Anda di halaman 1dari 14

BAB | 5 |

RENCANA POLA
RUANG PROVINSI KALIMANTAN
TENGAH
Pola ruang merupakan distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah,
yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan fungsi budidaya,
ditinjau dari berbagai sudut pandang. Pola ruang akan lebih berdaya guna
dan berhasil guna dalam mendukung pencapaian tujuan

Gambar 5.1

pembangunan provinsi apabila dikelola oleh pemerintah daerah provinsi,


dengan sepenuhnya memperhatikan pola ruang yang telah ditetapkan dalam
Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional.
Kawasan lindung dapat diterapkan untuk mengatasi dan mengantisipasi
ancaman kerusakan lingkungan saat ini, dan masa yang akan datang akibat
kurangnya kemampuan perlindungan wilayah yang ada. Penetapan suatu
kawasan berfungsi lindung wajib memperhatikan penguasaan, pemilikan,
penggunaan, dan pemanfaatan tanah (P4T) yang ada sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pertanahan.
Sedangkan kawasan budidaya terdiri atas : (a) kawasan peruntukan
hutan produksi; (b) kawasan peruntukan hutan rakyat; (c) kawasan peruntukan
pertanian; (d) kawasan peruntukan perikanan; (e) kawasan peruntukan
pertambangan; (f) kawasan peruntukan industri; (g) kawasan peruntukan
pariwisata; (h) kawasan peruntukan permukiman; dan/atau (i) kawasan
peruntukan lainnya.
Proses penentuan pola ruang secara umum dapat dilihat pada gambar
diagram berikut ini.

Diagram Alir Proses Penyusunan Rencana Pola


Ruang Provinsi KALTENG Tahun 2010 - 2030
RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

5.1 RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN LINDUNG


Kawasan lindung provinsi merupakan kawasan lindung yang secara
ekologis merupakan ekosistem yang terletak lebih dari satu wilayah
kabupaten/kota,
yang
memberikan
pelindungan
terhadap
kawasan
bawahannya (wilayah kabupaten/kota lain), dan kawasan-kawasan lindung
lain, yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan pengelolaannya
merupakan kewenangan pemerintah daerah provinsi. Pengembangan kawasan
lindung bertujuan untuk mewujudkan kelestarian fungsi lingkungan hidup,
meningkatkan daya dukung lingkungan, dan menjaga keseimbangan
ekosistem antar wilayah, guna mendukung proses
pembangunan
berkelanjutan di Provinsi Kalimantan Tengah.
Kebijakan pengembangan kawasan lindung adalah :
1. Menetapkan kawasan lindung sebesar min. 30 % (sesuai UU No.26 Tahun
2007 tentang Penataan Ruang) dari luas seluruh wilayah Provinsi
Kalimantan Tengah yang meliputi kawasan yang berfungsi lindung di
dalam kawasan hutan dan di luar kawasan hutan.
2. Mempertahankan kawasan-kawasan resapan air atau kawasan yang
berfungsi hidrlogis untuk menjamin ketersediaan sumber daya air.
3. Mengendalikan pemanfaatan ruang di luar kawasan hutan sehingga
tetap berfungsi lindung.
Sasaran pengembangan kawasan lindung adalah :
1. Tercapainya proporsi luas kawasan lindung Provinsi Kalimantan Tengan
minimal sebesar 30 % dari luas wilayah provinsi atas dasar kriteria
kawasan-kawasan yang berfungsi lindung.
2. Tidak adanya alih fungsi kawasan lindung menjadi kawasan budidaya.
3. Terjaganya kawasan-kawasan resapan air atau kawasan yang berfungsi
hidroorologis.
4. Terjaminnya ketersediaan sumber daya air.
5. Berkurangnya lahan kritis.
6. Terbentuknya kawasan penyangga di sekitar kawasan hutan lindung dan
konservasi.
7. Terkendalinya pemanfaatan sumber daya pada kawasan lindung.
Lokasi utama dari areal kawaan lindung ini berada pada kawasan
perbatasan dengan Provinsi Kalimantan Barat (sektor utara) dan dengan

provinsi Kalimantan Timur (sektor timurlaut dan timur). Lokasi ini berbentuk
memanjang dan menerus, pada bagian terhulu dari rangkaian pegunungan
Schwaner, Muller, dan Meratus. Kawasan pegunungan ini, yang menerus ke
Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Malaysia, secara internasional
dinamai Jantung Borneo atau The Heart of Borneo dengan konotasi konservasi
fungsi paru-paru dunia. Seluruh kawasan lindung luasnya 2.294.705 hektar
atau 15 persen wilayah Provini Kalimantan Tengah, ada delapan jenis
peruntukan ruang yang tergolong kawasan lindung. Jenisnya meliputi Cagar
Alam, Suaka Margasatwa, Taman Nasional, Hutan Konservasi Airhitam, Hutan
Penelitian Dan Pendidikan, Hutan Taman Wisata Alam, Hutan Manggrove, dan
Hutan Lindung. Hal ini didasari oleh perhitungan pada peta kerja skala
1:250.000, serta disesuaikan dengan hasil revisi rencana tata ruang wilayah
Provinsi Kalimantan Tengah, substansi kehutanan (Dinas Kehutanan).

