Anda di halaman 1dari 6

TEKNOLOGI MEMBRAN FILTRASI UNTUK PENGOLAHAN LIMBAH CAIR PABRIK KELAPA SAWIT

MEMBRAN FILTRATION TECHNOLOGY FOR WASTEWATER TREATMENT PROCESS OF PALM OIL


MILL EFFLUENT
Dedy A. Nasution, Elita R. Widjaya, Reni J. Gultom
Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, Serpong

ABSTRAK
Limbah cair pabrik pengolahan minyak kelapa sawit atau Palm oil mill effluent (POME) merupakan limbah cair
yang dihasilkan dari seluruh proses produksi CPO di pabrik pengolahan kelapa sawit. POME pada saat ini biasanya
diolah secara aerobik di kolam-kolam pengendapan untuk menurunkan kandungan bahan organik pada air limbah
buangan pabrik kelapa sawit. Padatan yang dihasilkan dari kolam pengendapan tidak dapat digunakan sebagai
pakan ternak karena telah terjadi proses fermentasi aerobik yang tidak terkendali. untuk mendapatkan padatan
(solid) yang berasal dari POME, pemisahan padatan lumpur sawit harus segera dilakukan. Dengan mengaplikasikan
teknologi membran diharapkan dapat dipisahkan antara cairan dan padatan POME. Pemisahan padatan dan cairan
POME dengan menggunakan teknologi membran diharapkan dapat menghasilkan solid untuk pakan ternak dan
limbah cair yang yang kurang cemaran bahan organiknya. Proses pemisahan padatan dan cairan POME telah
dilakukan pada pengujian skala laboratorium dengan menggunakan 2 buah membran berbahan keramik. Uji kinerja
dilakukan dengan menggunakan tiga jenis tekanan aliran konsentrat/retentate yang melewati membran, yaitu
o
tekanan 1 bar, 1,5 bar dan 2 bar dengan perlakuan suhu bahan pengumpan konstan yaitu pada suhu 80 C. Hasil
pengujian memperlihatkan rata-rata fluks permeate pada tekanan 1 bar, 1,5 bar dan 2 bar berturut-turut 151,05 l.m
2
-1
-2
-1
-2
-1
.jam , 122,92 l.m .jam dan 115,92 l.m .jam . Hasil tersebut memperlihatkan bahwa semakin tinggi tekanan,
semakin rendah fluks yang dihasilkan. Pengujian ini juga mengamati kandungan total padatan terlarut yang masih
tersisa dalam permeate.
Kata Kunci : Teknologi membran, limbah cair pabrik kelapa sawit (POME), pengolahan limbah

ABSTRACT
Palm oil mill effluent (POME) is the liquid waste generated from all production processes of a palm
oil mill. POME at this time is usually treated aerobically in an aerobic pond to reduce the organic matter
content in its waste water. The resulting solids from settling ponds can not be used as some animal feed
because the fermentation process has been occurred aerobically and uncontrollable. To get solid that
derived from POME, palm oil sludge separation should be performed. Membran technology is expected
to separate the liquids and solids of POME. Separation of solids and liquids by using membran
technology is expected to generate solid as feed material and waste water that are less organic
contamination. The process of separating solids and liquids of POME has been performed on a
laboratory-scale test using 2 pieces of ceramic membran. Performance tests were conducted using three
types of pressures of concentrate /retentate which passes throughout the membran. The pressures are 1
bar, 1.5 bar and 2 bars and temperature treatment materials of feeder was kept constant at 80oC. The
-2
test results show average permeate fluxs at the pressure of 1 bar, 1.5 bar and 2 bar are 151.05 l.m .h-1,
-2 -1
-2 -1
122.92 l.m h and 115.92 l.m h respectively. The results showed that the higher the pressure, the
lower the flux. This test was also observed the total dissolved solids remaining in permeate in every
pressure treatment.
Keywords: Membran Technology, palm oil mill effluent (POME), waste treatment

