Anda di halaman 1dari 18

Pengertian Bau Mulut (Halitosis)

Menurut istilah kedokteran Bau Mulut adalah fetor ex ore, dalam bahasa Indonesia dan
dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Halitose (Halitus=Bau, osis=Abnormal). Halitosis
merupakan suatu keadaan dimana terciumnya bau mulut pada saat seseorang mengeluarkan
nafas (biasanya tercium saat berbicara). Bau mulut disebabkan dari mulut kering, stress,
berpuasa, makanan yang berbau khas dan metabolisme lainnya.
Beberapa penelitian telah di lakukan untuk mengetahui bakteri-bakteri spesifik penyebab bau
mulut tersebut. Di dalam mulut normal diperkirakan rata-rata terdapat sekitar 400 macam
bakteri dengan berbagai tipe. Meskipun penyebab bau mulut belum diketahui dengan jelas,
kebanyakan dari bau tersebut berasal dari sisa makanan di dalam mulut. Masalah akan
muncul bila sebagian bakteri berkembang biak atau bahkan bermutasi secara besar-besaran.
Kebanyakan dari bakteri ini bermukim di leher gigi bersatu dengan plak dan karang gigi, juga
di balik lidah karena daerah tersebut merupakan daerah yang aman dari kegiatan mulut
sehari-hari. Bakteri tersebut memproduksi toxin atau racun, dengan cara menguraikan sisa
makanan dan sel-sel mati yang terdapat di dalam mulut. Racun inilah yang menyebabkan bau
mulut pada saat bernafas karena hasil metabolisme proses anaerob pada saat penguraian sisa
makanan tersebut menghasilkan senyawa sulfide dan ammonia.
Sadar atau tidak,setiap orang pasti pernah mengalami masalah Halitosis. Bau mulut hampir
selalu disebabkan oleh masalah pada mulut,akan sangat membantu jika kita mengunjungi
dokter gigi untuk memastikan penyebab nya kemudian dicari solusinya. Sejumlah orang
merasa sangat bermasalah dengan bau mulut,sehingga dapat ,menyebabkan rasa tidak percaya
diri lantas menangani bau mulut sendiri padahal bisa jadi malah memperburuk keadaan.
Klasifikasi Bau mulut
Klasifikasi Halitosis
Berdasarkan faktor etiologinya, halitosis dibedakan atasa halitosis sejati,(genuine)
pseudohalitosis dan halitophobia. Halitosis sejati dibedakan lagi atas fisiologis dan patologis .
Halitosis fisiologis merupakan bersifat sementara dan tidak membutuhkan perawatan,
sebaliknya halitosis patologis merupakan halitosis bersifat permanen dan tidak dapat diatasi
hanya dengan pemeliharaan oral hygiene saja , tetapi membutuhkan suatu penanganan dan
perawatan sesuai dengan sumber penyebab halitosis.

1. Genuine Halitosis (halitosis sejati)


a. Halitosis Fisiologis
Halitosis fisiologis merupakan halitosis yang bersifat sementara dan tidak membutuhkan
perawatan. Pada halitosis tipe ini tidak ditemukan adanya kondisi patologis yang
menyebabkan halitosis. Contohnya adalah morning breath, yaitu bau nafas pada waktu
bangun pagi. Keadaan ini disebabkan tidak aktifnya otot pipi dan lidah serta berkurangnya
aliran saliva selama tidur. Bau nafas ini dapat diatasi dengan merangsang aliran saliva dan
menyingkirkan sisa makanan di dalam mulut dengan mengunyah, menyikat gigi atau
berkumur.

b. Halitosis Patologis
Hali tosis patologis merupakan halitosis yang bersifat permanen dan tidak dapat diatasi hanya
dengan pemeliharaan oral higiene saja, tetapi membutuhkan suatu penanganan dan perawatan
sesuai dengan sumber penyebab halitosis. Adanya pertumbuhan bakteri yang dikaitkan
dengan kondisi oral higiene yang buruk merupakan penyebab halitosis patologis intraoral
yang paling sering dijumpai. Tongue coating, karies dan penyakit periodontal merupakan
penyebab utama halitosis berkaitan dengan kondisi tersebut.Infeksi kronis pada rongga nasal
dan sinus paranasal, infeksi tonsil (tonsilhlith), gangguan pencernaan, tukak lambung juga
dapat menghasilkan gas berbau. Selain itu, penyakit sistemik seperti diabetes ketoasidosir,
gagal ginjal, dan gangguan hati juga dapat menimbulkan bau nafas yang khas. Penderita
diabetes ketoasidosis mengeluartan nafas berbau aseton. Udara pernafasan pada penderita
kerusakan ginjal berbau amonia dan disertai dengan keluhan dysgeusi, sedangkan pada
penderita gangguan hati dan kantung empedu seperti sirosis hepatis akan tercium bau nafas
yang khas, dikenal dengan istilah foetor hepaticus.
2. Pseudo Halitosis (Halitosis Semu)
Pada kondisi ini, pasien merasakan dirinya memilki bau nafas yang buruk, namun hal ini
tidak dirasakan oleh orang lain disekitarnya ataupun tidak dapat terdeteksi dengan tes ilmiah.
Oleh karena tidak ada masalah pernapasan yang nyata, maka perawatan yang perlu diberikan
pada pasien berupa konseling untuk memperbaiki kesalahan konsep yang ada (menggunakan
dukungan literature, pendidikan dan penjelasan hasil pemeriksaan) dan mengingatkan
perawatan oral hygiene yang sederhana.
3. Halitophobia
Pada kondisi ini, walaupun telah berhasil mengikuti perawatan genuine halitosis maupun
telah mendapat konseling pada kasus pseudo halitosis, pasien masih kuatir dan terganggu
oleh adanya halitosis. Padahal setelah dilakukan pemeriksaan yang teliti baik kesehatan gigi
dan mulut maupun kesehatan umumnya ternyata baik dan tidak ditemukan suatu kelainan
yang berhubungan dengan halitosis, begitu pula dengan tes ilmiah yang ada tidak
menunjukkan hasil bahwa orang tersebut menderita halitosis. Pasien juga dapat menutup diri
dari pergaulan sosial, sangat sensitif terhadap komentar dan tingkah laku orang lain. Maka
dari itu, diperlukan pendekatan psikologis untuk mengatasi masalah kejiwaan yang melatar
belakangi keluhan ini yang biasanya dapat dilakukan oleh seorang ahli seperti psikiater
ataupun psikolog.
Penyebab Halitosis
Bau mulut (Halitosis) dapat disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor fisiologis dan patologis.
1. Faktor fisiologis terdiri dari :
a. Kurangnya aliran ludah selama tidur
Air liur sangat penting untuk menjaga kesegaran nafas. Pengeluaran air liur akan berkurang
ketika tidur, hal ini menyebabkan mulut kering dan menimbulkan bau mulut.
b. Makanan
Bau mulut dapat terjadi karena pengaruh makanan. Beberapa jenis makanan yang dapat
menyebabkan bau mulut (Halitosis), diantaranya adalah makanan yang mengandung sulfur
seperti bawang putih, kubis, brokoli serta makanan yang berbau khas seperti petai, jengkol,
dan durian.
c. Minuman atau alkohol

