Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN TETAP BIOKIMIA 1

Reaksi Uji Protein (Denaturasi Protein)


Nama

: Lusiana Setiawati

NIM

: 06101181320028

Kelompok

: 1 ( Satu)

Anggota

:1. Diah Permata Sari


2. Nurul Mawaddah
3. Mety Trriany
4. Reni Marzela
5. Reni Oktavia Banjar Nahor
6. Wildan Tikto R

Dosen Pembimbing

: Maefa Eka Haryani., S.Pd.M.Pd

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2015

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM BIOKIMIA 1


I. PERCOBAAN KE

: 2 (DUA)

II. TANGGAL PRAKTIKUM : 11 SEPTEMBER 2015


III.

JUDUL PRAKTIKUM

: REAKSI UJI TERHADAP ASAM AMINO

IV.

TUJUAN PRAKTIKUM
: Untuk menguji kandungan di dalam protein
dengan menggunakan metode denaturasi protein.

V. DASAR TEORI
Protein ditemukan di dalam semua sel dan semua bagian sel yang amat
bervariasi yaitu terdapat ratusan jenis yang berbeda dapat ditemukan dalam satu sel.
Protein berperan penting dalam struktur dan fungsi semua sel makhluk hidup dan
virus. Peranan penting protein antara lain untuk membentuk jaringan otot, zat
pengatur serta sebagai cadangan makanan dan energi dalam tubuh.

Protein

merupakan salah satu dari biomolekul raksasa, selain polisakarida, lipid, dan
polinukleotida, yang merupakan penyusun utama makhluk hidup yang juga
merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu
sama lain dengan ikatan peptida.
Denaturasi protein merupakan suatu proses dimana terjadi perubahan atau
modifikasi terhadap konformasi protein, lebih tepatnya terjadi pada struktur tersier
maupun kuartener dari protein. Pada struktur tersier protein misalnya, terdapat
empat jenis interaksi pada rantai samping seperti ikatan hidrogen, jembatan garam,
ikatan disulfida, interaksi non polarpada bagian non hidrofobik. Adapun penyebab
dari denaturasi protein bisa berbagai macam, antara lain panas, alkohol, asam-basa,
maupun logam berat.
Ciri-ciri suatu protein yang mengalami denaturasi bisa dilihat dari berbagai hal.
Salah satunya adalah dari perubahan struktur fisiknya, protein yang terdenaturasi
biasanya mengalami pembukaan lipatan pada bagian-bagian tertentu. Selain itu,
protein yang terdenaturasi akan berkurang kelarutannya. Lapisan molekul yang
bagian hidrofobik akan mengalami perubahan posisi dari dalam ke luar, begitupun
sebaliknya. Hal ini akan membuat perubahan kelarutan.

