Anda di halaman 1dari 15

8.

BAB | 7 |
ARAHAN
PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN
RUANG
7.1 ARAHAN PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG
7.1.1

Arahan Kawasan yang Memberikan Perlindungan Kawasan Bawahannya.

Arahan pengelolaan kawasan yang memberikan perlindungan kawasan


bawahannya terdiri dari Kawasan Hutan Lindung dan Kawasan Resapan Air,
yaitu
1.
Pemantapan kawasan, melalui upaya pengukuhan batas kawasan,
terutama yang belum ditata batas
2.
Pengendalian pemanfaatan ruang yang dilakukan meliputi ;
a)
Untuk pemanfaatan ruang yang dinilai tidak merusak dilakukan
dengan mempertahankan intensitas (limitasi) kegiatan, melalui upaya
pelaporan dan pengawasan/monitoring, pengamanan aset, serta
sebelumnya telah dilakukan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
(AMDAL);
b)
Untuk pemanfaatan ruang yang dinilai dapat merusak dilakikan
peneriban, penutupan, pemindahan, dan pegenaan sanksi sesuai
peraturan yang berlaku;
3.
Peningkatan rehabilitasi kawasan yang telah mengalami kerusakan;
4.
Peningkatan konservasi kawasan sehingga pemanfaatan potensi
berkelanjutan
5.
Peningkatan koordinasi antara pihak pemerintah, masyarakat,
swasta, dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dalam pegelolaan
kawasan;
6.
Pemberdayaan masyarakat sekitar kawsan;
7.
Perencanaan kawasan penyangga (buffer);

Peningkatan Inventarisasi dan Pemantapan Tata Guna (intag)


Nawasan;
9.
Peningkatan kegiatan penelitian dan pengembangan;
10.
Pengelolaan kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah
Kabupaten/Kota dibawah kcordinasi pemerintah provinsi;
11.
Peningkatan kerja sama antar wilayah Kabupaten/Kota dalam
pengelolaan kawasan.

7.1.2

Arahan Pengelolaan Kawasan Perlindungan Setempat

Arahan Pengelolaan Kawasan Perlindungan Setempat yang terdiri dari


Sempadan Pantai, Sempadan Sungai, Kawasan Sekitar Danau dan Kawasan
Sekitar Mata Air, yaitu :
1. Penetapan batas kawasan sesuai kriteria yang berlaku, dan perku
ditindaklanjuti dalam RTRW Kab/Kota atau Kawasan;
2. Pengendalian pemanfaatan ruang yang dilakukan meliputi ;
a) Untuk pemanfaatan yang dinilai dapat merusak dilakukan dengan
tetap mempertahankan intensitas (limitasi) kegiatan, melalui upaya
perlaporan dan pengawasan atau monitoring;
b) Untuk pemanfaatan ruang yang dinilai dapat merusak atau
mengancam fungsi lindung kawasan dilakukan penutupan,
pencegahan, pemindahan, rehabilitasi dan konservasi, penertiban
dan penerapan sanitasi.

7.1.3

Arahan Pengelolaan Kawasan Suaka Alam

Arahan Pengelolaan Kawasan Suaka Alam yang terdiri dari Kawasan


Cagar Alam dan Kawasan Suaka Margasatwa, yaitu :
1. Pengaman kawasan, melalui upaya penetapan batas kawasan terutama
kawasan yang belum ditata batas;
2. Pengendalian pemanfaatan ruang yang dilakukan meliputi;
a) Untuk pemanfaatan ruang yang dinilai tidak merusak dilakukan
dengan tetap mempertahankan intensitas (limitasi),melalui upaya
pelaporan dan pengawasan/monitoring, pelaporan, pengamanan aset
dan sebelumnya telah dilakukan AMDAL.
b) Untuk pemanfaatan ruang yang dinilaimerusak
dillakukan
upaya
penertiban, penutupan, pencegahan, pemindahan dan apabila telah
terjadi kerusakan diupayakan rehabilitasi, penegakkan hukum;
3. Peningkatan rehabilitasi kawasan yang telah mengalami kerusakan;
4. Peningkatan konservasi kawasan sehingga pemanfaatan potensi
berkelanjutan;

RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

5. Pemberdayaan masyarakat sekitar untuk menciptakan peran aktif


masyarakat dalam pelestarian kawasan Peningkatan koordinasi antar
pihak pemerintah, masyarakat,swasta dan LSM dalam pengelolaan
kawasan.
6. Peningkatan koordinasi antar pihak pemerintah, masyarakat, swasta dan
LSM dalam pengelolaan kawasan
7. Penetapan blok kawasan dan pemanfaatan kawasan untuk kegiatan
pariwisata alam/ecotourism;
8. Pengelolaan
kawasan meliputi
lebih dari satu wilayah
Kabupaten/Kota dibawah koordinasi pemerintah provinsi;
9. Peningkatan Inventarisasi dan Pemantapan Tata Guna (intag) kawasan;
10.
Peningkatan kegiatan penelitian dan pengembangan;
11.
Peningkatan kerjasama antar wilayah Kabupaten/Kota dalam
pengelolaan kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah administrasi.

7.1.4

Arahan Pengelolaan Kawasan Pelestarian Alam

Arahan Pengelolaan Kawasan Peiestarian Alam yang terbagi menjadi


Taman Nasional, Tamari Hutan Raya, Taman Wisata Alam, yaitu
1. Pengaman kawasan, melalui upaya penetapan batas kawasan terutama
kawasan yang belum ditata batas;
2. Pengendalian pemanfaatan ruang yang dilakukan meliputi ;
a) Untuk pemanfaatan ruang yang dinilai tidak merusak dilakukan
dengan
b) tetap mempertahankan intensitas (limitasi),melalui upaya pelaporan
dan pengawasan/monitoring, pelaporan, pengamanan aset dan
sebelumnya
c) telah dilakukan AMDAL.
d) Untuk pemanfaatan ruang yang dinilai merusak dilakukan upaya
penertiban, penutupan, pencegahan, pemindahan dan apabila telah
terjadi kerusakan diupayakan rehabilitasi, penegakkan hukum;
3. Peningkatan rehabilitasi kawasan yang teiah mengalami kerusakan;
4. Peningkatan konservasi kawasan sehingga pemanfatan potensi
berkelanjutan;
5. Pemberdayaan masyarakat sekitar untuk menciptakan peran aktif
masyarakat dalam pelestarian kawasan Peningkatan koordinasi antar
pihak pemerintah, masyarakat,swasta dan LSM dalam pengelolaan
kawasan.
6. Peningkatan koordinasi antar pihak pemerintah, masyarakat,swasta dan
LSM dalam pengelolaan kawasan

7. Penetapan blok kawasan dan pemanfaatan kawasan untuk kegiatan

pariwisata alam/ecotourism;
8. Pengelolaan
kawasan
meliputi
lebih dari satu
wilayah
kabupaten/Kota, dibawah koordinasi pemerintah provinsi;
9. Peningkatan Inventarisasi dan Pemantapan Tata Guna (intag) kawasan;
10. Peningkatan. kegiatan penelitian dan pengembangan;
11. Kerjasama antar wilayah KabupatenlKota dalam pengelolaan kawasan
yang meliputi lebih dari satu wilayah administrasi;
12. Kawasan Taman Nasional dokelola dengan sistem zonasi yang terdiri dari
zona inti, zona pemanfaatan dan zona lain sesuai dengan keperluan.

7.1.5

Arahan Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Budaya

Peningkatan rehabilitasi kawasan yang telah mengalami kerusakan;


Konservasi lingkungan;
Pengamanan kawasan, melalui penetapan batas kawasan;
Pemberdayaan masyarakat sekitar dalam memelihara aset kawasan.
Pengendalian
pemanfaatan
di
sekitar
kawasan
agar
tidak
mengintervensi ke kawasan cagar budaya;
6. Penetapan zona pemanfaatan kawasan untuk kegiatan pariwisata
alam/ecotourism;
7. Peningkatan kegiatan penelitian dan pengembangan;
8. Pengelolaan kawasan dilaksanakan oleh pemerintah sebagai upaya
pelestarian lingkungan kawasan.
1.
2.
3.
4.
5.

