Anda di halaman 1dari 8

TUGAS ESSAY

MEKANIKA BATUAN

Perkuatan Lereng dengan Metode Shotcrete

Disusun oleh :

NUR BUDI SUSANTO


10/305173/TK/37392

JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN


UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2013

Indonesia merupakan salah satu negara dengan bentang alam yang sangat
beragam. Salah satunya adalah terdapatnya tebing dan lereng batuan yang terletak di
berbagai wilayah Indonesia. Adanya struktur tebing dan lereng bebatuan ini beresiko
terjadinya longsoran ataupun keruntuhan.

Gambar 1. Kondisi lereng tebing di jalan tembus Karanganyar Magetan.


(sumber : dokumentasi pribadi)

Sebagai penanganan longsor dapat dilakukan dengan berbagai metode, yaitu


dengan Shotcrete, Rock Mass Bonding, Rock Bolting, Drainage, Dowels, Tied-Back
Walls, Resloping, PUR Injection, Soil Nailing, Wiremesh, Rock Sheds, Buttresses,
Shot-in-place Buttress, Retaining Walls, Scaling, Triming, dan lain sebagainya.
Salah satu metode yang sering digunakan adalah Shotcrete, yaitu metode
penanganan kelongsoran dengan prinsip pengaplikasian beton pada suatu bidang
tertentu, dalam hal ini lereng tebing, dengan sistem spray (penyemprotan)
menggunakan alat mekanis (mesin shotcrete). Beton tersebut disemprotkan dengan
tekanan dari kompressor melalui selang.

Shotcrete pertama kali ditemukan oleh Carl Ethan Akeley (1864-1926) pada
1910. Arsitek Amerika ini terinspirasi untuk mewujudkan reproduksi yang nyata dari
dinosaurus untuk sebuah taman wisata. Mengingat ukuran struktur, ia mempunyai ide
untuk mengembangkan "semen gun" mesin yang memungkinkan penyemprotan dari
cementitious mortar, maka dinamakanlah Shotcrete. Pada tahun yang sama, Kaspar
Winkler mendirikan Sika. Sejak saat itu Sika telah memberikan kontribusi sangat
besar bagi perkembangan teknologi Shotcrete, baik bahan kimia dari material
shotcrete itu sendiri (Sigunit) maupun peralatannya yang dikenal dengan nama Alliva
Machine.
Shotcrete banyak diaplikasikan karena cocok digunakan di berbagai tipe
batuan kecuali pasir, mudah dioperasikan karena hanya butuh 1 orang operator, dapat
menggeras dengan sangat cepat. Pada beberapa percobaan shotcrete dengan
penggunaan campuran tambahan, shotcrete dapat mengeras dalam waktu 1 jam.
Tingkat kekuatannya juga melebihi campuran beton yang dikenal oleh orang awam.
Dalam waktu 1-6 jam, sebuah dinding yang disemprot dengan shotcrete mampu
menahan tabrakan dari alat berat sejenis wheel loader, dan hanya tergores sedikit di
permukaannya, serta mampu menahan getaran peledakan yang mempunyai tekanan
dari puluhan sampai ratusan ribu Psi per detik.
Kelebihan-kelebihan lain dari shotcrete :
1. Efektif dan praktis untuk tambang bawah tanah.
2. Dampak psikologis lebih bagus bagi pekerja, karena shotcrete tidak memiliki
kecenderungan untuk runtuh secara massal.
3. Cukup efektif jika digunakan pada konstruksi yang membutuhkan perkuatan
secara cepat.
4. Tahan terhadap air setelah mengalami hidrasi.
Shotcrete dapat dihasilkan dari campuran kering (dry mix) maupun campuran
basah (wet mix). Pada proses pencampuran kering, semen dan agregat dicampur
kemudian ditampung dalam bak tampung, selanjutnya ditembakkan bersama air yang

dialirkan ke bagian nozzle dengan tekanan tinggi. Sedangkan pada proses


pencampuran basah, semua material dicampurkan, kemudian dialurkan melalui
nozzle dan selanjutnya ditembakkan dengan tekanan tinggi ke permukaan yang akan
diberi perkuatan dengan shotcrete.
Dalam pembuatan adukan untuk shotcrete terdapat dua syarat, yaitu
kemampuan untuk ditembakkan (shootability) dan kemampuan untuk dipompa
(pumpability). Shootability adalah kemampuan untuk menempel pada permukaan
hingga ketebalan tertentu, dan tidak mengelupas. Pumpability adalah kemampuan
adukan untuk mengalir seperti cairan, sehingga mudah dipompa. Untuk memenuhi
syarat shootability, adukan yang ideal adalah adukan dengan kekentalan tinggi.
Sementara itu untuk memenuhi syarat pumpability membutuhkan adukan yang
berkemampuan alir baik serta memiliki kekentalan rendah. Oleh karena itu, pada
pengaplikasiannya haruslah dicari komposisi terbaik sehingga mudah dalam
pelaksanaannya serta dapat menghasilkan shotcrete dengan kualitas baik.

