Anda di halaman 1dari 16

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kehidupan organisasi menyentuh berbagai karakteristik yang problematis dari
organisasi bisnis : pengasingan yang dialami oleh karyawan, pekerjaan yang monoton,
perasaan tertekan yang muncul karena masalah otoritas, tanggung jawab yang harus
diterima manajer, taktik kekuasaan, tekanan yang dialami oleh bawahan oleh karena
atasan yang sewenang-wenang.
Munculnya masalah dan pertanyaan tentang batas-batas moral serta perilaku etis serta
tidak etis dalam kehidupan seringkali seing ditemui belakangan ini sehingga materi ini
yang memaparkan dan menjelaskan apa kewajiban daripada seorang karyawan, hak
daripada karyawan dan kewajiban serta hak perusahaan perlu dibahas lebih lanjut.

1.2. Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan organisasi rasional?
2. Apa saja yang menjadi kewajiban karyawan?
3. Apa saja yang menjadi kewajiban perusahaan?
4. Apa saja yang menjadi hak karyawan?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Organisasi Rasional
Koordinasi rasional atas aktivitas-aktivitas sejumlah individu untuk mencapai tujuan
eksplisit bersama, melalui pembagian tenaga kerja dan fungsi dan melalui hierarki
otoritas dan tanggung jawab.
Jika suatu organisasi dilihat dengan cara seperti itu, maka sebagian besar realita dasar
organisasi merupakan hierarki otoritas formal yang diidentifikasikan dalam bagan
organisasional yang mewakili berbagai jabatan resmi dan garis kewenangan dalam
organisasi. Model organisasi rasional mengasumsikan bahwa sebagian besar informasi
dikumpulkan dari tingkat operator, naik melewati sejumlah tingkat manajemen formal,
yang masing-masing mengumpulkan informasi serupa, sampai akhirnya mencapai
manajemen tertinggi. Berdasarkan informasi ini, manajer tertinggi membuat keputusan
tentang kebijakan-kebijakan umum, yang selanjutnya diturunkan melalui hierarki formal
dan diperjelas dalam setiap tingkat manajerial sampai menjangkau tingkat operator dalam
bentuk instruksi kerja yang mendetail. Keputusan-keputusan semacam ini didesain untuk
mencapai tujuan-tujuan ekonomi umum seperti efisiensi, produktivitas, keuntungan,
pengembalian, investasi maksimum, dan sebagainya. Tujuan ditetapkan oleh individuindividu yang menduduki jabatan tertinggi dalam hierarki otoritas yang dianggap
memiliki hak yang sah untuk membuat keputusan semacam itu.
Model ini mengasumsikan pegawai sebagai agen yang secara bebas dan sadar telah
setuju untuk menerima otoritas formal organisasi dan berbagai dan berusaha meraih
tujuan organisasi dan sebagai gantinya mereka memperoleh dukungan dalam bentuk gaji
dan kondisi kerja yang baik. Perjanjian kontraktual ini mengikat masing-masing pegawai
ke dalam organisasi dengan cara mendefinikan secara formal kewajiban-kewajiban setiap
pegawai dan jangkauan otoritasnya. Dari perjanjian kontraktual, pegawai menerima
tanggung jawab moral untuk mematuhi atasan dalam usaha mencapai tujuan organisasi,
selanjutnya, organisasi jugs memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan dukungan
ekonomi pada para pegawai seperti yang telah dijanjikan.
Tanggung jawab etis dasar yang muncul dari aspek-aspek rasional organisasi
difokuskan pada dua kewajiban moral yaitu :
2

1) Kewajiban pegawai untuk mematuhi atasan dalam organisasi, mencapai tujuan-tujuan


organisasi, dan tidak melakukan aktivitas-aktivitas yang mengancam tujuan tersebut
2) Kewajiban atasan untuk memberikan gaji yang adil dan kondisi kerja yang baik.
Kewajiban-kewajiban ini selanjutnya ditetapkan melalui garis otoritas formal organisasi
dan melalui perjanjian-perjanjian yang menetapkan secara khusus kewajiban pegawai
serta kondisi kerja mereka.
2.2 Kewajiban Pegawai Terhadap Perusahaan
Kewajiban moral utama pegawai adalah untuk bekerja mencapai tujuan perusahaan dan
menghindari kegiatan-kegiatan yang mungkin mengancam tujuan tersebut seperti
bersikap tidak etis dan berusaha meraih kepentingan sendiri. Ada sejumlah situasi di
mana pegawai gagal melaksanakan kewajiban untuk mencapai tujuan

perusahaan.

Pegawai melakukan tindakan yang mengakibatkan terjadinya konflik kepentingan,


mencuri dari perusahaan, atau menggunakan jabatannya sebagai sarana untuk
memperoleh keuntungan dari orang lain dengan melakukan penerasan atau suap.
1. Konflik Kepentingan
Konflik kepentingan muncul saat seorang pegawai atau penjabat suatu perusahaan
melaksanakan tugasnya, namun pegawai tersebut memiliki kepentingan-kepentingan
pribadi terhadap hasil dari pelaksanaan tugas tersebut yang :
a. Mungkin bertentangan dengan kepentingan perusahaan
b. Cukup substansial sehingga kemungkinan mempengaruhi penilaiannya sehingga tidak
seperti yang diharapkan perusahaan. Konflik kepentingan muncul saat kepentingan
pribadi pegawai mendorongnya melakukan tindakan yang mungkin bukan merupakan
tindakan yang terbaik bagi perusahaan.
Konflik kepentingan juga bisa muncul apabila penjabat atau pegawai suatu
perusahaan juga bekerja atau menjadi konsultan perusahaan luar yang menjadi rekan
pesaing perusahaan yang pertama. Konflik kepentingan bisa bersifat aktual atau potensial.
Konflik kepentingan aktual terjadi saat seseorang melaksanakan lewajiban dalam suatu
cara yang mengganggu perusahaan dan melakukannya demi kepentingan pribadi. Konflik
kepentingan potensial terjadi saat seseorang karena didorong oleh kepentingan pribadi,
bertindak salam suatu cara yang merugikan perusahaan
Konflik kepentingan aktual menjadi tidak etis karena bertentangan dengan perjanjian
kontrak bahwa seorang pegawai bebas memilih saat menerima pekerjaan dari suatu
3

perusahaan. Melanggar hubungan kontraktual berarti melanggar hak dan kewajiban yang
telah ditetapkan dalam kontrak. Konflik kepentingan potensial bisa etis ataupun tidak etis
tergantung pada kemungkina di mana penilaian pegawai dipengaruhi oleh kepentingankepentingan yang saling bertentangan. Ada dua jenis situasi dan aktivitas yang perlu
mendapat perhatian :
a. Suap dan pemerasan komersial. Suap komersial adalah sesuatu yang diinginkan
kepada seorang pegawai oleh orang dari luar perusahaan dengan tujuan agar saat
pegawai melakukan transaksi bisnis dengannya pegawai tersebut akan melakukan
sesuatu yang menguntungakan baginya.
b. Pemberian. Menerima pemberian bisa menjadi etis ataupun tidak etis. Pemberian dari
seseorang secara Cuma-Cuma dan atanpa ada syarat dikatakan etis.
2. Pencurian Pegawai dan Komputer
Tindakan pegawai yang mencari keuntungan pribadi dengan menggunakan sumber
daya perusahaan tanpa persetujuan pemilik yang sah dapat dikatakan sebagai pencurian.
Macam-macam bentuk pencurian :
a. Pencurian komputer. Yang dikatakan dengan pencurian komputer yaitu mengcopy
program-program komputer perusahaan, menyalin data-data komputer perusahaan,
menggunakan komputer tidak pada saat jam kerja.
b. Rahasia perdagangan. Rahasia perdagangan terdiri dari informasi publik yang :
Menyangkut aktivitas, teknologi, perencanaan, kebijakan, dan catatan suatu

perusahaan.
Hak paten yang dimiliki perusahaan.
Langkah-langkah pengamanan, perjanjian kontraktual, serta perintah eksplisit.

