Anda di halaman 1dari 25

DEFINISI GIZI BURUK

Gizi buruk atau malnutrisi adalah suatu bentuk terparah akibat kurang gizi menahun.
Selain akibat kurang konsumsi jenis makanan bernutrisi seimbang, gizi buruk pada anak juga
bisa disebabkan oleh penyakit-penyakit tertentu yang menyebabkan gangguan pencernaan
atau gangguan penyerapan zat makanan yang penting untuk tubuh.
Gizi buruk adalah suatu kondisi dimana seseorang dinyatakan kekurangan zat gizi,
atau dengan ungkapan lain status gizinya berada dibawah standar rata-rata. Zat gizi yang
dimaksud bisa berupa protein, karbohidrat dan kalori.
KLASIFIKASI GIZI BURUK
1. Marasmus
Marasmus adalah gangguan gizi karena kekurangan karbohidrat. Gejala yang timbul
diantaranya muka seperti orang tua, tidak terlihat lemak dan otot dibawah kulit
(kelihatan tulang dibawah kulit), rambut mudah patah dan kemerahan, gangguan kulit,
gangguan pencernaan (sering diare), pembesaran hati dan sebagainya. Anak tampak
sering rewel dan banyak menangis meskipun setelah makan, karena masih terasa
lapar.
2. Kwashiorkor
Penampilan tipe kwashiorkor seperti anak yang gemuk, bilamana dietnya
mengandung cukup energi disamping kekurangan protein, walaupun dibagian tubuh
lainnya terutama dipantatnya terlihat adanya atrofi. Tampak sangat kurus atau edema
pada kedua punggung kaki sampai seluruh tubuh.
3. Marasmik-kwashiorkor
Gambaran klinis merupakan campuran dari beberapa gejala klinik kwashiorkor dan
marasmus. Makanan sehari-hari tidak cukup mengandung protein dan juga energi
untuk pertumbuhan yang normal. Pada penderita demikian disamping menurunnya
berat badan <60% dari normal memperlihatkan tanda-tanda kwashiorkor, seperti
edema, kelainan rambut, kelainan kulit dan kelainan biokimiawi.
ETIOLOGI GIZI BURUK
1. Penyebab langsung
Kurangnya jumlah dan kualitas makanan yang dikonsumsi, menderita penyakit
infeksi, cacat bawaan dan menderita penyakit kanker. Anak yang mendapat makanan
cukup baik tetapi sering diserang atau demam akhirnya menderita kurang gizi.
2. Penyebab tidak langsung
Ketersediaan pangan rumah tangga, perilaku, pelayanan kesehatan. Sedangkan faktorfaktor lain selain fsktor kesehatan, tetapi juga merupakan masalah utama gizi buruk
adalah kemiskinan, pendidikan rendah, ketersediaan pangan dan kesempatan kerja.
Oleh karena itu untuk mengatasi gizi buruk dibutuhkan kerjasama lintas sektor
kesehatan pangan adalah kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan pangan
seluruh anggota keluarganya dalam jumlah yang cukup baik maupun gizinya.
FAKTOR RESIKO GIZI BURUK

Faktor risiko gizi buruk antara lain :


- Asupan makanan
Asupan makanan yang kurang disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain tidak
tersedianya makanan secara adekuat, anak tidak cukup atau salah mendapat makanan bergizi
seimbang, dan pola makan yang salah.2 Kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan balita adalah air,
energi, protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral.Setiap gram protein menghasilkan 4
kalori, lemak 9 kalori, dan karbohidrat 4 kalori.Distribusi kalori dalam makanan balita dalam
keseimbangan diet adalah 15% dari protein, 35% dari lemak, dan 50% dari
karbohidrat.Kelebihan kalori yang menetap setiap hari sekitar 500 kalori menyebabkan
kenaikan berat badan 500 gram dalam seminggu.
Setiap golongan umur terdapat perbedaan asupan makanan misalnya pada golongan
umur 1-2 tahun masih diperlukan pemberian nasi tim walaupun tidak perlu disaring. Hal ini
dikarenakan pertumbuhan gigi susu telah lengkap apabila sudah berumur 2-2,5 tahun. Lalu
pada umur 3-5 tahun balita sudah dapat memilih makanan sendiri sehingga asupan makanan
harus diatur dengan sebaik mungkin.Memilih makanan yang tepat untuk balita harus
menentukan jumlah kebutuhan dari setiap nutrien,menentukan jenis bahan makanan yang
dipilih, dan menentukan jenis makanan yang akan diolah sesuai dengan hidangan yang
dikehendaki.
Sebagian besar balita dengaan gizi buruk memiliki pola makan yang kurang beragam.
Pola makanan yang kurang beragam memiliki arti bahwa balita tersebut mengkonsumsi
hidangan dengan komposisi yang tidak memenuhi gizi seimbang. Berdasarkan dari
keseragaman susunan hidangan pangan, pola makanan yang meliputi gizi seimbang adalah
jika mengandung unsur zat tenaga yaitu makanan pokok, zat pembangun dan pemelihara
jaringan yaitu lauk pauk dan zat pengatur yaitu sayur dan buah. Menurut penelitian yang
dilaksanakan di Kabupaten Magelang, konsumsi protein(OR 2,364) dan energi (OR 1,351)
balita merupakan faktor risiko status gizi balita.
- Status sosial ekonomi
Sosial adalah segala sesuatu yang mengenai masyarakat sedangkan ekonomi adalah
segala usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan untuk mencapai kemakmuran hidup. Sosial
ekonomi merupakan suatu konsep dan untuk mengukur status sosial ekonomi keluarga dilihat
dari variabel tingkat pekerjaan. Rendahnya ekonomi keluarga, akan berdampak dengan
rendahnya daya beli pada keluarga tersebut. Selain itu rendahnya kualitas dan kuantitas
konsumsi pangan, merupakan penyebab langsung dari kekurangan gizi pada anak balita.
Keadaan sosial ekonomi yang rendah berkaitan dengan masalah kesehatan yang dihadapi
karena ketidaktahuan dan ketidakmampuan untuk mengatasi berbagai masalah tersebut. Balita
dengan gizi buruk pada umumnya hidup dengan makanan yang kurang bergizi.
Bekerja bagi ibu mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga. Ibu yang bekerja
mempunyai batasan yaitu ibu yang melakukan aktivitas ekonomi yang mencari penghasilan
baik dari sektor formal atau informal yang dilakukan secara reguler di luar rumah yang akan
berpengaruh terhadap waktu yang dimiliki oleh ibu untuk memberikan pelayanan terhadap
anaknya.Pekerjaan tetap ibu yang mengharuskan ibu meninggalkan anaknya dari pagi sampai
sore menyebabkan pemberian ASI tidak dilakukan dengan sebagaimana mestinya.
Masyarakat tumbuh dengan kecenderungan bahwa orang yang bekerja akan lebih
dihargai secara sosial ekonomi di masyarakat.Pekerjaan dapat dibagi menjadi pekerjaan yang
berstatus tinggi yaitu antara laintenaga administrasi tata usaha,tenaga ahli teknik dan ahli
jenis, pemimpin,dan ketatalaksanaan dalam suatu instansi baik pemerintah maupun swasta
dan pekerjaan yang berstatus rendah antara lain petani dan operator alat angkut. Menurut
penelitian yang dilakukan di Kabupaten Kampar Kepulauan Riau terdapat hubungan
bermakna status ekonomi dengan kejadian gizi buruk p=0,0001.

