Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

LARUTAN BUFFER DAN LARUTAN GARAM (HIDROLISIS)

Disusun oleh:
Solikhah

4311412051

Jurusan Kimia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Semarang
2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hampir semua proses kimia berlangsung dalam larutan sehingga penting untuk
memahami sifat-sifatnya. Larutan adalah sesuatu yang penting bagi manusia dan makhluk
hidup pada umumnya. Reaksi-reaksi kimia biasanya berlangsung antara dua campuran zat.
Banyak reaksi kimia yang dikenal, baik di dalam laboratorium atau di industri terjadi dalam
larutan. Larutan banyak sekali jenisnya, diantaranya adalah larutan buffer dan larutan garam.
Larutan penyangga, larutan dapar, atau buffer adalah larutan yang digunakan untuk
mempertahankan nilai pH tertentu agar tidak banyak berubah selama reaksi kimia berlangsung.
Sifat yang khas dari larutan penyangga ini adalah pH-nya hanya berubah sedikit dengan
pemberian sedikit asam kuat atau basa kuat. Buffer terdiri dari asam lemah dan garam/basa
konjugasinya atau basa lemah dan garam/asam konjugasinya.
Larutan penyangga sangat penting dalam kehidupan, misalnya dalam analisis biokimia,
bakteriologi, zat warna, fotografi, dan industri kulit. Dalam bidang biokimia, kultur jaringan
dan bakteri mengalami proses yang sangat sensitif terhadap perubahan pH. Darah dalam tubuh
manusia mempunyai pH berkisar 7,35 sampai 7,45 dan apabila pH darah berkisar 7,8 akan
menyebabkan organ tubuh manusia dapat rusak, sehingga harus dijaga kisaran pH-nya dengan
larutan Penyangga.
Garam telah lama dikenal dan digunakan oleh masyarakat luas. Di dalam kehidupan
sehari-hari, garam dikenal sebagai bumbu masak yang memberi rasa asin pada masakan.
Sementara di dalam konsep kimia, garam merupakan senyawa ion yang terbentuk dari
penggabungan ion negatif sisa asam dengan ion positif sisa basa. Karena merupakan gabungan
dari ion-ion sisa asam dan sisa basa, maka garam umumnya berbentuk larutan. Dalam konsep
kimia, dikenal beberapa jenis garam yaitu: garam yang bersifat netral, berasal dari asam kuat
dan basa kuat; garam yang bersifat asam, berasal dari asam kuat dan basa lemah; garam yang
bersifat basa, berasal dari asam lemah dan basa kuat; juga terdapat garam yang berasal dari
asam lemah dan basa lemah.
Berdasarkan reaksi hidrolisis, yaitu reaksi zat dengan air, garam-garam bila direaksikan
dengan air akan menghasilkan beberapa zat. Hidrolisis garam yang bersifat asam akan

menghasilkan ion H3O+ yang bersifat asam. Sementara hidrolisis garam yang bersifat basa
akan menghasilkan ion OH- yang bersifat basa. Hidrolisis garam netral tidak menghasilkan zat
apapun. Garam dapur yang telah banyak dikenal juga merupakan senyawa ion dengan rumus
kimia NaCl. Bentuk padat garam ini diperoleh melalui proses kristalisasi. Garam ini berasal
dari asam kuat HCl dan basa kuat NaOH, sehingga termasuk garam netral. Karena hidrolisis
garam netral tidak menghasilkan zat apapun, maka garam ini (NaCl) bisa dikonsumsi karena
tidak mengubah keseimbangan asam basa di dalam tubuh.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat diketahui rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa saja larutan buffer yang penting dalam kehidupan sehari-hari?
2. Bagaimana cara menghitung pH dari larutan buffer?
3. Bagaimana membedakan terjadinya hidrolisis dan tidak terjadinya hidrolisis?
4. Bagaimana cara menghitung pH dari berbagai larutan garam?
1.3 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu:
1. Mengetahui beberapa larutan buffer yang penting dalam kehidupan sehari-hari
2. Mengetahui cara menghitung pH larutan buffer
3. Mengetahui terjadinya hidrolisis dan tidak terjadinya hidrolisis
4. Mengetahui cara menghitung pH dari berbagai larutan garam
1.4 Manfaat
Manfaat dari pembuatan makalah ini yaitu:
1. Memberikan informasi mengenai larutan buffer dan larutan garam
2. Memberikan informasi tentang cara menghitung pH dari larutan buffer dan larutan garam
3. Sebagai bahan referensi dalam pembelajaran mata kuliah Kimia Analitik Dasar