5.1.1

Kawasan Lindung Bawahan

Hutan lindung merupakan kawasan yang ditetapkan dengan fungsi


utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya
alam dan sumberdaya buatan dan nilai sejarah serta budaya bangsa guna
pembangunan berkelanjutan. Hutan Lindung merupakan kawasan dengan sifat
khas yang mampu memberikan perlindungan kawasan sekitar dan
bawahannya sebagai pengatur tata air, pencegah erosi dan banjir yang mutlak
fungsinya sebagai penyangga kehidupan. Oleh karena itu kawasan ini tidak
dapat dialihkan peruntukannya.
Kriteria kawasan hutan lindung berdasarkan PP No 26 Tahun 2008
Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional adalah:
1. kawasan hutan dengan faktor kemiringan lereng, jenis tanah, dan
intensitas hujan yang jumlah hasil perkalian bobotnya sama dengan 175
(seratus tujuh puluh lima) atau lebih;
2. kawasan hutan yang mempunyai kemiringan lereng paling sedikit 40%
(empat puluh persen); atau
3. kawasan hutan yang mempunyai ketinggian paling sedikit 2.000 (dua
ribu) meter di atas permukaan laut.
Luas kawasan lindung di Provini Kalimantan Tengah adalah 3.324.675
Ha. Terdiri dari hutan lindung, kawaan resapan, dan Kawasan Suaka Alam,
Pelestarian Alam, dan Taman Buru.
1. Hutan Lindung
Kawasan
yang
memberikan
perlindungan
terhadap
kawasan
bawahannya sebagian besar merupakan hutan lindung berkisar 1.330.258
Ha (8,665%) dari luas wilayah Provinsi Kalimantan Tengah. Fungsi pokok
kawasan ini adalah sebagai perlindungan system peyanggah kehidupan
RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi,


mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah.
2. Kawasan Resapan Air
Kawasan Resapan air merupakan kawasan lindung bawahan. Kebijakan
pemanfaatan ruang ditentukan berdasarkan tujuan pemantapannya,
yaitu untuk mencegah terjadinya bencana dan menjaga kelestarian
kawasan. Kebijaksanaan tersebut meliputi :
Kawasan Resapan air merupakan kawasan lindung bawahan. Kebijakan
pemanfaatan ruang ditentukan berdasarkan tujuan pemantapannya,
yaitu untuk mencegah terjadinya bencana dan menjaga kelestarian
kawasan. Kebijaksanaan tersebut meliputi :
a) Pemantapan kawasan hutan lindung berdasarkan Keppres No.
32/1990 dan melalui pengukuhan dan penataan batas di lapangan
untuk memudahkan pengendaliannya;
b) Kegiatan penelitian eksplorasi mineral dan air tanah, serta kegiatan
lain yang berkaitan dengan pencegahan bencana alam, dapat
dilakukan di kawasan hutan lindung dengan tetap mempertahankan
fungsi lindungnya. Kegiatan budidaya pertambangan dimungkinkan
untuk tetap berlokasi di kawasan hutan lindung, jika pada kawasan
tersebut terdapat indikasi adanya deposit mineral yang dinilai sangat
berharga (vital dan strategis). Tetapi pengelolaan kawasan yang
bersifat enclave tersebut harus dilakukan dengan tetap memelihara
fungsi lindung, dengan melaksanakan rehabilitasi pada kawasan
bekas penambangan;
c) Pencegahan dan pengendalian kegiatan budidaya yang telah ada
(penggunaan lahan yang telah berlangsung lama);
d) Pengembangan fungsi hidro-orologi kawasan hutan yang telah
mengalami kerusakan (rehabilitasi dan konservasi);
e) Pemantauan terhadap kegiatan yang diperbolehkan berlokasi di hutan
lindung, (misalnya : penelitian, eksplorasi mineral dan air tanah,
pencegahan bencana alam) agar tidak mengganggu fungsi lindung
Rencana pengembangan kawasan resapan air seluas kurang lebih
3.324.675 Ha yang letaknya tersebar di 13 kabupaten.
3. Kawasan Suaka Alam, Pelestarian Alam, dan Taman
Kawasan Suaka Alam, pelestarian Alam dan Taman di Provinsi di
Kalimantan Tengah terdiri dari :
a) Kawasan Taman
Taman Wisata Alam (TWA) Air Terjun Poran luas 6.400 Ha di
Kabupaten Barito Utara;
TWA Bukit Tangkiling di Kota Palangka Raya luas 533 Ha;

Taman Hutan Raya Arboretum Nyaru Menteng dengan luas lebih


kurang 65 Ha di Kota Palangka Raya.
Taman Nasional Tanjung Putting luas kurang lebih 390.493 Ha di
Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kabupaten Seruyan,
Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya luas kurang lebih 125.355
Ha di Kabupaten Katingan,
Taman Nasional Sebangau luas kurang lebih 605.449 Ha di
Kabupaten Katingan, Pulang Pisau, dan Kota Palangka Raya;
Taman Wisata Laut Tanjung Keluang luas kurang lebih 2.000 Ha;
b) Kawaan Pelestarian Alam
kawasan Cagar Alam Bukit Sapat Hawung luas kurang lebih
192.317 Ha di Kabupaten Murung Raya,
Kawasan Cagar Alam Pararawen luas kurang lebih 4.384 Ha di
Kabupaten Barito Utara,
Kawasan Cagar Alam Bukit Tangkiling luas kurang lebih 2.601 Ha di
Kota Palangka Raya,
Kawasan Cagar Alam Air Terjun Molau Besar dengan luas kurang
lebih 1.200 Ha di Kabupaten Barito Utara, dan
Kawasan Cagar Alam Bukit Bakitap dengan luas kurang lebih 261
Ha di Kabupaten Barito Utara;
c) Kawaan Suaka Alam
Suaka Margasatwa Sungai Lamandau luas kurang lebih 61.425 Ha
di Kabupaten Sukamara.
Tabel A.1

Luas Kawasan Taman Alam, Pelestarian Alam, dan Suaka Alam


Kawasan Taman, Pelestarian, dan
Suaka Alam
Taman Wisata AlamAir Terjun Poran
Taman Wisata Alam Bukit Tangkiling
Taman Hutan Raya Arboretum Nyaru
Menteng
Taman Nasional Tanjung Putting
Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya
Taman Nasional Sebangau
Taman Wisata Laut Tanjung Kelua
Kawasan Cagar Alam Bukit Sapat
Hawung
Kawasan Cagar Alam Pararawen
Kawasan Cagar Alam Bukit Tangkiling
Kawasan Cagar Alam Air Terjun Molau

Luas (Ha)
6.400,00
533,00
65,00
390.493,0
0
125.355,0
0
605.449,0
0
2.000,00
192.317,0
0
4.384,00
2.601,00
1.200,00

RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

Besar
Kawasan Cagar Alam Bukit Bakitap
Kawasan Suaka Margasatwa Sungai
Lamandau
Total Luas

5.1.2

261,00
61.425,00
1.392.483,
00

Kawasan Lindung Setempat

Kawasan perlindungan setempat merupakan upaya dalam melindungi


dan melestarikan ruang terbuka hijau di sepanjang atau sekitar kawasan
sumber daya air yang dapat bermanfaat bagi kelestarian lingkungan. Kawasan
ini terdiri dari sempadan pantai, sempadan sungai, kawasan sekitar
danau/waduk, kawasan sekitar mata air, dan kawasan lindung spiritual dan
kearifan lokal.
Adapun kriteria kawasan perlindungan setempat, terdiri dari:
1. Kawasan perlindungan setempat (KPS) sekitar sempadan pantai secara
umum ditetapkan sekurang - kurangnya 100 meter dari titik pasang
tertinggi untuk kawasan pesisir, sedangkan sekurang - kurangnya 130 x
rata-rata perbedaan pasang tertinggi dan surut air terendah, untuk
pesisir pulau - pulau kecil.
2. Kawasan perlindungan setempat (KPS) sekitar sempadan sungai terdiri
atas sungai di kawasan bukan permukiman sekurang - kurangnya 100
meter dan anak sungai sekurang - kurangnya 50 meter, dan
direncanakan secara merata di seluruh wilayah Provinsi Jawa Timur.
3. Kawasan perlindungan setempat (KPS) sekitar waduk/danau ditetapkan
dalam RTRW kabupaten/kota, yang lebarnya antara 50 100 meter dari
titik pasang tertinggi ke arah darat.
4. Kawasan perlindungan setempat (KPS) sekitar mata air, ditetapkan
dengan radius 200 meter, dan direncanakan secara merata di seluruh
wilayah Kalimantan Tengah.
5. Kawasan perlindungan setempat sekitar sempadan sungai di kawasan
permukiman berupa sempadan sungai ditetapkan sekurang-kurangnya
10 meter.
6. Kawasan perlindungan mangrove adalah kawasan tempat tumbuhnya
tanaman mangrove di wilayah pesisir/laut yang berfungsi untuk
melindungi habitat, ekosistem, dan aneka biota laut, melindungi pantai
dari sedimentasi, abrasi dan proses akresi (pertambahan pantai) dan
mencegah terjadinya pencemaran pantai.
7. Kawasan Perlindungan Setempat (KPS) sekitar sempadan pantai
berhutan bakau minimal 130 kali rata-rata perbedaan air pasang

tertinggi dan terendah tahunan diukur dari garis air surut terendah
kearah darat yang merupakan habitat hutan bakau/mangrove.
Adapun kawasan perlindungan mangrove meliputi sepanjang pantai di
selatan Provinsi Kalimantan Tengah, kawasan pesisir, dan kepulauan. Beberapa
perubahan fungsi lindung pada kawasan lindung setempat ini antara lain
adalah sebagai berikut :
1. Sempadan Pantai
Kawasan sempadan pantai terletak di sepanjang Pantai di Provinsi
Kalimantan Tengah. yaitu kawasan di sepanjang pantai kurang lebih
751.000 km dengan lebar di kawasan perkotaan 30-100 m dan dan diluar
kawasan perkotaan 100-250 m meliputi pantai di Kabupaten Sukamara,
Kotawaringin Barat, Seruyan, Kotawaringin Timur, Katingan, Pulang Pisau,
dan di Kabupaten Kapuas;
2. Sempadan Sungai
Kawasan yang merupakan sempadan sungai terdapat di sepanjang sungai,
terutama untuk sungai-sungai besar. kawasan sempadan sungai pada
kawasan perkotaan dan perdesaan disepanjang 11 sungai besar meliputi
Sungai Barito, Kapuas, Kahayan, Katingan, Sebangau, Mentaya, Seruyan,
Kumai, Lamandau, Arut, dan Sungai Jelai serta sempadan sungai
disepanjang sungai sedang atau anak sungai yang menyebar di 14
kabupaten dan 1 kota di Provinsi Kalimantan Tengah;
3. Kawasan Sekitar Danau/Waduk
Kawasan danau/waduk, telaga dan laguna terletak di Provinsi Kalimantan
Tengah, yang terbesar dan terluas adalah kawasan sekitar Dananu Danau
Sembuluh di Kabupaten Seruyan dan Danau Lais.

5.1.3

Kawasan Cagar Budaya

Kawasan cagar budaya yaitu Rumah Adat Betang di Tumbang Anoi


Kabupaten Gunung Mas; di sekitar Kawasan Pahewan Kalawa, Kabupaten
Pulang Pisau; di Pahewan Kalaru, Kabupaten Katingan; dan di Pahewan
Tabalien, Kota Palangka Raya; di sekitar Kawasan Adat Masyarakat terutama
bagi
Umat
Hindu
Kaharingan;
di
Kawasan
Sekitar
Bangunan
Kerajaan/Kesultanan, Kabupaten Kotawaringin Barat.

5.1.4

Kawasan Rawan Bencana

Berdasarkan bentuk lahan maka dapat diidentifikasi jenis bahaya alami


dan sebarannya secara keruangan di Provinsi Kalimantan Tengah, sebagai
berikut :
1. Kawasan rawan tanah longsor yaitu daerah yang membentang dari
Barat-Timur wilayah Kalimantan Tengah bagian Utara dengan kondisi
RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

topografi berupa perbukitan-pegunungan;


2. Kawasan rawan gelombang pasang yaitu kawasan yang berada di
daerah pantai di Kabupaten Sukamara, Kotawaringin Barat, Seruyan,
Kotawaringin Timur, Katingan, Pulang Pisau, dan di Kabupaten Kapuas;
3. Kawasan rawan banjir yaitu daerah-daerah yang dilalui oleh sungaisungai besar seperti Kabupaten Barito Utara, Barito Selatan, Kapuas,
Pulang Pisau, Katingan, Seruyan, Kotawaringin Timur, Kotawaringin
Barat, dan Kota Palangka Raya.
Tabel A.1
N
o
I