Hal-hal di atas jika diketahui oleh pesaing maka akan mempengaruhi kemampuan
perusahaan untuk bersaing secara komersial.
3. Insider Trading
Insider trading adalah suatu tindakan menjual dan membeli saham perusahaan
berdasarkan informasi dari orang dalam perusahaan. Insider trading adalah ilegal karena
tidak etis dan orang yang melakukannya berarti mencuri informasi dan memperoleh
keuntungan yang tidak adil dari anggota masyarakat lain.
2.3 Kewajiban Perusahaan Terhadap Pegawai
4

Kewajiban perusahaan terhadap pegawai diantaranya :


1. Gaji
Dari sudut pandang pegawai gaji adalah sarana untuk memenuhi kebutuhan ekonomi
baik

untuk dirinya sendiri maupun keluarganya. Sedangkan, dari sudut pandang

perusahaan gaji adalah biaya yang harus ditekan dalam rangka menekan biaya produksi
sehingga harga produk bisa menjadi lebih murah dan tidak kalah bersaing.
Faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan gaji adalah sebagai berikut :
a. Gaji dalam industri dan wilayah tempat seseorang bekerja. Pasar kerja setidaknya
memberikan indikator kasar tentang gaji yang layak dan cukup kompetitif. Selain itu
biaya hidup di tiap-tiap wilayah tidaklah sama sehingga perlu diperhitungkan dalam
menentukan gaji karyawan.
b. Kemampuan perusahaan.

Keuntungan

yang

diperoleh

perusahaan

harus

diperhitungkan dalam menentukan gaji karyawan.


c. Sifat pekerjaan. Sejauh mana pekerjaan yang dilakukan karyawan itu beresiko
merupakan hal yang sangat penting dan tidak boleh dilupakan oleh perusahaan saat
menentukan gaji karyawan.
d. Peraturan upah minimum. Upah minimum yang ditetapkan suatu wilayah tertentu
merupakan batas dasar gaji yang harus dipenuhi perusahaan.
e. Kelayakan negosiasi gaji. Negosiasi yang dilakukan dengan karyawan masalah gaji
haruslah independen dan tanpa paksaan.
f. Biaya hidup lokal. Barang dan jasa yang diperlukan oleh individu maupun keluarga
berbeda-beda dari wilayah yang satu dengan wilayah yang lain.
2. Kondisi Kerja
Kondisi kerja ada kaitannya dengan kesehatan dan keamanan serta kepuasan kerja.
A. Kesehatan dan Keamanan
Jaminan kesehatan dan keamanan haruslah diberikan secara seimbang dengan
pekerjaan yang dibebankan kepada pegawai. Kewajiban tersebut diantaranya :
a. Perusahaan wajib menawarkan gaji yang merefleksikan relevansi resiko resmi dalam
pasar kerja yang serupa namun kompetitif.
b. Perusahaan wajib untuk memberikan program asuransi dalam rangkan menjamin
pegawai dari bahaya yang diketahui.
5