- pendidikan ibu
Kurangnya pendidikan dan pengertian yang salah tentang kebutuhan pangan dan nilai
pangan adalah umum dijumpai setiap negara di dunia. Kemiskinan dan kekurangan
persediaan pangan yang bergizi merupakan faktor penting dalam masalah kurang gizi.Salah
satu faktor yang menyebabkan timbulnya kemiskinan adalah pendidikan yang rendah. Adanya
pendidikan yang rendah tersebut menyebabkan seseorang kurang mempunyai keterampilan
tertentu yang diperlukan dalam kehidupan. Rendahnya pendidikan dapat mempengaruhi
ketersediaan pangan dalam keluarga, yang selanjutnya mempengaruhi kuantitas dan kualitas
konsumsi pangan yang merupakan penyebab langsung dari kekurangan gizi pada anak balita.
Tingkat pendidikan terutama tingkat pendidikan ibu dapat mempengaruhi derajat
kesehatan karena pendidikan ibu berpengaruh terhadap kualitas pengasuhan anak. Tingkat
pendidikan yang tinggi membuat seseorang mudah untuk menyerap informasi dan
mengamalkan dalam perilaku sehari-hari. Pendidikan adalah usaha yang terencana dan sadar
untuk mewujudkan suasana dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi diri dan ketrampilan yang diperlukan oleh diri sendiri, masyarakat,
bangsa,dan negara.
Jalur pendidikan terdiri dari pendidikan formal dan non formal yang bisa saling
melengkapi. Tingkat pendidikan formal merupakan pendidikan dasar, pendidikan
menengah,dan pendidikan tinggi. Pendidikan dasar merupakan tingkat pendidikan yang
melandasi tingkat pendidikan menengah. Tingkat pendidikan dasar adalah Sekolah Dasar dan
Sekolah Menengah Pertama atau bentuk lain yang sederajat, sedangkan pendidikan menengah
adalah lanjutan dari pendidikan dasar yaitu Sekolah Menengah Atas atau bentuk lain yang
sederajat. Pendidikan tinggi merupakan tingkat pendidikan setelah pendidikan menengah
yang terdiri dari program diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang
diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Tingkat pendidikan berhubungan dengan status gizi
balita karena pendidikan yang meningkat kemungkinan akan meningkatkan pendapatan dan
dapat meningkatkan daya beli makanan. Pendidikan diperlukan untuk memperoleh informasi
yang dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang.
- penyakit penyerta
Balita yang berada dalam status gizi buruk, umumnya sangat rentan terhadap
penyakit. Seperti lingkaran setan, penyakit-penyakit tersebut justru menambah rendahnya
status gizi anak. Penyakit-penyakit tersebut adalah:
1. Diare persisten :sebagai berlanjutnya episode diare selama 14hari atau lebih yang dimulai
dari suatu diare cair akut atau berdarah (disentri).Kejadian ini sering dihubungkan dengan
kehilangan berat badan dan infeksi non intestinal. Diare persisten tidak termasuk diare kronik
atau diare berulang seperti penyakit sprue, gluten sensitive enteropathi dan penyakit Blind
loop.
2. Tuberkulosis : Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosis, yaitu kuman aerob yang dapat hidup terutama di paru atau di berbagai organ
tubuh hidup lainnya yang mempunyai tekanan parsial oksigen yang tinggi. Bakteri ini tidak
tahan terhadap ultraviolet, karena itu penularannya terjadipada malam hari. Tuberkulosis ini
dapat terjadi pada semua kelompok umur, baik di paru maupun di luar paru.
3. HIV AIDS : HIV merupakan singkatan dari human immunodeficiencyvirus. HIV
merupakan retrovirus yang menjangkiti sel-sel sistem kekebalan tubuh manusia (terutama
CD4 positive T-sel dan macrophages komponen- komponen utama sistem kekebalan sel),

dan menghancurkan atau mengganggu fungsinya. Infeksi virus ini mengakibatkan terjadinya
penurunan sistem kekebalan yang terus-menerus, yang akan mengakibatkan defisiensi
kekebalan tubuh.Sistem kekebalan dianggap defisien ketika sistem tersebut tidak dapat lagi
menjalankan fungsinya memerangi infeksi dan penyakit- penyakit.
- Pengetahuan ibu
Ibu merupakan orang yang berperan penting dalam penentuan konsumsi makanan
dalam keluaga khususnya pada anak balita. Pengetahuan yang dimiliki ibu berpengaruh
terhadap pola konsumsi makanan keluarga. Kurangnya pengetahuan ibu tentang gizi
menyebabkan keanekaragaman makanan yang berkurang. Keluarga akan lebih banyak
membeli barang karena pengaruh kebiasaan, iklan, dan lingkungan. Selain itu, gangguan gizi
juga disebabkan karena kurangnya kemampuan ibu menerapkan informasi tentang gizi dalam
kehidupan sehari-hari.
- Berat Badan Lahir Rendah
Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram
tanpa memandang masa gestasi sedangkan berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam
1 (satu) jam setelah lahir.15Penyebab terbanyak terjadinya BBLR adalah kelahiran prematur.
Bayi yang lahir pada umur kehamilan kurang dari 37 minggu ini pada umumnya disebabkan
oleh tidak mempunyai uterus yang dapat menahan janin, gangguan selama kehamilan,dan
lepasnya plasenta yang lebih cepat dari waktunya. Bayi prematur mempunyai organ dan alat
tubuh yang belum berfungsi normal untuk bertahan hidup di luar rahim sehingga semakin
muda umur kehamilan, fungsi organ menjadi semakin kurang berfungsi dan prognosanya juga
semakin kurang baik. Kelompok BBLR sering mendapatkan komplikasi akibat kurang
matangnya organ karena prematur .
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) juga dapat disebabkan oleh bayi lahir kecil untuk
masa kehamilan yaitu bayi yang mengalami hambatan pertumbuhan saat berada di dalam
kandungan. Hal ini disebabkan oleh keadaan ibu atau gizi ibu yang kurang baik. Kondisi bayi
lahir kecil ini sangat tergantung pada usia kehamilan saat dilahirkan. Peningkatan mortalitas,
morbiditas, dan disabilitas neonatus, bayi,dan anak merupakan faktor utama yang disebabkan
oleh BBLR. Gizi buruk dapat terjadi apabila BBLR jangka panjang.Pada BBLR zat anti
kekebalan kurang sempurna sehingga lebih mudah terkena penyakit terutama penyakit
infeksi. Penyakit ini menyebabkan balita kurang nafsu makan sehingga asupan makanan yang
masuk kedalam tubuh menjadi berkurang dan dapat menyebabkan gizi buruk. Menurut
penelitian yang dilakukan di Kabupaten Lombok Timur BBLR terdapat hubungan yang
bermakna dengan kejadian gizi buruk (95%CI) p=0.02.
- Kelengkapan imunisasi
Imunisasi berasal dari kata imun yaitu resisten atau kebal. Imunisasi terhadap suatu
penyakit hanya dapat memberi kekebalan terhadap penyakit tersebut sehingga bila balita
kelak terpajan antigen yang sama, balita tersebut tidak akan sakit dan untuk menghindari
penyakit lain diperlukan imunisasi yang lain. Infeksi pada balita penting untuk dicegah
dengan imunisasi.13 Imunisasi merupakan suatu cara untuk meningkatkan kekebalan
terhadap suatu antigen yang dapat dibagi menjadi imunisasi aktif dan imunisasi pasif.
Imunisasi aktif adalah pemberian kuman atau racun kuman yang sudah dilemahkan atau
dimatikan untuk merangsang tubuh memproduksi antibodi sendiri sedangkan imunisasi pasif
adalah penyuntikan sejumlah antibodi sehingga kadar antibodi dalam tubuh meningkat.
Imunisasi juga dapat mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit, dan
kemungkinan cacat atau kematian, menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan bila
anak sakit, memperbaiki tingkat kesehatan,dan menciptakan bangsa yang kuat dan berakal