JENIS
KAWASAN

TUJUAN
PEMANTAPAN
KAWASAN

Mencegah
terjadinya 1. Pemantapan kawasan hutan lindung
erosi, bencana banjir,
berdasarkan Keppres No. 32/1990
sedimentasi
dan
melalui pengukuhan dan penataan
menjaga fungsi hidrobatas
di
lapangan
untuk
orologi tanah untuk
memudahkan pengendaliannya
menjamin ketersediaan 2. Pengendalian kegiatan budidaya yang
unsur hara tanah, air
telah ada ( penggunaan lahan yang
tanah
dan
air
telah berlangsung lama)
permukiman
3. Pengembangan fungsi hidro-orologi
kawasan hutan yang telah mengalami
kerusakan
(rehabilitasi
dan
konservasi)
4. Pencegahan
kegiatan
budidaya,
kecuali
kegiatan
yang
tidak
mengganggu fungsi lindung, seperti:
pemanfaatan getah damar, lebah
madu,buah, rotan,
tanaman obatobatan dan pengembangan jasa
lingkungan: wisata alam, keindahan
dan kenyamanan).
5. Pemantauan terhadap kegiatan yang
diperbolehkan berlokasi di hutan
lindung,
(misalnya
:
penelitian,
eksplorasi mineral dan air tanah,
pencegahan bencana alam).

KAWASAN PERLINDUNGAN SETEMPAT


1. Sempadan
Pantai

Melindungi
pantai
dari
kegiatan
mengganggu
kelestarian

wilayah 1. Pencegahan dilakukannya kegiatan


usikan
budidaya di sepanjang pantai
yang 2. Pengendalian
kegiatan
disekitar
sempadan sungai
fungsi 3. Pengembalian fungsi lindung pantai

III

KEBIJAKSANAAN PEMANFAATAN
RUANG
yang telah mengalami kerusakan

2. Sempadan
Sungai

Melindungi sungai dari 1. Pencegahan dilakukannya kegiatan


kegiatan manusia yang
budidaya di sepanjang sungai yang
dapat
mengganggu
dapat mengganggu atau menurunkan
dan merusak kualitas
kualitas air, kondisi fisik dan dasar
air sungai kondisi fisik
sungai serta alirannya
dan dasar sungai serta 2. Pengendalian kegiatan yang telah ada
mengamankan
aliran
disekitar sungai
sungai
3. Pengamanan daerah aliran sungai

3. Kawasan
sekitar
danau/
waduk,
telaga
lagun

Melindungi
1. Pencegahan dilakukannya kegiatan
danau/waduk,
telaga
budidaya disekitar danau/waduk,
lagun dari kegiatan
telaga dan lagun yang dapat
budidaya yang dapat
mengganggu kelestarian fungsinya
mengganggu
(terutama sebagai sumber air)
kelestarian fungsinya
2. Pengendalian kegiatan yang telah
ada disekitar danau/waduk, telaga
dan lagun
3. Pengamanan daerh hulu

4. Kawasan
sekitar
mata air

Melindungi
dan 1. Pencegahan dilakukannya kegiatan
melestarikan
potensi
budidaya disekitar mata aiur yang
air
dari
berbagai
dapat
mengganggu
kelestarian
kegiatan yang dapat
fungsinya
menurunkan
kualitas 2. Pengendalian pemanfaatan mataair
dan kuantitas air.
agar kuantitas dan kualitas airnya
tidak menurun

KEBIJAKSANAAN PEMANFAATAN
RUANG

KAWASAN YANG MEMBERIKAN PERLINDUNGAN KAWASAN BAWAHANNYA


Kawasan
hutan
lindung

TUJUAN
PEMANTAPAN
KAWASAN
pantai

Kebijaksanaan Pemantapan Kawasan Lindung di Provinsi Kalimantan Tengah

JENIS
KAWASAN

1.

II

N
o

KAWASAN SUAKA ALAM DAN PELESTARIAN ALAM


1. Kawasan
Suaka
Alam

mempunyai
fungsi 1. Pengelolaan kawasan cagar alam dan
pokok
sebagai
suaka margasatwa, sesuai dengan
kawasan pengawetan
tujuan perlindungannya
keanekaragam-an
2. Di dalam cagar alam dapat dilakukan
tumbuhan dan satwa
kegiatan
untuk
kepentingan
beserta ekosistemnya,
penelitian dan pengembangan, ilmu
juga berfungsi sebagai
pengetahuan,
pendidikan,
dan
wilayah perlindungan
kegiatan lainnya yang menunjang
sistem
penyangga
budidaya.
kehidupan
3. Di dalam suaka margasatwa dapat
dilakukan
kegiatan
untuk
kepentingan
penelitian
dan
pengembangan, ilmu pengetahuan,
pendidikan, wisata terbatas, dan

RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

N
o

JENIS
KAWASAN

TUJUAN
PEMANTAPAN
KAWASAN

KEBIJAKSANAAN PEMANFAATAN
RUANG

N
o

kegiatan lainnya yang menunjang


budidaya.
4. Melarang setiap orang melakukan
kegiatan yang dapat mengakibatkan
perubahan
terhadap
keutuhan
kawasan suaka alam (mengurangi,
menghilangkan fungsi dan luas
kawasan
suaka
alam,
serta
menambah jenis tumbuhan dan
satwa lain yang tidak asli),, kecuali
kegiatan pembinaan Habitat untuk
kepentingan satwa di dalam suaka
marga
satwa.
Mengurangi,
menghilangkan fungsi dan luas
kawasan
suaka
alam,
serta
menambah jenis tumbuhan dan
satwa lain yang tidak asli.