Alkohol dapat mengurangi produksi air ludah sehingga mengiritasi jaringan mulut yang
akhirnya semakin memperparah bau mulut.
d. Kebiasaan merokok
Merokok dapat memperburuk status kebersihan gigi dan mulut sehingga bisa memicu
terjadinya radang gusi dan dapat berakibat terjadinya bau mulut (Soemantri, 2008).
e. Menstruasi
Wanita dalam masa haid (menstruasi) dapat mengalami bau mulut (halitosis) disebabkan
karena sekresi air ludah dalam mulut berkurang sebagai akibat kekacauan endokrin yang pada
kenyataannya menguntungkan pertumbuhan kuman anaerob, sehingga halitosis sudah pasti
akan terjadi
2. Faktor patologis terdiri dari :
a. Oral hygiene buruk
Kebersihan mulut yang tidak baik dapat menyebabkan terjadinya halitosis, misalnya karena
sisa-sisa makanan yang menempel dan sulit dibersihkan terutama pada gigi berbehel.
b. Plak
Plak adalah suatu deposit lunak yang terdiri atas kumpulan bakteri yang berkembangbiak
diatas suatu matrik yang terbentuk dan melekat erat pada permukaan gigi apabila seseorang
mengabaikan kebersihan gigi dan mulutnya.
c. Karies
Karies gigi adalah suatu penyakit yang merupakan interaksi dari 4 faktor
yaitu:Host (penjamu), Agent (penyebab), Enviorenment (lingkungan) dan Time (waktu) yang
menghasilkan kerusakan pada jaringan keras gigi yang tidak bisa pulih kembali yaitu email,
dentin dan sementum.
Gigi yang terserang karies dapat menjadi salah satu sumber bau mulut. Lubang pada gigi
tersebut dapat menjadi penyimpanan makanan yang menjadi tempat kuman memperoleh
media
untuk proses makanan
serta
menjadi tempat kuman
memperoleh
media
untuk proses pembusukan dan berkembangbiak. Bau dari gigi berlubang secara langsung
dapat dirasakan sendiri oleh individu yang bersangkutan.
Lima strategi umum yang merupakan kunci dalam mencegah terjadinya karies gigi :
1. Menjaga kebersihan mulut : Kebersihan mulut yang baik mencakup gosok gigi setelah
sarapan dan sebelum tidur malam serta membersihkan plak dengan benang gigi (flossing)
setiap hari.
2. Makanan : Semua karbohidrat dapat menyebabkan kerusakan gigi, tetapi yang paling
jahat adalah gula. Gula sederhana termasuk gula meja (sukrosa), gula didalam madu
(levulosa dan dekstrosa), buah-buahan (fruktosa) dan susu (laktosa) memiliki efek yang
sama terhadap gigi.
3. Fluor : Fluor menyebabkan gigi terutama email tahan terhadap asam yang menyebabkan
terbentuknya karies. Efektif mengkonsumsi fluor pada saat gigi sedang tumbuh dan
mengeras yaitu sampai usia 11 tahun.
4. Penambalan : Penambalan dapat digunakan untuk melindungi lekukan pada gigi belakang
yang sulit dijangkau.
5. Terapi antibakteri : Orang-orang yang cenderung menderita karies gigi perlu diberikan
terapi antibakteri. Daerah yang rusak dibuang dan semua lubang di tambal serta lekukan
ditambal maka diberikan obat kumur yang kuat (chlorhexidine) selama beberapa minggu
untuk membunuh bakteri didalam plak yang tersisa
d. Bakteri

Bakteri adalah penyebab utama Halitosis. Bakteri ini hidup dan berkembangbiak di dalam
mulut dengan memakan sisa protein makanan yang melekat di celah gigi dan gusi.
Bakteri dalam ludah bukan karena kuman tersebut ikut diproduksi bersama ludah dalam
kelenjar ludah, tetapi oleh karena mulut selalu berhubungan dengan udara terbuka maka
memudahkan masuknya berbagai kuman dari udara luar tersebut. Kuman di dalam mulut
yang terbanyak adalah berada didalam plak. Kuman plak terdapat 100 kali lebih banyak
dibanding yang ada dalam ludah.
e. Gingivitis
Gingivitis adalah awal penyakit gusi akibat kuman yang berada dalam plak ditandai dengan
gusi merah, bengkak dan berdarah. Gingivitis adalah peradangan pada gingiva yang
menunjukkan adanya tanda-tanda penyakit/kelainan pada gingiva. Gingivitis disebabkan oleh
plak dan di percepat dengan adanya faktor-faktor iritasi lokal dan sistemik
Rongga hidung dan sinus, baik oleh benda asing yang tertinggal di dalam maupun dari infeksi
yang menghasilkan nanah. Jika infeksi dalam sinus, pernanahan dalam sinus bisa
berkepanjangan, bau yang dihasilkan sebenarnya dari rongga hidung tapi bisa terkesan dari
mulut. Dibutuhkan antibiotika jangka panjang, atau irigasi sinus sampai bersih.
f. Tonsil (amandel)
Ada 2 tipe bau asal tonsil:
Infeksi tonsil, bau busuk; dikelola dengan antibiotika dan kumur kerongkongan
dengan air garam.
Endapan di dalam celah (cekungan kecil) pada permukaan tonsil, serupa pengapuran;
baunya tajam.
Dikelola dengan kumur kerongkongan dengan air sirih disusul dengan air garam, dengan
harapan dapat menyebabkan pengerutan mukosa tonsil dan mendesak endapan itu keluar,
yang akan dibasuh air garam. Jika tak berhasil terpaksa harus dilakukan evakuasi (endapan
dicungkil keluar dengan sonde). Sering bau dari endapan tonsil ini menjengkelkan karena
berkali-kali timbul, sulit dikelola tuntas, dan baunya yang tajam dan khas itu bisa sampai
menimbulkan rasa rendah diri. Dalam kondisi begini perlu pertimbangan pengambilan tonsil,
terutama jika ada pembengkakan.
g. Esofagus (kerongkongan) dan lambung (maag)
Seharusnya antara esophagus dan maag ada klep yang mencegah asam lambung naik, tapi
beberapa kasus ada kebocoran misalnya pada kasus hernia, atau fungsi klep terganggu
misalnya pada kasus stres yang berkepanjangan atau adanya kelainan esophagus misalnya
adanya kantong yang menahan sebagian makanan sebelum masuk lambung. Bau nafas
menjadi nyata pada orang yang berpuasa atau beberapa jam tidak makan/minum karena asam
lambung yang tidak teralirkan ke dalam usus. Pada kasus begini bau hilang ketika makan dan
minum walau dalam porsi kecil saja. Bau petai dan bawang disebabkan karena sebagian hasil
metabolismenya disekresi lewat air liur sehingga hanya bisa hilang dengan makan mentimun,
yang sama-sama disekresi air liur sehingga bisa membantu menetralkan. Hanya saja
mentimun harus segera dimakan (bersamaan) dengan petai dan bawangnya.
Kedelai dan produk kedelai (tahu, tempe) hasil metabolismenya juga bisa menimbulkan bau
jika orang tidak mempunyai ensim pemecah kedelai, seperti halnya susu dan keju pada
mereka yang tidak cukup ensim pemecah susu.

h. Bau karena penyakit umum


gangguan hati
infeksi jalan nafas/paru, terutama pada kasus bronki-ektasis
gangguan ginjal
diabetes
kanker
gangguan penyakit lain berbagai jenis penyakit. Penyakit-penyakit yang dapat
menyebabkan bau mulut antara lain: a) gingivitis ulseratif nekrotisasi akut, b)
mukositis ulseratif nekrotisasi akut, c) penyumbatan usus, d) infeksi tenggorokan,
e) sinusitis.
Penanganan Bau Mulut
Penggunaan penyegar nafas, permen karet dan obat kumur, biasanya bersifat asimptomatis
dan sangat terbatas kerjanya hanya sementara saja, pada saat efek dari penyegar nafas hilang
bau mulut akan kembali tercium.
Pencegahan dan Perawatan Halitosis
Penanganan halitosis tergantung pada faktor penyebabnya, yang penting dokter gigi dapat
membedakan penyebab bau mulut sebagai kelainan di dalam atau di luar mulut. Umumnya
halitosis bisa dikurangi atau dihilangkan sama sekali dengan menjaga kebersihan mulut
seperti menyikat gigi, menggunakan benang gigi, membersihkan lidah, menggunakan obat
kumur (lebih dianjurkan dengan air garam) dan diet sehat, namun kadang-kadang diperlukan
penangganan oleh tenaga profesional untuk melakukan rujukan. Untuk dapat mengatasi
halitosis secara efektif, diperlukan pemeriksaan secara menyeluruh dan diagnosa yang tepat.
Tindakan pencegahan dan perawatan pada halitosis antara lain,
Menyikat Gigi
Sebaiknya gigi disikat dua kali sehari. Gigi disikat dengan bulu sikat yang lembut dan kepala
sikat yang kecil. Hindarkan pemakaian bulu sikat yang kasar karena bulu sikat yang kasar
dapat menyebabkan resesi gingiva.Penyikatan gigi sebaiknya menggunakan pasta gigi yang
mengandung fluor untuk mencegah karies gigi sekaligus.
Menggunakan Benang Gigi ( Dental Floss )
Benang gigi (dental floss) digunakan untuk membersihkan celah gigi yang sempit yang tidak
dapat dicapai dengan sikat gigi. Hal ini dilakukan dengan cara memotong benang kira-kira
sepanjang 40 cm, kemudian diputarkan di kedua jari tengah kanan dan kiri. Benang
dimasukkan ke celah diantara gigi dan ditahan dengan ibu jari agar kuat dan tidak lepas
ketika dilakukan gerakan seperti menggergaji. Tindakan ini sebaiknya dilakukan satu kali
sehari, namun bila memungkinkan dilakukan dua kali sehari. Setelah tahap ini diperbolehkan
kumur sampai bersih atau dibilas dengan air.
Membersihkan Lidah
Permukaan lidah dibersihkan dengan cara menyikat lidah dua kali sehari menggunakan sikat
gigi atau alat khusus pembersih lidah (tongue scrapper). Permukaan lidah disikat dengan
lembut dan perlahan agar lidah tidak luka. Sambil lidah dijulurkan ke depan,

tempatkan tongue scrapper sejauh mungkin ke belakang lidah, selama masih tahan, sambil
ditarik ke depan dan ke bawah dengan tekanan ringan. Gunakan kain/kertas tissue bersih atau
air mengalir untuk membersihkan tongue scrapper. Ulangi prosedur ini 2-4 kali sampai
seluruh permukaan dibersihkan.
Penggunaan Obat Kumur
Obat kumur digunakan paling sedikit sekali sehari. Waktu yang paling tepat menggunakan
obat kumur adalah sebelum tidur karena obat kumur memberikan efek antibakteri selama
tidur saat aktivitas bakteri penyebab bau mulut meningkat. Obat kumur yang mengandung
alkohol dapat mengakibatkan mulut kering dan apabila digunakan dalam waktu lama dapat
menyebabkan mukosa mulut terkelupas. Oleh karena itu, sebaiknya menggunakan obat
kumur non-alkohol seperti yang mengandung sodium sakarin. Penggunaan tidak perlu terlalu
berlebihan, kurang lebih 10-15 ml sudah cukup untuk membasahi seluruh permukaan mulut.
Kumur sekurang-kurangnya 1-2 menit. Jangan kumur langsung dari botol, karena apabila
tersentuh ludah, bahan akan terkontaminasi, sehingga bahan aktif selebihnya di dalam botol
dapat menjadi rusak, akibatnya tidak berguna lagi untuk pemakaian selanjutnya. Atau kumur
larutan garam fisiologis, atau yang mengandung minyak esensial untuk membantu
melindungi selaput lendir mulut sehingga tidak mudah kering. Jika dikehendaki antiseptik
pakai yang mengandung zinc dan chlorhexidine.
Diet Sehat
1. Banyak makan sayuran
2. Mengurangi konsumsi makanan dengan protein tinggi.
3. Kunyahlah permen bebas gula (non-kariogenik) khususnya apabila mulut terasa
kering.
4. Banyak minum air dalam sehari.
5. Hindari makanan yang berbau menyengat seperti bawang merah,petai,jengkol,dll
6. Menghindari konsumsi alkohol, rokok, obat-obatan yang dapat menurunkan aliran
saliva.
7. Baru-baru ini, penelitian di Jepang melaporkan bahwa yogurt tanpa gula dapat
mengurangi senyawa penyebab halitosis. Hal ini dibuktikan dengan dijumpai
penurunan level senyawa hidrogen sulfida sampai 80% setelah mengkonsumsi 90
gram yogurt setiap hari selama 6 minggu. Selain itu, hasil penelitian di Amerika
menunjukan bahwa polifenol (seperti catechin dan theaflavin), senyawa yang
terkandung dalam teh juga dapat menghambat pertumbuhan bakkteri penyebab
halitosis. Catechin terkandung
dalam
teh
hijau
maupun
teh
hitam
sedangkantheaflavin lebih dominan pada teh hitam.
Kujungan dokter gigi
Kunjungi dokter gigi secara teratur,misalnya setiap 6 bulan sekali.
Penanganan Oleh Tenaga Profesional

