Anda di halaman 1dari 19

BAB | 8 |

ARAHAN
PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG
8.1 KEWENANGAN PEMERINTAH DALAM PENATAAN RUANG
8.1.1

Kewenangan Pemerintah Pusat

Dalam Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang


disebutkan bahwa kewenangan pemerintah dalam penyelenggaraan penataan
ruang meliputi :
1. Pengaturan, pembinaan, dan pengawasan terhadap pelaksanaan
penataan ruang wilayah nasional, provinsi, dan kabupaten/kota, serta
terhadap pelaksanaan penataan ruang kawasan strategis nasional,
provinsi, dan kabupaten/kota;
2. Pelaksanaan penataan ruang wilayah nasional;
3. Pelaksanaan penataan ruang kawasan strategis nasional; dan
4. Kerja sama penataan ruang antarnegara dan pemfasilitasan kerja sama
penataan ruang antarprovinsi.
Wewenang Pemerintah dalam pelaksanaan penataan ruang nasional
meliputi:
1. Perencanaan tata ruang wilayah nasional;
2. Pemanfaatan ruang wilayah nasional; dan
3. Pengendalian pemanfaatan ruang wilayah nasional.
Wewenang Pemerintah dalam pelaksanaan penataan ruang kawasan
strategis nasional meliputi:
1. Penetapan kawasan strategis nasional;
2. Perencanaan tata ruang kawasan strategis nasional;
3. Pemanfaatan ruang kawasan strategis nasional; dan
4. Pengendalian pemanfaatan ruang kawasan strategis nasional.
Pelaksanaan pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang
kawasan strategis nasional dapat dilaksanakan pemerintah daerah melalui
dekonsentrasi dan/atau tugas pembantuan. Dalam rangka penyelenggaraan

penataan ruang, Pemerintah berwenang menyusun dan menetapkan pedoman


bidang penataan ruang. Dalam pelaksanaan wewenang tersebut, Pemerintah:
1. Menyebarluaskan informasi yang berkaitan dengan:
a) Rencana umum dan rencana rinci tata ruang dalam rangka
pelaksanaan penataan ruang wilayah nasional;
b) Arahan peraturan zonasi untuk sistem nasional yang disusun dalam
rangka pengendalian pemanfaatan ruang wilayah nasional; dan
c) Pedoman bidang penataan ruang;
2. Menetapkan standar pelayanan minimal bidang penataan ruang.
Kewenangan Pemerintah dalam pemanfaatan ruang dan pengendalian
pemanfaatan ruang kawasan strategis nasional mencakup aspek yang terkait
dengan nilai strategis yang menjadi dasar penetapan kawasan strategis.
Pemerintah daerah provinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota tetap
memiliki kewenangan dalam penyelenggaraan aspek yang tidak terkait
dengan nilai strategis yang menjadi dasar penetapan kawasan strategis.
Sesuai
dengan
ketentuan
peraturan
perundang-undangan,
dekonsentrasi diberikan kepada Gubernur sebagai wakil Pemerintah di daerah,
sedangkan tugas pembantuan dapat diberikan kepada Gubernur dan
Bupati/Walikota.

8.1.2

Kewenangan Pemerintah Provinsi

Wewenang pemerintah daerah provinsi dalam penyelenggaraan


penataan ruang meliputi :
1. Pengaturan, pembinaan, dan pengawasan terhadap pelaksanaan
penataan ruang wilayah provinsi, dan kabupaten/kota, serta terhadap
pelaksanaan penataan ruang kawasan strategis provinsi dan
kabupaten/kota;
2. Pelaksanaan penataan ruang wilayah provinsi;
3. Pelaksanaan penataan ruang kawasan strategis provinsi; dan
4. Kerja sama penataan ruang antarprovinsi dan pemfasilitasan kerja sama
penataan ruang antarkabupaten/kota.
Wewenang pemerintah daerah provinsi dalam pelaksanaan penataan
ruang wilayah provinsi meliputi :
1. Perencanaan tata ruang wilayah provinsi;
2. Pemanfaatan ruang wilayah provinsi; dan
3. Pengendalian pemanfaatan ruang wilayah provinsi.
Dalam penataan ruang kawasan strategis provinsi pemerintah daerah
provinsi melaksanakan:
1. Penetapan kawasan strategis provinsi;
2. Perencanaan tata ruang kawasan strategis provinsi;
RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

3. Pemanfaatan ruang kawasan strategis provinsi; dan


4. Pengendalian pemanfaatan ruang kawasan strategis provinsi.
Pelaksanaan pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang
kawasan strategis provinsi tersebut dapat dilaksanakan pemerintah daerah
kabupaten/kota melalui tugas pembantuan. Dalam rangka penyelenggaraan
penataan ruang wilayah provinsi, pemerintah daerah provinsi dapat menyusun
petunjuk pelaksanaan bidang penataan ruang pada tingkat provinsi dan
kabupaten/kota.
Dalam pelaksanaan wewenang tersebut, pemerintah daerah provinsi:
1. Menyebarluaskan informasi yang berkaitan dengan:
a) Rencana umum dan rencana rinci tata ruang dalam rangka
pelaksanaan penataan ruang wilayah provinsi;
b) Arahan peraturan zonasi untuk sistem provinsi yang disusun dalam
rangka pengendalian pemanfaatan ruang wilayah provinsi; dan
c) Petunjuk pelaksanaan bidang penataan ruang;
2. Melaksanakan standar pelayanan minimal bidang penataan ruang.
Kewenangan pemerintah daerah provinsi dalam pemanfaatan ruang dan
pengendalian pemanfaatan ruang kawasan strategis provinsi mencakup aspek
yang terkait dengan nilai strategis yang menjadi dasar penetapan kawasan
strategis. Pemerintah daerah kabupaten/kota tetap memiliki kewenangan
dalam penyelenggaraan aspek yang tidak terkait dengan nilai strategis yang
menjadi dasar penetapan kawasan strategis.

8.1.3

Kewenangan Pemerintah Kabupaten/Kota

Wewenang pemerintah daerah kabupaten/kota dalam penyelenggaraan


penataan ruang meliputi:
1. Pengaturan, pembinaan, dan pengawasan terhadap pelaksanaan
penataan ruang wilayah kabupaten/kota dan kawasan strategis
kabupaten/kota;
2. Pelaksanaan penataan ruang wilayah kabupaten/kota;
3. Pelaksanaan penataan ruang kawasan strategis kabupaten/kota; dan
4. Kerja sama penataan ruang antarkabupaten/ kota.
Wewenang pemerintah daerah kabupaten/kota dalam pelaksanaan
penataan ruang wilayah kabupaten/kota meliputi:
1. Perencanaan tata ruang wilayah kabupaten/kota;
2. Pemanfaatan ruang wilayah kabupaten/kota; dan
3. Pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten/kota.
Dalam pelaksanaan penataan ruang kawasan strategis kabupaten/kota,
pemerintah daerah kabupaten/kota melaksanakan :
1. Penetapan kawasan strategis kabupaten/kota;

2. Perencanaan tata ruang kawasan strategis kabupaten/kota;


3. Pemanfaatan ruang kawasan strategis kabupaten/kota; dan
4. Pengendalian pemanfaatan ruang kawasan strategis kabupaten/kota.
Dalam melaksanakan kewenangan tersebut, pemerintah daerah
kabupaten/kota mengacu pada pedoman bidang penataan ruang dan petunjuk
pelaksanaannya serta dengan :
1. Menyebarluaskan informasi yang berkaitan dengan rencana umum dan
rencana rinci tata ruang dalam rangka pelaksanaan penataan ruang
wilayah kabupaten/kota; dan
2. Melaksanakan standar pelayanan minimal bidang penataan ruang.
Penataan ruang dengan demikian adalah serangkaian proses dan
prosedur yang diikuti secara konsisten sebagai satu kesatuan, yaitu kegiatan
perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan
ruang. Selain itu, perlu dilakukan kegiatan peninjauan kembali secara berkala
dengan memanfaatkan informasi yang diperoleh dari proses pengendalian
pemanfaatan ruang yang terdiri atas perijinan, pengawasan (pelaporan,
pemantauan, dan evaluasi), dan penertiban. Pengendalian dilakukan secara
rutin, baik oleh perangkat Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota;
Masyarakat; atau Ketiganya.
Dalam proses dan prosedur penataan ruang perlu dilibatkan peran serta
masyarakat. Peran serta masyarakat dalam penataan ruang diatur dalam
peraturan perundangan, meliputi Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang
Penataan Ruang, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah
Daerah, PP Nomor 69 Tahun 1996 tentang Peran Serta Masyararakat Dalam
Penataan Ruang, serta Permendagri Nomor 9 Tahun 1998. Dalam peraturanperundangan tersebut, masyarakat berhak dan wajib berperan serta dalam
penyusunan rencana tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian
pemanfaatan ruang.

8.2 PRINSIP PRINSIP PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG


Prinsip-prinsip pengendalian pemanfaatan ruang wilayah
Kalimantan Tengah didasarkan pada lima komponen berikut :
1. Kategori pemanfaatan ruang dan kebijaksanaannya.
2. Peringkat pengaruh geografis kebijaksanaan.
3. Kerangka pengendalian yang berkelanjutan.
4. Instrumen dan tata cara pengendalian.
5. Institusi pengendalian.

Provinsi

RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

8.2.1

Kategori Pemanfaatan Ruang dan Kebijaksanaannya

Pemanfaatan ruang dapat dibedakan menurut dua kategori, yaitu yang


didorong pengembangannya serta yang dibatasi pengembangannya.
Kebijaksanaan untuk mendorong pengembangan pemanfaatan ruang dalam
rangka mencapai tujuan, strategi, dan rencana struktur pengembangan
wilayah jangka panjang Provinsi Kalimantan Tengah adalah melalui
keseimbangan antar bagian wilayah, memberikan akses yang merata dan
proporsional bagi pengembangan setiap bagian wilayah, serta memberikan
insentif dan dorongan bagi pengembangan perekonomian rakyat.
Kebijaksanaan untuk membatasi perkembangan pemanfaatan ruang
dilakukan melalui pemanfaatan kawasan lindung, mengurangi tekanan
penduduk melalui pengendalian laju pertumbuhan penduduk, pengelolaan
Rencana Tata Ruang Wilayah kawasan budidaya secara efisien dan efektif, dan
pemberian disinsentif dalam pengendalian okupasi kawasan lindung oleh
kegiatan budidaya.

