Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dewasa ini benturan kepentingan antar negara-negara di kawasan
manapun berpotensi menyebabkan konflik dan bisa menciptakan instabilitas
baik secara global maupun regional, konflik kepentingan yang bersumber
dari kepentingan ekonomi, politik, sosial apabila tidak di manage dengan
baik, bisa berujung terjadinya konflik secara langsung yang melibatkan
kekuatan militer antar negara-negara tertentu yang merasa national interest
mereka terusik. Salah satu masalah internasional yang terjadi adalah konflik
di kawasan Asia Pasifik.
Gambaran politik di kawasan Asia Pasifik cenderung bernuansa
muram sekaligus memanas. Laut Cina Selatan yang menjadi titik tumpu
geopolitik di kawasan Asia Pasifik sedang menjadi suatu pembicaraan tingkat
internasional karena menyebabkan tersulutnya konflik antara sejumlah negara
besar di Asia dan beberapa negara-anggota ASEAN. Inti masalah yang
diperdebatkan adalah seputar klaim wilayah perbatasan (territorial zone).
Hingga akhir tahun lalu, sengketa wilayah Laut Cina Selatan ini telah
memberikan dampak yang cukup dramatis terhadap gelombang polarisasi
kekuatan negara-negara yang bertikai.
Negara-negara yang terlibat konflik klaim wilayah teritori di laut
China selatan ada 6 (enam) negara, 4 (empat) negara anggota ASEAN
(Malaysia, Philipina, Vietnam, Brunei) dengan China dan Taiwan, menurut
argumennya masingmasing bahwa sebagian wilayah laut China selatan
adalah wilayah kedaulatannya. Indonesia meskipun tidak termasuk Claimant
State tapi ada bagian dari pulau Natuna apabila China memaksakan klaim
teritori akan masuk wilayah China, maka konflik di Laut China Selatan akan
melibatkan Indonesia juga. Dan baru-baru ini konflik di Laut China Selatan

telah melibatkan Indonesia, yatu konflik yang terjadi antara Indonesia dan
Tiongkok sebenarnya terjadi di wilayah perairan Indonesia yaitu di kepuluan
Natuna. Yang dimana kepulauan ini berbatasan langsung dengan laut China
selatan.
Dengan melihat bahwa Indonesia telah ikut terganggu dengan masalah
di Laut China Selatan, maka hal inilah yang melatarbelakangi penulis dalam
membuat makalah ini.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam maklah ini adalah
sebagai berikut :
1. Bagaimana sejarah awal kemunculan masalah di laut China Selatan ?
1. Apa yang melatarbelakangi konflik yang terjadi antara Indonesia dengan
Tiongkok ?
2. Masalah apa yang terjadi antara Indonesia dengan Tiongkok ?
3. Tindakan apa yang telah diambil oleh pihak Indonesia terkait dengan
masalah tersebut ?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan yang akan dicapai dalam makalah ini adalah sebagai
berikut :
1. Untuk Mengetahui sejarah awal kemunculan masalah di laut China

Selatan hingga saat ini


2. Untuk Mengetahui latar Belakang konflik yang terjadi antara Indonesia

dengan Tiongkok
3. Untuk Mengetahui lebih dalam masalah yang terjadi antara Indonesia
dengan Tiongkok terkait dengan Laut China Selatan
4. Untuk Mengetahui langka yang diambil oleh pihak Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah awal kemunculan masalah di laut China Selatan
Sebuah kawasan atau negara dibelahan bumi ini akan menjadi
primadona bagi kawasan atau negara lain manakala kawasan atau Negara
tersebut mempunyai aspek strategis yang bisa mempengaruhi baik langsung
maupun tidak langsung terhadap kepentingan kawasan dan negara tertentu.
Demikian halnya dengan kasus Laut China Selatan.
Ada dua aspek yang membuat Laut China Selatan menjadi penting
bagi Negara manapun adalah sebagai berikut :
1. Letak Geografis