Apabila karies, penyakit periodontal atau infeksi mulut lainnya yang menyebabkan timbulnya
halitosis, maka diperlukan penanganan khusus oleh tenaga profesional, misalnya melakukan
penambalan, skeling atau tindakan penyerutan akar gigi (root planning). Selain itu, dokter
gigi akan mencabut sisa akar bila radiks atau akar gigi yang menyebabkan timbulnya
halitosis.
Rujukan
Jika kecurigaan penyebab di dalam mulut sudah diatasi, tetapi halitosis masih ada, maka
perlu diwaspadai kemungkinan adanya penyakit yang tidak berkaitan dengan masalah gigi
dan mulut seperti penyakit sistemik. Dalam hal ini, dokter gigi akan merujuk pasien ke dokter
spesialis untuk menanganinya.

Bagaimana cara mendeteksi bau mulut?


Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa dirinya memiliki masalah bau mulut atau dalam
dunia medis dikenal dengan halitosis. Wajar memang jika orang tidak menyadari punya
masalah bau mulut, karena otak terbiasa dengan aroma pribadi sehingga otak mengira bau
sehari-hari adalah bau yang wajar. Sebenarnya ada cara mudah untuk mendeteksi bau mulut.
Agar bisa terdeteksi sejak awal Anda mendeteksi bau mulut sendiri dengan cara sebagai
berikut:

Cek lidah : Mulailah dengan mengecek lidah. Bila lidah berwarna pink atau merah
muda dan mengkilap, berarti menunjukkan napas Anda segar. "Namun bila lidah
berwarna putih dan bersisik, maka itu pertanda bau mulut," jelas Dr Harold Katz,
seorang bakteriologi dan pendiri California Breath Clinic.

Jilat punggung tangan : "Mencium napas sendiri di tangan bukan cara terbaik untuk
memeriksa halitosis," kata Dr Katz. Menurutnya, cara terbaik adalah dengan menjilat
punggung tangan atau mengusapkan sendok pada lidah, biarkan kering selama
beberapa detik dan kemudian cium permukaannya. Bila berbau tak sedap, maka Anda
mengalami halitosis. Dr Katz menjelaskan, bau mulut memang identik dengan kondisi
kesehatan gigi yang buruk. Namun bukan berarti orang yang dengan kondisi gigi baik,
tidak berlubang, tidak bisa mengalami halitosis.

Tanya sahabat yang mengasihi anda sehingga berani berterus terang apakah anda
mengidap bau mulut atau tidak.

Biar bagaimanapun, mengetahui sejak dini serta menangani halitosis dengan tepat lebih baik
daripada cuek pada kondisi diri sehingga menyebabkan orang lain tidak nyaman serta
menyababkan percaya diri kita kurang. Mendatangi dokter gigi jauh lebih disarankan karna
selain dapat tertangani ledengan tepat juga secara menyeluruh.
Diah Widyatun. 2013. Healthy Living. UNISSULA. Semarang BIOMEDIK Fakultas
Kedokteran UNISSULA

HALITOSIS

Halitosis atau yang lebih dikenal sebagai bau mulut merupakan satu masalah cukup penting
dalam kehidupan manusia, terutama dalam pergaulan, merupakan suatu keadaan terciumnya
bau mulut pada saat seseorang mengeluarkan nafas (biasanya tercium pada saat berbicara).
Halitosis tidak hanya mengganggu estetik tapi dapat juga menimbulkan dampak sosial dan
psikologis yang merugikan seperti rasa rendah diri, hilang semangat dan gairah kerja.
Ditinjau dari segi penyebabnya halitosis sangatlah kompleks selain penyebab yang bersifat
intra oral (dalam rongga mulut) dapat juga disebabkan oleh beberapa kelainan sistemik/ekstra
oral, seperti gangguan sistem pernapasan, sistem endokrin atau bahkan oleh factor kejiwaan
sekalipun.
Dalam bahasa Indonesia dan Inggris dikenal sebagai halitosis (= bau mulut).
Halitosis,mempunyai nama lain Oral Malodor atau Bad Breath atau bau mulut yang tidak
sedap. Bilamana sumber kelainannya terdapat didalam rongga mulut maka dapat disebut
sebagai Fetor ex Ore. Bau mulut dapat disebabkan oleh kebersihan gigi dan mulut yang
kurang baik, jenis makanan yang dimakan, dan penyakit pada gigi, gusi dan rongga mulut.
Bau mulut merupakan hasil proses perubahan bahan dalam rongga mulut yang mengandung
ikatan sulfur dan bakteri yang terdapat pada peradangan gusi mempunyai peranan dalam
pembentukan sulfur ini. Beberapa faktor penyebab terjadinya bau mulut baik dari Rongga
Mulut maupun diluar Rongga Mulut adalah sebagai beriku t :
Rongga mulut sebagai penyebab tejadinya bau mulut bisa bersumber pada:
a. Penyakit jaringan pendukung gigi/periodontal yang kronis dimana bakteri mendiami area
dibawah gumline (subgingival dental plaque) yang akan mengakibatkan bau tak sedap.
b. Kebersihan mulut yang sangat kurang sempurna diantaranya karena kebanyakan dari kita
menyikat gigi hanya sekitar 40 detik, menurut literature diperlukan sedikitnya 3 menit untuk
membersihkan gigi dan meng eliminasi bakteri merugikan yang berperan dalam produksi
senyawa sulfur.

c. Penumpukan plak dan kalkulus/karang gigi serta sisa makanan di rongga mulut, dimana
bakteri banyak bermukim di leher gigi bersatu dengan plak dan karang gigi serta di balik
lidah. Bakteri ini memproduksi toxin atau racun, dengan cara menguraikan sisa makanan dan
sel-sel mati yang terdapat di dalam mulut dan racun inilah yang menyebabkan bau mulut
pada saat bernafas karena hasil metabolisme proses anaerob saat penguraian sisa makanan
tersebut menghasilkan senyawa sulfide dan ammonia.
d. Peradangan atau infeksi jamur di mulut.
e. Gigi dengan lubang (karies) yang besar.
f. Gigi bungsu yang posisinya miring ( operkulitis, pericoronitis atau impaksi)
g. Kebersihan lidah terutama bagian pangkal lidah.
h. Celah langit-langit.
i. Mengkonsumsi makanan berbau (petai, durian, bawang merah, bawang putih dan makanan
lain yang biasanya mengandung senyawa sulfur). Setelah makanan di cerna senyawa sulfur
tersebut diserap kedalam pembuluh darah dan di bawa oleh darah langsung ke paru-paru
sehingga bau sulfur tersebut tercium pada saat mengeluarkan nafas.
j. Setelah pencabutan gigi, terjadi Dry socket
k. Minuman alkohol, kopi, dan
l. Kebiasaan merokok
m. Rongga Mulut yang kering (xerostomia)
n. Penambalan gigi yang Overhangs, Pemasangan Protesa gigi, kawat gigi, dan pemeliharaan
pasca pemakaian alat tsb., dsb.
o. Dental materials (bahan-bahan yang digunakan di bidang kedokteran gigi, seperti Eugenol,
Cresophen, Rockl, TKF, dsb.)
p. Oral medicine conditions
q. Ulcerations, Abrasions, Wounds
r. Adanya gejala Kanker dan kelainan darah.
Adapun di luar Rongga Mulut dapat terjadi karena:
Dari rongga hidung diantaranya sinusitis maksilaris dan adanya benda asing, merupakan
urutan kedua yang sering menjadi sumber halitosis .
Kelainan Tonsil atau Adenoid yang meradang (3-5% kasus). Tujuh persen dari populasi
mengalami kalsifikasi pada kripta tonsilarnya (tonsillolith) yang mengakibatkan bau mulut
yang sangat ekstrim.
Gangguan pencernaan: refluks, fistula gastroesofageal, hiatal hernia ataupun GERD
menyebabkan asam mengalir ke esophagus dan gasnya sampai ke mulut.
Penyakit sistemik:

a. Diabetes Melitus
b. Infeksi saluran pernafasan bawah : infeksi paru dan bronkial
c. Cirrhosis Hepatis: fetor hepaticum
d. Penyakit ginjal: infeksi dan gagal ginjal
e. Trimethylaminuria (fish odor syndrome).
Gangguan metabolisme.
Selain kondisi-kondisi diatas tadi, bau mulut dapat juga dikarenakan
a. Keadaan berpuasa
b. Sewaktu baru bangun tidur (bau nafas yang bersifat sementara (karena kekeringan mulut
selama tidur)
c. Saat sakit
d. Orang lanjut usia
e. Periode menstruasi
Adapun Pembagian Mal-odor yang lain berupa:
Halitosis Fisiologi
a. Poor hydration
b. Menstruation
c. Diet
d. Constipation
e. Starvation, Morning breath
f. Habits (Mouth breathing, thumb sucking)
Halitosis Patologi
a. Lungs release blood-borne catabolic products
b. StomachGastritis, Liver hepatitis, Kidney nephritis
c. PancreasDiabetes mellitus (Ketosis)
d. Anorexia/Bulimia nervosa
e. IgA deficiency
f. Xerostomia (Sjogrens, Radiation therapy, Stress)
Halitosis Psikologi
a. Halitophobia not very accurate term
b. Delusional cacosmia

c. Psychogenic dysosmia
d. Symptomatic schizophrenia
e. Temporal lobe epilepsy (Aura)
f. Cerebral tumors
1. Fetor ex odor/fetor oris
A. Patogenesis
Secara khusus untuk penyebab Bau Mulut yang disebabkan Intra Oral dapat disampaikan
bahwa beberapa penelitian telah di lakukan untuk mengetahui bakteri-bakteri spesifik
penyebab bau mulut tersebut. Di dalam mulut normal diperkirakan rata2 terdapat sekitar 400
macam bakteri dengan berbagai tipe. Meskipun penyebab bau mulut belum diketahui dengan
jelas, kebanyakan dari bau tersebut berasal dari sisa makanan di dalam mulut. Masalah akan
muncul bila sebagian bakteri berkembang biak atau bahkan bermutasi secara besar2an.
Kebanyakan dari bakteri ini bermukim di leher gigi bersatu dengan plak dan karang gigi, juga
di balik lidah karena daerah tersebut merupakan daerah yang aman dari kegiatan mulut
sehari-hari. Bakteri tersebut memproduksi toxin atau racun, dengan cara menguraikan sisa
makanan dan sel-sel mati yang terdapat di dalam mulut. Racun inilah yang menyebabkan bau
mulut pada saat bernafas karena hasil metabolisme proses anaerob pada saat penguraian sisa
makanan tersebut menghasilkan senyawa sulfide dan ammonia.
B. Diagnosis
Cara paling sederhana dan efektif untuk mengetahui adanya bau mulut adalah dengan
bertanya kepada anggota keluarga terdekat yang telah dewasa atau sahabat dekat
(confidant). Jika orang tersebut mengkonfirmasi adanya bau mulut, tentukan juga apakah
bau tak sedap tersebut datang dari mulut atau dari hidung.
Metode sederhana lainnya untuk menentukan adanya Bau Mulut yaitu dengan menjilat
pergelangan tangan bagian belakang, kemudian biarkan saliva kering 1-2 menit, kemudian
cium baunya. Cara yang lebih akurat adalah dengan mengerok bagian posterior (belakang)
lidah dengan sendok plastik kemudian nilai baunya.
Penelitian melalui beberapa alat, menunjukkan perkembangan yang konsisten. Beberapa alat
yang dikenal didunia kedokteran gigi, antara lain; Osmoscope, Gaschromatography, Flame
Photometric Detector, Halitometer, Sulfide Chemilu Minescence Detector.
Halimeter: Monitor sulfide portable digunakan untuk mengukur tingkat emisi sulfur
(terutama hydrogen sulfide) pada udara mulut. Yang dapat membiaskan hasil pemeriksaan
diantaranya bawang yang memproduksi sulfur selama 48 jam. Halimeter sangat sensitive
terhadap alcohol, sehingga seseorang yang akan diperiksa disarankan untuk menghindari
alcohol ataupun moutwash yang mengandung alkohol 12 jam sebelum pemeriksaan.
gas chromatography: Alat portable sejenis oralchoma, mengukur secara digital kadar
hydrogen sulfide, methyl mercaptan, dan dimethyl sulfide pada udara mulut. Alat ini akurat
dalam mengukur kadar sulfur dan hasilnya dapat dilihat dari grafik visual yang ada pada
komputer.

