Anda di halaman 1dari 11

Tinjauan pustaka

Pandangan Kritis Masyarakat Sosial Mengenai Tindakan


Euthanasia
Maria Lorensia. 102013469. B4
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 6 Jakarta 11510. Telephone: (021)5694-2051. Email: marialorensia31@gmail.com

Abstrak
Euthanasia diartikan membiarkan seseorang mati dengan mudah dan baik. Setiap masyarakat
memiliki sudut pandang yang berbeda-beda tentang euthanasia. Demikian halnya juga
dengan ketentuan hukum yang berlaku pada setiap tempat tentang euthanasia juga berbeda.
Masyarakat dewasa ini untuk dituntut untuk berpikir kritis mengenai tindakan euthanasia.
Masyarakat juga diharapkan mampu menelaah lebih lanjut mengenai apa yang telah diterima
sehingga mampu untuk mendapatkan suatu sudut pandang kritis dengan tidak menutup
kemungkinan untuk menerima gagasan lain dengan terbuka tentang euthanasia tersebut.
Kata kunci: euthanasia, berpikir kritis

Abstract
Euthanasia means let someone die easily and well. Each people has a different perspective
on euthanasia. Likewise with applicable law in any place on euthanasia also different. Now
people are required to think critically about the action of euthanasia. People are also
expected to examine more about what has been received to be able to gain a critical
perspective not close the possibility to accept other ideas openly about the euthanasia.
Key words: Euthanasia, critical thinking

Pendahuluan
1

Salah satu masalah dalam bidang kedokteran/kesehatan yang berkaitan dengan aspek
hukum yang selalu aktual dibicarakan dari waktu ke waktu adalah euthanasia. Euthanasia bila
ditarik ke belakang boleh dikatakan merupakan masalah yang sudah ada sejak kalangan
kesehatan menghadapi penyakit yang tak tersembuhkan, sementara pasien sudah dalam
keadaan merana dan sekarat. Dalam situasi demikian, tidak jarang pasien memohon agar
dibebaskan dari penderitaannya dan tak ingin diperpanjang hidupnya lagi atau di lain keadaan
pada pasien yang sudah tidak sadar, keluarga tidak tega melihat pasien yang penuh
penderitaan menjelang ajalnya dan minta kepada dokter untuk tidak meneruskan pengobatan
dan bila perlu meminta obat yang mempercepat kematiannya. Dari sinilah istilah euthanasia
muncul, yaitu melepas kehidupan seseorang agar terbebas dari penderitaan, atau mati secara
baik (mati enak). 1
Disisi lain euthanasia menjadi suatu permasalahan etis dalam masyarakat sosial
2

karena menimbulkan berbagai pandangan.

Semakin meningkatnya kesadaran akan hak

menentukan nasib sendiri (self determination) di banyak negara mulai timbul gerakan dan
penghargaan atas hak seseorang untuk mengakhiri hidup. Di Indonsia sendiri, kita sebagai
dokter harus mengacu pada Ketentuan Kitab Undang-undang Hukum Pidana yang mengatur
seseorang dapat dipidana atau dihukum jika ia menghilangkan nyawa orang lain dengan
sengaja ataupun karena kurang hati-hati.

Selain Kitab Undang-undang Hukum Pidana

mengatur seseorang dalam melakukan tindakan euthanasia, dalam agama, kode etik
kedokteran dan hati nurani juga mengaturnya. Karena itu, masyarakat harus memiliki
pandangan kritis untuk mengembangkan diri termasuk dalam menerima gagasan dan sudut
pandang baru dari pihak lain mengenai euthanasia dan maupun tindakan lainnya.

Isi dan Pembahasan


A. Skenario B
Pada awal April 1998, di Pusat Medis Adven Glendale California, diduga puluhan
pasien telah ditolong oleh dr. Jack Kevorkian untuk melepas beban hidup mereka di
RS tersebut. Kevorkian beragumen bahwa apa yang dilakukannya adalah sesuatu yang
mulia, sebab ia menolong para pasien melepas ajal mereka. Para penentang beragumen
bahwa apa yang dilakukan Kevorkian tidak lain dari pembunuhan
2

B. Identifikasi Istilah
Tidak ada.

C. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang dibahas pada makalah ini adalah:
1. Pasien dalam keadaan terminal telah ditolong oleh dr. Jack Kevorkain untuk
melepas beban hidup mereka.
2. Menurut dr. Jack Kevorkian tindakan yang dilakukan adalah tindakan yang mulia, tapi
menurut penentang tindakan tersebut adalah pembunuhan.
3. Menurut kelompok kami tindakan ini tidak boleh dilakukan di Indonesia karena
melanggar Undang-Undang, Kode Etik Kedokteran, dan hati nurani.

