Anda di halaman 1dari 10

BAB | 3 |

PERUMUSAN
TUJUAN, KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENATAAN
RUANG
3.1 AZAS DAN TUJUAN PENATAAN RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN
TENGAH TAHUN 2010 2030

3.1.1

Azas-Azas Penataan Ruang

Untuk menentukan azas dan tujuan pengembangan tata ruang, maka


tidak dapat dilepaskan dari azas dan tujuan penataan ruang berdasarkan
Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Dalam undangundang tersebut disebutkan bahwa penataan ruang diselenggarakan atas azas
:
1. keterpaduan;
2. keserasian, keselarasan, dan keseimbangan;
3. keberlanjutan;
4. keberdayagunaan dan keberhasilgunaan;
5. keterbukaan;
6. kebersamaan dan kemitraan;
7. pelindungan kepentingan umum;
8. kepastian hukum dan keadilan;
9. akuntabilitas.

3.1.2

Mengarahkan pemanfaatan ruang agar sesuai dengan tahapan pembangunan,


baik dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang, termasuk dalam
pemanfaatan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi; dan Mewujudkan
perlindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap
lingkungan akibat pemanfaatan ruang.
Berdasarkan azas-azas penataan ruang, dikaitkan dengan karakteristik
Fisik, dan Sosial Budaya Provinsi Kalimantan Tengah , maka Tujuan utama
sebagai tujuan spesifik dari penyelenggaraan penataan ruang di Provinsi
Kalimantan Tengah adalah Terselenggaranya pemanfaatan ruang yang
berwawasan lingkungan dengan berlandaskan Wawasan Nusantara
dan Ketahanan Nasional, untuk mewujudkan terpenuhnya pelayanan
sosial, ekonomi dan budaya berbasis Sumber Daya Manusia melalui
pengembangan potensi pertanian pertanian yang berorientasi
agribisnis dan agroindustri, serta sebagai lumbung energi dan
lumbung pangan dengan tetap mempertimbangkan daya dukung
lingkungan hidup.

Tujuan Penataan Ruang

Tujuan yang ingin dicapai dalam peninjauan kembali (revisi) RTRWP


Kalimantan Tengah adalah dalam rangka mewujudkan penyelenggaraan
penataan ruang yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan
berlandaskan wawasan nusantara dan ketahanan nasional sehingga
tercapainya penataan ruang yang berkualitas dengan tujuan utama (dalam
UUPR no. 26/2007) adalah : Mewujudkan pemanfaatan sumber daya alam
secara
berkelanjutan
bagi
peningkatan
kesejahteraan
masyarakat;

3.2 KEBIJAKAN PENATAAN RUANG WILAYAH


KALIMANTAN TENGAH TAHUN 2010 2030

PROVINSI

Kebijakan penataan ruang wilayah Provinsi Kalimantan Tengah meliputi :


kebijakan pengembangan struktur ruang, dan kebijakan pengembangan pola
ruang. Sedangkan kebijakan pengembangan struktur ruang meliputi:
peningkatan akses pelayanan perkotaan dan pusat pertumbuhan ekonomi
wilayah yang merata dan berhierarki; serta peningkatan kualitas dan
jangkauan pelayanan jaringan prasarana transportasi, telekomunikasi, energi,
dan sumber daya air yang terpadu dan merata di seluruh wilayah. Kebijakan
umum pengembangan tata ruang Provinsi Kalimantan Tengah tersebut
mencakup:
1. Pembangunan dan pengembangan struktur ruang diarahkan guna
meningkatkan interaksi antar kota dan interaksi antar simpul-simpul
pusat pengembangan wilayah.
2. Peningkatan Interaksi dan Aksesibilitas, guna mendukung terciptanya
sistem kota-kota yang saling menguatkan antar pusat-pusat kegiatan.
3. Peningkataan aksesibilitas perkotaan dan pusat-pusat pertumbuhan
ekonomi wilayah darat maupun laut dan pulau-pulau kecil secara merata
dan hierarkis;
4. Peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana
transportasi, informasi, telekomunikasi, energi dan sumberdaya air yang
terpadu dan merata di seluruh wilayah Provinsi.
RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

