Anda di halaman 1dari 32

BAB I

Pendahuluan
1.1

Pengertian Dan Macam-Macam Abortus (Keguguran)


Serta Penyebabnya

Saat ini Aborsi menjadi salah satu masalah yang cukup serius, dilihat dari
tingginya angka aborsi yang kian meningkat dari tahun ke tahun. Di Indonesia
sendiri, angka pembunuhan janin per tahun sudah mencapai 3 juta. Angka yang
tidak sedikit mengingat besarnya tingkat kehamilan di Indonesia. Selain itu, ada
yang mengkategorikan aborsi itu pembunuhan. Ada yang melarang atas nama
agama. Ada yang menyatakan bahwa jabang bayi juga punya hak hidup sehingga
harus dipertahankan, dan lain-lain.
Sering sekali wanita hamil mengalami abortus atau keguguran. Tapi banyak
orang yang belum mengetahui apa itu pengertian abortus/keguguran, macam-macam
abortus/keguguran dan penyebab abortus/keguguran.
Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan sebelum janin mampu
hidup di luar rahim (< 500 gram atau < 20-22 minggu) sedangkan seorang
embrio mungkin hidup di dunia luar kalau beratnya telah mencapai 1000
gram atau umur kehamilan 28 minggu. Berakhirnya suatu kehamilan ( oleh
akibat akibat tertentu ) sebelum buah kehamilan tersebut mampu untuk
hidup di luar kandungan / kehamilan yang tidak dikehendaki atau
diinginkan. Aborsi itu sendiri dibagi menjadi dua, yaitu aborsi spontan dan
aborsi buatan. Aborsi spontan adalah aborsi yang terjadi secara alami tanpa
adanya upaya - upaya dari luar ( buatan ) untuk mengakhiri kehamilan
tersebut. Sedangkan aborsi buatan adalah aborsi yang terjadi akibat adanya
upaya - upaya tertentu untuk mengakhiri proses kehamilan.
Apa sih abortus/keguguran itu? Abortus/keguguran sendiri artinya suatu
ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar
kandungan, dan sebagai batasan digunakan kehamilan kurang dari 20 minggu atau
berat anak kurang dari 500 gram.

Abortus pun dibagi bagi lagi menjadi beberapa bagian, antara lain :
1. Abortus Komplet
Seluruh hasil konsepsi telah keluar dari rahim pada kehamilan kurang dari 20
minggu.
2. Abortus Inkomplet
Sebagian hasil konsepsi telah keluar dari rahim dan masih ada yang
tertinggal.
3. Abortus Insipiens
Abortus yang sedang mengancam yang ditandai dengan serviks yang telah
mendatar, sedangkan hasil konsepsi masih berada lengkap di dalam rahim.
4. Abortus Iminens
Abortus tingkat permulaan, terjadi perdarahan per vaginam, sedangkan jalan
lahir masih tertutup dan hasil konsepsi masih baik di dalam rahim.
5. Missed Abortion
Abortus yang ditandai dengan embrio atau fetus terlah meninggal dalam
kandungan sebelum kehamilan 20 minggu dan hasil konsepsi seluruhnya
masih dalam kandungan.
6. Abortus Habitualis
Abortus yang terjadi sebanyak tiga kali berturut turut atau lebih.
Kita tidak harus bisa membedakan jenis jenis abortus diatas. Tentu saja harus
dilakukan pemeriksaan intensif agar bisa membedakan jenis abortus diatas karena
penangannnya pun berbeda beda. Ada yang memerlukan obat obatan, istirahat atau
malah kuretase. Untuk memeriksa pasien dengan abortus, dokter biasanya
menggunakan bantuan alat Dopler untuk mendeteksi denyut jantung janin dan atau
USG untuk menentukan secara langsung keadaan janin apakah masih hidup atau
sudah meninggal.
Klasifikasi abortus
Klasifikasi :
Berdasarkan Pelaksanaannya atau Pelaku :
1. Abortus Spontan :
keluarnya hasil konsepsi tanpa adanya intervensi medis maupun mekanis
2. Abortus buatan (Abortus Provocatus : disengaja, digugurkan) :

a. Menurut kaidah Ilmu (abortus provocatus artificalis atau abortus theurapeuticus) :


Indikasi abortus untuk kepentingan ibu. Misalnya : penyakit jantung, hipertensi
esensial, dan karsinoma serviks.
b. Criminal (abortus provocatus criminalis) : Pengguguran tanpa alasan medis yang
sah atau oleh orang yang tidak berwenang dan dilarang oleh hukum
Berdasarkan gambaran Klinisnya :
1. Abortus imminens
2. Abortus insipiens
3. Abortus incomplite
4. Abortus complete
5. Abortus habitualis
6. Abortus febrilis
7. Abortus tertunda (missed abortion)
8. Abortus infeksiosus
Keputusan ini ditentukan oleh tim ahli (dokter ahli kebidanan, penyakit dalam dan
psikiatri, atau psikolog).dibawah ini kita akan menjelaskan gejala atau macammacam abortus;
Abortus Imminens
Abortus mengancam, perdarahan bisa berlanjut beberapa hari atau dapat
berulang.

Gejala dan tanda :

Perdarahan sedikit dari jalan lahir


Usia kehamilan > 20 minggu
Nyeri perut bawah atau nyeri punggung bawah
Ostium tertutup
Uterus sesuai usia kehamilan, lunak
USG : buah kehamilan utuh, ada tanda kehidupan janin

Dasar diagnosis

a. Anamnesis
- Kram perut bagian bawah
- Perdarahan sedikit dari jalan lahir

- HPHT

b. Pemeriksaan dengan inspekulo


- Fluksus ada (sedikit)
- Ostium uteri tertutup
- Ukuran uterus sesuai dengan usia kehamilan
- Uterus lunak
c. Pemeriksaan penunjang (USG)
- Buah kehamilan none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant:
normal; font-weight: normal; line-height: normal;"> Buah kehamilan tidak baik,
janin mati.
- Buah kehamilan tidak baik, janin mati.
d. Penanganan
- Bila hasil USG : kehamilan utuh tirah baring total/Bedrest 3x24 jam, tidak di
perbolehkan aktivitas berlebih (jika masih perdarahan)
- Bila hasil USG : meragukan ulangi USG 1-2 minggu.
- Rujuk ke fasilitas yang ada PONEKnya.

Abortus insipiens
Keguguran membakat ini tidak dapat diberhentikan, karena setiap saat dapat
terjadi ancaman perdarahan dan pengeluaran hasil konsepsi.