BANA test: Tes ini dimaksudkan untuk mengukur kadar enzim-enzim yang berhubungan
dengan bakteri penyebab halitosis pada saliva.
-galactosidase test: Mengukur kadar enzim ini pada saliva, yang berhubungan dengan
bau mulut.
Walaupun beberapa alat dan pemeriksaan banyak digunakan, yang terpenting dalam
menentukan halitosis adalah dengan mencium secara langsung dan dengan pengukuran
organoleptik.
C. Cara Menanggulangi Bau Mulut
Penanggulangan bau mulut ( halitosis ) meliputi upaya pencegahan, perawatan sampai kepada
pemeliharaan. Mengingat halitosis mempunyai latar belakang yang cukup kompleks, maka
penanggulangannya harus bersifat multidisiplin antara kalangan formal profesional dengan
kalangan nonformal maupun informal. Bukan saja dokter gigi, dokter umum/Spesialis dan
psikolog tetapi juga para pendidik formal, pendidik non formal mempunyai kontribusi dan
tanggung jawab dalam penanggulangan masalah Halitosis. Saling pengertian antara pasien
halitosis dan kerjasama dengan pihak yang merawat adalah sangat penting untuk dibina.
Secara khusus untuk mengurangi bau mulut sangatlah penting menjaga kebersihan mulut
setiap hari:
Sikat gigi paling kurang dua kali sehari atau lebih baik tiap habis makan.
Bersihkan juga dengan teratur celah di antara gigi dengan benang flos/sikat kecil.
Obat kumur antiseptik (chlorexidine) bukan merupakan jalan keluar menghindari bau
mulut, karena tidak bisa digunakan terus menerus kemungkinan ada efek sampingnya.
Informasikan terlebih dahulu kepada dokter gigi .
Obat kumur dan produk lain yang mengandung eucalyptus, mint dan sebagainya hanya
mempunyai efek kosmetik. Obat-obat ini tidak berbahaya tapi juga tidak bisa menyelesaikan
masalah.
Menggunakan pewangi mulut atau semprotan mulut sebagai bahan sementara
penanggulangan
Hubungi dan periksakan dengan teratur ke dokter gigi untuk mengetahui penyebab Bau
Mulut.
Pengobatan
Cara mengatasi bau mulut dapat dilakukan dengan cara menjaga kebersihan dan kesehatan
gigi dan mulut, mengatur jenis makanan dan mengatasi penyakit sistemik yang
mendasarinya.
Di Belanda jika pasien terus-menerus atau secara teratur mempunyai masalah dengan bau
mulut, maka bisa ke dokter gigi atau mondhygieniste. Sesudah diagnosis dapat
dilanjutkan/dirujuk ke bidang lain atau ke rumah sakit (untuk penyebab penyakit sistemik).
Biasanya dokter yang menangani sudah tahu penyebab bau mulut itu. Penyakit-penyakit yang
menyebabkan bau mulut sudah dikenal dan seringkali bukan satu-satunya keluhan dari
seseorang dengan bau mulut.

Menurut Harper, Rosenberg pasien Bau Mulut dikelompokan kedalam


4 kategori, yaitu:
1. Mereka yang menderita tapi tidak mengetahui.
2. Mereka tidak menderita dan tidak peduli.
3. Mereka yang menderita dan mengetahui.
4. Mereka tidak menderita tapi mengira menderita.

Zakaria Budy Setiabudi. 2014. Bau Mulut (Halitosis). Bandung. RSUD AL-IHSAN
PROVINSI JAWA BARAT

HALITOSIS
Halitosis adalah bau tidak sedap yang keluar dari rongga mulut. Halitosis juga dengan
istilah oral malodor, fetor ex ore atau fetor oris. Halitosis merupakan masalah rongga mulut
yang sering ditemukan pada rongga mulut setelah insidensi karies dan kerusakan jaringan
periodontal. Halitosis disebabkan karena adanya pembentukan VSC (volatile sulfur compound)
yang terdiri dari H2S, CH3SH dan (CH3)2S . pada penderita halitosis biasanya ditemukan 623% kadar VSC.

ETOLOGI , KLASIFIKASI dan FAKTOR RESIKO HALITOSIS

Terjadinya halitosis dapat berhubungan dengan gangguan yang terjadi pada saluran pernafasan
atas dan bawah, penyakit saluran pencernaan, penyakit pada ginjal ataupun hati. Namun,
sebagian besar etiologi halitosis berasal dari rongga mulut.
Secara garis besar halitosis dibagi menjadi 2 yaitu :
1.

halitosis fisiologis
halitosis fisiologis adalah halitosis yang terjadi secara normal dan bersifat sementara contohnya
adalah halitosis yang terjadi pada saat bernafas di pagi hari. Keadaan ini berhubungan dengan
adanya penurunan aktifitas otot-otot mastikasi sehingga ransangan glandula salivarius untuk
memproduksi saliva berkurang dan menyebabkan mulut kering dan halitosis.

2.

halitosis patologis
halitosis patologis adalah halitosis yang terjadi kaibat adanya kelainan dalam rongga mulut
maupun akibat penyakit sistemik. masalah lokal yang menyebabkan halitosis biasanya adalah
masalah rongga mulut yang memiliki hygieneyang buruk, kondisi tersebut memediasi
pertumbuhan bakteri untuk terus berkembang. Karies, tounge coating dan penyakit jaringan
periodontal merupakan penyakit yang juga dapat memicu halitosis. Penyakit sistemik yang
sering dihubungkan dengan halitosis adalah diabetes mellitus, penyakit hati, penyakit gagal

ginjal, serta penyakit pada saluran gastrointestinal. Sedangkan faktor faktor resiko halitosis
dapat seperti makanan,tembakau,mulut kering , penggunaan protesa, Obat-obatan, dan diet.

