Anda di halaman 1dari 12

29

ANALISIS PERBEDAAN PROBLEM SOLVING ABILITY DAN SIKAP SKEPTISME


PROFESIONAL PADA AUDITOR BERDASARKAN IDENTITAS GENDER
AUDITOR.
Oleh :
EDFAN DARLIS
SINTA NURLENI SUSANTI
Fakultas Ekonomi Universitas Riau
ABSTRACT
The purpose of this study was to determine differences in problem solving ability and
auditor's professional skepticism by auditors gender identity.
Population in this study were the auditors of the BPK RI Riau province
representative. Sample taken amoundted 40 auditors. After grouping of masculine
and feminine results showed 20 masculine and 19 feminine. The type of data is
primary data. Data was collected using questionare with 16 statement. Data analysis
using by independent sample t-test with a significance level of 5%.
The results of hypothesis test showed that k, problem solving ability, and rofessional
skepticism between masculine and feminine gender was differences.
Keywords: problem solving ability, profesional skepticism. auditors gender identity
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Pada setiap penelitian mengenai
pengaruh gender, gender sering
dibedakan berdasarkan jenis kelamin
(sex). Setiawati (2007) menyatakan
bahwa sex dan gender kerap
diidentifikasi sebagai hal yang sama.
Secara biologis, manusia dibedakan
menjadi dua sex, yaitu laki-laki dan
perempuan. Sementara gender itu
sendiri adalah aspek non fisiologis
dari sex yang memiliki harapan
budaya terhadap femininitas dan
maskulinitas. Salah satu bidang yang
terimbas oleh kerancuan sex dan
gender adalah bidang kerja. Setiawati
(2007) juga menyatakan bahwa dalam
dunia kerja identitas gender lebih
berpengaruh dari pada jenis kelamin.
Penelitian ini membedakan gender
berdasarkan identitas gender (gender
identity).

Identitas
gender
adalah
identifikasi
seseorang
terhadap
dirinya
apakah
individu
yang
bersangkutan adalah maskulin atau
feminine (Burke, 2000). Sifat-sifat
pada domain maskulin adalah sangat
agresif, sangat mandiri, sangat
objektif, suka bersaing, logis, percaya
diri. Sedangkan sifat-sifat pada
domain feminin adalah tidak terlalu
ambisius,
sangat
tergantung,
menggunakan intuisi dan perasaan
(Spence dan Buckner (1995).
Penelitian
ini
membedakan
persepsi gender maskulin dan gender
feminin dari beberapa indikator yaitu,
problem solving ability dan sikap
skeptisme profesional.
Auditor
yang
berorientasi
maskulin memiliki problem solving
ability yang lebih baik dari auditor
yang berorientasi feminine (Basow,

30

Jurnal Ekonomi, Manajemen dan Akutansi I Vol 19 No. 2 Desember 2012

1992). Problem solving ability adalah


kemampuan
untuk memecahkan
masalah yang menantang, baru, dan
tidak rutin. Sifat-sifat pada domain
maskulin yang mendukung problem
solving ability pada, auditor adalah
menyukai matematika dan sains,
sangat logis, menyukai tantangan
serta petualangan. Sedangkan sifatsifat feminim yang kurang mendukung
problem solving ability antara lain sulit
membuat keputusan, menggunakan
intuisi dan perasaan, tidak suka
tantangan dan pasif. Dengan demikian
auditor yang berorientasi maskulin
lebih mudah menghadapi situasi baru
yang memerlukan metode-metode
baru
serta
membutuhkan
pengambilan keputusan yang cepat
Penelitian
ini
mengadopsi
penelitian Hardies, Breesch dan
Branson (2009). Hardies et al (2009)
yang meneliti perbedaan problem
solving ability, penerimaan resiko dan
independensi berdasarkan gender
auditor. Namun demikian Hardies et al
(2009)
membedakan
gender
berdasarkan jenis kelamin (sex). Hasil
penelitian Hardies et al (2009)
menunjukkan bahwa tidak terdapat
perbedaan tingkat problem solving
ability dan independensi pada auditor
laki-laki dan perempuan sedangkan
tingkat penerimaan resiko auditor
perempuan lebih rendah dari auditor
laki-laki.
Beberapa
penelitian
mengenai pengaruh bias gender pada
profesionalisme auditor juga telah
dilakukan sebelumnya di Indonesia.
Masduki (2003) menemukan bahwa
tidak terdapat perbedaan prestasi
kerja pada manajer pria dan wanita
pada manajer lini pertama. Menurut
Hamzah dan Paramitha (2008) tidak
terdapat perbedaan perilaku etis dan
tekanan kerja di antara auditor lakilaki dan perempuan dalam audit

judgement laporan keuangan historis


dan kompleksitas tugas.
Penelitian ini mengembangkan
penelitian Hardies et al (2009) yang
meneliti perbedaan problem solving
ability dilihat dari perbedaan jenis
kelamin. Penelitian ini menambahkan
variabel penelitian yaitu sikap
skeptisme profesional pada auditor
berdasarkan identitas gender auditor.
Alasan peneliti dalam penentuan judul
ini adalah penelitian yang pernah
dilakukan selama ini sedikit yang
membahas
mengenai
auditor
berdasarkan
identitas
gender.
Kebanyakan penelitian yang sudah
dilakukan diproksikan terhadap jenis
kelamin. Selain itu peneliti juga ingin
mengetahui apakah dengan sampel
dan waktu yang berbeda akan
memberikan hasil yang sama dengan
penelitian terdahulu. Sampel yang
digunakan pada penelitian ini adalah
auditor yang bekerja di Kantor BPK RI
Perwakilan Provinsi Riau.
Dari uraian diatas, maka penulis
melakukan penelitian ini dengan judul
ANALISIS PERBEDAAN PROBLEM
SOLVING ABILITY DAN
SIKAP
SKEPTISME PROFESIONAL PADA
AUDITOR
BERDASARKAN
IDENTITAS GENDER AUDITOR.
1.2 Perumusan Masalah
1. Apakah auditor yang memiliki
identitas
gender
maskulin
memiliki
independensi
yang
berbeda dengan auditor yang
memiliki identitas gender feminin?
2. Apakah auditor yang memiliki
identitas
gender
maskulin
memiliki
tingkat
penerimaan
resiko yang berbeda dengan
auditor yang memiliki identitas
gender feminin?
3. Apakah auditor yang memiliki
identitas
gender
maskulin
memiliki problem solving ability

Analisis Perbedaan Problem Solving.. (Edfan Darkys& Sinta Nurleni Susanti)

yang berbeda dengan auditor yang


memiliki identitas gender feminin?
4. Apakah auditor yang memiliki
identitas
gender
maskulin
memiliki
sikap
skeptisisme
profesional yang berbeda dengan
auditor yang memiliki identitas
gender feminin?

31

1.3 Tujuan Penelitian


Tujuan yang ingin dicapai dalam
penelitian ini adalah memberikan
bukti empiris mengenai perbedaan
independensi, penerimaan resiko,
problem solving ability dan sikap
skeptisisme
profesional
auditor
berdasarkan perbedaan identitas
gender auditor (maskulin-feminin).

2. TELAAH PUSTAKA
2.1 Gender
Menurut Saparinah Sadli (1995)
dalam Santosa (2001) istilah gender
sepenuhnya dipinjam dari istilah
gender dalam bahasa inggris yang
berarti pembedaan jenis kelamin pria
dan
wanita.
Namun
demikian
perbedaan antara pria dan wanita
menurut Herawati (2010) pada
dasarnya diwakili oleh dua konsep
yaitu jenis kelamin dan gender.
Perbedaan jenis kelamin mengacu pada
perbedaan
fisik
terutama
pada
perbedaan
fungsi
reproduksi
sementara
gender
merupakan
konstruksi
sosiokultural.
Dengan
demikian istilah gender adalah konsep
sosial bukan biologis. Pembedaan jenis
kelamin secara biologis merupakan hal
yang bersifat given, bersifat kodrati
sedangkan konsep gender merupakan
pembedaan sejumlah karakter dan
perilaku yang melekat pada pria dan
wanita yang dikonstruksikan secara
teologis, budaya, sosial, politik maupun
ekonomi yang berlangsung secara
relatif, (Parawansa, 1999 dalam
Santosa 2001).
Menurut Burke (1980) identitas
gender pada individu adalah pendorong
pola perilaku sesuai dengan identifikasi
gender dalam dirinya. Burke et al
(2000) juga menyatakan bahwa
identitas gender adalah identifikasi
seseorang terhadap dirinya apakah

individu yang bersangkutan adalah


maskulin atau feminin. Pada umumnya
laki-laki akan mengidentifikasi dirinya
sebagai maskulin dan perempuan akan
mengidentifikasi
dirinya
sebagai
feminin.
2.2 Problem Solving Ability
Problem solving ability adalah
kemampuan dan keterampilan untuk
mengidentifikasi masalah baik yang
bersifat rutin maupun tidak rutin serta
menemukan solusinya (Sumardyono,
2008). Menurut Sumardyono (2008)
problem
adalah
sesuatu
yang
menantang pikiran (challenging) dan
tidak secara otomatis diketahui cara
penyelesaiannya (non-routine).
Penelitian Hardies et al (2009)
menggunakan kemampuan matematis
sebagai proksi dari problem solving
ability. Hal ini dikarenakan kemampuan
auditor dalam memahami laporan
keuangan
dan
pelaporan
audit
membutuhkan kemampuan logika
matematika (Anandaradjan, 2008)
dalam Hardies et al (2009). Matematika
merupakan pengetahuan yang logis,
sistematis, berpola, artificial, abstrak,
dan menghendaki justifikasi atau
pembuktian. Sifat-sifat matematika ini
menuntut pembelajar menggunakan
kemampuan-kemampuan dasar dalam
pemecahan masalah seperti berpikir