untuk melanjutkan pembangunan negara. Kelompok yang paling penting untuk mendapatkan
imunisasi adalah bayi dan balita karena meraka yang paling peka terhadap penyakit dan
sistem kekebalan tubuh balita masih belum sebaik dengan orang dewasa.
- ASI
Hanya 14% ibu di Indonesia yang memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif kepada
bayinya sampai enam bulan. Rata-rata bayi di Indonesia hanya menerima ASI eksklusif
kurang dari dua bulan. Hasil yang dikeluarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia
periode 1997-2003 yang cukup memprihatinkan yaitu bayi yang mendapatkan ASI eksklusif
sangat rendah. Sebanyak 86% bayi mendapatkan makanan berupa susu formula, makanan
padat, atau campuran antara ASI dan susu formula. Berdasarkan riset yang sudah dibuktikan
di seluruh dunia, ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi sampai enam bulan, dan
disempurnakan sampai umur dua tahun. Memberi ASI kepada bayi merupakan hal yang
sangat bermanfaat antara lain oleh karena praktis,mudah,murah,sedikit kemungkinan untuk
terjadi kontaminasi,dan menjalin hubungan psikologis yang erat antara bayi dan ibu yang
penting dalam perkembangan psikologi anak tersebut. Beberapa sifat pada ASI yaitu
merupakan makanan alam atau natural, ideal, fisiologis, nutrien yang diberikan selalu dalam
keadaan segar dengan suhu yang optimal dan mengandung nutrien yang lengkap dengan
komposisi yang sesuai kebutuhan pertumbuhan bayi.
Selain ASI mengandung gizi yang cukup lengkap, ASI juga mengandung antibodi atau
zat kekebalan yang akan melindungi balita terhadap infeksi. Hal ini yang menyebabkan balita
yang diberi ASI, tidak rentan terhadap penyakit dan dapat berperan langsung terhadap status
gizi balita. Selain itu, ASI disesuaikan dengan sistem pencernaan bayi sehingga zat gizi cepat
terserap. Berbeda dengan susu formula atau makanan tambahan yang diberikan secara dini
pada bayi. Susu formula sangat susah diserap usus bayi. Pada akhirnya, bayi sulit buang air
besar. Apabila pembuatan susu formula tidak steril, bayi akan rawan diare.
KEP (KEKURANGAN ENERGI PROTEIN)
-Definisi
KEP adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi
dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi Angka Kecukupan Gizi
(AKG).
-Etiologi
Penyebab KEP sangat banyak dan bervariasi. Beberapa faktor bisa berdiri sendiri atau
terjadi bersama-sama. Faktor tersebut adalah faktor ekonomi, sosial, budaya, pendidikan,
gangguan metabolisme, penyakit jantung bawaan atau penyakit bawaan lainnya. Pada daerah
pedesaan biasanya faktor sosial, ekonomi dan pendidikan yang sering berpengaruh, KEP
timbul pada anggota keluarga rumah tangga miskin oleh karena kelaparan akibat gagal panen
atau hilangnya mata pencaharian sehingga mempengaruhi pemberian asupan gizi pada anak.
Di daerah perkotaan tampaknya yang sering terjadi karena adanya gangguan sistem saluran
cerna dan gangguan metabolisme sejak lahir, atau malnutrisi sekunder. Gangguan ini bisa
karena penyakit usus, intoleransi makanan, alergi makanan, atau penyakit metabolisme
lainnya.
Selain itu, ketidaktahuan karena tabu, tradisi atau kebiasaan makan makanan tertentu,

cara pengolahan makanan dan penyajian menu makanan di masyarkat serta pengetahuan ibu
juga merupakan salah satu faktor terjadinya kurang gizi termasuk protein pada balita, karena
masih banyak yang beranggapan bila anaknya sudah merasa kenyang bearti kebutuhan gizi
mereka telah terpenuhi.
Penyebab langsung dari KEP adalah kekurangan kalori protein. (Sediaoetomo, 1999),
masukan makanan yang kurang dan penyakit atau kelainan yang diderita anak, misalnya
penyakit infeksi, malabsorbsi dan lain-lain. Penyebab tak langsung dari KEP sangat banyak,
sehingga disebut juga sebagai penyakit dengan kausa multifaktorial (Sediaoetomo, 1999).
Dapat juga karena penyerapan protein terganggu, seperti pada keadaan diare kronik,
kehilangan protein abnormal pada proteinuria (nefrosis), infeksi perdarahan atau luka bakar,
dan gagal mensintesis protein seperti pada keadaan penyakit hati kronik (Nelson, 1999),
faktor ekonomi, faktor fasilitas perumahan dan sanitasi, faktor pendidikan dan pengetahuan,
faktor fasilitas pelayanan kesehatan, faktor pertanian dan lain-lain. Kurang energi protein
dijumpai dalam tiga bentuk yaitu marasmus, kwashiorkor dan bentuk campuran marasmickwashiorkor.
Bentuk marasmus terjadi karena kekurangan energi terutama kekurangan energi /
kalori, sedangkan kwashiorkor terutama oleh karena kekurangan zat protein Menurut
Ngastiyah, 1997 faktor-faktor penyebab kurang energi protein dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Primer
a) Susunan makanan yang salah
b) Penyedia makanan yang kurang baik
c) Kemiskinan
d) Ketidaktahuan tentang nutrisi
e) Kebiasan makan yang salah.
2. Sekunder
a) Gangguan pencernaan (seperti malabsorbsi, gizi tidak baik, kelainan struktur saluran).
b) Gangguan psikologis.

-Klasifikasi
Penentuan KEP dilakukan dengan menimbang BB anak dibandingkan dengan umur.
Di Indonesia menggunakan standar baku BB/U WHO-NCHS
1.
2.
3.
-Patofisiologi
1. Marasmus

KEP ringan bila hasil penimbangan BB pada KMS terletak pada pita warna
kuning atau BB/U 80-90% baku median WHO-NCHS
KEP sedang bila hasil penimbangan BB pada KMS terletak dibawah garis
merah (BGM) atau BB/U 70-80% baku median WHO-NCHS
KEP berat bila hasil penimbangan BB/U <70% baku median WHO-NCHS.

Kurang kalori protein akan terjadi manakala kebutuhan tubuh akan kalori, protein,
atau keduanya tidak tercukupi oleh diet. Dalam keadaan kekurangan makanan, tubuh selalu
berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan pokok atau energi.
Kemampuan tubuh untuk mempergunakan karbohidrat, protein dan lemak merupakan hal
yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan, karbohidrat (glukosa) dapat dipakai
oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan bakar, sayangnya kemampuan tubuh untuk
menyimpan karbohidrat sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi
kekurangan. Akibatnya katabolisme protein terjadi setelah beberapa jam dengan
menghasilkan asam amino yang segera diubah menjadi karbohidrat di hepar dan ginjal.
Selama puasa jaringan lemak dipecah menjadi asam lemak, gliserol dan keton bodies. Otot
dapat mempergunakan asam lemak dan keton bodies sebagai sumber energi. Jika kekurangan
makanan ini berjalan menahun, tubuh akan mempertahankan diri jangan sampai memecah
protein lagi setelah kira-kira kehilangan separuh dari tubuh.
2. Kwashiorkor
Pada defisiensi protein murni tidak terjadi katabolisme jaringan yang sangat berlebih,
karena persediaan energi dapat dipenuhi oleh jumlah kalori dalam dietnya. Kelainan yang
mencolok adalah gangguan metabolik dan perubahan sel yang menyebabkan edema dan
perlemakan hati. Karena kekurangan protein dalam diet, akan terjadi kekurangan berbagai
asam aminio esensial dalam serum yang diperlukan untuk sintesis dan metabolisme. Selama
diet mengandung cukup karbohidrat, maka produksi insulin akan meningkat dan sebagian
asam amino dalam serum yang jumlahnya sudah kurang tersebut akan disalurkan ke jaringan
otot. Makin berkurangnya asam amino dalam serum ini akan menyebabkan kurangnya
produksi albumin hepar, yang berakibat timbulnya edema. Perlemakan hati terjadi karena
gangguan pembentukan beta-lipoprotein, sehingga transport lemak dari hati ke depot
terganggu, dengan akibat terjadinya penimbunan lemak di hati.