7.1.6

Arahan Pengelolaan Kawasan Rawan Bencana Alam

1. Penetapan kawasan rawan bencana, kawasan waspada, dan kawasan


2.
3.
4.
5.
6.

potensial bencana;
Peningkatan rehabilitasi kawasan yang telah mengalami kerusakan;
Pengendalian kegiatan budidaya agar tidak merambah ke kawasan
lindung;
Peningkatan koordinasi pengelolaan kawasan antar pihak penlerintah,
swasta dan masyarakat serta LSM;
Pengelolaan kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah administrasi
Kabupaten/Kota, dibawah koordinasi pemerintah provinsi;
Kerjasama antar daerah Kabupaten/Kota dalam pengelolaan, kawasan
yang meliputi lebih dari satu wilayah administrasi.

RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

7.2 ARAHAN PENGELOLAAN KAWASAN BUDIDAYA


7.2.1

Penetapan Kawasan Budidaya

Jenis kawasan budidaya di Provinsi Kalimantan Tengah mengacu pada


Kepres Nomor 57 tahun 1989 tentang Kawasan Budidaya dan Peraturan
Menteri Pekerjaan Umum Nomor 41/PRT/M/2007 tentang Pedoman Kriteria
Teknis Kawasan Budidaya. Kawasan berdasarkan kriteria kawasan meliputi ;
1.
Kawasan
Hutan
produksi
meliputi :
a) Kawasan Hutan Produksi Terbatas;
b) Kawasan Hutan Produksi Tetap;
c) Kawasan Hutan yang Dapat Dikonversi.
2.
Kawasan Pertanian meliputi :
a) Kawasan Pertanian Lahan Basah
b) Kawasan Lahan Kering
c) Kawasan Tanaman Tahunan/Perkebunan
d) Kawasan Peternakan
e) Kawasan Perikanan
3.
Kawasan Pertambangan
4.
Kawasan Peruntukan Industri
5.
Kawasan Pariwisata
6.
Kawasan Permukiman
7.
Kawasan Pesisir, Pantai dan Laut

7.2.2

Pemanfaatan Kawasan Budidaya

Kawasan budidaya merupakan kawasan di luar kawasan lindung,


meliputi kawasan budi daya pertanian (perdesaan) dan budidaya pertanian
(perkotaan) yang kondisi fisik dan potensi sumber daya alamnya perlu
dimanfatkan guna kepentingan produksi dalam rangka memenuhi kebutuhan
manusia (termaksud permukiman) serta pembangunan pada umumnya.
A. Kawasan Hutan Produksi
Kawasan peruntukan hutan produksi meliputi hutan produksi tetap,
hutan produksi terbatas, dan hutan produksi yang dikonversi. Ketentuan lebih
rinci untuk masing-masing jenis peruntukan diatur dalam bagian ketentuan
teknis.
Kawasan peruntukan hutan produksi memiliki fungsi antara lain:
1. Penghasil kayu dan bukan kayu;
2. Sebagai daerah resapan air hujan untuk kawasan sekitarnya;
3. Membantu penyediaan lapangan kerja bagi masyarakat setempat;

4. Sumber pemasukan dana bagi Pemerintah Daerah (dana bagi hasil)

sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004


tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan
Pemerintah Daerah.
B. Kawasan Pertanian
Kawasan Pertanian di Provinsi Kalimantan Tengah tersebar di seluruh
Wilayah
Provinsi
Kalimantan
Tengah.
Pengembangannya
dilakukan
berdasarkan kriteria dan kesesuaian lahan untuk berbagai komoditas.
Kawasan budi daya pertanian adalah kawasan yang mempunyai kegiatan
utama pertanian termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan, susunan
fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa
pemerintah, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi. Kegiatan pertanian
tersebut dapat berupa pertanian lahan basah dan pertanian lahan kering,
tanaman keras (perkebunan), perikanan, peternakan, dan kehutanan.
1.
Kawasan Pertanian Tanaman Pangan Lahan Basah
Sejalan dengan perkembangan kegiatan industri dan permukiman yang
cendurung memanfatkan pertanian (persawahan) perlu tetap di
pertahankan areal pertaniannya yang berpengairan teknis. Terutama
areal pertanian lanan basah yang sangat produktif yang didukung oleh
Daerah Irigasi (DI) yang sudah mapan.
Budi daya perikanan darat yang ada di wilayah Provinsi Kalimantan
Tengah terdiri dari kolam /empang, mina padi, dan air deras. Kegiatan ini
tidak dialokasikan secara khusus, karena kegiatan perikanan darat
terutama air deras tidak memerlukan lahan yang luas, sedangkan mina
padi sifatnya seperti tumpang sari dengan tanaman padi pada saat
tanam.
2.
Kawasan Pertanian Tanaman Tahunan/Perkebunan
Pengembangan kawasan untuk pertanian tanaman tahunan dan
budidaya hutan seluas 2.540.616 Ha, pengembangan tanaman
kehutanan (hutan produksi) dan perkebunan besar/rakyat lebih
diarahkan pada kecamatan dengan karakteristik lingkungan dengan
ketinggian di bawah 2.000 meter dan kelerengan di bawah 40% yang
akan dijabarkan dalam masing-masing RTRW Kabupaten. Sedangkan
perkebunan besar/rakyat adalah dengan cara optimalisasi dan
pemanfaatan kawasan HPK dengan jenis komoditas seperti kelapa, kopi,
coklat, karet dan kelapa sawit.
3.
Kawasan Sentra Peternakan/Perikanan
Pengembangan kawasan peternakan/perikanan dialokasikan pada lahan
secara khusus, karena sifat pengembangan sentra tersebut tidak
RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

memerlukan lahan yang cukup luas. Areal potensial untuk dikembangkan


peternakan besar model penggembala umum dan ranci (Ranch) adalah
tersedianya lahan penggembalaan padang rumput yang cukup luas,
yaitu berada di kecamatan dengan karakteristik (kriteria) lingkungan
dengan ketinggian di bawah 1.000 meter dan kelerengan dibawah 15%
serta jenis tanah dan iklim yang sesuai dengan rumput alamiah. Adapun
Wilayah kecamatan yang dianggap sangat sesuai untuk sentra
pengembangan ternak besar potong akan dijabarkan dalam masingmasing RTRW Kabupaten karena dafam RTRWP tidak dideliniasi,
Sedangkan untuk peternakan sapi perah lebih diarahkan kepada wilayah
yang memiliki jenis tanah dan iklim yang cocok untuk pakan/ruput gajah
untuk menghasilkan susu yang berkualitas. Sedangkan Sentra
Pengembangan Unggas diarahkan pada masing-masing kabupaten
dengan memperhatikan lokasi dan jarak dari permukiman agar tidak
berdampak pada pencemaran lingkungan dan yang utama bagaimana
unggas dapat dibudidayakan dengan baik.
Untuk pengembangbiakan perikanan, baik berupa pertambakan, kolam
dan perairan darat lainnya harus memperhatikan karakteristik (kriteria)
lingkungan dengan kelerengan di bawah 3% dan persediaan air cukup.
Untuk perikanan darat terutama air deras lebih dikembangkan di wilayah
bagian Wilayah Sungai (WS). Sedangkan pertanian laut di selatan
Provinsi Kalimantan Tengah.
C. Kawasan Pertambangan
Pertambangan di Kalimantan Tengah mencakup ketiga penggolongan
umum bahan galian, yakni bahan galian Golongan A, bahan galian Golongan B
dan bahan galian Golongan C. Komoditi tambang di Kalimantan Tengah terdiri
dari: bahan galian golongan A berupa batubara; bahan galian golongan B
berupa bijih emas, bijih besi dan zircon; serta bahan galian golongan C berupa:
pasir kuarsa, batu gamping, kaolin, andesit, granit, granodiorit, basalt,
phospat, tanahliat dan sirtu.
Tabel C.1
No.

Luas Potensi Pengembangan Lahan Pertambangan

Kabupaten/Kota

1.

Ko Bar

2.

KoTim

3.

Kapuas

4.
5.
6.

BarSel
BaUt
Lamandau

Jenis Bahan Tambang


Batubara, Zircon, Bijih
Besi
Ziscon, Bijih Besi
Batubara, Emas, Zircon,
Intan, Kuarsa
Batubara, Bijih Besi
Batubara, Gamping
Bijih Besi

Jumlah KP

Luas (Ha)

Persen (%)

15

18.832,00

0,66

19

13.960,55

0,49

102

627.358,00

21,92

24
120
26

90.062,44
591.799,00
169.722,00

3,15
20,68
5,93

No.

Kabupaten/Kota

7.

Katingan

8.

Gunung Mas

9.
10.
11.
12.

