Anda di halaman 1dari 11

Dermatitis Kontak Iritan

Uzairie bin Anwar


102013490
uzaiwar@gmail.com
KAMPUS II UKRIDA FAKULTAS KEDOKTERAN
Jl. Terusan Arjuna No.6, Jakarta Barat 11510

Pendahuluan
Kulit merupakan organ tubuh yang terpenting yang berfungsi sebagai sawar (barrier),
karena kulit merupakan organ pemisah antara bagian di dalam tubuh dengan lingkungan di luar
tubuh. Kulit secara terus-menerus terpajan terhadap faktor lingkungan, berupa faktor fisik,
kimiawi, maupun biologik.
Bagian terpenting kulit untuk menjalankan fungsinya sebagai sawar adalah lapisan paling
luar, disebut sebagai stratum korneum atau kulit ari. Meskipun ketebalan kulit hanya 15
milimikro, namun sangat berfungsi sebagai penyaring benda asing yang masuk ke dalam tubuh.
Apabila terjadi kerusakan yang disebabkan oleh faktor lingkungan dan melampaui kapasitas
toleransi serta daya penyembuhan kulit, maka akan terjadi penyakit.
Kulit adalah bagian tubuh manusia yang cukup sensisitif terhadap berbagai macam
penyakit. Penyakit kulit bisa disebabkan oleh banyak faktor. Di antaranya, faktor lingkungan dan
kebiasaan sehari-hari. Lingkungan yang sehat dan bersih akan membawa efek yang baik bagi
kulit. Demikian pula sebaliknya. Salah satu lingkungan yang perlu diperhatikan adalah
lingkungan kerja, yang bila tidak dijaga dengan baik dapat menjadi sumber munculnya berbagai
penyakit kulit.
Penyakit kulit akibat kerja adalah semua keadaan patologis kulit dengan pajanan pada
pekerjaan sebagai faktor penyebab utama atau hanya sebagai faktor penunjang. Meliputi
penyakit kulit baru yang timbul karena pekerjaan atau lingkungan kerja dan penyakit kulit lama
yang kambuh karena pekerjaan atau lingkungan kerja.
1

Anamnesis
Dalam rekam medik, perlu ada anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang,
diagnosis kerja, penatalaksanaan dan prognosis. Anamnesis adalah wawancara antara dokter,
penderita atau keluarga penderita yang mempunyai hubungan dekat dengan pasien, mengenai
semua data tentang penyakit. Dalam anamnesis, harus diketahui adalah identitas pasien, keluhan
utama, riwayat penyakit sekarang dan dulu, riwayat kesihatan keluarga, riwayat peribadi dan
riwayat obat.
Kemahiran mengambil anamnesis tentang keluhan utama dan riwayat penyakit sekarang
pasien memerlukan kecermatan supaya jangan sampai informasi mengenai keluhan utama justru
bukan keluhan utama sebenarnya. Yang perlu ditanyakan semasa anamnesa misalnya adalah:

Menanyakan identitas pasien yaitu nama lengkap, tempat/tanggal lahir, status


perkahwinan, pekerjaaan, suku bangsa, agama, pendidikan dan alamat tempat tinggal.
Menanyakan keluhan utama yang mendorong pasien untuk berobat. Misalnya:
o Keluhan gatal
o Timbul bercak merah
o Kulit kering
Menanyakan riwayat penyakit sekarang
o Riwayat gatal
Menanyakan riwayat sakit dahulu
Menanyakan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap timbulnya dermatitis misalnya
bahan iritan, alergen hirup, makanan, mikroorganisme, hormon, stres dan cuaca.

Definisi
Dermatitis kontak adalah respon peradangan kulit akut atau kronik terhadap paparan
bahan iritan eksternal yang mengenai kulit. Dermatitis kontak merupakan reaksi inflamasi kulit
terhadap unsur unsur fisik, kimia, atau biologi. Penyakit ini adalah kelainan inflamasi yang
sering bersifat ekzematosoa dan disebabkan oleh reaksi kulit terhadap sejumlah bahan yang
iritatif atau alergenik. Dermatitis kontak adalah peradangan oleh kontak dengan suatu zat
tertentu, ruamnya terbatas pada daerah tertentu dan seringkali memiliki batas yang tegas.

Dermatitis kontak terbagi 2 yaitu dermatitis kontak iritan (mekanisme non imunologik)
yang terjadi akibat kontak dengan bahan yang secara kimiawi atau fisik merusak kulit tanpa
dasar imunologik, biasanya terjadi sesudah kontak pertama dengan iritan sedangkan dermatitis
kontak alergik (mekanisme imunologik spesifik) merupakan reaksi hipersensitivitas tipe IV yang
terjadi akibat kontak kulit dengan bahan alergik.

Pemeriksaan Fisik
Antara pemeriksaan fisik yang dilakukan adalah:

Memeriksa keadaan umum dan tanda vital.


Memeriksa distribusi, morfologi serta lokasi lesi
Memeriksa kelainan kulit lain misalnya jika terdapat infeksi bakteri terutama infeksi
stafilokokus dan streptokokus

Pemeriksaan Penunjang dan Diagnostik


Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis gangguan integument yaitu :
a)

Biopsi kulit

Biopsi kulit adalah pemeriksaan dengan cara mengambil contoh jaringan dari kulit yang terdapat
lesi. Biopsi kulit digunakan untuk menentukan apakah ada keganasan atau infeksi yang
disebabkan oleh bakteri dan jamur.
b)

Uji kultur dan sensitivitas

Uji ini perlu dilakukan untuk mengetahui adanya virus, bakteri, dan jamur pada kulit.Kegunaan
lain adalah untuk mengetahui apakah mikroorganisme tersebut resisten pada obat obat tertentu.
Cara pengambilan bahan untuk uji kultur adalah dengan mengambil eksudat pada lesi kulit.
c)

Pemeriksaan Darah

Hb, leoukosit, hitung jenis, trombosit, elektrolit, protein total, albumin, globulin.
3

d) Uji tempel
Uji ini dilakukan pada klien yang diduga menderita alergi. Untuk mengetahui apakah lesi
tersebut ada kaitannya dengan faktor imunologis, mengidentifikasi respon alergi. Uji ini
menggunakan bahan kimia yang ditempelkan pada kulit, selanjutnya dilihat bagaimana reaksi
local yang ditimbulkan. Apabila ditemukan kelainan pada kulit, maka hasilnya positif.

Diagnosis Banding
Diagnosis dermatitis kontak iritan (DKI) didasarkan anamnesis yang cermat dan
pengamatan gambaran klinis. DKI akut lebih mudah diketahui karena munculnya lebih cepat
sehingga penderita pada umumnya masih ingat apa yang terjadi penyebabnya. Sebaliknya, DKI
kronis timbulnya lambat serta mempunyai variasi gambaran klinis yang luas, sehingga
adakalanya sulit dibedakan dengan dermatitis kontak alergik.

Dermatitis Kontak Alergik


Dermatitis kontak alergik (DKA) ialah dermatitis yang disebabkan oleh bahan/substansi
yang menempel pada kulit dan terjadi pada seseorang yang telah mengalami sensitisasi terhadap
suatu alergen serta melibatkan mekanisme imunologik. Untuk membedakannya dengan DKI,
diperlukan uji tempel dengan bahan yang dicurigai.
Dermatitis Venenata
Dermatitis yang disebabkan oleh bulu serangga yang terbang pada malam hari (dermatitis
venenata); penderita baru merasa pedih setelah esok harinya, pada awalnya terlihat eritema dan
sorenya sudah menjadi vesikel atau bahkan nekrosis.

