Anda di halaman 1dari 16

Kelompok: 8

Nama: 1. Arni Praditasari

260110130127

2. Annisa Claudia M. C

260110130128

3. Cindy Aprilliaine

260110130130

4, Dhita Dwi P.

260110130131

5. M. Ismail

260110130132

6. Yonahar Masula

260110130134

7. Prasetyo Dwi A.

260110130135

Kelas : Farmasi 2013 B

Kanker Kelenjar Getah Bening


Kanker merupakan penyakit dengan karakteristik adanya gangguan atau kegagalan
mekanisme pengaturan multiplikasi pada organisme multiseluler sehingga terjadi
perubahan perilaku sel yang tidak terkontrol. Perubahan tersebut disebabkan adanya
perubahan atau transformasi genetik, terutama pada gen-gen yang mengatur pertumbuhan,
yaitu protoonkogen dan gen penekan tumor. Sel-sel yang mengalami transformasi terusmenerus berproliferasi dan menekan pertumbuhan sel normal. Kanker merupakan salah
satu penyakit dengan angka kematian yang tinggi (Achmad, 2013).
Penyakit kanker kelenjar getah bening atau yang biasa disebut dengan kanker
limfoma di dunia medis merupakan kanker yang terjadi pada jaringan limfoid. Klasifikasi
dari penyakit kanker limfoma atau penyakit kanker kelenjar getah bening ini bergantung
dari empat gaambaran utama dalam bentuk tipe sel, derajat diferensiasi, tipe reaksi yang
bisa menghasilkan sel tumor, dan juga pola pertumbuhannya. Jika pertumbuhan nodular
diobservasi, istilah nodular ini berarti digunakan setelah tipe sel. Jika tidak memperhatikan
pola pertumbuhan yang sudah dibuat, maka penyakit kanker kelenjar getah bening ini akan
menyebar (Andre, 2015).

Gambar 1. Kanker kelenjar getah bening

Zat yang dapat menimbulkan kanker (karsinogen), antara lain :


a. Basa analog, berpengaruh saat repair DNA yang digunakan basa analog bukan basa
b.
c.
d.
e.

yang sebenarnya.
Alkaling agent, penambahan alkil pada nukleotida sehingga merubah ekspresi DNA.
Hidroksilating agent, menghidroksilasi DNA.
Deaminating agent, pengurangan gugus amin.
Intercalating agent, agent yang menyela urutan DNA (Budiman, 2011).

Beberapa konsep dasar tentang mekanisme kanker yang telah diajukan :

1. Doll's Nature, Nurture and Luck


Nurture yang dimaksud adalah bawaan genetika dari individu semenjak lahir,
misalnya orang kulit putih lebih berkemungkinan menderita kanker kulit daripada
berkulit berwarna. Nurture berkaitan dengan apa yang dilakukan sejak lahir dan luck
berkaitan dengan nasib atau faktor kemungkinan. Gabungan ketiga faktor inilah yang
menentukan terjadinya kanker. Antara nature dan nurture, faktor nurture kelihatan
menonjol pada kanker tertentu dan sebaliknya faktor nurture menonjol pada aspek lain
terjadinya kanker. Misalnya dari riwayat keluarga wanita yang memiliki anggota keluarga
penderita kanker payudara maka risikonya 2-3 kali lebih tinggi daripada wanita yang tidak
memiliki anggota keluarga penderita kanker (Harahap,2010).
2. Teori Promotion dan Initiation
Permulaan terjadinya kanker dimulai dengan adanya zat bersifat initation, yang
merangsang permulaan perubahan sel. Untuk terjadinya kanker initiation perlu disusul
dengan zat promotion yang mempunyai efek reversible terhadap perubahan sel sehingga
diperlukan perangsangan yang lama dan berkesinambungan. Initiaty agent biasanya berupa
unsur kimia, fisik atau biologis yang berkemampuan beraksi langsung dan mengubah
struktur dasar dari komponen genetic/DNA sel. Keadaan selanjutnya diikuti dengan tahap
promosi. Proses ini ditandai dengan berkembangnya neoplasma dengan terbentuknya
formasi tumor. Berlangsung lama, minggu sampai tahunan (Harahap, 2010).
Mekanisme Kanker Kelenjar Getah Bening :
Kanker kelenjar getah bening menyerang sel darah putih dan terkumpul dalam
kelenjar getah bening. Sel tersebut cepat menggandakan diri dan tumbuh secara tidak
terkontrol. Karena limfosit bersirkulasi ke seluruh tubuh, maka selain di kelenjar getah
bening tempat yang paling sering terkena kanker kelenjar getah bening adalah limpa dan
sumsum tulang (Reykaningrum, 2011).

