Anda di halaman 1dari 5

EVALUATIVE AND SPECULATIVE ELEMENTS DALAM REPUBLIK MALUKU SELATAN (RMS)

Giat intel dgn elemen strategis dgnn gun teori yg berkembang utk teori analisis terkait temuan data
intelijen yg pernah jd catatan sejarah.
Kepentingan nasional secara intelijen
End user gun instrumen intel utk gun upaya intelijen strategis.
Evaluatif
Spekulatif
Misal debat di meja perundingan, argumentasi yang tegas, peluang lepas besar/kecil, poin penting
secara kasat mata dan keilmuan masalah RMS.
Elemen strategis yang bisa mjd akumulasi apa bisa menguatkan atau melemahkan potensi
lepasnya RMS. Klo bicara Evsec dekat dgn isu geopolitik, mindset liat RMS dr sisi pdkt geopolitik.
Kategori RMS sbg wilayah berpotensi lepas, yg alirannya dekat dgn isu realis bukan revolusioner.
Maluku terintegrasi ke indo seperti apa, secara evaluatif, kebijakan,
FUCA, Frutality, Uncertainty, Complexity and Ambiguity.
Bagaimana menggambarkan scr evspec isu yg bhub dgn RMS, jgn berpikir tidak ada, msh ada
peluang-peluang. Refleksi history...
Aspeknya apa indikator penting.

Konflik Islam-Kristen di Maluku saat ini memang telah menyeret banyak pihak ke dalam kancah perang
yang tidak kunjung berkesudahan. Semakin lama pertikaian berlangsung, bukannya semakin reda, malah
semakin banyak pihak yang terlibat dan daerah konfliknya semakin luas. Persenjataan yang digunakan
juga semakin canggih. Akibatnya, jumlah korban jauh lebih banyak dari pada saat permulaan konflik.
Catatan Suadi Marasabessy, Kasum TNI, menyangkut pertikaian di Maluku menunjukkan hal itu. Pada
awal pertikaian, senjata yang digunakan sebatas senjata tajam dan bom-bom molotov. Pada pertikaian
tahap kedua dan berikutnya, tidak lagi bom molotov dan senjata rakitan, tapi sudah menggunakan
senjata organik dan bom betulan. Banyak pula senjata yang tidak dimiliki aparat keamanan, seperti
senjata berperedam, berteropong bahkan senapan mesin. Luar biasa.
Seperti terjadinya pembantian di Tobelo dan Galela, beberapa saksi mata yang selamat mengaku melihat
pembantaian dilakukan dengan menggunakan senapan mesin. Selain dibakar hidup-hidup di dalam
masjid, sehingga dalam waktu satu hari korban bisa mencapai 800-an orang.