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Larutan Buffer


Dalam praktik analisis kualitatif dan kuantitatif anorganik, sering perlu kita sesuaikan
konsentrasi ion hidrogen sampai nilai tertentu sebelum melakukan suatu uji, dan menjaga agar
konsentrasi ion hidrogen ini tetap, selama jalannya analisis. Jika diperlukan suasana yang bersifat
asam kuat (pH 0-2) atau basa kuat (pH 12-14), ini dapat dicapai dengan menambahkan asam kuat
atau basa kuat secukupnya. Namun, jika pH larutan harus dipertahankan antara 2 dan 12 misalnya,
cara di atas tak akan membantu.
Sebagai contoh kita tinjau campuran suatu asam lemah dan garamnya, misalnya campuran
asam asetat dan natrium asetat. Dalam larutan demikian, natrium asetat seperti juga setiap garam
lainnya, hampir sempurna berdisosiasi. Tetapi disosiasi asam asetat
CH3COO-

CH3COOH

H+

dapat diabaikan, karena adanya ion-ion asetat dalam jumlah yang banyak (yang berasal dari
disosiasi natirum asetat), akan menggeser kesetimbangan ke arah pembentukan asam asetat yang
tak terdisosiasi (yaitu, ke arah ruas kiri persamaan di atas). Larutan ini akan mempunyai pH
tertentu, dan pH ini akan bertahan baik sekali. Jika ion hidrogen (yaitu, suatu asam kuat)
ditambahkan, ini akan bergabung dengan ion asetat dalam larutan untuk membentuk asam asetat
yang tak terdisosiasi:
CH3COO-

H+

CH3COOH

dan karenanya, konsentrasi ion hidrogen tak berubah. Apa yang terjadi hanyalah bahwa jumlah
ion asetat berkurang, sementara jumlah asam asetat yang terdisosiasi bertambah. Di lain pihak,
jika ion hidroksil yang ditambahkan, ion ini akan bereaksi dengan asam asetat:
CH3COOH

OH-

CH3COO-

H2O

dan lagi-lagi konsentrasi ion hidrogen (dan hidroksil) tak akan berubah banyak, hanya jumlah ion
asetat akan bertambah, sementara jumlah asam asetat berkurang. Jadi, larutan demikian
menunjukkan ketahanan tertentu baik terhadap asam, maupun basa, maka dinamakan larutan

buffer atau penyangga. Larutan buffer dapat juga dibuat dengan melarutkan suatu basa lemah dan
garamnya bersama-sama (Vogel, 1990 hal 51-52).
Dalam kehidupan sehari-hari sering kita jumpai akan pentingnya sistem penahan (buffer)
tersebut. Misalnya dalam kehidupan mikroba, suatu mikroba tertentu hanya dapat hidup dalam
kondisi lingkungan yang mempunyai skala pH sekitar 7,5. Sedangkan mikroba yang lain hanya
dapat hidup pada skala pH sekitar 8,0. Dalam tubuh kita pun pH darah juga kita pertahankan di
sekitar pH netral = 7,3 (Partana, 2003 hal 30).
2.1.1 Campuran Buffer
Daya tahan suatu larutan terhadap perubahan pH yang disebabkan penambahan sedikit
asam atau basa disebut aksi buffer, sedang larutan yang mempunyai sifat tersebut dinamakan
larutan buffer.
Suatu campuran buffer dibedakan menjadi:
1. Campuran buffer asam, yaitu campuran antara suatu asam lemah (HA) dengan suatu garam
(NaA)nya.
2. Campuran buffer basa, yaitu campuran antara suatu basa lemah (MOH) dengan suatu
garam (MCl)nya.
Apabila suatu campuran buffer (baik buffer asam, maupun buffer basa) dilarutkan dalam
pelarut air, terjadilah suatu larutan buffer yang besar pHnya dapat diturunkan dari persamaan
keseimbangan sebagai berikut:
1. Untuk larutan buffer asam
Keseimbangan dalam larutan adalah:
HA
H+ + A+
Ka = H x A- = [H+] [A-] x fH+ x fAHA
[HA]
fHA
Untuk larutan yang relatif encer, persamaan keseimbangan dapat disederhanakan
menjadi:
Ka = [H+] [A-]
[HA]

atau

[H+] = Ka x [HA]
[A-]