Pembengkakan atau pembesaran kelenjar getah bening di area mana saja bisa
mengindikasikan adanya infeksi, kanker, atau penyakit lain yang berhubungan dengan
sistem getah bening. Kebanyakan, pembengkakan kelenjar getah bening berhubungan
dengan infeksi ringan yang sedang dihadapi oleh sistem kekebalan tubuh. Akan tetapi, jika
bulatan atau benjolan yang teraba pada tubuh tersebut diam dan keras untuk waktu yang
relatif lama, ini biasanya berhubungan dengan kanker atau tumor (AnM, 2012).
Ada beberapa hala-hal dan mekanisme yang bisa menyebabkan pembengkakan
kelenjar getah bening. Di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Infeksi
Mekanisme pembengkakan kelenjar getah bening akibat infeksi adalah dengan cara
peningkatan jumlah sel darah putih (limfosit) dengan cara multiplikasi sebagai respons
atas adanya zat asing ke dalam tubuh (antigen).
2. Kanker
Mekanisme penyusupan sel-sel kanker pada kelenjar getah bening juga sering
menyebabkan pembengkakan. Bahkan, kelenjar getah bening yang bengkak bisa
menjadi keras dan bisa menyebar ke kelenjar getah bening di tempat-tempat yang lain.
3. Kanker darah
Kanker darah mungkin tidak terlihat seperti kanker biasa yang membuat kelenjar getah
bening bengkak. Akan tetapi, pada kanker darah, produksi limfosit di kelenjar getah
bening sangat banyak dan tidak terkontrol. Keadaan ini kita sebut sebagai limfoma atau
leukemia (Nursewian, 2012).
Kanker ini terbagi menjadi dua, yakni Hodgkin dan Non-Hodgkin. Pada Hodgkin
sel-sel dari sistem limfatik bertumbuh secara normal dan dapat menyebar ke luar sistem
limfatik. Jika penyakit ini semakin berkembang, maka akan mempengaruhi fungsi
pertahanan tubuh penderitanya. Pada penyakit ini ditemukan perkembangan sel B abnormal
atau dinamakan sel Reed-Sternberg (sel B adalah salah satu jenis sel limfe yang berfungsi
dalam sistem pertahanan tubuh yang memproduksi antibodi). Sel ini berasal dari folikel sel
B yang mengalami gangguan struktur pada immunoglobin, sel ini juga mengandung suatu

faktor transkripsi inti sel. Kedua hal tersebut menyebabkan gangguan apoptosis
(Reykaningrum, 2011).
Pada Non-Hodgkin, di keadaan normal limfosit akan mengalami suatu siklus,
dimana limfosit yang tua akan mati dan tubuh membentuk limfosit yang baru. Sedangkan
pada kanker tipe ini tubuh membentuk limfosit yang abnormal yang akan terus membelah
dan bertambah banyak dengan tidak terkontrol. Limfosit ini akan bertambah banyak dan
memenuhi kelenjar getah bening dan menyebabkan pembesaran. Keganasan ini dapat
timbul dan menyebar selain pada kelenjar getah bening dan lebih luas dibandingkan
Hodgkin, kelompok Non-Hodgin adalah kelompok keganasan primer limfosit yang dapat
berasal dari limfosit B, limfosit T dan kadang (amat jarang) berasal dari sel NK yang
berada dalam sistem limfa (Reykaningrum, 2011).
Gejala Kanker Kelenjar Getah Bening
Gejala Limfoma Hodgkins
Agar dapat mengetahui penyakit kanker kelenjar getah bening jenis hodgkins maka kita
harus mengetahui dengan pasti gejala-gejalanya. Gejala dari limfoma hodgkins, yaitu:
1.