8.2.2

Peringkat Pengaruh Geografis Kebijaksanaan

Pengaruh geografis maka kebijakan akan mengikuti peringkat sebagai


berikut :
1. Peringkat pertama adalah pengaruh pemanfaatan yang bersifat
strategis, yakni yang memiliki dampak berskala regional serta
berpengaruh pada strategi makro dan rencana struktur pengembangan
wilayah provinsi yang berbatasan. Pada peringkat pertama,
pertimbangan pengendalian ditekankan pada kriteria pertahanan dan
keamanan, ekosistem, serta ekonomi regional dan global.
2. Peringkat kedua adalah pemanfaatan ruang yang bersifat strategis dan
non-strategis namun mempunyai dampak serta berpengaruh pada
strategi dan rencana struktur ruang Provinsi Kalimantan Tengah. Pada
peringkat kedua, pertimbangan pengendalian selain ditekankan pada
kriteria lingkungan; juga pada keadilan sosial; lingkungan; sistem dan
cara penyediaan infrastruktur, seperti pengelolaan air, lalu-lintas, dan
limbah berbahaya; fiskal (cost recovery); dan pengelolaan pertanahan.
3. Peringkat ketiga adalah pemanfaatan ruang yang bersifat strategis dan
non-strategis namun mempunyai dampak serta berpengaruh pada
strategi dan rencana struktur ruang skala kabupaten/kota. Pada
peringkat kedua, pertimbangan pengendalian selain ditekankan pada
kriteria lingkungan; juga pada keadilan sosial; lingkungan; sistem dan
cara penyediaan infrastruktur, seperti pengelolaan air, lalu-lintas, dan
limbah berbahaya; fiskal (cost recovery); dan pengelolaan pertanahan.

4. Peringkat keempat adalah pemanfaatan ruang yang hanya berdampak


pada skala lokal, yaitu setingkat kecamatan atau beberapa kecamatan.
Pada peringkat keempat pertimbangan pengendalian lebih ditekankan
pada kriteria keadilan sosial, lingkungan, teknis penyediaan
infrastruktur, pengelolaan pertanahan, standar arsitektur, dan
kepadatan bangunan.

8.2.3

Kerangka Pengendalian yang Berkelanjutan

Pengendalian pemanfaatan ruang yang efektif pada prinsipnya harus


menjamin pelaksanaan pengendalian yang bersifat menerus. Sebagai bagian
tidak terpisahkan dari proses penataan ruang Provinsi Kalimantan Tengah,
maka pengendalian pemanfaatan ruang dengan demikian harus secara terusmenerus dapat berfungsi memberikan umpan-balik bagi perencanaan dan
implementasi
pemanfaatan ruang. Oleh karenanya, pengendalian
pemanfaatan ruang perlu disiapkan dalam kerangka :
1. Memenuhi prinsip keberlanjutan (sustainability)
2. Menjamin kelengkapan dan keluasan pertimbangan dan dampaknya
(comprehensiveness)
3. Memberikan sumbangan terhadap pemecahan isu penataan ruang
penting (effectiveness) di Provinsi Kalimantan Tengah
Setiap usulan pemanfaatan ruang perlu dievaluasi secara menyeluruh
dalam kerangka pengendalian yang berkelanjutan, di mana aplikasi komponen
dan peringkat kerincian kriteria disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing
peringkat, skala RTRW, dan prioritas pemecahan masalah tata ruang yang
dihadapi. Komponen-komponen utama pengendalian pemanfaatan ruang
dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel A.1

Komponen Utama Pengendalian Pemanfaatan Ruang

Komponen
Utama
Pertahanan
Ekonomi

Keadilan Sosial

Kriteria
Kesesuaian dengan strategi pertahanan dan
keamanan negara
Pertumbuhan ekonomi di tingkat nasional,
regional maupun global
Peningkatan peluang investasi
Pengentasan kemiskinan
Penciptaan lapangan kerja yang luas
untuk menampung usia produktif
Pengembangan sektor sekunder dan
tersier yang berbasis sumberdaya lokal
Pemerataan keadilan

RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

Komponen
Utama

Tingkatan
Administratif
Kawasan pada Tingkat
Kabupaten/Kota

Kriteria

Kemudahan

Lingkungan

Infrastruktur

akses bagi setiap bagian


wilayah
provinsi
untuk
berkembang
sesuai dengan potensinya masing-masing
Perlindungan daerah bawahnya
Kesesuaian denngan RTRWP
Peningkatan kualitas lingkungan hidup
Efisiensi pemanfaatan lahan
Pengelolaan sumberdaya alam secara
Pengelolaan
sarana
dan
prasarana
transportasi
Pengelolaan air
Pengelolaan drainase dan irigasi
Pengelolaan prasarana wilayah lainnya

Kawasan pada Tingkat


Kecamatan

Instrumen dan Tata Cara Pengendalian

Pada prinsipnya, instrumen pengendalian pemanfaatan ruang di Provinsi


Kalimantan Tengah disesuaikan dengan sifat ke-strategis-an rencana
pemanfaatan ruang, peringkat administrasi dan geografis rencana, serta sifat
pemantapan yang dapat bersifat tetap atau luwes.Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel A.1

Strategis
Kabupaten/Kota

Non Strategis
Kabupaten/Kota

Sumber: Hasil Analisis, 2010

8.2.4

Sifat

Strategis
Kabupaten/Kota

Non Strategis
Kabupaten/Kota

Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang

Tingkatan
Administratif
Kawasan pada Tingkat
Provinsi atau Lintas
Kabupaten/Kota

Sifat
Strategis
Nasional

Strategis
Provinsi
Non Strategis
Provinsi

Instrumen Pengendali

Undang-Undang
Peraturan Pemerintah
Keputusan Presiden
SK Menteri/Permen
RTRW Provinsi
Perda Provinsi
SK Gurbernur
RTRW Provinsi
Perda Provinsi
SK Gurbernur
Perda Provinsi
SK Gurbernur
RTRW Provinsi
RTR Kawasan Tertentu
AMDAL

Instrumen Pengendali

RTRW Provinsi
Perda Provinsi
SK Gurbernur
Perda Kabupaten/Kota
SK Bupati/Walikota
RTRW Kabupaten/Kota
AMDAL
Perda Kabupaten/Kota
SK Bupati/Walikota
RTRW Kabupaten/Kota
AMDAL
Pemintakatan
(Zoning
Regulation)
Perda Kabupaten/Kota
SK Bupati/Walikota
RTRW Kabupaten/Kota
AMDAL
Perda Kabupaten/Kota
SK Bupati/Walikota
RTRW Kabupaten/Kota
AMDAL
RDTR Kecamatan
Urban Design Guidelines
Pemintakatan
(Zoning
Regulation)

Sumber: Hasil Analisis, 2008

8.2.5

Institusi Pengendalian

Pada Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kalimantan Tengah,


pengendalian pemanfaatan ruang mengandung pengertian dilakukannya
tindakan pengawasan dan penertiban, serta pelaksanaan pemberian perijinan.
Fungsi pengawasan terdiri atas tiga kegiatan yang saling terkait, yaitu
pelaporan, pemantauan (monitoring), dan evaluasi. Sedangkan fungsi
penertiban mencakup kegiatan pengenaan sanksi administratif, sanksi
perdata, dan sanksi pidana.
Pengendalian pemanfaatan ruang dilakukan melalui penetapan
peraturan zonasi, perizinan, pemberian insentif dan disinsentif, serta
pengenaan sanksi :

RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

1. Peraturan zonasi disusun sebagai pedoman pengendalian pemanfaatan

ruang.
2. Peraturan zonasi disusun berdasarkan rencana rinci tata ruang untuk
setiap zona pemanfaatan ruang.
3. Peraturan zonasi ditetapkan dengan:
a) peraturan pemerintah untuk arahan peraturan zonasi sistem nasional;
b) peraturan daerah provinsi untuk arahan peraturan zonasi sistem
provinsi; dan
c) peraturan daerah kabupaten/kota untuk peraturan zonasi sistem
kabupaten/kota
Peraturan zonasi merupakan ketentuan yang mengatur pemanfaatan
ruang dan unsur-unsur pengendalian yang disusun untuk setiap zona
peruntukan sesuai dengan rencana rinci tata ruang. Peraturan zonasi berisi
ketentuan yang harus, boleh, dan tidak boleh dilaksanakan pada zona
pemanfaatan ruang yang dapat terdiri atas ketentuan tentang amplop ruang
(koefisien dasar ruang hijau, koefisien dasar bangunan, koefisien lantai
bangunan, dan garis sempadan bangunan), penyediaan sarana dan prasarana,
serta ketentuan lain yang dibutuhkan untuk mewujudkan ruang yang aman,
nyaman, produktif, dan berkelanjutan.
Ketentuan lain yang dibutuhkan, antara lain, adalah ketentuan
pemanfaatan ruang yang terkait dengan keselamatan penerbangan,
pembangunan pemancar alat komunikasi, dan pembangunan jaringan listrik
tegangan tinggi.
Sedangkan yang dimaksud dengan perizinan adalah perizinan yang
terkait dengan izin pemanfaatan ruang yang menurut ketentuan peraturan
perundang-undangan harus dimiliki sebelum pelaksanaan pemanfaatan ruang.
Izin dimaksud adalah izin lokasi/fungsi ruang, amplop ruang, dan kualitas
ruang. Dari aspek perizinan, beberapa prinsip dasarnya adalah :
1. Ketentuan perizinan sebagaimana diatur oleh Pemerintah dan
pemerintah daerah menurut kewenangan masing-masing sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
2. Izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang
wilayah dibatalkan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah menurut
kewenangan masing-masing sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
3. Izin pemanfaatan ruang yang dikeluarkan dan/atau diperoleh dengan
tidak melalui prosedur yang benar, batal demi hukum.
4. Izin pemanfaatan ruang yang diperoleh melalui prosedur yang benar
tetapi kemudian terbukti tidak sesuai dengan rencana tata ruang
wilayah, dibatalkan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai

dengan kewenangannya.
5. Terhadap kerugian yang ditimbulkan akibat pembatalan izin tersebut
maka dapat dimintakan penggantian yang layak kepada instansi
pemberi izin.
6. Izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai lagi akibat adanya perubahan
rencana tata ruang wilayah dapat dibatalkan oleh Pemerintah dan
pemerintah daerah dengan memberikan ganti kerugian yang layak.
7. Setiap pejabat pemerintah yang berwenang menerbitkan izin
pemanfaatan ruang dilarang menerbitkan izin yang tidak sesuai dengan
rencana tata ruang.
Selanjutnya dalam pelaksanaan pemanfaatan ruang agar pemanfaatan
ruang sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dapat diberikan insentif
dan/atau disinsentif oleh Pemerintah dan pemersintah daerah. Insentif
tersebut
merupakan perangkat atau upaya untuk memberikan imbalan
terhadap pelaksanaan kegiatan yang sejalan dengan rencana tata ruang,
berupa:
1. keringanan pajak, pemberian kompensasi, subsidi silang, imbalan, sewa
ruang, dan urun saham;
2. pembangunan serta pengadaan infrastruktur;
3. kemudahan prosedur perizinan; dan/atau
4. pemberian
penghargaan kepada masyarakat, swasta dan/atau
pemerintah daerah.
Sedangkan disinsentif merupakan perangkat untuk mencegah,
membatasi pertumbuhan, atau mengurangi kegiatan yang tidak sejalan
dengan rencana tata ruang, berupa:
1. pengenaan pajak yang tinggi yang disesuaikan dengan besarnya biaya
yang dibutuhkan untuk mengatasi dampak yang ditimbulkan akibat
pemanfaatan ruang; dan/atau
2. pembatasan penyediaan infrastruktur, pengenaan kompensasi, dan
penalti.
Insentif dan disinsentif diberikan dengan tetap menghormati hak
masyarakat. Insentif dan disinsentif dapat diberikan oleh:
1. Pemerintah kepada pemerintah daerah;
2. pemerintah daerah kepada pemerintah daerah lainnya; dan
3. pemerintah kepada masyarakat.
Penerapan insentif atau disinsentif secara terpisah dilakukan untuk
perizinan skala kecil/individual sesuai dengan peraturan zonasi, sedangkan
penerapan insentif dan disinsentif secara bersamaan diberikan untuk perizinan
skala besar/kawasan karena dalam skala besar/kawasan dimungkinkan adanya
RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

pemanfaatan ruang yang dikendalikan dan didorong pengembangannya


secara bersamaan.
Disinsentif berupa pengenaan pajak yang tinggi dapat dikenakan untuk
pemanfaatan ruang yang tidak sesuai rencana tata ruang melalui penetapan
nilai jual objek pajak (NJOP) dan nilai jual kena pajak (NJKP) sehingga
pemanfaat ruang membayar pajak lebih tinggi.
Insentif dapat diberikan antarpemerintah daerah yang saling
berhubungan berupa subsidi silang dari daerah yang penyelenggaraan
penataan ruangnya memberikan dampak kepada daerah yang dirugikan, atau
antara pemerintah dan swasta dalam hal pemerintah memberikan preferensi
kepada swasta sebagai imbalan dalam mendukung perwujudan rencana tata
ruang.
Aspek pengenaan sanksi merupakan tindakan penertiban yang dilakukan
terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang
dan peraturan zonasi.

8.3 PENGAWASAN PENATAAN RUANG


Untuk menjamin tercapainya tujuan penyelenggaraan penataan ruang,
dilakukan pengawasan terhadap kinerja pengaturan, pembinaan, dan
pelaksanaan penataan ruang. Pengawasan terdiri atas tindakan pemantauan,
evaluasi, dan pelaporan. Pengawasan dilaksanakan oleh Pemerintah dan
pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya.
Pengawasan terhadap kinerja pengaturan, pembinaan, dan pelaksanaan
penataan ruang dimaksudkan untuk menjamin terlaksananya peraturan
perundang-undangan, terselenggaranya upaya pemberdayaan seluruh
pemangku kepentingan, dan terjaminnya pelaksanaan penataan ruang.
Kegiatan pengawasan termasuk pula pengawasan melekat dalam unsur-unsur
struktural pada setiap tingkatan wilayah.
Pengawasan Pemerintah dan pemerintah daerah dilakukan dengan
melibatkan peran masyarakat. Peran masyarakat tersebut dapat dilakukan
dengan menyampaikan laporan dan/atau pengaduan kepada Pemerintah dan
pemerintah daerah.
Pemantauan dan evaluasi dilakukan dengan mengamati dan memeriksa
kesesuaian antara penyelenggaraan penataan ruang dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan. Apabila hasil pemantauan dan evaluasi
terbukti terjadi penyimpangan administratif dalam penyelenggaraan penataan
ruang, Menteri, Gubernur, dan Bupati/Walikota mengambil langkah
penyelesaian sesuai dengan kewenangannya. Tindakan pemantauan, evaluasi,
dan pelaporan terhadap penyelenggaraan penataan ruang merupakan

kegiatan mengamati dengan cermat, menilai tingkat pencapaian rencana


secara objektif, dan memberikan informasi hasil evaluasi secara terbuka.
Jika Bupati/Walikota tidak melaksanakan langkah penyelesaian,
Gubernur mengambil langkah penyelesaian yang tidak dilaksanakan
Bupati/Walikota. Jika hal Gubernur tidak melaksanakan langkah penyelesaian,
Menteri mengambil langkah penyelesaian yang tidak dilaksanakan Gubernur.
Dalam hal penyimpangan dalam penyelenggaraan penataan ruang, pihak
yang melakukan penyimpangan dapat dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Untuk menjamin tercapainya tujuan penyelenggaraan penataan ruang,
dilakukan pula pengawasan terhadap kinerja fungsi dan manfaat
penyelenggaraan penataan ruang dan kinerja pemenuhan standar pelayanan
minimal bidang penataan ruang. Dalam rangka peningkatan kinerja fungsi dan
manfaat penyelenggaraan penataan ruang wilayah nasional disusun standar
pelayanan penyelenggaraan penataan ruang untuk tingkat nasional. Standar
pelayanan minimal bidang penataan ruang meliputi aspek pelayanan dalam
perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan
ruang.
Standar pelayanan minimal tersebut mencakup standar pelayanan
minimal bidang penataan ruang provinsi dan standar pelayanan minimal
bidang penataan ruang kabupaten/kota. Standar pelayanan minimal
merupakan hak dan kewajiban penerima dan pemberi layanan yang disusun
sebagai alat Pemerintah dan pemerintah daerah untuk menjamin masyarakat
memperoleh jenis dan mutu pelayanan dasar secara merata dalam rangka
penyelenggaraan urusan wajib.
Jenis
pelayanan
dalam
perencanaan
tata
ruang
wilayah
provinsi/kabupaten/kota, antara lain, adalah pelibatan masyarakat dalam
penyusunan rencana tata ruang wilayah provinsi/kabupaten/kota, sedangkan
mutu pelayanannya dinyatakan dengan frekuensi pelibatan masyarakat.
Standar pelayanan minimal bidang penataan ruang provinsi/kabupaten/kota
ditetapkan Pemerintah sebagai alat untuk menjamin jenis dan mutu pelayanan
dasar yang diberikan pemerintah provinsi/kabupaten/kota kepada masyarakat
secara merata dalam rangka penyelenggaraan penataan ruang.
Pengawasan terhadap penataan ruang pada setiap tingkat wilayah
dilakukan dengan menggunakan pedoman bidang penataan ruang.
Pengawasan ditujukan pada pengaturan, pembinaan, dan pelaksanaan
penataan ruang.

RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

8.4 ARAHAN PERATURAN ZONASI (ZONING REGULATION)


Indikasi arahan peraturan zonasi bertujuan untuk menjamin fungsi
sistem provinsi yang berada di wilayah kabupaten/kota, yang terdiri atas:
1. arahan mengenai ketentuan jenis kegiatan pemanfaatan ruang yang
diperbolehkan pada suatu kawasan;
2. arahan mengenai ketentuan jenis kegiatan pemanfaatan ruang yang
tidak diperbolehkan pada suatu kawasan;
3. arahan mengenai ketentuan jenis kegiatan pemanfaatan ruang yang
diperbolehkan dengan persyaratan tertentu pada suatu kawasan;
dan/atau
4. arahan mengenai tingkat intensitas kegiatan pemanfaatan ruang pada
suatu kawasan.
Indikasi arahan peraturan zonasi sistem provinsi digunakan sebagai
pedoman bagi pemerintah kabupaten/kota dalam menyusun peraturan zonasi.
Indikasi arahan peraturan zonasi sistem nasional meliputi indikasi arahan
peraturan zonasi untuk struktur ruang dan pola ruang. Indikasi arahan
peraturan zonasi untuk struktur ruang terdiri atas:
1. sistem perkotaan;
2. sistem jaringan transportasi;
3. sistem jaringan energi;
4. sistem jaringan telekomunikasi;
5. sistem jaringan sumber daya air;
Sedangkan indikasi arahan peraturan zonasi untuk pola ruang Di Provinsi
Kalimantan Tengah terdiri dari:
1. kawasan lindung; dan
2. kawasan budi daya.

8.4.1

Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Struktur Ruang

Indikasi arahan peraturan zonasi untuk sistem perkotaan provinsi dan


jaringan prasarana provinsi disusun dengan memperhatikan:
1. pemanfaatan ruang di sekitar jaringan prasarana provinsi untuk
mendukung berfungsinya sistem perkotaan provinsi dan jaringan
prasarana provinsi;
2. ketentuan pelarangan pemanfaatan ruang yang menyebabkan
gangguan terhadap berfungsinya sistem perkotaan provinsi dan jaringan
prasarana provinsi; dan
3. pembatasan intensitas pemanfaatan ruang agar tidak mengganggu
fungsi sistem perkotaan provinsi dan jaringan prasarana provinsi.