Secara Geografi Laut Cina Selatan dikelilingi sepuluh negara


pantai (RRC dan Taiwan, Vietnam, Kamboja, Thailand, Malaysia,
Singapura, Indonesia, Brunei Darussalam, Filipina). Luas perairan Laut
Cina Selatan mencakup Teluk Siam yang dibatasi Vietnam, Kamboja,
Thailand dan Malaysia serta Teluk Tonkin yang dibatasi Vietnam dan
RRC. Kawasan Laut Cina Selatan (LCS) merupakan kawasan bernilai
ekonomis, politis dan strategis yang sangat penting, kondisi geografis
posisinya yang strategis sebagai jalur pelayaran perdagangan (SLOT) dan
jalur komunikasi internasional (SLOC) yang menghubungkan Samudera
Hindia dan Samudera Pasifik. Hal ini telah merubah jalur laut China
selatan menjadi rute tersibuk di dunia, karena lebih dari setengah
perdagangan dunia berlayar melewati Laut Cina Selatan setiap tahun.
Tentang data perdagangan 3 Negara raksasa ekonomi: India,
Amerika Serikat dan Jepang). Diperkirakan lebih dari setengah dari
jumlah kapal kapal super tanker dunia melewati jalur laut ini.

2. Potensi ekonomi dan pentingnya geopolitik.


Kandungan kekayaan Alam yang ada di kawasan Laut Cina Selatan
telah menyebabkan terjadinya konflik klaim wilayah antara China dan
sebagian negara negara anggota ASEAN yang berada wilayah Laut Cina
Selatan. Menurut data Kementrian Geologi dan Sumber Daya Mineral
Daya Republik Rakyat Cina (RRC) memperkirakan bahwa wilayah
Spratly mempunyai cadangan minyak dan gas alam 17,7 miliar ton (1. 60
1010 kg), lebih besar di banding Kuwait negara yang menempati
ranking ke 4 yang mempunyai cadangan minyak terbesar dunia saat ini
dengan jumlah 13 miliar ton (1,17 1010 kg).
Sementara kandungan gas alam di Laut Cina Selatan mungkin
merupakan sumber hidrokarbon yang paling melimpah. Sebagian besar
hidrokarbon kawasan Laut Cina Selatan dieksplorasi oleh Brunei,
Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina. Perkiraan menurut
United States Geological Survey dan sumber lain-lain menunjukkan
bahwa sekitar 60% -70% dari hidrokarbon di Laut Cina Selatan adalah
gas sementara itu, penggunaan gas alam di wilayah ini diproyeksikan
akan tumbuh sebesar 5% per tahun selama dua dekade mendatang,
diperkirakan bisa mencapai sebanyak 20 triliun kaki kubik (Tcf ) per
tahun lebih cepat daripada bahan bakar lainnya.
Potensi kandungan cadangan minyak dan gas di Laut Cina Selatan
ini juga telah memicu semakin intensifnya situasi klaim teritorial dari
negara-negara yang terlibat. adalah sumber daya alam yang sudah di
ekplorasi Claimant states dan non Claimant States di LCS)
Kedua faktor penting yang diuraikan diatas adalah alasan rasional
yang menyebabkan wilayah Laut Cina Selatan menjadi sengketa antara 4
(empat) negara ASEAN (Vietnam, Philipina, Malaysia dan Brunei)
dengan Cina dan Taiwan, penyelesaian permanen masalah Laut Cina

Selatan berdasarkan hukum internasional dan harus disepakati oleh semua


pihak yang bertikai adalah solusi terbaik agar tidak menimbulkan potensi
konflik militer.
Namun harus diakui bahwa sengketa Laut Cina Selatan adalah
persoalan yang tidak mudah serta membutuhkan waktu yang panjang,
bagi Indonesia meskipun tidak termasuk Claimant State tetapi juga punya
kepentingan di Laut Cina Selatan, karena konflik klaim wilayah secara
tidak langsung dengan China telah terjadi sekarang, menyangkut wilayah
NKRI

yakni

Pulau

Natuna,

Khususnya

Natuna

Blok

A.

