Anda di halaman 1dari 14

No.

ID dan Nama Peserta :


dr. Nurul Azizah
No. ID dan Nama Wahana :
RS Dr. Sobirin Kabupaten Musi Rawas
Topik :
Appendisitis perforasi
Tanggal (kasus) :
11 Desember 2015
Nama Pasien :
Tn. H
No. RM : 00114801
Tanggal Presentasi :
Pendamping : dr. Evi Damaiyanti
Tempat Presentasi :
RS Dr. Sobirin Kabupaten Musi Rawas
Objektif Presentasi :
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan Pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus
Bayi
Anak
Remaja Dewasa Lansia Bumil
Deskripsi :
Laki-laki, usia 41 tahun, datang dengan keluhan nyeri perut.
Tujuan :
Mengetahui diagnosis dan tata laksana appendisitis perforasi
Bahan
Tinjauan
Riset
Kasus
Audit
Bahasan :
Pustaka
Cara
Presentasi dan
Diskusi
E-mail
Pos
Membahas :
Diskusi
Data Pasien :
Nama Klinik :

Nama : Tn. H

No. Registrasi : 00114801

Telp :
Terdaftar sejak :
RS Dr. Sobirin Kabupaten Musi Rawas
Data Utama untuk Bahan Diskusi :
1. Diagnosis / Gambaran Klinis : Seorang aki-laki, usia 41 tahun, datang dengan keluhan
nyeri perut sejak + 5 jam SMRS.
2. Riwayat Pengobatan : Tidak ada.
3. Riwayat Kesehatan / Penyakit : Pasien baru pertama kali sakit seperti ini
4. Riwayat Keluarga : Tidak ada yang sakit seperti ini pada keluarganya.
5. Riwayat Pekerjaan : Wiraswasta.
Daftar Pustaka :
1. Wim de jong, Sjamsuhidayat.R, 1997. Gawat Abdomen, dalam Buku ajar Ilmu Bedah;
Jakarta : EGC. p221-239
2. Arief M, Suprohaita, Wahyu.I.K, Wieiek S. 2000. Bedah Digestif, dalam Kapita Selekta
Kedokteran. Ed:3; Jilid: 2. Jakarta : Media Aesculapius FKUI. p 302-321
3. Philips Thorek. 1997. Surgical Diagnosis,Toronto University of Illnois College of
Medicine,third edition. Toronto.
4. Schwartz, Shires, Spencer. 1989. Principles of Surgery, sixth edition
Hasil Pembelajaran :
Mengetahui diagnosis dan tata laksana appendisitis perforasi.

Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio


1. Subjektif :

Keluhan Utama : Nyeri perut sejak + 5 jam SMRS

Riwayat Penyakit Sekarang


Keluhan nyeri perut dimulai sekitar 5 hari yang lalu, pasien merasakan nyeri
perut awalnya di ulu hati. Kemudian nyeri perut terasa beralih di bagian kanan bawah.
Demam (+) naik turun tidak terlalu tinggi, mual (+), muntah (-), diare (+) tiga kali
sehari. Pasien masih bisa menahan sakit.
Satu hari SMRS, nyeri perut dirasakan sangat hebat, di seluruh bagian perut,
bertambah nyeri bila disentuh. Pasien tidak bisa berjalan, demam (+) tinggi, mual (-),
muntah (-), BAB (-).

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien tidak pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya.

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada yang memiliki gejala seperti pasien.

Riwayat Lingkungan
Pasien merupakan seorang wiraswasta yang bekerja di bengkel miliknya
sendiri. Tidak ada karyawan yang mengalami hal serupa dengan pasien.

Riwayat Kebiasaan
Pasien tidak pernah telat makan, makanan pedas/asam, jengkol/petai. Pasien
juga tidak merokok.

2. Objektif
Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : Tampak sakit berat, gelisah
Kesadaran

: Kompos mentis

Tekanan darah :110/70 mmHg


Frekuensi nadi : 108x / menit
Frekuensi napas : 20x/ menit
Suhu

: 380 C

Status Generalis
Kulit
Warna

: Sawo matang, tidak pucat, tidak ikterik.

