Anda di halaman 1dari 4

SPO MANAJEMEN NYERI

RUMAH SAKIT Tk IV
02.07.05 dr.Noesmir
Baturaja

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman
1-3

Jl. Dr. Moh. Hatta


No.64 BATURAJA
Tanggal terbit
Standard Procedure

Ditetapkan,
Plt.Kepala Rumah Sakit.Tk.IV 02.07.05
dr.Noesmir Baturaja,

Operational

dr. Noldy Efriyanto,Sp.B


Mayor Ckm NRP.1196005560368
Menyiapakan pasien dan keluarga tentang strategi mengurangi
Pengertian

nyeri atau menurun kan nyeri ke level kenyaman yang diterima


oleh pasien.

Tujuan
Kebijakan

Memfasilitasi pasien untuk tindakan pengurangan nyeri.


1. Undang undang No. 29 tahun 2004 tentang
Praktek Kedokteran.
2. Undang undang No. 29 tahun 2009 tentang
kesehatan.
3. Undang undang No. 44 tahun 2009 tentang
Rumah Sakit.
4. Peraturan pemerintah No. 32 tahun 1996 tentang
tenaga kesehatan.
5. Keputusan Menteri Kesehatan No. 1333/Menkes
/SK/XII/1999 tentang standar pelayanan Rumah
Sakit.
6. Peraturan Menteri Kesehatan No. 512/
Menkes/per/IV/2007 Tentang izin praktek dan
pelaksanaan praktek kedokteran.
7. Peraturan Menteri kesehatan No. 296/Menkes/
Per/III/2008 tentang Rekam Medik.
8. Peraturan Menteri Kesehatan No. 290/Menkes/
Per/III/2008 tentang persetujuan tindakan

kedokteran.
9. Peraturan Menteri Kesehatan No. 1144/Menkes/
per/VII/2010 tentang organisasi dan tata kerja
kementerian kesehatan.
10.
Keputusan Direktorat Jendral Bina Upaya
Kesehatan No. HKO2.04/1/2790/11 tentang
Prosedur

Standar Akreditasi Rumah Sakit.


1. Lakukan pengkajian yang komprehensif tentang nyeri,
termasuk lokasi, karakteristik, onset/ durasi, frekuensi,
kualitas, intensitas, atau beratnya nyeri dan factor
presipitasi.
2. Amati perilaku non verbal yang menunjukan ketidak
nyamanan, khususnya ketidakmampuan komunikasi
efektif.
3. Pastikan pasien menerima analgesic yang tepat.
4. Gunakan strategi komunikasi terapeutik yang dapat
diterima tentang pengalaman nyeri dan merasa
menerima respon pasien terhadap nyeri.
5. Identifikasi dampak pengalaman nyeri terhadap kualitas
hidup.
6. Evaluasi pasca mengalami nyeri tersebut riwayat individu
dan keluarga mengalami nyeri kronik atau yang
menimbulkan ketidakmampuan.
7. Evaluasi bersama pasien tentang efektifitas pengukuran
control paska nyeri yang dapat digunakan.
8. Bantu pasien dan keluarga untuk memperoleh dukungan.
9. Bersama keluarga mengindentifikasi kebutuhan untuk
mengkaji kenyaman pasien dan merencanakan
monitoring tindakan.
10. Beri informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri,
berapa lama berakhir, antisipasi ketidaknyamanan dari
prosedur.
11. Ajarkan kepada pasien untuk mengontrol factor
lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien

mengalami ketidaknyaman (misal; temperature ruangan ,


cahaya, kebisingan).
12. Mengajarkan pada pasien bagaimana mengurangi atau
menghilangkan factor yang terjadi presipitasi atau
meningkatkan pengalaman nyeri (misal: ketakutan,
kelemahan, monoton, dan rendahnya pengetahuan).
13. Pilih dan implementasikan berbagai pengukuran (misal:
farmakologi, nonfarmakologi, dan interpersonal) untuk
memfasilitasi penurunan nyeri.
14. Mengajarkan kepada pasien untuk mempertimbangkan
jenis dan sumber nyeri ketika memilih strategi penurunan
nyeri.
15. Anjurkan pasien untuk mematau nyerinya sendiri dan
intervensi segera.
16. Ajarkan tehnik penggunaan nonfarmakologi (misalnya:
biofeedback, TENS, hypnosis, relaksasi, guided imagery,
terapi music, distraksi, terapi bermain, terapi aktivitas,
acupresure, terapi dingin/ panas, dan pijatan).
17. Jelaskan penggunaan analgetik untuk penurunan nyeri
yang optimal.
18. Gunakan pengukuran control nyeri sebelum nyeri
meningkat.
19. Lakukan verifikasi tingkat ketidaknyamanan dengan
pasien , catat perubahan pada rekam medic.
20. Evaluasi keefektifan pengukuran control nyeri yang
dilakukan dengan pengakajian terus menerus terhadap
pengalaman nyeri.
21. Modifikasi pengukuran control nyeri pada respon pasien.
22. Dorong istirahat yang adekuat/ tidur untuk memfasilitasi
penurunan nyeri.
23. Anjurkan apsien untuk mendiskusikan pengalaman nyeri,
sesuai keperluan.
24. Beri informasi yang akurat untuk mendukung
pengetahuan keluarga dan respon untuk pengalaman

nyeri.
25. Melibatkan keluarga dalam modalitas penurunan nyeri,
jika mungkin.
26.

Unit terkait

Pantau kepuasan pasien dengan manajemen nyeri

pada rentang spesifik.


Instalsi rawat inap

ICU

IGD