Gambar 2. Pelaksanaan penyemprotan beton shotcrete


(sumber : http://www.flickr.com/photos/tranbc/6386097393/)

Kualitas dan keawetan shotcrete bergantung pada dua faktor, yaitu kadar
semen dalam adukan dan kepadatan dinding. Shotcrete umumnya memiliki kadar
semen berkisar antara 350 410 kg semen per m3 dan disesuaikan untuk memenuhi
syarat shootability dan pumpability. Kepadatan dinding bergantung pada kadar udara
yang masuk dalam adukan sewaktu ditembakkan. Peningkatan kadar udara akan
menurunkan kekuatan beton yang dihasilkan (sekitar 5% kuat tekan berkurang setiap
1% kandungan udara dalam adukan).
Shotcrete umumnya digunakan sebagai penyangga untuk tambang bawah
tanah maupun terowongan bawah tanah berkaitan dengan kekuatan, kepraktisan
pengerjaannya serta berbagai kelebihan yang dimilikinya. Namun tak jarang juga
ditemui perkuatan lereng dan tebing di suatu daerah terbuka menggunakan shotcrete.

Gambar 3. Perkuatan lereng tebing dengan shotcrete


(sumber : http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Shotcrete_by_road.png)

Gambar 4. Pembuatan terowongan dengan perkuatan shotcrete


(sumber : http://www.gzconsultants.com/?attachment_id=3573)

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengerjaan shotcrate :


1. Persiapan permukaan
Sebelum dilakukan pekerjaan penyemprotan, permukaan lereng atau bidang yang
akan diberi perkuatan perlu dibersihkan terlebih dahulu terhadap berbagai
kotoran yang dapat menyebabkan ikatan shotcrete kekuatannya tidak seperti yang
diharapkan. Permukaan yang akan diberi tembakan shotcrete perlu dibersihkan
hingga kedalaman dasar shotcrete.
2. Pembuatan drainase pada lereng (untuk perkuatan lereng)
Pada bagian ujung bawah lereng perlu diberi saluran drainase lereng sebagai
saluran pembuangan air dari sekitar lereng. Sistem drainase lereng perlu
dipisahkan dari sistem drainase yang sudah ada sehingga jarus didesain terpisah.
3. Pemasangan wire mesh
Wire mesh yang merupakan tulangan dari shotcrete dikaitkan dengan paku yang
ditancapkan pada bidang miring tanah dengan diberi beton decking di bawah

tulangan supaya tulangan tidak menempel pada permukaan tanah.


4. Permukaan shotcrete
a. Pengaturan ketebalan shotcrete
Shotcrete umumnya memiliki tebal sekitar 75-100 mm. Pada pelaksanaannya
pengukuran ketebalan digunakan dengan benang ataupun lidi pengukur.
b. Penempatan atau penyemprotan shotcrete
Penempatan shotcrete dilakukan dari bawah ke atas untuk mencegah
terjadinya rebound yang berlebihan. Nozzle penyemprot diarahkan pada
bidang kerja hingga mencapai ketebalan rencana dan dilakukan secara tegak
lurus rebound minimal dan diperoleh kepadatan maksimum. Tulangan harus
dipastikan bersih dan shotcrete ditempatkan di belakang tulangan sehingga
dapat mencegah terjadinya rongga atau penumpukan pasir kosong.
5. Perbaikan permukaan
Untuk shotcrete yang memenuhi persyaratan kekuatan namun memiliki
permukaan tidak rapi, dapat diperbaiki dengan :
a. Menyikat permukaan dengan sikat besi untuk membersihkan material.
b. Bila shotcrete telah mengeras, persiapan permukaan ditunda selama 24 jam,
kemudian permukaan disiapkan dengan sand blast atau tembakan air
bertekanan untuk membersihkan semua material. Penyemprotan harus
dilakukan dengan tekanan yang tidak terlalu tinggi karena jika digunakan
tekanan berlebih dapat menyebabkan lemahnya ikatan beton.
6. Shotcrete yang cacat
Shotcrete yang tidak sesuai spesifikasi dan mengalami kegagalan saat diuji
diperbaiki dengan penempatan shotcrete tambahan atau dibongkar untuk diganti
baru.
7. Sambungan
Sambungan shotcrete harus cukup kasar, bersih dan keras serta berbentuk miring.
8. Perawatan (curing)
Shotcrete dijaga kelembabannya selama 7 hari setelah ditempatkan agar kualitas

shotcrete dapat seperti yang diharapkan. Perawatan dilakukan dengan pemberian


air untuk menjaga kelembaban shotcrete, namun harus dijaga agar tidak terlalu
basah yang dapat menyebabkan lapisan shotcrete terbawa aliran air.

Namun dibalik semua kelebihan yang ada, shotcrete juga memiliki berbagai
kekurangan, di antaranya adalah sebagai berikut :
1. Biaya pembuatan shotcrete cukup mahal.
2. Tidak bisa digunakan lagi jika mengalami pecah atau keruntuhan.
3. Tidak ada tanda-tanda ketika hampir terjadi keruntuhan pada struktur shotcrete.
4. Tidak dapat diaplikasikan pada dinding tanah dan struktur batuan berupa pasir.

Pustaka :
http://id.shvoong.com/exact-sciences/engineering/2190538-penggunaan-shotcretesebagai-penyangga-di/#ixzz2USfJHJcE
http://library.binus.ac.id/eColls/eThesis/Bab2/2008-2-00461-Bab%202.pdf
http://www.pu.go.id/uploads/services/infopublik20121010170859.pdf
http://jeffryfrankytumatar.blogspot.com/2009/12/shotcrete-atau-beton-semprotspray.html