Selain itu, masing-masing penyebab denaturasi protein juga mengakibatkan ciri


denaturasi yang spesifik. Panas, misalnya. Panas dapat mengacaukan ikatan
hidrogen dari protein namun tidak akan mengganggu ikatan kovalennya. Hal ini
dikarenakan dengan meningkatnya suhu akan membuat energi kinetik molekul
bertambah. Bertambahnya energi kinetik molekul akan mengacaukan ikatan-ikatan
hidrogen. Dengan naiknya suhu, akan membuat perubahan entalpi sistem naik.
Selain itu bentuk protein yang terdenaturasi dan tidak teratur juga sebagai tanda
bahwa entropi bertambah. Entropi sendiri merupakan derajat ketidakteraturan,
semakin tidak teratur maka entropi akan bertambah. Pemanasan juga dapat
mengakibatkan kemampuan protein untuk mengikat air menurun dan menyebabkan
terjadinya koagulasi.
Selain oleh panas, asam dan basa juga dapat membuat protein terdenaturasi.
Seperti telah diketahui bahwa protein dapat membentuk struktur zwitter ion.
Protein juga memiliki titik isoelektrik dimana jumlah muatan positif dan muatan
negatif pada protein adalah sama. Pada saat itulah, protein dapat terdenaturasi yang
ditandai dengan membentuk gumpalan dan larutannya menjadi keruh. Pada saat ini
entalpi pelarutannya akan menjadi tinggi, karena jumlah kalor yang dibutuhkan
untuk melarutkan sejumlah protein akan bertambah. Mekanismenya adalah
penambahan asam dan basa dapat mengacaukan jembatan garam yang terdapat
pada protein. Ion positif dan negatif pada garam dapat berganti pasangan dengan
ion positif dan negatif dari asam ataupun basa sehingga jembatan garam pada
protein yang merupakan salah satu jenis interaksi pada protein, menjadi kacau dan
protein dapat dikatakan terdenaturasi.
Bentuk protein terdenaturasi yang mengendap ini juga dapat diakibatkan oleh
pengaruh logam-logam berat. Dengan adanya logam-logam berat itu akan terbentuk
kompleks garam protein-logam. Kompleks inilah yang membuat protein akan sulit
untuk larut. Dan sama dengan ketika protein terdenaturasi akibat asam dan basa,
entalpi pelarutannya akan naik. Protein bermuatan negatif atau protein
dengan pH larutan di atas titik isoelektrik akan diendapkan oleh ion positif atau
logam lebih mudah. Sebaliknya, protein bermuatan positif dengan pH larutan di
bawah titik isoelektrik membutuhkan ion-ion negatif. Contoh ion-ion positif yang
dapat mengendapkan protein misalnya Ag+, Ca2+, Zn2+, Hg2+, Fe2+, Cu2+, dan Pb2+.
Dan contoh ion-ion negatif yang dapat mengendapkan protein misalnya ion

salisilat, trikloroasetat, piktrat, tanat, dan sulfosalisilat. Namun selain membentuk


kompleks garam protein-logam yang sukar larut, logam berat dapat menarik sulfur
pada protein sehingga mengganggu ikatan disulfida dalam protein dan
menyebabkan protein terdenaturasi pula.
Gangguan pada ikatan disulfida selain disebabkan oleh logam berat juga dapat
disebabkan oleh agen-agen pereduksi. Agen pereduksi ini bisa menyebabkan ikatan
disulfida putus dan dapat membentuk gugus tiol (-SH) dengan penambahan atom
hidrogen. Selain ikatan disulfida, ikatan lain yang apabila terganggu dapat
menyebabkan denaturasi protein adalah ikatan hidrogen. Dengan adanya alkohol
dapat merusak ikatan hidrogen antar rantai samping dalam struktur tersier suatu
protein.
Selain itu, alkohol juga dapat mendenaturasi protein. Alkohol seperti kita ketahui
umumnya terdapat kadar 70% dan 95%. Alkohol 70% bisa masuk ke dinding sel
dan dapat mendenaturasi protein di dalam sel. Sedangkan alkohol 95%
mengkoagulasikan protein di luar dinding sel dan mencegah alkohol lain masuk ke
dalam sel melalui dinding sel. Sehingga yang digunakan sebagai disinfektan adalah
alkohol 70%. Alkohol mendenaturasi protein dengan memutuskan ikatan hidrogen
intramolekul pada rantai samping protein. Ikatan hidrogen yang baru dapat
terbentuk antara alkohol dan rantai samping protein tersebut.
VI.

ALAT DAN BAHAN


ALAT
1. Tabung reaksi
2. Rak tabung reaksi
3. Pipet tetes
4. Waterbath
5. Gelas ukur
6. Gelas kimia
7. Tabung sentrifuge
8. Sentrifuge

BAHAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Larutan Albumin
HCl 0,1 M
NaOH 0,1 M
Buffer asetat 4,7 (1 M)
Larutan putih telur 1% - 5%
Aquades

VII.

PROSEDUR PERCOBAAN

1. Pipet 3 ml larutan albumin dan masukkan kedalam tabung reaksi.


2. Tambahkan 1 ml larutan HCl 0,1 M kedalam tabung 1, larutan NaOH 0,1 M
ke dalam tabung 2 dan 1 ml lartan buffer asetat kedalam tabung 3.
3. Panaskan tabung reaksi di dalam waterbath selama 15 menit.
4. Setalah lartan didinginkan pada temperatur kamar, pada tabung 1 dan 2
ditambahkan 10 ml larutan buffer asetat pH 4,7.
5. Amati perubahan yang terjadi dan catat pada tabel pengamatan anda.
6. Ulangi langkah 1-5 untuk sampel larutan putih telur konsentrasi 1% - 5%.

