Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah


Seorang ahli perkembangan jiwa manusia William Stern menyatakan bahwa

jiwa seseorang dipengaruhi oleh perpaduan faktor dari dalam (bawaan) dan faktor
dari luar (lingkungan). Sedangkan perkembangan kognitif manusia dipengaruhi
oleh faktor bawaan (bakat) dan faktor lingkungan (pembelajaran).
Menurut teori di atas kita semua meyakini, melihat kenyataan di lapangan
bahwa kemampuan siswa bervariasi tetapi kecerdasan tersebut dapat diupayakan
agar lebih meningkat dengan adanya proses belajar. Keberhasilan pembelajaran
ditujukan oleh dikuasainya tujuan pembelajaran oleh siswa. Kita semua mengakui
bahwa salah satu faktor keberhasilan dalam pembelajaran adalah faktor
kemampuan guru dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran. Kegiatan
pembelajaran yang efektif tidak muncul dengan sendirinya tetapi guru harus
menciptakan situasi belajar yang kondusif yang memungkinkan siswa mencapai
tujuan yang telah ditetapkan secara optimal.
Kegiatan belajar mengajar dikatakan berhasil apabila hasil pembelajaran
yang diperoleh siswa pada non eksak tersebut telah mencapai nilai rata-rata 75 ke
atas dan tingkat penguasaan materi yang dapat diserap siswa rata-rata diatas 75%.
Merujuk pada hal tersebut, ketika penulis melakukan proses pembelajaran non
eksak di Kelas VI SD Negeri Cintaasih I, hasil dari proses pembelajaran tersebut
masih dibawah 75%.

Ketika pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas VI SDN


Cintaasih I tampak respon siswa yang kurang begitu semangat dengan materi
yang akan dipelajarinya. Pada pelajaran Bahasa Indonesia, hanya 8 siswa dari 29
siswa yang tingkat penguasaannya 70% ke atas. Hal yang terungkap dari hasil
diskusi teman sejawat yaitu :
1. Siswa kurang disiplin dalam pembelajaran.
2. Siswa tidak menyusun tugas laporan yang baik.
3. Rendahnya tingkat keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar.
4.

Kurangnya wawasan siswa dalam menguasai perbendaharaan kata-kata


yang digunakan.

5. Rendahnya motivasi siswa dalam pembelajaran.


6. Rendahnya tingkat penguasaan terhadap materi pelajaran.
7. Siswa kurang perhatian dan konsentrasi dalam mengikuti pembelajaran.
8. Siswa kurang percaya diri apabila bertanya atau mengeluarkan
pendapatnya.

Masukan dari hasil diskusi kami dengan teman sejawat, diketahui bahwa
faktor penyebab siswa kurang mengusai materi, kurang aktif dalam kegiatan dan
tidak bisa menjawab pertanyaan adalah :
1.

Guru terlalu cepat menjelaskan materi pelajaran.

2.

Penjelasan guru sulit ditangkap oleh siswa.

3.

Guru kurang menggunakan alat peraga yang tepat.

4.

Guru kurang memberikan contoh dan latihan.

5.

Guru tidak memberikan kesempatan bertanya pada siswa.

6.

Guru kurang melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran.

7.

Guru tidak memberi tugas yang bersifat individual.

Dari perumusan tersebut di atas, muncul pertanyaan yang menjadi masalah,


yaitu :
Apakah melalui penerapan bertanya dan pemberian tugas dapat meningkatkan
penguasaan materi dan keaktifan siswa dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia?

B.

Rumusan Masalah

Perumusan masalah pada mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah :


Bagaimanakah meningkatkan penguasaan, keaktifan siswa terhadap materi mata
pelajaran Bahasa Indonesia tentang keterampilan berbicara/ bercerita melalui
tanya jawab dan pemberian tugas?.

C. Tujuan Perbaikan
Tujuan perbaikan dari pelajaran bahasa Indonesia, adalah sebagai berikut :
1. Meningkatkan keaktifan kreatif siswa dalam proses pembelajaran tentang
materi mendengarkan pengumuman.
2. Meningkatkan keberanian siswa dalam mewujudkan dan menjawab
pertanyaan.
3. Meningkatkan hasil prestasi belajar siswa tentang materi mendengarkan
pengumuman.

B. Manfaat Perbaikan
1. Manfaat bagi siswa adalah sebagai berikut :
a.

Dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran.

b.

Dapat meningkatkan keberanian siswa dalam mengajukan dan


menjawab pertanyaan pada pembelajaran Bahasa Indonesia dengan
materi mendengarkan pengumuman.

c.

Dapat meningkatkan hasil / prestasi belajar siswa tentang materi


mendengarkan pengumuman.

2. Manfaat bagi guru


Dapat meningkatkan kemampuan dan kreatif guru dalam menggunakan
media / alat pembelajaran.
3. Manfaat bagi sekolah
a. Dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
b. Dapat dijadikan contoh acuan dalam melakukan penelitian dan perbaikan
hasil belajar bagi guru dalam satu sekolah.
c. Dapat dijadikan alat motivasi bagi guru dalam satu sekolah.
4. Manfaat bagi dunia pendidikan
a. Dapat meningkatkan mutu pendidikan secara luas.
b. Dapat di implementasikan untuk inovasi pembelajaran.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Hakekat Pembelajaran Bahasa Indonesia


Pada hakikat pembelajaran tidak terlepas dari apa yang disebut belajar,
beberapa ahli memberikan batasan tentang pengertian belajar, diantaranya;
Skinner dalam Wahyudin (2006 : 3.31), Belajar adalah berubah tingkah laku
atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman . Pengertian lain juga
dikemukakan oleh Singer (1968) dalam Supandi dan Seba (1986 : 1) bahwa,
Belajar adalah perubahan perilaku yang relatif tetap disebabkan praktek atau
pengalaman lampau dalam situasi tertentu .
Berdasarkan pengertian yang dikemukan di atas, penulis mengambil
kesimpulan bahwa pada hakekatnya belajar adalah usaha yang dilakukan dengan
sengaja untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang diinginkan. Sejalan
dengan hal tersebut, Hamalik (1995) dalam Wahyudin (2006 : 3.33) menjelaskan
tiga ciri khas dalam pembelajaran sebagai berikut :
1. Rencana, ialah penataan ketenagaan, material, dan prosedur yang merupakan
unsur sistem pembelajaran dalam suatu rencana khusus.
2. Saling ketergantungan (interdependence) antara unsur sistem pembelajaran
yang serasi dalam suatu keseluruhan. Tiap unsur bersifat esensial, dan masing
masing memberi sumbangannya kepada sistem pembelajaran.
3. Tujuan, pembelajaran memiliki tujuan tertentu yang hendak dicapai.