Salah satu pihak yang paling kuat keterlibatannya adalah orang-orang Maluku di Belanda. Mereka adalah
para pejuang Republik Maluku Selatan (RMS), yang melarikan diri setelah terjadinya pemberontakan
RMS pada tahun 1950.
RMS dideklarasikan oleh dr Soumokil, Ir Manusama, dan mantan Tentara KNIL, pada pertemuan di
Ambon 18 Januari 1950. Nama RMS muncul ke perbukaan dan dikenal publik baru pada tanggal 25 April
1950, ketika terjadi pemberontakan terhadap pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS).
Menurut sejarahwan, Ahmad Mansur Suryanegara, awalnya RMS adalah Republik Maluku Serani, bukan
Republik Maluku Selatan seperti yang dikenal sekarang. Di Maluku Serani berarti Nasrani. Tetapi
kemudian diubah dalam penulisan sejarah menjadi Republik Maluku Selatan sebagai upaya meredam
kemungkinan terjadi perang agama. Lambat laun orang akhirnya melupakannya. RMS dianggap hanya
bagian dari sejarah masa lalu semata.
Orang tidak tahu bahwa di Belanda, para pejuang RMS melakukan proses kaderisasi secara sistematis,
hingga saat ini. Untuk melanjutkan cita-citanya pembentukan negara merdeka, tokoh-tokoh RMS di
negeri Belanda dipimpin oleh Frans LJ Tutuhatunewa selaku Presiden. Mereka juga sudah lama
merencanakan pengambil alihan teritorial di Maluku.
Bahkan ketika terjadi tragedi Idul Fitri berdarah 19 Januari 1999, yang menewaskan ratusan ummat Islam
di Ambon. Masyarakat belum menyadari bahwa pertikaian yang terjadi di Ambon adalah bagian dari
permainan RMS. Masyarakat baru terhenyak ketika menemukan fakta-fakta di lapangan yang
menegaskan adanya RMS, termasuk orang Maluku sendiri.
Misalnya, tidak begitu lama setelah insiden berlangsung, massa berikat kepala merah yang menerobos
masuk jalan AJ Patty, Ambon meneriakkan yel-yel `Hidup RMS!'. Fakta ini kemudian diperkuat dengan
berbagai temuan dokumen tentang kelompok RMS di beberapa tempat. Isi dokumen itu tentang rencana
kerusuhan di Ambon.
AM Hendroprijono, mantan Menteri Transmigrasi yang lama berkecimpung dalam dunia intelijen
membenarkan keterlibatan pihak Republik Maluku-Selatan (RMS) di balik kasus Maluku ini. Tragedi
Maluku berdarah itu berlangsung bertepatan sehari setelah hari ulang tahun (HUT) RMS ke-49, 18
Januari 1950.
Sejumlah tokoh di Maluku juga menegaskan adanya peran RMS dalam meledakkan pertikaian di daerah
yang dikenal sebagai penghasil rempah-rempah itu. Gerakan separatis RMS merupakan salah satu
faktor pemicu kerusuhan, kata Ali Fauzi, Ketua DPC Partai Bulan Bintang Kodia Ambon kepada Sahid.
Penegasan yang sama juga disampaikan oleh Sulaiman Latupono, Ketua Forum Pemuda Muslim
Baguala Ambon.
Fakta-fakta dan temuan di lapangan agaknya akan menggiring orang berkesimpulan bahwa RMS berada
di balik pertikaian yang terjadi di negeri yang oleh Ibnu Batutah disebut Jazirat Al-Muluk (semenanjung
raja-raja) itu.
Misalnya, beberapa hari sebelum tragedi Idul Fitri berdarah itu, sejumlah mantan pejuang RMS yang
selama ini menetap di Belanda, kembali ke Ambon. Mereka sempat diterima Menteri Dalam Negeri
Syarwan Hamid waktu itu. Begitu orang-orang ini kembali ke kampung halaman, tak selang berapa lama
kemudian kerusuhan meledak.