DENATURASI PROTEIN

VIII. HASIL PENGAMATAN

No

Larutan yang di uji

1
2
3

Lar.albumin+ buffer
Lar.albumin+HCl
Lar.albumin+NaOH

1
2
3

Lar putih telur 1%+buffer


Lar putih telur 1% + HCl
Lar putih telur 1% +
NaOH

1
2
3

Lar putih telur 2%+buffer


Lar putih telur 2% + HCl
Lar putih telur 2% +
NaOH

Sebelum
dipanaskan
Bening
Bening
Bening
Bening

Hasil pengamatan
Setelah
Setelah +
dipanaskan
buffer
Bning+endpn
Keruh
Keruh
Bening
Keruh+endpan

Bening

keruh
Bening

Bening

Bening

Bening

Keruh

Bening
Bening
Bening

Keruh
Benng
Bening

Bening
Keruh

IX.

1
2
3

Lar putih telur 3%+buffer


Lar putih telur 3% + HCl
Lar putih telur 3% +
NaOH

Bening
Bening

Kruh+endpn
Bening

Keruh

Bening

Bening

Keruh

1
2
3

Lar putih telur 4%+buffer


Lar putih telur 4% + HCl
Lar putih telur 4% +
NaOH

Bening
Bening

Kruh+endpn
Bening

Keruh

Bening

Bening

Keruh

1
2
3

Lar putih telur 5%+buffer


Lar putih telur 5% + HCl
Lar putih telur 5% +
NaOH

Bening
Bening

Keruh+endpn
Bening

Keruh

Bening

Bening

Keruh

PERSAMAAN REAKSI
Persamaan Denaturasi Protein

X. PEMBAHASAN
Pada percobaan kali ini, yaitu membahas mengenai reaksi uji terhadap
protein. Uji yang digunakan pada percobaan ini adalah denaturasi protein dengan
menggunakan pereaksi asam kuat, basa kuat dan buffer asetat. Denaturasi protein
merupakan suatu proses dimana terjadi perubahan atau modifikasi terhadap
konformasi protein, lebih tepatnya terjadi pada struktur tersier dan kuartener dari
protein. Larutan sampel yang digunakan pada percobaan ini adalah larutan albumin
dan larutan putih telur 1% - 5%. Dimana larutan sampel akan dimasukkan kedalam
3 tabung reaksi berbeda dan setiap tabung reaksi akan ditambahkan pereaksi yang
berbeda pula. Pada tabung 1 larutan sampel ditambah dengan pereaksi asam kuat
(HCl) 0,1 M, tabung 2 ditambah dengan pereaksi basa kuat (NaOH) 0,1 M dan
tabung 3 ditambah pereaksi buffer asetat pH 4,7, masing-masing pereaksi
digunakan sebanyak 1 ml.
Percobaan pertama pada uji denaturasi protein, sampel yang digunakan
adalah larutan albumin. Larutan albumin yang digunakan sebanyak 9 ml. Setelah
masing-masing tabung reaksi ditambah dengan pereaksi, sampel tetap berwarna
bening. Sampel kemudian dipanaskan didalam waterbath selama 15 menit. Terjadi
perubahan pada larutan sampel yang telah dipanaskan, dimana pada tabung 1
dengan penambahan HCl larutan sampel menjadi keruh, pada tabung 2 dengan
penambahan NaOH sampel tetap berwarna bening, sedangkan pada tabung 3
dengan penambahan buffer asetat menjadi laruta bening dan terbentuk endapan.
Kemudian sampel didinginkan pada temperatur kamar kemudian pada tabung 1 dan
2 ditambah larutan buffer asetat sebanyak 10 ml. Pada tabung 1 larutan sampel
tetap keruh sedangkan pada tabung 2 sampel mengalami perubahan dari bening
menjadi keruh dan terdapat endapan.
Percobaan selanjutnya digunakan sampel larutan putih telur dengan
konsentrasi 1% - 5%. Adanya variasi konsentrasi larutan sampel pada percobaan
dengan tujuan agar dapat membandingkan kandungan protein yang terdapat pada
sampel dengan cara melihat perbedaan degradasi warna sampel dan endapan yang
terbentuk. Pada percobaan yang dilakukan terlihat bahwa semakin tinggi
konsentrasi larutan maka semakin banyak kandungan protein yang terdapat pada
sampel. Hal ini dapat dibuktikan dengan bertambahnya warna keruh dan endapan
yang terbentuk seiring dengan bertambahnya konsentrasi larutan. Pada uji