Pembelajaran bahasa merupakan salah satu bentuk pengajaran yang


memiliki cara yang berbeda dalam metode pengajarannya dibandingkan dengan
bidang-bidang yang lain, misalnya bahasa Indonesia. Sebagaimana kita ketahui
didapatkan oleh seseorang melalui dua hal, yaitu melalui perolehan dan melalui
pembelajaran. Didapatkan melalui perolehan di sini artinya yakni di mana
seseorang untuk pertama kalinya memperoleh bahasa (masih murni, belum
memiliki bahasa) dalam penjelasan hal ini yang dimaksud yakni bayi atau balita.
Sistem kehidupan inilah yang menyerap semua aspek-aspek tentang bahasa
pertamanya dari orang tua, keluarga dan lingkungan sekitarnya tanpa harus
belajar. Maka proses yang demikian itu adalah proses pembelajaran.
Untuk memperlancar kegiatan pengajaran bahasa diperlukanlah metode
atau suatu rumusan sistem cara pengajaran karena metode pengajaran merupakan
salah satu faktor yang berperan dalam pengajaran. Peran suatu metode sangatlah
besar dalam suatu pengajaran dan bersangkutan juga dengan siswa yang menjadi
objek pengajaran (Yus Rusyana,2003).
Dalam menerapkan metode pengajaran bahasa ada beberapa hal yang sebaiknya
diperhatikan terlebih dahulu oleh para pengajar yang antara lain adalah sebagai
berikut:
1. Pengajaran harus disesuaikan dengan kultur sosial dari objek siswa
2. Menggunakan metode yang dianggap mudah oleh para siswa
3. Melalui pendekatan yang sifatnya komunikatif dalam kegiatan belajar
mengajar

4. Dan lain-lain

Banyak

sekali

metode-metode

dalam

pengajaran

bahasa

yang

sesungguhnya memiliki perbedaan-perbedaan antara satu dengan lainnya yang


mungkin diakibatkan oleh teori-teori bahasa yang berbeda, jenis-jenis deskripsi
bahasa yang beragam dan ide-ide yang beraneka tentang belajar bahasa.
Mengapa adanya kegagalan dalam pengajaran Bahasa Indonesia? Bahasa
Indonesia yang sesungguhnya berasal dari bahasa Melayu Riau yang kemudian
mendapatkan pengaruh-pengaruh dari bahasa daerah-daerah lain dan juga dari
bahasa asing, seperti bahasa-bahasa penjajah kita. Kegagalan di sini bersumber
pada metode yang digunakan karena metode itu menentukan apa dan bagaimana
pengajaran bahasa itu. Pengajaran bahasa dianggap berhasil apabila siswa dapat
mendengar (menyimak), berbicara, membaca, menulis, memiliki banyak kosakata
(vocab) dan juga bertata bahasa (grammar) dengan baik.
Pada hakikatnya semua metode pengajaran bahasa terjadi dari penahapan
seleksi, gradasi, persentasi dan repetisi tertentu dari bahan pelajaran (Guntur
Tarigan,2004). Oleh karena itu, untuk membedakan suatu metode dengan metode
yang lain kita harus menggunakan keempat tahap tersebut sebagai kriteria. Tahap
seleksi dilakukan karena tidak mungkin mengajarkan semua bidang pengetahuan
tetapi kita harus menyeleksi bagian mana yang akan kita ajarkan. Tahap gradasi
dilakukan karena tidak mungkin kita mengajarkan secara serentak semua yang
telah kita seleksi. Tahap persentasi dilakukan karena tidak mungkin kita mengajar
tanpa mengkomunikasikan sesuatu itu kepada orang lain. Tahap repetisi dilakukan

karena tidak mungkin kita mempelajari sesuatu keterampilan dari suatu keadaan
yang tunggal saja. Semua keterampilan bergantung pada prakteknya.
B. Metode Tanya Jawab
Metode
mengajar

adalah

suatu

pengetahuan

tentang

cara-cara mengajar yang dipergunakan oleh seorang guru atau instruktur.


Pengertian lainnya ialah teknik penyajian yang dikuasai oleh guru untuk
mengajar atau menyajikan bahan pelajaran pada siswa di dalam kelas, baik secara
individual maupun secara kelompok / klasikan, agar pelajaran itu dapat diserap,
dipahami dan dimanfaatkan oleh siswa dengan baik.
Di

dalam

kenyataannya,

cara

atau

metode

mengajar

yang

digunakan untuk menyampaikan informasi berbeda dengan cara yang ditempuh


untuk memantapkan siswa dalam menguasai pengetahuan keterampilan dans
ikap(kognitif,

psikomatan,

efektif).

Khusus

metode

mengajar

di

dalamkelas,efektifitas suatu metode dipengaruhi oleh faktor tujuan, faktor siswa,


faktor situasi, dan faktor guru itu sendiri.
Metode Tanya jawab adalah suatu metode di dalam pendidikan dan
pengajaran dimana guru bertanya sedangkan murid menjawab tentang bahan
materi yang ingin diperolehnya.

Metode tanya jawab dilakukan :

Sebagai ulangan pelajaran yang telah diberikan.

Sebagai selingan dalam pembicaraan.

Untuk merangsang anakdidik agar perhatiannya tercurah kepada


maslah yang sedang dibicarakan.


1.

Untuk mengarahkan proses berpikir.

Segi Positif
o

Kelas akan hidup karena anak didik aktif berpikir dan menyampaikan
pikiran melalui berbicara.

Baik Sekali untuk melatihanak didik agar berani mengembangkan


pendapatnya dengan lisan secara teratur.

Timbulnya perbedaan pendapat diantara anak didik akan membawa kelas


ke dalam suasana diskusi

2.