3.2.1

Kebijakan Pengembangan Struktur Ruang

Kebijakan pengembangan struktur ruang meliputi: peningkatan akses


pelayanan perkotaan dan pusat pertumbuhan ekonomi wilayah yang merata
dan berhierarki; serta peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan
prasarana transportasi, telekomunikasi, energi, dan sumber daya air yang
terpadu dan merata di seluruh wilayah. Kebijakan umum pengembangan tata
ruang Provinsi Kalimantan Tengah tersebut mencakup :
A. Kebijakan Pengembangan Struktur Ruang
Dalam hal ini kebijakan penataan ruang wilayah Provinsi Kalimantan
Tengah, memperhatikan aspek dasar yaitu: Kesenjangan antar wilayah,
diindikasikan adanya penetapan komoditas yang relatif sama antar wilayah
dan tidak jelasnya daya saing (kompetitif dan komparatif)
Pola perwilayahan pembangunan di Kalimantan Tengah kedepan
berdasarkan hasil analisis dan penetapan pengembangan sistem perkotaan
nasional dalam revisi RTRWN adalah :
1. Jenjang kesatu ialah Simpul Utama Wilayah (SUW) yang dalam hal ini hanya
satu, yaitu kota Palangkaraya. Seluruh bagian ruang wilayah Kalimantan
Tengah, baik secara langsung maupun melalui sub simpul, berorientasi kepada
SUW Palangkaraya. Ketetapan awal yang sangat terkait dengan hal ini ialah
bahwa Palangkaraya dalah ibukota provinsi. Selanjutnya, dalam rencana tata
ruang Pulau Kalimantan, Palangkaraya ditetapkan sebagai satu-satunya kota
PKN atau Pusat Kegiatan Nasional di provinsi Kalimantan Tengah.
2. Jenjang kedua ialah Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) Ordo-1. Ditetapkan empat
PKW Ordo-1 untuk berfungsi sebagai simpul-simpul primer yang
terdesentralisasi dalam wilayah Kalimantan Tengah secara keseluruhan, yakni :
a) Pangkalanbun sebagai simpul primer untuk Sektor Barat wilayah;
b) Sampit sebagai simpul primer untuk Sektor Tengah-selatan wilayah;
c) Kualakapuas sebagai simpul primer untuk Sektor Timur-selatan wilayah;
d) Buntok di sebagai simpul primer untuk Sektor Timur wilayah.
e) Muarateweh sebagai simpul primer untuk Sektor Utara-timur wilayah.
3. Jenjang ketiga ialah Pusat Kegiatan Lokal (PKL) yakni sebagai simpul sekunder
dalam sektor wilayah. Ibukota kabupaten yang tidak merupakan PKW Ordo-1
ditetapkan menjadi PKL Maka simpul ini juga bersifat primer dalam wilayah
kabupatennya. Jumlah PKL ada delapan, yakni :
a) Sukamara sebagai PKL di Kabupaten Sukamara
b) Nangabulik sebagai PKL di Kabupaten Lamandau
c) Kualapembuang sebagai PKL di Kabupaten Seruyan
d) Kasongan sebagai PKL di Kabupaten Katingan
e) Pulangpisau sebagai PKL di Kabupaten Pulangpisau
f) Tamianglayang sebagai PKL di Kabupaten Barito Timur
g) Purukcahu sebagai PKL di Kabupaten Murungraya

h) Kualakurun sebagai PKL di Kabupaten Gunungmas

Meskipun dalam RTRWN telah ditetapkan struktur ruang seperti tersebut


diatas, dalam kenyataannya berdasarkan hasil analisis sebelumnya, terdapat
beberapa perubahan yang notabene tidak mengubah hasil dari RTRWN tetapi
dalam Revisi RTRWP ini bersifat memperkaya dan mempertajam pola rumusan
RTRWN yang telah ada. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan kondisi
eksisting saat ini pada masing-masing kota, kebijaksanaan pengembangan
wilayah masing-masing kabupaten/kota serta pola dan arah kecenderungan
pengembangan yang semakin besar. Selain itu RTRWP ini disusun dalam
jangka waktu pelaksanaan untuk 20 tahun ke depan, sehingga rencana
penetapan yang sedikit dipertajam merupakan manifestasi dari kemungkinan
penrkembangan masing-masing kota yang semakin besar.
B. Kebijakan pengembangan Jaringan Transportasi
Kebijakan Pengembangan jaringan Transportasi di Provini Kalimantan
Tengah adalah sebagai berikut :
1.
Kebijakan untuk membuka akses daerah terisolir dan
mengatasi kesenjangan pembangunan antar wilayah selatan dan utara
dengan wilayah tengah dan tenggara yang relatif tertinggal, termasuk di
wilayah kepulauan;
2.
Kebijakan peningkatan aksesibilitas dari kawasan-kawasan
andalan dan kawasan budidaya lainnya ke tujuan-tujuan pemasaran,
baik ke kawasan ekonomi sub-regional ASEAN, kawasan Asia Pasifik
maupun ke kawasan internasional lainnya;
3.
Kebijakan dukungan terhadap peningkatan pemanfaatan
potensi unggulan wilayah secara optimal, yang diikuti dengan
meningkatnya daya saing produk-produk unggulan;
4.
Kebijakan dukungan terhadap misi pengembangan Provinsi
Kalimantan
Tengah untuk pengembangan sistem pusat-pusat
permukiman yang terpadu melalui pengintegrasian pusat-pusat kota di
wilayah daratan, pesisir dan kepulauan, kota-kota agropolitan, dan kotakota pertambangan dengan jaringan jalan di Kalimantan Tengah;
5.
Kebijakan untuk mendorong berfungsinya jaringan jalan
lintas Pulau Kalimantan.
6.
Kebijakan
untuk
mewujudkan
keterpaduan
sistem
transportasi wilayah Kalimantan dan Nasional, serta subregional ASEAN.
7.
Kebijakan untuk mewujudkan keterpaduan sistem jaringan
jalan dengan sistem jaringan transportasi lainnya.
8.
Kebijakan pengembangan terminal penumpang tipa A
sebagai simpul jaringan transportasi jalan pada kota-kota yang berfungsi
RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

sebagai PKN atau kota-kota lain yang memiliki permintaan tinggi untuk
pergerakan penumpang antar-kota antar-provinsi.
9.
Kebijakan pengembangan jaringan jalur kereta-api yang
berkapasitas tinggi, khususnya untuk angkutan barang atau produk
komoditas berskala besar, berkecepatan tinggi, berbiaya murah, dengan
energi yang rendah;
10.
Kebijakan pengembangan sistem kota-kota yang terpadu
melalui pengintegrasian kota-kota di wilayah pesisir, baik industri,
pertambangan, maupun pariwisata serta kota-kota agropolitan, baik
kehutanan, pertanian, maupun perkebunan;
11.
Kebijakan pengembangan jaringan jalur kereta api pada
kawasan perkotaan berciri metropolitan untuk mendukung pergerakan
orang dan barang secara massal, cepat, aman, dan efisien.
12.
Kebijakan pengembangan keterpaduan sistem transportasi
wilayah Kalimantan , Nasional, dan sub-regional ASEAN.
13.
Kebijakan perwujudan keterpaduan sistem jaringan kereta
api dengan sistem jaringan transportasi lainnya.
14.
Kebijakan pengembangan stasiun kereta api sebagai simpul
jaringan jalur kereta api yang diarahkan pada kota-kota PKN dan PKW
Kebijakan Pengembangan jaringan transportasi sungai, danau dan
penyeberangan yang meliputi:
1. Kebijakan pemanfaatan danau, sungai, dan alur penyeberangan yang
berpotensi untuk mendukung pengembangan sistem transportasi lintas
wilayah, lintas provinsi dan lintas pulau;
2. Kebijakan peningkatan pelayanan simpul-simpul dalam sistem jaringan
penyeberangan antar kabupaten/kota dan antar provinsi, antara Kalteng
dengan pulau lainnya, serta antara Kalteng dengan wilayah negara
tetangga;
3. Kebijakan perwujudan sistem jaringan transportasi sungai, danau, dan
penyeberangan dengan sistem jaringan transportasi lainnya.
Kebijakan Pengembangan sistem jaringan transportasi laut di Provinsi
Kalimantan Tengah yang meliputi :
1.
Kebijakan peningkatan aksesibilitas dari kawasan-kawasan
andalan, kawasan budidaya lain ke tujuan-tujuan pemasaran, baik ke
kawasan sub-regional ASEAN, Asia Pasifik, maupun kawasan
internasional lainnya;
2.
Kebijakan pengembangan jaringan transportasi laut antar-negara
dan antar-pulau dalam rangka mendukung kegiatan ekspor-impor
melalui pelabuhan yang menangani petikemas, khususnya di Pantoloan;

