Anda di halaman 1dari 9

Nama

: Sutris Sugih Arto

Nim

: 1408015006

Kelas

: A14

Putusan Mahkamah Agung


Nomor: 173 PK/Pdt/2007
Subyek Hukum
PIHAK PEMOHON/PENGGUGAT
1. I WAYAN KUPA,
2. I WAYAN SUPARTA,
3. I NYOMAN SUDIANA,
PIHAK TERMOHON/TERGUGAT
4. I KETUT LILIR,
5. NI KETUT PAYU,
6. NI NYOMAN BAGIA

Obyek Hukum
1. Sebidang tanah tegalan yang terletak di desa kelusa, yang dalam bukti lontar
tertera No. 15, persil 6 a, klas I, luas 33 are
2. Sebidang tanah tegalan yang terletak di desa kelusa, yang dalam bukti lontar
tertera No.15, persil 6 a, klas I, luas 25 are
3. Sebidang tanah sawah yang terletak di subak bersela, desa kelusa, yang dalam
bukti lontar tertera No. 38, persil 17 klasiran sapag, klas III, luas 21 are
4. Sebidang tanah sawah yang terletak di subak bersela, desa kelusa, yang dalam
bukti lontar tertera No. 38, persil 8, klas III, luas 21 are

Hubungan Hukum
Hubungan hukumnya Sederajat (privat)

Fakta Hukum
Bahwa hubungan antara para penggugar dan para tergugat pada dasarnya tidak
ada hubungan ahli waris kepursa, melainkan orang tua para penggugat adalah
bersaudara kandung dengan almarhum I RUPET yang berstatus kawin nyentana
dengan NI SUSUN dari desa taro kelod, yang dari perkawinan tersebut melahirkan
keturunan : I OMPYAG, NI RENES, NI NEDENG, I LILIR, dan NI NINIK.
Selanjutnya I OMPYAG kawin dengan NI PAYU dan tidak melahirkan
keturunan, kemudian kawin dengan NI BAGIA melahirkan keturunan : I MADE
SUDARTA, dan NI SUDARTI yang telah kawin.
Bahwa sekitar tahun 1921, I RUPET saudara tertua dari ayah para penggugat
telah kawin nyentana (nyeburin) di desa taro kelod dengan NI SUSUN yang tentunya
sebagai purusa (sentana rajeg). Dari perkawinan tersebut melahirkan keturunan : I
WAYAN OMPYAG (ayah tergugat II, suami tergugat III dan IV), NI MADE RENES,
NI NYOMAN NEDENG, I KETUT LILIR, dan NI NYOMAN NINIK, yang
kesemuanya lahir dan tinggal di rumah ibunya di desa taro kelod.
Bahwa sekitar tahun 1942 terjadi perselisihan antara I RUPET dengan NI
SUSUN sehingga I RUPET kembali ke desa kelusa (pulang-taruna) dan kawin dengan
NI TUNGKAS yang selanjutnya terjadi perceraian dan sekitar tahun 1945 kawin lagi
dengan NI LESUG dan tinggal di pondok setelah I RARUD saudara I DUNIA
meninggal, maka oleh adiknya (ayah para penggugat) dan I MINDUNG diminta I
RUPET untuk pulang menempati rumah kakek almarhum I RARUD. Sedangkan
muali saat itu oleh I DUNIA (adik kandung I RARUD) semua tanah milik I RARUD
dan tanah milik I DUNIA sendiri (obyek tanah sengketa) diserahkan kepada I
MINDING dan I MUNDUNG untuk menggarap sekaligus merawat kakek I DUNIA
yang pada saat itu mulai sakit-sakitan.
Bahwa setelah I RUPET tinggal di rumah I RARUD, maka anak-anaknya di
taro mulai mengunjungi orang tuanya, bahkan oleh karena terjadi perselisihan antara I
OMPYAG dan I LILIR dengan ibunya NI SUSUN oleh karena harta warisan ibunya
dilaksanakan di tempat I RUPET (ayahnya), yang selanjutnya I OMPYAGtinggal
entah dimana dan I LILIR tinggal di rumah mertuanya di desa kelusa. Sedangkan I
RUPET tetap tinggal bersama istrinya NI LESUG di rumah peninggalan almarhum
kakek I RARUD.