PENDAHULUAN
Proses pengolahan kelapa sawit menjadi CPO, selain menghasilkan minyak sawit tetapi juga
menghasilkan limbah cair, dimana air limbah tersebut berasal dari: proses strelisasi, limbah proses
pemisahan/klarifikasi (dari separator/decanter) dan limbah cyclone. Limbah cair lumpur sawit (POME) ini
mengandung 95-96% air; 0,6-0,7% minyak dan 4-5% total solid. Setiap satu ton produksi CPO
3
menghasilkan kurang lebih 2,5 m POME (T.Y. Wu et.al., 2009).
Teknik pengolahan limbah cair industri kelapa sawit pada umumnya menggunakan metode
pengolahan limbah kombinasi. yaitu dengan sistem proses anaerobik dan aerobik.Limbah cair yang
dihasilkan oleh pabrik kemudian dialirkan ke bak penampungan untuk dipisahkan antara minyak yang
terikut dan limbah cair. Setelah itu maka limbah cair dialirkan ke bak anaerobik untuk dilakukan proses
anaerobik. Pengolahan limbah secara anaerobik merupakan proses degradasi senyawa organik seperti
karbohidrat, protein dan lemak yang terdapat dalam limbah cair oleh bakteri anaerobik tanpa kehadiran
oksigen menjadi biogas yang terdiri dari CH4 (50-70%), serta N2, H2, H2S dalam jumlah kecil. Pada
proses pengolahan secara aerobik menunjukkan penurunaan kadar BOD dan Kadar COD adalah
sebesar 15 % (Agustina et.al., 2008). Air hasil olahan telah dapat dibuang ke perairan, tetapi tidak dapat
digunakan sebagai air proses dikarenakan air hasil olahan tersebut masih mempunyai warna kecoklatan.
Penggunaan membran untuk mengolah lumpur sawit dalam hal ini dilakukan untuk mendapatkan air
limbah yang bersih sehingga dapat digunakan kembali (water recycling).
Komposisi POME menunjukkan bahwa lumpur sawit mengandung kandungan protein dan
karbohidrat yang cukup tinggi. Peluang pemanfaatan padatan lumpur sawit sebagai solid bahan pakan
ternak menjadi potensial. Solid merupakan sumber protein pakan ternak yang dapat memberikan
pengaruh terhadap pertambahan bobot ternak sapi. Padatan yang dihasilkan dari kolam pengendapan
tidak dapat digunakan sebagai pakan ternak karena telah terjadi proses fermentasi aerobik yang tidak
terkendali. Untuk mendapatkan padatan (solid) yang berasal dari POME, pemisahan padatan lumpur
sawit harus segera dilakukan. Dengan mengaplikasikan teknologi membran, diharapkan menghasilkan
solid untuk pakan ternak dan limbah cair yang yang kurang cemaran bahan organiknya.
Pemanfaatan teknologi membran untuk menghasilkan solid telah dilakukan untuk pemisahan
heavy phase decanter, di mana jumlah padatan yang dapat dihasilkan, heavy phase sekitar 6 kali lebih
banyak dibandingkan dengan solid yang dihasilkan decanter saat ini (Wiguna, 2010). Untuk itu PT
Agricinal mengolah kembali heavy phase yang dihasilkan dari decanter untuk mengutip solid dengan
menggunakan membran keramik, yang selanjutnya solid tersebut digunakan untuk pakan ternak (Deptan,
2006).
Teknologi pemisahan padatan dan cairan POME juga telah dilakukan di Indonesia dan Malaysia
akhir-akhir ini. Penggunaan berbagai jenis membran dan perlakuan tambahan untuk menghasilkan air
limbah buangan yang bersih merupakan fokus utama penelitian-penelitian tersebut (Wu et.al., 2007 ;
Ahmad et.al., 2003; Ahmad et.al., 2003).
Kegiatan penelitian rekayasa proses produksi solid dari POME dengan menggunakan membran
keramik telah dilakukan di BBP. Mekanisasi Pertanian. Tulisan ini akan memaparkan uji kinerja proses
pengolahan POME dengan menggunakan membran keramik pada skala laboratorium.

BAHAN DAN METODE

Contoh lumpur sawit (POME)


Lumpur sawit segar yang digunakan pada pengujian ini berasal dari Pabrik Pengolahan Kelapa
Sawit milik PTPN VIII, Pabrik Kertajaya, Lebak-Banten. Lumpur sawit tersebut kemudian diendapkan
untuk memisahkan kandungan minyaknya, apabila kandungan minyak dalam lumpur sawit berlebih.
Komposisi lumpur sawit dianalisis di Laboratorium BB. Pasca Panen-Bogor. Komposisi lumpur sawit
tersebut seperti pada Tabel 1.

Tabel 1. Komposisi bahan awal lumpur sawit

Parameter
Total Padatan
Protein
Lemak
Serat kasar

Metode analisis
Gravimetri
Kjeldahl
Soxhlet
Gravimetri

Hasil
2,35%
0,14%
0,33%
0,17%

Unit Filtrasi Membran


Jenis membran yang digunakan adalah membran keramik yang disusun secara seri. Unit filtrasi ini
dirancang pada skala laboratorium dilengkapi dengan sistem kontrol yang memudahkan pengaturan
parameter operasi membran dengan menggunakan sistem control otomatik dan valves yang dapat diatur
manual. Diagram skema dari unit filtrasi membran keramik ini seperti pada Gambar 1.