2. Kawasan

Pelesatari
an
Alam
(Taman
Nasional,
Taman
Hutan
Raya,
taman
wisata
alam)

perlindungan
sistem 1. Di dalam taman nasional, taman
penyangga kehidupan,
hutan raya, dan taman wisata alam
pengawetan keanekadapat dilakukan kegiatan untuk
ragaman
jenis
kepentingan
penelitian,
ilmu
tumbuhan dan satwa,
pengetahuan,
pendidikan,
serta
pemanfaatan
menunjang budidaya, budaya, dan
secara lestari sumber
wisata alam.
daya alam hayati dan 2. Kawasan taman nasional dikelola
ekosistemnya.
dengan sistem zonasi yang terdiri
dari zona inti, zona pemanfaatan,
dan zona lain sesuai dengan
keperluan.
3. Mencegah setiap orang melakukan
kegiatan yang dapat mengakibatkan
perubahan terhadap keutuhan zona
inti
taman
nasional(mengurangi,
menghilangkan fungsi dan luas zona
inti taman nasional, serta menambah
jenis tumbuhan dan satwa lain yang
tidak asli).
4. Setiap orang dilarang melakukan
kegiatan yang tidak sesuai dengan
fungsi zona pemanfaatan dan zona
lain dari taman nasional, taman
hutan raya, dan taman wisata alam.

IV

JENIS
KAWASAN

TUJUAN
PEMANTAPAN
KAWASAN

KEBIJAKSANAAN PEMANFAATAN
RUANG

3. Kawasan
Cagar
Budaya
dan Ilmu
Pengetahu
an

Pengembangan
1. Pengelolaan cagar budaya dan ilmu
pendidikan,
rekreasi
pengetahuan (didalamnya termasuk
dan pariwisata serta
peninggalan benda-benda purbakala
peningkatan
kualitas
dan budaya-budaya leluhur) dengan
lingkungan sekitarnya
mengembangkan
zona-zona
dan perlindungan dari
pemanfaatan
ruang
untuk
pencemaran
pengembangan ilmu pengetahuan,
pariwisata rekreasi dan pendidikan
2. Pengelolaan cagar budaya dan ilmu
pengetahuan
yang
menemukan
kepentingan pelestarian nilai-nilai
budaya
bangsa
dan
pariwisata/rekreasi budaya
3. Pelarangan dilakukannya kegiatan
budidaya apapun, kecuali kegiatan
yang berkaitan dengan fungsinya
dan tidak mengubah kondisi fisik,
nilai-nilai
yang
terkandung
didalamnya, penggunaan lahan serta
kelestarian budaya bangsa tersebut

KAWASAN
RAWAN
BENCANA

Melindungi
manusia 1. Rehabilitasi lahan dan konservasi
dan kegiatannya dari
tanah pada kawasan rawan bencana
bencana
yang
tanah longsor dan erosi
disebabkan oleh alam 2. Pengendalian
kegiatan
disekitar
maupun secara tidak
kawasan kritis atau rawan bencana
langsung
oleh
tanah longsor
perbutan manusia
3. Penetapan kawasan rawan, kawasan
waspada
warning
area
pada
kawasan berpotensi gempa bumi.

5.2 RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN BUDIDAYA


Kawasan budidaya memiliki beberapa jenis pemanfaatan antara lain
sebagai kawasan peruntukkan hutan produksi, kawasan hutan rakyat, kawasan
peruntukkan pertanian, kawasan peruntukkan perkebunan, kawasan
peruntukkan peternakan, kawasan peruntukkan perikanan, kawasan
peruntukkan pertambangan, kawasan peruntukkan industri, kawasan
peruntukkan pariwisata, kawasan peruntukkan permukiman, dan kawasan
andalan. Kegiatan ini pada umumnya dilakukan dengan motivasi
pembangunan di bidang perekonomian dan harus tetap memperhatikan
pemeliharaan kualitas lingkungan. Arahan pengelolaan kawasan budidaya
meliputi segala usaha untuk meningkatkan pendayagunaan lahan yang
RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

dilakukan di luar kawasan lindung, yang kondisi fisik dan sumber daya
alamnya dianggap potensial untuk dimanfaatkan, tanpa mengganggu
keseimbangan dan kelestarian ekosistem.
Kawasan budidaya yang mempunyai nilai strategis provinsi, merupakan
kawasan budidaya yang dipandang sangat penting bagi upaya pencapaian
pembangunan provinsi.
Arahan kebijaksanaan dalam pengembangan
kawasan budidaya di Provinsi Kalimantan Tengah pada dasarnya ditujukan
pada upaya optimalisasi pemanfaatan sumberdaya wilayah, sesuai dengan
daya dukung lingkungan. Sasaran pengembangannya adalah:
1. Memberikan arahan pemanfaatan ruang kawasan budidaya secara
optimal dan mendukung pembangunan berkelanjutan.
2. Memberikan arahan untuk menentukan prioritas pemanfaatan ruang
antar kegiatan budidaya yang berbeda
3. Memberikan arahan bagi perubahan jenis pemanfaatan ruang dari jenis
kegiatan budidaya tertentu ke jenis lainnya.
Berdasarkan hal di atas, maka kebijaksanaan pengembangan kawasan
budidaya menyangkut :
1. Pengembangan kegiatan utama serta pemanfaatan ruangnya secara
optimal pada tiap kawasan budidaya
2. Pengembangan prasarana pendukung pengembangan tiap kawasan
budidaya
3. Pengendalian pemanfaatan ruang kegiatan budidaya yang dapat
mengganggu fungsi lindung.
4. Penanganan masalah tumpang tindih antar kegiatan budidaya
Maka rencana pengembangan kawasan budidaya di Provinsi Kalimantan
Tengah adalah sebagai berikut :
1. ;
2. kawasan peruntukan perindustrian terdiri atas:
a) kawasan industri kecil tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Provinsi
Kalimantan Tengah;
b) kawasan agroindustri tersebar di seluruh kabupaten di Provinsi Kalimantan
Tengah;
c) kawasan industri tersebar di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kotawaringin
Timur, Seruyan, Katingan, Kapuas, Barito Utara.
Tabel A.1

Luasan Rencana Lahan Fungsi Budidaya

N Rencana Fungsi Kawasan


o
Budidaya
1. Kawasan Budidaya
Kehutanan
Hutan Produksi Terbatas

Luas (Ha)
9.721.042,
00
3.324.675,0

N
o

Rencana Fungsi Kawasan


Budidaya

Hutan Produksi
Hutan Produksi yang dapat
dikonversi
2. Kawasan Budidaya Non
Kehutanan
Areal Penggunaan Lain (APL)
3.
Perairan (Danau/Sungai)
Jumlah

