Anda di halaman 1dari 8

Volume II No.

4 Tahun 2009

Jurnal Kesehatan

PELAYANAN KEFARMASIAN DALAM PENATALAKSANAAN


DIABETES MELITUS
Haeria
Staf Pengajar Program Studi Farmasi
Fakultas Ilmu Kesehatan UIN Alauddin Makassar

Abstrak
Diabetes Melitus merupakan salah satu penyakit degenerative dan tergolong dalam
sepuluh besar penyakit di Indonesia. Penatalaksanaan penyakit DM ini memerlukan suatu
pelayanan kesehatan yang terpadu. Farmasis memegang peranan penting dalam hal pelayanan
kefarmasiannya untuk mewujudakan asuhan kefarmasian sesuai dengan kompetensinya. Peranan
farmasis ini terumus dalam Seven Stars Pharmacist sehingga seorang farmasis tidak hanya
terlibat dalam aspek farmakoterapi, tetapi dapat terlibat dalam berbagai tahap pengelolaan
diabetes.
Kata kunci: Diabetes Melitus, Pelayanan Kefarmasian

PENDAHULUAN

multidisiplin yang mencakup terapi nonobat dan terapi obat.


Penatalaksanaan diabetes yang
membutuhkan kerjasama yang erat dan
terpadu dari penderita dan keluarga dengan
para tenaga kesehatan antara lain dokter,
farmasis dan ahli gizi. Pentingnya peranan
seorang farmasis dalam keberhasilan
pengelolaan diabetes ini karena farmasis
memiliki frekuensi pertemuan dengan
pasien yang lebih banyak, sehingga dapat
memberikan pelayanan kefarmasian yang
professional.
Pada tahun 1997, WHO telah
merumuskan 7 peranan farmasi dalam
rangka mengoptimalkan pelayanan
kefarmasian terhadap penderita suatu
penyakit. Rumusan ini dikenal dengan
Seven Stars Pharmacist yang terdiri dari:
1. Sebagai care-giver (pemberi pelayanan)

iabetes Melitus (DM) didefinisikan sebagai suatu penyakit atau


gangguan metabolisme kronis
dengan multi etiologi yang ditandai dengan
tingginya kadar gula darah disertai dengan
gangguan metabolism karbohidrat, lipid
dan protein sebagai akibat insufisiensi
fungsi insulin. Insufisiensi insulin dapat
disebabkan oleh gangguan atau defesiensi
produksi insulin oleh sel -sel beta
Langerhans kelenjar pancreas, atau disebabkan oleh kurang responsifnya sel-sel tubuh
terhadap insulin (WHO, 1999).
Walaupun Diabetes Melitus merupakan penyakit kronis dan tidak menyebabkan kematian secara langsung, tetapi dapat
berakibat fatal bila pengelolaannya tidak
tepat. Penanganan DM memerlukan cara

19

Haeria

Pelayanan Kefarmasian dalam Penatalaksanaan Diabetes Melitus

2. Sebagai decision-maker (pengambil


keputusan)
3. Sebagai Komunikator,
4. Sebagai Pemimpin,
5. Sebagai Manajer,
6. Sebagai Long-life learner (pembelajar
sepanjang hayat)
7. Sebagai Guru
Sehubungan dengan hal tersebut,
maka dapat dipahami bahwa dalam
penatalaksanaan diabetes, farmasis tidak
hanya terlibat dalam berbagai aspek
farmakoterapi atau yang berhubungan
dengan obat semata, tetapi lebih lagi dapat
terlihat dalam berbagai tahap dan aspek
pengelolaan diabetes, mulai dari skrining
diabetes sampai dengan pencegahan dan
penanganan komplikasi.

2. Pada DM tipe 2, gejala yang dikeluhkan


umumnya hampir tidak ada. Jenis DM
ini seringkali muncul tanpa diketahui,
dan penanganan baru dimulai beberapa
tahun kemudian ketika penyakit sudah
berkembang dan komplikasi sudah
terjadi. Penderita DM tipe 2 ini umumnya lebih mudah terkena infeksi, sukar
sembuh dari luka, daya penglihatan
memburuk, menderita hipertensi,
hiperlipidemia, obesitas, dan juga
komplikasi pada pembuluh darah dan
saraf.
Diagnosis klinis DM umumnya
diketahui apabila ada keluhan khas DM
yang berupa poliuria, polidipsia, polifagia,
dan penurunan berat badan yang tidak jelas
penyebabnya. Keluhan lain yang mungkin
adalah badan terasa lemah, sering
kesemutan, gatal-gatal, mata kabur, disfungsi
ereksi pria, dan pruritus vulvae pada
wanita.

