Anda di halaman 1dari 12

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN II

Teori Teori tentang Penuaan dan Well Being


Dosen pengampu : Diah Herawati, S.Psi, Psikolog

Disusun oleh :
Kelas A (Kelompok 4)
Ade Rahmawati

(I1C115201)

Muhammad Renaldy (I1C112060)

Dini Hardianti

(I1C115007)

Niken Lestari

(I1C115037)

Halimah Mufidah (I1C115011)

Nor Mai Leza

(I1C115019)

Maihayana

Nur Fitriati Rizky

(I1C112004)

Muhammad
(I1C115051)

(I1C115015)
Aditya

Ais

P.

Novirisia Trilestari (I1C115039)


Rissa Yulianti Salwa (I1C115025)

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2015/2016

1. Teori Biologis
Kelompok teori ini menjabarkan proses fisik penuaan dimana terjadi
perubahan fungsi dan struktur (sampai tingkat molekuler) hingga kematian.
Kelompok teori ini juga mencoba untuk menjelaskan penyebab terjadinya
variansi dalam proses penuaan yang dialami oleh setiap individu yang berbeda.
a. Teori genetika
Menurut teori ini, penuaan adalah suatu proses yang secara tidak sadar
diwariskan yang berjalan dari waktu ke waktu untuk mengubah sel atau
struktur jaringan. Teori ini terdiri dari teori asam deoksiribonukleat (DNA),
teori ketepatan dan kesalahan, mutasi somatic dan teori glikogen. Teori-teori
ini menyatakan bahwa proses replikasi pada tingkatan seluler menjadi tidak
teratur karena adanya informasi tidak sesuai yang diberikan dari inti sel.
Molekul DNA menjadi saling bersilangan (crosslink) dengan unsur yang
lain sehingga mengubah informasi genetik dan mengakibatkan kesalahan
pada tingkat seluler dan menyebabkan system dan organ tubuh gagal untuk
berfungsi.
b. Teori wear-tear (dipakai-rusak)
Teori ini menyatakan bahwa akumulasi sampah metabolic atau zat nutrisi
dapat merusak sintesis DNA sehingga mendorong malfungsi molekuler dan
akhirnya malfungsi organ tubuh. Radikal bebas adalah contoh dari produk
sampah metabolisme yang menyebabkan kerusakan ketika akumulasi
terjadi. Radikal bebas adalah molekul atau atom dengan suatu electron tidak

berpasangan. Ini merupakan jenis yang sangat reaktif yang dihasilkan dari
reaksi selama metabolisme.
Radikal bebas dengan cepat dihancurkan oleh system enzim pelindung
pada kondisi normal. Beberapa radikal bebas berhasil lolos dari proses
perusakan ini dan berakumulasi didalam struktur biologis yang penting, saat
itu kerusakan organ terjadi.
c. Teori riwayat lingkungan
Teori ini menyatakan bahwa faktor-faktor yang berasal dari lingkungan
seperti karsinogen dari industry, cahaya matahari, trauma dan infeksi)
membawa perubahan dalam penuaan. Faktor lingkungan diketahui dapat
mempercepat proses penuaan tetapi hanya diketahui sebagai faktor sekunder
saja.
d. Teori imunitas
Teori ini menggambarkan suatu kemunduran dalam system imun yang
berhubungan dengan penuaan. Ketika orang bertambah tua, pertahanan
mereka terhadap organisme asing mengalami penurunan, sehingga mereka
lebih rentan untuk menderita berbagai penyakit seperti kanker dan infeksi.
Seiring dengan berkurangnya fungsi system imun, terjadilah peningkatan
dalam respons autoimun tubuh. Ketika orang mengalami penuaan, mereka
mungkin mengalami penyakit autoimun seperti arthritis rheumatoid.
Penganjur teori ini sering memusatkan pada peran kelenjar timus, dimana
berat dan ukuran kelenjar timus akan menurun sering bertambahnya umur
sehingga mempengaruhi kemampuan diferensiasi sel T dalam tubuh dan
mengakibatkan menurunnya respons tubuh terhadap benda asing didalam
tubuh.
e. Teori neuroendokrin
Dalam teori sebelumnya dijelaskan bahwa terdapat hubungan antara
penuaan dengan perlambatan system metabolisme atau fungsi sel. Sebagai
contoh dalam teori ini adalah sekresi hormon yang diatur oleh system saraf.
Salah satu area neurologi yang mengalami gangguan secara universal akibat
penuaan adalah waktu reaksi yang diperlukan untuk menerima, memproses
dan bereaksi terhadap perintah. Dikenal sebagai perlambatan tingkah laku,

respons ini kadang-kadang di interpretasikan sebagai tindakan melawan,


ketulian, atau kurangnya pengetahuan.