P-2

Retentate

Permeate

E-3

E-4

E-6

E-1

P-1

E-2

P-3

I-4
E-5

Daftar Komponen
Kode komponen
E-1
E-2
E-3
E-4
E-5
E-6

Deskripsi
Tangki pengumpanan
Pompa gear
membran keramik
membran keramik
Kompresor
Heater

Daftar instrumen

Material
ST310
ST310
keramik
keramik
plat

Kode instrumen
I-4
P-1
P-2
P-3

Deskripsi
Kontrol panel
Pressure gauge (tekanan pengumpanan)
Pressure gauge (tekanan aliran konsentrat)
Pressure gauge (tekanan kompresor

Gambar 1. Diagram skema proses unit mebran filtrasi


Metode pengujian
Uji kinerja dilakukan dengan menggunakan tiga jenis perlakuan tekanan aliran konsentrat/retentate
yang melewati membran, yaitu tekanan 1 bar, 1,5 bar dan 2 bar dengan suhu bahan pengumpan
o
konstan yaitu pada suhu 80 C. Pengaturan tekanan dilakukan dengan mengatur bukaan keran
pengeluaran retentate, sehingga posisi tekanan seperti yang diinginkan.
Pengukuran laju pengeluaran jumlah permeat yang keluar melalui membran keramik dilakukan
setiap 5 menit sampai kondisi kepekatan retentat sudah tidak memungkinkan lagi difiltrasi. Laju
pengeluaran permeate per luasan permukaan membran dinamakan fluks permeat (J), dihitung
berdasarkan persamaan berikut (Mulder, 1996) :

dimana,

J
V
A
t
n

:
:
:
:
:

-2

-1

fluks (l.m .jam )


Volume permeat (l)
-2
Luas permukaan membran (m ) per module
waktu pengukuran (jam)
Jumlah module membran keramik yang digunakan

Contoh retentate dan permeate yang dihasilkan dari masing-masing perlakuan dianalisis di
laboratorium BB Pasca Panen. Parameter yang dianalisis adalah total padatan, protein, lemak, serat
kasar, energy, calcium dan phosphor.
Untuk mengetahui efisiensi atau kemampuan membran dalam mempertahankan/mengurangi
konsentrasi bahan yang diharapkan pada retentate maka dilakukan perhitungan menggunakan
persamaan berikut :

...............................................(2)

Di mana : Rx = efisiensi membran dalam recovery parameter kualitas


Cra = konsentrasi pada bahan awal (%)
Crf = konsentrasi pada retentate (%)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengaruh perlakuan tekanan kerja terhadap fluks permeate
Grafik fluks terhadap waktu pada setiap perlakuan tekanan seperti pada Gambar 2. Grafik tersebut
memperlihatkan terjadi penurunan fluks selama waktu filtrasi. Hal ini disebabkan adanya penumpukan
deposit pada permukaan membran. Hasil pengujian ini juga memperlihatkan semakin tinggi tekanan,
semakin rendah fluks yang dihasilkan. Menurut Ahmad et.al., 2005, adanya peningkatan tekanan dapat
menyebabkan peningkatan fluks permeate, namun peningkatan tekanan juga menyebabkan terjadinya
penekanan lapisan deposit pada permukaan membran.
2
Hasil pengujian dengan luasan permukaan 0,48 m membran keramik memperlihatkan rata-rata
-2
-1
-2
-1
fluks permeate pada tekanan 1 bar, 1,5 bar dan 2 bar berturut-turut 151,05 l.m .jam , 122,92 l.m .jam
-2
-1
dan 115,92 l.m .jam . Pada tekanan 1 bar, dari 40 liter limbah cair dapat difiltrasi cairan sebanyak 35,15
liter dan menghasilkan 4,85 satuan liter retentat selama 30 menit. Jadi dalam 1 jam dapat dihasilkan
9,70 liter bahan solid dan dengan bulk density 1,2 kg/liter, maka dihasilkan 11,64 kg solid basah .

Penurunan fluks selama proses filtrasi


Fluks, l.m-2.jam-1

180
Tekanan 1 bar

160
140

Tekanan 2 bar

120
100
0

Tekanan 1,5
bar
10 15 20 25 30 35 40
Waktu, menit

Gambar 2. Penurunan fluks selama proses filtrasi

Pengaruh tekanan kerja terhadap kualitas hasil


Pengujian kualitas bahan awal yang digunakan pada uji kinerja ini dibandingkan dengan kualitas
retentate yang dihasilkan dengan perlakuan tekanan kerja membran seperti pada Tabel 2.
Tabel 2. Komposisi bahan awal dan retentate hasil filtrasi membran
Parameter
-

Total padatan (%)

Protein (%)
Lemak (%)
Serat kasar (%)
Kalsium (mg/100 g)
Phospor (mg/100 g)
Energi (kkal/100g)