Segi Negatif
o

Apabila

terjadi

perbedaan

pendapat

akan

banyak

waktu

untuk

menyelesaikannya.
o

Kemungkinan akan terjadi penyimpangan perhatian anak didik.

Dapat menghambat cara berpikir.

Situasi persaingan bisat imbul, apabila guru kurang menguasai teknik


pemakaian metoda ini.

3.

Saran-Saran
o
o
o

Pertanyaan hendaknya ditujukan kepada seluruh kelas.


Giliran menjawab secara merata,tidak berpusat kepada anak didik tertentu.
Menerapkan kemungkinan jawaban pertanyaan, apakah mengandung
banyak masalah ataukah hanya terbataspada jawabannya atau tidak.

C. Metode Diskusi
1. Pengertian Diskusi
Kata diskusi sering kita temui dalam berbagai kesempatan, baik dalam
kehidupan sehari-hari atau dalam proses belajar mengajar. Inti dari makna diskusi
9

yaitu memecahkan suatu masalah atau persoalan yang dilakukan secara bersamasama atau berkelompok. Hal ini sesuai apa yang diutarakan menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia (2003) disebutkan bahwa, Diskusi adalah perundingan
untuk bertukar pikiran (bahas membahas suatu masalah)
2. Tujuan Penggunaan Teknik Diskusi
Sebagai

salah

satu

metode

mengajar

atau

pendekatam

proses

pembelajaran, diskusi bertujuan sebagai berikut:


a. Mengembangkan pengetahuan siswa untuk menyelesaikan suatu masalah
b. Berlatih menyampaikan pendapat dengan menggunakan bahasa yang baik
dan benar.
c. Menghargai pendapat orang lain.
d. Melatih berpikir kreatif dan kritis. (Santosa, 2007 :1.16)

3. Kelebihan dan Kekurangan Metode Diskusi


a. Kelebihan Metode Diskusi
Beberapa kelebihan atau keunggulan metode diskusi dapat penulis
urtaikan sebagai berikut:
1) Siswa dilatih merumuskan masalah
2) Materi pelajaran dapat dikuasai siswa dengan baik karena siswa secara
langsung terlibat dalam proses pembelajaran.
3) Suasana pembelajaran lebih bervariasi, hidup dan menarik perhatian siswa.

Berdasarkan rumusan di atas dapat dikatakan bahwa proses pembelajaran


keaktifan siswa sangat berpengaruh tehadap proses pembelajaran. Hal ini terjadi
karena guru menanamkan subyek pembelajaran pada siswa bukan pada guru.

10

b. Kekurangan Metode Diskusi


Tidak ada suatu metode pembelajaran yang sempurna, denikian juga
dengan metode diskusi. Kelemahan

metode diskusi penulis uriakan sebagai

berikut:
1) Membutuhkan waktu yang relatif lama, karena dalam pelaksanaan diskusi
sering masalah yang dihadapi siswa melebar.
2) Membutuhkan keterampilan berbahasa yang baik.
3) Siswa yang pasif akan semakin tertinggal dan rendah diri.
4) Masalah yang dihadapi harus permasalahan yang konkret dan sudah
dipahami siswa agar diskusi berjalan dengan lancar.

D. Media Pembelajaran dan Alat Peraga


Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti
tengah, perantara atau pengantar. Dalam bahasa arab, media adalah
perantara ( ) atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan.
Gerlac dan Ely mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar
adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat
siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan atu sikap.
Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan
pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan,
perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar
terjadi. Media yang dipergunakan dalam mengajar disebut juga dengan media
pengajaran. Karena pengajaran bagian dari kegiatan pembelajaran maka media
pengajaran sering disebut juga dengan media pembelajaran.

11

Menurut Tim LPM DKI Jakarta: media pembelajaran adalah segala


sesuatu yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi dalam
proses belajar mengajar sehingga dapat merangsang perhatian dan minat siswa
dalam belajar.Dengan demikian media pengajaran adalah alat yang dapat
digunakan untuk menyampaikan informasi dan pesan-pesa pengajaran dari
sumber belajar yaitu guru kepada peserta didik yaitu siswa agar proses
pembelajaran dapat berjalan dengan efektif dan efisien.
Sedangkan Rusyan berkesimpulan mengenai media dalam pendidikan
adalah:
a. Media adalah alat yang dapat membantu proses belajar mengajar yang
berfungsi memperjelas makna pesan yang disampaikan sehingga tujuan proses
belajar mengajar dapat tercapai dengan sempurna.
b. Media berperan sebagai perangsang belajar dan dapat menumbuhkan motivasi
belajar sehingga peserta didik tidak bosan dalam meraih tujuan belajar.

1. Landasan Teoritis Penggunaan Media Pengajaran


Pemerolehan pengetahuan dan keterampilan, perubahan-perubahan sikap
dan prilaku dapat terjadi karena interaksi antara pengalaman baru dengan
pengalaman yang pernah dialami sebelumnya. Menurut Bruner, ada tiga tingkatan
pertama modus belajar, yaitu: pengalaman langsung (enactive), pengalaman
pictorial/gambar (iconic), dan pengalaman abstrak (simbolic).
Pengalaman langsung adalah mengerjakan, misalnya arti kata simpul
dipahami dengan langsung membuat simpul. pada tingkat kedua yaitu iconic

12

(gambar/image), kata simpul dipelajari dari gambar, lukisan, photo, atau film.
Meskipun siswa belum pernah membuat simpul mereka dapat mempelajari dari
gambar lukisan, photo atau film tersebut. Kemudian yang ketiga pada tingkatan
simbol (membaca/mendengar) kata simpul dan mecoba mencocokkannya denga
simpul pada image mental atau mecocokkannya dengan pengalamannya membuat
simpul. Ketiga tingkatan pengalaman ini saling berinteraksi dalam upaya
memperoleh pengalaman (pengetahuan, keterampilan atau sikap) yang baru.
Salah satu gambaran yang paling banyak dijadikan acuan sebagai landasan
teori penggunaan media dalam proses belajar adalah Dales cone of experience
(kerucut pengalam Dale). Kerucut ini merupakan elaborasi yang rinci dari konsep
tiga tingkatan pengalaman yang dikemukakan oleh Brunner sebagai mana
dijelaskan sebelumnya. Hasil belajar seseorang diperoleh mulai dari pengalaman
langsung (kongkrit), kenyataan yang ada di lingkungan kehidupan seseorang
kemudian melalui benda tiruan, sampai kepada lambang verbal (abstrak). Semakin
ke atas di puncak kerucut semakin abstrak media penyampaian pesan itu.