Etiologi

Penyebab dermatitis kontak iritan (DKI) sebagian besar merupakan respon kulit terhadap
agen-agen misal nya zat kimia yang bersifat iritan dan biasanya melibatkan gabungan berbagai
iritan. Iritan adalah substansi yang akan menginduksi dermatitis pada setiap orang jika terpapar
pada kulit dalam konsentrasi, waktu dan frekuensi yang cukup. Iritasi pada kulit merupakan
sebab terbanyak dari dermatitis kontak. Beberapa contoh iritan akibat kerja yang lazim dijumpai
adalah sebagai berikut sabun, detergen, dan pembersih lainnya serta bahan-bahan industri, seperti
petroleum, klorinat hidrokarbon, etil, eter, dan lain-lain.
Faktor predisposisinya mencakup keadaan panas dan dingin yang ekstrim, kontak yang
frekuen dengan sabun serta air, dan penyakit kulit yang sudah ada sebelumnya. Penggunaan
berulang dari sabun basa kuat dan produk industri dapat merusak struktur lunak pada sel. Asam
dapat larut pada air dan menyebabkan dehidrasi pada kulit. Ketika kulit telah mengalami
gangguan, pajanan dari bahan iritan lemah pun dapat menyebabkan inflamasi pada kulit. Besar
intensitas dari inflamasi bergantung pada konsentrasi dari iritan dan lamanya terpajan dari bahan
iritan tersebut. Iritan yang lembut dapat menyebabkan kulit kering, fissura, dan eritema. Reaksi
ekzima yang sedang dapat timbul pada eksposure yang berkelanjutan. Pajanan yang
berkelanjutan pada daerah seperti tangan, area diaper, atau pada sekeliling kulit yang terkadang
menyebabkan eczematous inflamatour. Zat kimia kuat dapat menyebabkan reaksi yang berat.
Masing-masing individu memiliki predisposisi yang berbeda terhadap berbagai iritan,
tetapi jumlah yang rendah dari iritan menurunkan dan secara bertahap mencegah kecenderungan
untuk menginduksi dermatitis. Fungsi pertahanan dari kulit akan rusak baik dengan peningkatan
hidrasi dari stratum korneum (oklusi, suhu dan kelembaban tinggi, bilasan air yang sering dan
lama) dan penurunan hidrasi (suhu dan kelembaban rendah). Tidak semua pekerja di area yang
sama akan terkena. Siapa yang terkena tergantung pada predisposisi individu (riwayat atopi
misalnya).

Epidemiologi
5

Dermatitis kontak iritan dapat diderita oleh semua orang dari berbagai golongan umur,
ras dan jenis kelamin. Jumlah penderita diperkirakan cukup banyak, terutama berhubungan
degan perkerjaan (DKI akibat kerja). namun angkanya secara tepat sulit diketahui. Hal ini
disebabkan antara lain oleh banyak penderita dengan kelainan ringan tidak datang berobat, atau
bahkan tidak mengeluh.

Patofisiologi
Pada dermatitis kontak iritan kelainan kulit timbul akibat kerusakan sel yang disebabkan
oleh bahan iritan melalui kerja kimiawi maupun fisik. Bahan iritan merusak lapisan tanduk,
dalam beberapa menit atau beberapa jam bahan-bahan iritan tersebut akan berdifusi melalui
membran untuk merusak lisosom, mitokondria dan komponen-komponen inti sel. Dengan
rusaknya membran lipid keratinosit maka fosfolipase akan diaktifkan dan membebaskan asam
arakidonik akan membebaskan prostaglandin dan leukotrin yang akan menyebabkan dilatasi
pembuluh darah dan transudasi dari faktor sirkulasi dari komplemen dan sistem kinin. Juga akan
menarik neutrofil dan limfosit serta mengaktifkan sel mast yang akan membebaskan histamin,
prostaglandin dan leukotrin.
Ada dua jenis bahan iritan yaitu : iritan kuat dan iritan lemah. Iritan kuat akan
menimbulkan kelainan kulit pada pajanan pertama pada hampir semua orang, sedang iritan
lemah hanya pada mereka yang paling rawan atau mengalami kontak berulang-ulang. Faktor
kontribusi, misalnya kelembaban udara, tekanan, gesekan dan oklusi, mempunyai efek pada
terjadinya kerusakan tersebut.

Manifestasi Klinis
Pada umumnya manifestasi klinis dermatitis adanya tanda-tanda radang akut terutama
pruritus (gatal), kenaikan suhu tubuh, kemerahan, edema misalnya pada muka (terutama palpebra
dan bibir), gangguan fungsi kulit dan genitalia eksterna.

a)

Stadium akut : kelainan kulit berupa eritema, edema, vesikel atau bula, erosi dan eksudasi

sehingga tampak basah.


b)

Stadium subakut : eritema, dan edema berkurang, eksudat mengering menjadi kusta.

c)

Stadium kronis : lesi tampak kering, skuama, hiperpigmentasi, papul dan likenefikasi.

Stadium tersebut tidak selalu berurutan, bisa saja sejak awal dermatitis memberi gambaran klinis
berupa kelainan kulit stadium kronis.

Komplikasi
Komplikasi dengan penyakit lain yang dapat terjadi adalah sindrom pernapasan akut,
gangguan ginjal, Infeksi kulit oleh bakteri-bakteri yang lazim dijumpai terutama staphylococcus
aureus, jamur, atau oleh virus misalnya herpes simpleks.

Penatalaksanaan
Pada prinsipnya penatalaksanaan dermatitis kontak iritan dan kontak alergik yang baik
adalah mengidentifikasi penyebab dan menyarankan pasien untuk menghindarinya, terapi
individual yang sesuai dengan tahap penyakitnya dan perlindungan pada kulit. Pengobatan yang
diberikan dapat berupa pengobatan topikal dan sistemik.
Pengobatan topikal
Obat-obat topikal yang diberikan sesuai dengan prinsip-prinsip umum pengobatan
dermatitis yaitu bila basah diberi terapi basah (kompres terbuka), bila kering berikan terapi
kering. Makin akut penyakit, makin rendah persentase bahan aktif. Bila akut berikan kompres,
bila subakut diberi losio, pasta, krim atau linimentum (pasta pendingin), bila kronik berikan
salep. Bila basah berikan kompres, bila kering superfisial diberi bedak, bedak kocok, krim atau
pasta, bila kering di dalam, diberi salep.
7

Medikamentosa topikal saja dapat diberikan pada kasus-kasus ringan. Jenis-jenisnya


adalah :
1.

Kortikosteroid
Pemberian steroid topikal pada kulit menyebabkan hilangnya molekul CD1 dan HLA-DR

sel Langerhans, sehingga sel Langerhans kehilangan fungsi penyaji antigennya. Juga
menghalangi pelepasan IL-2 oleh sel T, dengan demikian profilerasi sel T dihambat. Efek
imunomodulator ini meniadakan respon imun yang terjadi dalam proses dermatitis kontak. Jenis
yang dapat diberikan adalah hidrokortison 2,5 %, halcinonid dan triamsinolon asetonid. Cara
pemakaian topikal dengan menggosok secara lembut. Untuk meningkatan penetrasi obat dan
mempercepat penyembuhan, dapat dilakukan secara tertutup dengan film plastik selama 6-10
jam setiap hari. Perlu diperhatikan timbulnya efek samping berupa potensiasi, atrofi kulit dan
erupsi akneiformis.

2.

Antibiotika dan antimikotika


Superinfeksi dapat ditimbulkan oleh S. aureus, S. beta dan alfa hemolitikus, E. coli,

Proteus dan Candida sp. Pada keadaan superinfeksi tersebut dapat diberikan antibiotika
(misalnya gentamisin) dan antimikotika (misalnya clotrimazole) dalam bentuk topikal.

Pengobatan sistemik
Pengobatan sistemik ditujukan untuk mengontrol rasa gatal dan atau edema, juga pada
kasus-kasus sedang dan berat pada keadaan akut atau kronik. Jenis-jenisnya adalah :
1.