BarTim
Murung Raya
Palangka Raya
Pulang Pisau

13.

Seruyan

14.

Lintas
Kabupaten

Jenis Bahan Tambang


Batubara, Zircon, Emas,
Bijih Besi
Batubara, Emas, Zircon,
Bijih Besi, Galena
Batubara, Gamping
Batubara, Emas
Batubara, Zircon
Zircon
Batubara, Zircon, Bijih
Besi, Galena

Jumlah KP

Luas (Ha)

Persen (%)

61

173.138,55

6,05

65

500.299,80

17,48

74
23
13
2

190.547,38
395.758,50
35.794,00
1.525,00

6,66
13,83
1,25
0,05

12

27.685,00

0,97

14

25.500,00

0,89

Jumlah
570 2.861.982,22
Sumber : Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Kalimantan Tengah, Juni 2009

100

Batubara, Zircon

D. Kawasan Peruntukan Industri


Pada umumnya di Provinsi Kalimantan Tengah untuk pengembangan
kawasan peruntukan industri, disesuaikan dengan kriteria dan ketersediaan
lahan baku "raw Material" dan ketersediaan sarana dan prasarana. Secara
khusus untuk kawasan peruntukan industri belum terdapat di Kalimantan
Tengah, hal ini terjadi disebabkan belum adanya kegiatan dan pembangunan
pabrivikasi dan atau pengolahan. bahan mentah menjadi bahan setengah jadi
dan bahan setengah jadi menjadi bahan baku. Kenyataan tersebut menjadi
signifikan banyak dipengaruhi oleh antara lain :
1. Lemahnya insentif dan disinsentif pengelolaan dan pemanfaatan ruang
oleh pemerintah;
2. Curangnya minat par-a investor yang mau mengembangkan investasi;
3. Tidak jelasnya klaster atas komoditas unggulan wilayah terhadap
pengembangan daya saing wilayah;
4. Terbatasnya energi kelistrikan yang dapat digunakan oleh para investor
untuk mengelola dan mengembangkan usaha;
5. Rendahnya aksebilitas sarana prasarana perhubungan terutama
transportasi udara dan laut.
6. Banyak rekomendasi menimbulkan tumpang tindih atas kepemilikannya
karena lemahnya koordinasi antar kabupaten/kota dengan provinsi
E. Kawasan Pariwisata
Objek-objek wisata yang ada di Kalimantan Tengah cukup banyak baik
objek wisata alam, budaya maupun atraksi wisata budaya. Namun
kesemuanya belum dapat memberikan kontribusi percepatan pertumbuhan
ekonomi
wilayah,
hal
tersebut
terjadi
karena
pengelolaan
dan
pengembangannya masih dilakukan secara sepihak, belum terjalin usaha dan
upaya kerjasama dan kemitraan antara pemerintah, masyarakat dan dunia
RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

usaha.

7.2.3

F.

A. Arahan Pengelolaan Kawasan Hutan Produksi

Kawasan Permukiman

Pengembangan kawasan budidaya nonpertanian terdiri dari pemukiman,


perkotaan dan perdesaan. Pemukiman perkotaan lebih mengarah pada
pemukiman yang mendukung kegiatan dan fungsi kota (pemerintahan,
perdagangan, jasa, dan industri) sedangkan pemukiman pedesaan diarahkan
pada sentra pengembangan pertanian tanaman pangan dan perkebunan.
Pengembangan permukiman perkotaan Provinsi Kalimantan Tengah
diarahkan pada fungsi kota Pemerintahan, perdagangan, jasa, industri,
pariwisata, koleksi dan distribusi regional dan lokal, dan kota-kota kecamatan
yang berskala lokal.
Perkembangan permukiman perkotaan cenderung terjadi di kawasankawasan strategis, karena berada pada jalur jalan arteri primer dan kolektor
primer. Perkembangan perrnukiman perkotaan akan terjadi pada simpul atau
persimpangan strategis yang menghubungkan daerah hinterland potensial,
seperti kota yang berada di bagi Tengah seperti Palangkaraya, sampit, Muara
Teweh, Pulang Pisau, dan Kuala Kapuas yang relatif berkembang pesat
Perkembangan kota, di wilayah yang dihubungkan oleh jalan lokal primer
cenderung berkembang di Buntok, Pangkalan Bun, dan Tamiang Layang.
Kawasan permukiman di Provinsi Kalimantan Tengah pada umumnya
mengikuti pola linear yaitu mengikuti bentang alam dan atau fisiografi
kemiringan lereng. Sebagian besar permukiman daerah pada daratan rendah.
Pola perkembangan lain ialah pemukiman yang muncul dan berkembang
secara lebih memusat sehingga lebih berpola konsentrik. Pola ini awalnya
terbatas pada pemukiman-pemukiman transmigrasi dimana satuan-satuan
pemukiman memang didesain untuk berada di tengah-tengah lahan usaha.
G. Kawasan Pesisir, Pantai dan Laut
Sesuai dengan ketentuan undang-undang, wilayah perairan laut provinsi
ialah sejauh 12 mil laut dari titik pangkal di pantai. Batasan teknis mengenai
titik pangkal serta garis pangkal untuk penarikan batas perairan laut mengacu
kepada ketentuan dalam peraturan terkait, utamanya UU Nomor 17 Tahun
1985 Tentang Ratifikasi UNCLOS (United Nations Convention on the Law of the
Sea) dan UU Nomor 6 Tahun 1996 Tentang Perairan Indonesia.
Luas perairan laut Kalimantan Tengah ialah 1.672.200 hektar. Terkait
penataan ruang, perairan laut disekitar Kualapembuang yang kaya
sumberdaya kelautannya sudah ditetapkan sebagai Kawasan Andalan Laut.

Arahan Pengelolaan Kawasan Budidaya

Arahan Pengelolaan Kawasan Hutan Produksi yang terdiri dari Kawasan


Hutan Produksi terbatas, Kawasan Hutan Produksi Tetap dan Kawasan Hutan
Yang dapat Dikonversi, yaitu
1.
Penetapan batas kawasan dalam RTRW Kab/Kota;
2.
Pengendalian pola pemanfaatan ruang yang dilakukan meliputi :
a) Untuk pola pemanfaatan kawasan yang dinilai tidak merusak
dilakukan dengan tetap mempertahankan intensitas (limitasi)
kegiatan, dengan upaya pelaporan, pamantauan.monitoring;
b) Untuk pola pemanfaatan kawasan yang dinilai dapat rusak dilakukan
penutupan aktifitas, pemindahan, rehabilitasi-apabila terjadi
kerusakan dan penertihan;
3.
Peningkatan koordinasi antar sektor, instansi dalam pengelolaan
kawasan;
4.
Pemanfaatan potensi hasil hutan berprinsip konservasi surnber
daya alam secara berkelanjutan
5.
Perijinan pemungutan hasil hutan
6.
Penyelesaian permasalahan tumpang tindih (over Lapping)
pemanfaatan kawasan terutama dengan kawasan lindung dan kawasan
budiciaya lainnya;
7.
Peningkatan Inventarisasi dan Pemantapan Tataguna (intag)
Kawasan;
8.
Meningkatkan kesadaran dan keberdayaan masyarakat sekitar
kawasan.
Pengelolaan hutan produksi harus memperhatikan :
1. Penggunaan kawasan peruntukan hutan produksi untuk kepentingan
pembangunan di luar kehutanan harus memenuhi ketentuan sebagai
berikut:
a)
Tidak mengubah fungsi pokok kawasan peruntukan
hutan produksi;
b)
Penggunaan kawasan peruntukan hutan produksi
untuk kepentingan pertambangan dilakukan melalui pemberian ijin
pinjam pakai oleh Menteri terkait dengan memperhatikan batasan
luas dan jangka waktu tertentu serta kelestarian hutan/lingkungan;
c)
Penggunaan kawasan peruntukan hutan produksi
untuk kepentingan pertambangan terbuka harus dilakukan dengan
ketentuan khusus dan secara selektif.

RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

2. Ketentuan pokok tentang status dan fungsi hutan; pengurusan hutan;


perencanaan hutan; dan pengelolaan hutan mengacu kepada UndangUndang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan;
3. Kegiatan pemanfaatan kawasan peruntukan hutan produksi mencakup
tentang kegiatan pemanfaatan kawasan, kegiatan pemanfaatan jasa
lingkungan, kegiatan pemanfaatan hasil kayu dan atau bukan kayu, dan
kegiatan pemungutan hasil kayu dan atau bukan kayu;
4. Kegiatan pemanfaatan kawasan peruntukan hutan produksi harus
terlebih dahulu memiliki kajian studi Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan (Amdal) yang diselenggarakan oleh pemrakarsa yang
dilengkapi dengan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) dan
Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL);
5. Cara pengelolaan produksi hutan yang diterapkan harus didasarkan
kepada rencana kerja yang disetujui Dinas Kehutanan dan atau
Departemen Kehutanan, dan pelaksanaannya harus dilaporkan secara
berkala. Rencana kerja tersebut harus memuat juga rencana kegiatan
reboisasi di lokasi hutan yang sudah ditebang;
6. Kegiatan di kawasan peruntukan hutan produksi harus diupayakan
untuk tetap mempertahankan bentuk tebing sungai dan mencegah
sedimentasi ke aliran sungai akibat erosi dan longsor;
7. Kegiatan pemanfaatan kawasan peruntukan hutan produksi harus
diupayakan untuk menyerap sebesar mungkin tenaga kerja yang
berasal dari masyarakat lokal;
8. Kawasan peruntukan hutan produksi dapat dimanfaatkan untuk
kepentingan pembangunan di luar sektor kehutanan seperti
pertambangan, pembangunan jaringan listrik, telepon dan instalasi air,
kepentingan religi, serta kepentingan pertahanan dan keamanan;
9. Kegiatan pemanfaatan kawasan peruntukan hutan produksi wajib
memenuhi kriteria dan indikator pengelolaan hutan secara lestari yang
mencakup aspek ekonomi, sosial, dan ekologi;
10.
Pemanfaatan ruang beserta sumber daya hasil hutan
di kawasan peruntukan hutan produksi harus diperuntukan untuk
sebesar-besarnya bagi kepentingan negara dan kemakmuran rakyat,
dengan tetap memelihara sumber daya tersebut sebagai cadangan
pembangunan yang berkelanjutan dan tetap menjaga kelestarian
fungsi hutan sebagai daerah resapan air hujan serta memperhatikan
kaidah-kaidah pelestarian fungsi lingkungan hidup.

B. Arahan Pengelolaan Kawasan Pertanian


Kegiatan kawasan peruntukan pertanian meliputi pertanian tanaman
pangan dan palawija, perkebunan-tanaman keras, peternakan, perikanan air
tawar, dan perikanan laut.
1. Fungsi utama, Kawasan peruntukan pertanian memiliki fungsi antara
lain:
a)
Menghasilkan bahan pangan, palawija,
tanaman keras, hasil peternakan dan perikanan;
b)
Sebagai daerah resapan air hujan untuk
kawasan sekitarnya;
c)
Membantu penyediaan lapangan kerja bagi
masyarakat setempat.
2. Ketentuan umum pemanfaatan kawasan pertanian antara lain adalah :
a)
Ketentuan
pokok
tentang
perencanaan
dan
penyelenggaraan budidaya tanaman; serta tata ruang dan tata
guna tanah budidaya tanaman mengacu kepada Undang-Undang
Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman;
b)
Ketentuan pokok tentang kegiatan perencanaan
perkebunan; penggunaan tanah untuk usaha perkebunan; serta
pemberdayaan dan pengelolaan usaha perkebunan mengacu
kepada Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004 tentang
Perkebunan;
c)
Pemanfaatan ruang di kawasan peruntukan
pertanian
harus
diperuntukan
untuk
sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat, dengan tetap memelihara sumberdaya
tersebut sebagai cadangan pembangunan yang berkelanjutan dan
tetap memperhatikan kaidah-kaidah pelestarian fungsi lingkungan
hidup;
d)
Ketentuan pokok tentang pemakaian tanah dan air
untuk usaha peternakan; serta penertiban dan keseimbangan
tanah untuk ternak mengacu kepada Undang-Undang Nomor 6
Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Peternakan dan
Kesehatan Hewan;
e)
Ketentuan pokok tentang wilayah pengelolaan
perikanan; pengelolaan perikanan; dan usaha perikanan mengacu
kepada Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan;
f)
Penggunaan lahan untuk kegiatan pertanian
tanaman harus memanfaatkan potensi tanah yang sesuai untuk

RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

peningkatan kegiatan produksi dan wajib memperhatikan aspek


kelestarian fungsi lingkungan hidup dan mencegah kerusakannya;
g)
Kawasan pertanian tanaman lahan basah dengan
irigasi teknis tidak boleh dialihfungsikan ;
h)
Kawasan pertanian tanaman lahan kering tidak
produktif dapat dialihfungsikan dengan syarat-syarat tertentu
yang diatur oleh pemerintah daerah setempat dan atau oleh
Departemen Pertanian;
i)
Wilayah yang menghasilkan produk perkebunan
yang bersifat spesifik lokasi dilindungi kelestariannya dengan
indikasi ruang;
j)
Wilayah yang sudah ditetapkan untuk dilindungi
kelestariannya dengan indikasi geografis dilarang dialihfungsikan;
k)
Kegiatan
pertanian
skala
besar
(termasuk
peternakan dan perikanan), baik yang menggunakan lahan luas
ataupun teknologi intensif harus terlebih dahulu memiliki kajian
studi Amdal;
l)
Penanganan limbah pertanian tanaman (kadar
pupuk dan pestisida yang terlarut dalam air drainase) dan polusi
industri pertanian (udara-bau dan asap, limbah cair) yang
dihasilkan harus disusun dalam RPL dan RKL yang disertakan
dalam dokumen Amdal;
m)
Penanganan limbah peternakan (kotoran ternak,
bangkai ternak, kulit ternak, bulu unggas, dsb) dan polusi (udarabau, limbah cair) yang dihasilkan harus disusun dalam RPL dan
RKL yang disertakan dalam dokumen Amdal;
n)
Penanganan limbah perikanan (ikan busuk, kulit
ikan/udang/kerang) dan polusi (udara-bau) yang dihasilkan harus
disusun dalam RPL dan RKL yang disertakan dalam dokumen
Amdal;
o)
Kegiatan
pertanian
skala
besar
(termasuk
peternakan dan perikanan), harus diupayakan menyerap sebesar
mungkin tenaga kerja setempat;
p)
Pemanfaatan
dan
pengelolaan
lahan
harus
dilakukan berdasarkan kesesuaian lahan;
q)
Upaya pengalihan fungsi lahan dari kawasan
pertanian lahan kering tidak produktif (tingkat kesuburan rendah)
menjadi peruntukan lain harus dilakukan tanpa mengurangi
kesejahteraan masyarakat.

Secara khusus arahan pengelolaan kawasan pertanian di Provinsi


Kalimantan Tengah adalah :
1. Penetapan batas kawasan dalam RTRW Kab/Kota;
2. Pengendalian pola pemanfaatan ruang yang dilakukan meliputi
a) Untuk pola pemanfaatan kawasan yang dinilai tidak merusak
dilakukan dengan tetap mempertahankan intensitas (limitasi)
kegiatan, dengan upaya pelaporan, pamantauan monitoring;
b) Untuk pola pemanfaatan kawasan yang dinilai dapat rusak
dilakukan penutupan aktifitas, pemindahan, rehabilitasi apabila
terjadi kerusakan dan penertiban;
3. Peningkatan koordinasi antar sektor, instansi, masyarakat dan swasta;
4. Ekstensifikisi (kawasan pertanian lahan kering, tahunan dan
peternakan pada bekas kawasan HPK) dan Intensifikasi;
5. Konsolidasi Tanah;
6. Pengembarigan usaha agrobisnis;
7. Penyelesaian masalah kawasan, terutama kawasan yang over lapping
dengan kawasan lindung atau dengan kawasan budidaya lainnya.
C. Arahan Pengelolaan Kawasan Pertambangan
Sesuai dengan ketentuan pasal 4 (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun
1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan, dinyatakan bahwa
kewenangan pemerintah daerah atas bahan galian mencakup atas bahan
galian C yang meliputi penguasaan dan pengaturan usaha pertambangannya.
Untuk bahan galian strategis golongan A dan vital atau golongan B,
pelaksanaannya dilakukan oleh Menteri. Khusus bahan galian golongan B,
pengaturan usaha pertambangannya dapat diserahkan kepada pemerintah
daerah provinsi.
1. Fungsi utama, Kawasan peruntukan pertambangan memiliki fungsi
antara lain:
a) Menghasilkan barang hasil tambang yang meliputi minyak dan gas
bumi; bahan galian pertambangan secara umum, dan bahan
galian C;
b) Mendukung upaya penyediaan lapangan kerja;
c) Sumber pemasukan dana bagi Pemerintah Daerah (dana bagi
hasil) sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun
2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat
dan Pemerintah Daerah.
2. Ketentuan umum arahan pengelolaan kawasan pertambangan adalah
sebagai berikut :

RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

a)

Ketentuan
pokok
tentang
penggolongan
pelaksanaan
penguasaan bahan galian; bentuk dan organisasi perusahaan
pertambangan; usaha pertambangan; kuasa pertambangan; dan
hubungan kuasa pertambangan dengan hak-hak tanah mengacu
kepada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang
Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan;
b) Ketentuan pokok tentang penguasaan dan pengusahaan;
kegiatan usaha hulu; kegiatan usaha hilir; hubungan kegiatan
usaha minyak dan gas bumi dengan hak atas tanah; serta
pembinaan dan pengawasan mengacu kepada Undang-Undang
Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi;
c) Pemanfaatan ruang beserta sumber daya tambang dan galian di
kawasan peruntukan pertambangan harus diperuntukan untuk
sebesar-besarnya
kemakmuran
rakyat,
dengan
tetap
memelihara
sumber
daya
tersebut
sebagai
cadangan
pembangunan yang berkelanjutan dan tetap memperhatikan
kaidah-kaidah pelestarian fungsi lingkungan hidup;
d) Setiap
kegiatan
pertambangan
harus
memberdayakan
masyarakat
di
lingkungan
yang
dipengaruhinya
guna
kepentingan dan kesejahteraan masyarakat setempat;
e) Kegiatan pertambangan ditujukan untuk menyediakan bahan
baku bagi industri dalam negeri dan berbagai keperluan
masyarakat,
serta
meningkatkan
ekspor,
meningkatkan
penerimaan negara dan pendapatan daerah serta memperluas
lapangan pekerjaan dan kesempatan usaha;
f) Kegiatan pertambangan harus terlebih dahulu memiliki kajian
studi Amdal yang dilengkapi dengan RPL dan RKL;
g) Kegiatan pertambangan mulai dari tahap perencanaan, tahap
ekplorasi hingga eksploitasi harus diupayakan sedemikian rupa
agar tidak menimbulkan perselisihan dan atau persengketaan
dengan masyarakat setempat;
h) Rencana kegiatan eksploitasi harus disetujui oleh dinas
pertambangan setempat dan atau oleh Departemen Energi dan
Sumber Daya Mineral, dan pelaksanaannya dilaporkan secara
berkala;
i) Pada lokasi kawasan pertambangan fasilitas fisik yang harus
tersedia meliputi jaringan listrik, jaringan jalan raya, tempat
pembuangan sampah, drainase, dan saluran air kotor.
Secara khusus arahan pengelolaan kawasan pertambangan di Provinsi
Kalimantan Tengah adalah :

1.
2.

3.

4.
5.
6.

7.

8.

Penetapan batas kawasan dalam RTRW Kab/Kota;


Pengendalian pola pemanfaatan ruang yang dilakukan meliputi :
a) Untuk pola pemanfaatan kawasan yang dinilai tidak merusak
dilakukan dengan tetap mempertahankan intensitas (limitasi)
kegiatan, dengan upaya pelaporan, pamantauan, monitoring
b) Untuk pola pemanfaatan kawasan yang dinilai dapat rusak dilakukan
penutupan aktifitas, pemindahan, rehabilitasi apabila terjadi
kerusakan dan penertiban;
Optimalisasi koordinasi antar sektor dan instansi, terutama pada
kawasan pertambangan yang berada di dalam kawasan lindung, atau
kawasan budidaya selain dikawasan pertambangan;
Pengembangan partisipasi aktif masyarakat sekitar kawasan;
Penetapan aspek hukum kawasan, guna mengamankan asetaset daerah yang putpnsial;
Pemanfaatan potensi bahan tambang yang penting bagi
pembangunan daerah dan masyarakat yang terdapat di kawasan
lindung, sebaiknya diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk
mempermudah penelitian (survey) sesuai peraturan yang berlaku;
Untuk
kepentingan
taraf
hidup
masyarakat
perlu
dipertimbangkan manfaat ekonorrii yang lebih tinggi dari setiap
kawasan;
Reklamasi kawasan pertambangan secara bertahap seiring
dengan kegiatan penambangan bahan tambang sampai akhir masa
konsesi ditambah waktu reklamasi.

D. Arahan Pengelolaan Kawasan Permukiman


Fungsi utama,Kawasan peruntukan permukiman
memiliki fungsi antara lain:
a)
Sebagai lingkungan tempat tinggal dan tempat kegiatan
yang mendukung peri-kehidupan dan penghidupan masyarakat
sekaligus menciptakan interaksi sosial;
b)
Sebagai kumpulan tempat hunian dan tempat berteduh
keluarga serta sarana bagi pembinaan keluarga.
2.
Ketentuan Umum Pengelolaan Kawasan Permukiman
adalah sebagai berikut :
a)
Ketentuan
pokok
tentang
perumahan,
permukiman, peran masyarakat dan pembinaan perumahan dan
permukiman nasional mengacu kepada Undang-Undang Nomor 4
Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman dan Surat
Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor
1.

RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

b)

c)

d)

e)
f)
g)

h)

i)
j)

k)
l)

217/KPTS/M/2002 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional


Perumahan dan Permukiman (KSNPP);
Pemanfaatan ruang untuk kawasan peruntukan
permukiman harus sesuai dengan daya dukung tanah setempat
dan harus dapat menyediakan lingkungan yang sehat dan aman
dari bencana alam serta dapat memberikan lingkungan hidup yang
sesuai
bagi
pengembangan
masyarakat,
dengan
tetap
memperhatikan kelestarian fungsi lingkungan hidup;
Kawasan
peruntukan
permukiman
harus
memiliki prasarana jalan dan terjangkau oleh sarana tranportasi
umum;
Pemanfaatan
dan
pengelolaan
kawasan
peruntukan permukiman harus didukung oleh ketersediaan fasilitas
fisik atau utilitas umum (pasar, pusat perdagangan dan jasa,
perkantoran, sarana air bersih, persampahan, penanganan limbah
dan drainase) dan fasilitas sosial (kesehatan, pendidikan, agama);
Tidak mengganggu fungsi lindung yang ada;
Tidak
mengganggu
upaya
pelestarian
kemampuan sumber daya alam;
Dalam hal kawasan siap bangun (kasiba) dan
lingkungan siap bangun (lisiba), penetapan lokasi dan penyediaan
tanah; penyelenggaraan pengelolaan; dan pembinaannya diatur di
dalam Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 1999 tentang
Kawasan Siap Bangun dan Lingkungan Siap Bangun yang Berdiri
Sendiri.
Perluasan lahan permukiman memperhatikan
daya dukung dan daya tampung lingkunyan, kelestarian lingkungan
serta potensi bencana alam;
Pengembangan kawasan melibatkan partisipasi
aktif mayarakat dan pihak swasta;
Perijinan kawasan perrnukiman diperketat,
terutama pengembangan kawasan yang dii)erkirakan dapat
merusak kelestarian lingkungan;
Penyelesaian tumpang tindih (overlapping)
kawasan;
Pengembangan
kawasan
permukiman
di
perkotaan dilakukan penyusunan rencana tata ruang dan tidak
diarahkan pada kawasan pertanian yang dialiri prasarana
pangairan/irigasi;

m)

n)
o)

Pengembangan
kawasan
permukiman
di
pedesaan di arahkan pada kawasan yang sesuai dan tidak
diarahkan pada kawasan pertanian yang dialiri prasarana
pengairan/irigasi.
Kondisi tanah;
Relokasi
kawasan
permukiman
yang
memanfaatkan kawasan lindung atau yang rnemanfaatkan kawasan
yang tidak sesuai.