2. Alasan Penggunaan Media Pengajaran


Media pengajaran digunakan guru karena bertitik tolak dari dua hal
sebagai berikut:
a. Belajar dipandang sebagai perubahan perilaku peserta didik
Belajar dipandang sebagai perubahan perilaku peserta didik. Perubahan
perilaku ini tidak terjadi dengan sendirinya, akan tetapi melalui suatu proses yang
dimulai dari adanya rangsangan, yaitu peserta didik menangkap rangsangan

13

kemudian mengolahnya, sehingga mengandung suatu persepsi. Semakin baik


rangsangan diberikan, semakin kuat pula persepsi peserta didik terhadap
rangsangan tersebut. Pembentukan persepsi, harus diupayakan secara kuat oleh
guru agar terbebtuk suatu pengalaman belajar yang bermakna. Tetapi ada kalanya
persepsi dapat terganggu karena terdapat kekurangan atau hambatan baik dalam
alat indera, minat, pengalaman, kecerdasa, perhatian serta kejelasan objek yang
akan dikenalkan. Oleh karena itu digunkanlah media pengajaran sebagai
pemecahannya.

b. Belajar merupakan proses komunikasi


Proses belajar mengajar pada hakikatnya merupakan proses komunikasi.
Proses komunikasi adalah proses menyampaikan pesan dari sumber pesan melalui
saluran/media tertentu ke penerima pesan. Dalam proses penyampaian pesan tidak
selamanya sukses karena terdapat beberapa hambatan, baik yang ditimbulkan oleh
pemberi pesan atau dari penerima pesan. Hambatan ini disebut noises atau
barriers.
Dalam proses pengajaran, noise itu dapat berupa keterbatasan peserta didik
secara fisik maupun psikologis, kultural maupun lingkungan. Sehingga untuk
meredam, memperkecil, mengatasi atau menghilangkan beragam keterbatasan
dalam komunikasi tadi, dapat digunakan alat perantara yang disebut media
pengajaran.

14

3. Ciri-Ciri Media Pengajaran


Gerlach & Ely mengemukakan tiga ciri media yang merupakan petunjuk
mengapa media digunakan dan apa-apa saja yang dapat dilakukan oleh media
yang mungkin guru tidak mampu atau kurang efisien melakukannya. Pertama Ciri
fiksatif (fiksative Property) Ciri ini menggambarkan kemampuan media merekam,
menyimpan, melestarikan dan merekontruksi suatu peristiwa atau objek. Suatu
peristiwa atau objek dapat diurut dan di susun kembali dengan media seperti
fotografi, video tape, audio tape, disket computer, dan film. Suatu objek yang
telah dimbil gambarnya (direkam) dengan kamera atau pideo kamera dengan
mudah dapat di reproduksi kapan saja diperlukan. Dengan ciri fiksatif ini media
memungkinkan suatu rekaman kejadian atau objek yang terjadi pada suatu waktu
tertentu ditransportasikan tanpa mengenal waktu. Kedua Ciri manipulatif
(manipulativeproperty)
Transpormasi suatu kejadian atau objek dimungkinkan karena media memiliki ciri

15

manipulatif. Kejadian yang memakan waktu berhari-hari dapat disajikan kepada


siswa dalam waktu dua atau tiga menit dengan teknik pengambilan gambar timelapse recording. Misalnya bagaimana proses larva menjadi kepompong kemudian
menjadi kupu-kupu dapat dipercepat dengan teknik rekaman fotograpi tersebut.
Disamping dapat dipercepat suatu kejadian dapat pula diperlambat pada saat
menayangkan kembali hasil suatu rekaman video. Misalnya proses loncat galah
atau reaksi kimia dapat diamati melalui bantuan kemampuan manipulatif dari
media.

4. Fungsi dan Manfaat Media Pengajaran


Dalam suatu proses belajar mengajar, dua unsur yang amat penting adalah
metode mengajar dan media pengajaran. Kedua aspek ini saling berkaitan.
Pemilihan salah satu metode mengajar akan mempengaruhi jenis media
pengajaran yang sesuai meskipun masih ada berbagai aspek lain yang harus
diperhatikan dalam memilih media, antara lain tujuan pengajaran, jenis tugas dan
respon yang diharapkan siswa menguasi setelah pengajaran berlangsung, dan
kontek pembelajaran termasuk karakteristik siswa. Meskipun demikian dapat
dikatakan bahwa salah satu fungsi utama media pengajaran adalah sebagai alat
Bantu mengajar yang turut mempengaruhi iklim, kondisi dan lingkungan belajar
yang ditata dan diciptakan oleh guru.

16

Terdapat pendapat beberapa ahli pendidikan mengenai manpaat atau


kegunaan dari media pengajaran dalam proses belajar mengajar. Yusup Hadi
Miarso dkk, menyatakan bahwa media pengajaran itu mempunyai nilai-nilai
praktis yang berupa kemempuan antara lain:
a. Membuat konkrit konsep yang abstrak
b. Membawa objek yang sukar di dapat ke dalam lingkungan belajar siswa.
c. Menampilkan objek yang terlalu besar
d. Menampilkan objek yang tidak dapat diamati dengan mata telanjang
e. Mengamati gerakan yang terlalu cepat.
f. Memungkinkan keseragaman pengamatan dan persepsi bagi pengalaman
belajar siswa.
g. Membangkitkan motivasi belajar, dan
h. Menyajikan informasi belajar secara konsisten dan dapat diulang maupun
disimpang menurut kebutuhan.

Sementara itu Abu Bakar Muhammad juga berpendapat bahwa kegunaan


media pengajaran antara lain:

17

a.

Mampu mengatasi kesulitan-kesulitan dan memperjelas materi pelajaran yang


sulit.

b.