-Diagnosis
Gejala klinis Balita KEP berat/Gizi buruk
Untuk KEP ringan dan sedang, gejala klinis yang ditemukan hanya anak tampak
kurus. Gejala klinis KEP berat/gizi buruk secara garis besar dapat dibedakan sebagai
marasmus, kwashiorkor atau marasmickwashiokor. Tanpa mengukur/melihat BB bila disertai
oudema yang bukan karena penyakit lain adalah KEP berat/gizi buruk tipe kwashiorkor.
a.Kwashiokor
- Oudema,umumnya seluruh tubuh,terutama pada pada punggung kaki (dorsum pedis )
- Wajah membulat dan sembab
- Pandangan mata sayu
Rambut tipis, kemerahan seperti warna rambut jagung, mudah dicabut tanpa rasa
sakit,rontok
- Perubahan status mental, apatis dan rewel
- Pembesaran hati
- Otot mengecil(hipotrofi), lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk

Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi
coklat kehitaman dan terkelupas
- Sering disertai penyakit infeksi, umumnya akut,anemia dan diare.
b.Marasmus
- Tampak sangat kurus,tinggal tulang terbungkus kulit
- Wajah seperti orang tua
- Cengeng rewel
- Kulit keriput,jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada
- (pakai celana longgar )
- Perut cekung
- Iga gambang
Sering disertai , penyakit infeksi( umumnya kronis berulang), diare kronis atau
konstipasi/susah buang air.
c. Marasmik- kwashiorkor
Gambaran klinik merupakan campuran dari beberapa gejala klinik kwashiorkor dan
marasmus, dengan BB/U< 60 % baku median WHO-NCHS disertai oedema yang tidak
mencolok.
Kekurangan zat gizi makro ( energi dan protein ) dalam waktu besar dapat
mengakibatkan menurunya status gizi individu dalam waktu beberapa hari atau 2 minggu saja
yang ditandai dengan penurunan berat badan yang cepat. Keadaan yang diakibatkan oleh
kekurangan zat gizi sering disebut dengan istilah gizi kurang atau gizi buruk. Kejadian
kekurusan ( kurang berat terhadap tinggi badan) pada tingkat sedang dan berat pada anak
kecil maupun kekurusan pada individu yang lebih tua dapat mudah dikenali dengan mata .
Demikian pula halnya dengan kasus kekurangan energi berat (marasmus) dan kekurangan
protein berat(kwasiokor) serta kasus kombinasi marasmik-kwassiokor dapat dikenali tandatandanya dengan mudah.
Epidemilogi gangguan pertumbuhan atau kurang gizi pada anak balita selalu
berhubungan erat dengan keterbelakangan dalam pembangunan sosial ekonomi. Kekurangan
gizi tidak terjadi secara acak dan tidak terdistribusi secara merata ditingkat masyarakat, tetapi
kekurangan gizi sangat erat hubungannya dengan sindroma kemiskinan. Tanda tanda
sindroma, antaralain berupa : penghasilan yang amat rendah sehingga tidak dapat mencukupi
kebutuhan sandang, pangan, dan perumahan, kuantitas dan kualitas gizi makanan yang rendah
sanitasi lingkungan yang jelek dan sumber air bersih yang kurang, akses terhadap pelayanan
kesehatan yang amat terbatas, jumlah anggota keluarga yang terlalu besar, dan tingkat buta
aksara tinggi.
Status gizi terutama ditentukan ketersediaan dalam jumlah yang cukup dan dalam
kombinasi pada waktu yang tepat ditingkat sel semua zat gizi yang diperlukan tubuh untuk
pertumbuhan, perkembangan, dan berfungsi normal semua anggota badan. Oleh karena itu
prinsipnya status gizi di tentukan oleh dua hal terpenuhinya dari makanan semua zat-zat gizi
yang diperlukan tubuh, dan peranan faktor-faktor yang menentukan besarnya kebutuhan,
penyerapan dan penggunaan zat gizi tersebut. Terhadap kedua hal ini, faktor genetik dan
faktor sosial ekonomi berperan.
-Komplikasi
Mortalitas atau kejadian kematian dapat terjadi pada penderita KEP, khususnya pada
KEP berat. Beberapa penelitian menunjukkan pada KEP berat resiko kematian cukup besar,
adalah sekitar 55%. Kematian ini seringkali terjadi karena penyakit infeksi (seperti
Tuberculosis, radang paru, infeksi saluran pencernaan) atau karena gangguan jantung
mendadak. Infeksi berat sering terjadi karena pada KEP sering mengalami gangguan

mekanisme pertahanan tubuh. Sehingga mudah terjadi infeksi atau bila terkena infeksi
beresiko terjadi komplikasi yang lebih berat hingga mengancam jiwa.
-Penatalaksanaan
SEPULUH LANGKAH UTAMA PADA TATA LAKSANA KEP BERAT/GIZI BURUK
1. Pengobatan atau pencegahan hipoglikemia (kadar gula dalam darah rendah)
Hipoglikemia merupakan salah satu penyebab kematian pada anak dengan
KEP berat/Gizi buruk. Pada hipoglikemia, anak terlihat lemah, suhu tubuh rendah.
Jika anak sadar dan dapat menerima makanan usahakan memberikan makanan
saring/cair 2-3 jam sekali. Jika anak tidak dapat makan (tetapi masih dapat minum)
berikan air gula dengan sendok. Jika anak mengalami gangguan kesadaran, berikan
infus cairan glukosa dan segera rujuk ke RSU kabupaten.

2. Pengobatan dan pencegahan hipotermia (suhu tubuh rendah)


Hipotermia ditandai dengan suhu tubuh yang rendah dibawah 36 0 C. Pada
keadaan ini anak harus dihangatkan. Cara yang dapat dilakukan adalah ibu atau
orang dewasa lain mendekap anak di dadanya lalu ditutupi selimut (Metode Kanguru).
Perlu dijaga agar anak tetap dapat bernafas.
Cara lain adalah dengan membungkus anak dengan selimut tebal, dan
meletakkan lampu didekatnya. Lampu tersebut tidak boleh terlalu dekat apalagi
sampai menyentuh anak. Selama masa penghangatan ini dilakukan pengukuran suhu
anak pada dubur (bukan ketiak) setiap setengah jam sekali. Jika suhu anak sudah
normal dan stabil, tetap dibungkus dengan selimut atau pakaian rangkap agar anak
tidak jatuh kembali pada keadaan hipothermia.

Tidak dibenarkan
penghangatan anak dengan menggunakan
botol berisi air panas

3. Pengobatan dan Pencegahan kekurangan cairan


Tanda klinis yang sering dijumpai pada anak penderita KEP berat/Gizi buruk dengan
dehidrasi adalah :
Ada riwayat diare sebelumnya
Anak sangat kehausan

Mata cekung
Nadi lemah
Tangan dan kaki teraba dingin
Anak tidak buang air kecil dalam waktu cukup lama.
Tindakan yang dapat dilakukan adalah :

Jika anak masih menyusui, teruskan ASI dan berikan setiap setengah jam sekali
tanpa berhenti. Jika anak masih dapat minum, lakukan tindakan rehidrasi oral
dengan memberi minum anak 50 ml (3 sendok makan) setiap 30 menit dengan
sendok. Cairan rehidrasi oral khusus untuk KEP disebut ReSoMal (lampiran 4).
Jika tidak ada ReSoMal untuk anak dengan KEP berat/Gizi buruk dapat
menggunakan oralit yang diencerkan 2 kali. Jika anak tidak dapat minum,
lakukankan rehidrasi intravena (infus) cairan Ringer Laktat/Glukosa 5 % dan
NaCL dengan perbandingan 1:1.
KEP BERAT/GIZI BURUK YANG DIRUJUK KE RSU HARUS
DILAKUKAN TINDAKAN PRA RUJUKAN UNTUK
MENGATASI HIPOGLIKEMI, HIPOTERMIA, DAN
DEHIDRASI

4. Lakukan pemulihan gangguan keseimbangan elektrolit


Pada semua KEP berat/Gizi buruk terjadi gangguan keseimbangan elektrolit
diantaranya :

Kelebihan natrium (Na) tubuh, walaupun kadar Na plasma rendah.