Kepala
Ekspresi wajah

: Normal

Simetris wajah

: Simetris

Rambut

: Hitam, lebat, tidak mudah dicabut

Deformitas

: Tidak terdapat deformitas

Mata
Bentuk
Gerakan
Kelopak
Pupil

: Simetris
: Normal
: Hematom -/: OD dan OS isokor, refleks cahaya langsung +/+, tidak langsung

+/+
Konjungtiva

: Anemis -/-

Telinga
Daun telinga

: Normal

Liang telinga

: Tidak terdapat serumen, darah (-)

Gendang telinga : Intak


Pendengaran

: Normal

Hidung
Bagian luar

: Normal, tidak terdapat deformitas

Septum

: Terletak di tengah dan simetris

Mukosa hidung

: Hiperemis (-/-)

Cavum nasi

: Perdarahan (-/-)

Mulut dan tenggorok


Bibir

: Pucat (-), Sianosis (+)

Gigi geligi

: Jumlah lengkap.

Langit- langit

: Normal

Lidah

: Warna kemerahan , papil (+)

Faring

: Tenang , tidak hiperemis

Leher
JVP

: 5-2 mmHg

Tumor

: Tidak terdapat tumor

Kelenjar tiroid

: Tidak membesar

Trakea

: Terletak ditengah

Kelenjar getah bening


Leher

: Tidak terdapat pembesaran kgb di leher

Aksila

: Tidak terdapat pembesaran kgb di aksila

Inguinal

: Tidak terdapat pembesaran kgb di inguinal

Thorax
Cor : Inspeksi
Palpasi

: Ictus cordis tak terlihat


: Ictus cordis pada ICS 4 garis midklavikularis kiri

Perkusi

: Redup

Batas atas

: ICS 2 garis parasternal kiri

Batas kanan

: ICS 3-5 garis parasternal kanan

Batas kiri

: ICS 5, 1 cm medial garis midclavicular kiri

Auskultasi

: S1 S2 reguler, murmur (-), gallop (-)

Pulmo : Inspeksi

: Pergerakan nafas simetris.


Palpasi

: Vocal fremitus sama di kedua hemithorax

Perkusi

: Sonor di kedua hemithorax

Auskultasi

: Suara napas vesikuler di kedua hemithorax

Abdomen
Inspeksi
Palpasi

: Abdomen simetris
: defans (+), nyeri tekan (+), nyeri lepas (+), di seluruh kuadran, hepar/lien

sulit di nilai
Perkusi
: Timpani.
Auskultasi : Bising usus (+) melemah
Ekstremitas atas :

Akral hangat (+/+), Oedem (-/-), Deformitas (-/-), Hematom (-/-), Nyeri (-/-), CRT
<3
Ekstremitas bawah :
Akral hangat (+/+), Oedem (-/-), Deformitas (-/-), Hematom (-/-), Nyeri (-/-), CRT
<3
Pemeriksaan khusus : Psoas sign (+), obturator sign (+)

Laboratorium
Darah Rutin
Hemoglobin

13,7 g/dl

Hematokrit

42 %

Leukosit

15,9
rb/mm3

Trombosit

278 rb/mm3

3. Assesment (penalaran klinis) :


Definisi Appendisitis
Appendisitis adalah infeksi pada appendiks karena tersumbatnya lumen oleh fekalith (batu
feces), hiperplasi jaringan limfoid, dan cacing usus. Obstruksi lumen merupakan penyebab
utama Appendisitis. Erosi membran mukosa appendiks dapat terjadi karena parasit seperti
Entamoeba histolytica, Trichuris trichiura, dan Enterobius vermikularis. Penelitian Collin
(1990) di Amerika Serikat pada 3.400 kasus, 50% ditemukan adanya faktor obstruksi.
Obstruksi yang disebabkan hiperplasi jaringan limfoid submukosa 60%, fekalith 35%,
benda asing 4%, dan sebab lainnya 1%.
Patofisiologi Appendisitis
Appendisitis merupakan peradangan appendiks yang mengenai semua lapisan dinding
organ tersebut. Tanda patogenetik primer diduga karena obstruksi lumen dan ulserasi

mukosa menjadi langkah awal terjadinya Appendisitis. Obstruksi intraluminal appendiks