D. Analisis Masalah (Mind Map)

ontologi
Fisiologis

epistemologi
Axiologi/etika

Pendekatan Holistik

Seorang dokter yang mengakhiri hidup pasien terminal

Logis

Linguistik

Kesesuaian/ketidak sesuaian

Ketetapan alur argumen dan narasi

Pendekatan Spesialistik:
- medis
- legal
- yuridis

E. Pembahasan Analisis Masalah


Dalam berbahasa dan berkomunikasi ada dua cara pandang yang dapat kita
lakukan untuk menganalisis aspek-aspek kehidupan yang mempengaruhi diri seseorang,
yaitu pendekatan holistik dan pendekatan spesialistik
a. Pendekatan Holistik
Pendekatan Holistik (whole=menyeluruh) adalah sebuah cara pandang yang
memperhatikan dan mempertimbangkan semua aspek kehidupan mempunyai
pengaruh terhadap munculnya gagasan kesehatan sesorang. Dalam medis, pendekatan
holistik ini akan digunakan sebagai metode untuk melakukan pemeriksaan terhadap
keluhan, menegakkan diagnosa, menentukan terapi dan menyusun tindakan dukungan
(saran-saran) agar kelangsungan proses penyembuhan dapat berjalan dengan baik.

Terdapat tiga jenis pendekatan holistik yang ada, yaitu pendekatan holistik
berdasarkan fisiologis, logis, dan linguistik.
1. Fisiologis
Pendekatan holistik berdasarkan fisiologis ini artinya adalah pendekatan
berdasarkan kemampuan seseorang dalam melakukan aktivitas sehari-hari, seperti
pencapaian kesehatan, memelihara nutrisi, berat badan ideal, pola tidur dan pola
makan, terhindar dari ketergantungan obat dan alkohol atau rokok serta secara
umum melakukan kebiasan hidup positif. 4 Pada pendekatan holistik ini landasan
pemikirannya saling terkait secara utuh dan tidak terpisah. Ada tiga dimensi dasar
dalam setiap aktivitas berbahasa dan kegiatan mengetahui sesuatu, yaitu yang
merupakan landasan pemikiran yang saling berkaitan yang terdiri dari:
-

Ontologi (ontos=sesuatu/realita)
Ontologi adalah studi mengenai sesuatu yang ada dan tidak ada, atau dengan
kata lain, mempelajari menganai realitas. Kata ontologi berasal dari bahasa
4

Yunani dan berarti ilmu mengenai sesuatu yang ada atau prinsip umum
mengenai sesuatu yang ada ontologi disebut sebagai filsafat pertama karena
tidak mungkin berfilsafat hingga sifat dari realitas ditentukan. 5 Dari skenario
yang dibahas, kita dapat menentukan bagian yang ontologi/realita itu adalah
pasien dalam keadaan terminal telah ditolong oleh dr. Jack Kevorkian untuk
melepas beban hidup mereka.

Epistemologi (episteme=pengetahuan)
Pertanyaan yang dikelompokkan pada bidang epistemologi berfokus kepada
bagaimana kita mencari tahu dan apa yang dianggap sebagai pengetahuan.

Dari skenario yang dibahas, kita dapat menentukan bagian dari epistemologi
adalah pada saat kita mengetahui bahwa dr. Jack Kevorkian beranggapan
bahwa tindakan yang dilakukannya merupakan tindakan yang mulia, tapi
menurut penentang tindakan tersebut adalah pembunuhan.
-

Axiologi/Etika (Axioma=prinsip; ethos=prinsip dasar tindakan)


Pertimbangan akhir yang akan kita bahas adalah aksiologi, atau pertanyaan
mengenai posisi nilai dalam penelitian dan teori.