Negara yang teribat sengketa Laut China Selatan dan Persepsi masingmasing Claimant States tentang legalitas kepemilikan Wilayah Laut China
Selatan.
Pihak yang bertikai mempunyai argument argument masing-masing
untuk melegetimasi klaim kepemilikan wilayah yang disengketakan menurut
versinya masing-masing seperti dibawah ini sebagai berikut :
1. CHINA
China beranggapan bahwa Laut Cina Selatan merupakan wilayah
kedaulatannya, China berpedoman pada latar belakang sejarah China
kuno tentang peta wilayah kedaulatan China. Menurut China Pulau, pulau
dan wilayah Laut Cina Selatan ditemukan oleh pendahulu China yakni
Dinasti Han sejak 2 abad sebelum Masehi yang pada abad 12 sebelum
Masehi oleh Dinasti Yuan pulau pulau dan wilayah laut di LCS di
masukkan kedalam peta teritori China kemudian diperkuat dengan
Dinasti Ming dan Dinasti Qing pada abad ke 13 sebelum masehi.
Pada awal ke-19 dan abad ke 20 Cina mengemukakan bahwa
kepulauan Spratly jaraknya kurang lebih 1. 100 km dari pelabuhan Yu Lin
(P. Hainan) sebagai bagian dari kepulauan Nansha dan Kepulauan Paracel
yang terletak di sebelah utara Kepulauan Spratly, jaraknya kurang lebih
277,8 km dari Pulau Hainan sebagai bagian dari Kepulauan Xisha bagian
dari provinsi Hainan.
Pada tahun 1947 China memproduksi peta Laut Cina Selatan
dengan 9 garis putus-putus dan membentuk huruf U, serta menyatakan

semua wilayah yang ada di dalam di garis merah terputus putus itu adalah
wilayah teritori China. Sejak tahun 1976 Cina telah menduduki beberapa
pulau di Kepulauan Paracel dan pada tahun 1992 hukum Cina
menegaskan kembali klaim tersebut.
2. TAIWAN.
Meskipun Taiwan masih dianggap bagian utuh dari Cina, tapi
Taiwan pun sama mengklaim kepemilikan di wilayah LCS, klaim oleh
Taiwan juga tidak ada argumen hukum yang jelas, saat ini Taiwan
menguasai Pulau Aba [Taiping Dao], satu-satunya pulau terbesar di antara
pulau-pulau di kepulauan Spratlys.
3. VIETNAM.
Klaim Vietnam didasarkan pada latar belakang sejarah ketika
Perancis tahun 1930-an masih menjajah Vietnam saat itu kepulauan
Spratly dan Paracel dibawah kontrol Perancis. Setelah merdeka dari
Perancis Vietnam mengklaim kedua pulau tsb, serta memakai argumen
dasar landas kontinen. Vietnam mengklaim kepulauan Spratly sebagai
daerah lepas pantai provinsi Khanh Hoa. Klaim Vietnam mencakup area
yang cukup luas di Laut Cina Selatan dan Vietnam telah menduduki
sebagian Kepulauan Spratly serta Kepulauan Paracel sebagai wilayahnya.
4. PHILIPINA.
Philipina mengklaim Spratly berdasarkan pada prinsip landas
kontinen serta eksplorasi Spratly oleh seorang penjelajah Filipina pada
tahun 1956, menurut data penjelajah Philipina bahwa pulau-pulau yang
diklaim adalah: 1) bukan bagian dari Kepulauan Spratly, dan 2) tidak
milik oleh negara manapun serta terbuka untuk diklaim. Tahun 1971,
Philipina secara resmi menyatakan 8 pulau di Spratly sebagai bagian dari
provinsi Palawan. Ada 8 pulau yang klaim dan dikuasai Philipina di
Spratly, luas total lahan pulau-pulau ini adalah 790. 000 meter persegi.
5. MALAYSIA
Klaim Malaysia berdasarkan atas sebagian wilayah di Spratly
didasarkan pada prinsip landas kontinen, berkaitan dengan hal itu
Malaysia telah membuat batas yang diklaimnya dengan koordinat yang
jelas. Malaysia telah menempati tiga pulau yang dianggap berada dalam
landas kontinennya. Malaysia telah mencoba untuk membangun garis
antar pulau dengan mengunakan pasir dan tanah.