Teori Biologis

Tingkat Perubahan

Genetika
Dipakai dan rusak
Riwayat lingkungan

Gen yang diwariskan dari dampak lingkungan


Kerusakan oleh radikal bebas
Meningkatnya pajanan terhadap hal-hal yang
berbahaya

Imunitas
Neuroendokrin

Integritas system tubuh untuk melawan kembali


Kelebihan atau kurangnya produksi hormone

Usia lanjut

merupakan

periode

akhir kehidupan yang identik dengan

perubahan yang bersifat menurun dan merupakan masa kritis untuk


mengevaluasi kesuksesan dan kegagalan seseorang menghadapi masa kini dan
masa depan. Hurlock (2004) membagi masa usia lanjut menjadi dua, yaitu
usia lanjut awal (early old age) yang memiliki rentang usia 60-70 tahun dan usia
lanjut akhir (advanced old age) dengan rentang usia 70 tahun sampai meninggal
dunia.
Hurlock (1991) menyebutkan bahwa PWB atau kebahagiaan pada lanjut usia
tergantung dipenuhi atau tidaknya tiga A keahagiaan, yaitu acceptance
(penerimaan), affection (kasih sayang) dan achievement (pencapaian). Apabila
seorang lanjut usia tidak dapat memenuhi tiga A tersebut maka akan sulit
baginya untuk dapat mencapai kebahagiaan. Ryff dalam buku Human
Development (2000) memberikan definisi well being dalam adulthood dan
menunjukkan bagaimana orang dewasa memandang diri mereka sendiri yang
berbeda ada beberapa hal dimasa adulthood mereka. Salah satu dimensi dari
psychological well being dalam skala Ryff yang sejalan dengan Hurlock adalah
dimensi self acceptance (penerimaan diri).

Nilai tinggi dari dimensi ini

menunjukkan bahwa lanjut usia memiliki sikap yang positif pada diri sendiri,

menerima diri baik aspek yang positif maupun negatif, memandang positif masa
lalu. Sedangkan nilai rendahnya menunjukkan bahwa lanjut usia merasa tidak
puas terhadap diri sendiri, kecewa dengan masa lalu, ingin menjadi orang yang
berbeda dari dirinya saat ini.
Menurut Ryff (1989),

psychological wellbeing merupakan istilah yang

digunakan untuk menggambarkan kesehatan psikologis individu berdasarkan


pemenuhan kriteria fungsi psikologi positif (positive psychological functioning).
Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Ryff (dalam Papalia, 2002) yang
menyebutkan bahwa aspekaspek yang menyusun psychological wellbeing antara
lain:
1. Penerimaan diri (Self acceptance).
Seseorang yang psychological well beingnya tinggi memiliki sikap
posi tif terhadap diri sendiri, mengakui dan menerima berbagai aspek
positif dan negatif dalam dirinya, dan perasaan positif tentang kehidupan
masa lalu.
2. Hubungan positif dengan orang lain (Positive relations with others).
Banyak teori yang menekankan pentingnya hubungan interpersonal
yang hangat dan saling mempercayai dengan orang lain. Kemampuan
untuk mencintai dipandang sebagai komponen utama kesehatan mental.
Psychological wellbeing

seseorang

itu tinggi jika mampu bersikap

hangat dan percaya dalam berhubungan dengan orang lain, memiliki


empati, afeksi, dan keintiman yang kuat, memahami pemberian dan
penerima an dalam suatu hubungan.
3. Kemandirian (Autonomy).
Merupakan

kemampuan

individu dalam mengambil keputusan

sendiri dan mandiri, mampu melawan tekanan sosial untuk berpikir dan
bersikap dengan cara yang benar, berperilaku sesuai dengan standar nilai

individu itu sendiri, dan meng evaluasi diri sendiri dengan standar
personal.
4. Penguasaan lingkungan (Environmental mastery).
Mampu dan berkompetensi meng atur lingkungan, menyusun
kontrol yang kompleks terhadap aktivitas eksternal, menggunakan secara
efektif kesempatan dalam lingkungan, mampu memilih dan menciptakan
konteks yang sesuai dengan kebu tuhan dan nilai individu itu sendiri.
5. Tujuan hidup (Purpose in life).
Kesehatan mental didefinisikan mencakup kepercayaankepercayaan
yang memberikan individu suatu perasaan bahwa hidup ini memiliki tujuan
dan makna. Individu yang berfungsi secara positif memiliki tujuan, misi,
dan arah yang mem buatnya merasa hidup ini memiliki makna.
6. Pengembangan pribadi (Personal growth).
Merupakan

