Anda di halaman 1dari 3

ANALISIS PELAKSANAAN INFORMED CONSENT

DI RUMAH SAKIT

A.

PENDAHULUAN

Pada zaman Yunani dan Romawi kuno para dokter memperoleh consent dari
pasien berdasarkan tujuan murni therapetik. Suatu kepercayaan bahwa seorang
pasien akan sembuh lebih cepat apabila Ia sendiri juga turut berpartisipasi dalam
pengobatannya, sedangkan pada zaman modern sekarang konsep informed
consent memperoleh suatu dasar legal, karena pengadilan semakin lama semakin
kuat pengakuannya terhadap hak asasi seseorang memutuskan apa yang hendak
dilakukan terhadap dirinya sendiri.
Pelaksanaan informed consent di Indonesia sudah diatur di dalam Peraturan
Menteri Kesehatan No. 585 tahun 1989. Namun pelaksanaannya belum
dilaksanakan sebagaimana mestinya oleh karena masih dipengaruhi sosial budaya
dan kebiasaan serta belum ada secara yurisprudensi yang dapat dijadikan
pegangan sehingga tidak dapat berkembang.
B.

PELAKSANAAN INFORMED CONSENT DI RUMAH SAKIT

Consent adalah sebagai dasar yuridis untuk pembenaran dilakukannya


tindakan medik atau operasi. Karena melakukan operasi harus menggunakan
pisau untuk membuka tubuh pasien tindakan ini sebenarnya adalah termasuk
penganiayaan akan tetapi ilmu pengetahuan dapat menerima bahwa ini tidak
bertentangan dengan hukum, demikian juga dengan tindakan anestesi yang dalam
hal ini membuat orang jadi pingsan atau tidak berdaya oleh karena itu beberapa
rumah sakit melakukan persetujuan dari pasien dan keluarga yang ditandatangani
oleh dokter anestesinya namun masih ada rumah sakit beranggapan atau secara
kebiasaan bahwa tindakan pembiusan melekat dengan tindakan operasi.
Seseorang pasien dapat melakukan penolakan terhadap sesuatu tidakan dari
dokter apabila dia belum jelas atau belum mengerti tentang apa dan bagaimana
tindakan dari dokter kepadanya, oleh karena itu setiap manusia yang dewasa dan
yang berpikir sehat berhak untuk memutuskan apa yang hendak dilakukan
terhadap dirinya dan dokter yang melakukan suatu pembedahan tanpa izin dari
pasien atau keluarga itu adalah merupakan pelanggaran, dan dokter yang
bertanggung jawab atas kerugian yang terjadi pada diri pasien. Apabila seorang
perawat mengetahui bahwa pasien belum diberikan informasi secara menyeluruh
maka perawat itu akan memberitahukan kepada dokter yang akan melaksanakan
prosedur tersebut.
Tanpa persetujuan baik secara tertulis maupun lisan tidak boleh dilakukan
pembedahan karena ini adalah menyangkut hak asasi dari seseorang terhadap
dirinya jadi bukan dokter yang memberi keputusan dilakukan pembedahan atau

tidak. pasien berhak menentukan siapa yang melakukan pembedahan tersebut,


kecuali dalam hal yang sifatnya emergensi itupun yang dapat mengancam
nyawanya.
C.

APA SEBENARNYA YANG DIMAKSUD DENGAN INFORMED CONSENT

Walapun kita sudah sering mendengar tentang istilah Informed Consent,


namun perlu kita simak bila kita berbicara informed consent biasanya yang
dibayangkan adalah formulir yang harus ditandatangani oleh pasien atau
keluarganya padahal sesungguhnya tidaklah demikian .
Informed consent adalah suatu proses komunikasi bukan suatu formulir,
formulir itu hanya merupakan perwujudan,pengukuhan atau pendokumentasian
apa yang telah disepakati bersama sewaktu pasien diperiksa dan terjadi dialog
antara pasien dengan dokter.bila pasien telah menyetujui tindakan yang diusulkan
oleh dokternya, maka terjadilah kesepakatan antara dokter dengan pasien. Jadi
informed consent adalah sebagai pembuktian bahwa telah adanya kesepakatan
walapun suatu saat pasien dapat membatalkannya.
Pasien Sebelum Diberikan Tindakan Harus Diberitahukan Berupa :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Diagnosa yang ditegakkan


Sifat dan luasnya tindakan yang akan diberikan .
Manfaat dan urgensinya dilakukan tindakan tersebut.
Resiko-resiko dari tindakan tersebut.
Konsekwesinya apabila tidak dilakukan tindakan.
Kadangkala biaya-biaya yang menyangkut tindakan tersebut.

CARA MENYAMPAIKAN PENJELASAN


1. Penjelasan yang disampaikan secara lisan
2. Penjelasan yang disampaikan secara tertulis
PIHAK YANG BERHAK MENYATAKAN PERSETUJUAN
Pihak yang berhak menyatakan persetujuan adalah pasien sendiri. Melalui
penjelasan oleh dokter, pasien diharapkan mengerti dan memahami tahapan
pengaruh prosedur terhadap dirinya. Pasien harus berada dalam kondisi layak
mengambil keputusan dan apabila tidak memungkinkan maka keputusan tersebut
diwakilkan pada pihak ketiga dan bila walinya berhalangan maka keputusan
diwakili oleh keluarga terdekat tapi bila keluarga juga tidak hadir maka keputusan
tindakan medik dapat dilakukan tanpa adanya persetujuan. Demikian juga bagi
pasien yang tidak dapat mengerti seperti anak atau yang belum dewasa maka
informed consent dapat diwakili oleh orang tua demikian juga bagi pasien cacat
mental.

KEPENTINGAN INFORMED CONSENT BAGI DOKTER


1.
2.
3.
4.
5.

Membantu lancarnya tindakan kedokteran


Mengurangi efek samping dan komplikasi yang mungkin terjadi.
Mempercepat pemulihan dan penyembuhan penyakit.
Meningkatkan mutu pelayanan.
Melindungi dokter dari kemungkinan tuntutan hukum

Peran Rumah Sakit dalam kaitan dengan infomed consent adalah sangat
penting karena formulir biasanya disiapka oleh rumah sakit dan pihak rumah sakit
tidak mempunyai kewajiban legal untuk memastikan bahwa seorang pasien sudah
memberikan informed consent sebelum melakukan tindakan pre-operatif pada
suatu pembedahan,
Pengadilan memastikan bahwa kewajiban terhadap perolehan infomed
consent tersebut terletak pada dokter bedahnya, bukan pada pihak rumah sakit,
namun rumah sakit harus membuat suatu protap dalam hal ifomed consent yang
diperiksa oleh perawat sebelum dilakukan tindakan pembedahan tersebut.
Disamping infomed consent yang diberikan pada tindakan medis juga ada
infomed consent diberikan pada pasien pasien yang pulang paksa sekalipun
bahwa penjelasan sudah diberikan kepada pihak keluarga atau pasien sediri akan
bahaya dan resiko yang akan terjadi pada kasus seperti ini dapat diterapkan
dengan menandatangani suatu surat pernyataan oleh pasien ataupun
keluarganya, bahwa ia akan menanggung segala resiko yang mungkin timbul.