A. Indikai Arahan Peraturan Zonasiuntuk item perkotaan


Indikasi peraturan zonasi untuk sistem perkotaan terdiri dari indikasi
peraturan zonasi untuk PKN, PKW, PKL dan PKSN.
Peraturan zonasi untuk PKN disusun dengan memperhatikan:
1. Pemanfaatan ruang untuk kegiatan ekonomi perkotaan berskala
internasional dan nasional yang didukung dengan fasilitas dan
infrastruktur perkotaan yang sesuai dengan kegiatan ekonomi yang
dilayaninya.
a. Kegiatan ekonomi perkotaan berskala internasional dan nasional
antara lain meliputi : perdagangan, jasa, industri, atau pariwisata.
b. Fasilitas perkotaan, antara lain meliputi : pendidikan, kesehatan,
ekonomi, keamanan, perbankan, peribadatan, sosial budaya, hiburan,
olahraga, dan ruang terbuka hijau.
c. Infrastruktur perkotaan, antara lain meliputi : jaringan air bersih,
telekomunikasi, listrik, gas, jalan, terminal tipe A, stasiun kelas besar,
jaringan pengendalian limbah (padat, cair, dan gas), tempat
pembuangan sampah akhir (TPA), instalasi pengolahan air limbah
(IPAL), dan drainase.
2. Pengembangan fungsi kawasan perkotaan sebagai pusat permukiman
dengan tingkat intensitas pemanfaatan ruang menengah hingga tinggi
yang kecenderungan pengembangan ruangnya ke arah vertikal.
a. Pengembangan ruang ke arah vertikal harus mempertimbangkan
dimensi fisik dan nonfisik. Dimensi fisik, antara lain, meliputi
karakteristik lahan, topografi, dan daya dukung lahan. Dimensi
nonfisik, antara lain, meliputi ekonomi, sosial, dan budaya.
b. Untuk mewujudkan pusat permukiman dengan tingkat intensitas
pemanfaatan ruang menengah hingga tinggi yang kecenderungan
pengembangan ruangnya ke arah vertikal, pengembangan
permukiman di PKN dapat dilakukan dengan berdasarkan kawasan
siap bangun dan lingkungan siap bangun.
Peraturan zonasi untuk PKW Di Provinsi Kalimantan Tengah disusun
dengan memperhatikan:
1. Pemanfaatan ruang untuk kegiatan ekonomi perkotaan berskala provinsi
yang didukung dengan fasilitas dan infrastruktur perkotaan yang sesuai
dengan kegiatan ekonomi yang dilayaninya.
a.
Kegiatan ekonomi perkotaan berskala provinsi, antara
lain meliputi : pertanian/perkebunan/ perikanan, perdagangan dan
jasa, pertambangan, atau industri.
b.
Fasilitas perkotaan, antara lain meliputi : pendidikan,
RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

kesehatan, ekonomi, keamanan, perbankan, peribadatan, sosial


budaya, hiburan, olahraga, dan ruang terbuka hijau.
c.
Infrastruktur perkotaan, antara lain meliputi : jaringan
air bersih, telekomunikasi, listrik, gas, jalan, terminal tipe B, stasiun
kelas menengah, jaringan pengendalian limbah (padat, cair, dan gas),
tempat pembuangan sampah akhir (TPA), instalasi pengolahan air
limbah (IPAL), dan drainase.
2. Pengembangan fungsi kawasan perkotaan sebagai pusat permukiman
dengan tingkat intensitas pemanfaatan ruang menengah yang
kecenderungan
pengembangan
ruangnya
ke
arah
horizontal
dikendalikan.
Peraturan zonasi untuk PKL disusun dengan memperhatikan
pemanfaatan ruang untuk kegiatan ekonomi berskala kabupaten/kota yang
didukung dengan fasilitas dan infrastruktur perkotaan yang sesuai dengan
kegiatan ekonomi yang dilayaninya.
1. Kegiatan ekonomi perkotaan berskala kabupaten/kota, antara lain
meliputi : pertanian, perikanan, perdagangan dan jasa, atau
pertambangan.
2. Fasilitas perkotaan, antara lain meliputi : pendidikan, kesehatan,
ekonomi, keamanan, perbankan, peribadatan, sosial budaya, hiburan,
olahraga, dan ruang terbuka hijau.
3. Infrastruktur perkotaan antara lain meliputi jaringan air bersih,
telekomunikasi, listrik, gas, jalan, terminal tipe C, stasiun kelas kecil,
tempat pembuangan sampah, dan drainase.
Peraturan zonasi untuk PKSN Di Provinsi Kalimantan Tengah disusun
dengan memperhatikan:
1. Pemanfaatan ruang untuk kegiatan ekonomi perkotaan yang berdaya
saing, pertahanan, pusat promosi investasi dan pemasaran, serta pintu
gerbang internasional dengan fasilitas kepabeanan, imigrasi, karantina,
dan keamanan; dan
2. Pemanfaatan untuk kegiatan kerja sama militer dengan negara lain
secara terbatas dengan memperhatikan kondisi fisik lingkungan dan
sosial budaya masyarakat.
B. Indikai Arahan
Transportasi

Peraturan

Zonasi

untuk

Sistem

Jaringan

Indikasi arahan peraturan zonasi untuk sistem jaringan transportasi


terdiri dari arahan peraturan zonasi untuk : sistem jaringan jalan provinsi;
jaringan jalur kereta api; jaringan transportasi sungai, danau dan
penyeberangan; serta bandar udara umum.

Peraturan zonasi untuk jaringan jalan provinsi disusun dengan


memperhatikan:
1. Pemanfaatan ruang di sepanjang sisi jalan provinsi dengan tingkat
intensitas menengah hingga tinggi yang kecenderungan pengembangan
ruangnya dibatasi;
2. Ketentuan pelarangan alih fungsi lahan yang berfungsi lindung di
sepanjang sisi jalan provinsi; dan
3. Penetapan garis sempadan bangunan di sisi jalan provinsi yang
memenuhi ketentuan ruang pengawasan jalan. Ruang pengawasan jalan
merupakan ruang tertentu di luar ruang milik jalan, yang
penggunaannya di bawah pengawasan penyelenggara jalan, dan yang
diperuntukkan bagi pandangan bebas pengemudi dan pengamanan
konstruksi jalan serta manfaat jalan.
Peraturan zonasi untuk jaringan jalur kereta api disusun dengan
memperhatikan:
1. Pemanfaatan ruang di sepanjang sisi jaringan jalur kereta api dilakukan
dengan tingkat intensitas menengah hingga tinggi yang kecenderungan
pengembangan ruangnya dibatasi;
2. Ketentuan pelarangan pemanfaatan ruang pengawasan jalur kereta api
yang dapat mengganggu kepentingan operasi dan keselamatan
transportasi perkeretaapian;
3. Pembatasan pemanfaatan ruang yang peka terhadap dampak
lingkungan akibat lalu lintas kereta api di sepanjang jalur kereta api;
4. Pembatasan jumlah perlintasan sebidang antara jaringan jalur kereta api
dan jalan; dan
5. Penetapan garis sempadan bangunan di sisi jaringan jalur kereta api
dengan
memperhatikan
dampak
lingkungan
dan
kebutuhan
pengembangan jaringan jalur kereta api.
Peraturan zonasi untuk jaringan transportasi sungai, danau, dan
penyeberangan disusun dengan memperhatikan:
1. Keselamatan dan keamanan pelayaran;
2. Ketentuan pelarangan kegiatan di ruang udara bebas di atas perairan
yang berdampak pada keberadaan alur pelayaran sungai, danau, dan
penyeberangan;
3. Ketentuan pelarangan kegiatan di bawah perairan yang berdampak pada
keberadaan alur pelayaran sungai, danau, dan penyeberangan; dan
4. Pembatasan pemanfaatan perairan yang berdampak pada keberadaan
alur pelayaran sungai, danau, dan penyeberangan.
Pemanfaatan ruang di dalam dan di sekitar pelabuhan sungai, danau,
dan penyeberangan harus memperhatikan kebutuhan ruang untuk operasional
RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

dan pengembangan kawasan pelabuhan. Pemanfaatan ruang di dalam Daerah


Lingkungan Kerja Pelabuhan dan Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan
harus mendapatkan izin sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku.
Daerah Lingkungan Kerja Pelabuhan (DLKR) adalah wilayah perairan dan
daratan pada pelabuhan yang dipergunakan secara langsung untuk kegiatan
pelabuhan. Sedangkan yang dimaksud dengan Daerah Lingkungan
Kepentingan Pelabuhan (DLKP) adalah wilayah perairan di sekeliling daerah
lingkungan kerja perairan pelabuhan umum yang dipergunakan untuk
menjamin keselamatan pelayaran.
Peraturan zonasi untuk pelabuhan umum Di Provinsi Kalimantan Tengah
disusun dengan memperhatikan:
1. Pemanfaatan ruang untuk kebutuhan operasional dan pengembangan
kawasan pelabuhan;
2. Ketentuan pelarangan kegiatan di ruang udara bebas di atas badan air
yang berdampak pada keberadaan jalur transportasi laut; dan
3. Pembatasan pemanfaatan ruang di dalam Daerah Lingkungan Kerja
Pelabuhan dan Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan harus
mendapatkan izin sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Peraturan zonasi untuk alur pelayaran Di Provinsi Kalimantan Tengah
disusun dengan memperhatikan:
1. Pemanfaatan ruang pada badan air di sepanjang alur pelayaran dibatasi
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
2. Pemanfaatan ruang pada kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil di
sekitar badan air di sepanjang alur pelayaran dilakukan dengan tidak
mengganggu aktivitas pelayaran.
Peraturan zonasi untuk bandar udara umum Di Provinsi Kalimantan
Tengah disusun dengan memperhatikan:
1. Pemanfaatan ruang untuk kebutuhan operasional bandar udara;
2. Pemanfaatan ruang di sekitar bandar udara sesuai dengan kebutuhan
pengembangan bandar udara berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan; dan
3. Batas-batas Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangandan batas-batas
kawasan kebisingan.
Peraturan zonasi untuk ruang udara untuk penerbangan disusun dengan
memperhatikan pembatasan pemanfaatan ruang udara yang digunakan untuk
penerbangan agar tidak mengganggu sistem operasional penerbangan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-perundangan.