FAKTOR RESIKO HALITOSIS


Faktor resiko halitosis biasanya berasal dari makanan seperti susu, bawang, telur, atau
makanan pedas. Selain makanan adapula faktor resiko halitosis lain seperti nikotin pada seperti
tembakau, alcohol, obat-obatan, atau diet serta kondisi lain yang dapat menjadi faktor resiko
halitosis adalah xerostomia atau mulut kering , pemakaian gigi tiruan ataupun adanya restorasi
yang kurang baik. Pada orang yang mengalami xerostomia mengakibatkan penurunan jumlah
produksi saliva. Sehingga mengakibatkan menurunnya fungsi saliva sebagai self
cleansing rongga mulut menjadi terganggu. Xerostomia dapat disebabkan oleh pengkonsumsian
alcohol, obat anti-depresan, anti-histamin, anti-kolinergik, dan diet.

DIAGNOSIS dan PENGUKURAN HALITOSIS


Diagnosis halitosis sangat perlu dilakukan untuk mengetahui etiologi dari timbulnya halitosisi
tersebut. Dengan mengetahui etiologi pasti maka rencana perawatan terhadap pasien halitosis
dapat dilakukan secara optimal. Pemeriksaan secara sistemik maupun intraoral sangat
diperlukan untuk mengetahui etiologi seseorang mengalami halitosis. Etilogi yang berbeda akan
mengahsilkan suatu perawatan yang berbeda meskipun memiliki gejala klinis yang sama yaitu
halitosis. Metode untuk mendiagnosa halitosis terbagi menjadi dua yaitu metode langsung dan
metode tidak Langsung
1.

METODE LANSUNG
Metode langsung dilakukan dengan cara menghirup secara langsung gas-gas yang berasal dari
rongga mulut pasien yang mengandung sulfur penyebab timbulnya halitosis.

2.

METODE TIDAK LANGSUNG


Metode tidak langsung biasanya dilakukan dilabiratorium untuk mengetahui jenis
mikroorganisme yang berperan dalam menghasilkan VSC atau mengidentifikasi gas-ga syang
menjadi hasil metabolism dari suatu bakteri yang dapat menyebabkan halitosis.

PENATALAKSANAAN HALITOSIS
Untuk menghilangkan halitosis maka kita harus dapat mengetahui etiologi terlebih
dahulu, etiologi itu sendiri dapat berasal dari faktor lokal maupun sistemik. Penatalaksanaan
halitosis secara umum meliputi :
1.

menyikat gigi

2.

menggunakan benang gigi

3.

membersihkan lidah

4.

menggunakan obat kumur

5.

diet
halitosis yang disebabkan oleh faktor sistemik seperti diabetes mellitus maupun gangguan
gastrointestinal dapat dilakukan modifikasi perawatan atau dengan cara berkonsultasi dengan
dokter spesialis yang berkopetensi untuk penyakit tersebut

REFERENSI
pintauli, S. 2008. MASALAH HALITOSIS DAN PENATALAKSANAANNYA. dentika dental journal,
vol 13, no.1, 2008 74-79.

PENGERTIAN
Halitosis adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan ketidaknyamanan
atau adanya bau yang tidak enak dalam pernafasan. Halitosis juga dikenal dengan
nama fetor ex ore atau fetor oris. Beberapa peneliti melaporkan bahwa senyawa
volatile sulfur (VSC) seperti hidrogen sulfida, metil merkaptan dan dimetil sulfida
merupakan gas-gas yang berhubungan dengan halitosis.
Peninggian konsentrasi sulfur di dalam rongga mulut diakibatkan oleh reaksi
metabolik yang menghasilkan gas H2S dan NHZ dari pembusukan sisa-sisa
makanan
dan jaringan nekrotik yang terbentuk dan suplai darah yang berkurang
menyebabkan kadar 02 juga berkurang di daerah infeksi (l). Bau mulut dapat
berbeda setiap hari bahkan setiap jamnya tergantung pada aliran saliva, sisa
makanan, po.pulasi bakteri di dalam mulut dan kondisi hormonal fisiologis (l'IZ).
ETIOLOGI
Halitosis dapat terjadi karena dipengaruhi oleh faktor-faktor fisiologis dan
patologis yang berasal dari kondisi lokal atau intra oral dan kondisi sistemik atau
extra oral.
Faktor Fisiologis Intra Oral
Bau mulut serta nafa.s yang normal pada pagi had biasa.nya lebih berat dan
kurang sedap dibandingkan pada siang hari. Keadaan ini disebabkan karena
berkurangnya aliran saliva dan aktivitas pipi maupun lidah untuk menghilangkan,
epitelium deskuamasi serta pembusukan ludah dan sisa makanan selama tidur.
Disamping itu kebiasaan bernafas melalui mulut dapat memperhebat keadaan
tersebut. Biasanya bau akan hilang setelah makan atau menyikat gjgi. Saat makan,
aktivitas mengunyah yang melibatkan lidah, pip', gigi dan struktur-struktur lainnya
akan meningkatkan aliran saliva serta membantu menyingkirkan penumpukan sisa
makanan sehingga intensitas halitosis pun berkurang.