Bahwa sekitar tahun 1951, I RUPET meninggal dan tinggal istrinya janda NI
LESUG. Selanjutnya selang beberapa tahun, datanglah I LILIR menempati rumah
peninggalan kakek I RARUD dan NI LESUG sendiri diusir, sampai akhirnya I
OMPYAG pun datang menempati rumah mendiang kakek I RARUD dan I DUNIA
sendiri dirawat oleh orang tua para penggugat, sampai akhirnya meninggal sekitar
tahun 1972.
Bahwa keadaaan keluarga NI OMPYAG dan I LILIR dirumah ibunya di desa
taro kelod terjadi kekosongan, karena anak laki-lakinya telah berada di desa kelusa.
Oleh karena tuntutan ayahan desa dan adat, maka ibunya NI SUSUN mengangkat
adik perempuan I OMPYAG nomor 3 yang juga adik kandung I LILIR, yaitu NI
NYOMAN NEDENG sebagai sentana rajeg yang dikawinkan dengan I GEJUR, yang
mana adiknya inilah yang menebus tanah-tanah ibunya yang telah digadaikan oleh I
OMPYAG dan I LILIR. Keadaan ini riil bahwa perkawinan antara I RUPET dengan
NI SUSUN adalah kawin nyeburin (nyentana).
Bahwa oleh karena I DUNIA memberikan tanah miliknya sendiri beserta tanah
milik saudaranya (I RARUD) kepada ponakannya I MINDING dan I MUNDUNG
untuk menggarap, maka sepeninggal I DUNIA setelah tahun 1972, munculah rekayasa
dari I OMPYAG yang dengan rekayasanya memaksa orang tua para penggugat (I
MINDING) dan adiknya I MUNDUNG untuk menyerahkan tanah objek sengketa
kepada I OMPYAG dan I LILIR yang mengaku dirinya paling berhak sebagai ahli
waris dari I RARUD dan I DUNIA, yang waktu itu I OMPYAG terkenal lincah dan
berpengaruh serta mengambil pekerjaan pokrol, yang selanjutnya membagi tanah
milik almarhum kakek I DUNIA berdua satu bidang tanah tegalan dan satu bidang
tanah sawah dikuasai dan diubah menjadi atas nama I WAYAN OMPYAG dan satu
bidang tanah tegalan dan satu bidang tanah sawah lainnya dikuasai dan diubah
menjadi atas tanah I KETUT LILIR. Sedangkan kenyataannya almarhum kakek I
DUNIA dirawat sampai meninggal serta diabenkan oleh orang tua para penggugat
sendiri.
Bahwa setelah I WAYAN OMPYAG meninggal sekitar tahun 1987, maka
tanah sengketa yang dikuasai dan atas nama I OMPYAG diwarisi oleh MADE
SUDARTA yang sampai sekarang masih dikuasai dan menikmati oleh MADE
SUDARTA bersama ibunya (tergugat IV) dan ibu tirinya (tergugat III) sebagai anak
kandung dan janda dari mendiang I OMPYAG. Sedangkan yang atas nama I KETUT
LILIR masih tetap dikuasai tergugat I sampai sekarang.

Bahwa berdasarkan uraian dan kenyataan tersebut diatas, dengan perkawinan I


RUPET ke desa taro kelod dengan NI SUSUN yang berstatus kawin
nyeburn/nyentana maka menurut hukum waris adat bali, keturunan yang melahirkan
tidak mempunyai hak dan kepatutan mewaris dalam lingkungan keluarga asal
bapaknya, melahirkan menjadi bagian dari keluarga purusa ibunya. Sehingga anaknya
I WAYAN OMPYAG dan I KETUT LILIR (tergugat I) tidaklah mempunyai hak untuk
mewarisi dan/atau sebagai ahli waris dari almarhum kakek I DUNIA, yang
karenannya penguasaan dan mengatas namakan tanah-tanah obyek sengketa oleh dan
atas nama I OMPYAG dan I LILIR adalah suatu rekayasa tanpa alas yang sah yang
merupakan perbuatan yang melawan hukum.
Bahwa oleh menurut hukum almarhum I WAYAN OMPYAG tidak
mempunyai hak dan kepatutan sebagai ahli waris yang mewarisi tanah obyek
sengketa, maka sampai keturunannya tidak patut dan tidak berhak sebagai ahli waris,
sehingga tanah obyek sengketa bagian dari I OMPYAG yang sekarang diwarisi oleh
tergugat II dan dikuasai serta dinikmati secara bersama oleh tergugat I,III,IV tetap
tanpa alas hak yang sah dan patut pula merupakan perbuatan yang melawan hukum.
Bahwa menurut silsilah keluarga dan hukum adat bali, yang karenanya
almarhum kakek I DUNIA PUTUNG dan saudaranya almarhum kakek I RARUD
juga PUTUNG, maka terhadap harta warisan peninggalan kakek I DUNIA sudah
sepatutnya jatuh kepada keturunan saudara sepupunya yaitu I MUDRA dan I
KENYAR karena yang lainnya semua putung. Yang karenannya menurut hukum yang
paling berhak sebagai ahli waris adalah para penggugat (keturunan dari almarhum I
MUDRA dan I BANDEM keturunan dari almarhum I KENYAR). Tetapi oleh karena I
BANDEM telah menerima waris lain leluhur, berdasarkan kesepakatan dan
keiklasannya yang tidak lagi mempermasalahkan obyek sengketa, maka dalam hal ini
sudah sepatutnya para penggugat dapat ditetapkan sebagai ahli waris yang patut dan
berhak mewarisi tanah obyek sengketa.
Bahwa berdasarkan fakta dan kenyataan tersebut diatas, mengingatupaya
penyelesaian kekeluargaan tidak mungkin untuk dilakukan, maka sudahpatut dan
layak para Penggugat mengajukan permasalahan ini kedepan sidangPengadilan
Negeri Gianyar untuk memperoleh keadilan berdasarkan hukum yangsebenarnya,
sehingga dapat menyatakan hukum bahwa almarhum I Ompyag danI Ketut Lilir
adalah lahir dari perkawinan nyeburin yang tidak patut dan berhakuntuk mewarisi dan

sebagai ahli waris dari almarhum I Dunia, serta menyatakanhukum penguasaan tanah
obyek sengketa oleh Tergugat I dan almarhum Ompyagyang sekarang diwarisi oleh
Tergugat II dan dikuasai serta dinikmati oleh TergugatII bersama dengan Tergugat III
dan Tergugat IV adalah tanpa alas hak yang sahyang merupakan perbuatan melawan
hukum yang selanjutnya menghukumTergugat I,II,III dan IV untuk menyerahkan
tanah obyek sengketa kepada paraPenggugat yang patut dan berhak untuk menerima
dan mewarisinya
Bahwa untuk menghindari perbuatan-perbuatan para Tergugat atasobyek
sengketa

yang

sifatnya

menjual,menggadaikan

dan

merugikan
sejenisnya,

para
maka

Penggugat
sudah

layak

dengan
dan

cara

sepatutnya

paraPenggugat mohon kepada Pengadilan Negeri Gianyar untuk meletakkan


sitajaminan (conservatoir beslag) diatas tanah obyek sengketa
Menimbang, bahwa terhadap gugatan tersebut Tergugat mengajukan Eksepsi
yang pada pokoknya atas dalil-dalil sebagai berikut :
Bahwa materi gugatan dalam perkara ini baik tentang subyek dan
obyeksengketa telah pernah diputus oeh Pengadilan yang sama dan
terhadapputusan dimaksud telah incracht ven gewijsde, yaitu putusan
PengadilanNegeri Gianyar tanggal 24 Pebruari 1973 No.26/Pdt/1973 jo
putusanPengadilan Tinggi Nusa Tenggara di Denpasar tanggal 13 Januari
1975No.247/Pdt/1973/Pdt jo putusan Mahkamah Agung tanggal 6 April
1977No.453 K/Sip/1976 dan telah dieksekusi, oleh karena itu terhadap
perkararegister No.63/Pdt.G/1998/PN.Gir berlaku lembaga neb is in idem,
makasepatutnya gugatan para Penggugat dinyatakan ditolak seluruhnya atau
niet onvantkelijke verklaard

Bahwa tanah sengketa 4.c. sekarang telah bersertifikat hak milik atas nama
IMade Sudarta hak milik No.988/Desa Kelusa, diterbitkan/ dikeluarkan
olehKepala Badan Pertanahan Kabupaten Gianyar tanggal 14 Agustus 1997,
makademi tertibnya beracara perdata dan demi sempurnanya gugatan ini,
paraPenggugat

seharusnya

mengikutkan

Kepala

Badan

Pertanahan

KabupatenGianyar sebagai pihak Tergugat dalam perkara ini;


Bahwa disamping itu para Penggugat tidak mencantumkan data phisik
danyuridis

dari

tanah-tanah

yang

menjadi

obyek

sengketa,

tidak

menguraikandengan jelas tentang luas, persil,pipil, siapa yang menguasai,


memeganghaknya.