5.2.2

Luas (Ha)
0
3.855.751,0
0
2.540.616,0
0
2.616.606,
00
2.616.606,0
0
134.810,0
0
12.472.45
8,00

Kawasan Budidaya Kehutanan

Hutan produksi dimaksudkan untuk menyediakan komoditas hasil hutan


untuk memenuhi kebutuhan untuk keperluan industri, sekaligus untuk
melindungi kawasan hutan yang ditetapkan sebagai hutan lindung dan hutan
konservasi dari kerusakan akibat pengambilan hasil hutan yang tidak
terkendali. Penerapan kriteria kawasan peruntukan hutan produksi secara
tepat diharapkan akan mendorong terwujudnya kawasan hutan produksi yang
dapat memberikan manfaat berikut:
1. meningkatkan perkembangan pembangunan lintas sektor dan sub sektor
serta kegiatan ekonomi sekitarnya;
2. meningkatkan fungsi lindung;
3. menyangga kawasan lindung terhadap pengembangan kawasan budi
daya;
4. menjaga keseimbangan tata air dan lingkungan;
5. meningkatkan upaya pelestarian kemampuan sumber daya hutan;
6. meningkatkan pendapatan masyarakat terutama di daerah setempat;
7. meningkatkan pendapatan daerah dan nasional;
8. meningkatkan kesempatan kerja terutama untuk masyarakat daerah
setempat;
9. meningkatkan nilai tambah produksi hasil hutan dan industri yang
mengolahnya;
10. meningkatkan ekspor; atau
11. mendorong perkembangan usaha dan peran masyarakat terutama di
daerah setempat. Meliputi kawasan peruntukan hutan produksi terbatas;
kawasan peruntukan hutan produksi tetap; dan kawasan peruntukan
hutan produksi yang dapat dikonversi.
RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

Rencana pengembangan hutan produksi di Provinsi Kalimantan Tengah


adalah sebagai berikut :
1. hutan produksi terbatas (HPT) seluas kurang lebih 3.324.675 Ha yang

tersebar di semua kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah;


2. hutan produksi tetap (HP) seluas kurang lebih 3.855.751 Ha yang
tersebar di semua kabupaten dan kota di Provinsi Kalimantan Tengah;
dan
3. hutan produksi yang dapat dikonversi (HPK) seluas kurang lebih
2.540.616 Ha yang tersebar di semua kabupaten dan kota di Provinsi
Kalimantan Tengah.

5.2.3

Kawasan Budidaya Non Kehutanan

Untuk kawasan budidaya non kehutanan atau areal panggunaan lain


seluas 2.616.606,00 ha. Sebaran areal ini cukup merata hampir di seluruh
wilayah khususnya pada daerah-daerah yang terletak antara kawasan lindung
dan budidaya non-kehutanan.
Meskipun berada pada areal penggunaan lain, namun wilayah ini
potensial dikembangkan program-program pemberdayaan masyarakat melalui
pengembangan Hutan Rakyat/Hutan Hak, khususnya di lokasi-lokasi APL yang
telah terokupasi (dikuasai masyarakat)

5.2.4

Kawasan Pertanian

Menurut PP No 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah


Nasional, kriteria peruntukan kawasan pertanian meliputi:
1. memiliki kesesuaian lahan untuk dikembangkan sebagai kawasan
pertanian;
2. ditetapkan sebagai lahan pertanian pangan abadi;
3. mendukung ketahanan pangan nasional; dan/atau
4. dapat dikembangkan sesuai dengan tingkat ketersediaan air.
Pengembangan kawasan pertanian secara keseluruhan diarahkan untuk
budidaya tanaman pangan adalah (HPK+APL) seluas kurang lebih 5.157.222
Ha yang yang tersebar di semua kabupaten dan kota di Provinsi Kalimantan
Tengah;
Sedangkan pengembangakan areal produksi perkebunan, terutama
untuk komoditas utama dengan memanfaatkan potensi/kesesuaian lahan.
Sedang kebijaksanaan pemanfaatan ruang kawasan ini meliputi:
1. Peremajaan dan perluasan areal tanaman perkebunan.
2. Pengembangan sesuai dengan potensi/kesesuaian lahannya secara
optimal.

3. Pengendalian perluasan tanaman perkebunan


kelestarian lingkungan.
Pengembangan kawasan pertanian perkebunan
diarahkan untuk budidaya kawasan perkebunan (HPK)
2.540.616 Ha yang yang tersebar di semua kabupaten
Kalimantan Tengah;

5.2.5

untuk

memelihara

secara keseluruhan
seluas kurang lebih
dan kota di Provinsi

Kawasan Permukiman (Kota dan Desa)

Kawasan permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar


kawasan lindung, baik berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang
berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan
tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan. Sebagai
kawasan budidaya maka permukiman diarahkan dalam kajian lokasi dan fungsi
masing-masing permukiman, tertutama dikaitkan dengan karakter lokasi,
misalnya di pergunungan, dataran tinggi, permukiman pantai, dan sebagainya.
Kawasan peruntukkan permukiman di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah
terdiri dari permukiman perdesaan, perkotaan dan permukiman pada kawasan
khusus.
1. Permukiman Kota
Kawasan permukiman kota mencakup wilayah administrasi wilayah kota
(untuk yang berstatus kota khususnya Kota Palangkaraya dan wilayah
pengembangan kota/perkotaan (untuk ibukota kabupaten dan IKK baik
yang telah mempunyai RDTRK maupun belum serta wilayah sekitar
Palangkaraya yang merupakan bagian dari daerah perkotaan
Palangkaraya yang telah ditetapkan sebagai kawasan permukiman.
Kebijakan
pemanfaatan
ruangnya
didasarkan
pada
tujuan
mengembangkan kawasan permukiman kota sebagai tempat pemusatan
penduduk, beserta pengembangan sarana-prasarana penunjangnya
yang meliputi penataan ruang kota yang mencakup penyusunan dan
peninjauan kembali rencana tata ruang kota.
Khusus untuk wilayah perkotaan, baik yang tercakup dalam koridor
maup un perkotaan Palangkaraya, pengembangan kawsan permukiman
masih harus dibatasi pada lahan-lahan pertanian yang kurang subur.
Oleh karena itu, usaha pengembangan bagi kawasan perkotaan yang
dapat dilakukan adalah :
a) Intensifikasi lahan pekarangan,
b) Jika terjadi konversi lahan pertanian ke non pertanian, maka
dipersyaratkan penggunaan teknologi yang menjamin kestabilan
neraca air setempat. Untuk itu, perubahan coverage area tidak boleh
merubah volume air yang diresapkan.
RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