denaturasi protein dengan sampel larutan putih telur 1% - 5% dilakukan dengan


langakah-langkah yang sama seperti menggunakan sampel larutan albumin. Hasil
yang diperoleh pada percobaan ini larutan putih telur sebelum pemanasan tetap
berwarna bening. Sedangkan setelah pemanasan larutan sampel dengan
penambahan pereaksi NaOH berubah dari bening menjadi keruh dan penambahan
pereaksi buffer berubah dari bening menjadi keruh dan terdapat endapan.
Kemudian setelah didinginkan pada temperatur kamar, larutan dengan pereaksi HCl
dan NaOH ditambah dengan larutan buffer 10 ml. Pada sampel dengan
penambahan pereaksi NaOH terjadi perubahan dari bening menjadi keruh. Tingakat
kekeruhan bertambah dengan bertambahnya konsentrasi.
Terjadinya denaturasi pada larutan albumin dalam percobaan disebabkan
oleh beberapa faktor, yaitu :
pemanasan.

Suhu tinggi, yang diakibatkan oleh adanya

Keasaman, yaitu terjadinya perubahan pH yang sangat ekstrim.

Adanya pengaruh mekanik, seperti guncangan. Dalam percobaan dipergunakannya


buffer atau larutan penyangga asam asetat pH 4,7 adalah sebagai pembanding
dengan senyawa NaOH dan senyawa HCl, untuk melihat terjadinya denaturasi yang
sempurna ataupun tidak. Larutan penyangga ini merupakan larutan yang mampu
mempertahankan pH-nya meskipun ke dalamnya dilakukan penambahan sedikit
asam seperi penambahan HCl ataupun sedikit basa sepeti penambahan NaOH.
XI.

KESIMPULAN
1. Pada percobaan ini larutan albumin positif terhadap uji denaturasi protein.
2. Denaturasi protein terjadi akibat adanya kenaikan suhu yang dilakukan dengan
pemanasan dengan menggunakan waterbath.
3. Denaturasi protein terjadi karena adanya pengaruh keasaman yang dilakukan
dengan penambahan pereaksi assam kuat.
4. Tabung yang hanya ditambakan larutan buffer asetat menghasilkan endapan
paling banyak.
5. Endapan hasil denaturasi merupakan struktur protein yang rusak

XII.

DAFTAR PUSTAKA
Almasy, L. (2011, Desember). Protein. Dipetik September 15, 2015, dari
Blogger: http://led-almasy.blogspot.co.id/2011/12/protein.html
Dewantara, B. (2011, Desember). Identifikasi Asam Amino. Dipetik September
9,
2015,
dari
Blogger:
http://peyexxblog.blogspot.com/2011/12/identifikasi-asam-amino-melaluiuji.html
Krisnadwi. (2012, Nopember). Denaturasi Protein. Dipetik September 15, 2015,
dari http://bisakimia.com/2012/11/11/denaturasi-protein/
Kristanti, D. (2012, Mei). Protein (Uji Reaksi Asam Amino). Dipetik September
9, 2015, dari Blogger: http://diankristanti.blogspot.com/2012/05/laporanbiokimia-protein.html
Larasati, P. (2011, Maret). Protein dan Asam Amino. Dipetik September 9, 2015,
dari Blogger: http://puspa.larasati08.student.ipb.ac.id/2011/03/04/aminodan-protein/
Lehninger, A. L. (1982). Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta: Erlangga.

XIII. LAMPIRAN GAMBAR