Para Penggugat hanya mendalilkan bahwa tanah sengketa yang tercatat


atasnama I Ketut Lilir dikuasai olehnya, tanah yang mana dimaksud, maka
dapatdisimpulkan bahwa gugatan semacam ini adalah obscuur libel;
Menimbang, bahwa terhadap gugatan tersebut Tergugat telahmenyangkal
dalil-dalil gugatan tersebut dan sebaliknya mengajukan gugatan balik(Rekonvensi)
pada pokoknya atas dalil-dalil sebagai berikut :

Bahwa apa yang telah diuraikan dalam bagian Konvensi yang merupakan
satukesatuan

dan

dianggap

dipakai

kembali

sebagai

dalil

dalam

gugatanRekonvensi;
Bahwa perkara sekarang ini tidak dapat dipisahkan dan wajib dianggapsebagai
satu kesatuan dengan perkara terdahulu yang telah berkekuatanhukum tetap
yaitu putusan Pengadilan Negeri Gianyar tanggal 24 Pebruari1973 Nomor:
26/Pdt/1973 jo putusan Pengadilan Tinggi Nusa Tenggara diDenpasar tanggal
13 Januari 1975 No.247/Pdt/1973/Pdt jo putusan MahkamahAgung tanggal 6

April 1977 No.453 K/Sip/1976;


Bahwa putusan yang telah berkekuatan hukum tetap tersebut, telahdinyatakan
dan ditetapkan tanah-tanah sengketa adalah merupakan hartapeninggalan I
Dunia dan I Rupet, maka tidak dapat dipungkiri lagi, tanah-tanahsengketa
adalah sah harta peninggalan I Dunia dan I Rupet

Bahwa sekalipun antara orang tua dan paman Tergugat dalam Rekonvensiyang
bernama I Minding dan I Mundung dengan Tergugat dalam Rekonvens
(IKetua Lilir) dan orang tua serta suami Penggugat III dan IV dalam
Rekonvensiyang bernama I Wayan Ompyag pernah berperkara, akan tetapi

kedua belahpihak mempunyai hubungan familiar sangat baik;


Bahwa hubungan familiar yang sangat baik itu mengakibatkan salah satu
daritanah sengketa yaitu tanah sengketa huruf 4.d yang merupakan hak milik
IKetut Lilir berdasarkan eksekusi putusan terdahulu, oleh I Ketut Lilir
(Tergugatdalam Rekonvensi) disakapkan kepada I Sudiana (Tergugat dalam
Rekonvensi)

Bahwa

oleh

karena

tanah-tanah

sengketa

adalah

sah

hak

milik

Penggugatdalam Rekonvensi dan khusus mengenai tanah sengketa 4.d yaitu


hak milik IKetut Lilir yang saat sekarang ini dikuasai oleh Tergugat
Rekonvensi atasdasar hubungan baik, tanpa ikatan/perjanjian dan tanpa alas
hak, maka sudahsepatutnya Tergugat dalam Rekonvensi dan/atau siapa saja
yangmendapatkan hak dari padanya dihukum untuk menyerahkan tanah
sengketatersebut dalam keadaan kosong, lasia dan tanpa beban apapun
kepadaPenggugat dalam Rekonvensi dan bila perlu dalam pelaksanaannya

atasbantuan Polri (Aparat keamanan Negara)


Bahwa oleh karena Tergugat dalam Rekonvensi

menguasai

tanah

sengketahuruf 4.d atas dasar hubungan baik, tanpa ikatan/perjanjian dan tanpa
alashak, maka demi lancarnya pelaksanaan putusan kelak dikemudian hari
adalahsangat

wajar

dan

tepat

agar

Majelis

Hakim

menuruh/membebankanconservatoir beslag (sita jaminan) atas tanah sengketa

tersebut;
Bahwa oleh

karena

para

Penggugat

dalam

Rekonvensi

telah

mempunyaiputusan yang telah berkekuatan hukum tetap sebagai bukti otentik


atas tanahtanahsengketa tersebut, maka gugatan Rekonvensi dan pelaksanaan
yangbersifat uitvoerbaar bij voorraad dapat dikabulkan