menghambat keluarnya sekresi mukosa dan menimbulkan distensi dinding appendiks.
Sirkulasi darah pada dinding appendiks akan terganggu. Adanya kongesti vena dan
iskemia arteri menimbulkan luka pada dinding appendiks. Kondisi ini mengundang invasi
mikroorganisme yang ada di usus besar memasuki luka dan menyebabkan proses radang
akut, kemudian terjadi proses irreversibel meskipun faktor obstruksi telah dihilangkan.
Appendisitis dimulai dengan proses eksudasi pada mukosa, sub mukosa, dan muskularis
propia. Pembuluh darah pada serosa kongesti disertai dengan infiltrasi sel radang neutrofil
dan edema, warnanya menjadi kemerah-merahan dan ditutupi granular membran. Pada
perkembangan selanjutnya, lapisan serosa ditutupi oleh fibrinoid supuratif disertai
nekrosis lokal disebut Appendisitis akut supuratif. Edema dinding appendiks menimbulkan
gangguan sirkulasi darah sehingga terjadi ganggren, warnanya menjadi hitam kehijauan
yang sangat potensial ruptur. Pada semua dinding appendiks tampak infiltrasi radang
neutrofil, dinding menebal karena edema dan pembuluh darah kongesti.
Appendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh dengan sempurna, tetapi akan
membentuk jaringan parut. Jaringan ini menyebabkan terjadinya perlengketan dengan
jaringan sekitarnya. Perlengketan tersebut dapat kembalimenimbulkan keluhan pada perut
kanan bawah. Pada suatu saat organ ini dapat mengalami peradangan kembali dan
dinyatakan mengalami eksaserbasi.
Klasifikasi Appendisitis
1. Appendisitis Akut
a. Appendisitis Akut Sederhana (Cataral Appendisitis)
Proses peradangan baru terjadi di mukosa dan sub mukosa disebabkan obstruksi. Sekresi
mukosa menumpuk dalam lumen appendiks dan terjadi peningkatan tekanan dalam lumen
yang mengganggu aliran limfe, mukosa appendiks jadi menebal, edema, dan kemerahan.
Gejala diawali dengan rasa nyeri di daerah umbilikus, mual, muntah, anoreksia, malaise,
dan demam ringan. Pada Appendisitiskataral terjadi leukositosis dan appendiks terlihat
normal, hiperemia, edema, dan tidak ada eksudat serosa.

b. Appendisitis Akut Purulenta (Supurative Appendisitis)


Tekanan dalam lumen yang terus bertambah disertai edema menyebabkan terbendungnya
aliran vena pada dinding appendiks dan menimbulkan trombosis. Keadaan ini
memperberat iskemia dan edema pada apendiks. Mikroorganisme yang ada di usus besar
berinvasi ke dalam dinding appendiks menimbulkan infeksi serosa sehingga serosa
menjadi suram karena dilapisi eksudat dan fibrin. Pada appendiks dan mesoappendiks
terjadi edema, hiperemia, dan di dalam lumen terdapat eksudat fibrinopurulen. Ditandai
dengan rangsangan peritoneum lokal seperti nyeri tekan, nyeri lepas di titik Mc Burney,
defans muskuler, dan nyeri pada gerak aktif dan pasif. Nyeri dan defans muskuler dapat
terjadi pada seluruh perut disertai dengan tanda-tanda peritonitis umum.
c. Appendisitis Akut Gangrenosa
Bila tekanan dalam lumen terus bertambah, aliran darah arteri mulai terganggu sehingga
terjadi infrak dan ganggren. Selain didapatkan tanda-tanda supuratif, appendiks
mengalami gangren pada bagian tertentu. Dinding appendiks berwarna ungu, hijau
keabuan

atau

merah

kehitaman.

Pada Appendisitis

akut

gangrenosa

terdapat

mikroperforasi dan kenaikan cairan peritoneal yang purulen.


