Anda di halaman 1dari 46

PERANGKAT LUNAK REKAM

MEDIS ELEKTRONIK
Pertemuan ke- 1
Poltekes Malang, 20 Maret 2016
Basirun, Amd. PK, SKM

KOMPUTERISASI
KEUNTUNGAN :

EFISIENSI PENGISIAN DATA


EFISIENSI PENYIMPANAN DATA
PERCEPAT TRANSFER DATA
DAPAT DIPAKAI SERENTAK

KELEMAHAN :
RELATIF TERBUKA
PENGISI DATA BUKAN DOKTER

Ps 46 (3) UU PRATEK
KEDOKTERAN.
PENJELASAN:
APABILA DALAM PENCATATAN REKAM
MEDIK MENGGUNAKAN TEKNOLOGI
INFORMASI ELEKTRONIK, KEWAJIBAN
MEMBUBUHI TANDATANGAN DAPAT
DIGANTI DENGAN MENGGUNAKAN
NOMOR IDENTITAS PRIBADI (PIN)

KETENTUAN

AUTHORIZED PERSONNEL
SECURITY LEVEL
ID CODE, PASSWORD
FOOTPRINT
KOREKSI ? : ADDENDUM
PRINT : LIMITED
RELEASED : PATIENT APPROVAL
PEMUSNAHAN DATA SEIJIN DOKTER

BIASANYA MASIH DALAM


BENTUK PAPER

CONSENT
GRAFIK PEMANTAUAN TANDA VITAL
GRAFIK TERAPI
RESEP ( asuransi, pajak, dll)
KUITANSI

MASALAH HUKUM
Akibat keragaman bentuk data

Privacy
Lebih banyak orang bisa mengakses (?)

Technology limitation
Preservation
Harus mematuhi cara penyimpanan

Legal Status

UU INFORMASI TRANSAKSI ELEKTRONIK (ITE)


Pasal 5
1) Informasi Elektronik dan/atau Dokumen
Elektronik dan/atau hasil cetaknya merupakan alat
bukti hukum yang sah.
2) Informasi Elektronik dan/atau Dokumen
Elektronik dan/atau hasil cetaknya sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) merupakan perluasan dari
alat bukti yang sah sesuai dengan Hukum Acara
yang berlaku di Indonesia.
3) Informasi Elektronik dan/atau Dokumen
Elektronik dinyatakan sah apabila menggunakan
Sistem Elektronik sesuai dengan ketentuan yang
diatur dalam Undang-Undang ini.

UU INFORMASI TRANSAKSI ELEKTRONIK (ITE)

Pasal 6
Dalam hal terdapat ketentuan lain selain
yang diatur dalam Pasal 5 ayat (4) yang
mensyaratkan bahwa suatu informasi
harus berbentuk tertulis atau asli,
Informasi Elektronik dan/atau Dokumen
Elektronik dianggap sah sepanjang
informasi yang tercantum di dalamnya
dapat diakses, ditampilkan, dijamin
keutuhannya, dan dapat
dipertanggungjawabkan sehingga
menerangkan suatu keadaan.

Pasal 11
(1)Tanda Tangan Elektronik memiliki
kekuatan hukum dan akibat hukum
yang sah selama memenuhi
persyaratan sebagai berikut:
a. data pembuatan Tanda Tangan Elektronik
terkait hanya kepada Penanda Tangan;
b. data pembuatan Tanda Tangan Elektronik
pada saat proses penandatanganan
elektronik hanya berada dalam kuasa
Penanda Tangan;

c. segala perubahan terhadap Tanda Tangan


Elektronik yang terjadi setelah waktu
penandatanganan dapat diketahui;
d. segala perubahan terhadap Informasi
Elektronik yang terkait dengan Tanda
Tangan Elektronik tersebut setelah waktu
penandatanganan dapat diketahui;
e. terdapat cara tertentu yang dipakai untuk
mengidentifikasi siapa Penandatangannya;
dan
f. terdapat cara tertentu untuk menunjukkan
bahwa Penanda Tangan telah memberikan
persetujuan terhadap Informasi Elektronik
yang terkait.