Pengenalan Diabetes Melitus


Klasifikasi dibetes mellitus mengalami
perkembangan dan perubahan dari waktu
ke waktu. Oleh karena berbagai klasifikasi
yang dibuat dianggap kurang tepat seiring
dengan perkembangan penyakit serta
banyaknya kasus yang ditemukan, maka
saat ini ada kecenderungan untuk mengklasifikasi berdasarkan etiologi penyakitnya.

Kriteria penegakan diagnosis DM

Gejala Klinik dan Diagnosis


Diabetes seringkali muncul tanpa
gejala. Namun demikian ada beberapa
gejala yang harus diwaspadai sebagai
isyarat kemungkinan diabetes.
1. Pada DM tipe 1, gejala klasik yang
umum dikeluhkan adalah poliuria,
polidipsia, polifagia, penurunan berat
badan, cepat merasa lela (fatigue),
iritabilitas, dan pruritis.

Glukosa
plasma
puasa

Glukosa
plasma 2
jam setelah
makan

Normal

< 100 mg/dl

< 140 mg/dl

Pradiabetes

100 125
mg/dl
-

140 199
mg/dl

Diabetes

126 mg/dl

200 mg/dl

Penatalaksanaan Diabetes
Tujuan penatalaksanaan diabetes
adalah untuk menurunkan morbiditas dan
mortalitas DM, yang secara spesifik
ditujukan untuk:
20

Volume II No. 4 Tahun 2009

Jurnal Kesehatan
1. Menjaga agar kadar glukosa plasma
dalam keadaan kisaran normal.
2. Mencegah atau meminimalkan kemungkinan terjadinya komplikasi diabetes.
The American Diabetes Association
(ADA) merekomendasikan beberapa
parameter yang dapat digunakan untuk
menilai keberhasilan penatalaksanaan
diabetes.
Parameter

Kadar ideal

Kadar glukosa
darah puasa

80 120 mg/dl

Kadar glukosa
plasma puasa

90 130 mg/dl

Kadar glukosa
darah saat tidur

100 140 mg/dl

Kadar glukosa
plasma saat tidur

110 150 mg/dl

Kadar insulin

< 7%

Kadar HbA 1C

< 7 mg/dl

Kadar kolesterol
HDL

> 4 5 mg/dl (pria)

Kadar kolesterol
HDL

> 55 mg/dl
(wanita)

Kadar Trigliserida

< 200 mg/dl

Tekanan darah

< 130 / 80 mmHg

kepada pengaturan gaya hidup, yang


berupa pengaturan diet dan olahraga.
Diet yang baik adalah kunci suatu
keberhasilan penatalaksanaan diabetes
melitus. Diet yang dianjurkan adalah
makanan dengan komposisi gizi yang
seimbang, sesuai dengan kecukupan gizi
baik berikut ini:
- Karbohidrat : 60 70%
- Protein
: 10 -15%
- Lemak
: 20 -25 %
Penurunan berat badan telah dibuktikan dapat mengurangi resistensi insulin
dan memperbaiki respon sel-sel terhadap
stimulus glukosa dan setiap kilogram
penurunan berat badan dapat dihubungkan
dengan 3 -4 bulan tambahan waktu harapan
hidup.
Selain jumlah kalori, pilihan jenis
bahan makanan juga sangat penting untuk
diperhatikan. Masukan kolesterol yang
diperlukan dangan melebihi 300 mg
perhari. Sumber lemah diupayakan dari
bahan nabati karena mengandung asam
lemak tak jenuh. Sebagai sumber protein
yang paling baik adalah ikan, ayam
(terutama daging dada), tahu dan tempe,
karena tidak banyak mengandung lemak.
Masukan serat sangat penting bagi
penderita diabetes, diusahakan 25 gram
perhari. Serat ini berfungsi untuk
menghambat absorpsi lemak, juga dapat
mengatasi rasa lapar yang kerap dialami
penderita DM. Selain itu makanan berserat
seperti sayur dan buah-buahan segar
mengandung banyak vitamin dan mineral.
Berolah raga secara teratur dapat
menurunkan dan menjaga kadar gula darah
tetap normal. Olah raga yang disarankan