Demam disertai menggigil Demam yang terjadi disebabkan karena sistem


kekebalan tubuh terganggu dan demam tersebut sebagai respon bahwa ada yang tidak beres
pada tubuh kita.

2.

Terjadi pembesaran di bagian kelenjar getah bening (bawah ketiak, leher, dan
pangkal paha)

3.

Pembengkakan yang terjadi tidak disertai dengan rasa nyeri Pembengkakan yang
terjadi biasanya disebabkan karena virus atau bakteri, dan semakin lama akan semakin
berkembang bila didiamkan begitu saja.

4.

Kurang nafsu makan Kanker kelenjar getah bening ini juga mempengaruhi nafsu
makan penderita.

5.

Berkeringat pada malam hari

6.

Berat badan menurun Berat badan yang menurun ini disebabkan karena
kurangnya nafsu makan dan tubuh tidak dapat menyerap nutrisi dari makanan secara baik.

7.

Terkadang disertai gangguan pernapasan Gangguan pernapasan akan muncul bila


sel kanker sudah mulai menjalar ke sistem pernapasan dan sel kanker terdapat pada kelenjar
getah bening di daerah leher (Yulianti, 2015).
Gejala Limfoma Non Hodgkins
Gejala kanker kelenjar getah bening non hodgkins ini, tidak jauh berbeda dengan jenis
sebelumnya yaitu limfoma hodgkins, berikut ini diantaranya :

1.

Bengkak di leher, ketiak atau selangkangan

2.

Penurunan berat badan Berat badan akan berkurang tanpa sebab yang jelas. Atau
karena tubuh tidak dapat menyerap nutri makanan dengan baik.

3.

Demam

4.

Keringat bercucuran saat malam hari

5.

Batuk-batuk

6.

Susah bernafas, atau nyeri di dada Limfoma biasanya juga muncul pada leher dan
mengganggu sistem pernapasan, sehingga menyebabkan penderita mengalami susah
bernapas dan nyeri di bagian dada.

7.

Badan tidak bertenaga, dan terasa letih

8.

Nyeri, bengkak atau merasa begah di perut (Yulianti, 2015).


Ciri-ciri kanker kelenjar getah bening non hodgkins ini terjadi menjadi 4 stadium
berdasarkan tingkat keganasan kanker tersebut, yaitu :
Stadium 1
Stadium 1 merupakan tingkatan paling awal pada dari limfoma non hodgkins. Sel kanker
berkumpul menjadi kelompok di daerah tertentu kelenjar getah bening, contohnya di leher
atau bawah ketiak. Atau bisa saja sel abnormal berada pada bagian tubuh lainnya di luar
kelenjar getah bening, seperti di paru paru tetapi tidak di hati dan sumsum tulang.
Stadium 2
Sel limfoma berada pada sekurang-kurangnya 2 kelompok di kelenjar getah bening,
misalnya saja berapa pada sisi diafragma yang sama yaitu sisi atas dan sisi bawah. Atau sel
limfoma berada pada satu titik kelenjar getah bening dan bagian tubuh lainnya pada
diafragma yang sama.
Stadium 3
Limfoma terdapat pada kelompok kelenjar getah bening di atas maupun di bawah
diafragma. Atau limfoma beraada di organ atau di jaringan sekitar kelenjar getah bening.
Stadium 4
Pada stadium 4 limfoma sudah sangat menyebar luar. Limfoma sudah menyebar ke
seluruh satu organ atau jaringan selain di kelenjar getah bening. Atau bisa juga berada
dalam hati, darah, atau sumsum tulang (Yulianti, 2015).