Pada pertimbangan ini

pertanyaan yang dapat kita ajukan adalah apakah yang dapat kita lakukan.
Dari skenario yang dibahas, kita dapat menentukan bagian dari axiologi/etika
ketika tindakan yang dilakukan dr. Jack Kevorkian tidak melanggar UU,
agama, kodeki dan hati nurani serta tindakan tersebut dapat dikatakan benar.
2. Logis
Pendekatan holistik yang berdasarkan atas logis disini berarti kita menaruh
perhatian pada kepentingan logis yang ada. Berpikir logis/logika dapat
didefiniskan sebagai pengetahuan dan kecakapan untuk berpikir lurus (tepat).
Sebagai ilmu pengetahuan, logika merupakan kumpulan pengetahuan yang
tersusun secara sistematis sehingga membentuk suatu kesatuan serta memberikan
5

penjelasan tentang metode-metode dan prinsip-prinsip pemikiran yang tepat. Agar


dapat berpikir secara tepat, logika menyelidiki, merumuskan dan menerapkan
hukum-hukum pemikiran yang tepat. Jelas bahwa logika bukanlah teori belaka,
melainkan juga sebagai suatu kecakapan. Sebagai kecakapan, logika merupakan
suatu keterampilan untuk menerapkan hukum-hukum pemikiran yang tepat itu
dalam praktik. Kecakapan itu tampak secara nyata, terutaman dalam kemampuan
untuk membangun argumen-argumen sendiri secara tepat dan mengevaluasi
argumen-argumen orang lain. 6
3. Linguistik
Linguistik didefinisikan sebagai ilmu bahasa. Secara umum, linguistik
adalah kajian berkaitan bahasa manusia yang perlu dilaksanakan secara ilmiah,
misalnya melalui hipotesis, membuat analisa, pemerhatian dan penelitian bahasa
secara empiris dan terkawal. Kajian dibuat berdasarkan apa yang kita lihat dan
dengar. Seseorang yang mempunyai kecerdasan linguistik dapat berbahasa dengan
baik dan benar. 7 Linguistik dalam pendekatan holistik ini mempunyai arti bahwa
seseorang mampu beragumentasi dengan alur yang tepat sesuai dengan apa yang
telah di dengarnya. Dalam hal ini berarti seseorang mampu menyampaikan
dengan bahasanya sendiri secara tepat apa yang telah dia terima.
b. Pendekatan Spesialistik
Pendekatan spesialistik atau paternalistik ini berarti pendekatan yang lebih
khusus atau spesifik dengan ruang lingkup dan kegunaannya yang lebih khusus.
Pendekatan spesialistik ini terbagi menjadi tiga, yaitu:
-

Medis
Masalah euthanasia termasuk masalah yang sering diperdebatkan. Boleh
atau tidak boleh, benar atau salah melakukan euthanasia dari segi etika
kedokteran masih menjadi sering dipermasalahkan. Euthanasia berasal dari kata
Yunani euthanatos, yang terbentuk dari kata eu dan thanatos yang masingmasing berarti baik dan mati. Jadi, euthanasia artinya membiarkan seseorang
mati dengan mudah dan baik. Kata ini didefinisikan sebagai pembunuhan
6

dengan belas kasih terhadap orang sakit, luka-luka, atau lumpuh yang tidak
memiliki harapan sembuh dan didefinisikan pula sebagai pencabutan nyawa
dengan sebisa mungkin tidak menimbulkan rasa sakit. Menurut istilah kedokteran
itu sendiri, euthanasia berarti tindakan agar kesakitan atau penderitaan yang
dialami seorang pasien diperingan, yakni dengan jalan mempercepat kematian.