E. Arahan Pengelolaan Kawasan Peruntukan Industri


Sebagian atau seluruh bagian kawasan peruntukan industri dapat
dikelola oleh satu pengelola tertentu. Dalam hal ini, kawasan yang dikelola
oleh satu pengelola tertentu tersebut disebut kawasan industri.
1. Fungsi utama, kawasan peruntukan industri memiliki fungsi antara lain:
a) Memfasilitasi kegiatan industri agar tercipta aglomerasi kegiatan
produksi di satu lokasi dengan biaya investasi prasarana yang
efisien;
b) Mendukung upaya penyediaan lapangan kerja;
c) Meningkatkan nilai tambah komoditas yang pada gilirannya
meningkatkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di wilayah
yang bersangkutan;
d) Mempermudah koordinasi pengendalian dampak lingkungan yang
mungkin ditimbulkan.
2. Ketentuan Umum Pengelolaan Kawasan Industri :
a) Ketentuan
pokok
tentang
pengaturan,
pembinaan
dan
pengembangan industri; serta izin usaha industri mengacu kepada
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian;
b) Pemanfaatan kawasan peruntukan industri harus sebesar-besarnya
diperuntukan bagi upaya mensejahterakan masyarakat melalui
peningkatan nilai tambah dan peningkatan pendapatan yang
tercipta akibat efisiensi biaya investasi dan proses aglomerasi,
dengan tetap mempertahankan kelestarian fungsi lingkungan hidup;
c) Jenis industri yang dikembangkan harus mampu menciptakan
lapangan kerja dan dapat meningkatkan kualitas sumber daya
masyarakat setempat. Untuk itu jenis industri yang dikembangkan
harus memiliki hubungan keterkaitan yang kuat dengan
karakteristik lokasi setempat, seperti kemudahan akses ke bahan
baku dan atau kemudahan akses ke pasar;

RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

d) Kawasan peruntukan industri harus memiliki kajian Amdal, sehingga


dapat ditetapkan kriteria jenis industri yang diijinkan beroperasi di
kawasan tersebut;
e) Untuk mempercepat pengembangan kawasan peruntukan, di dalam
kawasan peruntukan industri dapat dibentuk suatu perusahaan
kawasan industri yang mengelola kawasan industri;
f) Ketentuan tentang kawasan industri diatur tersendiri melalui
Keputusan Presiden Nomor 41 Tahun 1996 tentang Kawasan Industri
dan Surat Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor
50/M/SK/1997 tentang Standar Teknis Kawasan Industri yang
mengatur beberapa aspek substansi serta hak dan kewajiban
Perusahaan Kawasan Industri, Perusahaan Pengelola Kawasan
Industri dan Perusahaan Industri dalam pengelolaan Kawasan
Industri;
g) Khusus untuk kawasan industri, pihak pengelola wajib menyiapkan
kajian studi Amdal sehingga pihak industri cukup menyiapkan RPL
dan RKL.
Secara khusus arahan pengelolaan kawasan industri di Provinsi
Kalimantan Tengah adalah :
1.
Penetapan batas kawasan dalam RTRW Kab/Kota;
2.
Pengendalian pola pemanfaatan ruang yang dilakukan meliputi
a) Untuk pola pemanfaatan kawasan yang dinilai tidak merusak
dilakukan dengan tetap mempertahankan intensitas (limitasi)
kegiatan, dengan upaya pelaporan, pamantauan.monitoring;
b) Untuk pola pemanfaatan kawasan yang dinilai dapat rusak dilakukan
penutupan aktifitas, pemindahan, rehabilitasi apabila tejadi
kerusakan dan penertiban;
3.
Optimalisasi koordinasi antar sektor dan instansi, terutama pada
kawasan pertambangan yang berada di dalam kawasan lindung, atau
kawasan budidaya selain dikawasan pertambangan;
4.
Pengembangan investasi dan kemudahan administrasi terutama
penerapan intensif dan disintensif.
F.

Arahan Pengelolaan Kawasan Pariwisata

Jenis obyek wisata yang diusahakan dan dikembangkan di kawasan


peruntukan pariwisata dapat berupa wisata alam ataupun wisata sejarah dan
konservasi budaya.
1. Fungsi utama, kawasan peruntukan pariwisata memiliki fungsi antara
lain:

a) Memperkenalkan, mendayagunakan dan melestarikan nilai-nilai


sejarah/budaya lokal dan keindahan alam;
b) Mendukung upaya penyediaan lapangan kerja yang pada gilirannya
dapat meningkatkan pendapatan masyarakat di wilayah yang
bersangkutan.
2. Ketentuan Umum Pengelolaan Kawasan Pariwisata
a) Ketentuan
pokok
tentang
pengaturan,
pembinaan
dan
pengembangan kegiatan kepariwisataan mengacu kepada UndangUndang Nomor 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan;
b) Kegiatan kepariwisataan diarahkan untuk memanfaatkan potensi
keindahan alam, budaya dan sejarah di kawasan peruntukan
pariwisata guna mendorong perkembangan pariwisata dengan
memperhatikan kelestarian nilai-nilai budaya, adat istiadat, mutu
dan keindahan lingkungan alam serta kelestarian fungsi lingkungan
hidup;
c) Kegiatan kepariwisataan yang dikembangkan harus memiliki
hubungan fungsional dengan kawasan industri kecil dan industri
rumah tangga serta membangkitkan kegiatan sektor jasa
masyarakat;
d) Pemanfaatan lingkungan dan bangunan cagar budaya untuk
kepentingan pariwisata, sosial, pendidikan, ilmu pengetahuan,
kebudayan dan agama harus memperhatikan kelestarian
lingkungan dan bangunan cagar budaya tersebut. Pemanfaatan
tersebut harus memiliki izin dari Pemerintah Daerah dan atau
Kementerian yang menangani bidang kebudayaan;
e) Pengusahaan situs benda cagar budaya sebagai obyek wisata
diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dana bagi
pemeliharaan dan upaya pelestarian benda cagar budaya yang
bersangkutan;
f) Ketentuan tentang penguasaan, pemilikan, pengelolaan dan
pemanfaatan bendabenda cagar budaya diatur dalam UndangUndang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya dan
Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1993 tentang Pelaksanaan
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya;
g) Pemanfaatan ruang di kawasan peruntukan pariwisata harus
diperuntukan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, dengan
tetap memelihara sumber daya tersebut sebagai cadangan
pembangunan yang berkelanjutan dan tetap memperhatikan
kaidah-kaidah pelestarian fungsi lingkungan hidup;
RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

10

h) Pada kawasan peruntukan pariwisata, fasilitas fisik yang harus


tersedia meliputi jaringan listrik, telepon, jaringan jalan raya,
tempat pembuangan sampah, drainase, dan saluran air kotor;
i) Harus memberikan dampak perkembangan terhadap pusat produksi
seperti kawasan pertanian, perikanan, dan perkebunan;
j) Harus bebas polusi;
k) Pengelolaan dan perawatan benda cagar budaya dan situs adalah
tanggung jawab pemerintah/pemerintah daerah;
l) Setiap orang dilarang mengubah bentuk dan atau warna,
mengambil atau memindahkan benda cagar budaya dari lokasi
keberadaannya.
m) Penerapan batas kawasan/objek wisata perlu ditindaklanjuti dalam
RTRW Kab/Kota atau kawasan wisata;
n) Pengendalian aktifitas wisata yang merusak; melalui upaya
monitoring/pengawasari, pelaporan dan pengenaan sanksi;
o) Peningkatan pengelolaan kawasan wisata;
p) Peningkatan rehabilitasi kawasan yang telah mengalami kerusakan;
q) Peningkatan konservasi kawasan sehingga pemanfaatan potensi
berkelanjutan;
r) Kegiatan pariwisata yang akan dilakukan dan sedang dilaksanakan
sebelurnnya telah memenuhi syarat AMDAL;
s) Pengembangan partisipasi aktif masyarakat sekitar kawasan;
t) Pemanfaatan potensi wisata yang penting bagi pembangunan
daerah dan masyarakat serta terdapat di kawasan lindung, dalam
pemanfaatannya dilakukan pengawasan/monitoring, pelaporan,
penertiban,, pengamanan aset dan pengenaan sanksi apabila
terjadi pelanggaran;
u) Pemeliharaan kawasan wisata bagi kawasan pariwisata yang sudah
dibangun;
v) Promosi pariwisata melalui media cetak maupun elektronik;
w) Optimalisasi koordinasi antar sektor dalam pengembangan
pariwisata.
G. Arahan Pengelolaan Kawasan Pesisir, Pantai dan Laut
Arahan pengelolaan Kawasan Pesisir, Pantai dan Laut adalah sebagai
berikut :
Pemanfaatan sumber daya hayati laut dan pesisir yang optimal serta
mendukung pemanfaatan sumber daya non hayati pesisir dan laut yang
efisien agar mendapat keuntungan yang optimal bagi seluruh stake holders.