Gambar 2. Kanker kelenjar getah bening pada bagian leher

Gambar 3. Algoritma terjadinya kanker kelenjar getah bening

Pengobatan Kanker Kelenjar Getah Bening


Kemoterapi. Kemoterapi terutama diberikan untuk limfoma jenis derajat keganasan sedangtinggi dan pada stadium lanjut (Kara et all, 2002).
1. Radiasi.
Radiasi dosis tingi bertujuan untuk membunuh sel kanker dan mengecilkan ukuran
tumor. Terapi radiasi umumnya diberikan untuk limfoma derajat rendah dengan stadium
awal. Namun kadang-kadang dikombinasikan dengan kemoterapi pada limfoma dengan
derajat keganasan sedang atau untuk terapi tempat tertentu, seperti di otak (Park et all,
2007).
Digunakan dua jenis terapi radiasi bagi penderita limfoma:

Radiasi eksternal: Sebuah mesin besar akan mengarahkan sinar ke bagian tubuh di

mana sel-sel limfoma terkumpul. Terapi ini bersifat lokal karena hanya mempengaruhi selsel di area yang diobati saja. Sebagian besar penderita pergi ke rumah sakit atau klinik
untuk dirawat 5 hari dalam seminggu, selama beberapa minggu (Park et all, 2007).

Radiasi sistemik: Beberapa penderita limfoma akan mendapat suntikan bahan

radioaktif yang akan mengalir ke seluruh tubuh. Bahan radioaktif itu akan terikat pada
antibodi yang menargetkan dan menghancurkan sel-sel limfoma (Park et all, 2007).
2. Transplantasi sel induk
Terutama jika akan diberikan kemoterapi dosis tinggi, yaitu pada kasus kambuh.
Terapi ini umumnya digunakan untuk limfoma derajat sedang-tinggi yang kambuh setelah
terapi awal pernah berhasil. Orang dengan limfoma yang kambuh dapat memperoleh
transplantasi sel induk (stem cell). Transplantasi sel induk yang membentuk darah
memungkinkan orang mendapatkan kemoterapi dosis tinggi, terapi radiasi, atau keduanya.
Kemoterapi dosis tinggi ini akan menghancurkan sel-sel limfoma sekaligus sel-sel darah
normal dalam sumsum tulang. Kemudian, pasien akan mendapatkan sel-sel induk yang

sehat melalui tabung fleksibel yang dipasang di pembuluh darah balik besar di area dada
atau leher. Sel-sel darah yang baru akan tumbuh dari sel-sel induk hasil transplantasi ini.
Tranplantasi sel induk dilakukan di rumah sakit. Sel-sel induk ini bisa didapatkan dari
pasien sendiri (Price, 1995).
3. Observasi
Jika limfoma bersifat lambat dalam pertumbuhan, maka dokter mungkin akan
memutuskan untuk observasi saja. Limfoma yang tumbuh lambat dengan gejala yang
ringan mungkin tidak memerlukan terapi selama satu tahun atau lebih (Price, 1995).

4. Terapi biologi.
Satu-satunya terapi biologi yang diakui oleh Food and Drug Administration (FDA)
Amerika Serikat saat ini adalah rituximab. Rituximab merupakan suatu antibody
monoclonal yang membantu system imun mengenali dan menghancurkan sel kanker.
Umumnya diberikan secara kombinasi dengan kemoterapi atau dalam radioimunoterapi
(Shike, 1996).
5. Radioimunoterapi.
Merupakan terapi terkini untuk limfoma non-Hodgkin. Obat yang telah mendapat
pengakuan dari FDA untuk radioimunoterapi adalah ibritumomab dan tositumomab. Terapi
ini menggunakan antibody monoclonal bersamaan dengan isotop radioaktif. Antibodi
tersebut akan menempel pada sel kanker dan radiasi akan mengahancurkan sel
(Reksidoputro, 1996).
6. Kemoterapi