Gejala dan tanda:

Perdarahan jalan lahir atau keluar cairan ketuban


Nyeri perut bagian bawah
Ostium terbuka
Buah kehamilan masih dalam rahim
Ketuban utuh (mungkin menonjol)
Uterus sesuai usia kehamilan
Janin biasanya sudah mati

Dasar diagnosis

a. Anamnesis

- Disertai nyeri / kontraksi rahim


- Perdarahan jalan lahir
b. Pemeriksaan Inspekulo
- Perdarahan sedang hingga banyak
- Ostium uteri terbuka
- Ukuran uterus sesuai dengan usia kehamilan
- Buah kehamilan masih dalam rahim, belum terjadi ekspulsi hasil konsepsi
- Ketuban utuh
c. Penanganan
- < 16 mgg :
Evakuasi dgn AVM
Jika evakuasi tdk dpt dilakukan:
o ergometrin 0,2 mg IM dpt ulang tiap 15atau misoprostol 400 mcg/oral (dpt diulang
stlh 4 jam k/p)
o segera lakukan persiapan pengeluaran hasil konsepsi dari uterus
- >16 mgg :
Tunggu ekspulsi spontan hasil konsepsi kemudian evakuasi sisa hasil konsepsi
Memberikan cairan infus 20 U oksitosin dlm 500 mg (fisiologis atau RL) dengan
kecepatan 40 tts/mnt
- Tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan
- Antibiotika (ampicillin atau derivatnya 3 x 500 mg)
- Uterotonika (metil ergometrin 3 x 0,125 mg)
Abortus Incomplite
ABORTUS
Sebagian hasil konsepsi
telah lahirTERAPETIK
dan sebagian lagi (biasanya plasenta)
Indikasi dan frekuensi

masih tertinggal didalam rahim.

Gejala dan tanda :

Gawatdarurat
25.0%

Perdarahan dari jalan lahir, biasanya banyak


Demam

Alasan medis
12.0%

Lokea berbau busuk


Nyeri diatas simpisis atau di perut bawah
Atas permintaan

Adanya kontraksi
abdomen
40.0%

Aspek sosial
23.0%

Sumber: Van Look & von Hertzen, 1990

Bila perdarahan

1.2

etika dan abortus

Etik adalah termilogi dengan berbagai makna.Etik berhubungan dengan


bagaimana seseorang harus bertindak dan bagaimana mereka melakukan
hubungandengan orang lain.Etik tidak hanya menggambarkan sesuatu,tetapi lebih
kepada perhatian dengan penetapan norma atau standar kehidupan seseorang dan
yang seharusnya dilakukan.Etik dititikberatkan pada pertanyaan atas apa yang
baik dn buruk,karakter,motif,atau tindakan yang benar dan salah.
Dunia tidak hanya telah diporak - porandakan oleh peperangan politis,
keberingasan kriminal ataupun ketergantungan akan obat bius, tetapi juga datang
dari jutaan ibu yang mengakhiri hidup janinnya. Aborsi telah menjadi penghancur
kehidupan umat manusia terbesar sepanjang sejarah dunia.
Hasil riset Allan Guttmacher Institute ( 1989 ) melaporkan bahwa setiap
tahun sekitar 55 juta bayi digugurkan. Angka ini memberikan bukti bahwa setiap
hari 150.658 bayi dibunuh, atau setiap menit 105 nyawa bayi direnggut sewaktu
masih dalam kandungan. Banyak hukum yang telah mengatur abosri salah

satunya diatur dalam pasal 15 ayat 2 Undang - undang Republik Indonesia


Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan dan UU Nomor 36 tahun 2009 tentang
Kesehatan. Aborsi merupakan masalah yang kompleks, mencakup nilai-nilai
religius, etika, moral dan ilmiah serta secara spesifik sebagai masalah biologi.
Dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) tertulis : Setiap dokter
senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk insani. Namun
dalam sumpah dokter, terdapat pernyataan: Saya akan menghormati setiap hidup
insani mulai dari saat pembuahan. Namun karena masih terdapat pertentangan
maksud pasal dan sumpah dokter yang berkaitan dengan waktu dimulainya suatu
awal kehidupan, maka dalam etika kedokteran, pelaksanaan aborsi dalam kasus
ini diserahkan kembali kepada hati nurani masing-masing dokter.
Untuk menangani pasien abortus, ada beberapa langkah yang dibedakan menurut
jenis abortus yang dialami, antara lain:

1. Abortus Komplet
Tidak memerlukan penanganan penanganan khusus, hanya apabila menderita
anemia ringan perlu diberikan tablet besi dan dianjurkan supaya makan
makanan yang mengandung banyak protein, vitamin dan mineral.
2. Abortus Inkomplet
Bila disertai dengan syok akibat perdarahan maka pasien diinfus dan
dilanjutkan transfusi darah. Setelah syok teratasi, dilakukan kuretase, bila
perlu pasien dianjurkan untuk rawat inap.
3. Abortus Insipiens
Biasanya dilakukan tindakan kuretase bila umur kehamilan kurang dari 12
minggu yang disertai dengan perdarahan.
4. Abortus Iminens
Istirahat baring, tidur berbaring merupakan unsur penting dalam pengobatan
karena cara ini akan mengurangi rangsangan mekanis dan menambah aliran
darah ke rahim. Ditambahkan obat penenang bila pasien gelisah.
5. Missed Abortion
Dilakukan kuretase. Cuma kudu hati hati karena terkadang plasenta melekat
erat pada rahim.

Terbukanya jalan lahir akibat abortus dan akibat dari tindakan kuretase tentu
tidak terlepas dari komplikasi. Komplikasi yang sering terjadi yaitu infeksi,
perforasi/robekan/lubang pada dinding rahim. Tapi bila dikerjakan sesuai prosedur
dan pasien cepat tanggap akan keluhan yang diderita maka kemungkinan terjadinya
komplikasi dapat ditekan seminimal mungkin.
Setelah tahu tentang apa itu abortus, mulailah sekarang kita membahas, apa
yang menyebabkan terjadinya abortus. Abortus pada wanita hamil bisa terjadi karena
beberapa sebab diantaranya :

1.
Setelah tahu tentang apa itu abortus, mulailah sekarang kita membahas, apa yang
menyebabkan terjadinya abortus. Abortus pada wanita hamil bisa terjadi karena
beberapa sebab diantaranya
1.Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi. Kelainan inilah yang paling umum
menyebabkan abortus pada kehamilan sebelum umur kehamilan 8 minggu. Beberapa
faktor yang menyebabkan kelainan ini antara lain : kelainan kromoson/genetik,

lingkungan tempat menempelnya hasil pembuahan yang tidak bagus atau kurang
sempurna dan pengaruh zat zat yang berbahaya bagi janin seperti radiasi, obat
obatan, tembakau, alkohol dan infeksi virus.
2.

Kelainan pada plasenta. Kelainan ini bisa berupa gangguan pembentukan


pembuluh darah pada plasenta yang disebabkan oleh karena penyakit darah
tinggi yang menahun.

3.

Faktor ibu seperti penyakit penyakit khronis yang diderita oleh sang ibu
seperti radang paru paru, tifus, anemia berat, keracunan dan infeksi virus
toxoplasma.

4.