Karena keseimbangan tersebut terdapat dalam larutan buffer asam, apabila


konsentrasi asam (HA) dinyatakan dengan [As] dan konsentrasi garam (NaA)nya
dinyatakan dengan [G], besarnya konsentrasi ion H+ menjadi:
[H+] = Ka x [As] [H+]
[G] + [H+]
Persamaan terakhir, merupakan suatu persamaan kuadrat dalam H+, yang jika
diselesaikan akan dapat diketahui besarnya harga H+, tetapi untuk mempermudah dan
mempercepat perhitungan, diandaikan konsentrasi ion H+ relatif kecil, ([As] [H+]) dan
([G] + [H+]) masing-masing = [As] dan [G] sehingga:
[H+] = Ka x [As]
[G]

pH = pKa + log [G]


[As]

2. Untuk larutan buffer basa


Keseimbangan dalam larutan adalah:
MOH

M+ + OHDengan hukum aksi massa yang disederhanakan, keseimbangan dalam larutan

dituliskan sebagai berikut:


Kb = [M+] [OH]

atau

[OH-] = Kb x [MOH]
[M+]

[MOH]

Karena di dalam larutan selain basa juga terdapat garam (MCl)nya, apabila
konsentrasi basa (MOH) dinyatakan dengan [Bs] dan konsentrasi garam (MCl)nya
dinyatakan dengan [G], besarnya konsentrasi ion OH- menjadi:
[OH-] = Kb x [Bs] [OH-]
[G] + [OH-]
Persamaan terakhir merupakan suatu persamaan kuadrat dalam OH-, yang jika
diselesaikan akan dapat diketahui besarnya harga OH-. Tetapi untuk mempermudah dan
mempercepat perhitungan, diandaikan konsentrasi ion OH- relatif kecil sehingga:
[OH-] = Kb x [Bs]
[G]

pOH = pKb + log [G]


[Bs]

pH = pKw pKb + log [G]


[Bs]
Suatu larutan buffer, baik buffer asam maupun buffer basa, besar pHnya akan berubah satu
satuan pH apabila perbandingan [G] : [As] = 1 : 10 atau 10 : 1, demikian juga apabila perbandingan
[G] : [Bs] = 1 : 10 atau 10 : 1 (Mudjiran, 2002 Hal 38-40).
Campuran asam dan basa
Larutan buffer juga dapat dibuat bila asam lemah dicampur dengan basa kuat, atau asam
kuat dengan basa lemah dengan syarat konsentrasi yang lemah lebih besar dari yang kuat. Asam
dengan basa selalu bereaksi menjadi garam dan air, contohnya CH3COOH dengan KOH dengan
konsentrasi masing-masing (a + b) dan b.
CH3COOH
a+b
a

Awal
Akhir

KOH
b
-

CH3COOK
b
b

H2O
b
b

Setelah bereaksi, yang tinggal adalah CH3COOH dan CH3COOK dengan konsentrasi
masing-masing a dan b, dan ini merupakan larutan buffer. Demikian juga campuran asam kuat dan
basa lemah, contohnya HNO3 dan NH4OH dengan konsentrasi awal masing-masing x dan (x + y).
Awal
Akhir

HNO3
x
-

NH4OH
(x + y)
y

NH4NO
x
x

H2O
x
x

Hasil akhir adalah campuran NH4OH dengan konsentrasi masing-masing y dan x yang merupakan
buffer.
Contoh:
Hitunglah pH campuran antara 400 ml HNO2 0,4 M dengan 100 ml NaOH 0,5 M.
Diketahui HNO2 mempunyai Ka = 5,1 x 10-4.
Jawab:
Mula-mula: HNO2 = 400 x 0,4 = 0,32 mol
500
NaOH = 100 x 0,5 = 0,10 mol
500
HNO2 + NaOH
Awal
0,32
0,10
Akhir
0,22
0,10
Volume campuran = 500 ml = 0,5 l

NaNO2
0,10
0,10

H2O

[H+]

= Ka ca
cg
= 5,1 x 10-4

0,22

/0,5
/0,5

0,10

pH

= 11,22 x 10-4
= 2,95

(Syukri, 1990 hal 421-422).