1.
2.

3.
4.

5.

6.

7.

Melestarikan keanekaragaman hayati


pesisir dan laut p;3da tingkat genetik,spesies dan ekosistem.
Peningkatan
kemampuan
secara
tehnologi dan lingkungan dalam pemanfaatan, sumber daya pesisir dan
laut, khususnya yang berhubungan dengan penangkapan dan budidaya
perikanan, rehabilitasi lingkungan pesisir yang kritis, bio-teknologi, serta
eksplorasi mineral laut.
Pengernbangan pariwisata yang tidak
membahayakan lingkungan termasuk ecotouirism;
Pengernbangan tehnologi yang tidak
membahayakan lingkungan dalam pemanfaatan energi baru dan sumber
daya non hayati (energi air pasang, ombak dan angin);
Pengernbangan wilayah laut dan pesisir
untuk kegiatan budidaya dilakukan dengan pemanfaatan tehnologi yang
sesuai dengan tetap berprinsip pada kelestarian lingkungan dan
peningkatan nilai ekonomi masyarakat. Pemanfaatannya diarahkan pada
optimalisasi sumberdaya laut dan pesisir yang selama ini belum
termanfaatkan, seperti perikanan dan bahan tambang
Pengernbangan wilayah laut dan pesisir
yang termasuk kawasan lindung seperti kawasan kep.Togean dan
kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya di manfaatkan untuk
kegiatan yang bersifat komersial seperti pariwisata dengari tetap
memperhatikan konsep kelestarian lingkungan.
Zonasi;
kawasan
preservasi
dan
konsevasi ditetapkan berdasarkan kondisi wilayah dan didasari oleh
kesepakatan bersama seluruh stakeholders.

7.3 INDIKASI PROGRAM PENGEMBANGAN


Tabel A.1

NO

Indikasi Program Pengembangan Pelaksanaan Penataan Ruang Provini


Kalimantan Tengah Tahun 2010 2030 (Perwujudan Struktur Ruang Provinsi)

USULAN PROGRAM UTAMA

SUMBER
PENDANAAN

WAKTU PELAKSANAAN
2011 2013 2018 2023 2028
2012 2017 2022 2027 2030

PERWUJUDAN STRUKTUR RUANG PROVINSI


A
Percepatan Pengembangan
APBN, APBD,
Kota-Kota Utama Kawasan
Investasi
Perbatasan
Swasta,
dan/atau
1. Pengembangan/Peningkatan
kerjasama
fungsi
pendanaan
2. Pengembangan baru
3. Revitalisasi kota-kota yang
RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

11

NO

USULAN PROGRAM UTAMA


telah berfungsi
Mendorong Pengembangan
Kota-Kota Sentra Produksi yang
Berbasis Otonomi Daerah

Revitalisasi dan Percepatan


Pengembangan Kota-Kota
Pusat Pertumbuhan
1. Pengembangan/Peningkatan
fungsi
2. Pengembangan baru
3. Revitalisasi kota-kota yang
telah berfungsi
Pengendalian Kota-kota
Berbasis Mitigasi Bencana
1. Rehabilitasi kota akibat
bencana alam
2. Pengendalian
perkembangan kota-kota
berbasis Mitigasi Bencana

Tabel A.2

NO
E
E.1
.

SUMBER
PENDANAAN

WAKTU PELAKSANAAN
2011 2013 2018 2023 2028
2012 2017 2022 2027 2030

APBN, APBD,
Investasi
Swasta,
dan/atau
kerjasama
pendanaan

NO

E.2
.

APBN, APBD,
Investasi
Swasta,
dan/atau
kerjasama
pendanaan
APBN, APBD,
Investasi
Swasta,
dan/atau
kerjasama
pendanaan

E.3
.

Indikasi Program Pengembangan Pelaksanaan Penataan Ruang Provini


Kalimantan Tengah Tahun 2010 2030 (Perwujudan Infrastruktur)

USULAN PROGRAM UTAMA

SUMBER
PENDANAAN

Perwujudan Sistem Transportasi


Perwujudan Sistem Jaringan
Jalan Jaringan Jalan Arteri
Primer
APBN, APBD,
1. Pembuatan Jalan Pintas
Investasi
Palangkaraya-Sampit
Swasta,
(Rencana rute dari
dan/atau
Palangkaraya Baamang
kerjasama
Sampit)
pendanaan
2. Perwujudan JLK Poros
Tengah trase ringkas agar
fungsi lintas maksimal
3. Revitalisasi JLK Poros
Selatan dengan revisi trase
ruas/subruas
4. Perwujudan dan atau
revitalisasi jalan

WAKTU PELAKSANAAN
2011 2013 2018 2023 2028
2012 2017 2022 2027 2030

E.4
.
I

II

USULAN PROGRAM UTAMA

SUMBER
PENDANAAN

WAKTU PELAKSANAAN
2011 2013 2018 2023 2028
2012 2017 2022 2027 2030

penghubung utama antara


JLK Poros Selatan
5. Revitalisasi ruas
Palangkaraya (km 10) Buntok (Jembatan Kalahiem)
dengan revisi trase
Perwujudan Sistem Transportasi Laut dan Penyeberangan
1. Pemantapan Pelabuhan
APBN, APBD,
Penyeberangan
Investasi
Swasta,
2. Pengembangan Pelabuhan
dan/atau
Penyeberangan
kerjasama
3. Pemantapan Pelabuhan
pendanaan
InterProvinsi
4. Pengembangan Pelabuhan
InterProvinsi
5. Pemantapan Pelabuhan
Provinsi
6. Pengembangan Pelabuhan
Provinsi
Perwujudan Bandar Udara Pusat Penyebaran
1. Pemantapan Bandara Udara
APBN, APBD,
Pusat Penyebaran Skala
Investasi
Pelayanan Primer
Swasta,
dan/atau
2. Pengembangan Bandara
kerjasama
Udara Pusat Penyebaran
pendanaan
Skala Pelayanan Primer
3. Pemantapan Bandara Udara
Pusat Penyebaran Skala
Pelayanan Sekunder
4. Pengembangan Bandara
Udara Pusat Penyebaran
Skala Pelayanan Sekunder
5. Pemantapan Bandara Udara
Pusat Penyebaran Skala
Pelayanan Tersier
6. Pengembangan Bandara
Udara Pusat Penyebaran
Skala Pelayanan Tersier
Perwujudan Sistem Jaringan Prasarana Lainnya
Perwujudan Sistem Jaringan SD
Air (SDA)
1. Konservasi SDA,
APBN, APBD,
Pendayagunaan SDA, dan
Investasi
Pengendalian Daya Rusak
Swasta,
Air
dan/atau
kerjasama
pendanaan
Perwujudan Sistem Jaringan
RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

12

NO

III

USULAN PROGRAM UTAMA


Energi
1. PLTU-Batubara & Gardu
Induk, (Sampit,
Pangkalanbun, Buntok,
Muarateweh, & Purukcahu)
2. PLTU-Batubara di Pulang
Pisau, Tamiang Layang,
Gunung Mas, dan Katingan
3. PLTA-JoTuLate, dirancang
sebagai satu sistem
mengintegrasikan Joloi
(600mw) dan Tuhup
(500mw) di Kababupaten
Murungraya serta Lahei
(75mw) dan Teweh (50mw)
di Kabupaten Barito Utara.
4. Pembangunan PLTA di
Kabupaten Katingan,
Murung Raya, Barito Utara,
Lamandau.
5. Rencana pembangunan
PLTU-gas Bangkanai di
Kabupaten Barito Utara
6. Pembangunan Pembangkit
Listrik Tenaga Gas Uap
(PLTGU) di Barito Utara
7. Pembangunan Pembangkit
Listrik Tenaga Minihidro
(PLTM) dan Mikrohidro
(PLTMH) di Kabupaten
Murung Raya, Katingan,
Gunung Mas dan Lamandau
8. Pembangunan Pembangkit
Listrik Bayu/Angin (PLTB) di
Kabupaten Sukamara,
Seruyan, Kotawaringin
Barat, Kotawaringin Timur,
Katingan dan Pulang Pisau.
Sistem Jaringan Telekomunikasi
1. Rehabilitasi Jaringan
Terestrial
2. Pengembangan Jaringan
Terestrial
3. Jaringan Pelayanan Feeder
Antar Kabupaten

