Anda di halaman 1dari 20

Gangguan pada Salah Satu atau Lebih Organ Pencernaan

dapat Mengganggu Mekanisme Pencernaan


Avena Athalia Alim
102011031
greenochaken@yahoo.com
Pendahuluan
Latar Belakang
Setiap manusia pasti memerlukan energi dalam beraktivitas sehari-hari.
Energi didapatkan dari makanan. Makanan yang kita makan sehari-hari dicerna
dan diserap oleh organ-organ pencernaan. Organ-organ pencernaan terdiri dari
mulut, esophagus, lambung, usus halus, usus besar, rektum, dan anus.
Namun, terkadang organ-organ pencernaan dapat terganggu kerjanya.
Gangguan tersebut dapat terjadi pada satu atau beberapa organ. Gangguan tersebut
dapat berupa macam-macam. Adanya gangguan pada organ pencernaan dapat
mengakibatkan terganggunya

mekanisme

pencernaan. Ketika mekanisme

pencernaan terganggu, maka penyerapan makanan tidak maksimal sehingga hanya


sedikit atau bahkan sama sekali tidak ada energi yang didapatkan.
Tujuan
Untuk mengetahui dan mengerti hubungan gangguan pada organ
pencernaan dengan gangguan mekanisme pencernaan..

Pembahasan
Pada kasus pria berusia 30 tahun mengeluh sariawan di sisi kiri lidah
bagian dalam yang tidak sembuh-sembuh. Pada pemeriksaan ada indurasi pada
radix linguae sinistra dan pembesaran kelenjar Nnll cervicalis profundae pars
jugulo-digastrica.
Mikro Saluran Cerna
Dinding saluran pencernaan tersusun dari 4 lapisan jaringan dasar dari
lumen (ronnga sentral) kearah luar. Komponen lapisan pada setiap organ
bervariasi sesuai fungsi organ tersebut.
Lapisan pertama dari dalam adalah tunika mukosa. Tunika mukosa
tersusun dari tiga lapisan. (1) Epitelium yang melapisi berfungsi untuk
perlindungan, sekresi, dan absorpsi. Di bagian ujung oral dan anal saluran,
lapisannya tersusun dari epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk (kecuali
bagian luar bibir) untuk perlindungan. Sisanya (selain ujung oral dan anal) lapisan
ini terdiri dari epitel bertingkat toraks dari tidak bersel goblet sampai bersel
goblet. (2) Lamina propria adalah jaringan ikat areolar yang menopang epitel.
Lamina ini mengandung pembuluh darah, limfatik, nodulus limfe, dan beberapa
jenis kelenjar. (3) Muskularis mukosa terdiri dari lapisan sirkular dalam yang tipis
dan lapisan otot polos longitudinal luar.1
Lapisan kedua adalah tunika submukosa terdiri dari jaringan ikat areolar
yang mengandung pembuluh darah, pembuluh limfatik, beberapa kelenjar
submukosal, dan pleksus serabut saraf, serta sel-sel ganglion yang disebut pleksus
Meissner (pleksus submukosal). Submukosa mengikat mukosa ke muskularis
eksterna.1
Lapisan ketiga adalah tunika muskularis eksterna. Terdiri dari dua lapisan
otot, satu lapisan sirkular dalam dan satu lapisan longitudinal luar. Kontraksi
lapisan serkular mengkonstriksi lumen saluran dan kontraksi lapisan longitudinal
memperpendek dan memperlebar lumen saluran. Kontraksi ini mengakibatkan
gelombang peristaltic yang menggerakan isi saluran ke arah depan. (1) Muskularis
2

eksterna terdiri dari otot rangka di mulut, faring, dan esophagus atas, serta otot
polos pada saluran berikutnya. (2) Pleksus Auerbach (pleksus mienterik) yang
terdiri dari serabut saraf dan sel ganglion parasimaptis, terletak di antara lapisan
otot sirkular dalam dan longitudinal luar.1
Lapisan keempat adalah tunika serosa (adventisia). Lapisan keempat dan
paling luar juga disebut peritoneum visceral. Lapisan ini merupakan jaringan ikat
longgar. Bila didapati mesotel diluarnya (peritoneum) maka lapisan ini disebut
tunika serosa.1
A.

Mulut

A.1.

Bibir (Labium Oris)


Tersusun dari tiga bagian, area cutanea, area merah bibir, dan area oral

mukosa. Pada area cutanea terdapat epitel berlapis gepeng dengan lapisan tanduk.
Pada area merah bibir terdapat epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk,
epitelnya transparan karena mengandung eleidin, dan mengandung banyak
kapiler. Pada area oral mukosa terdapat epitel berlapis gepeng tanpa lapisan
tanduk dan terdapat kelenjar labialis pada tunika submukosanya.2
A.2.