6. BRUNEI.
Brunei Tidak mengklaim pulau-pulau, tetapi mengklaim bagian
dari Laut Cina Selatan terdekat sebagai bagian dari landas kontinen dan
Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Pada tahun 1984, Brunei mengumumkan
ZEE yang meliputi Louisa Reef di Kepulauan Spratly.
2.2 Konflik yang terejadi antara Indonesia dengan Tiongkok di laut China
Selatan
Konflik RI dengan Tiongkok di laut China Selatan lebih tepatnya
konflik yang terjadi antara Indonesia dan Tiongkok sebenarnya terjadi di
wilayah perairan Indonesia yaitu di kepuluan Natuna. Yang dimana
kepulauan ini berbatasan langsung dengan laut china selatan.
Konflik yang terjadi berawal dari kapal nelayan Tiongkok yang
tertangkap oleh satuan petugas pemberantasan illegal fishing, yang dimana
kapal nelayan tiongkok tertangkap tangan telah memasuki wilayah perairan
Indonesia
Kapal nelayan Tiongkok ini di duga telah melakukan illegal fishing di
perairan Indonesia yaitu lebih tepatnya di perairan kepuluan Natuna

Proses penangkapan berlangsung dramatis dan dikuti adegan kejar-kejaran


dengan kapal patroli penjaga pantai milik Tiongkok (coast guard).

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti membeberkan kronologi


proses penangkapan kapal maling ikan KM Kway Fey 10078. Berikut detikdetik pengejaran KM Hiu 11 dengan Kapal KM Kway Fey dengan bekingan
kapal coast guard China:
1. Deteksi Target Operasi (TO) hari Sabtu (19/3/2016) pukul 14.15. Posisi

Kapal Ikan Asing (KIA) berada di wilayah Indonesia


2. TO kemudian dikejar dan diberhentikan, tapi kapal tidak mau berhenti.

Pihak Kapal Pengawas lalu memberkan tembakan peringatan, namun


kapal tersebut tetap berusaha melarikan diri dengan meluncur zig
zag, sehingga KP Hiu 11 mendekat dan tidak bisa menghindari tabrakan
3. Tiga orang personil KP Hiu 11 melompat ke kapal tangkapan dan

berhasil melumpuhkan TO. Sebanyak 8 ABK kapal tangkapan


dipindahkan ke KP Hiu 11
4. Pemeriksaan dan pemindahan ABK kapal tangkapan ke Hiu 11,

komandan kapal Kapten Pengawas La Edi, dan sebaliknya pada pukul


15.00. Selanjutnya kapal tersebut dibawa.
5. Dalam perjalanan pengawalan, tiba tiba satu kapal coast guard China

mengejar. KP Hiu 11 mencoba menghubungi lewat radio dan tidak ada


jawaban,

kemudian

KP

Hiu

11,

menghubungi

Lanal

untuk

memberitahukan perihal kejadian tersebut


6. Kapal coast guard dengan kecepatan 25 knots, kemudian setelah mereka

mendekat, mereka menyorot dengan lampu sorot, kemudian menabrak


kapal tangkapan. Setelah kapal tangkapan berhenti dan melihat ada 3
orang anggota KP Hiu 11
7. Mereka pun tidak jadi naik, namun tetap mengawasi. Karena kapal

tangkapan rusak, akibat ditabrak, sehingga 3 personil KP Hiu 11


memutuskan kembali ke KP Hiu 11, dan meninggalkan kapal tangkapan
8. "Jadi kejadian menabraknya pada saat mau di bawa ke Natuna. Kapal
coast guard nabrak kapal tangkapan tersebut," tegas Susi.
9. Coast guard China merapat ke kapal tangkapan pada tanggal 20 Maret

2016, pukul 01.45 WIB dengan Posisi 0409,942'N 108 34,824'E


10. Kemudian KP Hiu 11 meninggalkan kapal tangkapan tersebut, untuk

menghindari kejadian yang tidak diinginkan.