C. Indikai Arahan Peraturan Zonasi untuk Sistem Jaringan Energi


Indikasi arahan peraturan zonasi untuk sistem energi Di Provinsi
Kalimantan Tengah terdiri dari:
a. Peraturan zonasi untuk jaringan pipa minyak dan gas bumi : disusun
dengan memperhatikan pemanfaatan ruang di sekitar jaringan pipa minyak
dan gas bumi harus memperhitungkan aspek keamanan dan keselamatan
kawasan di sekitarnya.
b. Peraturan zonasi untuk pembangkit tenaga listrik : disusun dengan
memperhatikan pemanfaatan ruang di sekitar pembangkit listrik harus
memperhatikan jarak aman dari kegiatan lain, dan
c. Peraturan zonasi untuk jaringan transmisi tenaga listrik : disusun dengan
memperhatikan ketentuan pelarangan pemanfaatan ruang bebas di
sepanjang jalur transmisi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
D. Indikai Arahan
Telekomunikasi

Peraturan

Zonasi

untuk

Sistem

Jaringan

Indikasi peraturan zonasi untuk sistem jaringan telekomunikasi disusun


dengan memperhatikan pemanfaatan ruang untuk penempatan stasiun bumi
dan menara pemancar telekomunikasi yang memperhitungkan aspek
keamanan dan keselamatan aktivitas kawasan di sekitarnya.
E. Indikai Arahan
Sumberdaya Air

Peraturan

Zonasi

untuk

Sistem

Jaringan

Indikasi peraturan zonasi untuk sistem jaringan sumber daya air pada
wilayah sungai disusun dengan memperhatikan:
1. Pemanfaatan ruang pada kawasan di sekitar wilayah sungai dengan
tetap menjaga kelestarian lingkungan dan fungsi lindung kawasan; dan
2. Pemanfaatan ruang di sekitar wilayah sungai lintas negara dan lintas
provinsi secara selaras dengan pemanfaatan ruang pada wilayah sungai
di negara/provinsi yang berbatasan.
Sedangkan indikasi peraturan zonasi untuk sumberdaya air di kawasan
lindung dan kawasan budidaya disusun dengan memperhatikan:
1. Pemanfaatan ruang untuk kegiatan pendidikan dan penelitian tanpa
mengubah bentang alam;
a) Kegiatan pendidikan yang dapat dilakukan di luar kawasan
permukiman adalah kegiatan pendidikan di alam terbuka.
b) Kegiatan penelitian dapat mencakup kegiatan eksplorasi yang
bertujuan memperoleh informasi mengenai kondisi geologi untuk
menemukan dan memperoleh perkiraan cadangan energi dan sumber
RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

daya mineral, yang dilakukan secara terbatas tanpa mengubah fungsi


utama kawasan.
2. Ketentuan pelarangan pemanfaatan ruang yang membahayakan
keselamatan umum;
3. Pembatasan pemanfaatan ruang di sekitar kawasan yang telah
ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana alam; dan
4. Pembatasan pemanfaatan ruang yang menurunkan kualitas fungsi
lingkungan.

8.4.2

Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Pola Ruang

A. Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Kawasan Lindung


Indikasi arahan peraturan zonasi untuk kawasan lindung terdiri dari
arahan peraturan zonasi untuk hutan lindung; kawasan bergambut; kawasan
resapan air; sempadan pantai; sempadan sungai dan kawasan sekitar
danau/waduk; ruang terbuka hijau; suaka alam, suaka alam laut dan suaka
alam lainnya; suaka margasatwa dan cagar alam; kawasan pantai berhutan
bakau; taman nasional; hutan raya; taman wisata alam; cagar budaya dan
ilmu pengetahuan; rawan tanah longsor dan rawan gelombang pasang; rawan
banjir; cagar biosfer; ramsar; taman buru; kawasan perlindungan plasma
nutfah; kawasan pengungsian satwa; terumbu karang; kawasan koridor satwa
yang dilindungi; kawasan keunikan batuan dan fosil; keunikan bentang alam;
keunikan proses geologi; kawasan rawan bencana alam geologi; kawasan
imbuhan air tanah; serta kawasan sempadan mata air. Arahan peraturan
zonasi selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel A.1

Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Kawasan Lindung

N
Jenis Kawasan
Indikasi Arahan Peraturan Zonasi
o
Kawasan Lindung Bawahan
1 Kawasan Hutan
Pemanfaatan ruang untuk wisata alam tanpa merubah
Lindung
bentang alam.
Ketentuan pelarangan seluruh kegiatan yang berpotensi
mengurangi luas kawasan hutan dan tutupan vegetasi.
Pemanfaatan ruang kawasan untuk kegiatan budidaya
hanya diizinkan bagi penduduk asli dengan luasan tetap,
tidak mengurangi fungsi lindung kawasan, dan di bawah
pengawasan ketat.
2 Kawasan Bergambut
Pemanfaatan ruang untuk wisata alam tanpa merubah
bentang alam.
Ketentuan pelarangan seluruh kegiatan yang berpotensi
merubah tata air dan ekosistem unik.
Pengendalian material sedimen yang masuk ke kawasan
bergambut melalui badan air.
3 Kawasan Resapan Air
Pemanfaatan ruang secara terbatas untuk kegiatan
budidaya tidak terbangun yang memiliki kemampuan

N
o

Jenis Kawasan

Indikasi Arahan Peraturan Zonasi

tinggi dalam menahan limpasan air hujan.


Penyediaan sumur resapan dan/atau waduk pada lahan
terbangun yang sudah ada.
Penerapan prinsip zero delta Q policy terhadap setiap
kegiatan budidaya terbangun yang diajukan izinnya.
Kawasan Lindung Setempat
1 Sempadan Pantai
Pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau.
Pengembangan struktur alami dan struktur buatan untuk
mencegah abrasi.
Pendirian bangunan yang dibatasi hanya untuk
menunjang kegiatan rekreasi pantai.
Ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain yang
dimaksudkan untuk kegiatan rekreasi pantai.
Ketentuan pelarangan semua jenis kegiatan yang dapat
menurunkan luas, nilai ekologis, dan estetika kawasan.
2 Sempadan Sungai dan Pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau.
Kawasan Sekitar
Ketentuan pelarangan pendirian bangunan kecuali
Danau/Waduk
bangunan yang dimaksudkan untuk pengelolaan badan
air dan/atau pemanfaatan air.
Pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang
fungsi taman rekreasi.
Penetapan lebar sempadan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
3 Sempadan Mata Air
Pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau.
Pelarangan
kegiatan
yang
dapat
menimbulkan
pencemaran terhadap mata air.
4 Ruang Terbuka Hijau
Pemanfaatan ruang untuk kegiatan rekreasi.
Pendirian bangunan dibatasi hanya untuk bangunan
penunjang kegiatan rekreasi dan fasilitas umum lainnya.
Ketentuan pelarangan pendirian bangunan permanen
selain untuk bangunan penunjang kegiatan rekreasi dan
fasilitas umum lainnya.
Kawasan Suaka Alam, Kawasan Pelestarian Alam dan Cagar Budaya
1 Kawasan Suaka Alam, Pemanfaatan ruang untuk kegiatan wisata alam.
Suaka Alam Laut dan
Pembatasan kegiatan pemanfaatan sumber daya alam.
Perairan Lainnya
Ketentuan
pelarangan
pemanfaatan
biota
yang
dilindungi peraturan perundang-undangan.
Ketentuan pelarangan kegiatan yang dapat mengurangi
daya dukung dan daya tampung lingkungan.
Ketentuan pelarangan kegiatan yang dapat merubah
bentang alam dan ekosistem.
2 Suaka Margasatwa,
Pemanfaatan ruang untuk penelitian, pendidikan, dan
Suaka Margasatwa
wisata alam.
Laut, Cagar Alam dan
Ketentuan pelarangan kegiatan selain untuk penelitian,
Cagar Alam Laut
pendidikan dan wisata alam.
Pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang
kegiatan pendidikan, penelitian dan wisata alam.
Ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain untuk
pendidikan, penelitian dan wisata alam.
Ketentuan pelarangan terhadap penanaman flora dan
RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

10

N
o

Jenis Kawasan

Indikasi Arahan Peraturan Zonasi

pelepasan satwa yang bukan merupakan flora dan satwa


endemik kawasan.
3 Kawasan Pantai
Pemanfaatan
ruang
untuk
kegiatan
pendidikan,
Berhutan Bakau
penelitian, dan wisata alam.
Ketentuan pelarangan pemanfaatan kayu bakau.
Ketentuan pelarangan kegiatan yang dapat mengubah
mengurangi luas dan/atau mencemari ekosistem bakau.
4 Taman Nasional dan
Pemanfaatan ruang untuk wisata alam tanpa merubah
Taman Nasional Laut
bentang alam.
Pemanfaatan ruang kawasan untuk kegiatan budidaya
hanya diizinkan bagi penduduk asli di zona penyangga
dengan luasan tetap, tidak mengurangi fungsi lindung
kawasan, dan di bawah pengawasan ketat.
Ketentuan pelarangan kegiatan budi daya di zona inti.
Ketentuan pelarangan kegiatan budi daya yang
berpotensi mengurangi tutupan vegetasi atau terumbu
karang di zona penyangga.
5 Taman Hutan Raya
Pemanfaatan ruang untuk penelitian, pendidikan, dan
wisata alam.
Ketentuan pelarangan kegiatan selain untuk penelitian,
pendidikan dan wisata alam.
Pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang
kegiatan penelitian, pendidikan dan wisata alam.
Ketentuan
pelarangan
pendirian
selain
untuk
kepentingan penelitian, pendidikan dan wisata alam.
6 Taman Wisata Alam
Pemanfaatan ruang untuk wisata alam tanpa mengubah
dan Taman Wisata
bentang alam.
Alam Laut
Ketentuan pelarangan kegiatan selain untuk kepentingan
wisata alam tanpa mengubah bentang alam.
Pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang
kegiatan wisata alam tanpa mengubah bentang alam.
Ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain untuk
kepentingan wisata alam tanpa mengubah bentang
alam.
7 Kawasan Cagar
Pemanfaatan
untuk
penelitian,
pendidikan,
dan
Budaya dan Ilmu
pariwisata.
Pengetahuan
Ketentuan pelarangan kegiatan dan pendirian bangunan
yang tidak sesuai dengan fungsi kawasan.
Kawasan Rawan Bencana Alam
1 Kawasan Rawan
Pemanfaatan
ruang
dengan
mempertimbangkan
Bencana Tanah
karakteristik, jenis, dan ancaman bencana.
Longsor dan Rawan
Penentuan lokasi dan jalur evakuasi dari permukiman
Bencana Gelombang
penduduk.
Pasang
Pembatasan
pendirian
bangunan
kecuali
untuk
kepentingan pemantauan ancaman bencana dan
kepentingan umum.
2 Kawasan Rawan
Penetapan batas dataran banjir.
Bencana Banjir
Pemanfaatan dataran banjir bagi ruang terbuka hijau
dan pembangunan fasilitas umum dengan kepadatan
rendah.
Ketentuan pelarangan pemanfaatan ruang bagi kegiatan

N
o

Jenis Kawasan

Indikasi Arahan Peraturan Zonasi


permukiman dan fasilitas umum penting lainnya.