2. Appendisitis Infiltrat
Appendisitis infiltrat adalah proses radang appendiks yang penyebarannya dapat dibatasi oleh
omentum, usus halus, sekum, kolon dan peritoneum sehingga membentuk gumpalan massa
flegmon yang melekat erat satu dengan yang lainnya.
3. Appendisitis Abses
Appendisitis abses terjadi bila massa lokal yang terbentuk berisi nanah (pus), biasanya di
fossa iliaka kanan, lateral dari sekum, retrocaecal, subcaecal, dan pelvic.
4. Appendisitis Perforasi
Appendisitis perforasi adalah pecahnya appendiks yang sudah ganggren yang menyebabkan
pus masuk ke dalam rongga perut sehingga terjadi peritonitis umum. Pada dinding appendiks
tampak daerah perforasi dikelilingi oleh jaringan nekrotik.
5. Appendisitis Kronis

Appendisitis kronis merupakan lanjutan Appendisitis akut supuratif sebagai proses radang
yang persisten akibat infeksi mikroorganisme dengan virulensi rendah, khususnya obstruksi
parsial terhadap lumen. Diagnosa Appendisitis kronis baru dapat ditegakkan jika ada riwayat
serangan nyeri berulang di perut kanan bawah lebih dari dua minggu, radang kronik
appendiks secara makroskopik dan mikroskopik. Secara histologis, dinding appendiks
menebal, sub mukosa dan muskularis propia mengalami fibrosis. Terdapat infiltrasi sel
radang limfosit dan eosinofil pada sub mukosa, muskularis propia, dan serosa. Pembuluh
darah serosa tampak dilatasi.
Gejala

Rasa sakit di daerah epigastrum, daerah periumbilikus, di seluruh abdomen atau di


kuadran kanan bawah merupakan gejala-gejala pertama. Rasa sakit ini samar-samar,
ringan sampai moderat, dan kadang-kadang berupa kejang. Sesudah empat jam
biasanya rasa nyeri itu sedikit demi sedikit menghilang kemudian beralih ke kuadran
bawah kanan. Rasa nyeri menetap dan secara progesif bertambah hebat apabila pasien
bergerak.

Anoreksia, mual, dan muntah yang timbul selang beberapa jam dan merupakan
kelanjutan dari rasa sakit yang timbul permulaan.

Demam tidak tinggi (kurang dari 38C), kekakuan otot, dan konstipasi.

Appendisitis pada bayi ditandai dengan rasa gelisah, mengantuk, dan terdapat nyeri
lokal. Pada usia lanjut, rasa nyeri tidak nyata. Pada wanita hamil rasa nyeri terasa
lebih tinggi di daerah abdomen dibandingkan dengan biasanya.

Nyeri tekan didaerah kuadran kanan bawah. Nyeri tekan mungkin ditemukan juga di
daerah panggul sebelah kanan jika appendiks terletak retrocaecal. Rasa nyeri
ditemukan di daerah rektum pada pemeriksaan rektum apabila posisi appendiks di
pelvic. Letak appendiks mempengaruhi letak rasa nyeri.

Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi pada Appendisitis akut tidak ditemukan gambaran yang spesifik dan terlihat
distensi perut.

b. Palpasi pada daerah perut kanan bawah, apabila ditekan akan terasa nyeri dan bila
tekanan dilepas juga akan terasa nyeri. Nyeri tekan perut kanan bawah merupakan
kunci diagnosa Appendisitis. Pada penekanan perut kiri bawah akan dirasakan nyeri
pada perut kanan bawah yang disebut tanda Rovsing (Rovsing Sign). Apabila tekanan
di perut kiri bawah dilepaskan juga akan terasa nyeri pada perut kanan bawah yang
disebut tanda Blumberg (Blumberg Sign).
c. Pemeriksaan rektum, pemeriksaan ini dilakukan pada Appendisitis untuk menentukan
letak appendiks apabila letaknya sulit diketahui. Jika saat dilakukan pemeriksaan ini
terasa nyeri, maka kemungkinan appendiks yang meradang terletak di daerah pelvic.
d. Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator, pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui
letak appendiks yang meradang. Uji psoas dilakukan dengan rangsangan otot psoas
lewat hiperektensi sendi panggul kanan atau fleksi aktif sendi panggul kanan,
kemudian paha kanan ditahan. Bila appendiks yang meradang menempel di m. psoas
mayor, maka tindakan tersebut akan menimbulkan nyeri. Pada uji obturator dilakukan
gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul pada posisi terlentang. Bila appendiks
yang meradang kontak dengan obturator internus yang merupakan dinding panggul
kecil, maka tindakan ini akan menimbulkan nyeri.

Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium, terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan C-reactive protein (CRP).
Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah leukosit antara 10.00018.000/mm3 (leukositosis) dan neutrofil diatas 75%, sedangkan pada CRP ditemukan
jumlah serum yang meningkat. CRP adalah salah satu komponen protein fase akut
yang akan meningkat 4-6 jam setelah terjadinya proses inflamasi, dapat dilihat
melalui proses elektroforesis serum protein. Angka sensitivitas dan spesifisitas CRP
yaitu 80% dan 90%.
b. Radiologi, terdiri dari pemeriksaan ultrasonografi (USG) dan Computed Tomography
Scanning (CT-scan). Pada pemeriksaan USG ditemukan bagian memanjang pada
tempat yang terjadi inflamasi pada appendiks, sedangkan pada pemeriksaan CT-scan
ditemukan bagian yang menyilang dengan fekalith dan perluasan dari appendiks yang

mengalami inflamasi serta adanya pelebaran sekum. Tingkat akurasi USG 90-94%
dengan angka sensitivitas dan spesifisitas yaitu 85% dan 92%, sedangkan CT-Scan
mempunyai tingkat akurasi 94-100% dengan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi
yaitu 90-100% dan 96-97%.
c. Analisis urin bertujuan untuk mendiagnosa batu ureter dan kemungkinan infeksi
saluran kemih sebagai akibat dari nyeri perut bawah.
d. Pengukuran enzim hati dan tingkatan amilase membantu mendiagnosa peradangan
hati, kandung empedu, dan pankreas.
e. Serum Beta Human Chorionic Gonadotrophin (B-HCG) untuk memeriksa adanya
kemungkinan kehamilan.
f. Pemeriksaan barium enema untuk menentukan lokasi sekum. Pemeriksaan Barium
enema dan Colonoscopy merupakan pemeriksaan awal untuk kemungkinan karsinoma
colon.
g. Pemeriksaan foto polos abdomen tidak menunjukkan tanda pasti Appendisitis, tetapi
mempunyai arti penting dalam membedakan Appendisitis dengan obstruksi usus halus
atau batu ureter kanan.

Komplikasi
Komplikasi terjadi akibat keterlambatan penanganan Appendisitis. Faktor keterlambatan
dapat berasal dari penderita dan tenaga medis. Faktor penderita meliputi pengetahuan dan
biaya, sedangkan tenaga medis meliputi kesalahan diagnosa, menunda diagnosa, terlambat
merujuk ke rumah sakit, dan terlambat melakukan penanggulangan. Kondisi ini
menyebabkan peningkatan angka morbiditas dan mortalitas. Proporsi komplikasi appendisitis
10-32%, paling sering pada anak kecil dan orang tua. Komplikasi 93% terjadi pada anak-anak
di bawah 2 tahun dan 40-75% pada orang tua. CFR komplikasi 2-5%, 10-15% terjadi pada
anak-anak dan orang tua. Anak-anak memiliki dinding appendiks yang masih tipis, omentum
lebihpendek dan belum berkembang sempurna memudahkan terjadinya perforasi, sedangkan
pada orang tua terjadi gangguan pembuluh darah.24 Adapun jenis komplikasi diantaranya:
a. Abses
Abses merupakan peradangan appendiks yang berisi pus. Teraba massa lunak di

kuadran kanan bawah atau daerah pelvis. Massa ini mula-mula berupa flegmon dan
berkembang menjadi rongga yang mengandung pus. Hal ini terjadi bila Appendisitis
gangren atau mikroperforasi ditutupi oleh omentum.20
b. Perforasi
Perforasi adalah pecahnya appendiks yang berisi pus sehingga bakteri menyebar ke
rongga perut. Perforasi jarang terjadi dalam 12 jam pertama sejak awal sakit, tetapi
meningkat tajam sesudah 24 jam.19 Perforasi dapat diketahui praoperatif pada 70%
kasus dengan gambaran klinis yang timbul lebih dari 36 jam sejak sakit, panas lebih
dari 38,50C, tampak toksik, nyeri tekan seluruh perut, dan leukositosis terutama
polymorphonuclear (PMN). Perforasi, baik berupa perforasi bebas maupun
mikroperforasi dapat menyebabkan peritonitis.
c. Peritonitis
Peritonitis adalah peradangan peritoneum, merupakan komplikasi berbahaya yang
dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis. Bila infeksi tersebar luas pada
permukaan peritoneum menyebabkan timbulnya peritonitis umum. Aktivitas
peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik, usus meregang, dan hilangnya
cairan elektrolit mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi, dan oligouria.
Peritonitis disertai rasa sakit perut yang semakin hebat, muntah, nyeri abdomen,
demam, dan leukositosis