Mampu mempermudah pemahaman, dan menjadikan pelajaran lebih hidup


dan menarik.

c.

Merangsang anak untuk bekerja dan menggerakkan naluri kecintaan


menelaah (belajar) dan menimbulkan kemauan keras untuk mempelajari
sesuatu.

d.

Membantu pembentukan kebiasaan, melahirkan pendapat, memperhatikan


dan memikirkan suatu pelajaran, dan

e.

Menimbulkan

kekuatan

perhatian

(ingatan)

mempertajam,

indera,

melatihnya, memperhalus perasaan dan cepat belajar.

Hamalik mengemukakan bahwa pemakaian media pengajaran dalam


proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru,
membangkitkan motivasi dan rangsangan, dan bahkan membawa pengaruhpengaruh psikologis terhadap siswa. Penggunaan media pengajaran pada tahap
orientasi pengajaran akan sangat membantu keepektifan proses pembelajaran dan
penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu.

D. Alat Peraga
1. Pengertian Alat Peraga
Sampai saat ini para ahli pendidikan belum banyak yang mengungkapkan
secara sistematik tentang konsep Alat Peraga belajar. Namun dari beberapa buku

18

yang penulis baca, banyak diungkapkan tentang Alat Peraga pelajaran bukan Alat
Peraga belajar. Namun penulis berpendapat bahwa yang dimaksud dengan Alat
Peraga pelajaran adalah juga Alat Peraga belajar.
Tujuan digunakan Alat Peraga pelajaran diungkapkan oleh Pandie (1984:
153) sebagai berikut:
Maksud dan tujuan Alat Peraga mengajar yaitu memberikan variasi dalam
cara-cara mengajar, memberikan lebih banyak realitas dalam belajar itu
lebih berwujud, lebih terarah, untuk mencapai tujuan tertentu. Tugasnya
untuk menolong anak agar lebih mudah memahami pelajaran-pelajarannya
dengan jelas atau menguasai isi pelajaran dengan baik.
Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa maksud dan tujuan
digunakannya Alat Peraga mengajar, yaitu agar siswa lebih cepat menguasai
materi pelajaran yang diberikan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, Alat
Peraga belajar atau Alat Peraga mengajar pada situasi-situasi tertentu dapat
dikatakan sama, yaitu untuk membantu membelajarkan peserta didik. Hanya
perbedaannya terletak pada siapa Alat Peraga tersebut digunakan. Jika alat
tersebut digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar sehingga proses
mengajarnya lebih efektif, maka alat-alat tersebut Alat Peraga mengajar. Tetapi
juga alat tersebut digunakan siswa untuk mempermudah belajarnya, maka disebut
Alat Peraga belajar.

2. Ciri-Ciri Alat Peraga

19

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Alat Peraga adalah segala
sesuatu yang dapat membantu

siswa belajar. Dengan demikian Alat Peraga

belajar menurut Ali Pandie (1984: 1992) memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Sesuai dengan tujuan belajar siswa, tidak semua Alat Peraga pelajaran
bisa dikatakan sebagai Alat Peraga belajar, karena yang dimaksud Alat
Peraga belajar jika digunakan untuk membantu siswa mencapai tujuan
belajarnya.
b. Sesuai dengan materi yang diajarkan, jika materi yang diajarkan kognitif
maka Alat Peraga belajar yang digunakan harus benar-benar membawa
pesan yang bersifat kognitif. Tetapi jika materi itu bersifat penguasaan
suatu keterampilan gerak, maka Alat Peraga yang digunakan benar-benar
membawa misi mengubah perilaku psikomotor individu.
c. Alat Peraga tersebut bisa membantu siswa belajar. Alat Peraga tersebut
harus benar-benar bisa membantu mengubah perilaku individu sesuai
dengan perubahan perilaku yang diharapkan.

3. Fungsi Alat Peraga


Adapun fungsi media pengajaran (Alat Peraga ) seperti yang diungkapkan
Sadiman (1986: 17) sebagai berikut:
Secara umum media pendidikan mempunyai kegunaan-kegunaan sebagai
berikut:
a. Memperjelas penyajian pesan agar guru tidak bersifat verbalitas.

20

b. Mengembangkan sifat kratif anak karena menimbulkan gairah belajar,


memungkinkan

interaksi

yang

berlangsung

lingkungannya,

mungkin

anak

belajar

antara

sendiri

siswa

sesuai

dan

dengan

kemampuannya.

Salah satu fungsi Alat Peraga di atas adalah memperjelas penyajian materi
pelajaran agar tidak bersifat verbalitas (dalam bentuk kata-kata atau lisan), untuk
itu peranan Alat Peraga dalam belajar adalah penting, apabila guru tersebut tidak
bisa menyampaikan pesan tersebut melalui media verbal.

4. Pentingnya Alat Peraga


Untuk membantu menghilangkan kebiasaan-kebiasaan yang salah, maka
diperlukan alat-Alat Peraga belajar yang baik dan benar, yaitu yang dapat
mempercepat pencapaian tujuan belajar siswa. Banyak Alat Peraga yang bisa
digunakan dalam proses belajar mengajar olahraga, tetapi alat yang dibutuhkan
adalah Alat Peraga yang sesuai dengan tujuan belajar siswa yang diharapkan.
Dalam hal ini maka guru harus memahami, memiliki dan menetapkan alat-Alat
Peraga yang cocok untuk digunakan
Selain itu pentingnya alat-Alat Peraga belajar seperti yang diungkapkan
oleh Ali Pandie (1984: 193) adalah sebagai berikut:
Adapun nilai atau manfaat Alat Peraga antara lain:
a. Menambah kegiatan belajar siswa.
b. Menghemat waktu belajar.

21

c. Membantu anak-anak yang ketinggalan dalam pelajarannya.


d. Memberikan situasi yang wajar untuk belajar membangkitkan minat
perhatian, aktivitas, dan turut serta dalam berbagai kegiatan di kelas.

Dari kutipan di atas nampak bahwa penggunaan Alat Peraga yang tepat
dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dan meningkatkan efisiensi proses
belajar mengajar.