3.

Kebijakan pengembangan jaringan transportasi laut antar-provinsi,


antar-pulau dan antarnegara dengan memanfaatkan Sarana Bantu
Navigasi Pelayaran untuk kelancaran dan keselamatan pelayaran;
4.
Kebijakan pengembangan keterkaitan yang erat dan saling
mendukung antara kegiatan kepelabuhanan dengan kegiatan industri
manufaktur, petrokimia, dan/atau industri pengolahan bahan baku;
5.
Kebijakan pengembangan sistem jaringan transportasi laut antarnegara yang sesuai dengan kebutuhan ekspor impor perekonomian,
pertahanan negara dan kepentingan nasional lainnya;
6.
Kebijakan pengembangan sistem jaringan transportasi laut secara
terpadu sebagai satu kesatuan sistem transportasi wilayah Kalimantan ,
nasional dan internasional;
7.
Kebijakan
pengembangan
keterpaduan
sistem
jaringan
transportasi laut dengan sistem jaringan transportasi lainnya.
Kebijakan pengembangan sistem jaringan transportasi udara Provinsi
Kalimantan Tengah meliputi:
1.
Kebijakan pengembangan fungsi bandar udara pusat penyebaran
di wilayah Kalimantan Tengah dalam rangka meningkatkan aksesibilitas
antar kota dalam lingkup wilayah Kalimantan Tengah maupun antar kota
dalam lingkup nasional dan internasional;
2.
Kebijakan pengembangan potensi pariwisata dan potensi ekonomi
lainnya pada lokasi-lokasi yang sangat potensial;
3.
Kebijakan pengembangan wilayah dengan membuka dan
memantapkan jalur-jalur penerbangan internasional antara kota-kota
PKN dengan negara tetangga dan negara-negara pusat pemasaran
produksi dan jasa dari Kalimantan Tengah, khususnya ke kawasan AsiaPasifik, sesuai dengan kebutuhan layanan penerbangan komersial.
4.
Kebijakan pengembangan sistem jaringan transportasi udara
secara terpadu sebagai satu kesatuan sistem transportasi wilayah
Kalimantan Tengah, nasional dan internasional;
5.
Kebijakan
pengembangan
keterpaduan
sistem
jaringan
transportasi udara dengan sistem jaringan transportasi lainnya;
6.
Kebijakan pengembangan sistem jaringan transportasi udara
secara dinamis dengan memperhatikan tatanan kebandarudaraan
nasional.
C. Kebijakan Pengembangan Jaringan Energi
Kebijakan pengembangan sistem jaringan prasarana energi dan tenaga
listrik di Provinsi Kalimantan Tengah meliputi:

RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

1. Kebijakan untuk mengatasi ketidakseimbangan antara pasokan dan


permintaan tenaga listrik baik untuk jangka pendek maupun jangka
panjang;
2. Kebijakan yang mendukung terhadap optimalisasi pemanfaatan dan
peningkatan nilai tambah potensi sektor-sektor unggulan pada kawasan
budidaya dan pusatpusat permukiman;
3. Kebijakan pemanfaatan sumber energi terbarukan meliputi energi
biomassa, mikrohidro, dan panas bumi sebagai alternatif sumber energi
konvensional;
4. Kebijakan pengembangan jaringan transmisi tenaga listrik interkoneksi
yang menghubungkan antar wilayah provinsi;
5. Kebijakan pengembangan sistem jaringan energi dan tenaga listrik pada
kawasan tertinggal dan terisolir, termasuk gugus pulau-pulau kecil;
6. Kebijakan pengembangan sistem jaringan prasarana energi dan tenaga
listrik yang selaras dengan pengembangan kawasan budidaya dan
pusat-pusat permukiman.
7. Kebijakan pengembangan sistem jaringan prasarana energi dan tenaga
listrik bertegangan tinggi yang diupayakan untuk menghindari kawasan
permukiman perkotaan dan perdesaan dengan tingkat kepadatan tinggi.
D. Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Air
Kebijakan pengembangan sistem pengelolaan sumber daya air di
Provinsi Kalimantan Tengah meliputi:
1. Kebijakan pengembangan untuk menjamin kelestarian fungsi sarana dan
prasarana sumber daya air melalui pengamanan kawasan-kawasan
tangkapan air;
2. Kebijakan pengembangan prasarana air baku untuk menunjang
pengembangan sentra pangan nasional, pusat-pusat permukiman,
kawasan industri, kawasan pariwisata dan sumber energi tenaga air
secara berkelanjutan;
3. Kebijakan pengembangan ketersediaan air baku bagi kawasan-kawasan
sentra pertanian, industri, pariwisata, dan sebagainya, serta kota-kota
strategis yang meliputi kota besar, ibukota provinsi, dan kabupaten/kota;
4. Kebijakan pengembangan untuk mempertahankan dan merehabilitasi
danau-danau dan sungai-sungai besar untuk mencegah terjadinya
proses pendangkalan;
5. Kebijakan pemeliharaan dan pembangunan bendungan/waduk pada
beberapa daerah aliran sungai untuk menjamin pasokan air baku,
pengendalian banjir, dan pasokan untuk sumber energi tenaga air;