Defisiensi kalium (K) dan magnesium (Mg)
Ketidakseimbangan elektrolit ini memicu terjadinya edema dan, untuk pemulihan
keseimbangan elektrolit diperlukan waktu paling sedikit 2 minggu.
JANGAN OBATI EDEMA DENGAN PEMBERIAN DIURETIKA

Berikan :
-

Makanan tanpa diberi garam/rendah garam


Untuk rehidrasi, berikan cairan oralit 1 liter yang diencerkan 2 X (dengan
penambahan 1 liter air) ditambah 4 gr KCL dan 50 gr gula atau bila balita KEP
bisa makan berikan bahan makanan yang banyak mengandung mineral ( Zn,
Cuprum, Mangan, Magnesium, Kalium) dalam bentuk makanan lumat/lunak

Contoh bahan makanan sumber mineral

Sumber Zink

daging sapi, hati, makanan laut, kacang tanah,


telur ayam

Sumber Cuprum :

daging, hati.

Sumber Mangan :

beras, kacang tanah, kedelai.

Sumber Magnesium : kacang-kacangan, bayam.


Sumber Kalium

jus tomat, pisang, kacang2an, apel, alpukat,


bayam, daging tanpa lemak.

5.

Lakukan Pengobatan dan pencegahan infeksi

Pada KEP berat/Gizi buruk, tanda yang umumnya menunjukkan adanya infeksi
seperti demam seringkali tidak tampak, oleh karena itu pada semua KEP berat/Gizi
buruk secara rutin diberikan antibiotik spektrum luas dengan dosis sebagai berikut :

UMUR

KOTRIMOKSASOL

AMOKSISILI

ATAU

(Trimetoprim + Sulfametoksazol)

BERAT

Beri 2 kali sehari selama 5 hari

Beri 3 kali
sehari
untuk 5
hari

BADAN

Tablet

Tablet Anak

Sirup/5ml

Sirup

dewasa

20 mg trimeto

40 mg trimeto

80 mg trimeto

prim + 100 mg

prim + 200 mg

125 mg

prim + 400

sulfametok

sulfametok

per 5 ml

mg

sazol

sazol

2,5 ml

2,5 ml

5 ml

5 ml

7,5 ml

10 ml

sulfametok
sazol
2 sampai 4 bulan
(4 - < 6 kg)
4 sampai 12
bulan
(6 - < 10 Kg)
12 bln s/d 5 thn
(10 - < 19 Kg)

Vaksinasi Campak bila anak belum diimunisasi dan umur sudah mencapai 9 bulan

Catatan :
Mengingat pasien KEP berat/Gizi buruk umumnya juga menderita penyakit
infeksi, maka lakukan pengobatan untuk mencegah agar infeksi tidak menjadi
lebih parah. Bila tidak ada perbaikan atau terjadi komplikasi rujuk ke Rumah Sakit
Umum.
Diare biasanya menyertai KEP berat/Gizi buruk, akan tetapi akan berkurang
dengan sendirinya pada pemberian makanan secara hati-hati. Berikan
metronidasol 7,5 mg/Kgbb setiap 8 jam selama 7 hari. Bila diare berlanjut segera
rujuk ke rumah sakit

BILA DIARE BERLANJUT ATAU MEMBURUK


ANAK SEGERA DIRUJUK KE RUMAH SAKIT

6. Pemberian makanan balita KEP berat/Gizi buruk


Pemberian diet KEP berat/Gizi buruk dibagi dalam 3 fase, yaitu : Fase Stabilisasi,
Fase Transisi, Fase Rehabilitasi
Fase Stabilisasi ( 1-2 hari)
Pada awal fase stabilisasi perlu pendekatan yang sangat hati-hati, karena keadaan faali
anak sangat lemah dan kapasitas homeostatik berkurang.
Pemberian makanan harus dimulai segera setelah anak dirawat dan dirancang
sedemikian rupa sehingga energi dan protein cukup untuk memenuhi metabolisma basal
saja.
Formula khusus seperti Formula WHO 75/modifikasi/Modisco yang dianjurkan dan
jadwal pemberian makanan harus disusun sedemikian rupa agar dapat mencapai prinsip
tersebut diatas dengan persyaratan diet sebagai berikut :
-

Porsi kecil, sering, rendah serat dan rendah laktosa


Energi : 100 kkal/kg/hari
Protein : 1-1.5 gr/kg bb/hari
Cairan : 130 ml/kg bb/hari (jika ada edema berat 100 ml/Kg bb/hari)
Bila anak mendapat ASI teruskan , dianjurkan memberi Formula WHO
75/pengganti/Modisco dengan menggunakan cangkir/gelas, bila anak terlalu
lemah berikan dengan sendok/pipet
Pemberian Formula WHO 75/pengganti/Modisco atau pengganti dan jadwal
pemberian makanan harus disusun sesuai dengan kebutuhan anak

Keterangan :

Pada anak dengan selera makan baik dan tidak edema, maka tahapan pemberian
formula bisa lebih cepat dalam waktu 2-3 hari (setiap 2 jam)
Bila pasien tidak dapat menghabiskan Formula WHO 75/pengganti/Modisco
dalam sehari, maka berikan sisa formula tersebut melalui pipa nasogastrik
( dibutuhkan ketrampilan petugas )
Pada fase ini jangan beri makanan lebih dari 100 Kkal/Kg bb/hari
Pada hari 3 s/d 4 frekwensi pemberian formula diturunkan menjadi setiap jam dan
pada hari ke 5 s/d 7 diturunkan lagi menjadi setiap 4 jam

Lanjutkan pemberian makan sampai hari ke 7 (akhir minggu 1)

Pantau dan catat :


-

Jumlah yang diberikan dan sisanya


Banyaknya muntah
Frekwensi buang air besar dan konsistensi tinja
Berat badan (harian)
selama fase ini diare secara perlahan berkurang pada penderita dengan edema ,
mula-mula berat badannya akan berkurang kemudian berat badan naik

7. Perhatikan masa tumbuh kejar balita (catch- up growth)


Pada fase ini meliputi 2 fase yaitu fase transisi dan fase rehabilitasi :
Fase Transisi (minggu ke 2)

Pemberian makanan pada fase transisi diberikan secara berlahan-lahan untuk


menghindari risiko gagal jantung, yang dapat terjadi bila anak mengkonsumsi
makanan dalam jumlah banyak secara mendadak.
Ganti formula khusus awal (energi 75 Kkal dan protein 0.9-1.0 g per 100 ml)
dengan formula khusus lanjutan (energi 100 Kkal dan protein 2.9 gram per 100
ml) dalam jangka waktu 48 jam. Modifikasi bubur/makanan keluarga dapat
digunakan asalkan dengan kandungan energi dan protein yang sama.
Kemudian naikkan dengan 10 ml setiap kali, sampai hanya sedikit formula tersisa,
biasanya pada saat tercapai jumlah 30 ml/kgbb/kali pemberian (200 ml/kgbb/hari).

Pemantauan pada fase transisi:


1. frekwensi nafas
2. frekwensi denyut nadi
Bila terjadi peningkatan detak nafas > 5 kali/menit dan denyut nadi > 25
kali /menit dalam pemantauan setiap 4 jam berturutan, kurangi volume pemberian
formula. Setelah normal kembali, ulangi menaikkan volume seperti di atas.
3. Timbang anak setiap pagi sebelum diberi makan
Setelah fase transisi dilampaui, anak diberi:
-

Formula WHO 100/pengganti/Modisco 1 dengan jumlah tidak terbatas dan sering.