c. Perusahaan perlu mengumpulkan informasi tentang pekerjaan yang dilakukan oleh


karyawan dan menginformasikan bahaya serta resiko pekerjaan tersebut.
B. Kepuasan Kerja
Ada beberapa determinan kepuasan kerja, diantaranya :
a. Arti yang dialami. Seseorang puas ketika dia melihat pekerjaannya sebagai sesuatu
yang penting.
b. Tanggung jawab yang dialami. Seseorang merasa puas ketika secara pribadi ia merasa
telah melakukan tanggung jawabnya terhadap pekerjaannya.
c. Pengetahuan akan hasil. Seseorang merasa puas ketika dia menemui hasil daripada
pekerjaanya itu adalah memuaskan.
Untuk mempengaruhi ketiga determinan tersebut, pekerjaan haruslah diperluas
sepanjang lima dimensi berikut :
a. Keragaman keahlian. Tingkat dimana suatu pekerjaan mewajibkan karyawan untuk
melaksanakan aktivitas yang menantang keahlian dan kemampuannya.
b. Identitas tugas. Tingkat dimana suatu pekerjaan mewajibkan karyawan untuk
menyelesaikan seluruh tugas yang diberikan dan melaksanakan tugas dari awal hingga
akhir dengan jelas.
c. Arti penting tugas. Tingkat dimana pekerjaan memiliki pengaruh substansial dan
dapat dipahami orang lain, baik dalam organisasinya maupun dalam dunia pada
umumnya.
d. Otonomi. Tingkat dimana pekerjaan memberikan kebebasan kepada karyawan dalam
usahanya merencanakan pekerjaan serta menentukan seberapa baik ia akan
melaksanakannya.
e. Umpan balik. Tingkat dimana seorang karyawan memperoleh informasi tentang
efektivitas usaha-usahanya.
2.4 Organisasi Politik
Bagi semua orang yang pernah bekerja di organisasi besar, struktur berorientasi tujuan
dan efisien yang diberikan dari model organisasi rasional pada perusahaan bisnis mungkin
akan terlihat agak tidak lengkap atau malah tidak sesuai dengan kenyataan. Meskipun
banyak perilaku dalam organisasi sejalan dengan gambaran yang diberikan model
rasional, namun sejumlah besar perilaku organisasi tidak bisa dikatakan orientasi tujuan,
efisiensi, maupun rasional. Para pegawai dalam organisasi sering terlibat dalam berbagai

intrik, persaingan memperoleh sumber daya organisasi, membentuk kelompok kecil yang
saling bermusuhan, perlakuan pengawasan yang sewenang-wenang, berebut memperoleh
kesempatan memajukan karier, saling berdebat mengenai tujuan organisasi yang
sesungguhnya, serta berselisih tentang strategi untuk mencapai tujuan tersebut.
Analisis politik akan organisasi yang akan kita lihat sekarang adalah pandangan yang
lebih mutakhir tentang organisasi dibanding analisis rasional. Tidak seperti model
rasional, model politik organisasi tidak hanya melihat pada garis kewenangan (otoritas)
dan komunikasi dalam organisasi ataupun mengasumsikan bahwa semua perilaku
organisasi secara rasional didesain untuk mencapai suatu tujuan dan sasaran ekonomi
seperti keuntungan atau produktivitas. Namun sebaliknya, model politik melihat
organisasi sebagai suatu system yang terdiri dari sejumlah koalisi kekuatan yang saling
bersaing, jalur pengaruh dan komunikasi formal dan informal yang terbentuk dari koalisikoalisi tersebut.
Dalam model politik, individu dilihat berkumpul membentuk koalisi yang selanjutnya
saling bersaing satu sama lain memperebutkan sumber daya, keuntungan, dan pengaruh.
Dengan demikian tujuan organisasi menjadi tujuan yang dibentuk oleh koalisi yang
paling kuat dan yang paling dominan. Tujuan tidak dibentuk oleh otoritas yang sah,
namun ditetapkan melalui tawar menawar antara berbagai koalisi. Realita dasar
organisasi, menurut model ini, bukanlah otoritas formal atau hubungan kontraktual,
namun kekuasaan : kemampuan individu ( atau kelompok individu ) untuk mengubah
perilaku pihak lain menuju cara yang diinginkan tanpa harus mengubah perilaku mereka
sendiri menuju cara yang tidak diinginkan. Satu contoh koalisi organisasi dan kekuatan
nonformal yang dapat dipakai, bahkan untuk mendesak otoritas formal, didapatkan dari
catatan tentang kehidupan dalam suatu lembaga pemerintah.