Perlu diketahui pula, ternyata Yopie Saiya, preman yang memalak Usman, sopir angkot warga Batu
Merah, yang menyulut pertikaian Ambon, adalah warga Desa Amantelu yang berasal dari Aboru. Sudah
menjadi rahasia umum, terutama bagi warga Ambon, bahwa orang-orang Aboru adalah para pengikut
setia RMS. Paling jelek, sebagai simpatisan. Karena itulah warga Muslim di Ambon meyakini bahwa RMS
berada di balik aksi-aksi brutal anti-Muslim itu.
Dua hari setelah kerusuhan, Kamis 21 Januari 1999 (3 Syawal 1419 H) sekitar pukul 12.00, bendera
RMS berwarna merah, putih, biru, dan hijau berkibar di Karang Panjang, Gunung Nona, dan Kudamati.
Wilayah ini merupakan basis ummat Kristen di Ambon.
Sorenya, sekitar pukul 16.00, ditemukan dokumen RMS bertanggal 22 Pebruari 1997 yang
ditandatangani oleh Komite Nasional-RMS, FLJ Tutuhatunewa di rumah Edwin Manuputty (Pegawai
Bappeda Tingkat I Maluku). Dokumen itu berisi coretan konsep surat permohonan kepada D Sahalessy
untuk mendapatkan simpati dan bantuan Amnesti Internasional bagi perjuangan kemerdekaan rakyat
Maluku Selatan. Di situ tertuang kecaman-kecaman terhadap pemerintah RI yang dianggap sebagai
penjajah Maluku.
Sebelum insiden Idul Fitri berdarah, simbol-simbol dan yel-yel RMS sebenarnya sudah bermunculan.
Karena itu, aksi-aksi RMS selama kerusuhan diduga terkait dengan dua aksi sebelumnya. Pertama,
menggemanya yel-yel pro-RMS dalam aksi unjuk rasa mahasiswa Universitas Pattimura di muka Markas
Korem 174/Pattimura tanggal 12-18 November 1998 lalu. Kedua, proklamasi RMS oleh sekelompok
orang Belanda keturunan Ambon di Belanda pada 19 Desember 1998.
Bukti terbaru, 3 Jan 2000 lalu ditemukan kamp RMS di hutan Pulau Seram, tepatnya sekitar 5 km dari
Dusun Sopelesi, Desa/Kec Tehoru, Kab Maluku Tengah. Ada bendera RMS berukuran 90x35 cm
dipancang di tiang bambu setinggi tiga meter, logistik berupa lima karung beras dan 20 karton mie instan
serta tungku masak. Diduga kamp itu hanya salah satu dari markas kegiatan RMS yang tersebar di
banyak tempat.
Karena itu bagi Ahmad Mansur Suryanegara, yang terjadi di Maluku sekarang bukan sekedar pertikaian
biasa, tetapi juga sebuah pemberontakan yang di dasari dengan sentimen agama. Skenario yang paling
jelek. Itu sebagai gerakan imbangan agama (balance of religion), kata ahli sejarah dari Unpad ini dalam
buku terbarunya Benarkah Reformasi Menimbulkan Perang Agama?
Mansur bahkan dapat memastikan itu merupakan kelanjutan situasi Timor Timur yang diisukan menjadi
`Daerah Otonomi Khusus Katolik' dengan mengusir ummat Islam. Situasi yang demikian ini
membangkitkan minat sementara kalangan Protestan Ambon akan menjadikan Ambon `wilayah khusus
Protestan', mengimbangi Timor Timur.
Tampaknya mereka mencoba meniru reformasi di Eropa yang melahirkan negara-negara Eropa yang
dibagi atas dasar: cujus regio ejus religio (tiap raja memilih agamanya untuk di wilayahnya). Pembagian
yang demikian ini pernah dijadikan sebagai jalan keluar dalam mengakhiri Perang Agama yang
berkepanjangan antara Protestan dan Katolik.
Pendapat ini dibenarkan pakar sejarah Ahmad Syafii Maarif. Menurut Ketua PP Muhammadiyah ini, di
kalangan Kristen memang terdapat kelompok agresif, radikal, dan militan yang ingin secepatnya
mengubah perimbangan pemeluk agama antara Islam dan Kristen (Protestan).