22

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian


1. Waktu Penelitian
Pelaksanaan penelitian tindakan kelas dimulai dari tanggal 10 Juli
2011 sampai dengan 20 September 2011 adapun waktu pelaksanaan
penelitian adalah sebagai berikut :

Tabel 3.1
Jadwal Penelitian Tindakan Kelas VI di SDN Cintaasih I
Waktu
No.

Kegiatan

Keterangan kegiatan

Pelaksanaan
Penyerahan
1

13 Juli 2011

Proposal
Penguasaan siswa terhadap

2
3

22 Juli 2011
28 Juli 2011

Siklus I

materi pada Lembar Kerja Siswa

Siklus II

dalam metode diskusi kelompok.


Penguasaan siswa terhadap
materi pada Lembar Kerja Siswa

23

dalam metode diskusi kelompok.


Penguasaan siswa terhadap
4

30 Juli 2011

Siklus III

materi pada Lembar Kerja Siswa


dalam metode diskusi kelompok.
Penyusunan Laporan setelah

02 Agustus 2011
Penyusunan
5

&

mendapat hasil dari setiap Siklus


Laporan

16 Agustus 2011
04 Agustus 2011
6

&
23 Agustus 2011

yang telah dilaksanakan.


Pelaksanaan Ujian Seminar
Seminar

laporan bersama pembimbing.


Penyempurnaan Revisi Laporan hasil Ujian

09 Agustus 2011
Laporan
Penyerahan

dalam mempertanggungjawabkan

Seminar.
-

12 Agustus 2011
Laporan
Penulisan makalah sebagai

Penulisan

bentuk laporan yang mencakup

Makalah

semua hasil Penelitian Tindakan

14 Juli 2011
Kelas.
Penyerahan

10

20 September 2011
Makalah

2. Tempat Penelitian
Pelaksanaan Penelitian dilakukan pada kelas VI di SDN Cintaasih I
Kecamatan Pangkalan Kabupaten Karawang.
B. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa dari SDN Cintaasih I
Kecamatan Pangkalan.
2. Sampel
24

Sedangkan sebagai sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas VI


dari SDN Cintaasih I Kecamatan Pangkalan, sebanyak 29 orang siswa.
C. Prosedur Penelitian
Secara umum, prosedur pelaksanaan perbaikan pembelajaran dengan
langkah-langkah sebagai berikut :
1. Merencanakan perbaikan pembelajaran.
2. Melaksanakan perbaikan pembelajaran.
3. Melakukan refleksi terhadap pelaksanaan perbaikan pembelajaran.

Untuk membantu mengumpulkan data, penelitian dibantu oleh teman


sejawat SDN Cintaasih I sebagai pengamat.
Langkah-langkah yang ditempuh dalam perbaikan pembelajaran materi
mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut :
a. Guru mengadakan pengkondisian kelas, pengabsenan dan mengadakan
apersepsi

mengenai

materi

sebelumnya

serta

menyampaikan

pembelajaran sebagai kegiatan awal.


b. Guru

membahas

materi

pembelajaran

dengan

mempergunakan

pendekatan pengamatan, pemberian contoh, latihan, demonstrasi dan


penugasan.
c. Guru memberi kesempatan bertanya / menjawab pada siswa.
d. Dengan tanya jawab, guru bersama siswa menyimpulkan materi
pembelajaran.
e. Memberikan tugas sebagai pemantapan materi yang telah diajarkan.

25

Berkaitan dengan masalah yang dihadapi yaitu : Kurangnya minat /


ketertarikan terhadap materi dan keaktifan siswa terhadap mata pelajaran Bahasa
Indonesia.
Fokus kegiatan yang menjadi perhatian dalam perbaikan pembelajaran
Bahasa Indonesia adalah mengadakan pengamatan dan demonstrasi dengan
alat/media yang sesuai dan menarik, memperbanyak kesempatan untuk melakukan
tanya jawab dan pemberian tugas. Setiap siswa diupayakan untuk aktif
mengerjakan tugas.

Secara rinci langkah-langkah kegiatan teruari seperti di bawah ini:


1. Tahap Perencanaan Tindakan
Pada tahap perencanaan perbaikan yang akan dilakukan yaitu :
mengobservasi dan mengecek data nilai-nilai belajar baik mata pelajaran
Matematika Kelas VI maupun Bahasa Indonesia Kelas VI, menyusun rencana
perbaikan baik Matematika maupun Bahasa Indonesia (terlampir), dan berdiskusi
dengan teman sejawat untuk menentukan langkah-langkah yang harus
dilaksanakan.
Adapun hal yang dibicarakan antara lain :
a. Menetapkan fokus observasi.
b. Cara pelaksanaan dan alat bantu observasi.
c. Kesesuaian rencana pembelajaran.
d. Menyusun rencana ulang bagi siklus berikutnya.

26

e. Penentuan pelaksanaan observasi.


f. Penetapan waktu dan cara pelaksanaan refleksi
2. Tahap Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan adalah praktek pembelajaran yang sebenarnya, berdasarkan
rencana tindakan yang telah disusun. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan
oleh guru sendiri sebagai penulis, tetapi dalam proses observasi guru bermitra
dengan Kepala Sekolah atau dengan sesama guru sebagai teman sejawat yang
dibantu dengan beberapa alat yang diperlukan. Alat tersebut antara lain pedoman
observasi dan tes hasil belajar.
3. Tahap Observasi
Tahap observasi bertujuan mengamati pelaksanaan tindakan dan memasukkan
semua

kegiatan

yang

ditujukan

untuk

mengenali,

merekam

dan

mendokumentasikan setiap indikator dari proses dan hasil yang dicapai baik dari
tindakan terencana maupun tindakan sampingan. Disamping itu, untuk
mengetahui kesesuaian pelaksanaan tindakan dengan rencana tindakan, juga untuk
mengetahui seberapa jauh tindakan yang sedang berlangsung demi meningkatkan
prestasi belajar.
4. Tahap Refleksi
Refleksi dilakukan setiap selesai melakukan tindakan pelajaran (tiap siklus).
Kajian adalah tentang hal-hal yang sudah dipertahankan, hal-hal yang harus
diperbaiki atau ditambah, sekaligus bagaimana solusinya yang akan diterapkan
dalam perencanaan siklus berikutnya, sehingga tindakan itu dapat meminimalkan
kesulitan belajar siswa meningkat aktif.