Pasal 16
(1)Sepanjang tidak ditentukan lain oleh undangundang tersendiri, setiap Penyelenggara Sistem
Elektronik wajib mengoperasikan Sistem
Elektronik yang memenuhi persyaratan
minimum sebagai berikut:
a. dapat menampilkan kembali Informasi
Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik
secara utuh sesuai dengan masa retensi yang
ditetapkan dengan Peraturan
Perundangundangan;
b. dapat melindungi ketersediaan, keutuhan,
keotentikan, kerahasiaan, dan keteraksesan
Informasi Elektronik dalam Penyelenggaraan
Sistem Elektronik tersebut;

c. dapat beroperasi sesuai dengan prosedur


atau petunjuk dalam Penyelenggaraan
Sistem Elektronik tersebut;
d. dilengkapi dengan prosedur atau petunjuk
yang diumumkan dengan bahasa, informasi,
atau simbol yang dapat dipahami oleh pihak
yang bersangkutan dengan Penyelenggaraan
Sistem Elektronik tersebut; dan
e. memiliki mekanisme yang berkelanjutan
untuk menjaga kebaruan, kejelasan, dan
kebertanggungjawaban prosedur atau
petunjuk.

Bentuk Data
Terdapat 2 bentuk:
Born digital data: diketik langsung
dalam bentuk digital, dapat diubah,
dapat dijadikan data base
Scanned/image: digital format records:
aslinya paper, kemudian dijadikan
digital-format, tak dapat diubah. Dengan
teknik khusus dapat dibuat menjadi
data base

DASAR HUKUM
PERATURAN MENTERI KESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82
TAHUN 2013 TENTANG SISTEM
INFORMASI MANAJEMEN RUMAH SAKIT

PASAL 1
AYAT

1.Rumah

Sakit

adalah

institusi

pelayanan

kesehatan

yang

menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna


yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat
AYAT 2. Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit yang selanjutnya disingkat
SIMRS

adalah

suatu

sistem

teknologi

informasi

komunikasi

yang

memproses dan engintegrasikan seluruh alur proses pelayanan Rumah


Sakit

dalam bentuk jaringan koordinasi, pelaporan dan prosedur

administrasi untuk memperoleh informasi secara tepat dan akurat, dan


merupakan bagian dari Sistem Informasi Kesehatan.
AYAT 3. Sistem Informasi Kesehatan adalah seperangkat tatanan yang meliputi
data, informasi, indikator, prosedur, teknologi, perangkat, dan sumber
daya manusia yang saling berkaitan dan dikelola secara terpadu untuk
mengarahkan tindakan Atau keputusan yang berguna dalam mendukung
pembangunan kesehatan

PASAL 2
Pengaturan SIMRS bertujuan meningkatkan efisiensi, efektivitas, profesionalisme,
kinerja, serta akses dan pelayanan Rumah Sakit.

PASAL 3
AYAT (1) Setiap RumahSakit wajib menyelenggarakan SIMRS
AYAT(2) Penyelenggaraan SIMRS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
menggunakan aplikasi dengan kode sumber terbuka (open source) yang
disediakan oleh Kementerian Kesehatan atau menggunakan aplikasi yang dibuat
oleh Rumah Sakit.
AYAT(3) Aplikasi penyelenggaraan SIMRS yang dibuat oleh Rumah Sakit
sebagaimana dimaksud pada ayat (2), harus memenuhi persyaratan minimal
yang ditetapkan oleh Menteri.

PASAL 4
AYAT

(1)

Setiap

Rumah

Sakit

harus

melaksanakan

pengelolaan

dan

pengembangan SIMRS.
AYAT(2) Pelaksanaan pengelolaan dan pengembangan SIMRS sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) harus mampu meningkatkandan mendukung proses
pelayanan kesehatan di Rumah Sakit yang meliputi:
a. kecepatan, akurasi, integrasi, peningkatan pelayanan, peningkatan efisiensi,
kemudahan pelaporan dalam pelaksanaan operasional;
b. kecepatan mengambil keputusan, akurasi dan kecepatan identifikasi masalah
dan kemudahan dalam penyusunan strategi dalam pelaksanaan manajerial; dan
c.

budaya kerja, transparansi, koordinasi antar unit, pemahaman sistem dan

pengurangan biaya administrasi dalam pelaksanaan organisasi.

PASAL 5
AYAT(1) SIMRS harus dapat diintegrasikan dengan program Pemerintah dan Pemerintah
Daerah serta merupakan bagian dari Sistem Informasi Kesehatan.
AYAT(2)

Pengintegrasian dengan program Pemerintah dan Pemerintah Daerah


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dalam bentuk kemampuan
komunikasi data (interoperabilitas).