Kemoterapi menggunakan obat-obatan untuk membunuh sel-sel kanker. Terapi ini


disebut terapi sistemik karena obat akan mengalir di sepanjang aliran darah. Obat dapat
mencapai sel-sel kanker di hampir seluruh bagian tubuh (Reksidoputro, 1996).
Kemoterapi dapat

mulut, melalui pembuluh darah balik, atau di ruang antara

sumsum tulang belakang. Pengobatan biasanya berupa rawat jalan, baik di rumah
sakit/klinik atau di rumah. Beberapa pasien harus menginap di rumah sakit selama
pengobatan untuk mendapatkan pengamatan yang seksama (Reksidoputro, 1996).
Jika pasien menderita limfoma di lambung akibat infeksi Helikobaktor, dokter dapat
mengobati limfoma ini dengan antibiotika. Setelah infeksi sudah disembuhkan, kanker
mulai dapat diobati (Reksidoputro, 1996).

Sediaan
Obat tunggal
CVP (COP)

CHOP

C-MOPP

M-BACOD

ProMACE/CytaBOM

MACOP-B

(Santoso, 2004).
Tes untuk Mendeteksi Kanker Kelenjar Getah Bening
1. Tes Fisi, dapat membantu mendeteksi penyakit ini secara dini; pemeriksaan lebih
lanjut akan dilakukan pada organ limpa dan hati, untuk diagnosis pembengkakan
(Henry, 2015).
2. Tes darah; data-data kuantitas dan kualitas darah melalui tes darah di laboratorium
dapat membantu dokter menegakkan diagnosis dengan benar. Adanya limfoma bisa

mengakibatkan kuantitas LDH (Lactate dehydrogenase) semakin meningkat (Henry,


2015).
3. Pemeriksaan sinar X pada dada; untuk pemeriksaan lebih lanjut mengenai penyakit
kelenjar getah bening, biasanya akan digunakan sinar X untuk mendeteksi di bagian
dada (Henry, 2015).
4. Tes Angiografi Kelenjer Getah Bening: Cairan berwarna disuntikkan ke dalam
pembuluh limfatik, memungkinkan kelenjar getah bening dan pembuluh limfatik
terlihat lebih jelas dengan menggunakan sinar-X (Hendra, 2014).
5. Pemindaian Gallium (Radioisotop): Gallium radioaktif disuntikkan ke dalam
pembuluh darah dan diedarkan ke seluruh tubuh agar berkumpul di dalam tumor.
Tubuh kemudian dipindai dari beberapa sudut yang berbeda (Hendra, 2014).
6. Aspirasi dan Biopsi Sumsum Tulang: Sumsum tulang diperoleh dengan cara
memasukkan jarum panjang yang sangat tipis ke dalam tulang besar misalnya
pinggul dan mengumpulkan sampel kecil dari sumsum. Jaringan kulit dan
permukaan tulang akan mati rasa setelah pemberian anestesi local terlebih dahulu
(Hendra, 2014).
7. Biopsi: Mengambil sedikit jaringan dari daerah yang dicurigai kanker untuk
memeriksa sel darah putih di bawah mikroskop (Hendra, 2014).
8. CT (Computerised Tomography) Scan: Mengambil gambar sinar-X 3D dari sudut
yang berbeda di seluruh tubuh. Gambar-gambar tersebut kemudia digabungkan
dengan menggunakan komputer. Namun terdapat kekhawatiran jika terlalu banyak
CT scan akan menyebabkan kanker (Hendra, 2014).
9. Magnetic Resonance Imaging (MRI): MRI mirip dengan CT scan, tetapi
menggunakan magnet dan gelombang frekuensi radio bukan sinar-X. MRI kurang
bermanfaat disbanding CT scan untuk penggunaan pada limfoma Hodgkin,
meskipun begitu MRI sangat bermanfaat dalam evaluasi tulang dan otak (Hendra,
2014).
10. Positron Emission Tomography (PET) Scan: Gambar PET memberikan informasi
tentang fungsi jaringan (Hendra, 2014).