Kelainan yang terjadi pada organ kelamin ibu seperti gangguan pada mulut
rahim, kelainan bentuk rahim terutama rahim yang lengkungannya ke belakang
(secara umum rahim melengkung ke depan), mioma uteri, dan kelainan bawaan
pada rahim.
Nah, itulah 4 hal yang paling sering menyebabkan keguguran atau abortus

pada ibu hamil sehingga untuk pencegahannya harus dilakukan pemeriksaan yang
komprehensif atau mendetail terhadap kelainan kelainan yang mungkin bisa
menyebabkan terjadinya abortus. Sumber : Buku Pelayanan Kesehatan Maternal
Dan Neonatal. (http://ummukautsar.wordpress.com/2009/09/11/pengertian-danmacam-macam-abortus-keguguran-serta-penyebabnya/)
1.3 Hukum Aborsi Dalam Islam

Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya),


melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. ( Q.S. Al Israa: 33 )

Pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan di luar pernikahaan, terutama


para pelajar dan mahasiswa hari ini sudah sampai batas yang sangat

mengkawatirkan. Ini akibat hilangnya nilai-nilai agama dalam kehidupan


masyarakat, ditambah dengan gencarnya mass media yang menawarkan kehidupan
glamor, bebas dan serba hedonis yang menyebabkan generasi muda terseret dalam
jurang kehancuran.
Pacaran sudah menjadi aktivitas yang lumrah, bahkan sebagian orang tua
mlinder dan merasa malu jika anaknya tidak mempunyai pacar, karena menurut
pandangan mereka orang yang tidak pacaran, adalah orang yang tidak bisa bergaul
dan masa depannya suram,serta susah mencari jodoh. Tidak sedikit dari mereka yang
akhirnya melakukan hubungan seks di luar pernikahan dan hamil, kemudian berakhir
dengan pengguran kandungan dengan paksa.
Data statistis BKBN ( Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional)
menunjukkan bahwa sekitar 2.000.000 kasus aborsi terjadi setiap tahun di Indonesia.
Untuk kasus aborsi di luar negeri khususnya di Amerika data-datanya telah
dikumpulkan oleh dua badan utama, yaitu Federal Centers for Disease Control
(CDC) dan Alan Guttmacher Institute (AGI) yang menunjukkan hampir 2 juta jiwa
terbunuh akibat aborsi. Jumlah ini jauh lebih banyak dari jumlah nyawa manusia
yang dibunuh dalam perang manapun dalam sejarah negara itu. Begitu juga lebih
banyak dari kematian akibat kecelakaan, maupun akibat penyakit. Dengan demikian,
aborsi secara umum merupakan perbuatan keji, tidak berperikemanusiaan dan
bertentangan hukum dan ajaran agama.
Walaupun demikian, hukum Aborsi secara khusus perlu dikaji secara lebih
mendalam, karena Aborsi bukanlah dalam satu bentuk, tetapi mempunyai berbagai
macam. Sementara itu Islam bukanlah agama yang kaku, tetapi agama yang
memandang kehidupan manusia ini dari berbagai sudut, sehingga ditemukan di
dalamnya solusi ats segala problematika yang dihadapi oleh manusia.

1.3.2Pandangan Islam Terhadap Nyawa, Janin dan Pembunuhan

Sebelum menjelaskan secara mendetail tentan hukum Aborsi, lebih dahulu


perlu dijelaskan tentang pandangan umum ajaran Islam tentang nyawa, janin dan
pembunuhan, yaitu sebagai berikut :
Pertama: Manusia adalah ciptaan Allah yang mulia, tidak boleh dihinakan baik
dengan merubah ciptaan tersebut, maupun mengranginya dengan cara memotong
sebagiananggota tubuhnya, maupun dengan cara memperjual belikannya, maupun
dengan cara menghilangkannya sama sekali yaitu dengan membunuhnya,
sebagaiman firman Allah swt : .

Dan sesungguhnya Kami telah memuliakan umat manusia ( Qs. al-Isra:70)
Kedua: Membunuh satu nyawa sama artinya dengan membunuh semua orang.
Menyelamatkan satu nyawa sama artinya dengan menyelamatkan semua orang.
Allah berfirman dalam Al Quran pada Surah Al Maidah ayat 32 tang artinya :
Barang siapa yang membunuh seorang manusia, maka seakan-akan dia telah
membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara keselamatan
nyawa seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara keselamatan
nyawa manusia semuanya. (Qs. Al Maidah:32)
Ketiga: Dilarang membunuh anak ( termasuk di dalamnya janin yang masih dalam
kandungan ) , hanya karena takut miskin. Sebagaimana firman Allah swt :


Artinya : Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut melarat.
Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu juga. Sesungguhnya
membunuh mereka adalah dosa yang besar. (Qs al Isra : 31)
Keempat : Setiap janin yang terbentuk adalah merupakan kehendak Allah swt,
sebagaimana firman Allah swt



Artinya : Selanjutnya Kami dudukan janin itu dalam rahim menurut
kehendak Kami selama umur kandungan. Kemudian kami keluarkan kamu dari
rahim ibumu sebagai bayi. (QS al Hajj : 5)
Kelima : Larangan membunuh jiwa tanpa hak, sebagaimana firman Allah swt :



Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah melainkan dengan
alasan yang benar ( Qs al Isra : 33 )

1.2 Hukum Aborsi Dalam Islam.


Di dalam teks-teks al Quran dan Hadist tidak didapati secara khusus hukum
aborsi, tetapi yang ada adalah larangan untuk membunuh jiwa orang tanpa hak,
sebagaimana firman Allah swt :
yang artinya: Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan
sengaja, maka balasannya adalah neraka Jahanam, dan dia kekal di dalamnya,dan
Allah murka kepadanya dan melaknatnya serta menyediakan baginya adzab yang
besar( Qs An Nisa : 93 )

Begitu juga hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Masud bahwasanya Rosulullah saw
bersabda yang artinya :
Sesungguhnya seseorang dari kamu dikumpulkan penciptaannya di dalam perut
ibunya selama empat puluh hari. Setelah genap empat puluh hari kedua,

