Anda di halaman 1dari 6

Fatharani Sholihat

29115154 YP 53A

Fenomena pelarangan kebebasan berserikat bagi pekerja media saat ini dirasa semakin
mengkhawatirkan. Kasus Serikat Karyawan (SEKAR) Indosiar yang terjadi pada Tahun 2010
merupakan salah satu contoh dimana industri media melakukan pengekangan terhadap pekerja
media untuk berserikat dan berorganisasi serta menyatakkan pendapatnya. Modus pelanggaran
atas hak berserikat ini dilakukan melalui berbagai macam cara, agar sikap Serikat Pekerja
melemah dan merasa takut. Seringkali SEKAR Indosiar melakukan perjuangan hak hak atas
karyawan, dari mulai kenaikan gaji, status karyawan dan hak lain melalui kegiatan pengurus
serikat pekerja. Namun memperjuangkan hak-hak yang dilindungi undang-undang itu, tidak
mudah dan di mengerti oleh pihak bersangkutan, sehingga SEKAR mengajak forum lain seperti
forum dialog dengan pihak manajemen, aksi bersama karyawan bahkan sampai dengan
audiensi ke institusi pengambil kebijakan DPR RI komisi IX selaku pemerintah dan setelah
beraudiensi dengan Depnaker RI yang hasilnya pun belum maksimal.
Upaya pemberangusan /anti berserikat pekerja media merupakan tindakan yang menurut
Undang-Undang Ketenagakerjaan bisa dikategorikan sebagai perbuatan pidana, Pasal 43 jo
Pasal 28 Undang-undang Nomor 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja atau serikat Buruh.
Pemberangusan anti serikat pekerja juga merupakan bentuk pengebirian atas hak setiap orang
untuk bebas berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat sebagaimana dijamin dalam
UUD 1945 Pasal 28E (3). Disamping itu pihak manajemen Indosiar telah melakukan beberapa
tindakan melanggar Hak Asasi Manusia (HAM), diantaranya dengan membiarkan seseorang
bekerja tanpa mendapatkan upah yang layak, dan hak-hak lain yang telah diatur dalam UU no
13 tahun 2003.
Pemerintah sebagai pengawas dunia usaha, berperan besar untuk meredakan dan menjembatani
antara perusahaan dan karyawan. Untuk menjalankan fungsinya, pemerintah harus memtakan
fakta yang diajukan dan diuji di pengadilan oleh kedua pihak. Berikut fakta tersebut :
Fakta 1:
Rasionalisasi jumlah pegawai, melakukan menutupi kerugian yang dialami oleh Indosiar sejak
tahun 2005, tidak ada pilihan lain bagi penggugat untuk melakukan langkah langkah efisien
agar tetap bertahan dalam menjalankan usaha. Salah satunya dengan melakukan rasionalisasi
jumlah pegawai untuk menutupi kerugian di lima tahun terakhir. Walaupun pada tahun 2008
terdapat profit 19,8 M dan 2009 8 M keuntungan pada tahun itu tidak dapat dibuktikan kalau
semua nominal tersebut dalam bentuk cash / fresh money, karena uang laba bersih tersebut bias
dalam bentuk petty cash / investory / investment / account receivable dari pihak ketiga.
Fakta 2:
Perihal perhitungan lembur yang tidak jelas dan pemberian upah, ini sebenarnya sudah
menjadi hal yang wajar dan biasa dalam industri media jika para pekerja (terutama yang berada
dalam departemen kreatif) akan bekerja lembur dan sering kali melewati jam kantor pada
umumnya yang memperbolehkan para karyawannya untuk pulang pada pukul 17.00, industri
media adalah industri yang selalu hidup walau hari libur dan malam hari sekalipun, dan sudah
menjadi pengetahuan umum bagi pada pekerja sebelum bekerja di industri media untuk
mengetahui hal tersebut.
Fakta 3:

Fatharani Sholihat
29115154 YP 53A

Menurut kepada Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan juga
Keputusan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor KEP100/MEN/VI/2004 Tahun 2004 tentang Ketentuan Pelaksanaan Perjanjian Kerja Waktu
Tertentu. Para karyawan dengan status PKWT tidak berhak menerima pesangon jika yang
bersangkutan mengakhiri kontraknya. Tetapi akan berbeda kasusnya jika karyawan tersebut
berstatus PKWTT.
Fakta 4: Mengenai Pengumuman Pemutusan Hubungan Kerja, merujuk ke pasal 61 UU No.13
2003 kalau perjanjian kerja dapat berakhir apabila adanya keadaan atau kejadian tertentu
yang dicantumkan dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama,
seharusnya para pekerja melihat terlebih dulu apakah mereka melanggar perjanjian yang telah
mereka sepakati tersebut atau tidak. Pengumuman melalui Keputusan Direksi tertanggal
9 Nopember 2009, No : 01A/IVMKEP/IX/09. Serta surat skorsing yang ditujukan kepada para
karyawan tertulis Selama masa skorsing atau dirumahkan sampai selesainya proses PHK,
saudara /saudari tidak diperkenankan lagi datang ke kantor atau ke tempat kerja di lingkungan
perusahaan, namun saudara / saudari tetap memperoleh upah dan hak- hak lainnya sebagai
pekerja. Akan tetapi, para karyawan tersebut faktanya tidak mendapat upah secara penuh
selama dirumahkan.
Daftar upah Para karyawan yang dikurangi oleh Indosiar dengan membuat slip gaji baru
(dengan bentuk berbeda dengan slip gaji yang biasanya diterima), padahal proses perselisihan
masih berlangsung , pihak Indosiar tetap mengurangi upah para karyawan. Faktanya para
karyawan sudah menanggapi pihak Indosiar agar membayar kekurangan akan tetapi pihak
Indosiar tetap tidak mau membayar kekurangan tersebut.
Fakta 5: Ketua Sekar Indosiar, Dicky Irawan menambahkan bahwa skorsing yang menimpa
22 orang ini bukan didasarkan pada kesalahan (pidana), Upah teman-teman pun dipotong 20
persen, pembayaran gaji dimundur. Pada pasal 95 UUK menegaskan bahwa Pengusaha yang
karena kesengajaan atau kelalaiannya mengakibatkan keterlambatan pembayaran upah,
dikenakan denda sesuai dengan persentase tertentu dari upah pekerja/ buruh, dan pemerintah
mengatur pengenaan denda kepada pengusaha dan/atau pekerja/buruh, dalam pembayaran
upah. Saat mengeluarkan surat skorsing dan melakukan skorsing terhadap 22 karyawan yang
menolak untuk diberhentikan/ di-PHK. Pihak karyawan yang tergugat menolak surat skorsing
tersebut dan meminta untuk dipekerjakan kembali dan meminta pembayaran sisa upah.
Fakta 6: Pengumuman melalui Keputusan Direksi tertanggal 9 Nopember 2009, No :
01A/IVMKEP/IX/09,
mengenai
usaha perusahaan untuk melakukan restrukturisasi
yang berakibat pada pengurangan jumlah pekerja. Perusahaan mempunyai bukti
bahwa perusahaan telah mengumumkan kepada seluruh pekerjanya bahwa keputusan tersebut
akan terjadi pada tanggal 2 Februari 2010, pengumuman untuk mengundurkan diri tersebut
sudah dapat dinilai sebagai surat peringatan,
Fakta 7: Pihak Indosiar telah melakukan tindakan diskriminatif terhadap kepesertaan
Jamsostek untuk karyawan. Yakni terdapat para karyawan yang sudah bekerja antara 5 (lima)
sampai 10 (sepuluh) tahun tidak mendapatkan kepesertaan Jamsostek, sementara karyawan
lainnya mendapat kepesertaan Jamsostek setelah bekerja selama 3 (tiga) bulan.

