Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Konferensi International Populasi dan Pembangunan/ Internasional
Conference Populated Development (ICPD) di Kairo memuat tentang
cakupan kesehatan reproduksi dalam konteks pendekatan siklus hidup yakni
Pencegahan dan Penanganan Penyakit Menular Seksual (PMS)/Human
Immununo Deficiency Virus (HIV)/Acquired Immununo Deficiency Syndrom
(AIDS), serta Kesehatan Rerproduksi Remaja. Untuk mencapai tujuan
cakupan kesehatan reproduksi tersebut, ICPD membuat program utama yang
salah satunya adalah Paket Kesehatan Reproduksi Dasar melalui program
Safe Matherhood, Keluarga Berencana, PMS dan Kesehatan Reproduksi
Remaja. (WHO, 2003)
Tujuan pembangunan kesehatan di Indonesia diarahkan untuk lebih
meningkatkan derajat kesehatan dan kualitas sumber daya manusia.
Mortalitas dan morbiditas wanita Indonesia masih merupakan masalah besar
yang terjadi di Indonesia. Masalah besar tersebut akan menghambat
pembangunan kesehatan di Indonesia yang nantinya akan mempengaruhi
kehidupan bangsa Indonesia terhadap pendidikan, pelayanan kesehatan,
lapangan pekerjaan, sosial ekonomi dan lingkungan hidup. (Saifuddin, 2003).
Setiap bulan secara periodik seorang wanita normal akan mengalami
peristiwa reproduksi, yaitu menstruasi. Menstruasi merupakan suatu ciri
kedewasaan dan tanda sistem reproduksi mulai berfungsi dengan normal.
1

Peristiwa itu begitu wajar dan alami sehingga dapat dipastikan bahwa semua
wanita yang normal akan mengalami proses itu. Walau begitu pada
kenyataannya banyak wanita yang mengalami masalah menstruasi, salah
satunya adalah dismenorea (nyeri pada saat menstruasi). Dismenorea (nyeri
pada saat menstruasi) adalah nyeri yang bersifat cramping ( dipuntir-puntir )
di bagian bawah perut, punggung bawah hingga paha. Nyeri ini timbul
bersamaan dengan menstruasi, sebelum menstruasi atau bisa juga segera
setelah menstruasi. Penyebab nyeri berasal dari otot rahim. Saat menstruasi
kontraksi lebih kuat, karena akibat dari suatu zat yaitu prostaglandin yang
merangsang saraf nyeri di rahim sehingga menambah intensitas nyeri
( Proverawati, 2009).
Beberapa tahun yang lalu, nyeri menstruasi hanya dianggap sebagai
penyakit psikosomatis. Wanita yang menderita nyeri menstruasi hanya bisa
menyembunyikan rasa sakitnya tanpa mengetahui apa yang harus dilakukan
dan kemana ia harus mengadu. Tetapi sekarang dokter mengetahui bahwa
dismenorea ( nyeri saat menstruasi) merupakan kondisi medis yang nyata.
Banyak metode yang dikembangkan oleh ahli bidangnya yang bertujuan
mengatasi nyeri menstruasi ( Syamsul A, 2005).
Remaja putri merupakan salah satu bagian dari siklus hidup wanita
yang perlu diperhatikan terutama dalam hal kesehatan reproduksi karena
masa remaja merupakan satu masa transisi yang ditandai oleh adanya
perubahan organ-organ fisik (organobiologik), emosi dan psikis. Terjadinya
kematangan seksual atau alat-alat reproduksi yang berkaitan dengan sistem
reproduksi, merupakan suatu bagian penting dalam kehidupan remaja

sehingga diperlukan perhatian khusus agar permasalahan kesehatan


reproduksi dapat tertangani secara tuntas (Widyastuti, 2009).
Diperkirakan sekitar 50% dari seluruh wanita di dunia menderita akibat
dismenorea dalam sebuah siklus menstruasi . Di Pensylvania dilaporkan 60%
remaja menderita dismenorea yang hebat. Selanjutnya, di Amerika Serikat
diperkirakan hampir