32

Jurnal Ekonomi, Manajemen dan Akutansi I Vol 19 No. 2 Desember 2012

logis, berpikir strategik. McIntosh, R. &


Jarret,D (2000:6) menyatakan bahwa
keterampilan
dan
kemampuan
pemecahan masalah dalam soal
matematika dapat diadaptasi pada
berbagai konteks dan masalah seharihari.
Taplin (2007) juga menyatakan
dengan fokus pada problem solving
maka matematika sebagai alat dalam
memecahkan masalah dapat diadaptasi
pada berbagai konteks dan masalah
sehari-hari.
2.3 Skeptisisme profesional auditor
Dalam SPAP, 2001 (SA seksi 230
hal 230.2) disebutkan bahwa yang
dimaksud
dengan
skeptisisme
profesional auditor adalah suatu sikap
yang mencakup pikiran yang selalu
mempertanyakan
dan
melakukan
evaluasi secara kritis terhadap bukti
audit. Menurut Suraida (2005) secara
spesifik berarti adanya suatu sikap
kritis terhadap bukti audit dalam
bentuk keraguan, pertanyaan atau
ketidaksetujuan dengan pernyataan
klien atau kesimpulan yang dapat
diterima umum.
Dalam proses pengumpulan
bukti audit yang bersifat evidential
matter, auditor harus senantiasa
memelihara skeptisisme profesionalnya
terhadap
semua
informasi
dan
pernyataan lisan maupun tertulis dari
klien yang diauditnya agar diperoleh
pemahaman dan keyakinan yang
memadai terhadap bukti audit yang
diperolehnya (Suraida 2005).
2.4 Penelitian Terdahulu
Ikhsan (2007) menemukan bahwa
perbedaan gender di Indonesia tidak
mengakibatkan perbedaan perilaku dan
etika antara akuntan publik pria dan
akuntan publik wanita. Widianingsih
(2001) menguji komparasi prestasi
kerja antara manajer pria dan wanita

(Studi Kasus pada Manajer Bank di


Kodya Semarang). Hasil penelitiannya
menemukan bahwa tidak terdapat
perbedaan prestasi kerja pada manajer
pria dan wanita pada manajer lini
pertama. Darmoko (2003) yang
meneliti perbedaan profesionalisme
auditor pada Kantor Akuntan Publik
berdasarkan perbedaan gender, tipe
Kantor Akuntan Publik dan hierarki
jabatannya menunjukkan bahwa tidak
ada perbedaan profesionalisme auditor
Kantor Akuntan Publik dilihat dari
perbedaan gender.
Nugrahaningsih (2005) menguji
perbedaan perilaku etis auditor di KAP.
Hasil penelitiannya menemukan bahwa
gender tidak menyebabkan perbedaan
perilaku etis yang signifikan antara lakilaki dan perempuan, namun terdapat
perilaku etis yang signifikan antara
auditor yunior dan auditor senior,
auditor yunior cenderung berperilaku
etis lebih baik dari pada auditor senior.
Zulaikha (2006) meneliti tentang
pengaruh
interaksi
gender,
kompleksitas tugas dan pengalaman
auditor terhadap audit judgement. Hasil
penelitiannya menunjukkan bahwa
perempuan masih mendominasi peran
domestik, dan peran ganda perempuan
tidak berpengaruh signifikan dalam
pembuatan judgement.
Hamzah dan Paramitha (2008)
meneliti perbedaan perilaku etis dan
tekanan kerja perspektif gender dalam
audit judgement laporan keuangan
historis dan kompleksitas tugas. Hasil
penelitiannya menunjukkan bahwa
terdapat perbedaan perilaku etis dan
tekanan kerja di antara auditor laki-laki
dan perempuan dalam audit judgement
laporan
keuangan
historis
dan
kompleksitas tugas. Untuk temuan
lainnya, dalam hal status perkawinan,
pendidikan, jabatan dan lama bekerja
tidak terdapat perbedaan perilaku etis

Analisis Perbedaan Problem Solving.. (Edfan Darkys& Sinta Nurleni Susanti)

dan tekanan kerja dalam audit


judgement laporan keuangan historis
dan kompleksitas tugas. Hardies (2009)
meneliti tentang pengaruh auditor
gender
terhadap
independensi,
penerimaan resiko dan kemampuan
pemecahan masalah matematis. Dalam
penelitiannya memproksikan gender
berdasarkan sex atau jenis kelamin.
Hasil penelitian mereka menunjukkan
bahwa tidak terdapat perbedaan pada
auditor pria dan wanita dalam hal
kemampuan
matematis
dan
independensi.
2.5 Kerangka Pemikiran, Model
Penelitian dan Hipotesis
2.5.1 Pengaruh gender terhadap
problem solving ability auditor
Problem solving ability adalah
kemampuan untuk menyelesaikan
suatu masalah khususnya masalah yang
menantang dan bersifat unroutine
(Sumardyono, 2008). Menurut Hardies
et al (2009) kemampuan pemecahan
masalah atau problem solving ability
dibutuhkan auditor khususnya untuk
menemukan salah saji potensial dan
salah saji material dalam laporan
keuangan klien.
Sifat-sifat pada domain maskulin
yang mendukung problem solving
ability pada auditor adalah menyukai
matematika dan sains, sangat logis,
menyukai tantangan serta sangat
menyukai petualangan. Sedangkan
sifat-sifat feminin kurang mendukung
problem solving ability antara lain sulit
membuat keputusan, menggunakan
intuisi dan perasaan, tidak suka
tantangan, pasif dan tidak suka
petualangan. Penelitian yang dilakukan
oleh Hardies et al (2009) menemukan
bahwa terdapat perbedaan persepsi
antara gender maskulin dan gender
feminin terhadap problem solving
ability.

33

H1 : Auditor yang
berorientasi
maskulin memiliki problem solving
ability yang lebih tinggi dari auditor
yang berorientasi feminin.
2.5.2 Pengaruh gender terhadap
sikap skeptisisme profesional
auditor
Dalam SPAP, 2001 (SA seksi 230
hal 230.2) disebutkan bahwa yang
dimaksud
dengan
skeptisisme
profesional auditor adalah suatu sikap
yang mencakup pikiran yang selalu
mempertanyakan
dan
melakukan
evaluasi secara kritis terhadap bukti
audit.
Auditor yang memiliki identitas
gender
maskulin
memiliki
sifat
bertindak
agresif,
tidak
mudah
terpengaruh, sangat objektif dan sangat
logis. Karakteristik sifat pada auditor
ini akan memenuhi karakteristik
skeptis yaitu mencari kebenaran dari
bukti yang ada, tidak mudah meyakini
keterangan dari pihak ketiga namun
mencari sumber lain untuk mendukung
kebenarannya, memiliki rasa ingin tahu
yang tinggi, dan menyukai tantangan
dalam mencari kebenaran dari bukti
audit maupun asersi manajemen yang
ada. Sedangkan auditor yang memiliki
identitas gender feminin memiliki sifat
sifat sangat penurut, sangat subjektif,
tidak suka bertindak agresif dan sangat
mudah terpengaruh. Karakteristik sifatsifat pada domain identitas gender
feminin mengurangi sikap skeptisisme
profesional mereka sebagai auditor.
Penelitian yang dilakukan oleh Hardies
et al (2009) menemukan bahwa
terdapat perbedaan persepsi antara
gender maskulin dan gender feminin
terhadap sikap skeptisme profesional.
H2 : Auditor yang memiliki identitas
gender maskulin memiliki sikap
skeptisme profesional yang lebih

34

Jurnal Ekonomi, Manajemen dan Akutansi I Vol 19 No. 2 Desember 2012

tinggi dari auditor yang memiliki


identitas gender feminin.

Gambaran skematis dari kerangka


pemikiran di atas dapat dilihat pada
model penelitian berikut :

Kerangka Pemikiran Teoritis


MASKULIN
Problem Solving Ability
Skeptisisme Profesional

UJI
BEDA

FEMININ
Problem Solving Ability
Skeptisisme Profesional

Perbedaan Problem Solving Ability serta Skeptisme Profesional dilihat dari


identitas gender maskulin-feminin
3. METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kantor
BPK RI Perwakilan Provinsi Riau.
Metode penelitian survey merupakan
penelitian lapangan yang dilakukan
terhadap beberapa anggota sampel dari
suatu
populasi
tertentu
yang
pengumpulan
datanya
dilakukan
dengan
menggunakan
kuesioner
(Sekaran, 2003).
3.2 Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini
adalah auditor yang bekerja pada
Kantor BPK RI Perwakilan Provinsi
Riau yang berjumlah 48 orang auditor.
Teknik sampling yang digunakan adalah
total sampling, yaitu pengambilan
sampel dengan cara menjadikan
seluruh anggota populasi menjadi
sampel.
3.3 Jenis dan Sumber Data
Data yang akan diuji dalam
penelitian ini adalah data primer yang
berasal dari jawaban responden pada
kuesioner yang dikirimkan kepada
responden yaitu para auditor yang
bekerja pada Kantor BPK RI Perwakilan
Provinsi Riau.

3.4 Teknik Pengumpulan Data


Adapun metode pengumpulan
data dalam penelitian ini menggunakan
angket (kuesioner). Kuesioner adalah
pertanyaan tertulis yang digunakan
untuk memperoleh informasi dari
responden
dalam
arti
laporan
pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui
(Arikuntoro, 2002:139). Data diperoleh
dengan
mengirimkan
kuesioner
langsung kepada auditor yang bekerja
di Kantor BPK RI Perwakilan Provinsi
Riau.
3.5 Definisi
Operasional
dan
Pengukuran Variabel
3.5.1 Gender
Dalam penelitian ini variabel
gender diukur berdasarkan identitas
gender individu yang bersangkutan.
Intrumen yang digunakan adalah
instrumen yang dikembangkan oleh
Spence, Helmreich dan Stapp (1973).
Personal Attributes Questionnaire ini
terdiri dari 24 pernyataan sifat diri
seseorang. Responden diminta untuk
menandai sifat yang sesuai pada dirinya
sesuai dengan skala yang tertera. Untuk
mengukur sifat-sifat pada domain
maskulin dan feminin digunakan skala
Likert 5 skala. Semakin mengarah ke
angka 5 maka sifat maskulin semakin

Analisis Perbedaan Problem Solving.. (Edfan Darkys& Sinta Nurleni Susanti)

tinggi dan sifat feminin semakin rendah


sebaliknya semakin mengarah ke angka
1 berarti sifat maskulin semakin rendah
dan sifat feminin semakin tinggi.
3.5.2 Problem Solving Ability
Problem solving ability dalam
penelitian
ini
diukur
dengan
kemampuan matematis responden.
Instrumen yang digunakan adalah
instrumen yang digunakan dalam
penelitian Hardies, Breesch dan
Branson
(2009).
Kemampuan
matematis
yang
diukur
adalah
kemampuan
responden
untuk
menyelesaikan soal-soal non routine,
challenging dan membutuhkan metode
baru
dalam
penyelesaiannya.
Kemampuan
pemecahan
masalah
dalam
penelitian
ini
berarti
kemampuan matematis responden.
Sifat-sifat matematika ini menuntut
pembelajaran
menggunakan
kemampuan-kemampuan dasar dalam
pemecahan masalah seperti berpikir
logis, berpikir strategik.
3.5.3 Sikap Skeptisisme Profesional
Auditor
Sikap skeptisisme Profesional
auditor adalah sikap yang mencakup
pikiran yang selalu mempertanyakan
dan melakukan evaluasi secara kritis
terhadap bukti audit. Instrumen yang
digunakan untuk mengukur sikap
skeptisisme profesional auditor adalah
instrumen penelitian
Sari (2008).
Instrumen yang diberikan terdiri dari
lima pertanyaan yang mengukur sikap,
keragu-raguan auditor terhadap bukti,
keterangan maupun asersi dari klien.
Instrumen
yang
digunakan
menggunakan skala Likert 5 poin.
3.6 Analisis Data
3.6.1 Uji Validitas
Sebagaimana
dikutip
oleh
Sugiyono (2008), Masrun menjelaskan

35

bahwa dalam memberikan interpretasi


terhadap koefisien korelasi, item yang
mempunyai korelasi positif dengan
skor total menunjukkan bahwa item
tersebut mempunyai validitas yang
tinggi. Uji validitas dilakukan dengan uji
korelasi Pearson
Product Moment
antara masing-masing skor indikator
dengan total skor konstruk.
Cara analisisnya dengan cara
menghitung koefisien korelasi antara
masing-masing nilai pada nomor
pertanyaan dengan nilai total dari
nomor
pertanyaan
tersebut.
Selanjutnya koefisien korelasi yang
diperoleh r masih harus diuji
signifikansinya dengan r tabel. Bila t
hitung
dari t tabel atau r hitung >
dari r tabel, maka nomor pertanyaan
tersebut valid.
3.6.2 Uji Reliabilitas
Pada penelitian ini untuk variabel
gender,
independensi,
sikap
skeptisisme
profesional
serta
penerimaan resiko uji reliabilitas
dilakukan dengan menghitung cronbach
alpha untuk masing-masing instrumen
dalam satu variabel. Nilai pisah batas
(cut off value) suatu instrumen
dikatakan reliabel adalah jika cronbach
alpha-nya lebih besar dari 0,60
(Nunally, 1978 dalam Ghozali, 2005).
Adapun rumus yang digunakan sebagai
berikut :

Keterangan :
r11 = reliabilitas yang dicari
b2 = jumlah varians skor butir
t2
= varians total
k
= banyaknya butir

36

Jurnal Ekonomi, Manajemen dan Akutansi I Vol 19 No. 2 Desember 2012

3.7 Uji Normalitas


Uji Normalitas bertujuan untuk
menguji apakah dalam uji beda,
variabel-variabel
yang
diteliti
mempunyai distribusi normal atau
tidak (Ghozali 2005:110). Uji Beda yang
baik adalah memiliki distribusi data
normal atau mendekati normal. Uji
normalitas data untuk uji beda
dilakukan dengan menggunakan Uji
Kolmogorof-Smirnov (Uji K-S). Untuk
Uji K-S jika nilai hasil Uji K-S >
dibandingkan taraf signifikansi 0,05
maka data terdistribusi normal.
3.8 Uji Hipotesis
Pengujian
dilakukan
dengan
menggunakan Independent Sample Ttest bertujuan membandingkan ratarata dua kelompok yang tidak
berhubungan satu sama lain dan
meneliti apakah kedua kelompok
tersebut mempunyai rata-rata yang
sama atau berbeda secara signifikan
dengan asumsi normalitas data
terpenuhi.

t
= Nilai t hitung
X1 = Rata-rata kelompok 1
X2 = Rata-rata kelompok 2
S
=
Varian
masing-masing
kelompok
N1 = Jumlah sampel kelompok 1
N2 = Jumlah sampel kelompok 2
Hipotesis untuk mengetahui apakah
variance populasi sama atau tidak
adalah :
H0 : Kedua populasi mempunyai
variance yang sama (identik).
H1,H2,H3,H4
:
Kedua
populasi
mempunyai variance yang tidak sama
(berbeda).

Dasar pengambilan keputusan adalah


sebagai berikut :
Jika probabilitas > 0,05, maka H0
diterima (tidak dapat ditolak).
Jika probabilitas < 0,05,maka H0 ditolak
dan menerima H1,H2,H3,H4.
Pada penelitian ini level confidence
adalah 95% dengan level toleransi
kesalahan sebesar 5%.
4. HASIL PENELITIAN
4.1 Hasil Deskripsi Penelitian
Data pengumpulan data yang
telah
dilakukan
dengan
cara
menyebarkan
kuesioner
kepada
responden yang terdiri dari auditor
yang bekerja di Badan Pemeriksaan
Keuangan RI Perwakilan Provinsi Riau.
Dari 48 kuesioner yang disebarkan,
kuesioner yang kembali sebanyak 40
kuesioner (83 %), kuesioner yang tidak
dapt diolah sebanyak 8 kuesioner
(17%) dan kuesioner yang dapat
digunakan
adalah
sebanyak
40
kuesioner (83%) .
4.2 Uji Validitas
Untuk menilai kevalidan masingmasing butir pertanyaan dapat dilihat
dari Corrected item-total correlation.
Suatu item dikatakan valid jika
corrected item-total correlation lebih
besar dari nilai r tabel, r tabel dicari
pada signifikansi 0,05 dengan uji 2 sisi
dan jumlah data (n) = 40 maka r
tabelnya adalah 0,312.
4.2.1 Problem Solving Ability
Dalam penelitian ini untuk
variabel
problem
solving
ability
digunakan
4
item
pertanyaan.
Berdasarkan hasil pengolahan data
diperoleh hasil corrected item-total
correlation > dari r table (0.440, 0.323,
0.486, 0.330) yang berarti bahwa data
valid.

Analisis Perbedaan Problem Solving.. (Edfan Darkys& Sinta Nurleni Susanti)

4.2.2 Sikap Skeptisme Profesional


Dalam penelitian ini untuk
variabel
skeptisme
profrsional
digunakan
4
item
pertanyaan.
Berdasarkan hasil pengolahan data
diperoleh hasil corrected item-total
correlation > dari r tabel yang berarti
bahwa data valid.
4.3 Uji Reliabilitas
Uji reabilitas dilakukan dengan
metode cronbach alpha, suatu kontruks
atau variabel dikatakan reliabel jika
memberikan nilai cronbach alpha > 0,60
(Nunally, 1978 dalam Ghozali, 2005).
Berdasarkan hasil pengujian
reliabilitas data untuk setiap variabel
(problem solving ability dan sikap
skeptisme profesional), diperoleh hasil
cronbach alpha lebih besar dari 0.6
(0.786, 0.674, 0.610, 0.603) yang
berarti bahwa data tersebut reliabel.
4.4 Uji Normalitas
Uji Normalitas bertujuan untuk
menguji apakah dalam uji beda,
variabel-variabel
yang
diteliti
mempunyai distribusi normal atau
tidak
(Ghozali
2005:110).
Pada
penelitian ini untuk menguji normalitas
data
menggunakan
KolmogorovSmirnov,kriteria yang digunakan adalah
jika
masing-masing
variabel
menghasilkan nilai K-S dengan nilai
hasil Uji K-S > dibandingkan taraf
signifikansi
0,05
maka
data
terdistribusi normal.
4.6 Pembahasan
4.6.1 Auditor
yang
berorientasi
maskulin memiliki problem
solving ability yang lebih tinggi
dari auditor yang berorientasi
feminin.

37

Berdasarkan hasil pengujian


menunjukkan nilai K-S untuk variabel
problem solving ability adalah 1,18
dengan
probabilitas
signifikansi
sebesar 0,124. Nilai K-S untuk variabel
skeptisme adalah sebesar 1,20 dengan
probabilitas signifikansi sebesar 0,110.
Dikarenakan
setiap
variabel
memberikan nilai signifikansi K-S
dengan P > 0,05 maka data telah
terdistribusi secara normal.
4.5 Pengujian Hipotesis
Sebelum diketahui kesamaan atau
perbedaan nilai rata-rata jawaban
responden maka ada dua tahapan
analisis yang dilakukan, pertama harus
menguji asumsi apakah varian populasi
kedua sampel tersebut sama (equal
variances assumed) ataukah berbeda
(equal variances not assumed) dengan
melihat nilai Levene Test. Setelah
diketahui apakah varian sama atau
tidak, langkah kedua adalah melihat
nilai t-test untuk menentukan apakah
terdapat perbedaan nilai-rata-rata
secara signifikan.
4.5.1 Karakteristik Gender
Pengelompokkan gender dilakukan
dengan membedakan variabel maskulin
dan feminin dari total sifat gender.
Berdasarkan
pengolahan
data
menunjukkan bahwa dari 40 responden
identitas gender maskulin adalah 21
orang atau 52,5 % dan gender feminin
adalah 19 orang atau 47,5 %.
Pengelompokkan gender dilakukan
dengan membedakan variabel maskulin
dan feminin dari total sifat gender.
Dari hasil pengujian diatas, maka
dapat disimpulkan bahwa H3 diterima.
Karena secara statistik signifikan nilai t
sebesar 0,000 < 0,05 hal ini
mengidentifikasikan bahwa terdapat
perbedaan problem solving ability
antara gender maskulin dan gender
feminin. Selanjutnya bedasarkan data

38

Jurnal Ekonomi, Manajemen dan Akutansi I Vol 19 No. 2 Desember 2012

perhitungan statistik diketahui bahwa


nilai mean problem solving ability pada
kelompok gender feminin adalah 14,79,
sedangkan nilai mean untuk gender
maskulin adalah 17,57. Dengan
demikian problem solving ability yang
memiliki orientasi gender maskulin
lebih tinggi dibandingkan dengan
problem solving ability yang memiliki
orientasi gender feminin.
4.6.2 Auditor yang memiliki identitas
gender
maskulin
memiliki
sikap skeptisme profesional
yang lebih tinggi dari auditor
yang memiliki identitas gender
feminin.
Dari hasil pengujian diatas, maka
dapat disimpulkan bahwa H4 diterima.
Karena secara statistik signifikan nilai t
sebesar 0,027 < 0,05 hal ini
mengidentifikasikan bahwa terdapat
perbedaan
skeptisme
profesional
antara gender maskulin dan gender
feminin. Selanjutnya bedasarkan data
perhitungan statistik diketahui bahwa
nilai mean skeptisme profesional pada
kelompok gender feminin adalah 17,84,
sedangkan nilai mean untuk gender
maskulin adalah 16,86. Dengan
demikian skeptisme profesional yang
memiliki orientasi gender maskulin
lebih tinggi dibandingkan dengan
skeptisme profesional yang memiliki
orientasi gender feminin.
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui perbedaan independensi,
penerimaan resiko, problem solving
ability
dan
sikap
skeptisisme
profesional auditor
berdasarkan
perbedaan identitas gender auditor
(maskulin-feminin). Berdasarkan hasil
penelitian
maka
dapat
diambil
kesimpulan sebagai berikut :

1.

2.

Hasil analisis dan pengujian


hipotesis
menyatakan
bahwa
Problem solving ability berpengaruh
signifikan terhadap perbedaan
persepsi gender maskulin dan
gender feminin. Berdasarkan uji t
test gender maskulin lebih baik
dalam
memecahkan
masalah
dibandingkan gender feminin.
Hasil analisis dan pengujian
hipotesis diketahui bahwa terdapat
perbedaaan persepsi antara gender
maskulin dan feminin terhadap
skeptisme. Adanya sikap skeptisme
auditor
bergantung
pada
auditornya
karena
skeptisme
dipengaruhi oleh pengalaman, lama
bekerja, dan kompetensi auditor.

5.2 Saran
1. Dalam penugasan audit perlu
adanya kebijakan tertentu tidak
memberatkan
auditor
gender
feminin seperti penugasan khusus
yang menimbulkan risiko tinggi
karena mereka lebih memilih untuk
mendapatkan keamanan. Lebih
baik auditor gender feminin
ditugaskan
yang
bersifat
perencanaan dan evaluasi di
lingkup kerja.
2. Bagi
peneliti
selanjutnya
hendaknya
memperbaiki
kekurangan penelitian ini dengan
menambahkan jumlah sampel
dengan
memperluas
daerah
penelitian.
3. Untuk
peneliti
selanjutnya
hendaknya memperluas sampel
penelitian tidak hanya auditor tapi
dimasukkan juga kelompok sampel
lain seperti akuntan pendidik,
akuntan
manajemen
sehingga
penelitian tentang topik ini akan
lebih akurat dan komprehensif.

Analisis Perbedaan Problem Solving.. (Edfan Darkys& Sinta Nurleni Susanti)

5.3 Keterbatasan
1. Penelitian ini hanya membedakan
persepsi gender auditor, tidak
mencakup profrsi akuntan yang
lain.
2. Keterbatasan partisipan, jumlah
sampel yang digunakan juga

39

menyebabkan hasil penelitian ini


mungkin akan berbeda jika
dilakukan pada subjek yang lain.
Selain itu responden penelitian
hanya berasal dari kota Pekanbaru
saja.

DAFTAR PUSTAKA
Ardiansah, M,.N. 2003. Pengaruh Gender dan Locus of Control Terhadap Kepuasan
kerja, Komitmen Organisasional, dan Keinginan Berpindah Kerja Auditor.
Tesis. Pacasarjana Undip.
Arikunto, Suharsimi.2002. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek. Edisi
Revisi IV. Jakarta : Rineka Cipta.
Basow, S.A. 1992. Gender Stereotypes and Roles. California : Brooks/ Cole
Publishing Company.
Breesch,D. and Branson,J 2009. The Effects of Auditor Genders On Audit Quality. The
IUP Journal of Accounting Research and Audit Practices,8(3/4) pp.78-107.
Burke, P.J., and Stets, J.E,. 2000. Identity Theory and Social Identity Theory. Social
Psycology Quarterly. Vol.63, No.3 : 224-237.
Cristina, Uenike. 2007. Pengaruh Kompetensi dan Independensi Auditor terhadap
Kualitas Audit. Skripsi. Universitas Negeri Semarang.
Darmoko, Hendri,W. 2003. Profesionalisme Auditor Pada KAP Dilihat dari
Perbedaan Gender, Tipe KAP, dan Hirarki Jabatannya. Tesis. Universitas
Diponegoro.
Efendi, M. Taufik. 2010. Pengaruh Kompetensi dan Independensi Terhadap Kualitas
Audit Aparat Inspektorat Dalam Pengawasan Keuangan Daerah. Tesis
Universitas Diponegoro.
Ghozali, Imam.2005. Aplikasi analisis multivariat dengan program SPSS. Badan
Penerbit Undip: Semarang.
Hamzah,A. Dan Paramitha. 2008. Perbedaan Perilaku Etis dan Tekanan Kerja
Perspektif Gender Dalam Audit Judgment Laporan Keuangan Historis dan
Kompleksitas Tugas. Jurnal Ilmiah Akuntansi. Vol.7,No.1 : 18-29.
Hardies,K., Breesch,D. and Branson,J. 2009. Are Female Auditors Still Woman,
Analyzing The sex Difference Affecting Audit Quality. Pleinlaan 2, 1050
Brussels,Belgium.
Herawati, T., dan Admini,S. 2010. Perbedaan Perilaku Auditor dalam Situasi Konflik
Audit Dilihat dari Segi Gender. Jurnal Aplikasi Manajenem. Vol.8, No.2.
Ikhsan, Arfan. 2007. Profesionalisme Auditor Pada Kantor Akuntan Publik Dilihat
dari Perbedaan Gender, Kantor Akuntan Publik Dan Hirarki Jabatannya.
Jurnal Bisnis dan Akuntansi. Vol.9, No.3.
Mulyadi.2002. Auditing, Edisi keempat. Salemba Empat: Jakarta.
McIntosh, R. and Jarrett, D. 2000. Teaching Mathematical Problem Solving:
Implemeting The Vision. Mathematics and Science Education Center.

40

Jurnal Ekonomi, Manajemen dan Akutansi I Vol 19 No. 2 Desember 2012

Santosa, Hendri. 2001. Analisis Diskriminasi Gender dan Kepuasan Kerja pada
Auditor BPKP Jawa Tengah. Tesis. Pascasarjana Undip.
Sekaran, Uma. 2006. Research Methods For Business : Metodologi Penelitian Untuk
Bisnis. Buku 2. Jakarta : Empat Salemba.
Setiawati,D. dan Zulkaida,A. 2007. Perbedaan Komitmen Kerja Berdasarkan
Orientasi Peran Gender. Proceeding PESAT. Vol.2 : 1858-2559.
Siegel, Gary, Marconi, H.R. 1989. Behavioral Accounting. South Dakota: South
Webster Pub. Co.
Spence, J.T., & Helmreich, R.L. (1978).
Masculinity and femininity: Their
psychological dimensions, correlates, and antecedents. Austin, TX: University
of Texas Press.
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Bisnis. Alfabeta: Bandung.
Suraida, Ida. 2005.Pengaruh Etika, Kompetensi, Pengalaman Audit, dan Resiko Audit
Terhadap Skeptisme Profesional Auditor dan Ketepatan Pemberian Opini
Akuntan Publik. Susiohumaniora Vol.7,No.3:186-202.
Taplin, Margaret. 2007. Mathematics Through Problem Solving, dalam
http://www.mathgoodies.com/articles.
Tjun, Tjun, Lauw. 2012. Pengaruh Kompetensi dan Idependensi Terhadap Kualitas
Audit. Penelitian Universitas Kristen Maranatha.
Wati, E., Lismawati, Aplilla, N. 2010. Pengaruh Independensi, Gaya Kepemimpinan,
Komitmen Organisasi, dan Pemahaman Good Governance Terhadap Kinerja
Auditor Pemerintah. SNA XIII Purwokerto.
Zhang, Q., Wang, M.,Yan, X. 2012. Effect of Gender Streotypes on Spontaneous Traid
Inferences and The Moderating Role of Gender Schematicity. Social Cognition.
Vol.30, No.2: 220-231
Zulaikha. 2006. Pengaruh Interaksi Gender, Kompleksitas Tugas dan Pengaman
Auditor Terhadap Audit Judgment. Jurnal Penelitian Undip. SNA XI Padang.
IAI.2001. Standar Profesional Akuntan Publik. Salemba Empat. Cetakan Pertama.