Fatharani Sholihat
29115154 YP 53A

Fakta 8: Terjadi tindakan-tindakan anti serikat yang dilakukan oleh pihak Indosiar diantaranya
yaitu :
a. Pihak Indosiar pada bulan Desember 2008, pada saat pertemuan di Puncak, telah
mengancam para anggota security yang telah menjadi anggota Sekar Indosiar,
akibatnya 47 (empat puluh tujuh ) orang anggota security mengundurkan diri dari
keanggotaan Sekar.
b. Penggugat melalui Adrian Ingratubun memerintahkan sesuatu yang tidak patut yaitu
memerintahkan 8 orang anggota sekar indosiar untuk tidak bergabung dengan sekar
indosiar. Semuanya merupakan anggota satpam dan Adrian menyodorkan formulir
keanggotan serikat pekerja buatan Pihak Indosiar (sekawan) yang disinyalir serikat
peker ja yang dibentuk Pihak Indosiar sebagai tandingan Sekar Indosiar.
c. Bahwa pada tanggal 13 Januari 2010 terjadi perampasan 8 formulir pendaftaran calon
anggota Sekar dari salah satu anggota sekar saat melakukan perekrutan anggota oleh
Penggugat melalui IGP Darmayuda yang didampingi 2 (dua) orang anggota security.
Fakta 9: Manajemen PT Indosiar Visual Mandiri digugat perdata oleh Sekar Indosiar karena
dianggap telah melakukan perbuatan anti berserikat. Pihak manajemen diduga telah melakukan
penggembosan dan pelarangan berserikat terhadap anggota Sekar Indosiar. Bahkan manajemen
telah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 300 karyawannya dimana 90
persen (yang di-PHK) adalah anggota Sekar Indosiar.
Fakta 10: Tidak ada dasar hukum PHK dari Manajemen Indosiar dengan membuat Program
Pengumuman Pengunduran diri Secara Terhormat, seperti yang telah diumumkan oleh
Manajemen pada tanggal 2 dan 3 Februari 2010, yang ditanda tangani oleh Triandy Suyatman
dan Harry Pramono selaku Direksi Indosiar. Menurut Ahli Perburuhan, Dosen Universitas
Atmadjaja, Surya Chandra: hampir mustahil ada PHK menurut Undang-Undang
Ketenakerjaan No. 13 tahun 2003. Kalaupun ada PHK sesuai dengan UU Ketenakerjaaan
adalah karena; satu, karyawan itu sendiri mengundurkan diri; dua, karyawan itu sendiri habis
masa kontraknya; tiga, karyawan yang meninggal dunia; dan empat, karyawan yang pensiun.
Diluar itu hampir mustahil ada PHK.
Berdasarkan fakta-fakta yang dijabarkan diatas setidaknya ada lima masalah utama yang
menjadi inti dari perselisihan ini, berikut analisis nya:
Pertama, Manajemen PT Indosiar Visual Mandiri (IVM) tidak dapat membuktikan adanya
kerugian selama masa 2 (dua) tahun terakhir secara berturut-turut sebagaimana bunyi Pasal 164
UU No. 13 Tahun 2003.
Menurut UU No. 13 Pasal 164 Tahun 2003 ayat 1, menyatakan bahwa pengusaha dapat
melakukan pemutusan hubungan kerja yang disebabkan perusahaan mengalami kerugian, dan
menurut ayat 2, kerugian tersebut harus dibuktikan dengan laporan keuangan 2 (dua) tahun
terakhir oleh akuntan publik independen.
Dalam persidangan yang didasarkan saksi sdr Desman FL Tobing , SE, AK, BAP sebagai
akuntan publik yang mengaudit Indosiar secara terang menyatakan:

Fatharani Sholihat
29115154 YP 53A

Bahwa sejak tahun 2008 Indosiar memperoleh keuntungan. Bahwa pada tahun 2008
memperoleh untung/ laba 5 milyar dan pada tahun 2009 memperoleh untung/ laba 4.6 milyar ;
".
Akan tetapi, saat ahli memberi keterangan, ahli diusir dari persidangan oleh Ketua Majelis
Hakim Judex , maka terbukti tidak ada satu katapun dari ahli dipertimbangkan oleh Judex Facti,
karena auditor independen diusir dari persidangan dan tidak adanya pertimbangan yang
menyatakan bahwa perusahaan tersebut dalam keadaan rugi atau untung, maka seharusnya
hakim tidak dapat membuat keputusan karena belum adanya bukti yang menyatakan bahwa
perusahaan tersebut rugi atau untung.
Kedua, Menurut, UU No. 2 Tahun 2004 tentang PENYELESAIAN PERSELISIHAN
HUBUNGAN INDUSTRIAL, pasal 96 berbunyi : ( 1) . Apabila dalam persidangan pertama,
secara nyata - nyata pihak pengusaha terbukti tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 155 ayat (3) Undang- Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan, Hakim Ketua Sidang harus segera menjatuhkan Putusan Sela berupa perintah
kepada pengusaha untuk membayar upah beserta hak- hak lainnya yang biasa diterima pekerja
/ buruh yang bersangkutan. Maka dari itu, hakim harus meminta PT. Indosiar Visual Mandiri
untuk membayar kekurangan upah.
Jika Putusan Sela sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) di atas tidak juga dilaksanakan oleh
pengusaha, Hakim Ketua Sidang memerintahkan Sita Jaminan dalam sebuah Penetapan
Pengadilan Hubungan Industrial.
Ketiga, adanya dugaan Union Busting yang dilakukan PT.IVM harus didasarkan kepada
bukti dan saksi yang kuat, dan bukti ini harus dapat dibuktikan dalam proses mediasi atau
persidangan. Perusahaan harus mampu menjelaskan sejelas-jelasnya apakah PHK yang
dilakukan yang pada faktanya 90% yang di PHK adalah anggota dan pengurus serikat kerja,
memang murni karena penilaian performa atau memang ada dugaan Union Busting.
Mengenai diperbolehkan atau tidaknya satu perusahaan memiliki dua serikat, maka yang harus
diperhatikan perusahaan adalah Pasal 1 angka 21 jo Pasal 116 ayat (1) dan (2) UU No. 13
Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (UUK), perjanjian kerja bersama adalah perjanjian
yang merupakan hasil perundingan atau hasil musyawarah antara serikat pekerja/serikat
buruh atau beberapa serikat pekerja/serikat buruh yang tercatat pada instansi yang
bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan dengan pengusaha, atau beberapa pengusaha
atau perkumpulan pengusaha yang memuat syarat-syarat kerja, hak dan kewajiban kedua
belah pihak. Disebutkan dengan jelas dalam Pasal 118 UUK bahwa dalam 1 (satu) perusahaan
hanya dapat dibuat 1 (satu) perjanjian kerja bersama yang berlaku bagi seluruh pekerja/buruh
di perusahaan.
Apabila suatu perusahaan memiliki cabang, maka ketentuan mengenai Perjanjian Kerja
Bersama merujuk pada Pasal 13 Permenakertrans No. PER.16/MEN/XI/2011 Tahun 2011
tentang Tata Cara Pembuatan dan Pengesahan Peraturan Perusahaan serta Pembuatan dan
Pendaftaran Perjanjian Kerja Bersama (Kepmenakertrans 16/2011) pada ayat 2 Dalam hal
perusahaan yang bersangkutan memiliki cabang, dibuat PKB induk yang berlaku di semua
cabang perusahaan serta dapat dibuat serikat turunan yang berlaku di masing-masing cabang