2.5 Hak Pegawai


Hak dari pegawai diantaranya :
1. Hak Privasi
Hak privasi adalah hak individu untuk menentukan apa, dengan siapa, seberapa
banyak informasi tentang dirinya yang boleh diketahui atau diungkapkan kepada orang
7

lain. Walaupun perusahaan secara hukum diizinkan untuk mengawasi para pegawai yang
menggunakan asset-asset perusahaan, kinerja mereka, keterlibatan dalam kepentingan
pribadi (yang dapat merugikan perusahaan), perusahaan tetap harus memperhatikan hal
berikut :
a. Relevansi. Perusahaan harus membatasi penyelidilkan terhadap pegawai yaitu hanya
sebatas pada bidang-bidang yang bersangkutan langsung dengan masalah yang
dihadapi perusahaan.
b. Metode. Perusahaan perlu membedakan metode-metode penyelidikan yang sifatnya
biasa dan dapat diterima serta metode lainnya.
2. Kebebasan Suara Hati
Seorang karyawan bebas untuk tidak melakukan sesuatu yang dianggapnya salah
sehingga perusahaan tidak boleh memaksa seorang karyawan untuk melakukan suatu
pekerjaan yang secara nurani dianggapnya salah.
3. Whistle Blowing
Usaha yang dilakukan oleh karyawan atau mantan karyawan untuk mengungkapkan
kesalahan perusahaan. Orang yang melakukan tindakan whistle blowing tersebut di sebut
whistle blower. Whistle blowing bisa bersifat internal dan eksternal. Dikatakan internal
ketika karyawan hanya melaporkan kepada petinggi perusahaan, dikatakan eksternal
ketika adanya keterlibatan pihak luar akibat tanggapan dari laporan karyawan kepada
pihak luar tersebut. Jadi apabila ada seorang karyawan atau mantan karyawan yang
melaporkan kegiatan perusahaan yang tidak etis kepada pihak berwenang itu bukan
merukapakn kesalahan sebatas :
a. Ada bukti yang kuat, jelas dan komprehensif.
b. Karyawan telah memalui proses whistle blowing internal.
c. Dapat dipastikan bahwa tindakan whistle blowing eksternal tersebut dapat mencegah
praktek tidak etis tersebut.
d. Pelanggaran etika yang dilakukan perusahaan cukup serius dan merugikan kalayak
banyak serta lebih buruk dibandingkan akibat tindakan whistle blowing pada diri
sesrorang, keluarganya dan pihak lain.
Contoh kasus Jeffrey Wigand adalah seorang Whistle Blower yang sangat terkenal di
Amerika Serikat sebagai pengungkap sekandal perusahaan The Big Tobbaco. Perusahaan
ini tahu bahwa rokok adalah produk yang addictive dan perusahaan ini menambahkan
8

bahan carcinogenic didalam ramuan rokok tersebut. Kita tahu bahwa carcinogenic adalah
bahan berbahaya yang dapat menimbulkan kanker. Yang perlu diingat bahwa Whistle
Blower tidak hanya pekerja atau karyawan dalam bisnis melainkan juga anggota di dalam
suatu institusi pemerintahan (Contoh Khairiansyah adalah auditor di sebuah institusi
pemerintah benama BPK). Didalam dunia nyata yang mengalami pelanggran dalam hal
hukum tidak hanya terjadi di dalam perusahaan atau institusi pemerintahan yang dapat
menimbulkan ancaman secara substansial bagi masyarakat akibat dari tindakan Whistle
Blowing.
Secara lengkapnya seorang whistle blower telah menyimpang dari kepentingan
perusahaan. Jika pengungkapan ternyata dilarang oleh hukum atau diminta atas perintah
eksekutif untuk tetap dijaga kerahasiannya maka laporan seoarang whistle blower tidak
dianggap berkhianat. Bagaimanapun juga di amerika serikat tidak ada kasus dimana
seorang whistle blower diadili karena dianggap berkhianat . Terlebih lagi di dalam U.S
federal whistleblower statues, untuk dianggap sebagai seorang whistle blower seorang
pekerja harus secara beralasan yakin bahwa seseorang atau institusi atau organisasi
ataupun perusahaan telah melakukan tindakan pelanggaran hukum.