terbentuklah segumlah darah beku. Ketika genap empat puluh hari ketiga ,
berubahlah menjadi segumpal daging. Kemudian Allah mengutus malaikat untuk
meniupkan roh, serta memerintahkan untuk menulis empat perkara, yaitu penentuan
rizki, waktu kematian, amal, serta nasibnya, baik yang celaka, maupun yang
bahagia. ( Bukhari dan Muslim )
Maka, untuk mempermudah pemahaman, pembahasan ini bisa dibagi menjadi
dua bagian sebagai
``````````````````````````````````````````````````````````````````````````````berikut :
1.3.1

Menggugurkan Janin Sebelum Peniupan Roh

Dalam hal ini, para ulama berselisih tentang hukumnya dan terbagi menjadi tiga
pendapat :
Pendapat Pertama :
Menggugurkan janin sebelum peniupan roh hukumnya boleh. Bahkan sebagian dari
ulama membolehkan menggugurkan janin tersebut dengan obat. ( Hasyiat Al
Qalyubi : 3/159 )
Pendapat ini dianut oleh para ulama dari madzhab Hanafi, SyafiI, dan Hambali.
Tetapi kebolehan ini disyaratkan adanya ijin dari kedua orang tuanya,( Syareh Fathul
Qadir : 2/495 )
Mereka berdalil dengan hadist Ibnu Masud di atas yang menunjukkan bahwa
sebelum empat bulan, roh belum ditiup ke janin dan penciptaan belum sempurna,
serta dianggap benda mati, sehingga boleh digugurkan.

Pendapat kedua :

Menggugurkan janin sebelum peniupan roh hukumnya makruh. Dan jika sampai
pada waktu peniupan ruh, maka hukumnya menjadi haram.
Dalilnya bahwa waktu peniupan ruh tidak diketahui secara pasti, maka tidak boleh
menggugurkan janin jika telah mendekati waktu peniupan ruh , demi untuk kehatihatian . Pendapat ini dianut oleh sebagian ulama madzhab Hanafi dan Imam Romli
salah seorang ulama dari madzhab SyafiI . ( Hasyiyah Ibnu Abidin : 6/591,
Nihayatul Muhtaj : 7/416 )
Pendapat ketiga :
Menggugurkan janin sebelum peniupan roh hukumnya haram. Dalilnya bahwa air
mani sudah tertanam dalam rahim dan telah bercampur dengan ovum wanita
sehingga siap menerima kehidupan, maka merusak wujud ini adalah tindakan
kejahatan . Pendapat ini dianut oleh Ahmad Dardir , Imam Ghozali dan Ibnu Jauzi (
Syareh Kabir : 2/ 267, Ihya Ulumuddin : 2/53, Inshof : 1/386)
Adapun status janin yang gugur sebelum ditiup rohnya (empat bulan) , telah
dianggap benda mati, maka tidak perlu dimandikan, dikafani ataupun disholati.
Sehingga bisa dikatakan bahwa menggugurkan kandungan dalam fase ini tidak
dikatagorikan pembunuhan, tapi hanya dianggap merusak sesuatu yang bermanfaat.
Ketiga pendapat ulama di atas tentunya dalam batas-batas tertentu, yaitu jika di
dalamnya ada kemaslahatan, atau dalam istilah medis adalah salah satu bentuk
Abortus Profocatus Therapeuticum, yaitu jika bertujuan untuk kepentingan medis
dan terapi serta pengobatan. Dan bukan dalam katagori Abortus Profocatus
Criminalis, yaitu yang dilakukan karena alasan yang bukan medis dan melanggar
hukum yang berlaku, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.

2.3 Menggugurkan Janin Setelah Peniupan Roh

Secara umum, para ulama telah sepakat bahwa menggugurkan janin setelah
peniupan roh hukumnya haram. Peniupan roh terjadi ketika janin sudah berumur
empat bulan dalam perut ibu, Ketentuan ini berdasarkan hadist Ibnu Masud di atas.
Janin yang sudah ditiupkan roh dalam dirinya, secara otomatis pada saat itu, dia
telah menjadi seorang manusia, sehingga haram untuk dibunuh. Hukum ini berlaku
jika pengguguran tersebut dilakukan tanpa ada sebab yang darurat.
Namun jika disana ada sebab-sebab darurat, seperti jika sang janin nantinya akan
membahayakan ibunya jika lahir nanti, maka dalam hal ini, para ulama berbeda
pendapat:
Pendapat Pertama :
Menyatakan bahwa menggugurkan janin setelah peniupan roh hukumnya tetap
haram, walaupun diperkirakan bahwa janin tersebut akan membahayakan
keselamatan ibu yang mengandungnya. Pendapat ini dianut oleh Mayoritas Ulama.
Dalilnya adalah firman Allah swt :



Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya),
melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. ( Q.S. Al Israa: 33 )
Kelompok ini juga mengatakan bahwa kematian ibu masih diragukan, sedang
keberadaan janin merupakan sesuatu yang pasti dan yakin, maka sesuai dengan
kaidah fiqhiyah : Bahwa sesuatu yang yakin tidak boleh dihilanngkan dengan
sesuatu yang masih ragu., yaitu tidak boleh membunuh janin yang sudah ditiup
rohnya yang merupakan sesuatu yang pasti , hanya karena kawatir dengan kematian
ibunya yang merupakan sesuatu yang masih diragukan. ( Hasyiyah Ibnu Abidin :
1/602 ).
Selain itu, mereka memberikan permitsalan bahwa jika sebuah perahu akan
tenggelam, sedangkan keselamatan semua perahu tersebut bisa terjadi jika sebagian
penumpangnya dilempar ke laut, maka hal itu juga tidak dibolehkan.

Pendapat Kedua :
Dibolehkan menggugurkan janin walaupun sudah ditiupkan roh kepadanya,
jika hal itu merupakan satu-satunya jalan untuk menyelamatkan ibu dari kematian.
Karena menjaga kehidupan ibu lebih diutamakan dari pada menjaga kehidupan janin,
karena kehidupan ibu lebih dahulu dan ada secara yakin, sedangkan kehidupan janin
belum yakin dan keberadaannya terakhir.( Mausuah Fiqhiyah : 2/57 )
Prediksi tentang keselamatan Ibu dan janin bisa dikembalikan kepada ilmu
kedokteran, walaupun hal itu tidak mutlak benarnya. Wallahu Alam.
Dari keterangan di atas, bisa diambil kesimpulan bahwa para ulama sepakat bahwa
Abortus Profocatus Criminalis, yaitu aborsi kriminal yang menggugurkan kandungan
setelah ditiupkan roh ke dalam janin tanpa suatu alasan syarI hukumnya adalah
haram dan termasuk katagori membunuh jiwa yang diharamkan Allah swt.
Adapun aborsi yang masih diperselisihkan oleh para ulama adalah Abortus
Profocatus Therapeuticum, yaitu aborsi yang bertujuan untuk penyelamatan jiwa,
khususnya janin yang belum ditiupkan roh di dalamnya.

BAB II
2.1 Mengapa Aborsi di Haramkan dalam Hukum Al-Quran?
Tidak ada satupun ayat didalam Al-Quran yang menyatakan bahwa aborsi
boleh dilakukan oleh umat Islam. Sebaliknya, banyak sekali ayat-ayat yang

menyatakan bahwa janin dalam kandungan sangat mulia. Dan banyak ayat-ayat yang
menyatakan bahwa hukuman bagi orang-orang yang membunuh sesama manusia
adalah sangat mengerikan. Berikut ini merupakan alasan dalam Al-Quran yang