perasaan

mampu

dalam

melalui

tahaptahap

perkembangan, terbuka pada pengalaman baru, menyadari potensi yang ada


dalam dirinya, melakukan perbaikan dalam hidupnya setiap waktu.
Faktorfaktor yang mempengaruhi psychological wellbeing antara lain: latar
belakang

budaya,

kelas

sosial

(Ryff, 1995),

tingkat

ekonomi

dan

tingkat pendidikan (Ryff, 1995; Mirowsky dan Ross, 1999), kepribadian


(Schmutte dan Ryff , dalam Keyes, Ryff, dan Shmotkin, 2002), pekerjaan,
pernikahan, anakanak, kondisi masa lalu seseorang terutama pola
keluarga,

kesehatan

asuh

dan fungsi fisik, serta faktor kepercayaan dan emosi

(Mirowsky dan Ross, 1999), jenis kelamin (Calhoun, Acocella, dan Turner dalam
Chamberlain

dan

Zika, 1992), serta religiusitas (dalam Parga ment, 2001;

Chamberlain dan Zika, 1992, Comptom,2001).


2. Teori Psikososiologis

Teori psikososialogis memusatkan perhatian pada perubahan sikap dan


perilaku yang menyertai peningkatan usia, sebagai lawan dari implikasi biologi
pada kerusakan anatomis. Untuk tujuan pembahasan ini, perubahan sosiologis
atau nonfisik dikombinasikan dengan perubahan psikologis.
Masing-masing individu, muda, setengah baya, atau tua adalah unik dan
memiliki pengalaman, melalui serangkaian kejadian dalam kehidupan, dan
melalui banyak peristiwa. Salama 40 tahun terakhir, beberapa teori telah
berupaya untuk menggambarkan bagaimana perilaku dan sikap pada awal
tahap kehidupan dapat memengaruhi reaksi manusia sepanjang tahap akhir
hidupnya. Pekerjaan ini disebut proses penuaan yang sukses contoh dari teori
ini termasuk teori kepribadian.
1. Teori Kepribadian
Kepribadian manusia adalah suatu wilayah pertumbuhan yang
subur dalam tahun-tahun akhir kehidupannya yang telah merangsang
penelitian yang pantas dipertimbangkan. Teori kepribadian menyebutkan
aspek-aspek pertumbuhan psikologis tanpa menggambarkan harapan
atau

tugas

spesifik

lansia.

Jung

mengembangkan

suatu

teori

pengembangan kepribadian orang dewasa yang memandang kepribadian


sebagai ektrovert atau introvert ia berteori bahwa keseimbangan antara
keddua hal tersebut adalah penting kesehatan. Didalam konsep intoritas
dari Jung, separuh kehidupan manusia berikutnya digambarkan dengan
memeiliki tujuannya sendiri yaitu untuk mengembangkan kesadaran diri
sendiri melalui aktivitas yang dapat merefleksikan diri sendiri.
2. Teori Tugas Perkembangan
Beberapa ahli teori sudah menguraikan proses maturasi dalam
kaitannya dengan tugas yang harus dikuasai pada tahap sepanjang
rentang hidup manusia. Hasil penelitian Ericson mungkin teori terbaik
yang dikenal dalam bidang ini. Tugas perkembangan adalah aktivitas
dan tantangan yang harus dipenuhi oleh seseorang pada tahap-tahap

spesifik dalam hidupnya untuk mencapai penuaan yang sukses. Erickson


menguraikan tugas utama lansia adalah mampu melihat kehidupan
seseorang sebagai kehidupan yang dijalani dengan integritas. Pada
kondisis tidak adanya pencapaian perasaan bahwa ia telah menikmati
kehidupan yang baik, maka lansia tersebut beresiko untuk disibukkan
dengan rasa penyesalan atau putus asa. Minat yang terbaru dalam konsep
ini sedang terjadi pada saat ahli gerontologi dan perawat gerontologi
memeriksa kembali tugas perkembanagn lansia.
3. Teori Disengagement
Teori disengagement (teori pemutusan hubungan), dikembangkan
pertama kali pada awal tahun 1960-an, menggambarkan proses
penarikan diri oleh lansia dari peran bermasyarakat dan tanggung
jawabnya. Menurut ahli teori ini, proses penarikan diri ini dapat
diprediksi, sistematis, tidak dapat dihindari, dan penting untuk fungsi
yang tepat dari masyarakat yang sedang tumbuh. Lansia dikatakan
bahagia apabila kontak sosial telah berkurang dan tanggung jawab telah
diambil oleh generasi yang lebih muda. Manfaat pengurangan kontak
sosial bagi lansia adalah agar ia dapat menyediakan waktu untuk
merefleksikan pencapaian hidupnya dan untuk menghadapi harapan
yang tidak terpenuhi, sedangkan manfaatnya bagi masyarakat adalah
dalam rangka memindahkan kekuasaan generasi tua pada generasi muda.
Teori ini banyak menimbulkan kontroversi, sebagian karena
penelitian ini dipandang cacat dan karena banyak lansia yang menentang
postulat yang dibangkitkan oleh teori untuk menjelaskan apa yang
terjadi didalam pemutusan ikatan atau hubungan. Sebagai contoh,
dibawah kerangka kerja teori ini, pensiun wajib menjadi kebijakan sosial
yang harus diterima. Dengan meningkatnya rentang waktu kehidupan
alami, pensiun pada usia 65 tahun berarti bahwa seorang lanjut usia yang
sehat dapat berharap untuk hidup 20 yahun lagi. Bagi banyak individu