6. Kebijakan untuk mempertahankan kawasan karst sebagai kawasan


penyimpan cadangan air tanah;
7. Kebijakan pembatasan eksploitasi air tanah secara tidak terkendali untuk
menghindari terjadinya penurunan muka tanah dan air tanah, serta
intrusi air laut.
8. Kebijakan penanggulangan dampak bencana alam yang terkait dengan
air, diantaranya banjir, longsor, dan kekeringan;
9. Kebijakan pengembangan sistem pengolalaan sumber daya air dengan
mengacu pada Pola Pengelolaan Sumber Daya Air pada Wilayah Sungai
dan Rencana Tata Ruang Wilayah.

3.2.2

Kebijakan Pengembangan Pola Ruang

Kebijakan pengembangan pola ruang meliputi kebijakan pengembangan


kawasan lindung; kebijakan pengembangan kawasan budidaya; dan kebijakan
pengembangan kawasan strategis.
A. Kebijakan Pengembangan Kawasan Lindung
Kebijakan pengembangan kawasan lindung meliputi:
1.
pemeliharaan dan perwujudan kelestarian fungsi lingkungan
hidup;
2.
pencegahan dampak negatif kegiatan manusia yang dapat
menimbulkan kerusakan lingkungan hidup, terutama sektor kehutanan
dan pertambangan; dan
3.
pengembangan dan penetapan kawasan lindung yaitu
mengeluarkan kegiatan budidaya yang ada dan pemanfaatan dengan
tetap menjaga fungsi lindung.
B. Kebijakan Pengembangan Kawasan Budidaya
Kebijakan pengembangan kawasan budidaya meliputi:
1. perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan antar
kegiatan budidaya; dan
2. pengendalian perkembangan kegiatan budidaya agar tidak melampaui
daya dukung dan daya tampung lingkungan.

3.2.3

Kebijakan Pengembangan Kawasan Strategis

Kebijakan pengembangan kawasan strategis meliputi:


1. pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup
untuk mempertahankan dan meningkatkan keseimbangan ekosistem,
melestarikan
keanekaragaman
hayati,
mempertahankan
dan
meningkatkan fungsi perlindungan kawasan, melestarikan keunikan
bentang alam, dan melestarikan warisan budaya;
RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

2. pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan dalam pengembangan


perekonomian yang produktif, efisien, dan mampu bersaing dalam
perekonomian nasional dan internasional;
3. pemanfaatan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi secara
optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat;
4. pelestarian dan peningkatan sosial dan budaya;
5. pelestarian dan peningkatan nilai kawasan lindung yang ditetapkan
sebagai warisan dunia, cagar biosfer, dan ramsar; dan
6. pengembangan kawasan tertinggal untuk mengurangi kesenjangan
tingkat perkembangan antarkawasan.

3.3 STRATEGI PENATAAN


KALIMANTAN TENGAH

RUANG

WILAYAH

PROVINSI

Pengembangan tata ruang dilakukan secara terpadu dalam satu


kesatuan tata lingkungan yang dinamis serta tetap memelihara kelestarian
lingkungan hidup sesuai dengan pembangunan berwawasan lingkungan.
Untuk mewujudkan tata ruang tersebut strategi pengembangan tata ruang
yang diperlukan adalah strategi pemerataan ruang, strategi pengembangan
struktur tata ruang dan Strategi pengembangan kawasan strategis.

3.3.1

Strategi Pengembangan Struktur Ruang

Strategi pengembangan struktur ruang meliputi: strategi peningkatan


akses pelayanan perkotaan dan pusat pertumbuhan ekonomi wilayah yang
merata dan berhierarki; serta peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan
jaringan prasarana transportasi, telekomunikasi, energi, dan sumber daya air
yang terpadu dan merata di seluruh wilayah. Strategi umum pengembangan
tata ruang Provinsi Kalimantan Tengah tersebut mencakup :
1.
Strategi untuk meningkatkan aksesibilitas perkotaan dan
pusat-pusat pertumbuhan ekonomi wilayah darat maupun laut dan
pulau-pulau kecil dilakukan dengan:
a) meningkatkan interkoneksi antara kawasan perkotaan sebagai Pusat
Kegiatan Nasional (PKN), maupun Pusat-Pusat Kegiatan Lokal (PKL)
yaitu ibukota-ibukota kabupaten yang tidak termasuk dalam PKN
maupun PKW, antara kawasan perkotaan dengan kawasan perdesaan,
serta antara kawasan perkotaan dengan wilayah sekitarnya;
b) mengembangkan pusat pertumbuhan baru di kawasan yang potensil
dan belum terlayani oleh pusat pertumbuhan eksisting;
c) mengendalikan perkembangan kawasan perkotaan, dan khususnya
daerah pantai; dan