90% wanita mengalami dismenorea dan 10-15%

diantaranya mengalami dismenorea berat, yang menyebabkan mereka tidak


mampu melakukan kegiatan apapun. Di Indonesia angka kejadian
dismenorea primer sebesar 54,89% sedangkan sisanya adalah penderita tipe
sekunder . Sedangkan pada studi epidemiologi yang dilakukan, prevalensi
dismenorea 59,7%, yang dapat dikategorikan dismenorea berat sebanyak
12%, dismenorea sedang sebanyak 37% dan dismenorea ringan 49%. Studi
ini juga melaporkan bahwa dismenorea menyebabkan 14% remaja sering
tidak masuk sekolah. Lebih lanjut dalam sebuah studi longitudinal yang
dilakukan di Swedia melaporkan dismenorea terjadi pada 90% wanita yang
berusia kurang dari 19 tahun dan 67% wanita yang berusia 24 tahun ( Ayurai,
2006)
Masih banyak remaja putri yang beranggapan dismenorea (nyeri saat
menstruasi) sebagai hal yang biasa, mereka beranggapan 1-2 hari sakitnya
akan hilang. Banyak juga remaja putri merasa takut untuk memeriksakan
diri dan wanita cenderung enggan pergi ke dokter atau pelayanan kesehatan
lainnya karena menganggap masalah ini bukan masalah serius atau
menganggap tidak masalah untuk menahan rasa sakit selama beberapa hari.
Adapula beberapa wanita yang mengatasi serta menyembuhkan nyeri

menstruasi tersebut dengan mengkonsumsi obat-obatan warung atau jamu


secara berkala. Padahal hal itu sering kali hanya menghilangkan rasa nyeri,
bahkan akan mengalami ketergantungan obat dalam jangka panjang.
Kemudian nyeri menstruasi hebat juga dapat merupakan salah satu tanda dan
gejala suatu penyakit misalnya infeksi saluran reproduksi yang menyebabkan
endometriosis.
Endometriosis, yaitu kelainan letak lapisan dinding rahim yang
menyebar keluar rahim, sehingga apabila menjelang menstruasi, pada saat
lapisan dinding rahim menebal, akan dirasakan sakit yang luar biasa. Selain
itu, endometriosis ini juga bisa mengganggu kesuburan dan kemungkinan
bermasalah saat hamil (Anugoro,2011).
Upaya preventif perlu dilakukan seperti adanya pemahaman remaja
tentang dismenorea (nyeri saat menstruasi) dapat menjadikan remaja tersebut
termotivasi untuk melakukan pemeriksaan pada saat nyeri menstruasi ke
dokter atau pelayanan kesehatan lainnya sehingga dapat mengurangi
kelanjutan dari penyakit. Setiap kegiatan yang dilakukan seseorang dapat
tidak terlepas dari berbagai motif ( daya dorong ) dan sikap seseorang
tersebut untuk melakukan perbuatan atau kegiatan. Seorang remaja memiliki
keinginan untuk memeriksakan diri karena adanya motif atau dorongan yang
timbul karena kebutuhan rasa aman terhindar dari rasa sakit dan penyakit.
Motivasi memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan dapat ditimbulkan dari
pengetahuan tentang dismenorea.
Peran bidan sangat penting dalam pencegahan penyakit dan mengatasi
masalah kesehatan reproduksi remaja khususnya tentang dismenorea dan
cara mengatasinya, dengan cara memberikan pendidikan kesehatan tentang

kesehatan organ reproduksi wanita sejak dini yaitu dari tingkat pendidikan
Sekolah Dasar (SD) sampai tingkat Perguruan Tinggi (PT) dengan indikasi
tujuannya adalah karena setiap individu harus memegang kendali atas
tubuhnya sendiri melalui pilihan yang dipahami dan bisa dipertanggung
jawabkan (WHO, 2003).
Pada wilayah kerja Puskesmas Selabatu terdapat jumlah remaja putri
usia 15-19 tahun sebanyak 2.728 jiwa. Selama tahun 2011, di Puskesmas
Selabatu terdapat 276 yang mengalami masalah reproduksi. Dari data yang
telah di dapatkan dari Dinas Kesehatan Kota Sukabumi pada tahun 2011
tentang masalah

kesehatan reproduksi pada remaja, terutama pada saat

menstruasi terdapat pada tabel 1.1 sebagai berikut :

Tabel 1.1
Data Kesehatan Reproduksi Remaja tentang Gangguan Menstruasi di
Kota Sukabumi Periode Januari- Desember Tahun 2011
Wilayah Kerja Puskesmas
Cipelang
Limus Nunggal
Selabatu
Tipar
Sukabumi
Sukakarya
Nanggeleng
Lembursitu
Baros
Cikundul
Karang Tengah
Gedong panjang
Pabuaran
Benteng
Cibeuruem
Total