Lidah
Epitel berlapis gepeng dengan atau tanpa lapisan tanduk. Papilla linguae di

2/3 bagian anterior lidah terdiri dari papilla filiformis, papilla fungiformis, dan
papilla sirkumvalata. 1/3 bagian posterior dorsal lidah bebas dari papilla dan
terdapat tonsila linguae. Papilla sirkumvalata tersusun dalam sulcus terminalis
yang membentuk huruf V dan terdapat taste bud pada sisi lateralnya. Di dasarnya
terdapat duktus ekskretorius kelenjar serous Von Ebner. Papilla filiformis
merupakan papilla terbanyak yang tersebar diseluruh permukaan dorsal 2/3
anterior lidah. Tidak ada taste bud pada pailla filiformis. Papilla fungiformis
tersebar diantara papilla filiformis. Pada papilla ini terdapat sedikit taste bud.2
A.3.

Kelenjar Penghasil Saliva


Kelenjar parotis merupakan kelenjar serosa murni dan kelenjar terbesar.

Tedapat tiga saluran yaitu duktus interkalaris, duktus sekretorius, dan duktus
ekskretorius. Duktus interkalaris merupakan saluran keluar yang paling kecil dan
3

biasanya terletak di dalam lobulus. Dindingnya terdiri atas epitel selapis gepeng.
Duktus sekretorius bisanya terdapat di dalam lobulus dan dindingnya dilapisi
epitel selapis torak. Duktus ekskretorius dindingnya dilapisi epitel selapis torak
dan menjadi epitel berlapis torak jika saluran epitelnya semakin besar. Kelenjar
submandibularis merupakan kelenjar campuran antara serosa dan mukosa. Pada
kelenjar ini terdapat bulan sabit Gianuzi. Letak-letak duktusnya sama dengan
duktus kelenjar parotis. Sebagian besar kelenjar sublingualis merupakan kelenjar
mukosa. Bulan sabit Gianuzi tedapat lebih banyak dari kelenjar submandibularis.
Duktus-duktus kelenjarnya sama dengan duktus-duktus pada kelenjar parotis dan
kelenjar submadnibularis.2
A.4.

Gigi
Terdiri dari mahkota gigi (mahkota yang dilapisi email), akar gigi, dan

leher gigi. Bagian keras gigi terdiri atas tiga jaringan berbeda, dentin, email, dan
sementum. Bagian terbesar gigi adalah dentin yang mengelilingi rongga pulpa. Di
mahkota dentin dibungkus lapis email, yang paling tipis di daerah leher. Di akar,
dentin dibungkus lapis sementum tipis. Dentin memiliki kadar Ca sekitar 80%, zat
organiknya 20% dan dibentuk oleh odontoblas. Zat antar sel yang belum
mengalami mineralisasi membentuk predentin. Email dibentuk ameloblas, terdiri
dari 99% anorganik terutama Ca fosfat dalam bentuk kristal apatit sedangkan
bahan organik 1%. Merupakan substansi paling keras di seluruh tubuh. Sementum
meliputi dentin akar gigi, mulai dari leher sampai ujung bawahnya. Memiliki
jaringan bermineral yang sangat mirip tulang. Pulpa yang memenuhi rongga gigi
berasal dari jaringan yang membentuk papilla dentis selama perkembangan
embrional. Terdapat arteriol, sel-sel limfosit, makrofag, sel plasma, dan eosinofil
dalam jumlah terbatas.2 (Lihat gambar 1)
B.

Faring
Dibedakan menjadi tiga daerah pada rongga ini, yaitu nasofaring,

orofaring, dan laringofaring. Mukosa faring tidak memiliki muskularis mukosa


dan di dalam lamina propria terdapat lapis fibrosa padat tebal kaya serat elastin.

Pada orofaring dan laringofaring dilapisi epitel berlapis gepeng dan terdapat
kelenjar-kelenjar mukosa murni.2
C.

Esofagus
Tunika mukosanya memiliki epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk.

Pada tunika submukosa terdapat kelenjar submukosa atau glandula oesophageal.


Tunika muskularisnya terdiri dari 1/3 proksimal otot lurik, 1/3 tengah campuran
otot lurik dan otot polos, dan 1/3 distal seluruhnya otot polos.2
D.

Lambung
Ada tiga lapisan jaringan dasar (mukosa, submukosa, dan jaringan

muskularis). Mukosa membentuk lipatan-lipatan (ruga) longitudinal yang


menonjol sehingga memungkinkan peregangan dinding lambung. Ruga terlihat
saat lambung kosong dan akan menghalus saat lambung meregang terisi makanan.
Muskularis eksterna pada bagian fundus dan korpus mengandung lapisan otot
melintang (oblik) tambahan. Lapisan ini membantu keefektifan pencampuran dan
penghancuran isi lambung.1
E.