Kawasan Lindung Lainnya


1 Kawasan

Perlindungan Plasma
Nutfah

2 Kawasan Pengungsian
Satwa

3 Terumbu Karang

Kawasan Koridor bagi


Jenis Satwa atau Biota
Laut yang Dilindungi

Pemanfaatan untuk wisata alam tanpa mengubah


bentang alam.
Pelestarian flora, fauna, dan ekosistem unik kawasan.
Pembatasan pemanfaatan sumber daya alam.
Pemanfaatan untuk wisata alam tanpa mengubah
bentang alam.
Pelestarian flora dan fauna endemik kawasan.
Pembatasan pemanfaatan sumber daya alam.
Pemanfaatan untuk pariwisata bahari.
Ketentuan pelarangan kegiatan penangkapan ikan dan
pengambilan terumbu karang.
Ketentuan pelarangan kegiatan selain pariwisata bahari
yang dapat menimbulkan pencemaran air.
Ketentuan pelarangan penangkapan biota laut yang
dilindungi peraturan perundang-undangan.
Pembatasan kegiatan pemanfaatan sumber daya
kelautan untuk mempertahankan makanan bagi biota
yang bermigrasi.

B. Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Kawasan Budidaya


Indikasi peraturan zonasi untuk kawasan hutan produksi dan hutan
rakyat disusun dengan memperhatikan:
1. Pembatasan pemanfaatan hasil hutan untuk menjaga kestabilan neraca
sumber daya kehutanan;
2. Pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang egiatan
pemanfaatan hasil hutan; dan
3. Ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud di atas.
Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan pertanian di Provinsi
Kalimantan Tengah disusun dengan memperhatikan:
1. Pemanfaatan ruang untuk permukiman petani dengan kepadatan rendah
2. Ketentuan pelarangan alih fungsi lahan menjadi lahan budidaya non
pertanian kecuali untuk pembangunan sistem jaringan prasarana utama.
Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan perikanan di Provinsi
Kalimantan Tengah disusun dengan memperhatikan:
1. Pemanfaatan ruang untuk permukiman petani dan/atau nelayan dengan
kepadatan rendah;
2. Pemanfaatan ruang untuk kawasan pemijahan dan/atau kawasan sabuk
hijau; dan
3. Pemanfaatan sumber daya perikanan agar tidak melebihi potensi lestari.
Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan pertambangan disusun
dengan memperhatikan:
RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

11

1. Pengaturan pendirian bangunan agar tidak mengganggu fungsi alur


pelayaran yang ditetapkan peraturan perundang-undangan;
Kawasan pertambangan dapat mencakup ruang laut yang ditetapkan
sebagai alur pelayaran, termasuk Alur Laut Kepulauan Indonesia. Oleh
sebab itu, pengembangan kegiatan pertambangan perlu diatur agar
tidak mengganggu kelancaran lalu lintas kapal.
2. Pengaturan kawasan tambang dengan memperhatikan keseimbangan
antara biaya dan manfaat serta keseimbangan antara risiko dan
manfaat; dan
3. Pengaturan bangunan lain disekitar instalasi dan peralatan kegiatan
pertambangan yang berpotensi menimbulkan bahaya dengan
memperhatikan kepentingan daerah.
Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan industri di Provinsi
Kalimantan Tengah disusun dengan memperhatikan:
1. Pemanfaatan ruang untuk kegiatan industri baik yang sesuai dengan
kemampuan penggunaan teknologi, potensi sumber daya alam dan
sumber daya manusia di wilayah sekitarnya; dan
2. Pembatasan
pembangunan
perumahan
baru
sekitar
kawasan
peruntukan industri.
Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan pariwisata di Provinsi
Kalimantan Tengah disusun dengan memperhatikan:
1. Pemanfaatan potensi alam dan budaya masyarakat sesuai daya dukung
dan daya tampung lingkungan;
2. Perlindungan terhadap situs peninggalan kebudayaan masa lampau;
3. Pembatasan pendirian bangunan hanya untuk menunjang kegiatan
pariwisata; dan
4. Ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud di atas.
Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan permukiman disusun
dengan memperhatikan:
1. Penetapan amplop bangunan;
Amplop bangunan yang ditetapkan antara lain meliputi : garis sempadan
bangunan, koefisien dasar bangunan, koefisien lantai bangunan,
koefisien dasar hijau, dan ketinggian bangunan.
2. Penetapan tema arsitektur bangunan;
Penetapan tema arsitektur bangunan antara lain meliputi : peryaratan
penampilan bangunan gedung, tata ruang dalam, keseimbangan,
keserasian, dan keselarasan bangunan gedung dengan lingkungannya,
serta pertimbangan adanya keseimbangan antara nilai-nilai sosial
budaya setempat terhadap penerapan berbagai perkembangan
arsitektur dan rekayasa.

3. Penetapan kelengkapan bangunan dan lingkungan;


Kelengkapan bangunan yang dapat ditetapkan antara lain meliputi :
lahan parkir, jalan, kelengkapan pemadam kebakaran, dan jalur evakuasi
bencana.
4. Penetapan jenis dan syarat penggunaan bangunan yang diizinkan.
Sedangkan untuk penentuan batas deliniasi atau batas zonasi untuk
kawasan budidaya, kriteria teknisnya dapat mengacu pada Peraturan Menteri
Pekerjaan Umum Nomor 41/PRT/M/2007 tentang PEDOMAN KRITERIA TEKNIS
KAWASAN BUDI DAYA serta peraturan perundangan lainnya yang relevan.

8.5 MEKANISME PERIJINAN


Perijinan dimaksudkan sebagai konfirmasi atas pemanfaatan ruang
dalam proses pengendalian pemanfaatan ruang.Sesuai dengan jenjang dan
skala RTRWP yang ada, pada dasarnya RTRWP yang dapat dijadikan acuan
untuk menerbitkan suatu jenis ijin dalam pemanfaatan ruang adalah Rencana
Rinci Tata Ruang Wilayah (RRTRW) di tingkat Kecamatan dan/atau RRTRW
Kawasan Fungsional beserta jenjang berikutnya yang lebih rinci dengan skala
informasi yang lebih besar.
Sesuai dengan hirarki rencana tata ruang, penerbitan ijin dalam
pemanfaatan ruang harus mengacu pada RTRWP, RTRW Kabupaten/Kota dan
rencana yang lebih rinci,yaitu :
RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) Provinsi (minimal skala 1 : 750.000)
yang memuat arahan umum penataan ruang wilayah provinsi.
RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) Kabupaten/Kota (minimal skala 1 :
100.000) yang digunakan sebagai acuan penerbitan perijinan lokasi
peruntukan ruang untuk suatu kegiatan.
RDTRK (Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan) Kecamatan (skala 1 :
10.000 1 : 5.000) yang digunakan sebagai acuan penerbitan perijinan
perencanaan pembangunan (planning permit) bangunan dan bukan
bangunan.
RRTRW (Rencana Rinci Tata Ruang Wilayah) Sub Kawasan (skala 1 : 1.000
1 : 500) yang digunakan sebagai acuan penerbitan perijinan tata letak dan
rancang bangunan/bukan bangunan, termasuk Ijin Mendirikan Bangunan
(IMB).

8.6 MEKANISME PENGAWASAN


Pengawasan terhadap kinerja pengaturan, pembinaan, dan pelaksanaan
penataan ruang dimaksudkan untuk menjamin terlaksananya peraturan
RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

12

perundang-undangan, terselenggaranya upaya pemberdayaan seluruh


pemangku kepentingan, dan terjaminnya pelaksanaan penataan ruang.
Kegiatan pengawasan termasuk pula pengawasan melekat dalam unsur-unsur
struktural pada setiap tingkatan wilayah.
Tindakan
pemantauan,
evaluasi,
dan
pelaporan
terhadap
penyelenggaraan penataan ruang merupakan kegiatan mengamati dengan
cermat, menilai tingkat pencapaian rencana secara objektif, dan memberikan
informasi hasil evaluasi secara terbuka.

8.7 MEKANISME PELAPORAN


Secara
kelembagaan,
pelaporan
wajib
dilakukan
dan/atau
dikoordinasikan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah secara rutin.
Bentuk pelaporan dalam pengawasan adalah berupa pemberian informasi
obyektif mengenai pemanfaatan ruang, baik yang sesuai maupun yang tidak
sesuai dengan RTRW Provinsi Kalimantan Tengah 2010 2030.
Pada dasarnya, seluruh stakeholders pembangunan dapat dilibatkan
dalam kegiatan pelaporan. Jenis pelaporan apapun yang dilakukan oleh
seluruh pihak yang apresiatif terhadap kualitas tata ruang, perlu
ditindaklanjuti dalam kegiatan pemantauan.

8.7.1

Pemantauan

Pemantauan adalah usaha atau tindakan mengamati, mengawasi, dan


memeriksa dengan cermat perubahan kualitas tata ruang dan lingkungan
yang tidak sesuai dengan RTRW Provinsi Kalimantan Tengah 2010 2030.
Sebagaimana dalam usaha pelaporan, maka usaha mengamati, mengawasi,
dan memeriksa perubahan kualitas tata ruang dan lingkungan tersebut
menjadi kewajiban perangkat Pemerintah Provinsi sebagai kelanjutan dari
temuan pada proses pelaporan. Dalam hal ini tidak menutup kemungkinan
pelaksanaan hak dan kewajiban masyarakat untuk berperan serta dalam
pemantauan tata ruang, yang kemudian bersama-sama dengan perangkat
Pemerintah Daerah Kabupaten Manokwari menindaklanjuti menurut proses
dan prosedur yang berlaku.