Antihistamin

Maksud pemberian antihistamin adalah untuk memperoleh efek sedatifnya. Ada yang
berpendapat pada stadium permulaan tidak terdapat pelepasan histamin. Tapi ada juga yang
berpendapat dengan adanya reaksi antigen-antobodi terdapat pembebasan histamin, serotonin,
SRS-A, bradikinin dan asetilkolin.

2.

Kortikosteroid

Diberikan pada kasus yang sedang atau berat, secara peroral, intramuskular atau intravena.
Pilihan terbaik adalah prednison dan prednisolon. Steroid lain lebih mahal dan memiliki
kekurangan karena berdaya kerja lama. Bila diberikan dalam waktu singkat maka efek
sampingnya akan minimal. Perlu perhatian khusus pada penderita ulkus peptikum, diabetes dan
hipertensi. Efek sampingnya terutama pertambahan berat badan, gangguan gastrointestinal dan
perubahan dari insomnia hingga depresi. Kortikosteroid bekerja dengan menghambat proliferasi
limfosit, mengurangi molekul CD1 dan HLA- DR pada sel Langerhans, menghambat pelepasan
IL-2 dari limfosit T dan menghambat sekresi IL-1, TNF-a dan MCAF.

Pencegahan
Pencegahan dermatitis kontak berarti menghindari kontak dengan zat seperti poison ivy
atau sabun keras yang dapat menyebabkan hal itu. Strategi pencegahan meliputi membilas kulit
dengan air dan gunakan sabun ringan jika dermatitis karena kontak dengan suatu zat. Usahakan
mencuci untuk menghapus banyak iritan atau alergen dari kulit Anda. Pastikan untuk membilas
sabun sepenuhnya dari tubuh. Selain itu, kenakan kapas atau sarung tangan plastik ketika
melakukan pekerjaan rumah tangga untuk menghindari kontak dengan pembersih atau larutan.
Jika di tempat kerja, pemakaian pelindung atau sarung tangan adalah harus untuk melindungi
kulit terhadap senyawa berbahaya.
Seterusnya, dioleskan krim atau gel penghalang di kulit untuk memberikan lapisan
pelindung. Pelembab juga digunakan untuk mengembalikan lapisan terluar kulit dan untuk
mencegah penguapan kelembaban. Selain itu, deterjen yang ringan harus digunakan, tanpa
wewangian saat mencuci pakaian, handuk dan selimut serta lakukan siklus bilas tambahan pada
mesin cuci.

Prognosis
Bila bahan iritan penyebab dermatitis tersebut tidak dapat disingkirkan dengan sempurna,
maka prognosisnya kurang baik. Keadaan ini sering terjadi pada dermatitis kontak iritan kronis
yang penyebabnya multi faktor, juga pada penderita atopi.

Kesimpulan
Dermatitis kontak iritan adalah efek sitotosik lokal langsung dari bahan iritan pada sel-sel
epidermis, dengan respon peradangan pada dermis. Dermatitis kontak iritan ini disebabkan oleh
terpapan oleh zat-zat kimia seperti sabun, detergen, dan pembersih lainnya serta bahan-bahan
industri, seperti petroleum, klorinat hidrokarbon, etil, eter, dan lain-lain.
Dermatitis kontak iritan ini dapat dicegah yaitu dengan cara membilas kulit dengan air
dan gunakan sabun ringan jika dermatitis karena kontak dengan suatu zat. Usahakan mencuci
untuk menghapus banyak iritan atau alergen dari kulit Anda. Pastikan untuk membilas sabun
sepenuhnya dari tubuh.

10

Daftar Pustaka
1. Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Edisi ke-6. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI; 2010.
2. Siregar RS. Saripati penyakit kulit. Edisi 2. Jakarta: ECG;2004.
3. KF Helm, Marks JG. Excoriations. Dalam: Atlas diferensial diagnosis dermatologi. New
York: Churchill Livingstone;2001.
4. Habif TP. Clinical dermatology, a colour guide to diagnosis and therapy. 4 th ed. Chile: Mosby

Inc.;2004.

11