AYAT(3) SIMRS harus memiliki kemampuan komunikasi data (interoperabilitas) dengan:


a. Sistem Informasi Manajemen dan Akuntansi Barang Milik Negara (SIMAK BMN);
b. Pelaporan Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS);
c. Indonesia Case Base Groups(INACBGs);
d. aplikasi lain yang dikembangkan oleh Pemerintah; dan
e. sistem informasi manajemen fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.
AYAT(4) Kemampuan komunikasi data (interoperabilitas) dengan Sistem Informasi dan
Manajemen Barang Milik Negara (SIMAK BMN) sebagaimana dimaksud pada
ayat (3) huruf a, paling sedikit mencakup pengkodean barang.

PASAL 6
AYAT(1) Arsitektur SIMRS paling sedikit terdiri atas:
a. kegiatan pelayanan utama (front office);
b. kegiatan administratif (back office); dan
c. komunikasi dan kolaborasi
AYAT(2)

Selain arsitektur sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Rumah Sakit


dapat

mengembangkan

SIMRS

dengan

menambahkan

arsitektur

pendukung yang berupa Picture Archiver System (PACS), Sistem


Manajemen Dokumen (Document Management System), Sistem Antar
Muka Peralatan Klinik, serta Data Warehouse dan Bussines Intelegence.

PASAL 7

SIMRS yang diselenggarakan oleh Rumah Sakit harus


memenuhi 3 (tiga) unsur yang meliputi keamanan
secara fisik, jaringan, dan sistem aplikasi.

PASAL 8

Penyelenggaraan SIMRS harus dilakukan oleh unit


kerja struktural atau fungsional di dalam organisasi
Rumah Sakit dengan sumber daya manusia yang
kompeten dan terlatih.

SISTEM PEMBIAYAAN KESEHATAN


1. Sistem Pembayaran
Restropektif

Pembayaran
restropektif
sesuai
namanya berarti bahwa besaran biaya
dan jumlah biaya yang yang harus
dibayar oleh pasien atau pihak
pembayar,
misalnya
perusahan
majikan pasien, ditetapkan setelah
pelayanan diberikan

SISTEM PEMBIAYAAN KESEHATAN


2. Sistem Pembayaran Prospektif

Pembayaran prospektif secara umum


adalah
pembayaran
pelayanan
kesehatan
yang
harus
dibayar,
besaran biayanya sudah ditetapkan
dari
awal
sebelum
pelayanan
kesehatan diberikan

Sistem Pembayaran Prospektif


1. Diagnostic Related Group (DRG)/Case Base Groups
(CBGs)

Pengertian DRG/CBGs dapat disederhanakan dengan cara


pembayaran dengan biaya satuan per diagnosis, bukan biaya
satuan per pelayanan medis maupun non medis yang diberikan
kepada seorang pasien dalam rangka penyembuhan suatu
penyakit(5). Dalam pembayaran DRG, rumah sakit maupun
pihak pembayar tidak lagi merinci pelayanan apa saja yang
telah diberikan kepada seorang pasien. Rumah sakit hanya
menyampaikan diagnois pasien waktu pulang dan memasukan
kode DRG untuk diagnosis tersebut. Besarnya tagihan untuk
diagnosis tersebut telah disepakati oleh seluruh rumah sakit di
suatu wilayah dan pihak pembayar, misalnya badan
asuransi/jaminan sosial atau tarif DRG tersebut telah ditetapkan
oleh pemerintah sebelum tagihan rumah sakit dikeluarkan

CONTOH APLIKASI INA CBGs

TAMPILAN APLIKASI INA-CBGs

TAMPILAN APLIKASI INA-CBGs

TAMPILAN APLIKASI INA-CBGs

Sistem Pembayaran Prospektif


2. Pembayaran Kapitasi

Pembayaran kapitasi merupakan suatu


cara
pengedalian
biaya
dengan
menematkan fasilitas kesehatan pada
posisi menanggung risiko, seluruhnya
atau sebagian, dengan cara menerima
pembayaran atas dasar jumlah jiwa
yang ditanggung

Sistem Pembayaran Prospektif


3. Pembayaran Per Kasus

Sistem pembayaran per kasus (case rates)


banyak digunakan untuk membayar rumah
sakit
dalam
kasus-kasus
tertentu.
Pembayaran per kasus ini mirip dengan DRG,
yaitu dengan mengelompokan berbagai jenis
pelayanan
menjadi
satu-kesatuan.
Pengelompokan ini harus ditetapkan dulu di
muka dan disetujui kedua belah pihak, yaitu
pihak rumah sakit dan pihak pembayar