1 bar

Bahan awal
1,5 bar

2 bar

1 bar

Retentate
1,5 bar

2,21

1,99

2,84

9,78

9,24

1,42
3,51
2,74

1,42
2,61
2,08
16,80
72,69
59,47

0,14
0,33
0,17
N/A

2 bar
9,74
1,02
1,97
0,54

Efisiensi membran dalam mempertahankan komposisi bahan pada retentate seperti pada Gambar
3. Pada pengujian ini diharapkan kandungan minyak dapat dikurangi. Hasil pengujian pada tekanan
kerja 1-2 bar ini memperlihatkan, semakin tinggi tekanan, semakin besar pengurangan lemak kasarnya.
Pada tekanan 2 bar persentase lemak kasar yang dipertahankan pada retentate 83,25% atau terjadi
pengurangan lemak sebesar 16,75%. Sedangkan pada tekanan 1 bar, terjadi pengurangan lemak
sebesar 9,41 %. Namun demikian komposisi lemak pada retentate masih di bawah 5% sehingga aman
dikonsumsi sebagai pakan ternak.
Sebaliknya, penggunaan membran diharapkan dapat mempertahankan kandungan protein pada
retentate. Hasil pengujian ini memperlihatkan pada tekanan yang tinggi, kemampuan mempertahankan
protein akan sedikit lebih rendah. Hasil pengujian ini juga memperlihatkan terjadi penurunan kemampuan
mempertahankan serat kasar di dalam retentate pada tekanan kerja 2 bar, jika dibandingkan dengan
tekanan 1 dan 1,5 bar. Penurunan ini terlihat pula dari menurunnya total padatan pada retentate, pada
perlakuan tekanan 2 bar, dibandingkan dengan perlakuan tekanan 1 dan 1,5 bar.

Kemampuan mempertahankan total padatan yang hanya berkisar 70-78%, menyebabkan


sebagian total padatan masih terikut pada cairan permeat. Hal ini menyebabkan, cairan permeate belum
sepenuhnya dapat dibuang ke badan air, karena masih mengandung total padatan yang mengandung
bahan organic pada kisaran 1-1,3%. Pada penelitian ini pengaruh perlakuan batasan tekanan
kemungkinan menyebabkan total padatan yang masih tersisa pada retentate masih cukup besar. Namun,
peningkatan total padatan juga dapat terjadi akibat kandungan lemak pada retentate tidak ikut terbuang
bersama permeat. Untuk itu dibutuhkan proses lanjutan untuk menurukan total padatan terlarut pada
permeat dengan nano filtrasi atau reverse osmosis.

KESIMPULAN
Proses pemisahan padatan dan cairan POME telah dilakukan pada pengujian skala laboratorium
dengan menggunakan 2 buah membran berbahan keramik. Uji kinerja dilakukan dengan menggunakan
tiga jenis tekanan aliran konsentrat/retentate yang melewati membran, yaitu tekanan 1 bar, 1,5 bar dan 2
o
bar dengan perlakuan suhu bahan pengumpan konstan yaitu pada suhu 80 C. Hasil pengujian
memperlihatkan rata-rata fluks permeate pada tekanan 1 bar, 1,5 bar dan 2 bar berturut-turut 151,05 l.m
2
-1
-2
-1
-2
-1
.jam , 122,92 l.m .jam dan 115,92 l.m .jam . Hasil tersebut memperlihatkan bahwa semakin tinggi
tekanan, semakin rendah fluks yang dihasilkan. Hasil pengujian ini memeprlihatkan pada tekanan 1 bar,
protein kasar yang dapat dipertahankan pada solid yang dihasilkan sebesar 90% dari bahan awal.
Sedangkan lemak kasar dapat diturunkan sebesar 10%.

DAFTAR PUSTAKA
Agustina, Siti; S. Pudji R., T. Widianto, Trisni A. 2008. Penggunaan Teknologi Membran pada
Pengolahan Air Limbah Industri Kelapa Sawit. Workshop Teknologi Industri Kimia dan Kemasan.
Ahmad A.L., S. Ismail, and S. Bhatia. 2003. Water Recycling from Palm Oil Mill Effluent (POME) Using
Membran Technology. Desalination 157 (2003) : 87-95.
Ahmad A.L, S. Ismail, and S. Bhatia. 2005. Membran Treatment for Palm Oil Mill Effluent : Effect of
Transmembran Pressure and Crossflow Velocity. Desalination 179 (2005) : 245 255.
Deptan, 2006. Pedoman Pengelolalan Limbah Industri Kelapa Sawit. Subdit Pengelolaan Lingkungan.
Direktorat Pengelolaan Hasil Pertanian. Ditjen P2HP, Deptan.
T.Y. Wu et.all. 2007. Palm Oil Mill Effluent (POME) Treatment And Bioresource Recovery Using
Ultrafiltration Membran : Effect Of Pressure On Membran Fouling. Biochemical Engineering Journal
35 (2007) : 309-317.