2.1.3 Buffer dalam organisme
Dalam organisme terdapat berbagai macam cairan, seperti air sel, darah, dan kelenjar.
Cairan ini berfungsi sebagai pengangkut zat makanan dan pelarut reaksi kimia di dalamnya. Tiap
reaksi dipercepat oleh enzim tertentu, dan tiap enzim bekerja efektif pada pH tetentu (pH
optimum). Oleh sebab itu, cairan dalam organisme mengandung sistem buffer untuk
mempertahankan pH-nya. Sistem buffernya berupa asam lemah dan basa konjugasinya (Syukri,
1999 hal 422).
Darah manusia dalam keadaan normal mempunyai pH = 7,35 - 7,45 yang dipertahankan
oleh tiga sistem buffer yaitu buffer karbonat, hemoglobin, dan oksihemoglobin, sedangkan dalam
sel terdapat buffer fosfat.
1. Buffer karbonat, yaitu pasangan asam karbonat (H2CO3) dengan basa konjugasinya
bikarbonat ( HCO3-):
HCO3- (aq)

H2CO3
Asam

H+ (aq)

basa konjugasi

Kesetimbangan bergeser ke kanan jika diberi H+, dan akan bergeser ke kiri bila diberi OHkarena reaksi H+ + OH-

H2O. Hasil pergeseran itu menyebabkan [H+] relatif tetap.

2. Buffer hemoglobin, adalah pasangan hemoglobin (bersifat asam, HHb) dengan ion
hemoglobin (Hb- sebagai basa konjugasinya).
HHb

Hb- + H+

Asam

basa konjugasi

3. Buffer oksihemoglobin, adalah pasangan HHb dengan ion oksihemoglobin (HbO2-),


HHb + O2

HbO2-

+ H+

Asam

basa konjugasi

4. Buffer fosfat, adalah kesetimbangan antara asam H2PO4- dengan basa konjugasinya HPO42H2PO4- + H+

HPO42-

Jika diberi OH-, kesetimbangan bergeser ke kiri, karena OH- diikat H+ menjadi H2O.
sebaliknya, jika ditambah OH- kesetimbangan bergeser ke kanan sehingga [H+] relatif
tetap (Syukri, 1999 hal 422-423).
Cairan intrasel dan ekstrasel dalam organisme hidup mengandung pasangan asam-basa
konjugasi yang berfungsi sebagai buffer pada pH cairan itu. Buffer dalam sel yang utama adalah
pasangan asam basa konjugasi dihidrogen fosfat-monohidrogen fosfat, H2PO4--HPO42-. Buffer luar
sel yang utama adalah pasangan asam-basa konjugasi asam karbonat-bikarbonat, H2CO3-HCO3.
Sistem buffer yang kedua ini membantu menjaga agar pH darah berharga hampir konstan,
mendekati 7,4, meskipun zat-zat yang bersifat asam dan basa terus-menerus masuk ke aliran darah.
Kerja penyangga dari suatu larutan yang mengandung asam karbonat dan ion bikarbonat,
didasarkan pada reaksi berikut:
Bila ditambahkan suatu asam

HCO3- + H+

H2CO3

Bila ditambahkan suatu basa

H2CO3 + OH-

H2O + HCO3-

(Keenan, 1990 hal 629).


2.2 Larutan Garam (Hidrolisis)
Bila garam-garam dilarutkan dalam air, larutan itu tidak selalu bereaksi netral. Fenomena
ini disebabkan karena sebagian dari garam berinteraksi dengan air, karena itu ini dinamakan
hidrolisis. Akibatnya, ion hidrogen atau hidroksil tertinggal dengan berlebihan dalam larutan, dan
larutan itu sendiri masing-masing menjadi asam atau bersifat basa (Vogel, 1990 hal 41).
Berdasarkan atas kekuatan jenis asam dan basa penyusunnya, garam dapat dibedakan
menjadi 4 kelompok, yaitu:
1. Garam yang tersusun dari suatu asam kuat dan basa kuat, misalnya garam kalium klorida
(KCl)
2. Garam yang tersusun dari suatu asam kuat dan basa lemah, misalnya garam ammonium
klorida (NH4Cl)
3. Garam yang tersusun dari suatu asam lemah dan basa kuat, misalnya garam natrium asetat
(Na.CH3COO)
4. Garam yang tersusun dari suatu asam lemah dan basa lemah, misalnya garam ammonium
asetat (NH4.CH3COO) (Mudjiran, 2002 hal 42).