d) mendorong kawasan perkotaan dan pusat pertumbuhan agar lebih


kompetitif dan lebih efektif dalam mendorong pengembangan
wilayah sekitarnya, terutama PKN, PKW dan PKL.
2.
Strategi untuk meningkatkan kualitas dan jangkauan
pelayanan jaringan prasarana transportasi, informasi, telekomunikasi,
energi dan sumberdaya air meliputi:
a) Meningkatkan aksessibilitas internal dalam kesatuan wilayah KalTeng.
b) Mempercepat perwujudan Jalan Lintas Kalimantan Poros Tengah (JLKT) dengan prioritas Km 60 Muarateweh - Sp.Tapinbini - Batas KalBar.
c) Mempercepat perwujudan jalan Rel Kereta-Api dengan prioritas ialah
Purukcahu - Sp.Muarateweh - Sp.Buntok - Sp.Pulangpisau
P.L.Bahaur.
d) eningkatkan aksessibilitas internal wilayah, baik secara umum
maupun
dalam rangka
sinergisme
dengan
pengembangan
ekoturisme.
e) Mengupayakan
adanya
prime
mover
(penggerak
utama
perekonomian) kawasan yang skalanya relevan dan rentang
kegiatannya relatif lama.
f) Pilihan berbasis lokal : merealisasikan PLTA JeJoTuLaTe interkoneksi.
g) Mensinergikan kekuatan 2 simpul berdekatan yakni PalangkarayaSampit.
h) Merevitalisasi koneksi langsung Palangkaraya-Buntok.
i) Mensinergikan kekuatan 2 simpul berdekatan yakni P.Bun-Sukamara.
j) meningkatkan jaringan energi dengan lebih menumbuh-kembangkan
pemanfaatan sumberdaya terbarukan yang ramah lingkungan dalam
sistem kemandirian energi listrik lingkungan mikro, baik di daerah
perdesaan terpencil maupun pulau-pulau kecil terpencil;
k) meningkatkan kualitas jaringan prasarana serta mewujudkan
keterpaduan sistem jaringan sumberdaya air; dan

3.3.2

Strategi Pengembangan Pola Ruang

Pengembangan tata ruang dilakukan secara terpadu dalam satu


kesatuan tata lingkungan yang dinamis serta tetap memelihara kelestarian
lingkungan hidup sesuai dengan pembangunan berwawasan lingkungan.
Untuk mewujudkah tata ruang tersebut strategi pengembangan tata ruang
yang diperlukan adalah strategi pengembangan struktur ruang wilayah dan
pola ruang wilayah kedalam strategi pernanfatan ruang dan pengendalian
pemanfaatan ruang yang baik. Untuk mewujudkan tata ruang yang diinginkan
maka disamping kedua strategi tersebut, juga terkait didalamnya aspek
perekonomian dan kependudukan yang saling mempengaruhi dalam bidang
RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

penataan ruang.
A. Strategi Pengembangan Sektoral
Pertumbuhan ekonomi yang tertuang dalam angka PDRB di kalimantan
Tengah, sektor pertanian merupakan sektor dominan dalam pembentukan
PDRB Kalimantan Tengah (rata-rata 35,13 % atas harga berlaku atau 37,24 %
atas dasar harga konstan).
Sektor kedua yang menjadi andalan Kalimantan Tengah adalah sektor
perdagangan, hotel dan restoran (rata-rata 19,04 % atas dasar harga berlaku
atau 17,66 atas dasar harga konstan) serta sektor jasa-jasa sebagai andalan
ketiga (rata-rata 12,07 % atas harga berlaku atau 12,34 atas dasar harga
konstan).Dalam kurun waktu 6 tahun (2003 2008) terjadi perubahan peranan
sektor terhadap pembentukan PDRB Kalimantan Tengah, seperti peranan
sektor pertanian atas dasar harga berlaku berubah dari 39,42 % pada tahun
2003 menjadi 30,40 % pada tahun 2008, peranan sektor perdagangan, hotel
dan restoran meningkat dari 18,20 % pada tahun 2003 menjadi 19,66 % pada
tahun 2008, sektor pengangkutan dan komunikasi meningkat dari 8,42 %
pada tahun 2008.
Ditinjau dari sisi kewilayahan perananan masing-masing kabupaten/kota
terhadap pembangunan ekonomi Kalimantan Tengah dapat dilihat dari
prosentasi PDRB masing-masing Kabupaten/Kota dalam pembentukan PDRB
Kalimantan Tengah. Berdasarkan data PDRB Kalimantan Tengah menurut
kabupaten/kota Tahun 2003 2007 dapat dihitung peranan PDRB kabupaten/
kota dalam pembentukan PDRB Provinsi Kalimantan Tengah, bahwa Kabupaten
yang paling besar peranannya dalam pembentukan PDRB Kalimantan Tengah
adalah Kabupaten Kotawaringin Timur (rata-rata 18,39 % atas dasar harga
berlaku atau 16,81 % atas dasar harga konstan), diikuti oleh Kabupaten
Kotawaringin Barat (12,43 % atas dasar harga berlaku atau 14,45 % atas dasar
harga konstan), Kabupaten Kapuas diurutan ketiga (12,10 % atas dasar harga
berlaku atau 12,91 % atas dasar harga konstan) serta Kota Palangkaraya
diurutan keempat (8,62 % atas dasar harga berlaku atau 8,95 % atas dasar
harga konstan).
Berdasarkan data diatas, diharapkan dapat sinergi dengan upaya
pengembangan sektor-sektor strategis, yaitu sektor-sektor strategis yang
dapat mendukung laju pertumbuhan ekonomi wilayah produktif terhadap
terbentuknya penataan ruang di Provinsi Kalimantan Tengah.
Untuk pengembangan perekonomian sampai tahun 2030, maka strategi
yang dikembangkan adalah: (a). Strategi pengembangan ekspor non migas
dengan menyerap banyak tenaga kerja. Strategi ini dilahirkan pada
percepatan laju pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja. (b). Strategi