DAFTAR PUSTAKA

Achmad, M.2013.Pengaruh Senyawa Flavonoid Ekstrak Sarang Semut (Mymecodia


Pendans) terhadap hambatan Proliferasi dan hambatan Angiogenesis.Tersedia online
di http://repository.unhas.ac.id/handle/123456789/5706 [diakses 10 Mei 2015].

Andre. 2015. Penyebab dan Ciri-ciri Penyakit Kanker Getah Bening. Tersedia online

di

http://www.duniainformasikesehatan.com/2015/04/gejala-kanker-kelenjargetahbening.html. [diakses 10 Mei 2015].


AnM. 2012. Pengertian Kelenjar Bening. Available online at: Komunitas-info-kesehatan-An-M-/266447576779625?sk=info&tab=page_info [diakses 10 Mei 2015].
Budiman, A.2011.Pengaruh Pemberian Kombinasi Cyclophosphamide Transfer Factor
Terhadap Ekspresi Granzyme B Mencit C3H Dengan Adenocarcinoma Mamma.
Tersedia online di http://www.eprints.undip.ac.id/31230/3/Bab_2. pdf
Harahap, A.2010.Karakteristik Wanita Penderita Kanker Payudara Rawat Inap Di Rumah
Sakit

St.

Elisabeth.Tersedia

online

di

http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/16397 [diakses 10 Mei 2015].


Hendra.

2014.

Limfoma

atau

Kanker

Kelenjar

Getah

Bening.

Tersedia

http://nanospray.info/2014/limfoma-atau-kanker-kelenjar-getah-bening./.

di

[diakses

10 Mei 2015].
Henry. 2015. Deteksi Lebih Dini Gejala Kanker Kelenjar Getah Bening. Tersedia online di
http://sehatalamiku.com/deteksi-lebih-dini-gejala-kanker-kelenjar-getah-bening/.
[diakses 10 Mei 2015].
Kara, Murat, Murat Ozkan dan Serpir Dizbay Sak, Primary Pulmonary Non-Hodgkins
Lymphoma. Jurnal of Ankara Medical School Vo. 24, No.4, 2002.
Nursewian. 2012. Penyebab Pembengkakakn Kelenjar Getah Bening. Available online at:
http://buletinkesehatan.com/penyebab-pembengkakan-kelenjar-getah-bening-kgb/
[diakses 10 Mei 2015].
Park YM., et al, 2007, Non-Hodgkins Lyphoma of The Sphenoid Sinus Presenting As
Isolated Oculomotor Nerve Palsy. World Journal of Surgical Oncology.
Price SA, Wilson LM. 1995. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. EGC,
Jakarta.
Reksidoputro H., 1996, limfoma Malignum Non-Hogkin in Ilmu penyakit Dalam, Balai
Penerbit FKUI , Jakarta.

Reykaningrum, Annisa .2011. Determinan Kejadian Kanker Kelenjar Getah Bening di RSD
dr. Soebandi Jember. Tersedia online di
http://library.unej.ac.id/client/en_US/default/search/detailnonmodal/ent:
$002f$002fSD_ILS$002f347$002fSD_ILS:347012/ada;jsessionid=B31B952D8C7
9859263C2E348F6BAD10C?qu=UNEJ-FKM%2FEpidemiologi+Dan+
Biostastika&ic=true&ps=300 [diakses 10 Mei 2015].
Santoso M, Krisifu C. Diagnostik dan Penatalaksanaan Limfoma Non-Hodgkin. Jakarta:
Dexa Media, 2004; 143-146.
Shike M (1996): Nutrition therapy for the Cancer Patient. In: Hamatology / Oncology
Clinic of North America 10 Number 1, pp 221 334.
Yulianti.2015. 15 Gejala Kanker Kelenjar Getah Bening Berdasarkan Jenisnya.Tersedia di
http://faktakanker.com/kelenjar-getah-bening/15-gejala-kanker-kelenjar-getahbening-berdasarkan-jenisnya [diakses tanggal 9 Mei 2015].