Usus Halus
Ada tiga spesialisasi struktural yang memperluas permukaan absorpsi usus

halus sampai kurang lebih 600 kali. (1) Plicae circulares adalah lipatan sirkular
membran mukosa yang permanen dan besar. Lipatan ini hampir secara
keseluruhan mengitari lumen. (2) Vili adalah jutaan tonjolan menyerupai jari
(tingginya 0,2 mm sampai 1,0 mm) yang memanjang ke lumen dari permukaan
mukosa. Vili hanya ditemukan pada usus halus. Setiap vilus mengandung jaringjaring kapiler dan pembuluh limfe yang disebut lacteal. (3) Mikrovili adalah
lipatan-lipatan menonjol kecil pada membran sel yang muncul pada tepi yang
berhadapan dengan sel-sel epitel. 1
F.

Usus Besar, Rektum, dan Anus

Usus besar tidak memiliki vili, tidak memiliki plicae circulares (lipatanlipatan sirkular). Serabut otot longitudinal dalam muskularis eksterna membentuk
taeniae coli, yang menarik kolon menjadi kantong-kantong besar yang disebut
haustra. Pada rektum, mukosa saluran anal tersusun dari kolumna rectal (anal),
yaitu lipatan-lipatan vertikal yang masing-masing berisi arteri dan vena.1
Makro Saluran Cerna
A.

Mulut

A.1.

Rongga Oral
Adalah jalan masuk menuju sistem pencernaan dan berisi organ aksesoris

yang berfungsi dalam proses awal pencernaan. Rongga vestibulum (bukal)


terletak di antara gigi dan, bibir dan pipi sebagai batas luarnya. Rongga oral utama
dibatasi gigi dan gusi di bagian depan, palatum lunak, dan keras di bagian atas,
lidah di bagian bawah, dan faring di bagian belakang.1
A.2.

Bibir
Tersusun dari otot rangka (orbikularis mulut) dan jaringan ikat. Organ ini

berfungsi untuk menerima makanan dan membantu berbicara. Permukaan luar


bibir dilapisi kulit yang mengandung folikel rambut, kelenjar keringat serta
kelenjar sebasea. Area transisional memiliki epidermis transparan. Bagian ini
terlihat merah karena dilewati oleh banyak kapiler darah. Permukaan dalam bibir
adalah membran mukosa. Bagian frenulum labia melekatkan membrane mukosa
pada gusi di garis tengah.1 (Lihat Gambar 1)
A.3.

Pipi
Mengandung otot buccinatorius. Lapisan epitel pipi merupakan subyek

abrasi dan sel secara konstan terlepas untuk kemudian diganti dengan sel-sel baru
yang membelah dengan cepat.1
A.4.

Lidah
Dilekatkan pada dasar mulut oleh frenulum lingua. Lidah berfungsi untuk

menggerakan makanan saat dikunyah atau ditelan, untuk pengecapan dan


membantu dalam berbicara. Pada lidah terdapat otot-otot ekstrinsik, otot-otot

intrinsik, papilla, dan tonsil-tonsil lingua. Dipersarafi oleh akson sensoris dari
nervus cranial fasialis (VII), glossofaingeus (IX), atau vagus (X).1,2
Otot-otot ekstrinsik lidah berawal pada tulang dan jaringan diluar lidah
serta berfungsi dalam pergerakan lidah secara keseluruhan. Otot-otot intrinsic
lidah memiliki serabut yang menghadap ke berbagai arah untuk membentuk
sudaut satu sama lain. Ini memberikan mobilitas yang besar pada lidah.1
Papilla adalah elevasi jaringan mukosa dan jaringan ikat pada permukaan
dorsal lidah. Papilla-papilla ini menyebabkan tekstur lidah menjadi kasar. Papilla
fungiformis dan papilla sirkumvalata memiliki kuncup-kuncup pengecap (taste
bud) sedangkan papilla filiformis tidak memiliki taste bud. Tonsil-tonsil lingua
adalah agregasi jaringan limfoid pada sepertiga bagian belakang lidah. 1 (Lihat
Gambar 1)
A.5.

Kelenjar Penghasil Saliva


Mensekresi saliva ke dalam rongga oral. Saliva terdiri dari cairan encer

yang mengandung enzim dan cairan kental yang mengandung mukus. Ada tiga
pasang kelenjar saliva. (1) Kelenjar parotis adalah kelenjar saliva terbesar, terletak
agak ke bawah dan di depan telinga dan membuka melalui duktus parotid
(Stensen) menuju suatu elevasi kecil (papilla) yang terletak berhadapan dengan
gigi molar kedua pada kedua sisi. (2) Kelenjar submandibular kurang lebih
sebesar kacang kenari dan terletak di permukaan dalam pada mandibula serta
membuka melalui duktus Wharton menuju ke dasar mulut pada kedua sisi
frenulum lingua. (3) Kelenjar sublingual terletak di dasar mulut dan membuka
melalui duktus sublingual kecil menuju ke dasar mulut.1
Komposisi saliva. Saliva terutama terdiri dari sekresi serosa, yaitu 98% air
dan mengandung enzim amylase serta berbagai jenis ion (natrium, klorida,
bikarbonat, dan kalium), juga sekresi mukus yang lebih kental dan lebih sedikit
yang mengandung glikoprotein (musin), ion, dan air.1
Fungsi saliva untuk melarutkan makanan secara kimia untuk pengecapan
rasa, melembabkan dan melumasi makanan sehingga dapat ditelan, melembabkan
bibir dan lidah sehingga terhindar dari kekeringan, amilase pada saliva mengurai
zat tepung menjadi polisakarida dan maltose, suatu disakarida, dan sebagai zat
7

