Anda di halaman 1dari 20

DASAR DASAR

ANESTESIA (II)
Oleh : Dr. H. J. Lalenoh, SpAn

Cara Masuk Gas Anestesia Dalam


Tubuh Manusia
Cara masuk 2 Fase :
1. FASE PULMONAR : Inhalasi gas
anestesia mencapai suatu konsentrasi alveolar yang cukup untuk difusi
melalui membran paru dan kemudian
mencapai darah arteriel.

2. FASE SIRKULATOAR :
Pengangkutan zat anestesia oleh
peredaran darah ke jaringan otak dan
organ lain; Konsentrasi pada jaringan
otak akhirnya sesuai dengan tekanan
partial uap anestesia dalam udara
alveolar.

Minimal Alveolar Concentration (M.A.C.)


Adalah konsentrasi minimal uap
anestesia dalam udara alveolar, yang
dapat menghasilkan hilangnya reaksi
terhadap incisi kulit pada 50% dari
obyek yang diteliti.
M.A.C. Bervariasi sesuai tempat,
yaitu tingginya tempat dari permukaan laut M.A.P. (Minimal Alveolar
Pressure)

FASE PULMONAR:
Pada paru-paru yang sehat difusi
melalui membran paru tidak merupakan faktor penghambat.
Umumnya tekanan dalam darah
arteriel akan sama dengan tekanan
dalam alveolar.

Faktor faktor yang mempengaruhi


tekanan alveolar :
1. Konsentrasi gas yang diinhalasi :
Konsentrasi gas tekanan
alveolar tekanan dalam darah
arteriel induksi anestesia lebih
cepat, asal tidak terjadi efek tahan
napas, laringospasme atau batukbatuk.

2. Ventilasi alveolar :
Konsentrasi udara alveolar sama
dengan konsentrasi udara yang diinspirasi dalam beberapa kali bernapas pada sistem non-rebreathing
dan penderita sehat, perlu waktu 3
menit untuk mencapai keseimbangan.
Induksi akan lebih cepat pada pernapasan dalam & sistim non - rebreathing, tetapi lebih lambat pada sistem
rebreathing, depresi pernapasan dan
obstruksi jalan napas.

3. Blood / gas partition coefficient :


Partition coefficient adalah ratio
keseimbangan konsentrasi zat
tersebut pada kedua sisi dari
membran difusi
Blood gas partition coefficient adalah
partition coefficient zat tersebut pada
membran alveolar paru-paru.
B / G part. Coeff:
# N2O 0,47
# Halotan
3,6
# Trilene
9,0
# Methoxyflurane 13,0
# Ether 15,0

Zat anestesia dengan B / G part.


Coeff induksi lebih lambat, tetapi
zat anestesia dengan B / G part.
Coeff induksi lebih cepat.
Kelarutan zat dalam darah
konsentrasi alveolar tidak mencapai
keseimbangan dengan konsentrasi
udara inspirasi. Oleh karena difusi zat
tersebut secara konstan dari alveoli
ke pembuluh darah pulmonar tek.
Zat dalam alveolar Tek. Dalam
darah arterial Induksi lambat.

Kelarutan zat dalam darah


konsentrasi alveolar seimbang
dengan konsentrasi udara inspirasi
tek. Alveolar tek. Darah arteriel
induksi cepat.
4. Tekanan partial obat anestesia
dalam darah yang kembali ke paruparu : Tekanan yang tinggi pada
darah A. Pulmonar (Darah Venous)
Meningkatkan konsentrasi alveolar.

5. Pulmonary Blood Flow : Pulmonary


blood flow mengangkut obat
anestesia dalam keadaan normal
pulmonary blood flow sama dengan
cardiac output.
6. Membran alveolar : Pada orang
sehat tidak ada masalah, tetapi pada
penderita dengan penyakit seperti
oedem pulmo, fibrosis pulmo difusi
melalui membran terhambat.
7. Hubungan ventilasi & perfusi : Bila
ada gangguan Pengambilan obat
anestesia menjadi lambat.

Fase Sirkulatoar :
1. Curah jantung (Cardiac Output /
C.O.):
Dalam keadaan basal 70 % C. O
( 7 % berat badan) pergi ke otak,
jantung, hepar & ginjal Dalam hal
ini 14 % C. O. pergi ke otak.
Selama induksi relatif jaringan otak
mendapat bagian C. O. lebih
banyak (dalam keadaan basal).

Dalam keadaan tidak basal seperti


aktivitas otot, stres, ketakutan,
tirotoksikosis, otak menerima bagian
C. O. lebih kurang induksi
anestesia menjadi lambat.
Dalam keadaan syok, dehidrasi, dll
sirkulasi perifer berkurang, otak
menerima bagian C. O. lebih banyak
induksi anestesia jadi cepat.

2. Aliran darah serebral (cerebral blood flow /


CBF); CBF tergantung pada :
Resistensi pembuluh darah serebral
yang dipengaruhi :
# Viskositas darah(anemiviskositas)
# Tekanan intra kranial
# Tonus pembuluh darah dipengaruhi
tekanan CO2 dan tekanan O2 dalam darah
arteriel (Pa CO2 & PaO2 aliran darah ke
otak ; Pa CO2 & PaO2 aliran darah ke
otak )
# Dll.
Tekanan darah arteri

3. Saturasi jaringan tubuh sekunder :


Otak mula-mula menerima bagian yang
besar dari obat anestesia, tetapi kemudian
terjadi redistribusi obat, sehingga terjadi
keseimbangan dengan jaringan-jaringan
tubuh secara keseluruhan.
Selama induksi relatif diperlukan obat
anestesia dalam jumlah yang besar, sebab
terjadi resirkulasi dari obat ke jaringan lain
dari otak setelah tempat tempat ini
jenuh hanya jumlah sedikit dari obat
anestesia yang diperlukan untuk
mempertahankan stadium anestesia yang
diinginkan (maintenance).

Stadium stadium anestesia


Stadium stadium ini hanya jelas
terlihat pada Volatile Anaesthetic
Agents, terutama ether.
Stadium I : Stadium analgesia
(disorientasi) : mulai induksi sampai
hilangnya kesadaran (refleks bulu
mata - )

Stadium II : Stadium Excitement :


Mulai hilangnya kesadaran sampai
mulainya pernapasan jadi teratur.
Pada stadium ini penderita bisa
berontak, tahan napas, muntah,
batuk, dll.
Stadium III : Stadium Surgical
Anaesthesia : Mulainya pernapasan
teratur sampai paralise pernapasan.
Stadium III ini terbagi lagi dalam 4
Plane :

Plane 1: Dari mulainya pernapasan


teratur sampai pergerakan bola mata
terhenti.
Plane 2: Dari pergerakan bola mata
terhenti sampai mulainya paralise
pernapasan interkostal.
Plane 3: Dari mulainya paralise
sampai komplit paralise pernapasan
interkostal.
Plane 4: Dari komplit paralise
pernapasan interkostal sampai
paralise diafragma.

Stadium IV : Stadium overdosis : Dari


mulainya paralise diafragma sampai
apnu, dan penderita meninggal.