8.7.2

Evaluasi

Evaluasi dimaksudkan sebagai usaha untuk menilai kemajuan kegiatan


pemanfaaatan ruang dalam mencapai tujuan rencana tata ruang sesuai RTRW
Provinsi Kalimantan Tengah 2010 2030. Evaluasi dilakukan secara menerus
dan setiap akhir tahun disimpulkan melalui gambaran kondisi tata ruang.
Oleh karena itu, evaluasi merupakan fungsi dan tugas rutin perangkat
Pemerintah Provinsi dengan masukan dan bantuan aktif dari masyarakat dan

pihak-pihak lain yang berkepentingan. Kegiatan utama evaluasi adalah


membandingkan antara temuan hasil pemantauan lapangan dengan RTRWP.
Karena pada intinya adalah menilai kemajuan seluruh kegiatan
pemanfaatan ruang dalam mencapai tujuan RTRWP, maka perlu keputusan
mengenai penyimpangan terhadap tahapan dan skenario tata ruang yang
direncanakan serta upaya mengatasinya. Tindakan penertiban dilakukan jika
konsep, tujuan, sasaran, dan muatan arahan pemanfaatan ruang yang
menjadi standar pembanding adalah sahih. Sedang kegiatan peninjauan
kembali secara menyeluruh terhadap seluruh proses penataan ruang
dilakukan jika penyimpangan yang terjadi mengubah kesahihan konsep,
tujuan, sasaran, dan muatan arahan pemanfaatan ruang.
Peninjauan kembali adalah usaha untuk menilai kembali kesahihan
rencana tata ruang dan keseluruhan kinerja penataan ruang secara berkala,
termasuk mengakomodasikan pemutakhiran yang dirasakan perlu akibat
adanya paradigma serta peraturan/rujukan baru dalam penataan ruang dan
pembangunan. Dengan demikian, kegiatan peninjauan kembali termasuk ke
dalam kegiatan perencanaan tata ruang yang dilakukan setelah kegiatan
evaluasi menyimpulkan permasalahan-permasalahan yang mendasar dan
kemungkinan tidak dapat diselesaikan melalui tindakan penertiban. Oleh
karena itu, peninjauan kembali dapat dilakukan setiap saat apabila gambaran
kinerja tata ruang menunjukkan penyimpangan yang signifikan.

8.7.3

Penertiban

Langkah penyelesaian merupakan tindakan nyata pejabat administrasi,


antara lain, berupa tindakan administratif untuk menghentikan terjadinya
penyimpangan. Penertiban merupakan tindakan pengenaan sanksi atas semua
pelanggaran terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan RTRWP
melalui proses dan prosedur pemeriksaan dan penyelidikan. Bentuk sanksi
yang dikenakan adalah sanksi administratif, sanksi perdata, dan sanksi pidana.
Pengenaan sanksi dilakukan berdasarkan ketentuanketentuan yang diatur
dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Tindakan penertiban dengan pengenaan sanksi harus mengacu kepada
RTRWP dan/atau pedoman penataan ruang dan penataan bangunan sesuai
dengan penggunaannya sebagai acuan operasional pelayanan perijinan
pemanfaatan ruang. Pengenaan sanksi diawali terlebih dahulu dengan
peringatan/teguran kepada aktor pembangunan yang dalam pelaksanaan
pembangunannya tidak sesuai dengan rencana tata ruang yang dikeluarkan :
1.
Sanksi administrasi, dapat berupa tindakan
pembatalan ijin dan pencabutan hak. Sanksi ini dikenakan atas
pelanggaran penataan ruang yang berakibat pada terhambatnya
RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

13

pelaksanaan program pemanfaatan ruang. Sanksi administratif


merupakan sanksi yang dikenakan terlebih dahulu dibandingkan sanksisanksi lainnya. Dalam pemantauan pemanfaatan ruang (pelanggaran
persil) kemungkinan yang melakukan pelanggaran adalah pemilik persil
atau lembaga pemberi ijin (dalam hal ini diwakili oleh pejabat yang
bertanggung jawab). Sanksi yang dikenakan adalah;
a. Aparat pemerintah

Teguran.

Pemecatan.

Denda.

Mutasi.
b. Masyarakat

Teguran.

Pencabutan ijin.

Penghentian Pembangunan.

Pembongkaran.
Sanksi tersebut diberi batas waktu pelaksanaan terutama untuk putusan
yang membutuhkan waktu seperti pembongkaran atau pelaksanaan
administrasi. Apabila sampai batas waktu yang telah ditentukan sudah
terlampaui, sanksi administrasi belum dilaksanakan, maka pemerintah
berhak mengajukan kasus ke lembaga peradilan.
2.
Sanksi Perdata, dapat berupa tindakan
pengenaan denda atau pengenaan ganti rugi. Sanksi ini dikenakan atas
pelanggaran penataan ruang yang berakibat terganggunya kepentingan
seseorang, kelompok orang atau badan hukum. Sanksi perdata dapat
berupa ganti rugi, pemulihan keadaan atau perintah dan pelarangan
melakukan suatu perbuatan.
3.
Sanksi pidana, dapat berupa tindakan
penahanan atau kurungan. Sanksi ini dikenakan atas pelanggaran
penataan ruang yang berakibat terganggunya kepentingan umum.
Sanksi pidana dapat berupa kurungan, denda dan perampasan barang.

Ijin Pemanfaatan Ruang


oleh Masyarakat dan
Swasta

Sebelum
Pemanfaatan
Ruang

Jenis Pemanfaatan/ Penggunaan Lahan :


Pengusahaan Hutan (Budidaya Hutan)
Budidaya Perkebunan (Skala Besar)
Budidaya Perikanan (Skala Besar)
Industri
Pertambangan
Pariwisata
Permukiman

Skala Nasional (RTRWN)


Skala Wilayah (RTRWP)
Skala Pemanfaatan
berdasarkan Jenis
Acuan Perijinan

Skala Wilayah (RTRW


Kab/Kota)
Skala Kawasan (RDTR)
Skala Sub Kawasan (RTR)

Penilaian
Kesesuaian

Perijinan
Sesuai

Tidak Sesuai

Dikeluarkan Ijin
Pemanfaatan Ruang

Tidak Disetujui

SK Menteri
SK Gurbernur
SK Bupati/ Walikota
Surat Keputusan Lainnya
Sesuai Hirarki Jenis
Pemanfaatan Ruang

Pemanfaatan
Ruang

Gambar 1.1

Tidak Boleh DIlakukan


Pemanfaatan Ruang Sesuai
Ijin yang Diajukan

Pemanfaatan
dengan Ijin

STOP

Pemanfaatan
Tanpa Ijin

Proses Pengawasan
Diagram Alir Arahan Proses Pengendalian
Pemanfaatan Ruang
RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

14

Proses Pengawasan

Proses Penertiban

Pelaporan oleh Stakeholder


(Pemerintah dan
Masyarakat)

Sesuai dengan Rencana Tata


Ruang Wilayah

Dampak
Besar dan
Penting

Penilaian Besaran
dan Tingkat
Kepentingan
Dampak Apabila
Dilakukan
Penertiban ?

Tidak Sesuai dengan Rencana


Tata Ruang Wilayah

Pemantauan oleh Stakeholder


(Pemerintah dan Masyarakat)

Evaluasi
Pemanfaatan Ruang

Kemungkinan
Penyesuaian
Rencana Tata
Ruang ?

Tidak

Dampak
Tidak
Besar dan
Tidak
Penting

Perencanaan
Penertiban
Khusus

Penertiban Penggunaan
Lahan sesuai RTRW

Ya

Penyesuaian Rencana Tata


Ruang Wilayah yang Telah
Disusun dengan Pemanfaatan
Ruang yang Ada

Dapat
Ditertibkan

Tidak Dapat
Ditertibkan

Pemberian
Sanksi

Tidak Menyimpang dari


Rencana Tata Ruang

Menyimpang dari
Rencana Tata Ruang

Pola Pemanfaatan
Ruang dapat Dilanjutkan

Penilaian Tingkat
Penyimpangan

Penyusunan Revisi Rencana


Tata Ruang Wilayah sesuai
Tingkatan Administratif dan
Tingkatan Penyimpangan

Penggunaan Lahan
Dikembalikan Sesuai dengan
Rencana Tata Ruang Wilayah
yang Telah Ditetapkan

Penertiban
Paksa

Proses Penertiban

RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

15

8.8 MEKANISME INSENTIF DAN DISINSENTIF


Mekanisme arahan pemberian insentif dan disinsentif merupakan acuan
bagi pemerintah dalam pemberian insentif dan pengenaan disinsentif. Insentif
diberikan apabila pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana struktur ruang,
rencana pola ruang, dan indikasi arahan peraturan zonasi sesuai dengan yang
diatur dalam RTRW ini. Disinsentif dikenakan terhadap pemanfaatan ruang
yang perlu dicegah, dibatasi, atau dikurangi keberadaannya berdasarkan
ketentuan dalam RTRW ini.
Pemberian insentif dan pengenaan disinsentif dalam pemanfaatan ruang
wilayah provinsidilakukan oleh pemerintah daerah provinsi kepada pemerintah
kabupaten/kota kepada masyarakat. Pemberian insentif dan pengenaan
disinsentif dilakukan oleh instansi daerah yang berwenang sesuai dengan
kewenangannya. Insentif kepada pemerintah kabupaten/kota diberikan, antara
lain, dalam bentuk:
1. pemberian kompensasi;
2. urun saham;
3. pembangunan serta pengadaan infrastruktur; atau
4. penghargaan.
Sedangkan insentif kepada masyarakat diberikan, antara lain, dalam
bentuk:
1. keringanan pajak;
2. pemberian kompensasi;
3. imbalan;
4. sewa ruang;
5. urun saham;
6. penyediaan infrastruktur;
7. kemudahan prosedur perizinan; dan/atau
8. penghargaan.
Disinsentif kepada pemerintah kabupaten/kota diberikan, antara lain,
dalam bentuk:
1. pembatasan penyediaan infrastruktur;
2. pengenaan kompensasi; dan/atau
3. penalti
Disinsentif dari Pemerintah kepada masyarakat dikenakan, antara lain,
dalam bentuk:
1. pengenaan pajak yang tinggi;
2. pembatasan penyediaan infrastruktur;
3. pengenaan kompensasi; dan/atau
4. penalti.

Pemberian insentif dan pengenaan disinsentif dilakukan menurut


prosedur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pemberian
insentif dan pengenaan disinsentif dikoordinasikan oleh pejabat daerah yang
berwenang.