antibakteri dan antibody dalam saliva sehingga kesehatan oral terpelihara serta
mencegah kerusakan gigi.1
Kendali saraf pada sekresi saliva. Aliran saliva dapat dipicu melalui
stimulus psikis (pikiran akan makanan), mekanis (keberadaan makanan), atau
kimiawi (jenis makanan). Stimulus dibawa melalui serabut aferen dalam saraf
cranial V, VII, IX, dan X menuju nuclei salivatori inferior dan superior dalam
medulla. Semua kelenjar saliva dipersarafi serabut simpatis dan parasimpatis.
Volume dan komposisi saliva bervariasi sesuai jenis stimulus dan jenis
inervasinya (sistem simpatis atau parasimpatis).1
Sistem parasimpatis dan simpatis mengakibatkan vasodilatasi pembuluh
darah dan sekresi berair (serosa) yang banyak sekali. Pada manusia normal, saliva
yang disekresi per menit adalah sebanyak 1 ml. Saliva yang disekresi dapat
mencapai 1 L sampai 1,5 L dalam 24 jam.1 (Lihat Gambar 2)
A.6.

Gigi
Tersusun dalam kantong-kantong (alveoli) pada mendibula dan maksila.

Berdasarkan anatomi gigi setiap lengkung barisan gigi pada rahang membentuk
lengkung gigi. Lengkung bagian atas lebih besar dari bagian bawah sehingga gigigigi atas secara normal akan menutup (overlap) gigi bawah. Manusia memiliki 2
susunan gigi : gigi primer (desidua, gigi susu) dan gigi sekunder (permanen).
Fungsi gigi adalah proses mastikasi (pengunyahan). Makanan yang masuk dalam
mulut dipotong menjadi bagian-bagian kecil dan bercampur dengan saliva untuk
membentuk bolus makanan yang dapat ditelan.1,2
Gigi primer dalam setengah lengkung gigi (dimulai dari ruang di antara
dua gigi depan) terdiri dari, dua gigi seri, satu taring, dua geraham (molar), untuk
total keseluruhan 20 gigi. Gigi sekunder mulai keluar pada usia lima sampai enam
tahun. Setengah dari lengkung gigi terdiri dari dua gigi seri, satu taring, dua
premolar (bikuspid), dan tiga geraham (trikuspid), untuk total keseluruhan 32
buah.1
Pada komponen gigi terdapat (1) mahkota adalah bagian gigi yang terlihat.
Satu sampai tiga akar yang tertanam terdiri dari bagian gigi yang tertanam ke
dalam prosesus (kantong) alveolar tulang rahang. (2) Mahkota dan akar bertemu
8

pada leher yang diselubungi gingival (gusi). (3) Membran periodontal merupakan
jaringan ikat yang melapisi kantong alveolar dan melekat pada sementum di akar.
Membran ini menahan gigi di rahang. (4) Rongga pulpa dalam mahkota melebar
ke dalam saluran akar, berisi pulpa gigi yang mengandung pembuluh darah dan
saraf. Saluran akar membuka ke tulang melalui foramen apikal. (5) Dentin
menyelubungi rongga pulpa dan membentuk bagian terbesar gigi. Dentin pada
bagian mahkota tertutup oleh email dan di bagian akar oleh sementum. Email
terdiri dari 97% zat anorganik (terutama kalsium fosfat) dan merupakan zat
terkeras dalam tubuh. Zat ini berfungsi untuk melindungi, tetapi dapat tererosi
oleh enzim dan asam yang diproduksi bakteri mulut dan mengakibatkan karies
gigi. Fluorida dalam air minum atau yang sengaja dikenakan pada gigi dapat
memperkuat gigi.1 (Lihat Gambar 1 dan Gambar 3)
B.

Faring
Terletak setinggi vertebra servikalis keenam. Melekat pada dasar

tongkorak, pada otot dinding pipi, dan pada tulang hyoid. Otot-otot pada faring
berfungsi untuk mendorong makanan ke bawah.3 (Lihat Gambar 4)
C.