Jumlah Kasus
17
16
11
11
9
9
8
7
2
1
1
1
93

(Dinas Kesehatan Kota Sukabumi, 2011)


Berdasarkan Tabel 1.1 Data kesehatan reproduksi remaja tentang
gangguan menstruasi di Kota Sukabumi Periode Januari- Desember Tahun
2011 yang didapat dari Dinas Kesehatan Kota Sukabumi, didapat bahwa
wilayah kerja Puskesmas Selabatu menempati urutan ketiga terbanyak
tentang kasus gangguan menstruasi dan ditemukan 11
gangguan menstruasi yang diantaranya

dari

93 kasus

meliputi Dismenorea dan Pre

Menstrual Syndrome (PMS).


Pada wilayah kerja Puskesmas Selabatu Kota Sukabumi juga terdapat
beberapa sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas. Dari hasil
wawancara yang dilakukan pada beberapa sekolah Menengah Atas, maka di
dapat hasil bahwa SMA Muhammadiah I merupakan salah satu sekolah yang
ada di Wilayah Kerja Puskesmas Selabatu Kota Sukabumi, dengan jumlah
siswi pada tahun ajaran 2011/2012 sebanyak 111 siswi yang rata-rata berusia
15-18 tahun. SMA Muhammadiah I Kota Sukabumi juga merupakan sekolah
yang dimana terbanyak siswinya mengalami nyeri saat menstruasi dan tidak
pernah melakukan periksa ke pelayanan kesehatan dibandingkan dengan
beberapa sekolah menengah atas yang ada di wilayah kerja Puskesmas
Selabatu. Dan setelah dilakukan wawancara dengan guru BK (Bimbingan
Konseling) didapat bahwa ketika menstruasi tiba terdapat siswi yang
mengalami nyeri hebat ketika haid hingga siswinya tidak masuk sekolah,
tetapi tidak pernah memeriksakannya ke fasilitas kesehatan. Menurut hasil
wawancara yang telah dilakukan pada 10 siswi SMA Muhammadiah I Kota
Sukabumi, 6 dari 10 siswi tidak mengerti tentang dismenore ( nyeri saat haid)

dan gejala yang timbul saat dismenorea, dan 8 dari 10 siswi tidak pernah
memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan walaupun nyeri yang hebat pada
saat menstruasi.
Dari uraian diatas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian
dengan judul : Hubungan Pengetahuan Remaja Putri Usia 15-18 Tahun
Tentang Dismenorea dengan Motivasi Untuk Periksa Ke Pelayanan
Kesehatan Di SMA Muhammadiah I Kota Sukabumi

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah Adakah hubungan pengetahuan remaja putri usia 15-18
tahun tentang dismenorea dengan motivasi untuk periksa ke pelayanan
kesehatan di SMA Muhammadiah I Kota Sukabumi ?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan pengetahuan remaja putri usia 15-18 tahun
tentang dismenorea dengan motivasi untuk periksa ke pelayanan
kesehatan di SMA Muhammadiah I Kota Sukabumi
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui gambaran pengetahuan remaja putri usia 15-18 tahun
tentang dismenorea di SMA Muhammadiah I Kota Sukabumi.
b. Mengetahui gambaran motivasi remaja putri usia 15-18 tahun untuk
periksa ke pelayanan kesehatan di SMA Muhammadiah I Kota
Sukabumi.
c. Mengetahui hubungan pengetahuan remaja putri usia 15-18 tahun
tentang dismenorea dengan motivasi untuk periksa ke pelayanan
kesehatan di SMA Muhammadiah I Kota Sukabumi.