Energi : 150-220 Kkal/kg bb/hari
Protein 4-6 gram/kg bb/hari

Bila anak masih mendapat ASI, teruskan, tetapi juga beri formula WHO
100/Pengganti/Modisco 1, karena energi dan protein ASI tidak akan mencukupi untuk
tumbuh-kejar.

Setelah fase rehabilitasi (minggu ke 3-7) anak diberi :


-

Formula WHO-F 135/pengganti/Modisco 1 dengan jumlah tidak terbatas dan sering


Energi : 150-220 kkal/kgbb/hari
Protein 4-6 g/kgbb/hari
Bila anak masih mendapat ASI, teruskan ASI, ditambah dengan makanan Formula
( lampiran 2 ) karena energi dan protein ASI tidak akan mencukupi untuk tumbuhkejar.
Secara perlahan diperkenalkan makanan keluarga

Pemantauan fase rehabilitasi


Kemajuan dinilai berdasarkan kecepatan pertambahan badan :
-

Timbang anak setiap pagi sebelum diberi makan.


Setiap minggu kenaikan bb dihitung.
Baik bila kenaikan bb 50 g/Kg bb/minggu.
Kurang bila kenaikan bb < 50 g/Kg bb/minggu, perlu re-evaluasi menyeluruh.

TAHAPAN PEMBERIAN DIET


FASE STABILISASI

FORMULA WHO 75 ATAU PENGGANTI

FASE TRANSISI

FORMULA WHO 75 FORMULA WHO

100 ATAU PENGGANTI


FASE REHABILITASI

FORMULA WHO 135 (ATAU PENGGANTI)

MAKANAN KELUARGA

8. Lakukan penanggulangan kekurangan zat gizi mikro


Semua pasien KEP berat/Gizi buruk, mengalami kurang vitamin dan mineral.
Walaupun anemia biasa terjadi, jangan tergesa-gesa memberikan preparat besi (Fe).
Tunggu sampai anak mau makan dan berat badannya mulai naik (biasanya pada
minggu ke 2). Pemberian besi pada masa stabilisasi dapat memperburuk keadaan
infeksinya.
Berikan setiap hari :

Tambahan multivitamin lain


Bila berat badan mulai naik berikan zat besi dalam bentuk tablet besi folat atau
sirup besi dengan dosis sebagai berikut :

Dosis Pemberian Tablet Besi Folat dan Sirup Besi


UMUR
DAN

TABLET BESI/FOLAT
Sulfas ferosus 200 mg +
0,25 mg Asam Folat

SIRUP BESI
Sulfas ferosus 150 ml
Berikan 3 kali sehari

BERAT BADAN

Berikan 3 kali sehari

6 sampai 12 bulan

tablet

2,5 ml (1/2 sendok teh)

tablet

5 ml (1 sendok teh)

(7 - < 10 Kg)
12 bulan sampai 5
tahun

Bila anak diduga menderita kecacingan berikan Pirantel Pamoat dengan dosis
tunggal sebagai berikut :
UMUR ATAU BERAT BADAN

PIRANTEL PAMOAT

(125mg/tablet)
(DOSIS TUNGGAL)

4 bulan sampai 9 bulan (6-<8 Kg)

tablet

9 bulan sampai 1 tahun (8-<10 Kg)

tablet

1 tahun sampai 3 tahun (10-<14 Kg)

1 tablet

3 Tahun sampai 5 tahun (14-<19 Kg)

1 tablet

Vitamin A oral berikan 1 kali dengan dosis


Umur

Kapsul Vitamin A

Kapsul Vitamin A

200.000 IU

100.000 IU

6 bln sampai 12 bln

1 kapsul

12 bln sampai 5 Thn

1 kapsul

Dosis tambahan disesuaikan dengan baku pedoman pemberian kapsul Vitamin A

9. Berikan stimulasi sensorik dan dukungan emosional


Pada KEP berat/gizi buruk terjadi keterlambatan perkembangan mental dan perilaku,
karenanya berikan :
-

Kasih sayang
Ciptakan lingkungan yang menyenangkan
Lakukan terapi bermain terstruktur selama 15 30 menit/hari
Rencanakan aktifitas fisik segera setelah sembuh
Tingkatkan keterlibatan ibu (memberi makan, memandikan, bermain dsb)

10.Persiapan untuk tindak lanjut di rumah


Bila berat badan anak sudah berada di garis warna kuning anak dapat dirawat di
rumah dan dipantau oleh tenaga kesehatan puskesmas atau bidan di desa.

Pola pemberian makan yang baik dan stimulasi harus tetap dilanjutkan
dirumah setelah pasien dipulangkan dan ikuti pemberian makanan, dan aktifitas
bermain.
Nasehatkan kepada orang tua untuk :

Melakukan kunjungan ulang setiap minggu, periksa secara teratur di Puskesmas


Pelayanan di PPG (lihat bagian pelayanan PPG) untuk memperoleh PMTPemulihan selama 90 hari. Ikuti nasehat pemberian makanan (lihat lampiran 5)
dan berat badan anak selalu ditimbang setiap bulan secara teratur di
posyandu/puskesmas.
- pemberian makan yang sering dengan kandungan energi dan nutrien yang padat
- penerapan terapi bermain dengan kelompok bermain atau Posyandu
- Pemberian suntikan imunisasi sesuai jadwal
- Anjurkan pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi (200.000 SI atau 100.000 SI )
sesuai umur anak setiap Bulan Februari dan Agustus.

PEMERIKSAAN STATUS NUTRISI


Pengkajian status nutrisi berdasakan ABCD yaitu A : Antropometri. B : Biokimia. C :
klinikal sign. D : Diit. hal ini di singkat agar mudah diingat. berikut penjelasannya secara
rinci.
1. ANTROPOMETRI
Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari sudut pandang
gizi maka antropometri berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan
komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Berbagai jenis ukuran tubuh
antara lain: berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas dan tebal lemak di bawah kulit.
Penggunaan
Antropometri sangat umum digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan
protein dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi
jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh.
Keunggulan dan kelemahan antropometri
Keunggulan antropometri antara lain:
Prosedurnya sederhana, aman dan dapat dilakukan dalam jumlah sampel yang besar
Relative tidak membutuhkan tenaga ahli
Alatnya murah, mudah dibawa, tahan lama dan dapat dipesan dan dibuat di daerah
setempat
Metode ini tapat dan akurat karena dapat dibakukan
Dapat mendeteksi atau menggambarkan riwayat gizi dimasa lampau
Umumnya dapat mengidentifikasi status gizi sedang, kurang dan gizi buruk karena
sudah ada ambang batas yang jelas
Kelemahan antropometri antara lain:
Tidak sensitive atau metode ini tidak daapat mendeteksi status gizi dalam waktu
singkat dan tidak dapat membedakan kekurangan zat gizi tertentu
Faktor diluar gizi (penyakit, genetic, dan penurunan penggunaan energi) dapat
menurunkan spesifikasi dan sensitivitas pengukuran antropometri
Kesalahan yang terjadi pada saat pengukuran dapat mempengaruhi presisi, akurasi dan
validitas pengukuran antropometri gizi
Kesalahan ini terjadi karena pengukuran, perubahan hasil pengukuran baik fisik
maupun komposisi jaringan, analisis dan asumsi yang keliru.
Jenis parameter
Antropometri sebagai indikator status gizi dapat dilakukan dengan mengukur
beberapa parameter. Parameter adalah ukuran tunggal dari tubuh manusia, antara lain umur,
berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, lingkar kepala, lingkar dada, lingkar pinggul
dan tebal lemak dibawah kulit. Dibawah ini akan diuraikan parameter itu.
Umur
Faktor umur sangat penting dalam penentuan status gizi. Kesalahan penentuan umur
akan menyebabkan interprestasi stastus gizi menjadi salah. Hasil pengukuran tinggi badan
dan berat badan yang akurat menjadi tidak berarti bila tidak disertai dengan penentuan umur
yang tepat.
Menurut Puslitbang Gizi Bogor (1980), batasan umur digunakan adalah tahun umur penuh
(completed year) dan untuk anak umur 0-2 tahun digunakan bulan usia penuh (completed
Mouth).