27

Adapun rencana pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada mata pelajaran


Bahasa Indonesia adalah :
a. Siklus I dengan langkah-langkah sebagai berikut :
- Guru mengkondisikan siswa dalam situasi belajar yang kondusif.
- Mengadakan apersepsi dengan tanya jawab
- Menyampikan tujuan pembelajaran.
- Membagikan LKS untuk bahan diskusi kelompok.
- Membimbing diskusi kelompok.
- Melaporkan hasil diskusi kelompok.
- Melakukan evaluasi dan menganalisis hasilnya.
b. Siklus II dengan langkah-langkah sebagai berikut :
- Guru mengkondisikan siswa dalam situasi belajar yang kondusif.
-

Mengadakan apersepsi dengan tanya jawab

Menyampikan tujuan pembelajaran.

Membagikan

LKS untuk bahan diskusi

kelompok.
-

Tiap kelompok membacakan hasil kerjanya


secara bergiliran.

Melaksanakan evaluasi dan menganalisis


hasilnya.

Memberi tugas agar banyak membaca untuk


memperkaya perbendaharaan kata.

28

c. Siklus III dengan langkah-langkah sebagai berikut :


- Guru mengkondisikan siswa dalam situasi belajar yang kondusif.
-

Mengadakan apersepsi dengan tanya jawab.

Menyampikan tujuan pembelajaran.

Membahas materi pelajaran tentang tata cara


pengisisan formulir.

Melaksanakan evaluasi dan pemberian tugas


untuk pemantapan.

29

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.

Deskripsi Per Siklus

1. Hasil Pengolahan Data


Dari data yang berhasil penulis himpun terhadap siswa yang menjawab
pertanyaan yang diajukan pada perbaikan pembelajaran dilihat dari segi
pemahaman materi pelajaran, sikap selama mengikuti pelajaran, keterampilan
yang dikuasai atau dimiliki siswa, kiranya tabel nilai dibawah ini bisa mewakili
sebagai sampel.

Tabel 4.1
Daftar Nilai Bahasa Indonesia
Siklus I, II dan III

No

NAMA SISWA

SIKLUS I
70
70 %

NILAI
SIKLUS II
75
75 %

SIKLUS III
85
85 %

Ai Juariah

Ai Mini Nuraeni

55

55 %

65

65 %

75

75 %

Ai Siti Sadaah

70

70 %

75

75 %

85

85 %

Astri Septiani

65

65 %

70

70 %

75

75 %

Bambang Fauzi

70

70 %

75

75 %

80

80 %

Deuis Siti Nurjanah

55

55 %

65

65 %

70

70 %

Elis Nurhayati

80

80 %

85

85 %

90

90 %

Fitri Nurlaela

80

80 %

85

85 %

90

90 %

Imas Siti Masitoh

55

55 %

65

65 %

70

70 %

10

Irpan

60

60 %

70

70 %

75

75 %

11

Jajang

70

70 %

75

75 %

80

80 %

30

12

Luthfi

70

70 %

75

75 %

85

85 %

13

Leni

70

70 %

75

75 %

80

80 %

14

M. Saripudin

70

70 %

75

75 %

85

85 %

15

Nursandi

70

70 %

75

75 %

85

85 %

16

Nina Sari

65

65 %

70

70 %

80

80 %

17

Nanang

65

65 %

70

70 %

80

80 %

18

Opi Ropiah

65

65 %

70

70 %

80

80 %

19

Rendi

65

65 %

70

70 %

80

80 %

20

Resti Ayu S.

75

75 %

80

80 %

85

85 %

21

Rista H.

65

65 %

75

75 %

75

75 %

22

Riska W.

70

70 %

75

75 %

90

90 %

23

Siti Hanifah

70

70 %

75

75 %

85

85 %

24

Sarif Hidayat

70

70 %

75

75 %

85

85 %

25

Supyan

65

65 %

70

70 %

75

75 %

26

Stevani

55

55 %

65

65 %

70

70 %

27

Tedi Irpandi

65

65 %

70

70 %

80

80 %

28

Vivin Widaningsih

60

60 %

65

65 %

80

80 %

29

Winda Yanti
Rata-rata

60

60 %

65

65 %

80

80 %

66,3

66,3%

72

72 %

85

85 %

Hal di bawah ini merupakan hasil dari prestasi belajar siswa yang
merupakan refleksi dari rendah / tingginya tingkat penguasaan / pemahaman
terhadap materi pelajaran.
Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Nilai / Skor
10
20
30
40
50

Banyak Siswa Per Nilai


Siklus I
Siklus II
Siklus III
-

31

55
60
65
70
75
80
85
90
100

4
3
6
11
8
2
66,3 %

15
6
11
14
2
72 %

2
5
10
10
3
85 %

Grafik Mata Pelajaran Bahasa Indonesia

2.

Deskripsi Temuan dan Refleksi


Berdasarkan hasil temuan dengan teman sejawat dan supervisor, kegiatan

pembelajaran yang dilaksanakan menunjukkan tingkat kemajuan pada pelajaran


Bahasa Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari hasil test / evakuasi belajar siswa dan

32

persentase belajarnya. Dari hasil pengamatan pada pembelajaran Matematika pada


siklus I, II dan III terdapat perolehan nilai evaluasi sebagai berikut :
Dari hasil pengamatan teman sejawat pada pembelajaran Bahasa Indonesia
pada siklus I, II dan III terdapat perolehan nilai sebagai berikut :
a. Siklus I rata-rata perolehan nilai 66,3
b. Siklus II rata-rata perolehan nilai 72
c. Siklus III rata-rata perolehan nilai 85
Pada waktu pembelajaran Bahasa Indonesia masih ada sebagian siswa yang
belum mau memperhatikan penjelasan guru belum terlibat dalam kegiatan
pembelajaran. Untuk itu penulis melakukan refleksi dengan pertanyaan sebagai
berikut :
1. Apakah materi pelajaran yang disajikan tidak menarik minat siswa ?
2. Apakah metode yang digunakan terlalu monoton ?
3. Apakah menjelaskan materi pelajaran terlalu cepat ?
4. Apakah suka memberikan penguatan dan motivasi kepada siswa ?
5. Apakah pekerjaan / tugas siswa suka diperiksa ?
6. Apakah sudah menggunakan alat peraga dengan maksimal dan sesuai
dengan materi pelajaran yang dilaksanakan ?