2.2.1 Tetapan hidrolisis, derajad hidrolisis, dan pH larutan garam-garam terhidrolisis


A. Garam dari asam kuat dan basa kuat
Dalam larutan garam asam kuat dan basa kuat, terdapat dua jenis ionisasi, yaitu garam dan air,
contohnya NaCl
NaCl(s)

Na+ + Cl-

H2O

H+ + OH-

Ternyata jumlah ion H+ atau OH- tidak berubah dengan adanya NaCl. Jadi, larutan garam asam
kuat dan basa kuat mempunyai pH=7, walaupun jenis dan konsentrasinya berbeda. Hal ini berarti
tidak mengalami hidrolisis (Syukri, 1990 hal 411).
B. Garam terhidrolisis dari asam kuat dan basa lemah
Keseimbangan dalam larutan adalah:
M+ + H2O

H+ + MOH

Dengan hukum aksi massa:


Kh = H+ x MOH = [H+] [MOH] x fH+ x fMOH
M+
[M+]
fM+
Kh adalah tetapan hidrolisis. Dengan asumsi larutan relatif encer, persamaan di atas dapat
disederhanakan menjadi:
Kh = [H+] [MOH]
[M+]
atau

Kh = [Asam][Basa]
[Garam]

Diandaikan konsentrasi garam = [G], dan derajad hidrolisisnya = a, maka:


[Asam]

= [H+] = a x [G] molar

[Basa]

= [MOH] = a x [G] molar

[Garam sisa] = [M+] = (1 - a) x [G] molar


Persamaan : Kh = a x [G] x a x [G] = a2 x [G]
(1 - a) x [G]
(1 - a)

[G] a2 + Kh a Kh = 0
a = -Kh + Kh2 + 4 Kh [G]
2 [G]
a = - Kh +
2 [G]

Kh2 + 2 Kh
4 [G]2
[G]

Apabila ternyata harga a sangat kecil (2 - 5%), untuk mempermudah dan mempercepat
perhitungan, bilangan (1 - a) dapat dianggap = 1, sehingga Kh = [G] a2 atau a = Kh
[G]
Disamping keseimbangan reaksi hidrolisis, di dalam larutan terdapat 2 keseimbangan
yang lain, yaitu:
1. Keseimbangan air
H2O
H+ + OH-

Kw = [H+][OH-]

2. Keseimbangan ionisasi basa lemah MOH


M+ + OH-

MOH

Kb = [M+][OH-]
[MOH]

Kw = [H+][OH-] = [H+][MOH] = persamaan 1


Kb
[M+][OH-]
[M+]
[MOH]
Jadi Kh = Kw
pKh = pKw pKb
Kb
Dari persamaan 1 Kh = [H+]2 = [H+]2
[M+]
[G]
[H+] = Kh x [G] =

Kw x [G]
Kb

pH = (pKw pKb log [G])


C. Garam terhidrolisis dari asam lemah dan basa kuat
Keseimbangan hidrolisis dalam larutan adalah:
A-

H2O

HA

OH-

Dengan hukum aksi massa yang disederhanakan:


Kh

= [HA][OH-] atau
[A-]

Kh

= [Asam][Basa]
[Garam]

Diandaikan konsentrasi garam = [G], dan derajad hidrolisisnya = a, maka

[Asam] = [HA] = a x [G] molar


[Basa] = [OH-] = a x [G] molar
[Garam sisa] = [A-] = (1 a) x [G] molar
Persamaan : Kh = a x [G] x a x [G] = a2 x [G]
(1 - a) x [G]
(1 a)
[G] a2 + Kh a Kh = 0
a = -Kh + Kh2 + 4 Kh [G]
2 [G]
Kh2 + 2 Kh
4 [G]2
[G]

a = - Kh +
2 [G]

Apabila ternyata harga a sangat kecil (2 - 5%), untuk mempermudah dan mempercepat
perhitungan, bilangan (1 - a) dapat dianggap = 1, sehingga Kh = [G] a2 atau a = Kh
[G]
Disamping keseimbangan reaksi hidrolisis, di dalam larutan terdapat 2 keseimbangan
yang lain, yaitu:
1. Keseimbangan air
H2O
H+ + OH-

Kw = [H+][OH-]

2. Keseimbangan ionisasi asam lemah HA


H+ + A-

Ka = [H+][A-]
[HA]
Kw = [H+][OH-] x
[HA] = [HA][OH-] = Kh
Ka
[H+][A-]
[A-]
HA

Jadi : Kh = Kw
pKh = pKw pKa
Ka
Dari rumus Kh = [HA][OH-] dapat ditulis Kh = [OH-]2
[A-]
[G]
[OH-] = Kh x [G] =
[H+] =

Kw x [G]
Ka

Kw x Ka
[G]

pH = (pKw + pKa + log [G])