Esofagus
Adalah tuba muscular, panjangnya sekitar 25 cm dan berdiameter sekitar

2,54 cm. Esofagus berawal pada area laringofaring, melewati diafragma, dan
hiatus esophagus (lubang) pada area sekitar vertebra toraks 10 dan membuka ke
arah lambung. Fungsinya menggerakkan makanan dari faring ke lambung melalui
gerak peristaltik. Mukosa esofagus memproduksi sejumlah besar mukus untuk
melumasi dan melindungi esophagus. Esofagus tidak memproduksi enzim
pencernaan.1 (Lihat Gambar 4)
D.

Lambung
Terletak pada bagian superior kiri rongga abdomen di bawah diafragma.

Semua bagian (kecuali sebagian kecil) terletak pada bagian kiri garis tengah.
Bagian lambung yang pertama adalah kardiak, area pertemuan esophagus dan
9

lambung. Bagian kedua adalah fundus, yaitu bagian yang menonjol ke sisi kiri
atas mulut esophagus. Bagian ketiga adalah korpus, yaitu bagian yang terdilatasi
di bawah fundus, yang membentuk dua pertiga bagian lambung. Tepi medial
badan lambung yang konkaf disebut curvatura minor, sedangkan yang tepi lateral
badan lambung yang konveks disebut curvatura mayor. Bagian kempat adalah
pylorus, yaitu bagian yang menyempit di ujung bawah lambung dan membuka ke
duodenum. Antrum pilorus mengarah ke mulut pilorus yang dikelilingi sfingter
pylorus muscular tebal.1
Fungsinya untuk penyimpanan makanan, produksi kimus yaitu massa
homogen setengah cair, berkadar asam tinggi yang berasal dari bolus, untuk
digesti protein dengan bantuan tripsin dan asam klorida, unruk produksi mukus
yaaitu pelindung lambung terhadap aksi pencernaan dari sekresinya sendiri, untuk
produksi glikoprotein (disekresi sel parietal), vitamin B12, dan untuk absorpsi
sedikit nutrient.1
Kelenjar fundus (lambung) terdiri dari (1) sel chief (zimogenik) yang
mensekresikan pepsinogen. (2) Sel parietal yang mensekresi asam klorida (HCl).
(3) Sel leher mukosa yang mensekresikan mukosa sebagai pelindung lambung.
Sedangkan kelenjar pylorus mensekresi mukus dan gastrin, suatu hormon peptide
yang berpengaruh besar dalam proses sekresi lambung.1 (Lihat Gambar 4)
E.

Usus Halus
Berfungsi untuk penyerapan. Diameter usus halus sekitar 2,5 cm dan

panjangnya 3 sampai 5 meter saat bekerja. Terbagi aats tiga bagian. (1) Duodenum
adalah bagian yang terpendek (25 cm sampai 30 cm). Duktus empedu dan duktus
pankreas, keduanya membuka ke dinding posterior duodenum beberapa
sentimeter di bawah mulut pylorus. (2) Yeyunum adalah bagian yang memiliki
panjang sekitar 1 m sampai 1,5 m. (3) Ileum merentang sampai menyatu dengan
usus besar, panjangnya sekitar 2 m sampai 2,5 m.1
Kelenjar-kelenjar usus (kripta Lieberkuhn) tertanam dalam mukosa dan
membuka di antara basis-basis vili. Kelenjar ini mensekresikan enzim dan
hormon-hormon

seperti

hormon

sekretin,

peptida

usus

vasoaktif,

dan
10

somatostatin. Kelenjar penghasil mukus terdiri dari sel goblet yang memproduksi
mukus pelindung dan terdiri dari kelenjar Brunner yang terletak dalam submukosa
duodenum dan memproduksi mukus untuk melindungi mukosa duodenum
terhadap kimus asam dan cairan lambung. Kelenjar enteroendokrin menghasilkan
hormon-hormon gastrointestinal.1
Jaringan limfatik terdiri dari leukosit dan nodulus limfe yang ada di
keseluruhan usus halus untuk melindungi dinding usus terhadap invasi benda
asing. Agreagsi nodulus limfe yang disebut bercak Peyeri terdapat dalam ileum.
(Lihat Gambar 4)
F.

Usus Besar, Rektum, dan Anus


Pada usus besar terdapat katup iliosekal. Katup ini adalah mulut sfingter

antara usus halus dan usus besar. Normalnya katup ini tertutup dan akan terbuka
untuk merespon gelombang peristaltik. Usus besar memiliki beberapa bagian.
Sekum adalah kantong tertutup yang menggantung di bawah area katup ileosekal.
Apendiks vermiformis, suatu tabung buntu yang sempit berisi jaringan limfoid
menonjol dari ujung sekum. Kolon adalah bagian usus besar dari sekum sampai
rectum. Kolon memilki tiga divisi. (1) Kolon ascendens merentang dari sekum
sampai ke tepi bawah hati di sebelah kanan dan membalik secara horizontal pada
plexura hepatica. (2) kolon tranversa merentang menyilang abdomen di bawah
hati dan lambung sampai ke tepi lateral ginjal kiri, tempatnya memutar ke bawah
pada plexura splenik.(3) Kolon descendens merentang ke bawah pada sisi kiri
abdomen dan menjadi kolon sigmoid berbentuk S yang bermuara di rektum.1
Fungsi usus besar adalah mengabsorpsi 80%-90% air dan elektrolit dari
kimus, mengubah kimus dari cairan menjadi massa semi padat, memproduksi
mukus saja, mencerna sejumlah kecil selulosa dan memproduksi sedikit kalori
nutrient bagi tubuh dengan bantuan sejumlah bakteri dalam kolon, dan untuk
mensekresi zat sisa dalam bentuk feses.1
Rektum adalah bagian saluran pencernaan dengan panjang 12 cm sampai
13 cm. Rektum berakhir pada saluran anal dan membuka ke eksterior di anus.