mengharamkan tindakan aborsi.
Manusia berapapun kecilnya adalah ciptaan Allah yang mulia. Membunuh
satu nyawa sama artinya dengan membunuh semua orang. Menyelamatkan satu
nyawa sama artinya dengan menyelamatkan semua orang. Umat Islam dilarang
melakukan aborsi dengan alasan tidak memiliki uang yang cukup atau takut akan
kekurangan uang. Aborsi adalah membunuh. Membunuh berarti melawan terhadap
perintah Allah. Sejak kita masih berupa janin, Allah sudah mengenal kita. Tidak ada
kehamilan yang merupakan kecelakaan atau kebetulan. Setiap janin yang terbentuk
adalah merupakan rencana Allah. Nabi Muhammad SAW tidak pernah menganjurkan
aborsi. Bahkan dalam kasus hamil diluar nikah sekalipun, Nabi sangat menjunjung
tinggi kehidupan.
Dalam buku Emansipasi Adakah Dalam Islam karangan Al
Baghdadi, Abdurrahman tahun 1998 disebutkan bahwa aborsi dapat
dilakukan setelah atau sebelum ruh ditiupkan pada janin. Semua ulama ahli
fiqih sepakat bahwa melakukan aborsi setelah kandungan berusia lebih dari
empat bulan hukumnya haram. Sedangkan melakukan aborsi sebelum
kandungan berusia empat bulan masih menimbulkan kontroversi, karena
sebagian ulama berpendapat bahwa kegiatan aborsi yang dilakukan sebelum
ruh ditiupkan ( kandungan belum berusia 4 bulan) diperbolehkan
melakukannya. Sedangkan sebagian ulama berpendapat bahwa melakukan
aborsi sebelum ditiupkannya ruh ke dalam janin itu hukumnya haram.
Namun disini akan diperjelas mengapa aborsi itu hukumnya diharamkan.
Pendapat para ulama yang mengharamkan aborsi dikarenakan pada
usia empat bulan kehamilan telah ditiupkan ruh kedalam janin sehingga telah
terjadi kehidupan setelah ruh ditiupkan. Rasulullah bersabda:

Sesungguhnya setiap kamu terkumpul kejadiannya dalam perut ibumu


selama 40 hari dalam bentuk nuthfah, kemudian dalam bentuk alaqah
selama itu pula, kemudian dalam bentuk mudghah selama itu pula,
kemudian ditiupkan ruh kepadanya. (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud,
Ahmad, dan Tirmidzi)
Dengan ditiupkannya ruh kedalam janin maka pada usia tersebut janin
merupakan makhluk yang telah bernyawa. Oleh karena itu, apabila aborsi
dilakukan setelah usia kehamilan empat bulan, sama saja melakukan
pembunuhan atau menghilangkan nyawa suatu makhluk. Sehingga aborsi
hukumnya haram.
Pendapat para ulama dipertegas dengan adanya dalil Al- Quran,
diantaranya:

a.

AyatAlAnaam

151. Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu


oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan
Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu
membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi
rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati
perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun
yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan
Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar[518]."
Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).

2.2 Aborsi Menurut Pandangan Agama di Indonesia


2.2.1 Aborsi Menurut Pandangan Agama Kristen
Sama halnya dengan Islam, agama Kristen pun melarang keras tindakan
aborsi. Kitab suci umat kristiani menjelaskan beberapa hal mengenai tindakan aborsi
diantaranya : Jangan pernah berpikir bahwa janin dalam kandungan itu belum
memiliki nyawa. Hukuman bagi para pelaku aborsi sangat keras. Aborsi karena
alasan janin yang cacat tidak dibenarkan Tuhan. Tuhan tidak pernah
memperkenankan anak manusia dikorbankan. Apapun alasannya. Anak-anak adalah
pemberian Tuhan. Jagalah sebaikbaiknya.

2.2.2

Aborsi Menurut Pandangan Agama Katholik

Gereja mengajak pengikutnya untuk menghormati hidup manusia sejak dari


awal, oleh karena itu dapat dikatakan dengan tegas, Katholik pun menolak adanya
pengguguran. Katolik menolak dengan tegas abortus atau pengguguran dengan cara
dan alasan apa pun. Sekalipun aborsi itu dilakukan dengan alasan kesehatan dari si
ibu. Atau karena rasa belas kasihan karena melihat anak yang akan dilahirkan itu
nanti cacat (cacat fisik atau cacat mental) sehingga dianggap tidak memiliki masa
depan yang baik kecuali penderitaan. Bahkan katolik juga menolak aborsi terhadap
bayi yang dikandung akibat kecelakaan (ibu diperkosa atau hasil pergaulan bebas dan
sebagainya). Tidak ada satu orang pun yang berhak mengambil jiwa seseorang,
sekalipun ia masih manusia kecil dalam kandungan. Sanksi aborsi termuat dalam
Kitab Hukum Kanonik Gereja no. 1398, yaitu berupa ekskomunikasi otomatis, atau
pengucilan dari kehidupan Gereja.
2.2.3 Aborsi Menurut Pandangan Agama Hindu Aborsi dalam Theology

Hinduisme tergolong pada perbuatan yang disebut Himsa karma yakni


salah satu perbuatan dosa yang disejajarkan dengan membunuh, meyakiti, dan
menyiksa. Membunuh dalam pengertian yang lebih dalam sebagai menghilangkan
nyawa mendasari falsafah atma atau roh yang sudah berada dan melekat pada
jabang bayi sekalipun masih berbentuk gumpalan yang belum sempurna seperti

tubuh manusia. Dalam Hindu perbuatan aborsi disetarakan dengan menghilangkan


nyawa. Kitabkitab suci Hindu antara lain Rgveda 1.114.7 menyatakan: Ma no
mahantam uta ma no arbhakam artinya: Janganlah mengganggu dan mencelakakan
bayi. Atharvaveda X.1.29: Anagohatya vai bhima artinya: Jangan membunuh bayi
yang tiada berdosa. Dan Atharvaveda X.1.29: Ma no gam asvam purusam vadhih
artinya: Jangan membunuh manusia dan binatang.
2.2.4

Aborsi Menurut Pandangan Agama Budha Dalam pandangan agama

Buddha aborsi adalah suatu tindakan pengguguran kandungan atau


membunuh makhluk hidup yang sudah ada dalam rahim seorang ibu. Dari sudut
pandang Buddhis aborsi bisa di toleransi dan dipertimbangkan untuk dilakukan.
Umat Buddha terdiri dari dua golongan yaitu pabbajita dan umat awam. Seorang
pabbajita mutlak tidak boleh melakukan aborsi karena melanggar vinaya yaitu
parajjika. Tetapi sebagai umat awam aborsi boleh dilakukan dengan alasan yang
kuat. Misal janin dalam kandungan dalam kondisi abnormal yang dapat
membahayakan kesehatan ibu bahkan dapat mengancam keselamatan ibu. Aborsi
boleh dilakukan dengan kondisi yang sangat sulit akan tetapi seminimal mungkin