Menimbang, bahwa sesudah putusan yang telah mempunyai kekuatanhukum tetap


tersebut i.c. putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor:3469 K/Pdt/2000
tanggal 24 Pebruari 2005 diberitahukan kepada para Termohon Kasasi/para penggugat
pada tanggal 29 Agustus 2005 kemudian terhadapnyaoleh para para Termohon
Kasasi/para Penggugat dengan perantaraan kuasanya,berdasarkan surat kuasa khusus
tanggal 28 Nopember 2005 diajukanpermohonan Peninjauankembali secara tertulis di
Kepaniteraan PengadilanNegeri Gianyar pada tanggal 9 Pebruari 2006 sebagaimana
ternyata dari aktepermohonan Peninjauan kembali No.63/Pdt.G/1998/PN.Gir kemudian
disusuldengan memori alasan-alasannya yang diterima di Kepaniteraan PengadilanNegeri
Gianyar tanggal 9 Pebruari 2006 (pada hari itu juga);
Menimbang, bahwa tentang permohonan Peninjauankembali tersebuttelah
diberitahu kepada pihak lawan dengan saksama pada tanggal 13 Juli2006, kemudian

terhadapnya oleh pihak lawannya diajukan jawaban atasmemori Peninjauan kembali


tersebut yang diterima di Kepaniteraan PengadilanNegeri Gianyar tanggal 18 September
2006
Menimbang, bahwa permohonan Peninjauankembali a quo beserta alasanalasannya yang diajukan dalam tenggang waktu dan dengan cara yang ditentukan
Undang-Undang, maka oleh karena itu formal dapat diterima.

Dasar Hukum
Hal ini sesuai dengan pasal 852 kitab undang-undang perdata disebutkan
anak-anak atau sekalian mereka biar dilahirkan dari rahim lain perkawinan
sekalipun, mewarisi dari kedua orang tua, kakek, nenek, atau semua keluarga saudara
antar laki-laki maupun perempuan dan tiada perbedaan berdasarkan kelahiran terlebih
dahulu mereka mewarisi kepala demi mereka. Jika dengan ini meninggal mereka
bertalian keluarga dalam derajat kesatu dan masing-masing mempunyai hak karena
diri sendiri, mereka mewarisi pancang demi pancang. Jika sekalian atau sekedar
sebagian mereka bertindak sebagai pengganti. Karena almarhum I dunia putung dan
saudaranya almarhum kakek I Rarud juga putung, maka terhadap harta warisan
peninggalan kakek I Dunia sudah sepatutnya jatuh kepada keturunan saudara
sepupuhnya yaitu I Mudra dan I Kenyar karena yang lain semua putung.
-

Hukum sita jaminan (conservatior beslag) yang diletakkan di atas tanah obyek
sengketa (ps.227HIR)
1.) Penyitaan (beslag) ini merupakan tindakan persiapan dari pihak penggugat
dalam bentuk permohonan kepada ketua pengadilan Negeri untuk
menjamin dapat dilaksanakannya putusan perdata dengan menjual barang
tergugat yang disita guna memenuhi tuntutan penggugat.
2.) Barang yang disita secara conservatior adalah barabng yang bergerak dan
tidak bergerak milik tergugat.
3.) Pernyitaan ini hanya dapat terjadi berdasarkan perintah Ketua Penagadilan
Negri atas permintaan penggugat (ps.227 ayat 1 HIR, 261 ayat 1 Rbg)
4.) Untuk mengajuksn siata jaminan ini harus ada dugaan yang beralasan,
bahwa seorang berhutang selama belum dijatuhkan putusan oleh hakim

selama putusan belum dijalankan mencari akal untuk menggelapkan atau


melarikan barangnya.
5.) Apabila gugatan penggugat dikabulkan, maka dinyatakan sah dan
berharga, sedangkan kalau gugatan ditolak, maka sita conservatoir itu
dinyatakan dicabut.
6.) Setiap saat tergugat dapat mengajukan permohonan kepada hakim yang
memeriksa pokok perkara yang bersangkutan, agar sita jaminan atas
barangnya dicabut, apabila dikabulkan maka tergugat harus menyediakan
-

tanggungan yang mencukupi.


Kasus ini telah incracht ven gewijsde, yaitu putusan pengadilan negeri Gianyar
tanggal 24 Februari 1973 No.26/Pdt/1973/Pdt jo putusan pengadilan tinggi Nusa
Tenggara dan Denpasar tanggal 13 Januari 1975 No.247/Pdt/1973/Pdt jo putusan
mahkamah agung tanggal 6 April 1977 No.453 K/Sip/1976 dan telah di eksekusi, oleh
karena itu terhadap perkara register No.63/Pdt.G/1998/PN.Gir berlaku lembaga neb
is in idem maka sepatutnya gugatan para penggugat dinyatakan ditolak seluruhnya
atau Niet onvantkelijke verklaard.