B.

Pembahasan Per Siklus


Secara umum, kegiatan perbaikan pembelajaran bagi siswa Kelas VI SDN

Cintaasih I dapat dikatakan berhasil. Hal ini dapat dilihat dari terjawabnya
persoalan-persoalan yang teridentifikasi sebagai masalah sehingga :

33

1. Kemampuan siswa dalam penguasaan materi kian meningkat.


2. Siswa dapat menjawab pertanyaan guru.
3. Siswa mulai berani bertanya.
4. Siswa dapat memahami konteks suatu wacana.
Secara rinci uraian diatas dapat dijelaskan pula sebagai berikut :
Pada mata pelajaran Bahasa Indonesia terjadi peningkatan pula. Perolehan
persentase pada siklus I, yakni 63 %, meningkat menjadi 74 %. Penulis / guru
tetap memfokuskan pada upaya penanggulangan kendala-kendala yang selama ini
menjadi kelemahan proses pembelajaran, yakni dengan cara menjelaskan materi
pelajaran secara bertahap dan tidak perlu terlalu cepat, memancing perhatian
siswa pada pelajaran dengan menerapkan metode penyampaian yang variatif,
memancing daya imajinasi siswa dengan bercerita lisan dan mengajari mereka
memahami konteks dengan menanggalkan kebiasaan menghafal setiap kata dari
bacaan.
Lebih jauh lagi, diupayakan pula peningkatan kemampuan baca siswa yang
rendah yang selama ini menjadi salah satu kendala. Pada akhirnya, kerja keras ini
mendapat hasilnya dengan perolehan persentase 85 % pada siklus III sebagai
siklus pamungkas.
Adanya perubahan perilaku pada siswa selama pembelajaran berlangsung
dipicu oleh kegiatan guru yang bervariasi dalam mengajar. Aplikasi teori belajar
kognitif yang dikemukakan oleh Jean Piaget dan David Ausbel dalam implikasi
teori kebermaknaan, sedikit banyak membantu penulis dalam membangkitkan
minat dan motivasi siswa ketika proses pembelajaran. Anak yang semula pasif,

34

tidak mau menjawab pertanyaan guru dan tidak mau bertanya kepada guru, timbul
keberanian.
Kedekatan guru dengan siswa menjadi modal utama untuk memancing
keberanian siswa dalam bertanya, berani menjawab soal dan berani tampil di
depan kelas.
Perubahan yang terjadi dalam proses dan hasil pembelajaran sebenarnya
berpangkal dari usaha guru untuk melakukan perbaikan-perbaikan pembelajaran
dan kemauan untuk melaksanakan prosedur pembelajaran dengan benar. Langkahlangkah pembelajaran yang disusun pada rencana pembelajaran merupakan
gambaran yang jelas dari skenario pembelajaran yang akan dilaksanakan di
kelasnya. Tingkat keberhasilan bergantung kepada kemampuan guru untuk
mengaplikasikan rencana tersebut dalam kegiatan pembelajaran siswa masih
terbatas sehingga guru memperbanyak pemberian tugas.

35

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil perbaikan pembelajaran yang telah dilakukan dapat
penulis simpulkan diantaranya :
1. Penerapan keterampilan pengisisan formulir melalui penggunaan alat
peraga dan metode diskusi semakin memperkuat pemahaman materi
Bahasa Indonesia.
2. Dengan dilaksanakan perbaikan pembelajaran Bahasa Indonesia, hasil
belajar siswa pada mata pelajaran itu mengalami kemajuan.
3. Prestasi belajar siswa juga meningkat, karena strategi pembelajaran dan
perilaku guru pada saat proses belajar mengajar sesuai dengan PTK
(Penelitian Tindakan Kelas).

B. Saran
Berdasarkan kesimpulan tersebut, beberapa hal yang sebaiknya dilakukan
oleh guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran, khususnya penguasaan materi
pelajaran dan aktivitas siswa dalam belajar diantaranya :
1. Gunakan alat peraga yang lengkap dan sesuai dengan pokok bahasan.
2. Perbanyak pertanyaan untuk memperkaya wawasan siswa dengan soal
yang jelas, tepat dan tidak membingungkan.

36

3. Guru harus berupaya mengkondisikan siswa agar mampu menerapkan


keterampilan bertanya, sehingga siswa lebih terpacu untuk selalu
memenuhi rasa keingintahuannya.
4. Memberi kesempatan bertanya dam memberikan pengarahan kepada
siswa yang mau menjawab dan penghargaan kepada yang mampu
menjawab.
5. Dari pengalaman melaksanakan perbaikan pembelajaran PTK, akan
merasakan manfaat dan dapat dimanfaatkan dalam mengatasi masalah
tugas guru selanjutnya. Sehingga kinerja guru lebih profesional dan
kualitas pembelajaran dan pendidikan lebih meningkat, rasa tanggung
jawab terhadap kewajibannya semakin baik dan menambah kepercayaan
diri dalam menjalankan tugasnya.

37

DAFTAR PUSTAKA

Aswan. Drs. (2007). Bina Bahasa Indonesia SD Kelas 4. Tim Bina Karya.
Erlangga.
Depdikbud (2006). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ). Jakarta.
Guntur Tarigan (2004). Keterampilan Dasar Menulis, Jakarta.
Mikarsa, Hera Lestari, Ph.D,dkk (2005). Pendidikan Anak di SD, Jakarta:
Universitas Terbuka.
Santoso, Puji. (2003). Materi Pembelajaran Bahasa Indonesia SD, Jakarta:
Universitas Terbuka.
Suparno, Muhamad Yunus. (2006). Keterampilan Dasar Menulis. Jakarta :
Universitas Terbuka.
Wardani, I.G.A.K,dkk (2004). Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Universitas
Terbuka.

38

Wardani, I.G.A.,dkk. (2008). Pemantapan Kemampuan Profesional (Panduan ),


Jakarta: Universitas Terbuka.

39

Lampiran-Lampiran

40