untuk menghindari terjadinya aborsi karena dalam agama buddha aborsi merupakan
suatu pembunuhan yang tidak diperbolehkan karena menghilangkan nyawa suatu
mahluk yang mengakibatkan karma buruk.
Resiko Aborsi Risiko kesehatan dan keselamatan fisik yang akan dihadapi
seorang wanita pada saat melakukan aborsi dan setelah melakukan aborsi adalah.
Kematian mendadak karena pendarahan hebat. Kematian mendadak karena
pembiusan yang gagal. Kematian secara lambat akibat infeksi serius disekitar
kandungan. Rahim yang sobek (Uterine Perforation). Kerusakan leher rahim
(Cervical Lacerations) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya. Kanker
indung telur (Ovarian Cancer). Kanker leher rahim (Cervical Cancer). Kanker hati
(Liver Cancer). Kelainan pada ari-ari (Placenta Previa) yang akan menyebabkan
cacat pada anak berikutnya dan pendarahan hebat pada kehamilan berikutnya.
Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi ( Ectopic Pregnancy). Infeksi
rongga panggul (Pelvic Inflammatory Disease). Infeksi pada lapisan rahim
(Endometriosis)

Proses aborsi bukan saja suatu proses yang memiliki resiko tinggi dari segi
kesehatan dan keselamatan seorang wanita secara fisik, tetapi juga memiliki dampak
yang sangat hebat terhadap keadaan mental seorang wanita. Gejala ini dikenal dalam
dunia psikologi sebagai Post-Abortion Syndrome (Sindrom Paska-Aborsi) atau
PAS. Oleh sebab itu, yang sangat penting untuk diperhatikan dalam hal ini adanya
perhatian khusus dari orang tua remaja tersebut untuk dapat memberikan pendidikan
seks yang baik dan benar.
Efek Samping Aborsi, Efek Jangka Pendek rasa sakit yang inten Terjadi
kebocoran uterus Pendarahan yang banyak Infeksi Bagian bayi yang tertinggal di
dalam o Shock/Koma o Merusak organ tubuh lain o Kematian
Efek Jangka Panjang tidak dapat hamil kembali Keguguran Kandungan
Kehamilan Tubal Kelahiran Prematur Gejala peradangan di bagian pelvis
Hysterectom.
BAB III
UNDANG UNDANG MENGENAI ABORSI
.Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 61/2014 tentang Kesehatan Reproduksi
yang telah ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)
menuai reaksi beragam. Pasalnya dalam PP tersebut, disebutkan pula bahwa
aborsi bisa dilakukan oleh perempuan dengan alasan darurat medis maupun
alasan pemerkosaan. Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait
mengatakan, PP 61/2014 ini tentu saja bertentangan dengan Undang-undang No.
23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Karena di Undang-undang itu
disebutkan, anak yang masih di dalam kandungan secara hukum juga harus
dilindungi oleh negara.
"Dalam perspektif Undang-undang Perlindungan Anak, Pasal 1 menyebutkan
bahwa anak-anak adalah yang berusia di bawah 18 tahun, termasuk yang masih
dalam kandungan. Artinya di sini aborsi tidak dibenarkan karena mengabaikan hak
hidup anak," Selain merupakan tindak pidana, aborsi juga merupakan pelanggaran
terhadap hak asasi. Apalagi otoritas mencabut hak hidup hanya ada pada Tuhan.

"Kalau ingin melindungi korban perkosaan lewat PP ini, saya setuju sekali.
Tetapi harus hati-hati juga apakah berbenturan dengan Pasal 1 Undang-undang
Perlindungan Anak," tegasnya.
Selain itu, PP ini menurutnya juga bisa memberi peluang pada orang-orang
yang berprilaku seks bebas untuk melakukan aborsi karena dianggap legal. "PP ini
sebaiknya dikaji ulang, karena perkosaan itu umumnya tidak ada saksi. Kalau begitu,
siapa yang nantinya menentukan dia adalah korban perkosaan?"
Beban psikologis akibat perkosaan memang sangat tinggi. Namun di sinilah
peran negara dibutuhkan. "Janin korban perkosaan jangan dibunuh, tetapi justru
pemerintah harus melindungi. Ini tanggung jawab pemerintah," tegasnya lagi.
Sementara itu, Direktur Jenderal Bina Gizi & Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian
Kesehatan RI, dr Anung Sugihantono, M.Kes mengatakan, PP tersebut sebaiknya
tidak diterjemahkan sebagai aturan yang melegalkan aborsi, melainkan pelayanan
kesehatan dalam tatanan aborsi. Karena pasal tersebut juga mengatur tentang hal-hal
apa saja yang harus dipatuhi sebelum melakukan aborsi.
"Dalam PP tersebut memang diatur kejadian kehamilan karena hal-hal yang
tidak diinginkan, khususnya perkosaan yang memang harus diakhiri kehamilannya
karena pertimbangan ibu dan anak. Ini yang harus dipahami, jadi bukan melegalkan
aborsinya,". PP 61/2014 juga mengatur bahwa tindakan aborsi akibat perkosaan
hanya dapat dilakukan apabila usia kehamilan paling lama berusia 40 (empat puluh)
hari dihitung sejak hari pertama haid terakhir.
Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 61 Tahun 2014 mengenai pelegalan aborsi
bagi perempuan korban pemerkosaan sesuai fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI)
mengenai tindakan aborsi. Fatwa MUI mengenai aborsi menjadi tidak dilarang
apabila keberadaan si bayi megancam keselamatan jiwa dan raga ibunya. Sementara
jika tindakan itu dilakukan tanpa ada dasar dan alasan jelas, aborsi adalah ilegal.
Melanggar hukum Islam dan hukum negara.
"PP aborsi sesuai dengan ketentuan fatwa MUI karena aborsi bisa dilakukan
dengan beberapa syarat. Ketentuan yang ada di PP itu sejalan dengan komisi fatwa

MUI," jelas Menag di Jakarta, Senin (18/8/2014). Ia menyebutkan, salah satu butir
dalam PP itu menyatakan tindakan aborsi menjadi legal dalam kondisi tertentu tetap
mengacu pada UU Kesehatan. Pasal 75 ayat (1) menyebutkan setiap orang dilarang
aborsi kecuali berdasarkan indikasi kedaruratan medis dan kehamilan akibat
perkosaan yang dapat menimbulkan trauma psikologis bagi korban perkosaan.
Sekretaris

Dirjen

Bimbingan

Masyarakat

(Bimas)

Islam

Kemenag

Muhammadiyah Amin menambahkan, PP aborsi tak perlu direvisi, seperti


permintaan Komisi IX, karena sudah mengacu pada fatwa MUI.
Sebelumnya, Komisi IX mendesak PP aborsi segera direvisi. Anggota Komisi
IX Zuber Safawi menegaskan pada prinsipnya Undang-Undang (UU) Kesehatan
melarang tindakan aborsi. Dia mengatakan, aborsi dilarang dan pelakunya dipidana
dengan penjara sepuluh tahun dan denda Rp1 miliar. Klausul ini yang harusnya lebih
dikedepankan. Zuber mengungkapkan hal tersebut merujuk pada pasal 75 UU nomor