2. Permukiman Pedesaan
Kawasan ini mencakup perkampungan desa-desa yang ada dan
kemungkinan bagi perluasannya. Kebijaksanaan pemanfaatan ruangnya
didasarkan pada tujuan untuk mengembangkan kawasan permukiman
perdesaan yang terkait dengan kegiatan budidaya pertanian yang
meliputi pengembangan desa pusat pertumbuhan, pengembangan desa
sentra produksi pertanian (agropolitan), dan pengembangan pusat
pelayanan permukiman perdesaan.
Sedangkan rencana pengembangan pemanfaatan lahan untuk
permukiman di Provinsi Kalimantan Tengah adalah sebagai berikut :
1. kawasan permukiman perkotaan berada

pada kawasan APL yang


tersebar di seluruh ibukota kabupaten dan kota di Provinsi Kalimantan
tengah;
2. kawasan permukiman perdesaan kawasan APL yang tersebar di seluruh
wilayah kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah;

5.2.6

Kawasan Pertambangan

Keberadaan kawasan pengambangan ini muncul setelah ada informasi


baru mengenai potensi dan usaha penambangan di Provinsi Kalimantan
Tengah. Potensi pertambangan di Provinsi Kalimantan Tengah ini sangat besar
baik golongan A, B, maupun C. Untuk pengembangannya diarahkan untuk
tidak merusak lingkungan serta jika dilakukan penambangan pada kawasan
hutan, maka perlu dilakukan rehabilitasi lahan setelah masa penambangan
selesai dilakukan. Dengan menggunakan mekanisme pinjam pakai kawsan
hutan, maka usaha pertambangan ini juga masih dapat dilakukan. Untuk skala
prioritas pertambangan, yang perlu diutamakan adalah penambanganpenambangan pada kawasan non-lindung. Sedangkan untuk pertambangan
Sumberdaya Energi nasional, maka ketentuan penambangannya mengikuti
aturan yang berlaku (UU No. 4 tahun 2009 tentang pertambangan dan energi).
Tujuan dan kebijakan dari pengusahaan kawasan pertambangan ini
adalah sebagai berikut:
1. Membatasi jenis dan area yang diperbolehkan untuk ditambang.
2. Mempermudah usaha pengendalian dan pengawasan kegiatan
penambangan.
3. Menciptakan lapangan kerja dan lapangan usaha baru di pedesaan.
4. Meningkatkan pendapatan, baik masyarakat sekitar maupun daerah

5.2.7

Kawasan Pesisir dan Kelautan

Kawasan ini pengembangannya ditujukan untuk menjaga kelestarian


berfungsinya pesisir/pantai dan wilayah kelautan. Pada bagian pesisir/pantai

diutamakan untuk upaya perlindungan kawasan dari pemanfaatan ruang yang


merusak lingkungan, disamping untuk pelestarian berfungsinya alam
pesisir/pantai dan makhluk penghuninya. Kebijakan pengembangan Kawasan
Pesisir dan Kelautan adalah sebagai berikut:
a
Pengembangan kawasan agar tetap lestari
b
Penyediaan sarana-prasarana Kawasan Pesisir dan Kelutan
c
Pengendalian pemanfaatannya dari pengaruh budaya lain
d
Pengamanan dari invasi kegiatan bangsa lain

5.2.8

Kawasan Perikanan

Pengembangan kawasan budidaya


perikanan ditujukan
untuk
pengembangan budidaya perikanan khususnya perikanan air tawar. Hal ini
dimaksudkan agar sumberdaya perikanan yang ada dapat dipertahankan dan
dikembangkan sesuai potensi yang dimiliki serta kebutuhan yang diinginkan.
kawasan peruntukan perikanan laut (seluas kurang lebih 751 Km x 12 mil)
berada di perairan laut dan seluas kurang lebih kurang lebih 134.810 Ha di
perairan darat (sungai dan danau) di Provinsi Kalimantan Tengah.

5.2.9

Kawasan Wisata

Pengembangan kawasan budidaya kepariwisataan di Provinsi Kalimantan


Tengah berupa wisata alam, dan wisata budaya. Kawasan wisata alam
tersebar di seluruh kabupaten dan kota Provinsi Kalimantan Tengah,
sedangkan kawasan wisata alam laut berada di Kabupaten Sukamara,
Kotawaringin Barat, Seruyan, Kotawaringin Timur.
Tabel A.1
NO

Rencana Pengembangan Kawasan Budidaya di Provinsi Kalimantan Tengah

JENIS KAWASAN

KAWASAN
BUDIDAYA
KEHUTANAN

TUJUAN
PEMANFAATAN
KAWASAN
Pemanfaatan ruang di
dalam kawasan hutan
untuk tujuan produktif
(meningkatkan
kesejahteraan
masyarakat) yang
berkelanjutan

ARAHAN PEMANFAATAN RUANG

KAWASAN
BUDIDAYA NON
KEHUTANAN

Optimalisasi
pemanfaatan lahanlahan non produktif di
luar kawasan hutan

Pengembangan program Hutan


Tanaman Rakyat
Pengembangan program Hutan
Kemasyarakatan
Pembangunan Hutan Tanaman
Industri Pola Kemitraan
Resolusi konflik agraria terhadap
klaim-klaim penguasaan lahan,
melalu program Hutan Hak
Intesifikasi
lahan
melalui
penerapan
pola
agroforestry,
khususnya pada lahan-lahan non
prduktif
yang
dikuasai
masyarakat.

RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

NO

3.

JENIS KAWASAN

KAWASAN
PERTANIAN

TUJUAN
PEMANFAATAN
KAWASAN
Mengembangkan areal
persawahan dengan
memanfaatkan
potensi/kesesuaian
lahan dengan
kemungkinan dukungan
prasarana
pengairan/irigasi teknis
dan setengah teknis
untuk mendukung
program sawah abadi
Mengembangkan
kawasan pertanian
tanaman pangan lahan
kering

ARAHAN PEMANFAATAN RUANG

4.

5.

KAWASAN
PERKEBUNAN

Pengembangan kawasan-kawasan
potensial untuk pertanian lahan
kering
Penyelesaian
masalah
yang
tumpang tindih dengan kegiatan
budidaya lainnya
Peremajaan dan perluasan areal
tanaman perkebunan
Pengembangan
wilayah-wilayah
tanaman
perkebunan
sesuai
dengan
potensi/kesesuaian
lahannya secara optimal
Pengendalian perluasan tanaman
perkebunan untuk memelihara
kelestarian lingkungan

JENIS KAWASAN

7.
KAWASAN PESISIR
DAN KELAUTAN

8.

9.

KAWASAN
PERTAMBANGAN

KAWASAN
PERIKANAN

TUJUAN
PEMANFAATAN
KAWASAN
wisatawan mncanegara
yang
pengembangannya
diharapkan akan
berdampak positif bagi
kawasan-kawasan
lainnya
Menjaga kelestarian
berfungsinya
pantai/pesisir dan
kelautan, disamping
upaya pengamanan
dari kegiatan budidaya
lainnya.
Mengusahakan potensi
bahan galian sekaligus
memperbaiki kualiutas
lingkungan.
Mengusahakan potensi
perikanan untuk
pengembangan
budidaya perikanan air
tawar.

ARAHAN PEMANFAATAN RUANG

Pengembangan kawasan agar


tetp lestari
Penyediaan sarana dan prasarana
kawasan
Pengendalian dari pemanfaatan
yang mengganggu
Pengamanan dari invasi kegiatan
bangsa lain
Pembatasan area penambangan
dan jenis galian yang diusahakan
Penataan
ruang
kawasan
perindustrian
Penjaringan investasi industri
Intensifikasi budidaya perikanan
Pembibitan dan penggunan benih
unggul
peningkatan
produksi
dan
produktivitas perikanan

KAWASAN
PERMUKIMAN

a. Permukiman
Kota

b. Permukiman
Pedesaan

6.

Mengembangkan areal
produksi perkebunan
terutama untuk
komoditas utama
dengan memanfaatkan
potensi/kesesuaian
lahan

Intensifikasi pertanian
Pengembangan
prasarana
pertanian
Pengendalian kegiatan lain agar
tidak
mengganggu
lahan
pertanian yang subur
Penyelesaian
masalah
yang
tumpang tindih dengan kegiatan
budidaya lainnya.

NO

KAWASAN
PARIWISATA

Mengembangkan
kawasan permukiman
kota sebagai tempat
pemusatan penduduk
yang ditunjang oleh
penyediaan prasarana
dan sarana perkotaan
yang memadai sesuai
dengan hirarki dan
fungsinya.
Mengembangkan
kawasan permukiman
yang terkait dengan
kegiatan budidaya
pertanian yang
tersebar sesuai dengan
potensi pertanian
Mengembangkan
kawasan prioritas yang
memiliki prioritas, yang
memiliki objek wisata
terutama untuk

Penataan ruang kota :


Penyusunan Rencana Tata Ruang
Kota
Peninjauan
kembali
(evaluasi
revisi) Rencana Tata Ruang Kota

Pengembangan
desa-desa
pusat
pertumbuhan dengan sentra produksi
dan pusat pelayanan permukiman
pedesaan

Penataan
Ruang
Kawasan
Priwisata
Pengembangan objek dan fasilitas
pariwisata

RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

10

Peta 1.1

Rencana Pengembangan Pertambangan

RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

11

Peta 1.2

HPH dan HTI

RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

12

Peta 1.3

Re ncana Tata Ruang Wilayah Uulan Kabupaten

RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

13

BAB | 5 | RENCANA POLA RUANG PROVINSI KALIMANTAN TENGAH.......51


5.1 RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN LINDUNG.............
5.1.1 Kawasan Lindung Bawahan...........................................
5.1.2 Kawasan Lindung Setempat..........................................
5.1.3 Kawasan Cagar Budaya.................................................
5.1.4 Kawasan Rawan Bencana.............................................
5.2 RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN BUDIDAYA...........
5.2.2 Kawasan Budidaya Kehutanan......................................
5.2.3 Kawasan Budidaya Non Kehutanan...............................
5.2.4 Kawasan Pertanian........................................................
5.2.5 Kawasan Permukiman (Kota dan Desa)........................
5.2.6 Kawasan Pertambangan................................................
5.2.7 Kawasan Pesisir dan Kelautan.......................................
5.2.8 Kawasan Perikanan........................................................
5.2.9 Kawasan Wisata.............................................................

Gambar 5.1 Diagram Alir Proses Penyusunan Rencana Pola Ruang


Provinsi KALTENG Tahun 2010 - 2030................................................

Tabel 5.1

Luas Kawasan Taman Alam, Pelestarian Alam, dan Suaka


Alam.......................................................................................................

Tabel 5.2

Kebijaksanaan Pemantapan Kawasan Lindung di Provinsi


Kalimantan Tengah..............................................................................

Tabel 5.3

Luasan Rencana Lahan Fungsi Budidaya.........................................

Tabel 5.4

Rencana Pengembangan Kawasan Budidaya di Provinsi


Kalimantan Tengah..............................................................................

Peta 5.1

Rencana Pengembangan Pertambangan...............................................

Peta 5.2

HPH dan HTI............................................................................................

Peta 5.3

Re ncana Tata Ruang Wilayah Uulan Kabupaten...................................

RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

14