11

Sfingter anal internal otot polos (involunter) dan sfingter anal eksternal otot
rangka (volunter) mengitari anus.1 (Lihat Gambar 4)

Gambar 1. Mulut
Sumber : Internet, web Google Images dengan kata kunci anatomi saluran pencernaan manusia

Gambar 2. Kelenjar penghasil saliva


Sumber : Internet, Pearson Education. Inc. publishing as Benjamin Cummings

12

Gambar 3. Gigi
Sumber : Internet, web Google Images dengan kata kunci anatomi saluran pencernaan manusia

Gambar 4. Organ-organ pencernaan


Sumber : Internet, Pearson Education. Inc. publishing as Benjamin Cummings

Mekanisme Pencernaan Karbohidrat di Mulut


A.

Mengunyah (Mastikasi)
Mengunyah

bertujuan

untuk

menggiling

makanan,

menghaluskan

makanan, dan mencampur makanan dengan air liur. Zat utama yang dicerna di
13

mulut adalah karbohidrat. Sebelum karbohidrat dapat digunakan untuk memenuhi


kebutuhan tubuh, maka karbohidrat harus dipecah dulu menjadi persenyawaan
yang lebih sederhana. Proses pemecahan karbohidrat dari polisakarida atau
oligosakarida menjadi monosakarida memerlukan bantuan enzim amilase. Enzim
amilase atau ptialin terdapat di saliva. Amilase atau ptialin memecah karbohidrat
rantai panjang yaitu polisakarida menjadi molekul lebih sederhana yaitu
disakarida maltosa.4-6
B.

Menelan

Setelah makanan selesai dikunyah sampai halus dan karbohidrat sudah dipecah
menjadi senyawa yang lebih sederhana, maka terjadi proses menelan. Makanan
(bolus) akan didorong oleh lidah bagian belakang mulut ke faring. Tekanan bolus
di faring merangsang reseptor tekanan di faring yang kemudian mengirim impuls
aferen ke pusat menelan di medula. Pusat menelan kemudian secara refleks
mengaktifkan serangkaian otot yang berperan dalam proses menelan. Menelan
dimulai secara volunter, tetapi setelah dimulai proses tersebut, tidak dapat
dihentikan. Selama proses menelan, karbohidrat tidak mengalami proses
penguraian.5
C.

Motilitas Sekresi Saliva


Sekresi saliva memiliki dua jenis refleks, yaitu refleks saliva sederhana

(tidak terkondisi) dan refleks saliva didapat (terkondisi). Refleks saliva sederhana
(tidak terkondisi) terjadi sewaktu kemoreseptor atau reseptor tekanan di dalam
mulut berespon terhadap adanya makanan. Reseptor-reseptor tersebut memulai
impuls di saraf aferen yang membawa informasi ke pusat saliva di medulla batang
otak. Pusat saliva kemudian mengirim impuls ke kelenjar liur untuk meningkatkan
sekresi air liur.5
Pada refleks saliva didapat (terkondisi), pengeluaran air liur terjadi tanpa
rangsangan oral. Hanya berpikir, melihat, membaui, atau mendengar suatu
makanan dapat memicu pengeluaran air liur. Selain itu, saraf simpatis dan
parasimpatis ikut berperan dalam pengeluaran saliva. Dimana kerja parasimpatis
dan simpatis sama-sama berperan meningkatkan sekresi air liur.5

14

Mekanisme Pencernaan Karbohidrat, Protein, dan Lemak


A.