36 tahun 2009 tentang kesehatan.
Pasal tersebut jelas-jelas melarang tindakan aborsi serta pemberian sanksi
pidana yang berat bagi pelakunya terdapat pada pasal 194. Syarat adanya Indikasi
kedaruratan medis ataupun trauma akibat korban perkosaan harus benar dan jelas.
Bukan menjadi alasan yang dibuat-buat untuk melegalkan aborsi, ujarnya.
pengecualian aborsi bagi korban perkosaan dalam PP 61 Tahun 2014 tentang
Kesehatan Reproduksi terus bergulir. Termasuk, penolakan yang datang dari Ikatan
Dokter Indonesia (IDI). Seperti diketahui, IDI berkeyakinan jika pengecualian
tersebut sangat bertentangan dengan sumpah dan kode etik dokter. Namun, Menteri
Kesehatan dr Nafsiah Mboi mengatakan bahwa dokter tetap harus mengikuti undangundang.
"Kode etik harus ikut undang-undang. Seorang dokter adalah WNI (warga
negara Indonesia-red) yang harus menaati undang-undang," katanya di Kantor
Kemenkes, Jakarta, belum lama ini. Kendati demikian, sebagai seorang dokter,
Nafsiah mengaku tidak akan pernah melakukan tindakan tersebut. Namun, dokter
yang menolak bisa merekomendasikan dokter lain yang setuju dengan perundangan

tersebut. "Kalau saya sendiri, seorang dokter Katolik, tidak akan pernah melakukan
aborsi. Tetapi, dia boleh merujuk kepada dokter lain yang bagi dia tidak merupakan
hambatan sesuai dengan peraturan undang-undang," terangnya.
Seperti diketahui, salah satu bab di PP No 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan
Reproduksi memerbolehkan aborsi untuk kehamilan akibat perkosaan. Kendati
demikian, untuk melakukan hal tersebut harus dengan peraturan berlaku, mulai dari
penentuan usia kehamilan dengan kejadian perkosaan, keterangan penyidik, serta
psikolog dan ahli mengenai adanya dugaan perkosaan.

Pasal 229
1) Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wwanita atau menturuhnya
supaya diobati,dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan ,bahwa karena
pengobatan itu hamil nya dapat digugurkan , diancam dengan hukuman
penjara paling lama 4 tahun atau denda paling banyak tiga ribu rupiah.
2) Jika yang bersalah,berbuat demikian untuk mencari keuntungan ,atau
menjadikan perbuatan tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan,atau jika dia
seorang dokter, bidan atau juru obat , pidananya dapat ditambah sepertiga.
3) Jika yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam menjalankan
pencarian maka dapat dicabut hak nya untuk melakukan pencarian itu.

Bab XIV KUHP:


Pasal 346 KUHP:
seorang wanita yang sengaja mengugurkan atau mematikan kandungan seorang
wanita tanpa persetujuan nya, diancam dengan pidana penjara paling lama empat
tahun.
Pasal 347 KUHP :

1) Barang siapa dengan sengaja mengugurkan atau mematikan kandungan


seorang wanita tanpa persetujuan nya diancam pidana penjara paling lama
dua belas tahun.
2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut , dianacam dengan
pidana penjara paling lama lima belas tahun.
Pasal 348 KUHP:
1) Barang siapa dengan sengaja menggunakankan atau mematikan kandungan
seorang wanita tanpa persetujuan nya diancam pidana penjara paling lama
lima tahun enam bulan.
2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut , dianacam dengan
pidana penjara paling lama tujuh tahun tahun.
Pasal 349 KUHP:
Jika seorang dokter,bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan
berdasarkan pasal 346 ,atau membantu melakukan salah satu kejahatan dalam pasal
347 dan 348,maka pidanya yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan
sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencahariandalam mana
kejahatan dilakukan.
Dengan disahkan nya undang-undang No.36 tahun 2009 tentang kesehatan yang
menggantikan undang-undang No.23 tahun 1992,maka permasalahan aborsi
memperoleh legitimasi dan penegasan. Secara explisit , dalam undang-undang ini
terdapat pasal-pasal yang membahan tentang aborsi, meskipun dalam praktek medis
mengandung berbagai reaksi dan menimbulkan kontoversi diberbagai lapisan
masyarakat .meskipun undang-undang melarang praktek aborsitetapi dalam keaadaan
tertentu terdapat kebolehan. Ketentuan pengaturan aborsi dalam undang-undang
No.36 tahun 2009 dituangkan dalam pasal 75,76,77,dan pasal 194.berikut ini adalah
uraian lengkap mengenai peraturan aborsi yang terdapat dalam pasal-pasal tersebut :
1) Setiap orang dilarang melakukan aborsi
2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan
berdasarkan :
a) Indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini
kehamilan,baik yang mengancam nyawa ibu dan atau janijn , yang
menderiata penyakit genetik berat dan atau cacad bawaan,maupun

yang tidak dapat diperbaiki sehingga penyulitkan bayi tersebut hidup


diluar kandungan : atau
b) Kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma
psikologis bagi korban perkosaan.
3) Tindakan sebagaimana dimaksud di ayat (2)hanya dapat dilakukan setelah
melalui koseling dan atau penasehat para tindakan yang di akhiri dengan
konseling paskah tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan
berwenang
4) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi dihitung dari pertama haid terakhir,
kecuali dalam kedaruratan medis dan perkosaan,sebagaimana dimaksud pada
ayat(2&3) diatur oleh peraturan pemerintah.

Pasal 76:
Aborsi sebagaimana dimaksud dengan pasal 75 hanya dapat dilakukan:
a. Sebelum kehamilan berumur 6 minggu:
b. Oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan
yang memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh mentri :
c. Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan:
d. Dengan izin suami kecuali korban perkosaan dan
e. Penyediaan layanan kesehtan yang memenuhi syarat yang ditetapkan
oleh mentri.

Pasal 77:
pemerintah wajib melindungi dan mencegah perempuan dari aborsi sebagaimana
dimaksud dalam pasal 75 ayat 2&3 yang tidak bermutu,tidak aman ,dan tidak

bertanggung jawab serta bertentangan dengan norma agama dengan ketentuan


peraturan perundang-undangan.
Pasal 194:
Setiap orang dengan sengaja melakukan aborsi tidak sesuai dengan ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam pasal 75 ayat 2 dipidana dengan pidana penjara paling
lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp.1.000.000.000.
KUHP tidak membolehkan aborsi dengan alasan apapun juga dan oleh
siapapun juga. Ketentuan ini sesuai dengan sejarah diundangkan nya dizaman
pemerintahan hindia-belanda sampai dengan sekarang ini tidak pernah berunbah dan
ketentuan ini berlaku umum bagi siapapun yang melakukan , bahkan bagi dokter
yang melakukan dikenakan pemberatan pidana pengguguran kandungan yang di
sengaja melanggar berbagai ketentuan hukum ( abortus provocatus criminalis ) yang
terdapat dalam KUHP mengaut prinsip ilegal tantap kecualu dinilai sangat
memberatkan paramedis dalam melakukan tugas nya. Pasal tentang aborsi yang
diatur dalam kitab undang-undang hukum pidana juga bertentangan dengan pasal 75
ayat 2 UU No.36 tahun 2009 tentang kesehatan.dimana pada prinsip nya tindakan
pengguguran kandungan atau aborsi dilarang ( pasal 75 ayat 2 ), namun larangan
tersebut dapat di kecualikan berdasarkan :
a) Indikasi kedaruratan medis yang didetecsi sejak usia dini kehamilan , baik
yang mengancam nyawa ibu atau janin,yang menderita penyakit genetik berat
atau cacad bawaan,maupun yang ti
b) dak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup diluar
kandungan : atau
c) Kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis
perkosaan.

KESIMPULAN
Bioetika merupakan studi interdisipliner tentang masalah yang ditimbulkan
oleh perkembangan di bidang biologi dan ilmu kedokteran baik skala mikro maupun
makro, masa kini dan masa mendatang. Bioetika mencakup isu-isu sosial, agama,
ekonomi, dan hukum bahkan politik. Bioetika selain membicarakan bidang medis,
seperti abortus, euthanasia, transplantasi organ, teknologi reproduksi butan, dan
rekayasa genetik, membahas pula masalah kesehatan, dll.
Aborsi merupakan salah satu masalah yang ada didalam bioetik kesehatan. Aborsi
merupakan berakhirnya suatu kehamilan ( oleh akibat akibat tertentu ) sebelum
buah kehamilan tersebut mampu untuk hidup di luar kandungan / kehamilan yang
tidak dikehendaki atau diinginkan. Negara kita sebenarnya sudah mengatur atau
melarang tindakan aborsi. Hal ini dibuktikan dengan dalam Undang-undang nomor
36 tahun 2009 tentang Kesehatan, Undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang

DAFTAR PUSTAKA
Annas. G.J. 2002. Coning n the U.S CONGRES. N ENG MED VOL.346,NO.20.
Artus centre.2008.patient information.royal universitas hospital saskatoon SK.
Assisted reproduction unit.2005.information on i vitro Fertilization & embryo
transfer ( IVF/ET ) Treatment department of obstetric and gynaecology
UNIVERSITA of hongkong.
Beauchamp,G.R. 1999. The application of bioethice,principles to resolve conflicts in
values.JK science 1:2 (40-43).
Bongso,A.dan lee,E.H.2005.stem cell from bench to bedside.singapure:world
scientific publishing
Chang,W.2009.bioetika sebuah pengantar.yongyakarta kanisius.
Center for bioethics.2004.ethics of organ transplantation faried,A.cancer ,stem
cells,and cancer stem cells.
Fauziyah,y.2012.obstetri patologi: untuk mahasiswa kebidanan dan
keperawatan.yongyakarta:nuha medika.
Hanafiah,M,J. Dan amir ,A.2008.etika kodekteran & hukum kesehatan.jakarta : EGC
Jaenisch.R.2004.human cloning-the science and ethics of nuclear transplantation .
N EnglJ MED 251:27.
Juita,S.R dan heryanti,B.R.2010.abortus provocatus pada korban perkosaan dan
perspektif hukum pidana ( suatu kajian normatif ) fakultas hukum universitas
semarang.
Kingston,H.M.1997.petunjuk penting genetika klinik.alih bahasa: hartono.edt:
widayati D.wulandari.jakarta:EGC.
Kusuma,I.dan ibraim,N.2011.induksi sel somatik menjadi sel punca
pluripoten.cermin dunia kedokteran,186:38 (5).

Lani,M.2003.ketika kloning usik persoalan etika dalam bioreproduksi : imperialisme


modal & kejahatan globalisasi. Penyuting : hesty W dan ika
N.K.yongyakarta : insist press.
McCormick T.R.1998.principle of bioethics in medical university of washington
school of medicine.
Moeloek.F.A.2005.etika dan hukum teknik reproduksi buatan.bagian obstetri dan
ginekologi fakultas kedokteran universitas indonesia.
Pamungka,K. 2002. Tinjauan yuridis mengenai proses dan prosedur pelaksanaan
teknologi bayi tabung dan masalah nya.tesis.program pascasarjana ilmu
hukum universitas diponegoro semarang.
Pinkert,Carl A.2002.transgenic animal technology a laboratory handbook.second
edition.california :academic press.
Pratimarati,U.2008. kebijakan hukum pidana di bidang reproduksi ( kloning )
. Tesis . universitas diponegoro,tidak diterbitkan.
Sadler,T.W.2009.lagman embriology kedokteran.alih bahasa: bram U.edit :
adintanovrianti jakarta.EGC.
Saputra,V.2006. dasar-dasar stem cell dan potensi dan aplikasi nya dan ilmu
kedokteran.cermin dunia kedokteran. Nomor 153.
Soejipto,P.2010.transplantasi organ manusia .program pascasarjana fakultas
kesehatan masyarakat universitas indonesia.
Sofan ,L.T.2010.peran sel punca di bidang kedokteran gigi, skripsi.fakultas
kedokteran gigi .universitas Sumatra utara, medan , tidak diterbitkan.
Syafruddin.2003.abortus povocatus dan hokum.fakultas hokum universitas Sumatra
utara.
Safrydatati.2008.aspek hokum tentang bayi tabung.fakultas hokum universitas bung
hatta padang.

Tutik,T.T analisi hokum islam terhadap praktik aborsi bagi kehamilan tidak
diterapkan dalam KTD akibat perkosaan menurut undang-undang No.36
tahun 2009 tentang kesehatan.fakultas syariah IAIN sunan ampel Surabaya.
Wahono ,R.A.2007. eunathansia dan hak untuk menentukan diri sendiri
berdasarkan kitab undang-undang hokum pidana dan hak asasi manusia
( penelitian hokum normative terhadap pasal 344/KUH pidana pada pasien
stadium terminal ), tesis program pascasarjana unika soegijiapranata
semarang.
World health organitation .2010.who guilding principles on human cell,tissue and
organ transplantation.
Widiana,A.2010.bioetika : sekolah ilmu dan technology hayati.institut teknilogy
bandung.
Yulianty,A.B.2009. bioetika tranplantasi dan penjualan organ tubuh manusia .
sekolah ilmu dan technology hayati institute technology bandung.
Zainafree,I.2009.euthanasia( dalam perspektif etika dan moralitas).KEMAS : 4 (2).