Pada dasarnya ada dua pendekatan


dalam penatalaksanaan diabetes, yang
pertama adalah pendekatan tanpa obat dan
kedua adalah pendekatan dengan obat.
Terapi Tanpa Obat
Terapi diabetes melitus dapat berupa
terapi tanpa penggunaan obat-obat diabetes
melitus. Tetapi jenis terapi ini terkhusus
21

Haeria

Pelayanan Kefarmasian dalam Penatalaksanaan Diabetes Melitus

adalah yang bersifat CRIPE (continuous,


rhythmical, interval, progressive, endurance
Training). Olah raga yang dilakukan
sedapat mungkin mencapai zona sasaran 75
85% denyut nadi maksimal. Olah raga
akan memperbanyak jumlah dan meningkatkan aktivitas reseptor insulin dalam tubuh
dan juga meningkatkan penggunaan
glukosa.

memberikan pendidikan dan konseling,


melakukan intervensi, dan menyelesaikan
terapi yang berhubungan dengan obat yang
meningkatkan pelayanan ke pasien dan
kesehatan secara keseluruhan. Kontribusi
farmasis ini pada intinya adalah penatalaksanaan penyakit, berarti mencakup
terapi obat dan non obat.
Mengidentifikasi dan penilaian kesehatan
pasien
Farmasis dapat mengidentifikasi
pasien-pasien yang tidak menyadari kalau
menderita diabetes melitus. Identifikasi
mentargetkan pasien-pasien dengan resiko
tinggi, termasuk pasien obese, pasien > 40
tahun, pasien dengan tekanan darah tinggi
atau dislipidemia, pasien dengan sejarah
keluarga diabetes, dan pasien yang
mempunyai sejarah gestasional diabetes
atau melahirkan anak dengan berat badan
> 4,5 kg. pasien -pasien ini dapat
diidentifikasi pada saat mereka mengambil
obat di apotik/rumah sakit. Farmasis dapat
menyarankan pasien untuk memeriksa
kadar gula darahnya.
Menilai status kesehatan pasien
dengan diabetes dan membuat rencana
jangka pendek dan jangka panjang
merupakan suatu tantangan bagi farmasis,
terutama di farmasi komunitas dimana
akses ke data laboratorium terbatas.
Berdasarkan ADA disarankan untuk
menilai keperluan pasien dan meyakinkan
agar perawatan standar terpenuhi.

Terapi Obat
Apabila penatalaksaan terapi tanpa
obat tidak berhasil mengendalikan kadar
glukosa darah penderita, maka perlu
dilakukan penatalaksanaan terapi dengan
obat, berupa insulin, obat hipoglikemik oral
(golongan sulfonylurea, meglitinida, turunan
fenilalanin, biguanidina, tiazolidindion,
inhibitor -glukosidase), atau kombinasi
keduanya.
Penatalaksanaan DM dengan terapi
obat dapat menimbulkan masalah-masalah
terkait dengan obat (drug related problems)
yang dialami penderita. Masalah ini
merupakan keadaan terjadinya ketidaksesuaian dalam pencapaian tujuan terapi
sebagai akibat pemberian obat. Aktivitas
untuk meminimalkannya merupakan
bagian dari proses pelayanan kefarmasian
(Hepler, 2003)
Pelayanan Kefarmasian
Menurut The National Community
Pharmacists Associations National Institute
for Pharmacist Care Outcome di USA,
kontribusi farmasis berfokus kepada
pencegahan dan perbaikan penyakit,
termasuk mengidentifikasi dan menilai
kesehatan pasien, memonitor, mengevaluasi,

Merujuk pasien
Salah satu peranan farmasis yang
tidak kalah pentingnya adalah merujuk
pasien kepada tim perawatan diabetes
22

Volume II No. 4 Tahun 2009

Jurnal Kesehatan
lainnya seperti bagian gizi, poliklinik mata,
pediatric, gigi, dan lainnya bila diperlukan.
Depresi juga sering dijumpai pada pasien
diabetes, sehingga dapat dirujuk ke bagian
penyakit jiwa bila diperlukan.