pemerataan pembangunan antar daerah, yaitu diarahkan untuk memperbaiki


kondisi dari daerah yang belum berkembang dalam hubungannya dengan
daerah yang sudah maju degan tetap mempertimbangkan laju pertumbuhan
ekonomi, serta mengantisipasi kantong-kantong kemiskinan. Dengan kedua
strategi tersebut, diharapkan adanya optimasi yang teratur antara laju
pertumbuhan ekonomi, peningkatan peroduktivitas tenaga kerja (mutu SDM)
dan mengurangi ketimpangan pembangunan antar daerah.
B. Strategi Pengembangan Kependudukan
Jumlah penduduk Kalimantan Tengah sudah lebih dari dua juta
jiwa,datanya untuk tahun 2008 ialah 2.132.838 jiwa. Tingkat pertumbuhan
penduduk di Provinsi Kalimantan Tengah selalu mengalami peningkatan.
Untuk lingkup kabupaten/kota dalam tahun 2008, yang tertinggi jumlah
penduduknya ialah Kapuas dan yang terendah ialah Sukamara. Kota
Palangkaraya menduduki peringkat tertinggi keempat, jumlah penduduknya
hanya sedikit lebih tinggi terhadap separuh penduduk Kapuas.
Sedangkan laju pertumbuhan penduduk Kalimantan tengah selama lima
tahun terakhir adalah 2,27 %. Sedangkan laju pertumbuhan penduduk untuk
tiap kabupaten/kota selama lima tahun terakhir adalah berkisar 0,67 4,93 %.
Laju pertumbuhan penduduk terkecil terdapat di Kabupaten Kapuas (0,67 %),
sedangkan laju pertumbuhan penduduk terbesar terdapat di Kabupaten
Sukamara (4,93 %). Laju pertumbuhan penduduk di atas 2 % terdapat di 9
kabupaten/kota yaitu, Kabupaten Sukamara, Lamandau, Kotawaringin Barat,
Barito Timur, Katingan, Palangkaraya, Kotawaringin Timur, Murung Raya dan
Gunung Mas. Laju pertumbuhan penduduk antara 1,00 2,00 % terdapat di 4
kabupaten yaitu, Kabupaten Barito Selatan, Barito Utara, Seruyan dan Pulang
Pisau. Sedangkan laju pertumbuhan penduduk di bawah 1 % hanya terdapat di
Kabupaten Kapuas.
Pada dasarnya penduduk suatu wilayah dapat digambarkan sebagai
suatu potensi atau sumber kekuatan dalam sebuah kegiatan pembangunan
pada wilayah yang bersangkutan. Hal ini dikarenakan pemecahan berbagai
persoalan akan bertumpu pada sumber daya manusia yang ada, baik kualitas
maupun kuantitasnya. Akan tetapi apabila ditinjau dari segi penyediaan
kebutuhan ruangnya, penduduk dapat juga menimbulkan suatu permasalahan
di wilayah yang bersangkutan. Jumlah penduduk yang sangat banyak atau
terlalu sedikit, persebaran yang tidak merata dan mutu yang kurang dalam
menunjang pembangunan merupakan masalah yang sulit untuk dicari jalan
keluarnya. Dengan demikian strategi pengembangan kependudukan menjadi
hal yang perlu diperhatikan, misalnyanya pembangunan fasilitas harus
mengikuti pola pergerakan penduduk dan diarahkan pada wilayah yang
RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

mudah dijangkau serta pembangunan fasilitas harus mengikuti hirarki


pelayanan.
C. Strategi Pemanfaatan Ruang
Sesuai dengan tujuan penataan ruang, yaitu tercapainya pemanfaataan
ruang yang berkualitas, maka strategi pemanfaatan ruang Provinsi Kalimantan
Tengah meliputi strategi pemantapan kawasan lindung dan strategi
pengembangan kawasan budidaya.
1. Strategi Pemantapan Kawasan Lindung
Untuk menjamin kelestarian lingkungan dan keseimbangan pengelolaan
sumber daya alam di Provinsi Kalimantan Tengah maka perlu adanya
strategi pemantapan kawasan lindung sebagai berikut :
a)
Strategi untuk kebijakan pemeliharaan dan perwujudan
kelestarian fungsi lingkungan hidup, meliputi:
menetapkan kawasan lindung di ruang darat maupun laut,
termasuk di dalam bumi;
mewujudkan kawasan berfungsi lindung dalam satu wilayah
pulau dengan luas paling sedikit 30% dari luas provinsi
tersebut sesuai dengan kondisi ekosistemnya; dan
mengembalikan dan meningkatkan fungsi kawasan lindung
yang telah menurun akibat pengembangan kegiatan budidaya,
dalam rangka mewujudkan dan memelihara keseimbangan
ekosistem wilayah khususnya pada DAS/ WS kritis
sebagaimana dijelaskan pada lampiran yang merupakan
bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
b)
Strategi untuk kebijakan pencegahan dampak negatif kegiatan
manusia yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup,
terutama sektor kehutanan dan pertambangan:
menyelenggarakan upaya terpadu untuk melestarikan fungsi
sistem ekologi wilayah;
melindungi kemampuan lingkungan hidup dari tekanan
perubahan dan/atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh
suatu kegiatan agar tetap mampu mendukung perikehidupan
manusia dan makhluk hidup lainnya;
melindungi kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat,
energi, dan/atau komponen lain yang dibuang ke dalamnya;
mencegah terjadinya tindakan yang dapat secara langsung
atau tidak langsung menimbulkan perubahan sifat fisik
lingkungan yang mengakibatkan lingkungan hidup tidak