Sistem Pembayaran Prospektif


4. Pembayaran Per Diem

Pembayaran per diem merupakan pembayaran


yang dinegosiasi dan disepakati di muka yang
didasari pada pembayaran per hari perawatan,
tanpa
mempertimbangkan
biaya
yang
dihabiskan oleh rumah sakit(5). Satuan biaya per
hari sudah mencakup kasus apapun dan biaya
keseluruhan, misalnya biaya ruangan, jasa
konsultasi/visite dokter, obat-obatan, tindakan
medis dan pemeriksaan penunjang lainnya

Sistem Pembayaran Prospektif


5. Pembayaran Global Budget

Merupakan cara pendanaan rumah sakit oleh pemerintah


atau suatu badan asuransi kesehatan nasional dimana
rumah sakit mendapat dana untuk mmembiayai seluruh
kegiatannya untuk masa satu tahun. Alokasi dan ke rumah
sakit tersebut diperhitungkan dengan mempertimbangkan
jumlah pelayanan tahun sebelumnya, kegiatan lain yang
diperkirakan akan dilaksanakan dan kinerja rumah sakit
tersebut. Manajemen rumah sakit mempunyai keleluasaan
mengatur dana anggaran global tersebut untuk gaji
dokter, belanja operasional, pemeliharaan rumah sakit
dan lain-lain

CONTOH Pembayaran Restropektif


Biaya langsung kepada pasien adalah biaya yang langsung
dipergunakan untuk keperluan pasien yang harus di biayai, beberapa
cotoh biaya langsung yang terjadi untuk pelayanan tiap-tiap pasien
di RS,antara lain:
1.Akomodasi (tarif kamar perawatan)
2.Biaya langsung di instalasi penunjang
3.Biaya bahan habis pakai
4.Biaya jasa pemeriksaan (HR dokter, perawat dll)
5.Biaya makan pasien
6.Jasa Pelayanan petugas instalasi/Unit
7.Dll

Secara umum komponen biaya yang harus ditanggung


pasien di Rumah Sakit terbag dalam tiga (3) komponen
yaitu ;
(1)Biaya bahan dan alat,
(2) Biaya Jasa Rumah sakit,
(3) Biaya Jasa Pelayanan
32

(1)Biaya bahan dan alat,


- Obat-obatan
- Penunjang medis
- Alat-alat kesehatan
(2) Biaya jasa Rumah sakit,
- Tarif kamar (listrik, air, ac, dll)
- Makanan pasien
- Ambulans
(3) Biaya Jasa Pelayanan
- Honor Visite doter
- Honor Perawat
- Honor petugas medis lainnya

33

Contoh Biaya yang ditagung oleh pasien dalam RS


RSU. POLTEKES MALANG
JL. IJEN, MALANG
KWITANSI
Telah terima dari: Nama :..............................No. RM:

I.

II

III

Alamat: ..............................................

Ruang

Tgl Msk

Tgl Kluar

1. Ruang ICU

1 Apr 11

5 Apr11

5 hari

Rp. 500.000,

Rp. 2.500.000

2. Ruang VIP

6 Apr 11

10 Apr11

5 hari

Rp. 300.000,

Rp. 1.500.000

1. Dr. Burhan Hidayat, Sp P

5 Kali

Rp. 150.000

Rp.

750.000

2. Dr. Saraswati, Sp J

3 kali

Rp. 150.000

Rp.

450.000

Rp. 200.000

Rp. 200.000

Lama Haper

Total biaya

Jasa Visite Dokter

Penunjang Medis
1. Laboratorium

IV

Tarif

2. Radiologi (Ct-scan)

2 kali

Rp. 1.000.000

3. ECG

4 kali

Rp. 50.000

Rp. 2.000.000
Rp.

200.000

Obatobatan
1. XX

Rp. 1.500.000

2. YY

Rp. 3.500.000

TOTAL BIAYA

Rp. 12.600.000

Terbilang : Dua belas juta enam ratus ribu rupiah

34

CONTOH RM ELEKTRONIK
PEMBAYARAN/KASIR

MENU LIST PEMBAYARAN/KASIR

MENU BILLING RAWAT JALAN

MENU DEPOSIT RAWAT INAP

MENU BILLING RAWAT INAP

MENU DEPO RAWAT JALAN

MENU GIZI RAJAL

MENU LAPORAN PEMBAYARAN/KASIR

MENU LAPORAN PEMBAYARAN/KASIR RAWAT


JALAN

MENU LAPORAN PEMBAYARAN/KASIR RAWAT


INAP

LAPORAN PENCARIAN CARA BAYAR


(ASURANSI)