Menjaga dan meningkatkan kepatuhan


pasien terhadap jadwal terapi
Salah satu faktor utama kegagalan
sebuah terapi adalah ketidakpatuhan
terhadap terapi. Farmasis dapat memainkan
peranan penting dalam membantu pasien
mengikuti terapi. Untuk melakukan hal ini
secara efektif, farmasis harus mengerti
faktor-faktor yang harus mengerti faktorfaktor yang dapat mempengaruhi dan
menyebabkan ketidakpatuhan pasien
terhadap terapi, antara lain :
1. Regimen yang kompleks; studi menunjukkan kepatuhan paling tinggi terjadi bila
obat oral diminum 1 x sehari. Dan
kepatuhan akan semakin menurun bila
pasien mengkomsumsi beberapa obat
sekaligus.
2. Kurangnya pengetahuan pasien terhadap
penyakitnya; pasien akan patuh meminum
obatnya bila mereka menyadari bahwa
diabetes adalah penyakit yang serius
dengan konsekuensi yang serius pula.
Konsekuensi ini akan berkurang dengan
partisipasi aktif dari pasien.
- Kurangnya keyakinan pasien terhadap terapi/obat; pasien akan lebih
patuh meminum obatnya apabila
mereka menyadari bahwa obat yang
diminum benar-benar membantu
mengatasi penyakitnya.
- Kebingungan tentang petunjuk cara
meminum obat
- Biaya pengobatan yang tinggi
- Ada gangguan psikologi
- Ada gangguan kognitif
- Kurangnya dukungan dari keluarga
atau kerabat.

Memantau penatalaksanaan diabetes


Pemantauan terhadap kondisi penderita
dapat dilakukan farmasis pada saat
pertemuan konsultasi rutin atau pada saat
penderita menebus obat, atau dengan
melakukan hubungan telepon. Pemantauan
kondisi penderita sangat diperlukan untuk
menyesuaikan jenis dan dosis terapi.
Farmasis harus mendorong penderita untuk
melaporkan keluhan atau gangguan
kesehatan yang dirasakannya sesegera
mungkin. Farmasis harus bekerjasama
dengan tim kesehatan lainnya dengan
penyesuain dosis obat hipoglikemik oral
(OHO). Kebanyakan morbiditas dan
mortalitas pada pasien diabetes disebabkan
karena komplikasi, antara lain komplikasi
makrovaskuler. Hasil penelitian menunjukkan, penurunan kadar gula saja dapat
tidak dapat menurunkan komplikasi
makrovaskular. Oleh karena itu ada area
lain dari diabetes yang harus diperhatikan
untuk menurunkan mortalitas dan morbiditas
secara keseluruhan, antara lain:
1. Tekanan darah (target <130/80 mmHg)
2. LDL kolesterol (target < 100 mg/dl)
3. Penggunaan aspirin untuk pasien DM
dengan hipertensi dan resiko jantung
4. Pemeriksaan mata, kaki, gigi (1x/tahun)
5. Vaksinasi influenza dan pneumokokal
Penjelasan diberikan kepada pasien
mengenai target dan diharapkan pasien
mengerti mengapa monitoring memegang
peranan penting dalam terapi pencegahan.
23

Haeria

Pelayanan Kefarmasian dalam Penatalaksanaan Diabetes Melitus

Mencermati hal-hal tersebut, maka


upaya peting untuk meningkatkan
kepatuhan pasien terhadap terapi adalah
konseling dan pemberian informasi yang
lengkap dan akurat tentang terapi tersebut.
Dalam hal ini, farmasis berada pada posisi
kunci untuk member penjelasan umum
maupun khusus tentang terapi yang dijalani
pasien, baik farmakoterapi maupun nonfarmakoterapi.

dalam pengobatannya. Penelitian menunjukkan bahwa pasien yang tidak pernah


mendapat pendidikan mengenai diabetes
dapat mengalami resiko komplikasi mayor
meningkat 4 kali lipat.
Materi inti untuk pendidikan yang
komprehensif yang dapat diberikan kepada
penderita diabetes (Sumber: National
Standard for diabetes self-management
education, Diabetes Care 2005)
- Defenisi diabetes, proses penyakit, dan
pilihan pengobatannya
- Terapi nutrisi
- Aktivitas fisik
- Penggunaan obat
- Memonitor kadar gula sendiri
- Mencegah, mendeteksi, dan mengobati
komplikasi akut dan kronis
- Target untuk mencapai hidup sehat
- Menyesuaikan sendiri perawatan dalam
kehidupan sehari-hari
- Penyesuaian psikososial dalam kehidupan
sehari-hari.
Segala informasi yang dianggap
perlu untuk meningkatkan kepatuhan dan
kerjasama penderita dan keluarganya
terhadap program penatalaksanaan diabetes
dapat disampaikan dalam konseling.
Namun dalam penyampaiannya perlu
mempertimbangkan kondisi penderita, baik
kondisi pengetahuan, kondisi fisik, maupun
kondisi psikologisnya.

Membantu penderita mencegah dan


mengatasi komplikasi ringan
Mencegah dan mengatasi komplikasi
diabetic adalah salah satu hal yang penting
dalam pengelolaan diabetes. Informasi
mengenai komplikasi yang mungkin
muncul menyertai diabetes sangat penting
disampaikan kepada penderita dan keluarganya agar dapat melakukan antisipasi
seperlunya.
Menjawab pertanyaan penderita dan
keluarga mengenai DM
Seorang farmasis dapat menjawab
pertanyaan penderita dan keluarganya
tentang segala hal yang menyangkut
diabetes dan pengelolaannya sesuai denga
kompetensinya. Misalnya mengenai
penyebab penyakit dan gejala-gejalanya,
pemeriksaan diagnostic yang harus
dilakukan, hal-hal yang harus dihindari
untuk mencegah dan menghambat perkembangan penyakit, tentang terapi obat
dan efek samping obat, tentang komplikasi
dan pencegahannya.

PENUTUP
Konsep pelayanan kefarmasian lahir
karena kebutuhan untuk mengkuantifikasi
pelayanan kefarmasian yang diberikan,
baik bidang farmasi klinik maupun farmasi
komunitas. Dalam penatalaksanaan diabetes,

Memberikan pendidikan dan konseling


Tujuan pendidikan kepada pasien
adalah untuk memberikan pengetahuan dan
kemampuan agar pasien dapat berpartisipasi
24

Volume II No. 4 Tahun 2009

Jurnal Kesehatan

Tan Hoan Tjay & Kirana Rahardja, eds.


Obat-obat penting, khasiat, penggunaan dan efek-efek sampingnya.
edisi ke-4, Departeman Kesehatan
Republik Indonesia, Jakarta, 1986

farmasis tidak hanya terlibat dalam


berbagai aspek farmakoterapi atau yang
berhubungan dengan obat semata, tetapi
lebih lagi dapat terlihat dalam berbagai
tahap dan aspek pengelolaan diabetes,
mulai dari skrining diabetes sampai dengan
pencegahan dan penanganan komplikasi.
Pentingnya peranan seorang farmasis
dalam keberhasilan pengelolaan diabetes
ini karena farmasis memiliki frekuensi
pertemuan dengan pasien yang lebih
banyak, sehingga dapat memberikan
pelayanan kefarmasian yang professional.
DAFTAR PUSTAKA
American Diabetes Association. Diagnosis
and classification of diabetes melitus.
Diabetes care. 2004
American Diabetes Association. Standars
of medical care in diabetes. Diabetes
care. 2004
Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan
Klinik. Pharmaceutical care untuk
penyakit diabetes melitus, Bina
Kefarmasian dan Alat Kesehatan
Depkes RI, 2005
FKUI, Farmakologi dan Terapi. Bagian
Farmakologi, Jakarta, 2000.
National Community Pharmacist Association,
National Institute for Pharmacist
care Outcomes (access 2005 Aug 10)
PERKENI. Petunjuk Praktis Pengelolaan
DM tipe 2, Jakarta 2002.
Suyono, S. Kecenderungan Peningkatan
Jumlah Penderita Diabetes, Pusat
Diabetes dan Lipid RSUP Nasional
Cipto Mangunkusumo-FKUI, Jakarta,
2004
25

Haeria

Pelayanan Kefarmasian dalam Penatalaksanaan Diabetes Melitus

26