Contoh: tahun usia penuh


Umur: 7 tahun 2 bulan, dihitung 7 tahun
6 tahun 11 bulan, dihitung 6 bulan
Contoh: bulan usia penuh
Umur: 4 bulan 5 hari, dihitung 4 bulan
bulan 27 hari, dihitung 3 bulan
Berat badan
Berat badan merupakan ukuran antropometri yang terpenting dan paling sering
digunakan pada bayi baru lahir. Berat badan digunakan untuk mendiagnosa bayi normal atau
BBLR Berat Bayi lahir Rendah). Dikatakan berat bayi lahir rendah apabila berat bayi lahir di
bawah 2500 gram atau dibawah 2,5 kg. pada masa bayi-balita, berat badan dapat dipergunaka
untuk melihat laju pertumbuhan fisik maupun status gizi, kecuali terdapat kelainan klinis
seperti dehidrasi, asites, edema dan adanya tumor. Di samping itu pula berat badan dapat
dipergunakan sebagai dasar perhitungan dosis obat dan makanan.
Berat badan menggambarkan jumlah dari protein, lemak, air dan mineral pada tulang.
Pada remaja, lemak tubuh cenderung meningkat, dan protein otot menurun. Pada orang yang
edema dan asites terjadi penambahan cairan dalam tubuh. Adanya tumor dapat menurunkan
jaringan lemak dan otot, khususnya terjadi pada orang kekurangan gizi.
Berat badan merupakan pilihan utama karena berbagai pertimbangan, antara lain:
Parameter yang paling baik, mudah terlihat perubahan dalam waktu singkat karena
perubahan-perubahan konsumsi makanan dan kesehatan
Memberikan gambaran status gizi sekarang dan kalau dilakukan secara periodik
memberikan gambaran yang baik tentang pertumbuhan.
Merupakan ukuran antropomertri yang sudah dipakai secara umum dan luas di
indonesia.
Ketelitian pengukuran tidak banyak di pengaruhi oleh keterampilan pengukur
Penentuan berat badan dilakukan dangan cara menimbang. Alat yang digunakan
dilapangan sebaiknya memenuhi beberapa persyaratan:
Mudah digunakan dan dibawa daari satu tempat ke tempat yang lain
Mudah diperoleh dan relatif murah harganya
Ketelitian timbangan sebaiknya maksimum 0,1 kg
Skalanya mudah dibaca
Cukup aman untuk menimbang anak balita
Alat yang dapat memenuhi persyaratan dan kemudian dipilih dan dianjurkan untuk
digunakan dalam penimbangan anak balita adalah dacing.
Dacin yang digunakan sebaiknya minimum 20 kg dan maksimum 25 kg. bila
digunakan dacin berkapasitas 50 kg dapat juga, tetapi hasilnya agak kasar karena angka
ketelitiannya 0,25 kg.
Berat badan menurut umur (BB/U)
Dalam keadaan normal, dimana keadaan kesehatan baik dan keseimbangan antara
konsumsi dan kebutuhan zat gizi terjamin, maka berat badan berkembang mengikuti
pertambahan umur. Sebaliknya dalam keadaan abnormal, terdapat 2 kemungkinan
perkembangan berat badan, yaitu dapat berkembangan cepat atau lebih lambat dari keadaan
normal.
Berat Badan Menurut Tinggi Badan (BB/TB)
Berat badan ini memiliki hubungan yang linear dengan tinggi badan. Dalam keadaan normal
perkembangan berat badan akan searah dengan pertumbuhan tinggi badan dengan dengan
kecepatan tertentu.

Di Indonesia khususnya, cara pemantauan dan batasan berat badan normal orang
dewasa belum jelas mengacu pada patokan tertentu. Sejak tahun 1958 digunakan cara
penghitungan berat badan normal berdasarkan rumus:
Berat badan normal = (tinggi badan-100) 10% (tinggi badan-100)
atau
0,9 x (tinggi badan 100)
STS
GIZI

SATUS Ambang batas baku untuk keadaan gizi berdasarakan indeks


BB/U

TB/U

BB/TB

LLA/U

LLA/TB

Gizi baik

80 %

85 %

90%

85%

85%

z Gizi kurang

61-80%

71-85%

81-90%

71-85%

76-85%

Gizi buruk

< 60 %

< 70 %

< 80%

< 70 %

<75%

-->
Berat Badan Ideal
Berat badan untuk tinggi badan tertentu yang secara statistic yang dianggap paling tepat untuk
menjamin kesehatan umur panjang.Cara menentukan berat badan ideal adalah:
1. > 110% dari berat badan standar : gemuk
. 90 110% dari berat badan standar : ideal/ normal
70 - 90% dari berat badan stndar ;sedang
4. < 70% : sangat kurus.
3.Tinggi Badan
Tinggi badan merupakan parometer yang penting bagi keadaan yang telah lalu dan keadaan
sekarang, jika umur tidak dapat diketahui dengan tepat.
4.Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U)
Pada keadaan normal, tinggi badan tumbuh seiring dengan pertambahan umur.
5.Lingkaran Tubuh
Lingkar Lengan Atas
Lingkar lengan atas (LLA) dewasa ini memeng merupakan salah satu pilihan untuk penentuan
status gizi, karena mudah dilakukan dan tidak alat-alat yang sulit di peroleh dengan harga
yang murah. Pengukuran LLA adalah suatu cara untuk mengetahui resiko kekurangan energi
protein (KEP) wanita usia subur. Pengukuran LLA tidak dapat digunakan untuk memantau
perubahan status gizi dalam jangka pendek. Ambang batas LLA wanita usia muda dengan
resiko kekurangan energy kronis di Indonesia adalah 23,5 cm. apabila kurang dari angka
tersebut maka wanita tersebut mempunyai resiko kekurangan energi kronis.
Lingkar Kepala
Lingkar kepala adalah standar prosedur dalam ilmu kedokteran anak secara praktis, yang
biasanya untuk memeriksa keadaan pathologi dari besarnya kepala atau peningkatan ukuran
kepala contoh yang sering diginakan adalah kepala besar (hidrosepalus) dan kepala kecil
(mikrosepalus). Lingkar kepala terutama dihubungkan dengan ukuran otak dan tulang