Karbohidrat
Bentuk karbohidrat dalam kehidupan sehari-hari berbentuk polisakarida,

disakarida, dan monosakarida. Bentuk yang paling sederhana dari karbohidrat


adalah monosakarida (glukosa, fruktosa, dan galaktosa). Bentuk yang paling
sederhana tersebut jumlahnya paling kecil dalam makanan. Bentuk karbohidrat
yang paling banyak terdapat dalam makanan adalah polisakarida yang terbentuk
dari rantai-rantai monosakarida. Karbohidrat terdiri dari 4 jenis, yaitu
monosakarida, disakarida, oligosakarida, dan polisakarida.6,7
Jenis karbohidrat yang paling sering ditemukan dalam makanan antara lain
tepung kanji yang berasal dari makanan nabati, daging dalam bentuk glikogen,
dan selulosa yang terdapat pada tumbuh-tumbuhan (sayur). Ketiga jenis
karbohidrat ini mengalami proses yang berbeda-beda ketika masuk ke dalam
saluran pencernaan.6,7
Apapun jenis karbohidrat yang masuk ke dalam saluran cerna pada orang
yang normal akan melalui mulut. Di dalam mulut semua jenis karbohidrat ini
mengalami perlakuan yang sama yaitu akan dikunyah di dalam mulut dengan gigi.
Semua karbohidrat akan dihaluskan dibantu dengan air liur, gigi serta lidah.
Selain dihaluskan, karbohidrat juga mengalami proses kimiawi oleh enzim yang
ada dalam mulut enzim amilase yang diproduksi oleh kelenjar air liur. Enzim
amilase ini akan mengubah karbohidrat kompleks polisakarida menjadi
oligosakarida, disakarida dan monosakarida. Salah satunya adalah mengubah
polisakarida menjadi disakarida maltosa. Walaupun karbohidrat disini sudah
mengalami proses pencernaan, namun tidak semua polisakarida sudah terpecah
karena hanya 5% terjadi pemecahan dari polisakarida menjadi disakarida.6,7
Karbohidrat seperti polisakarida yang belum tercerna sepenuhnya akan
masuk ke dalam lambung melalui tenggorokan dan esofagus. Di lambung, enzim
amylase hanya bekerja selama 1 jam, karena kerja enzim amilase yang memiliki
pH 6,7 dihambat oleh asam lambung yang pH-nya bisa mencapai 2. Akhirnya
semua karbohidrat ini akan sampai pada usus halus (ileum).4,6,7

15

Di usus halus terdapat enzim amilase yang diproduksi oleh pankreas. Sisasisa karbohidrat yang belum tercerna menjadi disakarida dan monosakarida akan
dicerna oleh enzim amilase pankreas. Karbohidrat yang sudah menjadi
monosakrida akan masuk ke dalam sel-sel usus dan masuk ke dalam darah. Hasil
dari pencernaan karbohidrat oleh enzim amilase adalah disakarida (maltosa,
laktosa, dan sukrosa), maltotriosa, dan alpha dextrin.6,7
Selanjutnya, disakarida akan dicerna oleh enzim-enzim disakaridase
(maltase, laktase, dan sukrase) yang dihasilkan oleh brush border yang pada usus
halus. Maltosa diubah oleh maltase menjadi glukosa+glukosa. Laktosa diubah
oleh laktase menajdi glukosa+galaktosa. Sukrosa diubah oleh sukrase menjadi
glukosa+fruktosa. Hasil akhir dari pencernaan karbohidrat adalah glukosa,
galaktosa dan fruktosa. Kemudian, glukosa dan galaktosa ini akan masuk ke
dalam darah melalui lumen usus dengan bantuan enzim transporter, yaitu sodiumdependent glucose transporter (SGLT, Na+-glucose cotransporter). Glukosa dan
natrium masuk ke dalam epitel usus dibantu oleh SGLT 1. Natrium yang masuk
akan masuk ke intraseluler dan glukosa akan masuk ke dalam interstitium dengan
bantuan GLUT 2 dan masuk ke dalam peredaran darah.6,7
Fruktosa mempunyai mekanisme yang berbeda. Absorbsi fruktosa tidak
bergantung dengan jumlah natrium seperti glukosa dan galaktosa. Fruktosa
ditransport ke dalam enterosit usus oleh difusi fasilitasi dibantu oleh GLUT 5 dan
masuk ke dalam interstitium dibantu GLUT 2. Sebagian fruktosa diubah terlebih
dulu menjadi glukosa di sel mukosa. Normalnya, tidak ada karbohidrat yang
masuk ke usus besar karena hasil pemecahan polisakarida menjadi monosakarida
sudah diserap di usus halus.6,7
B.

Protein
Pencernaan dari protein bermula di lambung. Protein di dalam lambung

akan dipecah oleh enzim pepsin yang dihasilkan oleh lambung. Pepsin disimpan
dalam bentuk inaktif yang disebut pepsinogen. Pepsinogen akan menjadi pepsin
dengan bantuan asam lambung yang dihasilkan oleh lambung. Pepsinogen
terdapat dalam mukosa gaster. Keistimewaan dari enzim pepsin adalah dapat
16