D. Kegunaan Penelitian
1. Puskesmas Selabatu Kota Sukabumi
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber data sebagai bahan
evaluasi dalam mengembangkan pengetahuan remaja tentang kesehatan
reproduksi sehingga puskesmas dapat melakukan pembinaan kesehatan
reproduksi khususnya untuk remaja.
2. SMA Muhammadiah I
Diharapkan dapat menjadi infomasi

dalam

mengembangkan

pengetahuan tentang dismenorea pada lingkungan sekolah sehingga


sekolah dapat menyelenggarakan pendidikan kesehatan reproduksi yang
berkaitan dengan dismenorea.
3. Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini dapat berfungsi sebagai referensi bagi rekan rekan
yang ingin melanjutkan penelitian ini, serta sebagai bahan bacaan dalam
meningkatkan pengetahuan tentang dismenorea.
4. Bagi Peneliti
Penelitian ini bagi penulis dapat dijadikan sarana belajar dalam rangka
menambah pengetahuan, untuk menerapkan teori yang telah penulis
dapatkan selama masa perkuliahan dan juga untuk mengadakan penelitian
lebih lanjut tentang hubungan antara pengetahuan remaja putri tentang
dismenorea dengan motivasi untuk periksa ke pelayanan kesehatan.
E. Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran merupakan model konseptual yang berkaitan
dengan bagaimana seorang peneliti menyusun teori atau menghubungkan
secara logis beberapa faktor yang dianggap penting untuk masalah (Hidayat,
2007).

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah


seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu, yakni
indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. (Notoatmodjo,
2003).
Dismenorea adalah nyeri yang dirasakan saat terjadinya menstruasi
dengan gejala seperti mual, muntah, sakit kepala, cemas, gelisah, diare,
pingsan, dan perut kembung. Banyak wanita yang beranggapan bahwa nyeri
saat menstruasi adalah hal yang wajar dan sudah semestinya dijalani serta
akan sembuh dengan sendirinya ketika menstruasi selesai. Namun sebenarnya
nyeri saat menstruasi ada yang bersifat patologi dan harus diobati dengan
benar dan terarah agar tidak mengganggu kesehatan secara keseluruhan.
Pengetahuan dapat dipengaruhi oleh sosial, budaya dan lingkungan.
Banyak wanita yang melakukan penanganan untuk mengurangi dismenorea
dengan mengikuti kebiasaan, tradisi dan mitos yang berlaku di suatu
lingkungan. Salah satu mitos yang beredar adalah tidak boleh melakukan
olahraga ketika menstruasi karena akan menambah nyeri pada saat
menstruasi, padahal pada kenyataannya olahraga ringan dapat memperlancar
peredaran darah. Salah penanganan pada saat dismenorea dapat tetap
mengganggu kesehatan secara keseluruhan.
Motivasi dapat timbul dalam diri seseorang karena ada kebutuhan.
Remaja putri memiliki keinginan untuk memeriksakan diri saat mengalami
dismenorea karena adanya dorongan yang timbul karena kebutuhan rasa
aman terhindar dari penyakit. Motivasi seseorang juga dapat dipengaruhi oleh
pengetahuan yang dimilikinya, demikian halnya dengan motivasi remaja
untuk periksa ke pelayanan kesehatan saat terjadi dismenorea (nyeri saat

10

menstruasi) , tentu akan dipengaruhi oleh pengetahuan yang dimilikinya.


Semakin tinggi tingkat pengetahuan yang dimiliki seseorang, tentu akan
berpengaruh terhadap motivasinya.
Berdasarkan uraian tersebut, maka kerangka pemikiran dari penelitian ini
dapat digambarkan pada bagan 1.1 sebagai berikut :
Bagan 1.1

Kerangka Pemikiran hubungan pengetahuan remaja


putri usia 15-18 tahun tentang dismenorea dengan
motivasi untuk periksa ke pelayanan kesehatan di
SMA Muhammadiah I Kota Sukabumi

Pengetahuan remaja putri tentang


Dismenorea

Motivasi untuk
periksa ke pelayanan
kesehatan

F. Hipotesis
Hipotesis di dalam penelitian berarti jawaban sementara penelitian,
patokan duga, atau dalil sementara, yang kebenarannya akan dibuktikan
dalam hasil penelitian tersebut. Setelah melalui pembuktian dari hasil
penelitian maka hipotesis ini dapat benar atau salah, dapat diterima atau
ditolak ( Notoatmodjo, 2010 ).
Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah ;
H0: Tidak ada hubungan antara pengetahuan remaja putri usia 15-18 tahun
tentang dismenorea dengan motivasi untuk periksa ke pelayanan
kesehatan di SMA Muhammadiah I Kota Sukabumi

11

H1:

Ada hubungan antara pengetahuan remaja putri usia 15-18 tahun


tentang dismenorea dengan motivasi untuk periksa ke pelayanan
kesehatan di SMA Muhammadiah I Kota Sukabumi