tengkorak. Ukuran otak meningkat secara cepat selama tahun pertama, akan tetapi besar
lingkaran kepala tidak menggambarkan keadaan kesehatan dan gizi. Bagaimana pun juga
ukuran otak dan lapisan tulang kepala dan tengkorak dapat berfariasi sesuai dengan keadaan
gizi. dalam antropometri gizi, rasio lingkar kepala dan lingkar dada cukup berarti dalam
keperawatan pada anak. Lingkar kepala dapat juga di gunakan sebagai informasi tambahan
dalam pengukur umur.
Lingkar Dada
Biasanya di lakukan pada anak yang berumur 2-3 tahun, karena rasio lingkar kepala dan
lingkar dada sama pada umur 6 bulan. Setelah umur ini tulang tengkorak tumbuh secara
lambat dan pertumbuhan dada lebih cepat. Umur antara 6 bulan dan 5 tahun, rasio lingkar
kepala dan dada adalah kurang dari 1, hal ini di karenakan akibat kegagalan perkembangan
dan pertumbuhan, atau kelemahan otot dan lemak pada dinding dada. Ini dapat di gunakan
pada dinding indicator dalam menentukan kekurangan energi protein pada anak balita.
Jaringan Lunak
Otak, hati, jantung dan organ lainnya merupakan bagian yang cukup besar dari berat badan,
tetapi relative tidak berubah beratnya pada anak malnutrisi. Otot dan lemak merupakan
jaringan lunak yang sangat berfariasi pada penderita kekurangan energi protein. Antropometri
jaringan dapat di lakukan pada kedua jaringan tersebut dalam pengukuran status gizi di
masyarakat
2. BIOKIMIA
Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji secara
laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang
digunakan antara lain: darah, urine, tinja dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan
otot.
Penggunaan
Metode ini digunakan untuk suatu peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi keadaan
malnutrisi yang lebih parah lagi. Banyak gejala klinis yang kurang spesifik, maka penentuan
kimia faali dapat lebih banyak menolong untuk menentukan kekurangan gizi yang spesifik.
Pemeriksaan biokimia zat gizi
Ada beberapa indikator laboratorium untuk menentukan status besi yaitu:
Hemoglobin (hb) dan Hematokrit
Total limfosit
Serum albumin
Transferin
Keseimbangan Nitrogen
Lipit serum
Glukosa serum
1. Hemoglobin (Hb) dan Hemaktroit(HCT)
a. Hemaglobin
Hemoglobin adalah parameter yang digunakan secara luas untuk menetapkan prevalensi
anemia.Garby et al.menyatakan bahwa penentuan status anemia yanghanya menggunakan
kadar Hb ternyata kurang lengkap,sehingga perlu ditambah dengan pemeriksaan yang lain.
Hb merupakan senyawa pembawa oksigen pada sel darah.hemoglobin dapat di ukur secara
kimia dan jumlah Hb/100 ml darah dapat digunakan sebagai indeks kapasitas pembawa

oksigen pada darar.kandungan hemoglobin yang rendah dengan demikian mengindikasikan


anemia.
b. Hemaktokrit (HCT)
Hemaktorit adalah volume eritrosit yang di pisahkan dari plasma dengan cara memutarnya di
dalam tabung khusus yang nilainya di nyatakan dalam persen (%).
Setelah sentrifugasi, tinggi kolom sel merah diukur dan di bandingkan dengan tinggi darah
penuh yang asli. Presentase massa sel merah pada volume darah yang asli merupakan
hematokrit. Darah penuh antikogualan disentrufugasi dalam tabung khusus. Karna darah
penuh di bentuk pada intinya sel darah merah (SDM) dan plasma, setelah sentrifugasi
presentase sel-sel merah memderikan etimasi tidak langsung jumlah SDM/100 ml dari darah
penuh (dan dengan demikian pada gilirannya merupakan estimasi tidak langsung jumlah
hemoglobin). Hemaktokrit efek(dalam hal jauh lebih sedikit ) dari ukuran rata_rata SDM.
Nilia normal adalah 40%-54% untuk pria dan 37%-47% untuk wanita. HCT biasanya hamper
3 kali nilai hemoglobin (dengan menganggap tidak terdapat tanda hipokormia). Ke salahan
rata-rata pada prosedur HTC yaitu kira-kira 1%-2%.
Cara perhitungan
Hm = tinggi volume eritrosit yang dimanpatkan x 100%=%
Tinggi total volume darah
Contoh:
tinngi kolom eritrosit yang di manpatkan adalah 4,5 mm.
tinggi total kolom volume darah adalah 10 mm.
Jadi:
Hm = 4,5 x 100% = 45%
10
Maka nilai normal hemaktorit:
Menurut wells laki-laki :42-50%
Wanita :40-48%
Menurut helper laki-laki :40-54%
Wanita :37-47%
Hamil tua :23-34%
b. Nilai abnormal
- kurang dari nilai normal pada anemia
- leih dari nilai normal pada polisithademia
3. CLINIS / klinical sign
Pemeriksaan clinis adalah metode yang sangat penting untuk menilai status gizi masyarakat.
Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan
ketidakcukupan zat gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel (supervicial epithelial
tissue) seperti kulit, mata, rambut dan mukosa oral atau pada organ-organ yang dekat dengan
permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid.
Penggunaan
Penggunaan metode ini umumnya untuk surfei klinis secara cepat (rapid clinical surfeys).
Surfei ini dirancang untuk mendeteksi secara cepat tanda-tanda klinis umum dari kekurangan
salah satu atau lebih zat gizi. Disamping itu digunakan untuk mengetahui tingkat status gizi
seseorang dengan melakukan pemeriksaan fisik yaitu tanda (sign) dan gejala (symptom) atau
riwayat penyakit.

Keunggulan dan keterbatasan pemeriksaan clinis


Keunggulan
pemeriksaan clinis relative murah tidak memerlukan biaya terlalu besar
dalam pelaksanaannya, pemeriksaan tidk memerlukan tenaga khusus tetapi, tanaga paramedic
bias dilatih
sederhana, cepat dan mudah diinterprestasikan
tidak memerlukan peralatan yang rumit
Keterbatasan
Beberapa gejala klinis tidak mudah dideteksi, sehingga perlu orang-orang yang ahli
dalam menentukan gejala klinis rersebut. Namun demikian, para tenaga medis dapat dilatih
untuk melakukan pemeriksaan klinis
Gejala klinis tidak bersifat spesifik
Adanya gejala klinis yang bersifat multiple
Gejala klinis dapat terjadi pada waktu permulaan kekurangan zat gizi dan dapat juga terjadi
pada saat sembuh. Hepatomegali (pembesaran hati) sebagai contoh dapat terjadi pada keadaan
malnutrisi awal dan terjadi juga pada masa penyembuhannya
Adanya fariasi dalam gejala klinis yang timbul. Hal ini karena satu gejala klinis bisa
dipengaruhi beberapa factor seperti genetik, lingkungan, kebiasaan dll.
Tanda tanda dan Gejala klinis defisiensi nitrisi
No

Bagian Tubuh

Tanda klinik

Kemungkinan
kekurangan

Tanda umum

Penurunan
berat
badan
dehidrasi, haus pertumbuhan
terhambat

Kalori,Air, dan vitamin A

Rambut

Kekuningan
kekurangan pigmen,kusut

Protein

Kulit

Deatitis
Dermatosis pada bayi
Petechial hemorrhages
Eksema

Niasin, riboflavin, biotin


Lemak
Asam askorbat

Mata

Photopobia
Rabun senja

Riboflavin
Vitamin A

Mulut

Stomatitis
Glositis

Riboflavin
Niasin,
asam
folik,
vitamin B12, zat besi

Gigi

Karies

Flour

Neuromoskuler

Kejang otot

Vitamin D

Lemah otot
8

Tulang

Riketsia

Vitamin D

Gastrointestinal

Anoreksia Mual dan muntah

Thiamin, garam dapur,


NaCl

10

Endokrin

Gondok

Iodium

11

Kardipovaskuler

Pendarahan
anemia

12

Sistem saraf

Kelainan mental dan saraf

peny,

Jantung,

Vitamin K, thiamin,
pyridoxine, zat besi
Vitamin B12

4. DIET
Diet adalah pilihan makanan yang lazim dimakan seseorang atau suatu populasi
penduduk. Sedangkan diet seimbang adalah diet yang memberikan semua nutrien dalam
jumlah yang memadai, tidak terlalu banyak dan juga tidak terlalu sedikit.
KOMPLIKASI GIZI BURUK
Pada penderita gangguan gizi sering terjadi gangguan asupan vitamin dan mineral.
Karena begitu banyaknya asupan jenis vitamin dan mineral yang terganggu dan begitu
luasnya fungsi dan organ tubuh yang terganggu maka jenis gangguannya sangat banyak.
Anemia gizi adalah kurangnya kadar hemoglobin pada anak yang disebabkan karena
kurangnya asupan zat besi (Fe) atau asam folat. Gejala yang bisa tejadi adalah anka tampak
pucat, sering sakit kepala, mudah lelah dan sebagainya.