8,9

Dilihat dari cara dilaksanakan, euthanasia dapat dibedakan atas euthanasia pasif
dan euthanasia aktif. Euthanasia pasif adalah perbuatan menghentikan atau
mencabut segala tindakan atau pengobatan yang perlu untuk mempertahankan
hidup manusia, sedangkan eutahanasia aktif adalah perbuatan yang dilakukan
secara medik melalui intervensi aktif oleh seorang dokter dengan tujuan untuk
mengakhiri hidup manusia. 10
-

Legal
Euthanasia sendiri tidak hanya dapat terjadi jika pasien dalam keadaan
terminal tetapi juga pasien dewasa dengan keadaan sadar dapat saja meminta
untuk dilakukan euthanasia ketika dia tahu bahwa dia akan menjalani pengobatan
panjang dan akan mengalami penderitaan atau tersiksa oleh rasa sakit dan
kemungkinan untuk hidupnya kecil. Euthanasia di larang di Indonesia
sebagamaimana di Inggris. Mereka menentang setiap gerakan ke arah legalisasi
euthanasia. Pelanggaran terhadap tindakan euthanasia dapat menimbulkan
persoalan hukum. 11

Yuridis
Kitab Undang-undang Hukum Pidana di Indonesia yang mengatur
seseorang dapat dipidana atau dihukum jika ia menghilangkan nyawa orang lain
dengan sengaja ataupun karena kurang hati-hati. Ketentuan pelanggaran pidana
yang berkaitan langsung dengan euthanasia aktif terdapat pada pasal 344 KUHP.
Pasal 344 KUHP: Barang siapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan
orang itu sendiri, yang disebutnya dengan nyata dan dengan sungguh-sungguh,
dihukum penjara selama-lamanya dua belas tahun. Ketentuan ini harus diingat
kalangan kedokteran sebab walaupun terdapat beberapa alasan kuat untuk
membantu pasien/keluarga pasien mengakhiri hidup atau memperpendek hidup
pasien, ancaman hukuman ini harus dihadapinya. 1
7

Untuk jenis euthanasia aktif maupun pasif tanpa permintaan, beberapa


pasal yang perlu diketahui dokter adalah pasal 338 KUHP, 340 KUHP, 359
KUHP. Pasal 338 KUHP: Barang siapa dengan sengaja menghilangkan jiwa
orang lain, dihukum karena makar mati, dengan penjara selama-lamanya lima
belas tahun. Sedang pasal 340 berisi: Barang siapa dengan sengaja dan
direncanakan lebih dahulu menghilangkan jiwa orang lain, dihukum, karena
pembunuhan direncanakan (moord) dengan hukuman mati atau penjara selamalamanya seumur hidup atau penjara sementara selama-lamanya dua puluh tahun.
Dan untuk pasal 359 KUHP berisi: Barang siapa karena salahnya menyebabkan
matinya orang dihukum penjara selama-lamanya lima tahun atau kurungan
selama-lamanya satu tahun. 1
Selanjutnya beberapa pasal yang dapat dikemukakan sebuah ketentuan
hukum untuk mengingatkan kalangan kesehatan untuk berhati-hati menghadapi
kasus euthanasia adalah pasal 345 KUHP yang berisi: Barang siapa dengan
sengaja menghasut orang lain untuk membunuh diri, menolongnya dalam
perbuatan itu, atau memberikan daya upaya itu jadi bunuh diri, dihukum penjara
selama-lamanya empat tahun. Pasal ini mengingatkan dokter, jangankan
melakukan euthanasia, menolong atau memberi harapan ke arah perbuatan itu
saja pun sudah mendapat ancaman pidana. 1
Dalam Kode Etik Kedokteran, pasal-pasal yang dapat memberi gambaran
tentang tindakan euthanasia ada pada pasal 1 dan pasal 7d. Pasal 1 berisi Setiap
dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah dokter,
antara lain: Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat
pembuahan. Sedangkan pasal 7d berisi Setiap dokter harus senantiasa
mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk insani. 12

c. Manusia Sebagai Individu yang Berpikir Kritis dan Belajar


Berpikir kritis tidak dilahirkan tetapi di bentuk. Disiplin berpikir kritis adalah
kunci menjadi seorang pemikir kritis. Belajar berpikir kritis bukan menyangkut apa
tetapi tentang bagaimana materi, informasi, pengetahuan yang di peroleh. Intinya
8