8.9 INDIKASI ARAHAN SANKSI


Arahan sanksi merupakan acuan dalam pengenaan sanksi terhadap:
1. pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana struktur ruang
dan pola ruang wilayah;
2. pelanggaran ketentuan arahan peratuan zonasi sistem provinsi;
3. pemanfaatan ruang tanpa izin pemanfaatan ruang yang diterbitkan
berdasarkan RTRWP;
4. pemanfaatan ruang tidak sesuai dengan izin pemanfaatan ruang yang
diterbitkan berdasarkan RTRWP;
5. pelanggaran ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan izin
pemanfaatan ruang yang diterbitkan berdasarkan RTRWP;
6. pemanfataan ruang yang menghalangi akses terhadap kawasan yang
oleh peraturan perundang-undangan dan peraturan daerah dinyatakan
sebagai milik umum; dan/atau
7. pemanfaatan ruang dengan izin yang diperoleh dengan prosedur yang
tidak benar.
Pelanggaran-pelanggaran tersebut dapat dikenakan sanksi administratif
berupa:
1. peringatan tertulis;
2. penghentian sementara kegiatan;
3. penghentian sementara pelayanan umum;
4. penutupan lokasi;
5. pencabutan izin;
6. pembatalan izin;
7. pembongkaran bangunan;
8. pemulihan fungsi ruang; dan/atau
9. denda administratif.
Khusus untuk pelanggaran berupa pemanfaatan ruang tanpa izin
pemanfaatan ruang yang diterbitkan berdasarkan RTRWP (sesuai jenis
pelanggaran padahuruf c) dapat dikenakan sanksi administratif berupa:
1. peringatan tertulis;
2. penghentian sementara kegiatan;
3. penghentian sementara pelayanan umum;
4. penutupan lokasi;
RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

16

5. pembongkaran bangunan;
6. pemulihan fungsi ruang; dan/atau
7. denda administratif.
Ketentuan mengenai tata cara pengenaan sanksi administratif tersebut
selanjutnya diatur secara lebih rinci dalam peraturan daerah dengan mengacu
pada RTRWP ini serta peraturan peraturan perundangan yang berlaku.

8.10 HAK, KEWAJIBAN DAN PERAN MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG


Dalam penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah sesuai dengan UU No.
26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, masyarakat dapat mengetahui
rencana tata ruang melalui Lembaran Negara atau Lembaran Daerah,
pengumuman, dan/atau penyebarluasan oleh pemerintah. Pengumuman atau
penyebarluasan tersebut dapat diketahui masyarakat, antara lain, adalah dari
pemasangan peta rencana tata ruang wilayah yang bersangkutan pada
tempat umum, kantor kelurahan, dan/atau kantor yang secara fungsional
menangani rencana tata ruang tersebut. Dalam penataan ruang, setiap orang
berhak untuk:
1. Mengetahui rencana tata ruang;
2. Menikmati pertambahan nilai ruang sebagai akibat penataan ruang;
Pertambahan nilai ruang dapat dilihat dari sudut pandang ekonomi,
sosial, budaya, dan kualitas lingkungan yang dapat berupa dampak
langsung terhadap peningkatan ekonomi masyarakat, sosial, budaya,
dan kualitas lingkungan.
3. Memperoleh penggantian yang layak atas kerugian yang timbul akibat
pelaksanaan kegiatan pembangunan yang sesuai dengan rencana tata
ruang; Penggantian yang layak adalah bahwa nilai atau besarnya
penggantian tidak menurunkan tingkat kesejahteraan orang yang diberi
penggantian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
4. Mengajukan
keberatan
kepada
pejabat
berwenang
terhadap
pembangunan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang di
wilayahnya;
5. Mengajukan tuntutan pembatalan izin dan penghentian pembangunan
yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang kepada pejabat
berwenang; dan
6. Mengajukan gugatan ganti kerugian kepada pemerintah dan/atau
pemegang izin apabila kegiatan pembangunan yang tidak sesuai dengan
rencana tata ruang menimbulkan kerugian.
Selanjutnya dalam pemanfaatan ruang, setiap orang memiliki kewajiban
untuk :

1. Menaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan; Menaati rencana tata
ruang yang telah ditetapkan dimaksudkan sebagai kewajiban setiap
orang untuk memiliki izin pemanfaatan ruang dari pejabat yang
berwenang sebelum pelaksanaan pemanfaatan ruang.
2. Memanfaatkan ruang sesuai dengan izin pemanfaatan ruang dari
pejabat yang berwenang;
Memanfaatkan ruang sesuai dengan izin pemanfaatan ruang
dimaksudkan sebagai kewajiban setiap orang untuk melaksanakan
pemanfaatan ruang sesuai dengan fungsi ruang yang tercantum dalam
izin pemanfaatan ruang.
3. Mematuhi ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan izin
pemanfaatan ruang;
Mematuhi ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan izin
pemanfaatan ruang dimaksudkan sebagai kewajiban setiap orang untuk
memenuhi ketentuan amplop ruang dan kualitas ruang.
4. Memberikan akses terhadap kawasan yang oleh ketentuan peraturan
perundang-undangan dinyatakan sebagai milik umum.
Pemberian akses dimaksudkan untuk menjamin agar masyarakat dapat
mencapai kawasan yang dinyatakan dalam peraturan perundangundangan sebagai milik umum. Kewajiban memberikan akses dilakukan
apabila memenuhi syarat berikut:
a. untuk kepentingan masyarakat umum; dan/atau
b. tidak ada akses lain menuju kawasan dimaksud.
Yang termasuk dalam kawasan yang dinyatakan sebagai milik umum,
antara lain, adalah sumber air dan pesisir pantai.
Setiap orang yang melanggar ketentuan tersebut, dikenai sanksi
administratif. Sanksi administratif dapat berupa:
1. Peringatan tertulis;
2. Penghentian sementara kegiatan;
3. Penghentian sementara pelayanan umum;
4. Penutupan lokasi;
5. Pencabutan izin;
6. Pembatalan izin;
7. Pembongkaran bangunan;
8. Pemulihan fungsi ruang; dan/atau
9. Denda administratif.
Penghentian sementara pelayanan umum dimaksud berupa pemutusan
sambungan listrik, saluran air bersih, saluran limbah, dan lain-lain yang
menunjang suatu kegiatan pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan
rencana tata ruang. Sedangkan pembongkaran dimaksud dapat dilakukan
RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

17

secara sukarela oleh yang bersangkutan atau dilakukan oleh instansi


berwenang.
Masyarakat juga memiliki peran yang penting dalam proses penyusunan
Rencana tata Ruang Wilayah. Penyelenggaraan penataan ruang dilakukan oleh
pemerintah dengan melibatkan peran masyarakat. Peran masyarakat dalam
penataan ruang antara lain, melalui:
1. Partisipasi dalam penyusunan rencana tata ruang;
2. Partisipasi dalam pemanfaatan ruang; dan
3. Partisipasi dalam pengendalian pemanfaatan ruang.
Peran masyarakat sebagai pelaksana pemanfaatan ruang, baik orang
perseorangan maupun korporasi, antara lain mencakup kegiatan pemanfaatan
ruang yang sesuai dengan rencana tata ruang. Kerugian akibat
penyelenggaraan penataan ruang mencakup pula kerugian akibat tidak
memperoleh informasi rencana tata ruang yang disebabkan oleh tidak
tersedianya informasi tentang rencana tata ruang. Masyarakat yang dirugikan
akibat penyelenggaraan penataan ruang dapat mengajukan gugatan melalui
pengadilan. Dalam mengajukan gugatan tersebut, tergugat dapat
membuktikan bahwa tidak terjadi penyimpangan dalam penyelenggaraan
penataan ruang.

RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

18

8.10 HAK, KEWAJIBAN DAN PERAN MASYARAKAT DALAM


PENATAAN RUANG.................................................................
BAB | 8 | ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG.....................81
8.1 KEWENANGAN PEMERINTAH DALAM PENATAAN
RUANG.......................................................................................
8.1.1 Kewenangan Pemerintah Pusat.....................................
8.1.2 Kewenangan Pemerintah Provinsi.................................
8.1.3 Kewenangan Pemerintah Kabupaten/Kota....................
8.2 PRINSIP PRINSIP PENGENDALIAN PEMANFAATAN
RUANG.......................................................................................
8.2.1 Kategori Pemanfaatan Ruang dan
Kebijaksanaannya..........................................................
8.2.2 Peringkat Pengaruh Geografis Kebijaksanaan..............
8.2.3 Kerangka Pengendalian yang Berkelanjutan.................
8.2.4 Instrumen dan Tata Cara Pengendalian.........................
8.2.5 Institusi Pengendalian....................................................
8.3 PENGAWASAN PENATAAN RUANG.......................................
8.4 ARAHAN PERATURAN ZONASI (ZONING REGULATION)
.....................................................................................................
8.4.1 Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Struktur
Ruang.............................................................................
A. Indikai Arahan Peraturan Zonasiuntuk item
perkotaan.................................................................
B. Indikai Arahan Peraturan Zonasi untuk Sistem
Jaringan Transportasi..............................................
C. Indikai Arahan Peraturan Zonasi untuk Sistem
Jaringan Energi.......................................................
D. Indikai Arahan Peraturan Zonasi untuk Sistem
Jaringan Telekomunikasi.........................................
E. Indikai Arahan Peraturan Zonasi untuk Sistem
Jaringan Sumberdaya Air........................................
8.4.2 Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Pola Ruang
........................................................................................
A. Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk
Kawasan Lindung....................................................
B. Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk
Kawasan Budidaya................................................
8.5 MEKANISME PERIJINAN........................................................
8.6 MEKANISME PENGAWASAN.................................................
8.7 MEKANISME PELAPORAN.....................................................
8.7.1 Pemantauan..................................................................
8.7.2 Evaluasi........................................................................
8.7.3 Penertiban....................................................................
8.8 MEKANISME INSENTIF DAN DISINSENTIF..........................
8.9 INDIKASI ARAHAN SANKSI...................................................

Tabel 8.1

Komponen Utama Pengendalian Pemanfaatan Ruang.........................

Tabel 8.2

Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang......................................

Tabel 8.3

Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Kawasan Lindung..................

Gambar 8.1

Diagram Alir Arahan Proses Pengendalian Pemanfaatan Ruang


..........................................................................................................

RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

19