Terapi
Prinsip umum terapi adalah penggantian cairan dan elektrolit yang hilangyang dilakukan
secara intravena, pemberian antibiotika yang sesuai, dekompresisaluran cerna dengan
penghisapan nasogastrik dan intestinal, pembuangan fokusseptik (appendiks, dsb) atau
penyebab radang lainnya, bila mungkin mengalirkannanah keluar dan tindakan-tindakan
menghilangkan nyeri.
Resusitasi hebat dengan larutan saline isotonik adalah penting.Pengembalian volume
intravaskular memperbaiki perfusi jaringan danpengantaran oksigen, nutrisi, dan mekanisme

pertahanan. Keluaran urine tekananvena sentral, dan tekanan darah harus dipantau untuk
menilai keadekuatanresusitasi.
Terapi antibiotika harus diberikan sesegera diagnosis peritonitis bakteridibuat.
Antibiotik berspektrum luas diberikan secara empirik, dan kemudiandirubah jenisnya setelah
hasil kultur keluar. Pilihan antibiotika didasarkan padaorganisme mana yang dicurigai
menjadi penyebab. Antibiotika berspektrum luasjuga merupakan tambahan drainase bedah.
Harus tersedia dosis yang cukup padasaat pembedahan, karena bakteremia akan berkembang
selama operasi. Pembuangan fokus septik atau penyebab radang lain dilakukan
denganoperasi laparotomi. Insisi yang dipilih adalah insisi vertikal digaris tengah
yangmenghasilkan jalan masuk ke seluruh abdomen dan mudah dibuka serta ditutup.Jika
peritonitis terlokalisasi, insisi ditujukan diatas tempat inflamasi. Tehnikoperasi yang
digunakan untuk mengendalikan kontaminasi tergantung padalokasi dan sifat patologis dari
saluran gastrointestinal. Pada umumnya,kontaminasi peritoneum yang terus menerus dapat
dicegah dengan menutup,mengeksklusi, atau mereseksi viskus yang perforasi.
Lavase peritoneum dilakukan pada peritonitis yang difus, yaitu denganmenggunakan
larutan kristaloid (saline). Agar tidak terjadi penyebaran infeksiketempat yang tidak
terkontaminasi maka dapat diberikan antibiotika (misalsefalosporin) atau antiseptik (misal
povidon iodine) pada cairan irigasi. Bilaperitonitisnya terlokalisasi, sebaiknya tidak
dilakukan lavase peritoneum, karenatindakan ini akan dapat menyebabkan bakteria menyebar
ketempat lain.
Drainase (pengaliran) pada peritonitis umum tidak dianjurkan, karenapipa drain itu dengan
segera akan terisolasi/terpisah dari cavum peritoneum, dandapat menjadi tempat masuk bagi
kontaminan eksogen. Drainase berguna padakeadaan dimana terjadi kontaminasi yang terusmenerus (misal fistula) dandiindikasikan untuk peritonitis terlokalisasi yang tidak dapat
direseksi.
4. Plan :
Diagnosis :
Appendisitis perforasi
Pengobatan di IGD

- Infus Ringer Laktat


- Inj. Ceftriaxon 1 gram IV
- Inj. Metronidazol 500 mg IV
- Inj. Gentamicin 30 mg IV
- Inj. Ketorolac 10 mg IV
- Inj. Ranitidin 50 mg IV
Konsul Sp.B:
-

Persiapan laparotomi cito


Persiapan operasi (puasa, cek BT, CT, GDS)
Konsul Sp.An