mencerna kolagen. Kolagen merupakan bahan pembentuk dari jaringan yang ada
pada daging. Untuk mencerna protein yang ada pada daging, kolagen harus
dicerna terlebih dahulu. Maka dari itu pada orang yang kekurangan enzim pepsin
akan mengalami malabsorpsi. Daging tidak dapat dicerna dengan baik. 10-20 %
total protein dicerna menjadi proteose, pepton, dan beberapa polipeptida.
Kemudian protein tersebut akan masuk ke usus halus. Di usus halus
protein-protein (proteose, pepton dan polipeptida) akan diubah lagi oleh enzim
yang dihasilkan oleh pankreas. Enzim-enzim tersebut antara lain tripsin,
kemotripsin, karboksipolipetidase, dan proelase. Tripsin dan kemotripsin
mengubah molekul protein menjadi polipeptida yang kecil. Karboksipolipeptidase
memecah gugus karboksil dari polipeptida dan menghasilkan asam amino.
Proelase berubah menjadi elastase, yang mencerna serat elastin yang terdapat
dalam daging. Hanya sedikit protein yang diubah menjadi asam amino oleh
enzim-enzim pankreas.
Selanjutnya, protein akan masuk ke dalam duodenum dan jejunum.
Pencernaan protein akan berakhir disini. Pencernaan ini dilakukan oleh enterosit
yang ada di sepanjang usus, terutama duodenum dan jejunum. Sel-sel dalam vili
usus ini mengandung ribuan brush border dan memiliki enzim peptidase. Ada dua
tipe enzim peptidase yang penting yaitu amino polipeptidase dan beberapa
dipeptidase. Kedua enzim ini memisahkan molekul polipeptida yang besar
menjadi tripeptida dan dipeptida dan beberapa asam amino. Asam amino,
tripeptida dan dipeptida mudah ditranspor masuk ke dalam membran mikrovili.
Pada akhirnya didalam sitoplasma enterosit, dipeptida dan tripeptida
diubah menjadi asam amino dan kemudian masuk ke dalam darah. Sekitar 99 %
dari protein diabsorpsi dalam bentuk asam amino. Beberapa jenis protein
bermolekul besar terkadang dapat masuk ke dalam darah dan terkadang dapat
menyebabkan gangguan imunologis dan reaksi alergi.
C.

Lemak
Pencernaan lemak dimulai di duodenum. Kemudian, dengan bantuan

enzim lipase pankreas, lemak yang merupakan trigliserida dihidrolisis.


17

Trigliserida

dipecah

menjadi

digliserida.

Digliserida

dipecah

menjadi

monogliserida. Akhirnya monogliserida dipecah menjadi asam lemak dan 2


monogliserida. Karena konsentrasi garam-garam empedu dalam usus tinggi, maka
lipid dan garam-garam empedu

bereaksi membentuk micelles. Lalu,

monogliserida dan asam lemak dari micelles masuk ke sel mukosa secara difusi
pasif. Berdasarkan ukuran asam lemak tersebut. Asam lemak yang mengandung
atom karbon kurang dari 10-12, langsung berjalan dari sel mukosa ke dalam darah
porta. Sedangkan asam lemak yang mengandung atom karbon lebih dari 10-12
mengalami esterifikasi kembali menjadi trigliserida dalam sel mukosa.6,7

18

Penutup
Kesimpulan
Gangguan pada satu atau lebih organ pencernaan dapat terjadi di mulut,
faring, esophagus, lambung, usus halus, usus besar, rectum, atau pun pada anus.
Gangguan tersebut dapat terjadi karena banyak hal. Dalm kasus ini, ganggaun
terjadi pada lidah, dengan adanya tonjolan atau sariawan. Memang, gangguan
sariawan tersebut tidak mengganggu secara langsung. Namun dalam proses
mengunyah, pasti akan sedikit terganggu.
Ketika terjadi sariawan pada lidah, maka proses mengunyah tidak
maksimal. Proses mengunyah yang tidak maksimal dapat mengurangi sekresi
saliva. Sekresi saliva sedikit, maka enzim yang dihasilkan lebih sedikit dari
biasanya sehingga proses penguraian zat-zat makanan berkurang. Untungnya,
proses penguraian tersebut dapat diatasi dengan adanya organ normal lainnya.
Jadi, adanya gangguan pada salah satu atau lebih organ pencernaan dapat
mengganggu mekanisme pencernaan.

19

Daftar Pustaka
1.

Sloane E. Anatomi dan fisiologi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC;


2004.h.281-95.

2.

Bloom, Fawcett. Buku ajar histologi. Edisi 12. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2002.h.500-34.

3.

Shires S, Spencer. Intisari prinsip-prinsip ilmu bedah. Edisi 6. Jakarta:


Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2002.h.249-50.

4.

Suhardjo, Kusharto CM. Prinsip-prinsip ilmu gizi. Yogyakarta: Kanisius;


2010.h.101-8.

5.

Sherwood L. Fisiologi manusia; dari sel ke sistem. Edisi 6. Jakarta:


Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2012.h.545-85.

6.

Ganong WF. Buku ajar fisiologi kedokteran. Edisi 22. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC; 2005.h.244-51.

7.

Guyton AC, Hall JE. Buku ajar fifiologi kedokteran. Edisi 11. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2006.h.808-12.

20