Intensitas dan kualitas bau mulut akan berubah sejalan dengan pertambahan
usia. Pada usia muda bau mulut biasanya lebih menyenangkan, namun pada usia
lanjut bau mulut akan terasa asam dan tidak nyaman bahkan pada individu yang
higiena oralnya baik (12). Individu yang mempunyai kebiasaan merokok terutama
pada yang perokok berat, bukan hanya menimbulkan bau nafas yang cukup khas,
tetapi juga mengakibatkan hairy tongue yang dapat menyebabkan terperangkapnya
sisa-sisa makanan dan bau tembakau. Disamping itu keadaan ini juga mengurangi
sekresi mukous sehingga makin memperhebat bau nafas pasien tersebut.
Pemakaian protesa yang terbuat dari vullumite dapat menyebabkan bau
mulut dikarenakan adanya poreus-poreus halus yang sering terdapat pada
permukaan basis protesa dimana sisa-sisa ma.kanan dapat melekat dan membusuk.
Berbeda dengan protesa yang terbuat dari akrilik yang tidak selamanya
menimbulkan nafas berbau walau sudah lama dipakai. Oleh karena itu perlu
dicamkan kepada pasien untuk tetap menjaga higiena oralnya, bahkan pada pasien
yang memakai protesa dari vynil resin dikarenakan saliva dan makanan dengan
mudah dapat melekat ke protesa dan menimbulkan bau yang sangat tidak
menyenangkan
Faktor Fisiologis Ekstra Oral
Beberapa jenis masakan dan substansi makanan yang dikonsumsi sehari-hari
juga dapat menimbulkan bau nafas yang kurang sedap. Makanan yang digoreng dan
banyak mengandung bumbu seperti bawang dapat menimbulkan bau yang bertahan
di mulut selama 10 - 12 jam. Bahkan bau tersebut masih tetap terasa setelah gigigigi dibersihkan. Bau ini timbul karena substansi makanan tersebut diabsorber oleh
saluran pencernaan dan dikeluarkan dengan lambat melalui paru-paru. Keadaan ini
telah dibuktikan oleh Morris dan Read dengan memberikan suatu kapsul yang
mengandung bawang putih kepada pasien yang diteliti dan menghasilkan bau yang
bertahan lama pada udara pernafasan. Peneliti Wimp juga membuktikan bahwa bau
bawang putih tersebut dalam waktu singkat telah dapat dirasakan pada pernafasan
dan, bertahan selama beberapa jam walaupun saluran pencernaan seperti jejunum
merupakan bagian yang terpisah dari perut.
Metabolit atau zat-zat yang terkandung dalam makanan dan dikeluarkan
melalui paru-paru juga dapat menyebabkan halitosis. Orang yang gemar memakan
daging cenderung mempunyai halitosis dibanding dengan seorang vegetarian oleh
karena asam lemak jenuh yang berasal dari lemak daging yang dihasilkan dalam
sistem pencernaan akan terabsorbsi ke dalam darah dan akhirnya diekskresikan
pada pernafasan. Sementara individu yang mengkonsumsi bahan makanan yang
cair seperti susu, misalnya pada pasien penderita tukak lambung, dan makanan
yang banyak mengandung protein umumnya juga menyebabkan bau nafas yang
kurang sedap. Halitosis bisa diatasi secara sederhana yakni dengan mengurangi
konsumsi makanan yang mengandung lemak dan banyak mengkonsumsi makanan
yang mengandung serat seperti sayuran atau buah).
Pada orang yang peminum berat, populasi flora normal di dalam mulutnya
akan berubah sehingga menyebabkan proliferasi organisme pembusuk yang bisa
menimbulkan bau mulut. Sejumlah pasien yang mengalami menstruasi dan
menopause juga menderita bau mulut namun hal ini tidak selalu terjadi.
Faktor Patologis Intra Oral
Faktor penyebab halitosis yang paling sering terlihat adalah disebabkan karena
kurang terjaganya kebersihan dan kesehatan di rongga mulut. Pada pasien yang

higiena oralnya buruk cenderung terjadi pembusukan sisa-sisa makanan yang


menumpuk di sela-sela gigi oleh bakteri yang ada di dalam mulut. Keadaan ini akan
semakin parah pada pasien yang mempunyai kecenderungan untuk membentuk
kalkulus dengan cepat dan juga pada perokok dengan deposit kalkulus serta nikotin
pada gigi-giginya, letak gigi yang tidak teratur, pesawat ortodonti yang kurang
terpelihara atau poreus juga merupakan faktor pendukung timbulnya halitosis.
Demikian juga halnya dengan keadaan karies yang dalam atau besar, papila
interdental yang hilang karena adanya resesi gingiva, dan terbentuknya
pseudopocket pada gigi yang erupsi.
Penyakit jaringan lunak mulut dan proses keganasan yang dapat
menyebabkan nekrosis jaringan seperti stomatitis gangraenous dan norma atau
cancrum oris serta lesi-lesi ulseratif yang berhubungan dengan kelainan darah juga
dapat menimbulkan bau busuk yang spesifik pada mulut ('). Degenerasi darah dan
mulut; baik perdarahan gusi, pasca bedah mulut maupun di daerah bekas
pencabutan gigi, dapat menimbulkan rasa asin dan bau mulut yang tidak soap. Bau
ini timbul dikarenakan berkurangnya fungsi pengunyahan yang normal pada masamasa tersebut disamping harus mengkonsumsi makanan yang lunak, adanya
perdarahan ringan serta populasi bakteri yang meningkat di dalam mulut.
Pada penyakit periodontal seperti gingivitis dan periodontitis kronrs yang
disertai pembentukan saku, hawa pernafasan yang keluar dari dalam mulut terasa
berbau busuk. Selain karena pembusukan sisa-sisa makanan yang terperangkap di
dalam saku, pada kondisi ini cairan ludah juga dapat cepat membusuk sehingga
menambah parah bau mulut individu.
Reaksi metabolik timbul menghasilkan gas HZS dan NHZ (Amino) sehingga
terjadi- peninggian konsentrasi sulfur yang mudah menguap daiam udara di rongga
mulut
Gangren pulpa termasuk faktor lokal yang dapat menimhulkan bau busuk
yang sangat menusuk pada hawa nafas. Dalam hal ini bau yang timbul merupakan
hasil fermentasi bakteri Klostridium sehingga terjadi reaksi metabolisme yang
menghasilkan asam dan gas gangren, akibatnya hawa nafas yang keluar dari mulut
akan berbau gangren.
Faktor Patologis Ekstra Oral
Rinitis atropik yang ditandai dengan rasa kering dan atrofi membrana
sehingga rongga hidung meniadi besar, berkerak dan menimbulkan bau. Hanya saja
rinitis atropik jarang dijumpai, sedang sinusitis kronis sering disertai dengan nafas
yang bau. Hal ini terlihat nyata pada kasus sinusistis maxilaris kronis, terutama
karena disebabkan gigi terinfeksi oleh bakteri streptokokus viridansyog mampu
mengeluarkan bau tidak sedap. Bedah tonsilektomi sendiri dapat menghasilkan bau
yang serupa dengan bau darah busuk yang terjadi setelah dilakukan operasi mulut.
Keadaan-keadaan seperti abses atau gangraen paru, yang dapat
menimbulkan kavitas pada paru-paru akan menyebabkan bau nafas tidak sedap.
Diabetes dan penyakit ginjal merupakan contoh kondisi sistemik yang paling dikenal.
Kalau pada pasien yang diabetesnya terkontrol tidak terdeteksi adanya bau mulut,
maka sebaliknya nafas yang berbau aseton akan tercium pada pasien dengan
diabetic acidocis akan cenderung mengalami koma hiperglikemia. Pada penyakit
gagal ginjal kronis terjadi penumpukan urea dalam sekret-sekret antara lain dalam
keringat dan saliva yang akan menimbulkan bau amonia pada udara pernafasan
yang menunjukkan suatu keadaan uremia.

Halitosis juga bisa timbul pada keadaan dimana terdapat gangguan saluran
pencernaan seperti adanya pendarahan intestinal yang baunya menyerupai bay
kotoran.
Faktor lain yang menyebabkan halitosis adalah pemakaian obat-obatan yang
digunakan untuk penyembuhan penyakit sistemik yang mungkin diderita pasien. Bau
yang timbul disini ada kaitannya dengan efek samping yang ditimbulkan obat yakni
xerostomia.