D. Garam terhidrolisis dari asam lemah dan basa lemah


Keseimbangan hidrolisis dalam larutan, adalah:
M+ +

A-

H2O

MOH +

HA

Dengan hukum aksi masa yang disederhanakan:


Kh

= [MOH][HA] atau
[M+][A-]

Kh

= [Basa][Asam]
[Garam]2

Diandaikan konsentrasi garam = [G], dan derajad hidrolisisnya = a, maka:


[Basa] = [MOH] = a x [G] molar
[Asam] = [HA] = a x [G] molar
[Garam] sisa = [M+] = [A-] masing-masing = (1 a) x [G] molar
Persamaan : Kh = a x [G] x a x [G] =
a2
2
{(1 a) x [G]}
(1 a)2
(1 Kh) a2 + 2Kh a Kh = 0
a = - 2 Kh +

4Kh2 + 4Kh (1-Kh) = -Kh + Kh


2(1 Kh)
(1 Kh)

Untuk harga a yang sangat kecil (2 5%) untuk mempermudah dan mempercepat perhitungan,
bilangan (1 a) dapat dianggap = 1, sehingga:
Kh = a2

a = Kh

Disamping keseimbangan reaksi hidrolisis, di dalam larutan terdapat 3 (tiga) keseimbangan yang
lain, yaitu:
1. Keseimbangan air
H+ + OH-

H2O

Kw = [H+][OH-]

2. Keseimbangan ionisasi asam lemah HA


H+ + A-

HA

Ka = [H+][A-]
[HA]

3. Keseimbangan ionisasi basa lemah MOH


M+ + OH-

MOH

Kb = [M+][OH-]
[MOH]

Apabila Kw dibagi Ka dikalikan Kb, didapat:


Kw
= [H+][OH-] x [HA]
Ka x Kb
[H+][A-]
= [HA][MOH]
[A-][M+]
Jadi : Kh =

Kw
Ka x Kb

[MOH]
[M+][OH-]

= Kh
pKh = pKw pKa pKb

Dari rumus tetapan ionisasi asam lemah HA, besarnya konsentrasi ion hidrogen:

[H+] = Ka x [HA]
[A-]
= Ka x a x [G]
(1 a) [G]

= Ka x Kh

[H+] = Kw x Ka
Kb
(Mudjiran, 2002 hal 44-50).

pH = (pKw + pKa + pKb)

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Larutan penyangga adalah larutan yang pH-nya praktis tidak berubah meskipun ditambah
sedikit asam, sedikit basa, atau jika diencerkan. Larutan penyangga asam tersusun atas asam lemah
dan garamnya/basa konjugasinya. Larutan penyangga basa tersusun atas basa lemah dan
garamnya/asam konjugasinya. Perhitungan pH dalam larutan buffer berbeda, tergantung dari jenis
campurannya (buffer asam atau buffer basa). Larutan buffer juga sangat penting bagi kehidupan,
dengan adanya larutan buffer dalam tubuh pH akan terjaga sehingga organ tidak mengalami
kerusakan. Sifat larutan garam didasarkan pada kekuatan relatif asam dan basa penyusunnya.
Hidrolisis garam adalah reaksi antara komponen garam yang berasal dari asam atau basa dengan
air. Hidrolisis parsial adalah hidrolisis yang terjadi pada garam yang terbentuk dari asam kuat-basa
lemah atau asam lemah-basa kuat. Sedangkan hidrolisis total terjadi pada garam yang terbentuk
dari asam lemah-basa lemah. Garam yang terbentuk dari asam kuat-basa kuat tidak mengalami
hidrolisis karena bersifat netral. Perhitungan tetapan hidrolisis, derajad hidrolisis, dan pH pada
garam yang terhidrolisis berbeda-beda tergantung dari komponen penyusunnya.

DAFTAR PUSTAKA

Keenan, Charles W., Donald C. Kleinfelter dan Jesse H. Wood. 1990. Ilmu Kimia untuk Universitas
Edisi keenam Jilid 1. Jakarta: Erlangga
Mudjiran. 2002. Kimia Analitik Dasar. Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam. Universitas Gadjah Mada Jogjakarta
Partana, Crys Fajar, Heru Pratomo Al., Karim Theresih dan Suharto. 2003. Kimia Dasar 2. Yogyakarta:
Jica-Universitas Negeri Yogyakarta
Sukri, S. 1999. Kimia Dasar jilid 2. Bandung: Penerbit ITB
Vogel A. I. 1981. A Textbook of Macro and Semimicro Qualitative of Inorganic Analysis. London.
Longman