SUMBER
PENDANAAN

WAKTU PELAKSANAAN
2011 2013 2018 2023 2028
2012 2017 2022 2027 2030

Tabel A.3

NO
A
I

II

III

IV
APBN, APBD,
Investasi
Swasta,
dan/atau
kerjasama
pendanaan
APBN, APBD,
Investasi
Swasta,
dan/atau
kerjasama
pendanaan

B
I

Indikasi Program Pengembangan Pelaksanaan Penataan Ruang Provini


Kalimantan Tengah Tahun 2010 2030 (Perwujudan Pola Ruang)

USULAN PROGRAM UTAMA

SUMBER
PENDANAAN

WAKTU PELAKSANAAN
2011 2013 2018 2023 2028
2012 2017 2022 2027 2030

Perwujudan Kawasan Lindung


Rehabilitasi dan Pemantapan
Fungsi Kawasan Lindung
Provinsi
APBN, APBD,
1. Suaka Alam Laut
Investasi
2. Suaka Margasatwa
Swasta,
3. Cagar Alam
dan/atau
4. Taman Nasional
kerjasama
5. Taman Hutan Raya
pendanaan
6. Taman Wisata Alam
Pengembangan Pengelolaan
Kawasan Konservasi Provinsi
1. Suaka Alam Laut
APBN, APBD,
2. Suaka Margasatwa
Investasi
3. Cagar Alam
Swasta,
dan/atau
4. Taman Nasional
kerjasama
5. Taman Hutan Raya
pendanaan
6. Taman Wisata Alam
Rehabilitasi dan Pemantapan
Fungsi Kawasan Lindung
(Kawasan Resapan Air)

APBN, APBD,
Investasi
Swasta,
dan/atau
kerjasama
pendanaan
Pengembangan Pengelolaan
APBN, APBD,
Kawasan Lindung
Investasi
Swasta,
dan/atau
kerjasama
pendanaan
Rehabilitasi dan Pemantapan
APBN, APBD,
Fungsi Kawasan Taman Naional
Investasi
Swasta,
dan/atau
kerjasama
pendanaan
Perwujudan Pengembangan Kawasan Budi Daya
Pengembangan dan
Pengendalian Kawasan Andalan
untuk Sektor Pertanian:
1. Pengendalian Kawasan
APBN, APBD,
Andalan untuk Pertanian
Investasi
Pangan Abadi
Swasta,dan/at
au kerjasama
pendanaan
2. Rehabilitasi dan
APBN, APBD,
RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

13

NO

USULAN PROGRAM UTAMA


Pengembangan Kawasan
Andalan untuk Sektor
Perkebunan:
3. Rehabilitasi Kawasan
Andalan untuk Perkebunan
4. Pengembangan Kawasan
Andalan untuk Perkebunan

III

IV

VI

Rehabilitasi dan
Pengembangan Kawasan
Andalan untuk Sektor
Pertambangan:
1. Rehabilitasi Kawasan
Andalan untuk
Pertambangan
2. Pengembangan Kawasan
Andalan untuk
Pertambangan
1. Rehabilitasi dan
Pengembangan Kawasan
Andalan untuk Sektor
Industri Pengolahan:
2. Rehabilitasi Kawasan
Andalan untuk industri
pengolahan
3. Pengembangan Kawasan
Andalan untuk industri
pengolahan
1. Rehabilitasi dan
Pengembangan Kawasan
Andalan untuk Sektor
Pariwisata:
2. Rehabilitasi Kawasan
Andalan untuk Pariwisata
3. Pengembangan Kawasan
Andalan untuk Pariwisata

VII

1. Rehabilitasi dan
Pengembangan Kawasan
Andalan untuk Sektor

SUMBER
PENDANAAN
Investasi
Swasta,
dan/atau
kerjasama
pendanaan
APBN, APBD,
Investasi
Swasta,
dan/atau
kerjasama
pendanaan
APBN, APBD,
Investasi
Swasta,
dan/atau
kerjasama
pendanaan

WAKTU PELAKSANAAN
2011 2013 2018 2023 2028
2012 2017 2022 2027 2030

NO

Perikanan:
2. Rehabilitasi Kawasan
Andalan untuk Perikanan
3. Pengembangan Kawasan
Andalan untuk Perikanan

VIII

1. Rehabilitasi dan
Pengembangan Kawasan
Andalan untuk Sektor
Kelautan:
2. Rehabilitasi Kawasan
Andalan untuk Kelautan
3. Pengembangan Kawasan
Andalan untuk Kelautan

CI
APBN, APBD,
Investasi
Swasta,
dan/atau
kerjasama
pendanaan
APBN, APBD,
Investasi
Swasta,
dan/atau
kerjasama
pendanaan
APBN, APBD,
Investasi
Swasta,
dan/atau
kerjasama
pendanaan
APBN, APBD,
Investasi
Swasta,
dan/atau
kerjasama
pendanaan
APBN, APBD,
Investasi
Swasta,

USULAN PROGRAM UTAMA

1. Rehabilitasi dan
Pengembangan Kawasan
Andalan untuk Sektor
Kehutanan:
2. Rehabilitasi Kawasan
Andalan untuk Kehutanan
3. Pengembangan Kawasan
Andalan Kehutanan

SUMBER
PENDANAAN

WAKTU PELAKSANAAN
2011 2013 2018 2023 2028
2012 2017 2022 2027 2030

dan/atau
kerjasama
pendanaan
APBN, APBD,
Investasi
Swasta,
dan/atau
kerjasama
pendanaan
APBN, APBD,
Investasi
Swasta,
dan/atau
kerjasama
pendanaan
APBN, APBD,
Investasi
Swasta,
dan/atau
kerjasama
pendanaan
APBN, APBD,
Investasi
Swasta,
dan/atau
kerjasama
pendanaan
APBN, APBD,
Investasi
Swasta,
dan/atau
kerjasama
pendanaan

BAB | 7 | ARAHAN PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN RUANG..............71


7.1 ARAHAN PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG...................
7.1.1 Arahan Kawasan yang Memberikan Perlindungan
Kawasan Bawahannya...................................................
7.1.2 Arahan Pengelolaan Kawasan Perlindungan
Setempat........................................................................
7.1.3 Arahan Pengelolaan Kawasan Suaka Alam...................
7.1.4 Arahan Pengelolaan Kawasan Pelestarian Alam...........
7.1.5 Arahan Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Budaya
........................................................................................
7.1.6 Arahan Pengelolaan Kawasan Rawan Bencana
Alam................................................................................
7.2 ARAHAN PENGELOLAAN KAWASAN BUDIDAYA.................
RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

14

7.2.1
7.2.2

7.3

Penetapan Kawasan Budidaya......................................


Pemanfaatan Kawasan Budidaya..................................
A. Kawasan Hutan Produksi........................................
B. Kawasan Pertanian.................................................
C. Kawasan Pertambangan.........................................
D. Kawasan Peruntukan Industri.................................
E. Kawasan Pariwisata................................................
F. Kawasan Permukiman............................................
G. Kawasan Pesisir, Pantai dan Laut...........................
7.2.3 Arahan Pengelolaan Kawasan Budidaya.......................
A. Arahan Pengelolaan Kawasan Hutan Produksi
.................................................................................
B. Arahan Pengelolaan Kawasan Pertanian...............
C. Arahan Pengelolaan Kawasan Pertambangan.........
6
D. Arahan Pengelolaan Kawasan Permukiman..........
E. Arahan Pengelolaan Kawasan Peruntukan
Industri.....................................................................
F. Arahan Pengelolaan Kawasan Pariwisata..............
G. Arahan Pengelolaan Kawasan Pesisir, Pantai
dan Laut...................................................................
INDIKASI PROGRAM PENGEMBANGAN..............................

Tabel 7.1

Luas Potensi Pengembangan Lahan Pertambangan.......................

Tabel 7.2

Indikasi Program Pengembangan Pelaksanaan Penataan


Ruang Provini Kalimantan Tengah Tahun 2010 2030
(Perwujudan Struktur Ruang Provinsi)............................................

Tabel 7.3

Indikasi Program Pengembangan Pelaksanaan Penataan


Ruang Provini Kalimantan Tengah Tahun 2010 2030
(Perwujudan Infrastruktur)................................................................

Tabel 7.4

Indikasi Program Pengembangan Pelaksanaan Penataan


Ruang Provini Kalimantan Tengah Tahun 2010 2030
(Perwujudan Pola Ruang)..................................................................

RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

15