adalah bagaimana seseorang berpikir hingga mendapat pengertian dan makna yang
paling tinggi. Berpikir kritis merupakan suatu gagasan terbuka. Dalam belajar
berpikir kritis, ada beberapa situasi yang harus diperhatikan, antara lain mengambil
keputusan, meyakinkan, analisis peristiwa, tinjau argumen orang lain dan evaluasi
program.13
Berpikir kritis merupakan suatu tindakan yang dilakukan dengan sadar karena
di pacu oleh suatu keadaan yang membingungkan sehingga diri kita terpacu untuk
mencari sudut pandang lain dalam pemaknaan sebuah masalah dengan memikirkan
hal tersebut lebih luas dengan melibatkan proses evaluasi suatu masalah dengan
menggunakan nalar yang tepat, untuk membuat keputusan dan mengambil tindakan
yang tepat.13
Meninjau dari skenario B, sudah menjadi kewajiban bagi masyarakat dewasa
ini untuk berpikir kritis mengenai tindakan euthanasia. Bukan hanya begitu saja
menerima pandangan, materi, informasi, dan pengetahuan yang telah ada, namun
menelaah lebih lanjut mengenai apa yang telah diterima sehingga mampu untuk
mendapatkan suatu sudut pandang kritis dengan tidak menutup kemungkinan untuk
menerima gagasan lain dengan terbuka. Dengan demikian, lingkungan dan
pengetahuan dapat dimanfaatkan secara maksimal sebagai pemberi pengalaman
untuk mengembangkan diri.
F. Hipotesis
Hipotesis berdasarkan hasil diskusi mengenai skenario B bahwa tindakan yang
dilakukan oleh dr. Jack Kevorkian adalah tindakan yang salah.

G. Sasaran Pembelajaran
Adapun sasaran pembelajaran berdasarkan skenario dan hipotesis yang ada adalah
euthanasia, pandangan tentang euthanasia menurut aspek medis, legal dan yuridis, serta
penerimaan euthanasia dilihat dari sudut pandang budaya masyarakat berdasarkan
pengetahuan dan pandangan kritis.
9

Kesimpulan
Berdasarkan skenario B, dapat disimpulkan bahwa masyarakat memiliki sudut
pandang yang berbeda beda terhadap tindakan euthanasia yang dilakukan oleh dr. Jack
Kevorkian. Berdasarkan Kode Etik Kedokteran pada pasal 1 dan 7d dan Undang-undang
Negara Indonesia pasal 344 KUHP, kita tahu bahwa secara hukum euthanasia tidak
diperbolehkan untuk dilakukan di Indonesia. Sebagai prosesnya, setiap pihak yang bertujuan
akan melakukan euthanasia harus memahami terlebih dahulu tujuan dasarnya, yaitu
berdasarkan tujuan dari hati nuraninya dan berpikir kritis.

Daftar Pustaka
1. Hasanah J, Amir A. Etika kedokteran & hukum kesehatan. Edisi 3. Jakarta:
EGC;1999.h.104-9.
2. Bertens K. Keprihatinan moral. Yogyakarta: Kanisus;2003.h.130
3. Sukanta PO. Akupresur dan minuman untuk mengatasi gangguan pencernaan. Jakarta: PT.
Elex Media Komputindo;2001.h.3-4.
4. Morton PG. Panduan pemeriksaan kesehatan. Edisi 3. Jakarta: EGC;2003.h.xiv.
5. West Richard, Turner LH. Pengantar teori komunikasi analisis dan aplikasi. Edisi 3.
Jakarta: Penerbit Salemba Humanika;2008.h.55-6.
6. Maran RR. Pengantar logika. Jakarta: Grasindo;2007.h.4.
7. Mat Naffi. Teknik mengajar KOMSAS komponen sastera. Serdang: PTS;2005.h.135-6
8. Ebrahim AFM. Kloning, euthanasia, transfusi darah, transparansi organ, dan eksperimen
pada hewan. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta;2001.h.148.
10

9. Yanto MA. Ajaklah hatimu bicara. Yogyakarta: LkiS; 2007.h.83.


10. Hanafiah MJ. Etika kedokteran dan hukum kesehatan. Edisi 3. Jakarta: EGC;1999..h.107
11. Hinchliff Sue. Kamus keperawatan. Edisi 17. Jakarta: ECG;1997.h.163
12. Santoso Hanna, Ismail Andar. Memahami krisis lanjut usia. Uraian medis & pedagosis
pastoral. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.h.90.
13. A b r o r i C . Berpikir kritis dalam profesi dokter. Jember: Fakultas Kedokteran

Universitas Jember;2008.h.44.

11