4. Hak Untuk Berpartisipasi


Perusahaan harus memberikan peran bagi karyawan-karyawannya dalam pengmbilan
keputusan.
Langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk mewujudkan hal tersebut adalah :
a. Keputusan harus ditetapkan melalui proses diskusi yang menyeluruh dan bebas bagi
para pegawai.
b. Memberikan hak untuk membuat keputusan tentyang aktivitas-aktivitas yang
bersangkutan dengan pekerjaan mereka.
c. Mengizinkan pegawai turut serta dalam pengambilan keputusan besar yang
berpengaruh pada operasi perusahaan secara umum.
5. Hak Proses Yang Layak Dan PHK Sepihak
Proses yang layak mengacu kepada proses yang adil saat pembuat keputusan
menetapkan sanksi kepada karyawan. Proses yang layak menjamin bahwa individu tidak
diperlakukan secara sewenang-wenang, tidak adil, kejam, dan juga menetapkan batasan
moral atas pelaksanaan kekuasaan atasan.
6. Hak Pegawai dan Penutupan Perusahaan
Meskipun penutupan perusahaan terkadang perlu, namun pihak perusahaan juga harus
menghargai hak-hak pegawai dan tidak merugikan mereka. Langkah-langkah yang dapak
dilakukan untuk menekan pengaruh yang merugikan bagi pegawai adalah :
a.
b.
c.
d.

Pemberitahuan sebelum pabrik ditutup.


Pemberian pesangon saat perusahaan dinyatakan tutup.
Jaminan kesehatan paling tidak ditanggung perusahaan selama satu tahun.
Karyawan yang akan pensiun dalam waktu tiga tahun layak mendapatkan

uang

pension.
e. Jika perusahaan memiliki anak perusahaan yang lain hendaknya mentransfer
karyawannya untuk bekerja di anak perusahaannya yang lain.
f. Perusahaan bisa melakukan pelatihan kembali bagi karyawan yang ditransfer.
g. Pemberian kesempatan bagi pegawai untuk turut serta dalam kesempatan membeli
perusahaan.
h. Perusahaan harus membayar pajak lokal selama lima tahun.
7. Hak Untuk Berserikat

10

Pegawai berhak untuk menjalin hubungan satu sama lain dan membentuk serta
menjalankan serikat pekerja untuk mencapai tujuan-tujuan moral yang sah. Pekerja juga
berhak melakukan pemogokan apabila ada praktek tidak etis dari perusahaan.
Etika Dan Stakeholder Karyawan dalam pandangan Islam
Etika
Secara etimologi, Etika (ethics) yang berasal dari bahasa Yunani ethikos mempunyai
beragam arti : pertama, sebagai analisis konsep-konsep terhadap apa yang harus, mesti,
tugas, aturan-aturan moral, benar, salah, wajib, tanggung jawab dan lain-lain. Kedua,
aplikasi ke dalam watak moralitas atau tindakan-tindakan moral. Ketiga, aktualisasi
kehidupan yang baik secara moral.
Menurut Ahmad Amin memberikan batasan bahwa etika atau akhlak adalah ilmu yang
menjelaskan arti yang baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh
manusia kepada lainnya, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia dalam
perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang harus diperbuat.
Bisnis
Kata bisnis dalam Al-Quran biasanya yang digunakan al-tijarah, al-bai,
tadayantum, dan isytara. Tetapi yang seringkali digunakan yaitu al-tijarah dan dalam
bahasa arab tijaraha, berawal dari kata dasar t-j-r, tajara, tajran wa tijarata, yang
bermakna berdagang atau berniaga. At-tijaratun walmutjar yaitu perdagangan, perniagaan
(menurut kamus al-munawwir).
DEFINISI ETIKA BISNIS DALAM EKONOMI ISLAM
Dari uraian diatas, maka dapat disimpulkan kalau etika sebagai perangkat prinsip
moral yang membedakan apa yang benar dari apa yang salah, sedangkan bisnis adalah
suatu serangkaian peristiwa yang melibatkan pelaku bisnis, maka etika diperlukan dalam
bisnis.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa, Etika bisnis adalah norma-norma atau
kaidah etik yang dianut oleh bisnis, baik sebagai institusi atau organisasi, maupun dalam
interaksi bisnisnya dengan stakeholdersnya.
An Nisa' : 29
11

