakat bahasa
untuk berinteraksi, bekerjasama dan mengidentifikasikan diri. Berdasarkan fungsi tersebut,
bahasa menjadi bagian fundamental dalam seluruh kehidupan manusia. Artinya bahasa
memiliki sifat mendasar dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh manusia.
Bahasa itu bervariasi, seperti halnya di Indonesia yang memiliki banyak suku bangsa,
budaya, dan bahasa. Bahasa bervariasi karena anggota masyarakat penutur bahasa itu sangat
beragam, dan bahasa itu sendiri digunakan untuk keperluan yang beragam pula. Variasi
bahasa merupakan ragam bahasa dari sebuah bahasa menurut pemakaian. Menurut Chaer
(2010:62) variasi bahasa adalah keragaman bahasa yang disebabkan oleh adanya kegiatan
interaksi sosial yang dilakukan oleh masyarakat atau kelompok yang sangat beragam dan
dikarenakan oleh para penuturnya yang tidak homogen.
Dalam hal variasi bahasa ini ada dua pandangan. Pertama, variasi dilihat sebagai akibat
adanya keragaman sosial penutur bahasa dan keragaman fungsi bahasa. Jadi, variasi bahasa
itu terjadi sebagai akibat dari adanya keragaman sosial dan keragaman fungsi bahasa. Kedua,
variasi bahasa sudah ada untuk memenuhi fungsinya sebagai alat interaksi dalam kegiatan
masyarakat yang beraneka ragam.
Variasi bahasa yang digunakan oleh seseorang dapat dibedakan dari segi penutur,
pemakaian, keformalan, dan sarana yang digunakan. Variasi bahasa dari segi penutur yakni
berhubungan dengan orang yang menggunakan bahasa, seperti gaya bicara, intonasi, nada,
jenis kelamin, profesi, usia, kelas sosial, dan sebagainya. Variasi bahasa dari segi pemakaian
berhubungan dengan pemakaian atau fungsinya ketika digunakan dalam bidang atau
keperluan tertentu, misalnya dalam bidang jurnalistik. Ragam atau variasi bahasa jurnalistik
akan berbeda dengan ragam bahasa pada bidang pendidikan. Variasi bahasa dari segi
keformalan yakni ragam bahasa yang digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi, seperti
ragam resmi yang digunakan pada saat pidato kenegaraan, rapat dinas, dan lain-lain.
Kemudian yang terakhir variasi bahasa dari segi sarana yang digunakan berhubungan dengan
ragam
atau
variasi
bahasa
lisan
dan
bahasa
tulis.
Ragam bahasa atau variasi bahasa memang patut diketahui untuk menambah pengetahuan
aspek bahasa yang digunakan dari berbagai masyarakat bahasa, dan akan lebih baik lagi jika
kita juga mempelajarinya untuk memperkaya penguasaan bahasa selain bahasa ibu dan
bahasa nasional. Namun pada praktik kehidupan sehari-hari pada masa kini, variasi bahasa
tersebut menjadi salah satu faktor yang memicu adanya gejala kontaminasi bahasa atau
kekacauan
bahasa.