Begitulah. Sekalipun sudah ditumpas, RMS sebagai cita-cita politik tidak pernah mati di Maluku, kata
Sjafii Maarif. Era reformasi adalah saat yang dianggap tepat untuk sekali lagi meminta perhatian dunia
atas eksistensi RMS itu, dengan dukungan kuat gereja dan tokoh-tokoh mereka yang bermukim di
Belanda.
Informasi yang terhimpun dari Belanda sebagai tempat pelarian pejuang RMS semakin memperkuatkan
hal itu. Harian Rotterdam Dagblad (11/1) mengekspos pernyataan Menteri Sekretaris Kabinet RMS J
Watilette yang menyatakan bahwa RMS tengah melakukan persiapan terakhir untuk mengambil alih
kekuasaan di Maluku saat pemerintahan Indonesia lemah.
Hal itu diperkuat pula dengan pernyataan Presiden RMS Frans LJ Tutuhatunewa di harian yang sama
Desember 1998 lalu yang menyatakan bahwa pengambilalihan kekuasaan harus segera dilakukan begitu
pemerintahan Jakarta jatuh.
Dibentuklah Kongres Nasional Maluku 19 Desember 1998 yang bertugas mengambil alih kekuasaan,
melucuti dan membubarkan TNI, menghimpun bantuan dana, dan mengorganisir orang-orang di Maluku,
termasuk memasok senjata.
Parlemen Belanda bahkan secara transparan memperlihatkan support-nya, terutama Partai Buruh dan
Fraksi Kristen Demokrat. Pers Belanda bahkan menyebut RMS sebagai pemerintahan dalam
pengasingan (in exile).
Harian Haagsche Courant (16/12/98) juga menyatakan hal senada. Tulisannya berbunyi, Pemerintah
Maluku Selatan (AMS) yang berbasis di Belanda kini tengah mematangkan persiapan untuk mengambil
alih kekuasan di Maluku Selatan. Kepada harian itu, Tutuhatunewa mengatakan bahwa beberapa kader
RMS dari Belanda saat ini sedang berada di Maluku untuk melakukan misi memperkuat semangat di
kalangan penduduk dan menyempurnakan persiapan kemerdekaan.
Tentang pengiriman senjata ke Maluku, harian De Volkskrant (12/1) melaporkan kegiatan RMS
mengumpulkan dana untuk membeli senjata guna membantu `saudara-saudara Kristen di Maluku'.
Melalui jaringan internasional, senjata itu akan dikirim ke Maluku lewat Filipina Selatan.
Malahan, RMS di Belanda ikut bergabung ke dalam UNPO (Unnational People Organization), sebuah
organisasi teroris internasional yang sasarannya negeri-negeri berpenduduk mayoritas Muslim.
Organisasi teroris ini, banyak mendapat bantuan dana dari Israel dan negara-negara Barat.
Guna memperluas pengaruh jaringannya, gerakan separatis ini mulai merasuk ke dalam jaringan internet.
Paling tidak ada dua homepage yang diketahui sebagai alat propaganda RMS. Dalam DLM (Djangan
Lupa Maluku; http://www.hidayatullah.com/2000/02/www.dlm.org) misalnya, dapat dijumpai naskah
proklamasi RMS tanggal 25 April 1950 yang ditandatangani JH Manuhutu dan A Wairisal.
Bahkan dalam Front Siwa Lima (http://ourworld.compuserve.com/homepages/asahureka/oproep.htm),
terang-terangan memuat artikel terbitan United Israel Bulletin (UIB) berisi harapan RMS untuk mendapat
dukungan Israel. Dalam situs itu dijelaskan, hubungan RMS, UNPO, dan Zionis Israel, bukan sematamata teroris kelas bulu, tetapi bagian dari suatu konspirasi internasional anti perdamaian dan
kemanusiaan (Siar, 15-21/3/99).

Menilik temuan yang ada, yang terjadi di Maluku merupakan bagian dari sebuah revolusi RMS yang
memproklamirkan perang kemerdekaan untuk mewujudkan kembali negara Republik Maluku Serani,
dengan memanfaatkan lemahnya Indonesia dalam konstelasi politik dunia yang sedang berubah.
Untuk mencapai cita-cita itu, RMS membutuhkan pengakuan internasional dan teritorial. Hal terakhir
inilah yang tengah dengan keras diupayakan. Sementara yang pertama tak begitu sulit diwujudkan sebab
Belanda yang pernah menjanjikan tanah air bagi RMS akan terus aktif memberikan dukungan.
Karena itu, Direktur Delft Information Society (DIS) yang berkedudukan di Belanda, sekali lagi
menegaskan setiap analisis yang tidak mempercayai keterlibatan RMS dalam pertikaian di Maluku adalah
analisis yang ngawur dan miskin data.