berfungsi
dalam
menunjang
pembangunan
yang
berkelanjutan;
mengendalikan pemanfaatan sumberdaya alam secara bijak
untuk menjamin kepetingan generasi masa kini dan generasi
masa depan;
mengelola sumberdaya alam tak terbarukan untuk menjamin
pemanfaatannya secara bijaksana, termasuk revitalisasi fungsi
sistem ekologi lokal serta pembangunan sumberdaya baru
untuk dimanfaatkan dan menjaga kelestarian lingkungan;
mengelola sumberdaya alam yang terbarukan untuk menjamin
kesinambungan ketersediaannya dengan tetap memelihara
dan meningkatkan kualitas nilai serta keanekaragamannya;
dan
mengembangkan kegiatan budidaya yang mempunyai daya
adaptasi bencana di kawasan rawan bencana.
c)
Strategi untuk kebijakan pengembangan dan penetapan
kawasan lindung yaitu mengeluarkan kegiatan budidaya yang ada
dan pemanfaatan dengan tetap menjaga fungsi lindung, meliputi:
penetapan kawasan lindung didasarkan pada Kepres No. 32
Tahun 1990 tentang pengelolaan kawasan lindung, peta-peta
eksisting / peta dasar wilayah yang dioverlay dan dirumuskan
sesuai dengan kriteria teknis yang telah ada;
penetapan kawasan lindung didasarkan pada pola dan arah
kebijakan pembangunan daerah Provinsi Kalimantan Tengah;
penetapan
kawasan
lindung
didasarkan
pada
arah
kecenderungan perkembangan yang terjadi dan didapatkan
dari hasil analisis sebelumnya;
pola pemanfaatan kawasan lindung dengan pertimbangan,
yaitu; telah berkembangnya kegiatan budidaya di kawasan
lindung, serta karakteristik kawasan lindung yang potensial
untuk pariwisata, dan penelitian (observasi).
2. Strategi Pengembangan Kawasan Budidaya.
Strategi kawasan budidaya meliputi :
a)
Strategi untuk kebijakan perwujudan dan peningkatan
keterpaduan dan keterkaitan antar kegiatan budidaya, meliputi:
menetapkan kawasan budidaya yang memiliki nilai strategis
Provinsi untuk memanfaatkan sumberdaya alam di ruang
darat, laut dan udara, termasuk ruang di dalam bumi secara
RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

sinergis untuk mewujudkan keseimbangan pemanfaatan ruang


wilayah;
mengembangkan kegiatan budidaya untuk menunjang aspek
politik, pertahanan keamanan, sosial budaya, serta ilmu
pengetahuan dan teknologi;
mengembangkan dan melestarikan kawasan budidaya
pertanian pangan untuk mewujudkan ketahanan pangan
Provinsi, berdasarkan perwilayahan komoditi unggulan potensi
tanaman pertanian;
mendukung kegiatan pengelolaan sumberdaya kelautan yang
bernilai ekonomi tinggi.
b)
Strategi untuk kebijakan pengendalian perkembangan kegiatan
budidaya agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung
lingkungan, meliputi:
membatasi perkembangan budidaya terbangun di kawasan
rawan bencana untuk meminimalkan potensi kejadian bencana
dan potensi kerugian akibat bencana, seperti daerah rawan
gempa;
mengarahkan pola pemanfaatan kawasan budidaya, melalui
perluasan atau ekspansi / intensifikasi pengembangan kegiatan
baru;
mengarahkan
pola
pengembangan
sistem
kota,
pengembangan dan peningkatan: kota-kota (inter-regional),
kota-kota menengah (intermediate-city), dan kota-kot.a
kecil/kecamatan;
menumbuh-kembangkan
fisik
pusat
kota
dengan
mengoptimalkan pemanfaatan ruang secara vertikal dan
kompak, asri dan lestari seperti kota taman, di daerah yang
aman terhadap risiko gempa;
menumbuh-kembangkan
agropolitan
yang
memadukan
agroindustri, agrobisnis, agroedukasi, agrowisata serta model
rumah kebun di klaster sentra-sentra produksi komoditi
pertanian unggulan;
mengembangkan ruang terbuka hijau dengan luas paling
sedikit 30% dari luas kawasan perkotaan;
membatasi perkembangan kawasan terbangun di kawasan
perkotaan besar dan metroplitan untuk mempertahankan
tingkat pelayanan prasarana dan sarana kawasan perkotaan
serta mempertahankan fungsi kawasan perdesaan di

3.3.3

sekitarnya; dan
mengembangkan kegiatan budidaya kelautan yang dapat
mempertahankan keberadaan pulau-pulau kecil.

Strategi Pengembangan Kawasan Strategis

Pengembangan kawaan strategis di Provinsi kalimantan Tengah


meliputi :
1.
Strategi untuk kebijakan pelestarian dan peningkatan fungsi
dan daya dukung lingkungan hidup untuk mempertahankan dan
meningkatkan keseimbangan ekosistem, melestarikan keanekaragaman
hayati, mempertahankan dan meningkatkan fungsi perlindungan
kawasan, melestarikan keunikan bentang alam, dan melestarikan
warisan budaya;
a) menetapkan kawasan strategis Provinsi berfungsi lindung;
b) mencegah pemanfaatan ruang di kawasan strategis nasional maupun
Provinsi yang berpotensi mengurangi daya lindung kawasan;
c) membatasi pemanfatan ruang di sekitar kawasan strategis nasional
maupun Provinsi yang berpontensi mengurangi daya lindung
kawasan.
d) membatasi pengembangan prasarana dan sarana di dalam dan di
sekitar kawasan strategis nasional maupun Provinsi yang dapat
memicu perkembangan kegiatan budidaya;
e) mengembangkan kegiatan budidaya tidak terbangun di sekitar
kawasan strategis nasional maupun Provinsi yang berfungsi sebagai
zona penyangga yang memisahkan kawasan lindung dengan kawasan
budidaya terbangun; dan
f) merehabilitasi fungsi lindung kawasan yang menurun akibat dampak
pemanfaatan ruang yang berkembang di dalam dan di sekitar
kawasan strategis nasional maupun provinsi.
g) intensifikasi, ekstensifikasi, dan diversifikasi pola pengembangan
kawasan dan pemanfaatan potensi kawasan yang ada.
2.
Strategi untuk kebijakan pengembangan dan peningkatan
fungsi kawasan dalam pengembangan perekonomian yang produktif,
efisien, dan mampu bersaing dalam perekonomian nasional dan
internasional;
a) pengembangan kawasan strategis diarahkan untuk optimalisasi
potensi wilayah yang ada, sehingga dapat memberikan pengaruh
positif terhadap perkembangan wilayah khususnya Provinsi
Kalimantan Tengah.

RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

b) mendukung penetapaan kawasan strategis nasional dengan fungsi


khusus pertahanan dan keamanan;
c) mendukung kegiatan budidaya secara selektif di dalam dan di sekitar
kawasan strategis nasional untuk menjaga fungsi pertahanan dan
keamanan, dan
d) mendukung pengembangkan kawasan lindung dan atau kawasan
budidaya tidak terbangun di sekitar kawasan strategis nasional
sebagai zona penyangga yang memisahkan kawasan strategis
nasional dengan kawasan budidaya terbangun.
3.
Strategi untuk kebijakan pemanfaatan sumber daya alam
dan/atau teknologi tinggi secara optimal untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat;
a) pengembangan kawasan mempertimbangkan aspek lingkungan,
sehingga rnemungkinkan penerapan rehabilitasi dan konservasi.
b) mengembangkan pusat pertumbuhan berbasis potensi sumberdaya
alam dan kegiatan budidaya unggulan sebagai penggerak utama
pengembangan wilayah;
c) menciptakan iklim yang kondusif bagi investasi yang mendukung
peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal dan pelestarian
lingkungan;
d) mengelola pemanfaatan sumberdaya alam agar tidak melampaui
daya dukung dan daya tampung kawasan;
e) mengintensifkan promosi peluang investasi bagi kegiatan ramah
lingkungan dan berdampak pada peningkatan kesejahteraan
masyarakat lokal, dan
f) meningkatkan pelayanan prasarana dan sarana penunjang kegiatan
ekonomi.
g) intensif dan disinsentif dilakukan pada kawasan-kawasan tertentu
yang berorientasi pada pengembangan perekonomian wilayah.
4.
Strategi untuk kebijakan pelestarian dan peningkatan sosial dan
budaya;
a) mengembangkan kegiatan penunjang dan atau kegiatan turunan dari
pemanfaatan sumberdaya dan atau teknologi tinggi.
b) meningkatkan keterkaitan pemanfaatan sumberdaya dan atau
teknologi tinggi dengan kegiatan penunjang dan / turunannya, dan
c) mencegah dampak negatif pemanfaatan sumberdaya alam dan atau
teknologi tinggi terhadap fungsi lingkungan hidup dan keselamatan
masyarakat.
d) mengelola dampak negatif kegiatan budidaya agar tidak menurunkan
kualitas sosekbud masyarakat dan lingkungan hidup kawasan;

e) meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap nilai budaya lokal yang


mencerminkan jati diri komunitas lokal yang berbudi luhur; dan
f) mengembangkan penerapan ragam nilai budaya lokal dalam
kehidupan masyarakat;
5.
Strategi untuk kebijakan pelestarian dan peningkatan nilai
kawasan lindung yang ditetapkan sebagai warisan dunia, cagar biosfer,
dan ramsar;
a) melestarikan situs warisan budaya komunitas lokal yang beragam.
b) melestarikan keaslian fisik serta mempertahankan keseimbangkan
ekosistemnya;
c) meningkatkan kepariwisataan provinsi dan nasional;
d) mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi serta seni; dan
e) menjaga kualitas, keasrian dan kelestarian eksistensi sistem ekologi
wilayah;
6.
Strategi untuk kebijakan pengembangan kawasan tertinggal
untuk mengurangi kesenjangan tingkat perkembangan antar kawasan.
a) mamanfaatkan sumberdaya alam lokal secara optimal dan
berkelanjutan;
b) membuka akses dan meningkatkan aksesibilitas antara kawasan
tertinggal dengan pusat pertumbuhan wilayah;
c) mengembangkan prasarana dan sarana penunjang kegiatan ekonomi
rakyat;
d) meningkatkan akses rakyat ke sumber pendanaan; dan
e) meningkatkan kualitas dan kapasitas sumberdaya manusia dalam
pengelolaan kegiatan ekonomi.

RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

BAB | 3 | PERUMUSAN TUJUAN, KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENATAAN


RUANG................................................................................................31
3.1 AZAS DAN TUJUAN PENATAAN RUANG WILAYAH
PROVINSI KALIMANTAN TENGAH TAHUN 2010 2030.........
1
3.1.1 Azas-Azas Penataan Ruang..........................................
3.1.2 Tujuan Penataan Ruang.................................................
3.2 KEBIJAKAN PENATAAN RUANG WILAYAH PROVINSI
KALIMANTAN TENGAH TAHUN 2010 2030..........................
3.2.1 Kebijakan Pengembangan Struktur Ruang....................
A. Kebijakan Pengembangan Struktur Ruang.............
B. Kebijakan pengembangan Jaringan
Transportasi.............................................................
C. Kebijakan Pengembangan Jaringan Energi............
D. Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Air.................
3.2.2 Kebijakan Pengembangan Pola Ruang.........................
A. Kebijakan Pengembangan Kawasan Lindung..........
4
B. Kebijakan Pengembangan Kawasan Budidaya
.................................................................................
3.2.3 Kebijakan Pengembangan Kawasan Strategis..............
3.3 STRATEGI PENATAAN RUANG WILAYAH PROVINSI
KALIMANTAN TENGAH............................................................
3.3.1 Strategi Pengembangan Struktur Ruang.......................
3.3.2 Strategi Pengembangan Pola Ruang.............................
A. Strategi Pengembangan Sektoral...........................
B. Strategi Pengembangan Kependudukan................
C. Strategi Pemanfaatan Ruang..................................
3.3.3 Strategi Pengembangan Kawasan Strategis.................

RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

10