Yang artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan
harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku
dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu;
Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Larangan membunuh diri
sendiri mencakup juga larangan membunuh orang lain, sebab membunuh orang lain
berarti membunuh diri sendiri, karena umat merupakan suatu kesatuan.
Dari tinjauan Islam identifikasi stakeholder dari perspektif teori stakeholder
konvensional masih memiliki kekurangan yang dianggap fundamental, yakni belum
memasukkan unsur yang bersifat spiritual, yaitu hubungan manusia yang menjalankan
proses bisnis dengan Tuhan. Dimana Allah SWT sebagai pemilik mutlak dari segala
sesuatu akan meminta pertanggungjawaban manusia atas apa yang telah mereka lakukan.
Hubungan manusia dengan Tuhan dilaksanakan dengan menjalankan perintah dan
larangannya baik yang berkaitan dengan, aqidah, syariah, maupun akhlak. Dan ketiga hal
ini senantiasa saling berhubungan. Berkaitan dengan proses bisnis yang merupakan
hubungan antara sesama manusia syariah syarIslam memberikan aturan yang disebutkan
dalam sebagai muamalah.
Chapra dan Ahmed (2002:14) menyatakan bahwa the most important stakeholder in
the case of Islamic finance is Islam itself. Dengan demikian institusi keuangan Islam
harus senantiasa memerhatikan nilai-nilai Islam dalam menjalankan bisnisnya.

12

Contoh kasus
PT Freeport Indonesia (PTFI) merupakan perusahaan afiliasi dari Freeport-McMoRan
Copper & Gold Inc. PTFI menambang, memproses dan melakukan eksplorasi terhadap
bijih yang mengandung tembaga, emas dan perak. Beroperasi di daerah dataran tinggi di
Kabupaten Mimika Provinsi Papua, Indonesia. Kami memasarkan konsentrat yang
mengandung tembaga, emas dan perak ke seluruh penjuru dunia. PT Freeport Indonesia
merupakan jenis perusahaan multinasional (MNC),yaitu perusahaan internasional atau
transnasional yang berkantor pusat di satu negara tetapi kantor cabang di berbagai negara
maju dan berkembang.
Contoh kasus pelanggaran etika yang dilakukan oleh PT. Freeport Indonesia :
Mogoknya hampir seluruh pekerja PT Freeport Indonesia (FI) disebabkan perbedaan
indeks standar gaji yang diterapkan oleh manajemen pada operasional Freeport di seluruh
dunia. Pekerja Freeport di Indonesia diketahui mendapatkan gaji lebih rendah daripada
pekerja Freeport di negara lain untuk level jabatan yang sama. Gaji sekarang per jam
USD 1,5USD 3. Padahal, bandingan gaji di negara lain mencapai USD 15USD 35 per
jam. Sejauh ini, perundingannya masih menemui jalan buntu. Manajemen Freeport
bersikeras menolak tuntutan pekerja, entah apa dasar pertimbangannya.

13

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari uraian pembahasan diatas kita dapat menarik kesimpulan :
1. Model Organisasi rasional mengasumsikan pegawai sebagai agen yang secara bebas
dan sadar telah setuju untuk menerima otoritas formal organisasi dan berbagai dan
berusaha meraih tujuan organisasi dan sebagai gantinya mereka memperoleh
dukungan dalam bentuk gaji dan kondisi kerja yang baik.
2. Dalam kewajiban pegawai terhadap perusahaan, kewajiban moral utama pegawai
adalah untuk bekerja mencapai tujuan perusahaan dan menghindari kegiatan-kegiatan
yang mungkin mengancam tujuan tersebut seperti bersikap tidak etis dan berusaha
meraih kepentingan sendiri.
a. Konflik Kepentingan
b. Pencurian Pegawai dan Komputer
c. Insider Trading
3. Dalam menjalankan kewajiban perusahaan terhadap pegawai antara lain perusahaan
harus memenuhi :
a. Gaji
b. Kondisi Kerja
Kondisi kerja ada kaitannya dengan kesehatan dan keamanan serta kepuasan kerja.
4. Analisis politik akan organisasi yang akan kita lihat sekarang adalah pandangan yang
lebih mutakhir tentang organisasi dibanding analisis rasional. Tidak seperti model
rasional, model politik organisasi tidak hanya melihat pada garis kewenangan
(otoritas) dan komunikasi dalam organisasi ataupun mengasumsikan bahwa semua
perilaku organisasi secara rasional didesain untuk mencapai suatu tujuan dan sasaran
ekonomi seperti keuntungan atau produktivitas.
5. Hak dari pegawai diantaranya :
a. Hak Privasi, adalah hak individu untuk menentukan apa, dengan siapa, seberapa
banyak informasi tentang dirinya yang boleh diketahui atau diungkapkan kepada
orang lain.