Kontaminasi berarti rancu atau kacau. Susilo (1990:10) menyatakan kontaminasi


merupakan kerancuan dua kalimat, dua unsur atau dua struktur, biasanya dapat dikembalikan
pada bentuk asalnya. Kontaminasi bahasa dapat diartikan kerancuan bahasa atau kekacauan
bahasa. Gejala kontaminasi banyak sekali kita jumpai dalam bahasa Indonesia dewasa ini.
Gejala kontaminasi bahasa sekilas memang tidak terlalu mengganggu jalannya komunikasi
selama makna yang tersirat dapat dipahami satu sama lain. Tetapi menurut tata bahasa tetap
saja dianggap salah atau tidak benar. Kontaminasi dapat terjadi karena salah nalar,
penggabungan dua hal yang berbeda sehingga menjadi suatu hal yang tumpang tindih, kurang
menguasai penggunaan bahasa yang tepat, misalnya dalam menyusun kalimat.
Kontaminasi bahasa yang dapat secara langsug kita ketahui yakni pada bahasa lisan.
Kontaminasi bahasa dalam bahasa lisan yakni pada ujaran, salah satu penyebabnya yakni
karena interferensi atau masuknya unsur bahasa lain ke dalam bahasa yang sedang
digunakan, sehingga tampak adanya penyimpangan kaidah dari bahasa yang digunakan itu.
Seiring dengan perkembangan zaman serta kemajuan teknologi informasi dan komunikasi,
banyak orang menggunakan atau menyisipkan bahasa asing maupun bahasa daerah dalam
percakapannya. Selain itu, ketika seseorang belum fasih berbahasa Indonesia dan cenderung
menggunakan bahasa ibu, maka dalam berujar bahasa Indonesia secara disadari atau tidak
gaya berbicara, intonasi, nada, dan irama akan terbawa pada bahasa ibu yang sering
digunakannya.
Kerancuan dalam bahasa Indonesia menurut Badudu (1980:60) dibedakan menjadi tiga
macam, yaitu : (1) kontaminasi bentuk kata, (2) kontaminasi bentuk frasa, dan (3)
kontaminasi bentuk kalimat. Kontaminasi bentuk kata merupakan kerancuan yang
diakibatkan oleh pembentukkan kata-kata baru. Kontaminasi bentuk frasa merupakan
kerancuan bentuk frasa yang tidak sesuai. Kontaminasi bentuk kalimat merupakan kerancuan
dalam struktur kalimat dan makna yang ditimbulkannya.
Berdasarkan uraian di atas tentang variasi bahasa dan kontaminasi bahasa, maka dapat
disimpulkan perbedaan variasi bahasa dengan kontaminasi bahasa yakni, bahwa variasi
bahasa merupakan ragam bahasa yang tercipta karena keragaman budaya dan fungsi bahasa
yang digunakan oleh seseorang atau masyarakat bahasa serta disesuaikan dengan situasi dan
kondisi. Sedangkan kontaminasi bahasa merupakan kerancuan atau kekacauan bahasa yang
terjadi pada bahasa lisan maupun tulis. Kontaminasi dalam bahasa lisan yakni terjadi pada
ujaran, kemudian kontaminasi bahasa tulis terjadi pada bentuk kata, frasa, dan kalimat.
Kontaminasi bahasa juga dapat membuat makna yang ditimbulkan menjai rancu atau kacau.
Setelah mengetahui perbedaan variasi bahasa dengan kontaminasi bahasa, hendaknya kita
mulai dari sekarang menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bahasa yang baik
adalah bahasa yang sesuai dengan situasi dan kondisi. Bahasa yang benar adalah bahasa yang
sesuai dengan aturan atau kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Maka dari itu, kita harus
dapat menggunakan variasi bahasa dengan tepat sehingga gejala kontaminasi bahasa dapat
terhindarkan dalam praktik berbahasa.

Inilah contoh-contoh kalimat dari ragam lisan maupun tulisan :


* Ragam Lisan
1. Enggak sengaja Ardi nginjak pecahan gelas,hingga kakinya luka.
2. Semalam ada berita tentang kecelakaan mobil nabrak motor.
3. Adik lagi ngegambar pemandangan alam di desa.
4. Pak Guru pagi ini menyuruh kami mengumpulkan tugas yang kemarin.
5. Dalam sepekan ini, terjadi banyak kecelakaan di ruas jalan ini disebabkan oleh rusaknya
jalan.
6. Wanita itu melepaskan cincinnya dan membuangnya ke dalam sungai.
* Ragam Tulisan
1. Ardi tidak sengaja menginjak pecahan gelas sehingga kakinya terluka.
2. Kemarin malam, ada berita tentang kecelakaan mobil yang menabrak motor.
3. Adik sedang menggambar pemandangan alam di desa.
4. Pagi ini pak guru menyuruh kami untuk mengumpulkan tugas yang diberikan kemarin.
5. Sepekan ini, terjadi banyak kecelakaan diruas jalan ini disebabkan rusaknya jalan.
6. Wanita itu melepaskan cincinnya dan membuangnya ke sungai.