Fatharani Sholihat
29115154 YP 53A

perusahaan. Maka dari penjelasan diatas, jelas bahwa tindakan PT. IVM membuat serikat
tandingan yaitu SEKAWAN, jelas melanggar ketentuan yang ada dan berpotensi memancing
kericuhan konflik internal yang lebih jauh. Pembentukan yang diizinkan adalah serikat turunan
yang lahirnya berasal dari Serikat kerja induk, sesuai dengan penjelasan di atas. Selain itu,
serikat kerja tidak dapat dibentuk atas dasar keinginan manajemen UU 13 2003 butir 17 dan
UU 21 tahun 2000 tentang pengertian serikat kerja : Serikat pekerja/ serikat buruh adalah
organisasi yang dibentuk dari, oleh, dan untuk pekerja/ buruh baik di perusahaan maupun di
luar perusahan
Keempat, Berdasarkan ketentuan pasal 2 ayat (3) dan ayat (4) ayat (1) dan ayat (2) PP No. 14
Tahun 1992, bahwa pengusaha (yang telah memenuhi syarat) wajib mengikutsertakan tenaga
kerjanya (karyawan) dalam program-program jaminan sosial tenaga kerja yang
diselenggarakan oleh badan penyelenggara. Maka dari itu, pihak Indosiar seharusnya
mengurus kepesertaan Jamsostek terhadap seluruh karyawannya.
Jika perusahaan tidak ikut/tidak mengikutsertakan tenaga kerjanya dalam Program Jamsostek,
maka selain diancam dengan sanksi hukuman kurungan (penjara) selama-lamanya 6 (enam)
bulan atau denda setinggi-tingginya Rp50 juta (pasal 29 ayat [1] UU No.3 Tahun 1992)
(1) Barang siapa tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1);
Pasal 10 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3); Pasal 18 ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan
ayat (5); Pasal 19 ayat (2); Pasal 22 ayat (1); dan Pasal 26, diancam dengan hukuman
kurungan selama-lamanya 6 (enam) bulan atau denda setinggi tingginya Rp. 50.000.000,(lima puluh juta rupiah).
Juga kemungkinan dikenakan sanksi administratif berupa pencabutan izin usaha (pasal 47
huruf a PP No.14 Tahun 1992)
Tanpa mengurangi ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 Undang-undang
nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja, maka: Pengusaha yang tidak
memenuhi ketentuan sebagaimna dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3), Pasal 4, Pasal 5 ayat (1),
Pasal 6 ayat(2), Pasal 8 ayat (2), Pasal 18 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3), dan Pasal 19 serta
Pasal 20 ayat (1), dan telah diberikan peringatan tetapi tetap tidak melaksanakan
kewajibannya dikenakan sanksi administratif berupa pencabutan ijin usaha.
Kelima, Terjadi tindakan-tindakan anti serikat yang dilakukan oleh pihak Indosiar Hal ini
bertentangan dengan Pasal 28 mengenai Perlindungan hak berorganisasi yaitu Siapapun
dilarang menghalang-halangi atau memaksa pekerja/buruh untuk membentuk atau tidak
membentuk,menjadi pengurus atau tidak menjadi pengurus, menjadi anggota atau tidak
menjadi anggota dan/atau menjalankan
atau tidak menjalankan kegiatan serikat pekerja/serikat buruh dengan cara:
a. melakukan pemutusan hubungan kerja, memberhentikan sementara, menurunkan jabatan,
atau melakukan mutasi;

Fatharani Sholihat
29115154 YP 53A

b. tidak membayar atau mengurangi upah pekerja/buruh;


c. melakukan intimidasi dalam bentuk apapun;
d. melakukan kampanye anti pembentukan serikat pekerja/serikat buruh.