b. Kebebasan Suara Hati, Seorang karyawan bebas untuk tidak melakukan sesuatu
yang dianggapnya salah sehingga perusahaan tidak boleh memaksa seorang
14

karyawan untuk melakukan suatu pekerjaan yang secara nurani dianggapnya


salah.
c. Whistle Blowing, Usaha yang dilakukan oleh karyawan atau mantan karyawan
untuk mengungkapkan kesalahan perusahaan. Orang yang melakukan tindakan
whistle blowing tersebut di sebut whistle blower. Whistle blowing bisa bersifat
internal dan eksternal. Jadi apabila ada seorang karyawan atau mantan karyawan
yang melaporkan kegiatan perusahaan yang tidak etis kepada pihak berwenang itu
bukan merukapakn kesalahan sebatas :

Ada bukti yang kuat, jelas dan komprehensif.


Karyawan telah memalui proses whistle blowing internal.
Dapat dipastikan bahwa tindakan whistle blowing eksternal tersebut dapat mencegah

praktek tidak etis tersebut.


Pelanggaran etika yang dilakukan perusahaan cukup serius dan merugikan kalayak
banyak serta lebih buruk dibandingkan akibat tindakan whistle blowing pada diri
sesrorang, keluarganya dan pihak lain.
d. Hak Untuk Berpartisipasi, Perusahaan harus memberikan peran bagi karyawankaryawannya dalam pengmbilan keputusan. Langkah-langkah yang dapat

ditempuh untuk mewujudkan hal tersebut adalah :


Keputusan harus ditetapkan melalui proses diskusi yang menyeluruh dan bebas bagi

para pegawai.
Memberikan hak untuk membuat keputusan tentyang aktivitas-aktivitas yang

bersangkutan dengan pekerjaan mereka.


Mengizinkan pegawai turut serta dalam pengambilan keputusan besar yang
berpengaruh pada operasi perusahaan secara umum.

15

e. Hak Proses Yang Layak Dan PHK Sepihak, Proses yang layak mengacu kepada
proses yang adil saat pembuat keputusan menetapkan sanksi kepada karyawan.
Proses yang layak menjamin bahwa individu tidak diperlakukan secara sewenangwenang, tidak adil, kejam, dan juga menetapkan batasan moral atas pelaksanaan
kekuasaan atasan.
f. Hak Pegawai dan Penutupan Perusahaan, Meskipun penutupan perusahaan
terkadang perlu, namun pihak perusahaan juga harus menghargai hak-hak pegawai
dan tidak merugikan mereka. Langkah-langkah yang dapak dilakukan untuk

menekan pengaruh yang merugikan bagi pegawai adalah :


Pemberitahuan sebelum pabrik ditutup.
Pemberian pesangon saat perusahaan dinyatakan tutup.
Jaminan kesehatan paling tidak ditanggung perusahaan selama satu tahun.
Karyawan yang akan pensiun dalam waktu tiga tahun layak mendapatkan uang

pension.
Jika perusahaan memiliki anak perusahaan yang lain hendaknya mentransfer
karyawannya untuk bekerja di anak perusahaannya yang lain.
g. Hak Untuk Berserikat, Pegawai berhak untuk menjalin hubungan satu sama lain

dan membentuk serta menjalankan serikat pekerja untuk mencapai tujuan-tujuan


moral yang sah.

16