Anda di halaman 1dari 3

Tanatologi

Definisi
Tanatologi berasal dari kata thanatos (yang berhubungan dengan kematian) dan
logos (ilmu). Tanatologi adalah bagian dari Ilmu Kedokteran Forensik yang
mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan kematian yaitu definisi atau batasan mati,
perubahan yang terjadi pada tubuh setelah terjadi kematian dan faktor-faktor yang
mempengaruhi perubahan tersebut (Afandi, 2012).
Mati menurut ilmu kedokteran didefinisikan sebagai berhentinya fungsi sirkulasi
dan respirasi secara permanen (mati klinis). Dengan adanya perkembangan teknologi
ada alat yang bisa menggantikan fungsi sirkulasi dan respirasi secara buatan. Oleh
karena itu definisi kematian berkembang menjadi kematian batang otak. Brain death is
death. Mati adalah kematian batang otak (Idries, 2010).
Manfaat
Ada tiga manfaat tanatologi ini, antara lain yaitu :
1. Untuk dapat menetapkan hidup atau matinya korban.
2. Memperkirakan lama kematian korban.
3. Menentukan wajar atau tidak wajarnya kematian korban.
Menetapkan apakah korban masih hidup atau telah mati dapat kita ketahui dari
masih adanya tanda kehidupan dan tanda-tanda kematian. Tanda kehidupan dapat kita
nilai dari masih aktifnya siklus oksigen yang berlangsung dalam tubuh korban.
Sebaliknya, tidak aktifnya siklus oksigen menjadi tanda kematian (Idries, 2010).
Jenis Kematian
Agar suatu kehidupan seseorang dapat berlangsung, terdapat tiga sistem yang
mempengaruhinya. Ketiga sistem utama tersebut antara lain sistem persarafan, sistem
kardiovaskuler dan sistem pernapasan. Ketiga sistem itu sangat mempengaruhi satu
sama lainnya, ketika terjadi gangguan pada satu sistem, maka sistem-sistem yang
lainnya juga akan ikut berpengaruh (Afandi, 2012).
Dalam tanatologi dikenal beberapa istilah tentang mati, yaitu mati somatis (mati
klinis), mati suri, mati seluler, mati serebral dan mati otak (mati batang otak).

Mati somatis (mati klinis) ialah suatu keadaan dimana oleh karena sesuatu
sebab terjadi gangguan pada ketiga sistem utama tersebut yang bersifat menetap (Idries,
2010).
Pada kejadian mati somatis ini secara klinis tidak ditemukan adanya refleks,
elektro ensefalografi (EEG) mendatar, nadi tidak teraba, denyut jantung tidak terdengar,
tidak ada gerak pernapasan dan suara napas tidak terdengar saat auskultasi.
Mati suri (apparent death) ialah suatu keadaan yang mirip dengan kematian
somatis, akan tetapi gangguan yang terdapat pada ketiga sistem bersifat sementara.
Kasus seperti ini sering ditemukan pada kasus keracunan obat tidur, tersengat aliran
listrik dan tenggelam (Idries, 2010).
Mati seluler (mati molekuler) ialah suatu kematian organ atau jaringan tubuh
yang timbul beberapa saat setelah kematian somatis. Daya tahan hidup masing-masing
organ atau jaringan berbeda-beda, sehingga terjadinya kematian seluler pada tiap organ
tidak bersamaan (Budiyanto, 1997).
Mati serebral ialah suatu kematian akibat kerusakan kedua hemisfer otak yang
irreversible kecuali batang otak dan serebelum, sedangkan kedua sistem lainnya yaitu
sistem pernapasan dan kardiovaskuler masih berfungsi dengan bantuan alat (Budiyanto,
1997).
Mati otak (mati batang otak) ialah kematian dimana bila telah terjadi kerusakan
seluruh isi neuronal intrakranial yang irreversible, termasuk batang otak dan serebelum.
Dengan diketahuinya mati otak (mati batang otak) maka dapat dikatakan seseorang
secara keseluruhan tidak dapat dinyatakan hidup lagi, sehingga alat bantu dapat
dihentikan (Budiyanto, 1997).

DAFTAR PUSTAKA
Afandi, D. 2012. Profile of medicolegal autopsies in Pekanbaru, Indonesia 20072011. Malaysian J Pathol 2012; 34(2) : 123 126
Idries A, tjiptomartono A. 2010. Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam
proses Penyidikan. Jakarta: Sagung Seto
Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S. 1997. Ilmu Kedokteran Forensik.
Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia