Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN
I. 1.

Latar Belakang
Tindakan bunuh diri, kekerasan dan penyalahgunaan zat merupakan

masalah-masalah serius yang perlu intervensi segera. Ketiga kondisi tersebut


merupakan sebagian dari berbagai kondisi kedaruratan psikiatrik. Pemahaman
kesehatan masyarakat bahwa kasus-kasus tersebut merupakan keadaan yang perlu
pertolongan segera, menyebabkan dokter akan lebih banyak menemui kasus-kasus
kedaruratan psikiatrik tersebut. Hal ini juga sejalan dengan peningkatan
pemahaman bahwa perubahan status mental seseorang dapat disebabkan oleh
penyakit organik (sesuai dengan konsep hierarki dalam pemahaman diagnosis
gangguan jiwa).
Sebagai ujung tombak di lapangan, peran dokter umum sangat penting
dalam hal ini adalah sebagai bagian dari pelayanan kedaruratan medik dan
psikiatrik yang terintegrasi.
Diperlukan keterampilan dalam assesment dan teknik evaluasi untuk
membuat diagnosis kerja. Dalam pelaksanaannya sering diperlukan pemeriksaan
fisik serta laboratorium yang sesuai dan memadai. Kerja sama dalam suatu tim
adalah bentuk pelayanan yang paling diharapkan untuk hasil optimal. Pendekatan
Consultation-Liaison Psychiatry bermanfaat untuk beberapa penanganan kasuskasus kedaruratan, seperti tindakan bunuh diri, delirium, sindrom neuroleptik
maligna, dll.
Dalam referat ini akan lebih mendalam dibahas mengenai bunuh diri
sebagai kedaruratan psikiatrik dan berbagai kasus kedaruratan psikiatri lain.
I. 2.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah pada

referat ini sebagai berikut.


1.

Apa yang dimaksud dengan kedaruratan psikiatri?

2.

Bagaimana evaluasi pada kedaruratan psikiatri?

1 | KEDARURATAN PSIKIATRI

3.

Bagaimana pertimbangan penegakan diagnosis dan terapi pada


kedaruratan psikiatri?

4.

Bagaimana dokumentasi pada kedaruratan psikiatri?

5.

Apa definisi dari bunuh diri?

6.

Bagaimanakah epidemiologi bunuh diri?

7.

Apa saja etiologi dari bunuh diri?

8.

Apa saja faktor yang terkait dalam kasus bunuh diri?

9.

Apa saja gangguan yang berisiko terjadinya bunuh diri?

10.

Bagaimana terapi dari bunuh diri?

11.

Bagaimana pencegahan bunuh diri?

12.

Apa saja kasus-kasus kedaruratan psikiatri lainnya?

I. 3.

Tujuan
Dari rumusan masalah di atas, tujuan dari pembuatan referat ini adalah:

1. Mengetahui pengertian dari kedaruratan psikiatri.


2. Mengetahui evaluasi pada kedaruratan psikiatri.
3. Mengetahui

pertimbangan

penegakan

diagnosis

dan

terapi

pada

kedaruratan psikiatri.
4. Mengetahui dokumentasi pada kedaruratan psikiatri.
5. Mengetahui definisi dari bunuh diri.
6. Mengetahui epidemiologi bunuh diri.
7. Mengetahui etiologi dari bunuh diri.
8. Mengetahui faktor yang terkait dalam kasus bunuh diri.
9. Mengetahui gangguan yang berisiko terjadinya bunuh diri.
10. Mengetahui terapi dari bunuh diri.
11. Mengetahui pencegahan bunuh diri.
12. Mengetahui kasus-kasus kedaruratan psikiatri lainnya.

2 | KEDARURATAN PSIKIATRI

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1.

Kedaruratan Psikiatri
Kedaruratan psikiatri merupakan cabang ilmu kedokteran jiwa dan

kedokteran kedaruratan, yang dibuat untuk menghadapi kasus kedaruratan yanng


memerlukan intervensi psikiatrik.
Dokter masa kini harus mengembangkan perannya untuk menjadi bagian
dari ruang gawat darurat psikiatrik. Kasus yang datang minta pertolongan sangat
bervariasi. Ada yang sekedar ingin minta resep, ada yang memerlukan teman
bicara, hingga yang merupakan kasus-kasus psikiatrik, seperti : panik, kondisi
medik umum (delirium, intoksikasi, gejala putus zat, dll), krisis perkawinan,
skizofrenia atau psikosis akut, dll.
Kasus kedaruratan psikiatrik meliputi gangguan pikiran, perasaan, dan
perilaku yang memerlukan intervensi terapeutik segera, antara lain:
-

Kondisi gaduh gelisah


Dampak tindak kekerasan
Bunuh diri
Gejala ekstrapiramidal akibat penggunaan obat
Delirium

II.1.1. Evaluasi
Menilai kondisi pasien yang sedang dalam krisis secara cepat dan tepat
adalah tujuan utama dalam melakukan evaluasi kedaruratan psikiatrik. Tindakan
segera dengan pendekatan pragmatis, yang harus dilakukan secara tepat adalah:
1. Menentukan diagnosis awal,
2. Melakukan identifikasi faktor-faktor presipitasi dan kebutuhan segera
sang pasien,
3. Memulai terapi atau merujuk pasien ke fasilitas yang sesuai.
Dalam kondisi tertentu, terkadang pasien tidak diharapkan berada terlalu
lama di unit gawat darurat, antara lain karena sifat kegawatdaruratan yang tidak
terduga, baik medis, klinis maupun psikiatris, serta keterbatasan waktu, ruang, dan
pemeriksaan penunjang.
Tujuan utama dalam evaluasi kedaruratan psikiatrik adalah: menilai
kondisi pasien yang sedang dalam krisis secara cepat dan tepat. Dengan tugas di

3 | KEDARURATAN PSIKIATRI

unit gawat darurat yang sifatnya sering tak terduga, banyaknya pasien dengan
keluhan-keluhan fisik dan emosional, terbatasnya waktu, ruang, dan pemeriksaan
penunjang, diperlukan pendekatan yang pragmatis bagi pasien. Kadang-kadang
lebih baik bagi pasien untuk tidak terlalu lama berada di unit gawat darurat.
Dalam proses evaluasi dilakukan:
1. Wawancara Kedaruratan Psikiatrik
Wawancara dilaksanakan dengan lebih terstruktur. Secara umum,
fokus wawancara ditujukan pada keluhan pasien dan alasan dibawa ke unit
gawat darurat. Keterangan tambahan dari pihak pengantar, keluarga, teman
ataupun polisi dapat melengkapi informasi, terutama pada pasien mutisme,
negativistik, tidak kooperatif atau inkoheren.
Seperti halnya wawancara psikiatrik yang biasa dilakukan,
hubungan dokter-pasien sangat berpengaruh terhadap informasi yang
diberikan dan yang diinterpretasikan. Karenanya diperlukan kemampuan
mendengar, melakukan observasi dan melakukan interpretasi terhadap apa
yang dikatakan ataupun yang tidak dikatakan oleh pasien, dan ini dilakukan
dalam waktu yang cepat.
Sikap yang tenang dan jujur akan sangat diperlukan dalam proses
wawancara. Hal ini membuat pasien mengerti bahwa dokter memegang
kendali, dan bahwa keputusan untuk melakukan setiap tindakan, adalah
untuk mencegah perilaku yang melukai diri sendiri atau orang lain.
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan psikiatrik standar meliputi: riwatyat perjalanan
penyakit, pemeriksaan status mental, pemeriksaan status fisik/neurologik,
dan kalau perlu pemeriksaan penunjang.
Yang pertama dan terpenting yang harus dilakukan oleh dokter di
unit gawat darurat adalah menilai tanda-tanda vital pasien. Tekanan darah,
suhu, nadi adalah sesuatu yang mudah diukur yang dapat memberikan suatu
informasi yang bermakna secara cepat. Misalnya seseorang yang gaduh
gelisah dan mengalami halusinasi, demam, frekuensi nadi 120 per menit,
dan tekanan darah meningkat, kemungkinan besar mengalami delirium
dibandingkan dengan suatu gangguan psikiatrik
Apapun penyakit pasien yang sesungguhnya, tanda-tanda vital
dapat membantu dokter untuk memilih alur diagnosis yang benar karena

4 | KEDARURATAN PSIKIATRI

pemeriksaan ini saja sudah banyak yang bisa kita simpulkan atau kita
singkirkan.
Pada bagan, dapat dilihat salah satu model alur evaluasi dan
penatalaksanaan pasien darurat psikiatrik.
Bagan alur evaluasi dan penatalaksanaan pasien gawat darurat psikiatri
Pasien rujukan

Datang sendiri

Pasien diantar

oleh polisi
Pelayanan gawat darurat psikiatrik
Triage
Tanda vital
Kesadaran
Pemeriksaan
medik,neurologik
Pemeriksaan laboratorium
Triage psikiatrik
Evaluasi medik
Evaluasi psikiatrik; organik atau fungsional
Rawat bersama dengan disiplin ilmu lain Rawat inap psikiatrik

Rawat jalan

Lima hal yang harus ditentukan sebelum menangani pasien selanjutnya:


1. Keamanan pasien
Sebelum mengevaluasi pasien, dokter harus dapat memastikan bahwa
situasi di ruang gawat darurat, pola pelayanan dan kominikasi antar staf,
serta jumlah pasien dalam ruangan tersebut cukup aman bagi pasien, baik
secara fisik maupun emosional. Jika intervensi verbal tidak cukup atau
merupakan kontraindikasi, perlu dipikirkan pemberian obat atau
pengekangan. Perhatian perlu diberikan terhadap kemungkinan timbulnya
agitasi atau perilaku merusak.
2. Medik atau psikiatrik?
Penting sekali bagi dokter untuk menilai apakah kasusnya

medik,

psikiatrik, atau kombinasi keduanya, sebab penanganannya akan jauh


berbeda. Kondisi-kondisi medik umum seperti trauma kepala, infeksi berat
dengan demam tinggi, kelainan metabolisme, tumor, AIDS, intoksikasi
5 | KEDARURATAN PSIKIATRI

atau gejala putus zat, seringkali menyebabkan gangguan fungsi mental


yang menyerupai gangguan psikiatrik

pda umumnya. Bila konsisi ini

tidak ditangani semestinya, dapat menyebabkan kematian. Karena itu


dokter gawat darrurat tetap arus menelusuri semua kemungkinan penyebab
gangguan fungsi mental yang tampak, meskipun sebelumnya secara mesik
telah dinyatakan tak ada kelainan oleh dokter lain.
3. Psikosis
Yang penting disini bukanlah penegakan diagnosisnya, tetapi
seberapa jauh ketidakmampuannya dalam menilai realita dan buruknya
tilikan mempengaruhi hidupnya. Hal ini dapat mempengaruhi sikapnya
terhadap pertolongan yang kita berikan serta kepatuhannya dalam berobat.
Kominikasi dengan pasien psikosis harus luwes dan tidak berteletele. Semua intervensi klinis harus dijelaskan secara singkat dan jelas,
dalam bahasa yang dapat dimengerti. Jangan mengharapkan pasien
mempercayai atau mengharapkan bantuan kita. Dokter harus siap untuk
melakukan wawancara terstruktur atau menghentikan wawancara sewaktuwaktu untuk membatasi kemungkinan terjadinya agitasi atau regresi.
4. Suicidal atau homicidal
Pasien-pasien dengan kecenderungan ini sangat membahayakan dirinya
atau orang lain. Jangan pernah menyepelekan semua ancaman, pikiran
atau sikap yang menunjukkan adanya kecenderungan bunuh diri, sampai
terbukti hal itu tidak benar. Semua pasien dengan kecenderungan bunuh
diri harus diobservasi secara ketat. Perasaan-perasaan yang berkaitan
dengan tindak kekerasan atau pikiran bunuh diri harus selalu ditanyakan
pada pasien.
5. Kemampuan merawat diri sendiri
Sebelum memulangkan pasien, harus dipertimbangkan apakah pasien
mampu merawat dirinya sendiri, mampu menjalankan saran yang
dianjurkan. Ketidakmampuan pasien dan atau keluarganya untuk merawat
pasien di rumah merupakan salah satu indikasi rawat inap.
Indikasi rawat inap adalah:
- Bila pasien membahayakan diri sendiri atau orang lain,
- Bila perawatan di rumah tidak memadai,
- Perlu observasi lebih lanjut.
II.1.2. Pertimbangan Dalam Penegakan Diagnosis dan Terapi

6 | KEDARURATAN PSIKIATRI

Beberapa hal yang perludipertimbangkan dalam penegakan diagnosis dan terapi


antara lain:
1. Diagnosis
Meskipun pemeriksaan gawat darurat tidak harus lengkap, namun ada
beberapa hal yang harus dilakukan sesegera mungkin untuk keakuratan
data, misalnya penapisan toksikologi (tes urin untuk opioid, amfetamin,
benzodiazepin,

kanabis,

dsb),

pemeriksaan

radiologi,

EKG,

tes

laboratorium. Sedapat mungkin pemeriksaan dan konsultasi medik untuk


menyingkirkan kemungkinan penyebab organik dilakukan di ruang gawat
darurat. Data penunjang seperti catatan medik sebelumnya, informasi dari
sumber luar (alloanamnesis dari keluarga, polisi, dll) juga dikumpulkan
sebelum kita menentukan tindakan. Prioritas utama memang kemanan,
namun hal ini jangan sampai menunda penegakan diagnosis.
2. Terapi
Pemberian terapi obat atau pengekangan (bila memang diperlukan) harus
mengikuti prinsip terapi: maximum tranquilization with minimum
sedation.
Tujuannya adalah untuk:
- Membantu pasien untuk dapat mengendalikan dirinya kembali
- Mengurangi/menghilangkan penderitaannya,
- Agar evaluasi dapat dilanjutkan sampai didapat kesimpulan akhir.
Pasien yang tidur memang tidak dapat membahayakan orang lain, tetapi
kita pun tidak dapat melakukan pemeriksaan status mental pada pasien
tersebut. Obat-obatan yang sering digunakan adalah:
-

Low-dose

high-potency

anti

psychotics,

seperti

haloperidol,

trifluoperazine, perphenazine, dsb, karena batas keamanannya cukup


luas. Haloperidol terdapat dalam kemasan injeksi dan tetes (cairan)
-

sehingga memudahkan pemberian.


Atypical anti psychotics,seperti risperidone, quetiapine, olanzapine.

Olanzapine juga terdapat dalam bentuk injeksi.


Injeksi benzodiazepin. Kombinasi antipsikotik dengan benzodiazepin
kadang sangat efektif.

Kesalahan yang sering dilakukan oleh para dokter adalah:


1. Pemberian dosis yang terlalu besar atau penggunaan preparat yang
terlalu kuat (overmedication), sehingga evaluasi atau pemulangan
menjadi terlambat,
7 | KEDARURATAN PSIKIATRI

2. Pemberian dosis yang kurang atau pemberian preparat yang kurang


tepat (undermedication),
3. Penggantian obat yang terlalu cepat.
II.1.3. Rujukan/Pemindahan
Pada beberapa keadaan, misalnya psikosis akibat zat, reaksi stres akut,
dekompensasi psikologik sementara pada pasien dengan gangguan kepribadian
tertentu, akan lebih baik pasien tidak langsung dirawat atau dipulangkan.
Penempatan di ruang observasi berkelanjutan akan memberikan waktu
bagi dokter untuk mendapatkan kejelasan lebih lanjut mengenai penyebab
gangguan mentalnya. Selain itu keadaan pasien juga akan membaik bila berada di
tempat yang aman.
Dengan demikian pasien mungkin tidak perlu dirawat di instalasi rawat
inap psikiatrik yang dapat menimbulkan stigma atau trauma baginya, juga
mengurangi kapasitas tempat tidur yang mungkin dapat diberikan pada orang lain
yang benar-benar membutuhkannya. Intervensi krisis pada korban perkosaan atau
korban trauma lainnya, misalnya, juga dapat dilakukan pada fasilitas observasi ini.
Bila pasien dianggap perlu untuk dirawatinapkan, sebaiknya hal itu
dilakukan dengan persetujuan pasien sehingga ia merasa dapat mengendalikan
hidupnya dan ikut berpartisipasi dalam pengambilan keputusan berkenaan dengan
pengobatannya.

Bila

pasien

memang

membahayakan

diri

sendiri

atau

lingkungannya, maka hal itu dapat dilakukan tanpa persetujuannya.


II.1.4. Dokumentasi
Semua penemuan dan tindakan harus didiskusikan dan dicatat dengan baik
untuk kepentingan pasien, dokter dan RS, asuransi/pembayaran, dan hukum.
Catatan medik harus dapat menggambarkan keadaan pasien. Penemuan positif
maupun negatif serta informasi yang belum didapat sebaiknya dicatat. Namanama serta alamat dan nomor telepon yang dapat dihubungi wajib dicatat.
Rencana penatalaksanaan awal dilakukan sesuai diagnosis kerja saat itu.
II.2.

Bunuh Diri

II.2.1. Definisi Bunuh Diri (Suicide)


Bunuh diri merupakan kematian yang ditimbulkan oleh diri sendiri dan
disengaja dimana bukan tindakan yang acak dan tidak bertujuan. Sebaliknya,

8 | KEDARURATAN PSIKIATRI

bunuh diri merupakan jalan keluar dari masalah atau krisis yang hampir selalu
menyebabkan penderitaan yang kuat.
Bunuh diri merujuk kepada perbuatan memusnahkan diri karena enggan
berhadapan dengan suatu perkara yang dianggap tidak dapat ditangani. Menurut
Keliat (1994) bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan
dapat mengakhiri kehidupan dan merupakan keadaan darurat psikiatri karena
individu berada dalam keadaan stres yang tinggi dan menggunakan koping yang
maladaptif. Lebih lanjut menurut Keliat, bunuh diri merupakan tindakan merusak
integritas diri atau mengakhiri kehidupan, dimana keadaan ini didahului oleh
respon maladaptif dan kemungkinan keputusan terakhir individu untuk
memecahkan masalah yang dihadapi.
Bunuh diri adalah pengambilan tindakan untuk melukai diri sendiri yang
secara sengaja dilakukan oleh seseorang. Orang yang melakukan tindakan bunuh
diri mempunyai pikiran dan perilaku yang merupakan perwakilan (representing)
dari kesungguhan untuk mati dan juga merupakan manifestasi kebingungan
(ambivalence) pikiran tentang kematian (Hoeksema, 2001).
Para klinikus menemukan adanya perbedaan antara bunuh diri yang asli
(genuine suicide) dengan bunuh diri yang dimanipulasi (manipulative suicide).
Bunuh diri asli adalah bunuh diri yang dilakukan oleh orang yang benar-benar
ingin mati dan tindakan yang dilakukan untuk merealisasikan bunuh dirinya
tersebut, dilakukan tanpa perhitungan yang salah (miscalculation).
Sementara orang yang melakukan bunuh diri yang dimanipulasi tidak
sungguh-sungguh ingin membunuh dirinya, tindakan mereka (bunuh diri) adalah
percobaan yang terkontrol, yang dilakukan untuk memanipulasi orang lain
(Landis & Meyer, Shneidman, dalam Barlow & Durand, 2002).
Lyttle (1986) juga membedakan antara bunuh diri (suicide) dengan usaha
bunuh diri (parasuicide). Wilkinson menyebutkan jika bunuh diri (suicide)
sebagai tindakan fatal untuk mencederai diri sendiri yang dilakukan dalam
kesadaran untuk merusak diri yang kuat atau secara sungguh-sungguh (conscious
self-destructive intent). Sementara usaha bunuh diri (parasuicide) merujuk pada
tindakan menyakiti diri sendiri yang dilakukan dengan pertimbangan yang

9 | KEDARURATAN PSIKIATRI

mendalam yang biasanya tidak berakibat fatal. Usaha bunuh diri (parasuicide),
biasanya juga digambarkan sebagai percobaan bunuh diri (attempted suicide).
Heeringan (2001) menyebutkan jika perilaku bunuh diri merupakan istilah
yang digunakan untuk mewakili istilah bunuh diri itu sendiri dan usaha bunuh diri
sebagai suatu perbuatan yang menghasilkan kejadian fatal maupun tidak fatal.
II.2.2. Epidemiologi
Tiap tahun kira-kira 30.000 kematian di Amerika Serikat disebabkan oleh
bunuh diri. Angka tersebut adalah untuk bunuh diri yang berhasil; jumlah usaha
bunuh diri diperkirakan 8 sampai 10 kali lebih besar dari angka tersebut.
Antara tahun 1970 dan 1980 lebih dari 230.000 orang melakukan bunuh
diri di Amerika Serikat, kira-kira satu dalam setiap 20 menit, 75 bunuh diri dalam
sehari. Angka bunuh diri total agak tetap setiap tahunnya. Di tahun 1977 bunuh
diri berada dalam puncaknya yaitu 13,3 per 100.000. Sekarang, bunuh diri berada
dalam urutan kedelapan dari semua penyebab kematian di Amerika Serikat,
setelah penyakit

jantung, kanker, penyakit

serebrovaskular, kecelakaan,

pneumonia, diabetes melitus, dan sirosis.


Insiden bunuh diri di Amerika Serikat terjadi pada usia 15-24 tahun
sedangkan dalam survei nasional baru-baru ini terhadap siswa senior sekolah
lanjutan 27% dari mereka pernah memikirkan secara serius untuk bunuh diri dan
salah satunya pernah mencobanya. Secara internasional, angka bunuh diri yang
lebih dari 25 per 100.000 orang terjadi di Skandinavia, Swiss, Jerman, Austria,
Negara-negara Eropa Timur, dan Jepang. Sedangkan yang kurang dari 10 per
100.000 orang terjadi di Spanyol, Italia, Irlandia, Mesir, dan Belanda. Tempat
bunuh diri nomor satu di dunia adalah Jembatan Golden Gate di San Francisco,
dengan lebih dari 800 bunuh diri sejak di buka tahun 1937.
II.2.3. Etiologi
Terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebab bunuh diri, diantaranya
adalah:
Faktor Sosial
Teori Durkheim. Sumbangan pertama yang besar untuk penelitian pengaruh
sosial dan kultural terhadap bunuh diri dilakukan pada akhir abad yang lalu

10 | KEDARURATAN PSIKIATRI

oleh ahli sosiologi Perancis Emile Durkheim. Dalam upaya menjelaskan pola
statistikal, Durkheim membagi bunuh diri menjadi tiga kategori sosial :
egoistik, altruistik, dan anomik.
Bunuh Diri Egoistik diterapkan pada mereka yang tidak terintegrasi secara
kuat ke dalam kelompok sosial. Tidak adanya integrasi keluarga dapat
digunakan untuk menjelaskan mengapa orang yang tidak menikah adalah
lebih rentan terhadap bunuh diri dibandingkan dengan mereka yang
menikah dan mengapa pasangan dengan anak-anak adalah kelompok yang
paling terlindung dari semua kelompok. Masyarakat perkotaan memiliki
lebih banyak integrasi sosial dibandingkan dengan daerah pedesaan, jadi
lebih sedikit bunuh diri.
Bunuh Diri Altruistik terjadi dalam masyarakat yang mempunyai ikatan
sosial yang kuat. Bunuh diri ini dimaksudkan demi kelompok, hampir
seperti bunuh diri ritual Jepang Seppuku yang dilakukan ketika
kekacauan melanda masyarakat.
Bunuh Diri Anomik terkait dengan apa yang disebut Anomie atau
keadaan dimana anda tidak tahu tempat yang tepat bagi seseorang seperti
menjadi tunawisma atau yatim piatu. Orang tersebut merasa tidak punya
apa-apa dan ini berarti berada dalam keadaan tanpa norma dan peraturan
yang membimbing dalam kehidupan sosial sehari-hari. Hal ini dapat
menjelaskan mengapa mereka dengan situasi ekonomi yang berubah
secara drastik lebih rentan dibandingkan mereka sebelum perubahan
keberuntungan mereka. Anomik juga dimaksudkan pada ketidakstabilan
sosial, dengan kehancuran standar dan nilai-nilai masyarakat.
Faktor Psikologis
Teori Freud
Tilikan psikologis pertama yang paling penting ke dalam bunuh diri berasal
dari Sigmund Freud. Ia menggambarkan hanya satu pasien yang mencoba
bunuh diri, tetapi ia melihat banyak pasien depresi. Dalam tulisannya
Mourning and Melancholia, Freud menyatakan keyakinannya bahwa bunuh
diri mencerminkan agresi yang dibelokkan ke dalam objek cinta yang
terintroyeksi, dan ditangkap secara ambivalen.
Teori Menninger

11 | KEDARURATAN PSIKIATRI

Berdasarkan konsep Freud, Karl Menninger menyimpulkan bahwa bunuh diri


adalah pembunuhan yang di retrofleksikan, pembunuhan yang dibalikkan
sebagai akibat kemarahan pasien kepada orang lain, yang dibalikkan pada diri
sendiri atau digunakan sebagai pengampunan akan hukuman.
Ia juga menggambarkan insting kematian yang diarahkan kepada diri sendiri
(konsep Thanatos dari Freud). Ia menggambarkan tiga komponen permusuhan
dalam bunuh diri : keinginan untuk membunuh, keinginan untuk dibunuh dan
keinginan untuk mati.
Teori-teori Baru
Peneliti bunuh diri kontemporer tidak yakin bahwa struktur psikodinamika atau
kepribadian spesifik berhubungan dengan bunuh diri. Tetapi mereka telah
menulis bahwa banyak yang dipelajari tentang psikodinamika pasien bunuh
diri dari khayalan mereka seperti apa yang akan terjadi dan apa akibatnya jika
mereka melakukan bunuh diri. Khayalan tersebut sering kali termasuk
keinginan untuk balas dendam, kekuatan, pengendalian atau hukuman; untuk
pertobatan, pengorbanan, atau pemulihan; untuk meloloskan diri atau untuk
tidur; atau untuk pembebasan, kelahiran kembali, berkumpul kembali dengan
orang yang telah meninggal atau untuk hidup baru. Pasien bunuh diri yang
paling mungkin melakukan khayalan bunuh diri adalah mereka yang telah
menderita kehilangan objek cinta atau menderita cedera narsisistik, yang
mengalami efek berat seperti kemarahan dan rasa bersalah, atau yang
teridentifikasi dengan seorang korban bunuh diri. Dinamika kelompok
mendasari bunuh diri massal seperti yang terjadi di Masada dan Jonestown.
Faktor Fisiologis
Genetika
Teori faktor genetik dalam bunuh diri telah diajukan. Penelitian
menunjukan bahwa bunuh diri cenderung berjalan di dalam keluarga. Sebagai
contohnya, pada orang yang mencoba bunuh diri ditemukan adanya riwayat
bunuh diri dalam keluarga lebih banyak secara bermakna daripada orang yang
tidak pernah melakukan bunuh diri.
Satu penelitian terbesar menemukan bahwa resiko bunuh diri untuk sanak
saudara dari pasien psikiatri hampir delapan kali lebih tinggi dibanding sanak
saudara dari kontrol. Selain itu, resiko bunuh diri pada sanak saudara pasien
psikiatri yang melakukan bunuh diri adalah empat kali lebih tinggi
12 | KEDARURATAN PSIKIATRI

dibandingkan pada sanak saudara pasien psikiatri yang tidak melakukan bunuh
diri.
Neurokimia
Defisiensi

serotonin,

diukur

sebagai

penurunan

metabolisme

5-

hydroxyindo-leacetic acid (5-HIAA), telah ditemukan dalam kelompok pasien


depresi yang mencoba bunuh diri. Pasien depresi yang mencoba bunuh diri
dengan cara keras (contoh, senjata api atau meloncat) memiliki kadar 5-HIAA
yang lebih rendah di dalam cairan serebrospinalisnya dibandingkan pasien
depresi yang tidak melakukan bunuh diri atau yang mencoba bunuh diri dengan
cara yang kurang keras (overdosis zat).
Beberapa penelitian terhadap binatang dan manusia telah menyatakan
suatu hubungan antara defisiensi sistem serotonin sentral dan pengendalian
impuls yang buruk. Beberapa peneliti telah memandang bunuh diri sebagai
salah satu tipe perilaku impulsif. Kelompok pasien lain yang diperkirakan
memiliki masalah dengan pengendalian impuls adalah pelaku kekerasan,
pembakar rumah dan mereka dengan ketergantungan alkohol.
Beberapa

peneliti

telah

menemukan

pembesaran

ventrikular

dan

elektroensefalogram (EEG) yang abnormal pada beberapa pasien bunuh diri.


Sampel darah dari kelompok sukarelawan normal yang dianalisis untuk
monoamin oksidase trombosit menemukan bahwa orang dengan kadar enzim
yang terendah didalam trombositnya memiliki prevalensi bunuh diri delapan kali
lebih besar didalam keluarganya, dibandingkan dengan orang yang memiliki
kadar enzim yang tinggi.
II.2.4. Faktor yang Terkait
Adapun faktor-faktor yang terkait dengan tindakan bunuh diri adalah:
1. Jenis Kelamin
Laki-laki tiga kali lebih sering melakukan bunuh diri dibandingkan wanita.
Akan tetapi wanita adalah empat kali lebih mungkin berusaha bunuh diri
dibandingkan laki-laki.
2. Metode
Lebih tingginya angka bunuh diri yang berhasil pada laki-laki adalah
berhubungan dengan metode yang digunakan dimana laki-laki menggunakan
pistol, menggantung diri, atau lompat dari tempat yang tinggi. Sedangkan
wanita lebih mungkin menggunakan zat psikoaktif secara overdosis atau
13 | KEDARURATAN PSIKIATRI

memotong pergelangan tangannya, tetapi mereka mulai lebih sering


menggunakan pistol dibandingkan sebelumnya.
3. Usia
Angka bunuh diri meningkat sesuai dengan bertambahnya usia. Pada laki-laki,
puncak bunuh diri adalah usia 45 tahun; pada wanita, jumlah terbesar bunuh
diri yang berhasil adalah diatas 55 tahun. Orang lanjut usia kurang sering
melakukan usaha bunuh diri dibandingkan orang muda tetapi lebih sering
berhasil. Angka untuk mereka yang berusia 75 tahun atau lebih adalah lebih
dari tiga kali dibandingkan angka untuk orang muda.
4. Ras
Angka bunuh diri diantara orang kulit putih adalah hampir dua kali lebih besar
dari angka bukan kulit putih, tetapi angka tersebut masih diragukan, karena
angka bunuh diri pada kulit hitam adalah meninggi.
5. Status perkawinan
Perkawinan yang diperkuat oleh anak tampaknya

secara bermakna

menurunkan risiko bunuh diri. Orang yang hidup sendirian dan tidak pernah
menikah memiliki angka hampir dua kali lipat angka untuk orang yang
menikah. Tetapi, orang yang sebelumnya pernah menikah menunjukan angka
yang jelas lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak pernah menikah. Bunuh
diri lebih sering pada orang yang memiliki riwayat bunuh diri dalam
keluarganya dan yang terisolasi secara sosial. Yang disebut bunuh diri ulang
tahun (anniversary suicide) adalah bunuh diri yang dilakukan oleh orang yang
mencabut hidupnya pada hari yang sama seperti yang dilakukan oleh anggota
keluarganya.
6. Pekerjaan
Semakin tinggi status sosial seseorang, semakin besar resiko bunuh diri, tetapi
penurunan status sosial juga meningkatkan risiko. Pada umumnya, pekerjaan
menghalangi bunuh diri. Bunuh diri lebih tinggi pada orang yang
pengangguran dibandingkan orang yang bekerja. Selama resesi ekonomi dan
depresi, angka bunuh diri menjadi meningkat. Selama waktu tingginya
pekerjaan dan selama perang, angka bunuh diri menurun. Dokter secara
tradisional dianggap memiliki risiko terbesar untuk bunuh diri. Dokter
psikiatri dianggap memiliki risiko yang paling tinggi. Populasi yang berada
dalam risiko khusus adalah musisi, dokter gigi, petugas hukum, pengacara dan
agen asuransi.

14 | KEDARURATAN PSIKIATRI

7. Kesehatan Fisik
Hubungan antara kesehatan fisik dan bunuh diri sangat bermakna.
Penelitian postmortem menunjukan bahwa suatu penyakit fisik ditemukan pada
25 sampai 75 persen dari semua korban bunuh diri. 50% orang dengan kanker
yang melakukan bunuh diri melakukannya dalam satu tahun setelah
mendapatkan diagnosis. Tujuh penyakit sistem saraf pusat yang meningkatkan
risiko bunuh diri : epilepsi, sklerosis multipel, cedera kepala, penyakit
kardiovaskular, penyakit Huntington, demensia, dan AIDS. Semua adalah
penyakit dimana diketahui terjadi gangguan mood yang menyertai.
Faktor yang berhubungan dengan penyakit dan terlibat didalam bunuh diri
dan usaha bunuh diri adalah hilangnya mobilitas pada orang yang aktivitas
fisiknya memiliki kepentingan pekerjaan atau rekreasional; kecacatan,
terutama pada wanita; dan rasa sakit kronis yang tidak dapat diobati.
Obat tertentu dapat menyebabkan depresi, yang dapat menyebabkan bunuh
diri pada beberapa kasus. Diantara obat-obat tersebut adalah reserpine
(Serpasil), kortikosteroid, antihipertensi (propanolol/Inderal), dan beberapa
obat antikanker.
8. Kesehatan Menal
Faktor psikiatrik yang sangat penting dalam bunuh diri adalah penyalahgunaan
zat, gangguan depresif, skizofrenia, dan gangguan mental lainnya. Hampir 95
persen dari semua pasien yang melakukan bunuh diri atau berusaha bunuh diri
memiliki gangguan mental yang terdiagnosis. Pasien yang menderita depresi
delusional berada pada resiko tertinggi untuk bunuh diri sebesar 80%. 25
persen dari semua pasien yang memiliki riwayat perilaki impulsif atau tindakan
kekerasan juga berada dalam resiko untuk bunuh diri. Perawatan psikiatrik
sebelumnya untuk alasan apapun meningkatkan resiko bunuh diri.
9. Pasien Psikiatrik
Resiko pasien psikiatrik untuk melakukan bunuh diri adalah 3 sampai 12
kali lebih besar dibandingkan bukan pasien psikiatrik. Derajat resikonya adalah
bervariasi tergantung usia, jenis kelamin, diagnosis, dan status rawat inap atau
rawat jalan. Diagnosis psikiatrik yang memiliki resiko tertinggi untuk bunuh
diri pada kedua jenis kelamin adalah gangguan mood.
Relatif mudanya korban bunuh diri sebagian disebabkan oleh kenyataan
bahwa dua gangguan mental kronis yang memiliki onset awal, skizofrenia dan

15 | KEDARURATAN PSIKIATRI

gangguan depresif yang berat rekuren berjumlah lebih dari setengah dari semua
bunuh diri tersebut.
II.2.5. Gangguan-Gangguan yang Berisiko Terjadinya Bunuh Diri
1. Gangguan mood
Gangguan mood adalah diagnosis yang paling sering berhubungan
dengan bunuh diri. Pasien laki-laki lebih banyak yang melakukan bunuh
diri dibanding pasien wanita. Kemungkinan orang terdepresi yang
melakukan bunuh meningkat jika tidak menikah, dipisahkan, diceraikan,
janda atau baru saja mengalami kehilangan.
2. Skizofrenia
Resiko bunuh diri tinggi diantara pasien skizofrenik; sampai 10
persen meninggal akibat bunuh diri. Usia onset skizofrenia biasanya pada
masa remaja atau dewasa awal dan sebagian besar pasien skizofrenik yang
melakukan bunuh diri melakukannnya selama tahun-tahun pertama
penyakitnya; dengan demikian pasien skizofrenia yang melakukan bunuh
diri cenderung relatif muda.
Gejala depresif berhubungan erat dengan bunuh diri mereka.
Hanya sejumlah kecil yang melakukan bunuh diri karena instruksi
halusinasi atau untuk melepaskan waham penyiksaan. Jadi, faktor resiko
untuk bunuh diri diantara pasien skizofrenik adalah usia yang muda, jenis
kelamin laki-laki, status tidak menikah, usaha bunuh diri sebelumnya,
kerentanan terhadap gejala depresif, dan baru dipulangkan dari rumah
sakit.
3. Ketergantungan Alkohol
15 persen orang yang ketergantungan alkohol melakukan bunuh
diri. Kira-kira 80 persen dari semua korban bunuh diri yang tergantung
alkohol adalah laki-laki. Kelompok terbesar pasien laki-laki yang
ketergantungan alkohol adalah mereka dengan gangguan kepribadian
antisosial. Korban bunuh diri yang tergantung alkohol cenderung
merupakan golongan kulit putih, usia pertengahan, tidak menikah, tidak
memiliki teman, terisolasi secara sosial dan baru saja mulai minum.
4. Ketergantungan Zat Lain

.
16 | KEDARURATAN PSIKIATRI

Penelitian di berbagai negara telah menemukan peningkatan resiko


bunuh diri diantara penyalahgunaan zat. Angka bunuh diri untuk orang
yang tergantung heroin kira-kira 20 kali lebih besar dibandingkan angka
untuk populasi umum.
5. Gangguan Kepribadian
Sejumlah besar korban bunuh diri memiliki berbagai macam
gangguan kepribadian yang menyertai. Menderita suatu gangguan
kepribadian mungkin merupakan suatu determinan perilaku bunuh diri
dalam beberapa cara : dengan mempredisposisikan pada gangguan mental
berat seperti gangguan depresif atau ketergantungan alkohol, dengan
menyebabkan kesulitan dalam hubungan dan penyesuaian sosial, dengan
mencetuskan peristiwa kehidupan yang tidak diinginkan, dengan
mengganggu kemampuan untuk mengatasi gangguan mental atau fisik dan
dengan menarik orang ke dalam konflik dengan orang disekitar mereka,
termasuk anggota keluarga, dokter dan anggota staf rumah sakit.
Depresi berhubungan tidak hanya dengan bunuh diri yang dilakukan tetapi
juga dengan usaha bunuh diri yang serius. Jika orang yang melakukan usaha
bunuh diri dinyatakan sebagai memiliki maksud bunuh diri yang tinggi
dibandingkan dengan mereka yang memiliki maksud bunuh diri yang rendah,
mereka secara bermakna lebih banyak adalah laki-laki, berusia lebih tua, tidak
menikah atau bercerai dan hidup sendirian. Kesimpulan dari korelasi tersebut
adalah bahwa pasien depresi yang melakukan usaha bunuh diri yang serius lebih
menyerupai korban bunuh diri dibandingkan dengan mereka yang berusaha bunuh
diri.
II.2.6. Terapi
Tidak semua pasien memerlukan perawatan di rumah sakit, beberapa dapat
diobati dengan rawat jalan. Untuk menentukan apakah dimungkinkan terapi rawat
jalan, klinisi harus menggunakan pendekatan klinis yang langsung meminta
pasien yang diduga bermaksud bunuh diri untuk setuju menelepon segera jika
mencapai titik dimana mereka tidak yakin akan kemampuan mereka untuk
mengendalikan impuls bunuh dirinya. Pasien yang dapat membuat persetujuan
17 | KEDARURATAN PSIKIATRI

tersebut memperkuat keyakinan bahwa mereka memiliki kekuatan yang cukup


untuk mengendalikan impuls tersebut dan berusaha mencari bantuan. Jika pasien
tidak dapat memenuhi komitmen ini, maka perawatan di rumah sakit menjadi
indikasi yang harus diambil.
Menurut Schnedman, klinisi memiliki beberapa tindakan preventif praktis
untuk menghadapi orang yang ingin bunuh diri seperti :
1. Menurunkan penderitaan psikologi dengan memodifikasi lingkungan
pasien yang penuh dengan stress, menuliskan bantuan dari pasangan,
perusahaan atau teman.
2. Membangun dukungan yang realistik dengan menyadari bahwa pasien
mungkin memiliki keluhan yang masuk akal.
3. Menawarkan alternatif terhadap bunuh diri.
Keputusan untuk merawat pasien di rumah sakit tergantung pada
diagnosis, keparahan depresi dan gagasan bunuh diri, kemampuan pasien dan
keluarga untuk mengatasi masalah, situasi hidup pasien, tersedianya dukungan
sosial dan ada atau tidaknya faktor resiko untuk bunuh diri.
Dalam rumah sakit pasien mungkin menerima medikasi antidepresan atau
antipsikotik sesuai dengan indikasi, terapi individual, terapi kelompok dan pasien
mendapatkan dukungan sosial rumah sakit dan rasa aman. Tindakan terapeutik
lain tergantung pada diagnosis dasar pasien. Sebagai contohnya, jika
ketergantungan alkohol adalah masalah yang berhubungan, terapi harus diarahkan
untuk menghilangkan kondisi tersebut.
Tindakan yang berguna untuk terapi pasien rawat inap yang mencoba
bunuh diri dan mengalami depresi adalah memeriksa barang-barang pasien dan
orang yang berkunjung ke bangsal. Hal ini bertujuan untuk mencari benda-benda
yang dapat digunakan untuk bunuh diri dan secara berulang mencari eksaserbasi
gagasan bunuh diri. Idealnya, pasien rawat inap yang mencoba bunuh diri dan
mengalami depresi harus diobati dalam bangsal yang terkunci dimana jendela
dipasang terali dan ruangan pasien harus berlokasi dekat dengan tempat perawat
untuk memaksimalkan pengamatan oleh staf perawat. Tim yang mengobati harus
memeriksa secara berulang atau terus menerus mengawasi secara langsung. Terapi
yang efektif dengan medikasi antidepresan harus dimulai. Terapi elektrokonvulsif
(ECT) mungkin diperlukan untuk beberapa pasien yang terdepresi parah yang
mungkin memerlukan beberapa kali pengobatan.

18 | KEDARURATAN PSIKIATRI

Pasien yang sedang pulih dari depresi bunuh diri berada pada resiko
khusus. Saat depresi menghilang, pasien menjadi memiliki energi dan mampu
untuk melakukan rencana bunuh dirinya. kadang-kadang pasien depresi dengan
atau tanpa terapi secara tiba-tiba tampak damai dengan dirinya sendiri karena
mereka telah mengambil keputusan rahasia untuk melakukan bunuh diri. Klinisi
harus secara khusus mencurigai perubahan klinis yang dramatis tersebut, yang
mungkin meramalkan usaha bunuh diri.
Terapi Psikofarmaka
Seseorang yang sedang dalam krisis karena baru ditinggal mati atau baru
mengalami suatu kejadian yang jangka waktunya tak lama, biasanya akan
berfungsi lebih baik setelah mendapatkan transquilizer ringan, terutama bila
tidurnya terganggu. Obat pilihannya adalah golongan benzodiazepine misalnya
lorazepam 3 x 1 mg sehari, selama 2 minggu.

Hati-hati

memberikan

benzodiazepine pada pasien yang hostile, karena penggunaan benzodiazepine


yang teratur dapat meningkatkan iritabilitas pasien. Jangan memberikan obat
dalam jumlah banyak sekaligus kepada pasien (resepkan sedikit-sedikit saja) dan
pasien harus kontrol dalam beberapa hari.
Pemberian antidepresan biasanya tidak dimulai di ruang gawat darurat,
meskipun biasanya terapi definitif pasien-pasien yang mempunyai kecenderungan
bunuh diri adalah antidepresan. Antidepresan boleh diberikan di instalasi gawat
darurat asal dibuat perjanjian kontrol keesokan harinya secara pasti.
II.2.7. Pencegahan Bunuh Diri
Sebagian besar bunuh diri pada psikiatri dapat dicegah. Dimana depresi
menjadi gangguan paling sering yang menyebabkan seseorang untuk melakukan
bunuh diri. Berdasarkan teori Psikodinamika oleh Sigmund Freud, fungsi Ego
sangat berhubungan erat dengan pertimbangan yang melibatkan kemampuan
menghadapi akibat dari suatu tindakan seseorang. Ego dipakai dalam
memecahkan masalah pribadi orang tersebut, khususnya bila terjadi konflik
dengan dunia realitas atau bila terdapat ketidaksesuaian antara keinginan yang
tidak sinkron secara internal. Selain itu juga mempertimbangkan keuntungan dan

19 | KEDARURATAN PSIKIATRI

kerugian dari suatu tindakan, sebelum akhirnya memutuskan untuk melakukan


atau tidak melakukan sesuatu.
Bunuh diri menjadi tindakan yang diambil pada orang-orang yang
mengalami gangguan kejiwaan seperti depresi akibat Ego tidak cukup kuat
menahan desakan ataupun dorongan-dorongan yang muncul dari dalam dirinya
sehingga ia akan mengembangkan mekanisme pertahanan diri. Mekanisme
pertahanan diri ini sebenarnya upaya ego untuk menyalurkan dorongan dari dalam
dirinya dan bisa tetap berhadapan dengan lingkungan. Tetapi jika mekanisme
pertahanan diri ini dipergunakan secara kaku, terus menerus dan berkepanjangan,
maka hal ini dapat menimbulkan perilaku yang tidak adaptif dan tidak realistis
seperti keinginan untuk bunuh diri.
Untuk mencegah terjadinya bunuh diri tersebut, maka penanganannya
dengan memberikan kesempatan kepada orang tersebut untuk mengeluarkan
seluruh isi pikiran atau perasaannya yang muncul di dalam dirinya secara verbal.
Dimana Ego akan lebih bebas dan tidak harus terus berlindung di balik
mekanisme pertahanan diri yang dikembangkannya. Adapun cara yang digunakan
oleh Sigmund Freud untuk terapi sekaligus untuk mengumpulkan data, yaitu :
1. Metode asosiasi bebas (free association), dimana pasien diminta untuk
berbicara tentang segala sesuatu dan apa saja yang terjadi pada dirinya
dengan leluasa dan tanpa perlu berusaha membuat uraian yang logis,
teratur dan penuh arti. Untuk menjaga agar pengaruh gangguan yang
datang dari luar tetap minimal, biasanya pasien disuruh berbaring diatas
dipan dalam ruangan yang tenang. Ucapan-ucapan pasien yang serba tidak
teratur ini merupakan pernyataan yang memiliki hubungan dinamik dan
penuh arti dengan pernyataan sebelumnya, sehingga terbentuklah suatu
rangkaian asosiasi yang kontinyu dari awal hingga akhir. Mungkin banyak
ucapan yang menyesatkan maupun hambatan-hambatan, tetapi pada
akhirnya sejarah kejiwaan pasien dapat sampai kepada pendengar (terapis)
dengan mengikuti rangkaian asosiasi melalui lika-liku ungkapan verbal.
2. Analisis tentang mimpi (dream interpretation), dimana pasien diminta
secara spontan teringat tentang mimpi-mimpi mereka dan selanjutnya
melakukan asosiasi bebas tentang mimpi-mimpi tersebut. Mimpi-mimpi

20 | KEDARURATAN PSIKIATRI

yang dilaporkan dan asosiasi bebas yang mengiringnya merupakan sumber


informasi yang kaya tentang dinamika kepribadian manusia.
Peran Ego yang terpenting adalah sebagai eksekutif organisasi kepribadian
dimana energi digunakan untuk menciptakan integrasi diantara ketiga sistem.
Tujuan dari fungsi integrasi Ego adalah untuk menciptakan keselarasan batin
dalam kepribadian antara Ego dengan lingkungan sehingga dapat berjalan lancar
dan efektif. Caranya, Ego harus mengendalikan Id dan Superego agar Ego mampu
mengarahkan kepribadian secara bijak supaya bisa berhubungan dengan dunia
luar. Apabila Id menguasai sebagian besar energi, maka tingkah laku akan
menjadi impulsif dan primitif, bila Superego yang menguasai sebagian besar
energi maka fungsi kepribadian akan didominasi oleh pertimbangan-pertimbangan
moralistik dari pada pertimbangan-pertimbangan realistik. Antikateksis (daya
kekang) suara hati bisa membelenggu Ego dengan nilai moral dan menghalangi
tindakan apapun sementara kateksis (daya dorong) Ego ideal bisa menentukan
norma-norma yang sangt tinggi bagi Ego sehingga pribadi terus menerus
dikecewakan dan akhirnya mengalami perasaan gagal yang membuat depresi.
II.3.

Kedaruratan Psikiatri Lain

II.3.1. Keadaan Gaduh Gelisah


Tidak jarang seseorang yang gelisah serta gaduh dibawa ke rumah sakit,
puskesmas atau ke tempat praktek dokter. Keadaan gaduh gelisah biasanya timbul
akut dan subakut. Gejala utamanya ialah psikomotorik yang sangat meningkat.
Orang tersebut banyak sekali berbicara, berjalan mondar-mandir, tidak jarang ia
berlari dan meloncat-loncat. Gerakan tangan dan kaki cepat. Mukanya terlihat
bingung, marah-marah atau takut. Ekspresi ini mencerminkan gangguan afekemosi dan proses pikir yang tidak realistik lagi. Jalan pikiran biasanya cepat dan
sering terdapat waham curiga. Tidak jarang juga timbul halusinasi penglihatan dan
pendengaran (terutama pada skizofrenia).
Keadaan gaduh gelisah bukanlah suatu diagnosa, tetapi suatu sindroma
yang dapat disebabkan oleh bermacam-macam penyebab. Gangguan utama yang
mendasari biasanya adalah:
1. Gangguan Mental Organik (GMO)

21 | KEDARURATAN PSIKIATRI

2. Psikosa Fungsional yaitu psikosa reaktif jenis gaduh-gelisah reaktif,


skizofrenia dan psikosa manik-depresif jenis mania
Pengobatan tentunya sedapat-dapatnya diarahkan kepada etiologi, disertai
perawatan yang memadai dan penjagaan yang baik. Pemberian neuroleptika
terutama yang mempunyai dosis efektif tinggi secara imtramuskuler atau per oral
ternyata sangat efektif sebagai pengobatan pertama untuk mengatasi berbagai
gejala psikomotorik yang meningkat.
II.3.2. Tindak Kekerasan (Violence)
Violence atau tindak kekerasan adalah agresi fisik yang dilakukan
seseorang terhadap orang lain. Jika hal itu diarahkan kepda dirinya sendiri,
disebut mutilasi diri atau tingkah laku bunuh diri (suicidal behavior). Tindak
kekerasan dapat timbul akibat berbagai gangguan psikiatrik, tapi dapat pula terjadi
pada orang biasa yang tidak dapat mengatasi tekanan hidup sehari-hari dengan
cara yang lebih baik.
Gangguan psikiatrik yang sering berkaitan dengan tindak kekerasan
adalah:

Gangguan psikotik seperti skizofrenia dan manik, terutama bila penderita


paranoid dan mengalami halusinasi yang bersifat suruhan (commanding
hallucination).

Intoksikasi alkohol atau zal lain

Gejala putus zat akibat alcohol atau obat-obat hipnotik-sedatif

Katatonik furor

Depresi agitatif

Gangguan kepribadian yang ditandai dengan kemarahan dan gangguan


pengendalian impuls

GMO, terutama yang mengenai lobus frontalis dan temporalis otak.


Tujuan pertama menghadapi pasien yang potensial untuk melakukan

tindak kekerasan adlaah mencegah kejadian itu. Tujuan berikutnya adalah


membuat diagnosis sebagai dasar rencana penatalaksanaan termasuk cara-cara
untuk memperkecil kemungkinan terjadinya tindak kekerasan berikutnya.

22 | KEDARURATAN PSIKIATRI

Evaluasi dan penatalaksanaan pasien yang melakukan tindak kekerasan


adalah sebagai berikut:

Lindungi diri anda. Kita harus memperkirakan bahwa mungkin saja terjadi
suatu tindak kekerasan sehingga kita tidak akan dikejutkan oleh suatu
perilaku kekerasan yang mendadak.

Waspada terhadap tanda-tanda munculnya tindak kekerasan

Pastikan terdapat staf yang cukup mengikat pasien secara aman

Pengikatan hanya dilakukan oleh mereka yang sudah terlatih.

Lakukan evaluasi diagnostic yang tepat, meliputi tanda-tanda vital,


pemeriksaan fisik, dan wawancara psikiatrik. Evaluasi risiko bunuh diri,
dan buat rencana penatalaksanaan yang meliputi penanganan tindak
kekerasan yang mungkin muncul kemudian.

Eksplorasi kemungkinan dilakukannya intervensi psikososial untuk


mengurangi risiko kekerasan.

Mungkin pasien harus dirawat untuk mencegahnya melakukan tindak


kekerasan.

Jika penanganan psikiatrik bukan hal yang sesuai dalam suatu kasus, anda
meungki perlu melibatkan polisi atau aparat hokum.

Terapi

psikofarmaka

tergantung

diagnosisnya.

Biasanya

untuk

menenangkan pasien diberikan antipsikotik atau benzodiazepine:


Flufenazin, tri fluoperazin atau haloperidol diberikan 5 mg secara
per-oral atau IM
Olanzapine 2,5 10 mg per-IM, maksimal 4 injeksi sehari dengan
dosis rata-rata per hari 13-14 mg
Lorazepam 2-4 mg, diazepam 5-10 mg per-IV secara perlahan
(dalam 2 menit).
Bila pasien sudah menerima antipsikotik sebelumnya, berikan lagi
obat yang sama. Bila dalam 20-30 menit kegelisahan pasien tidak
berkurang, ulangi dosis yang sama.
II.3.3. Sindroma Neuroleptik Maligna

23 | KEDARURATAN PSIKIATRI

Sindroma neuroleptik maligna (SNM) adalah suatu sindrom toksik yang


berhubungan dengan penggunaan obat antipsikotik. Gejalanya meliputi kekakuan
otot, distonia, akinesia mutisme dan agitasi.
SNM ditandai dengan demam tinggi (dapat mencapai 41,50C), kekakuan
otot yang nyata sampai seperti pipa (lead-pipe rigidity), instabilitas otonomik dan
gangguan kesadaran. Kekakuan yang parah dapat menyebabkan rhabdomyalosis,
myoglobulinuria dan akhirnya gagal ginjal. Penyulit lain dapat berupa thrombosis
vena, emboli paru, renjatan dan kematian. Tingkat mortalitas dapat mencapai 20
persen.
SNM adalah kedaruratan medik sehingga perlu dirawat di unit Perawatan
Intensif (ICU). Kesadarannya terganggu. Evaluasi dan penatalaksanaan pada
SNM sebagai berikut:

Pertimbangkan kemungkinan Sindroma Neuroleptik Maligna pada pasien


yang mendapat antipsikotik yang mengalami demam serta kekakuan otot.

Bila terdapat rigiditas ringan yang tidak berespons terhadap antikolinergik


biasa biasa, dan bila demamnya tak jelasa sebabnya, buatlah diagnosis
sementara SNM

Hentikan pemberian antipsikotik segera

Monitor tanda-tanda vital pasien secara berkala

Lakukan pemeriksaan laboratorium yang mencakup: darah perifer lengkap


termasuk hitung jenis, kimia darah, fungsi hati, ureum dan kreatinin.
Biasanya terdapat leukositosis serta peningkatan creatinin phospokinase
(CPK) yang biasanya meningkat dan secara langsung berkaitan dengan
keparahan SNM

Untuk menurunkan suhu lakukan kompres seluruh badan dengan ice bath/
ice packs/ cooling blankets atau ice-water enema atau evaporate cooling.
Antipiretik biasanya tidak berguna. Ini efektif sebagai tindakan awal
sebelum episode berlanjut

Hidrasi cepat intravena dapat mencegah terjadinya renjatan dan


menurunkan kemungkinan gagal ginjal

24 | KEDARURATAN PSIKIATRI

SNM biasanya berlangsung sekitar 15 hari. Setelah sembuh, masalah yang


timbul kemudian adalah pemberian antipsikotik selanjutnya, apakah
menggantikan antipsikotik sebelumnya dengan antipsikotik dari kelas
yang berbeda, atau kembali ke antipsikotik semula yang sebelumnya
efektif? Mungkin perlu dipikirkan terapi ECT.

Terapi psikofarmaka:
Amantadine 200-400 mg PO/ hari dalam dosis terbagi
Bromocriptine 2,5 mg PO 2 atau 3 kali/ hari, dapat dinaikkan
sampai 45 mg/ hari
Levodopa 50-100 mg/ hari IV dalam infuse terus menerus
Dantrolene 1mg/kg/ hari IV selama 8 hari kemudian dilanjutkan
PO selama 7 hari setelah itu
Benzodiazepine atau ECT dapat diberikan apabila obat-obatan
tidak berhasil.

II.3.4. Delirium
Gambaran klinis yang dapat ditemukan pada pasien dengan delirium
sangat beragam diantaranya:
1. Prodromal
Biasanya pasien akan mengeluh kelelahan, cemas, iritabel, gangguan tidur
2. Gangguan kesadaran
Penurunan kejernihan tingkat kesadaran terhadap lingkungan (kesadaran
berkabut).
3. Kewaspadaan
Terdiri dari hiperaktivitas dan hipoaktivitas. Hiperaktivitas kaitannya
dengan sindrom putus zat sedangkan hipoaktivitas sering dikatakan
sebagai depresi.
4. Gangguan

pemusatan

perhatian

ditandai

oleh

adanya

kesulitan

mempertahankan, memusatkan dan mengalihkan perhatian.


5. Orientasi
Gangguan orientasi waktu sering terjadi (pada delirium yang ringan), bila
delirium berat akan mencakup orang dan tempat.
25 | KEDARURATAN PSIKIATRI

6. Bahasa dan kognitif


Sering terjadi abnormalitas dalam berbahasa dan terjadi inkoherensi. Daya
ingat dan fungsi kognitif umum mungkin terganggu
7. Persepsi
Halusinasi visual dan auditorik sering ditemukan.
8. Mood
Gejala yang sering nampak adalah marah, mengamuk, ketakutan yang
tidak beralasan. Perubahan mood dapat berfluktuasi sepanjang hari.
9. Gangguan tidur-bangun
Individu sering menunjukkan agitasi pada malam hari dan masalah
perilaku pada saat tidur dan keadaan ini disebut sundowning.
10. Gejala neurologi
Meliputi disfasia, tremor, asteriksis, inkoordinasi dan inkontinensia urin.
Dalam mengobati delirium, hal yang paling utama adalah mengobati
penyebabnya. Bila penyebabnya akibat toksisitas antikolinergik, maka digunakan
pisostigmin salisilat 1-2 mg IV atau IM dan dapat diulang 15-30 menit bila
diperlukan. Dua gejala utama delirium yang memerlukan terapi obat yaitu
psikosis dan insomnia; obat yang dianggap cocok untuk psikosis adalah
haloperidol. Insomnia sebaiknya diatasi dengan golongan benzodiazepine yang
mempunyai waktu paruh pendek atau menengah seperti lorazepam 1-2 mg
sebelum tidur.
Walaupun dikatakan bahwa terapi kejang listrik (ECT) dapat memperbaiki
delirium, tetapi sebaiknya tidak digunakan. Jikalau delirium ada hubungannya
dengan nyeri yang sangat atau sesak nafas, jangan ragu-ragu untuk memberikan
opioid karena dapat mengatasi nyeri dan dapat membuat tidur.

26 | KEDARURATAN PSIKIATRI

BAB III
KESIMPULAN
III.1. Kesimpulan
Kedaruratan psikiatri memerlukan koordinasi dan konsultasi yang unik,
dimana kasus tunggal sering melibatkan beberapa pihak secara bersamaan
yang berkepentingan yang mungkin memiliki agenda dan masukan yang
kontras. Pihak tersebut dapat mencakup tidak hanya pasien, tetapi anggota
keluarga, terapis lain, tenaga medis, penegak hukum, dan lain-lain yang
memiliki kepentingan langsung atau tidak langsung dalam kasus tersebut.
Karena ini adalah kedaruratan, semua pihak dapat bertemu sekaligus,
menuntut resolusi segera.
Bunuh diri merupakan perasaan putus asa dan ketidak berdayaan, konflik
ambivalen antara keinginan hidup dan tekanan yang tidak dapat ditanggung,
menyempitnya pilihan yang dirasakan dan keinginan untuk melarikan diri.
bisa dikatakan bunuh diri merupakan cara keluar dari masalah atau krisis yang
hampir selalu menyebabkan penderitaan yang kuat.
Orang yang mau melakukan bunuh diri memiliki riwayat, tanda dan gejala
kearah bunuh diri, seperti :
-

Upaya atau khayalan bunuh diri sebelumnya


Kecemasan, depresi dan kelelahan
Tersedia alat-alat untuk bunuh diri
Riwayat bunuh diri dalam keluarga
Gagasan bunuh diri yang diungkapkan
Krisis hidup seperti duka cita
Pesimisme atau keputusan yang pervasif
Menurut teori Psikodinamika dari Sigmund Freud, struktur kepribadian

Ego sangat mempengaruhi tindakan yang akan diambil seseorang. Dimana


peran Ego sebagai organ pelaksana (executive) dari jiwa yang mengontrol
pergerakan, persepsi, kontak dengan kenyataan dan melalui mekanisme
pertahanan yang ada padanya akan memperlambat dan memodifikasi
dorongan ekspresi atau denagn kata lain Ego menjadi tidak bebas dan terus
berlindung dibalik mekanisme pertahanan diri yang dikembangkannya.

27 | KEDARURATAN PSIKIATRI

Untuk mengatasinya maka Sigmund Freud menggunakan metode free


association dan dream interpretation untuk membebaskan Ego supaya keluar
dan tidak berada dibalik mekanisme pertahanan. Selain itu bila pencegahannya
dengan Psikodinamika tidak dijalankan, maka dapat terjadi gangguan
kejiwaan yang nantinya mengarah ke bunuh diri. Bila hal ini terjadi, maka
pasien harus mendapatkan terapi seperti rawat inap dan rawat jalan, pemberian
obat-obat seperti antidepresan atau antipsikosis. Selain itu pasien juga
membutuhkan terapi individu atau terapi kelompok sesuai indikasi dari
diagnosis dasar yaitu gangguan kejiwaan yang mencetuskan terjadinya bunuh
diri.

28 | KEDARURATAN PSIKIATRI