yang sehat dan produktif, prospek diri suatu langkah yang lebih lambat
dan tanggung jawab yang lebih sedikit merupakan hal yang tidak
diinginkan. Jelasnya, banyak lansia dapat terus menjadi anggota
masyarakat produktif yang baik sampai mereka berusia 80 sampai 90
tahun.
4. Teori Aktivitas
Lawan langsung dari teori disengagement adalah teori aktivitas penuaan,
yang berpendapat bahwa jalan menuju penuaan yang sukses adalah
dengan cara tetap aktif. Havighurst yang pertama menulis tentang
pentingnya tetap aktif secara sosial sebagai alat untuk penyesuaian diri
yang sehat untuk lansia pada tahun 1952. Sejak saat itu, berbagai
penelitian telah memvalidasi hubungan positif antara mempertahankan
interaksi yang penuh arti dengan oranglain dan kesejahteraan fisik dan
mental orang tersebut. Gagasan pemenuhan kebutuhan seseorang harus
seimbang dengan pentingnya perasaan dibutuhkan oleh orang lain.
Kesempatan untuk turut berperan dengan cara yang penuh arti bagi
kehidupan seseorang yang penting bagi dirinya adalah suatu komponen
kesejahteraan yang penting bagi lansia. Penelitian menunjukkan bahwa
hilangnya fungsi peran pada lansia secara negatif memengaruhi
kepuasan hidup. Selain itu, penelitian terbaru menunjukkan pentingnya
aktivitas mental dan fisik yang berkesinambungan untuk mencegah
kehilangan dan pemeliharaan kesehatan sepanjang masa kehidupan
manusia.
5. Teori Kontinuitas
Teori kontinuitas, juga di kenal sebagai suatu teori perkembangan,
merupakan suatu kelanjutan dari dua teori sebelumnya dan mencoba
untuk menjelaskan dampak kepribadian pada kebutuhan untuk tetap aktif
atau memisahkan diri agar mencapai kebahagiaan dan terpenuhinya
kebutuhan di usia tua. Teori ini menekankan pada kemampuan koping

individu sebelumnya dan kepribadian sebagai dasar untuk memprediksi


bagaimana seseorang akan dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan
akibat penuaan. Ciri kepribadian dasar dikatakan tetap tidak berubah
walaupun usianya telah lanjut. Selanjutnya, ciri kepribadian secara khas
menjadi lebih jelas pada saat orang tersebut bertambah tua. Seseorang
yang menikmati bergabung dengan orang lain dan memiliki kehidupan
sosial yang aktif akan terus menikmati gaya hidupnya ini sampai usianya
lanjut. Orang yang menyukai kesendirian dan memiliki jumlah aktivitas
yang terbatas mungkin akan menemukan kepuasan dalam melanjutkan
gaya hidupnya ini. Lansia yang terbiasa memiliki kendali dalam
membuat keputusan mereka sendiri tidak akan dengan mudah
menyerahkan peran ini hanya karena usia mereka yang telah lanjut.
Selain itu, individu yang telah melakukan manipulasi atau abrasi dalam
interaksi interpersonal mereka selama masa mudanya tidak akan tiba-tiba
mengembangkan suatu pendekatan yang berbeda didalam masa akhir
krhidupannya.
Ketika perubahan gaya hidup dibebankan pada lansia oleh
perubahan sosial-ekonomi atau faktor kesehatan, permasalahan mungkin
akan timbul. Kepribadian yang tetap tidak diketahui selama pertemuan
atau kunjungan singkat kadang-kadang dapat menjadi fokal dan juga
menjadi sumber kejengkelan ketika situasi mengharuskan adanya suatu
perubahan

didalam

pengaturan

tempat

tinggal.

Keluarga

yang

berhadapan dengan keputusan yang sulit tentang perubahan pengaturan


tempat tinggal untuk seorang lansia sering memerlukan banyak
dukungan.

Suatu

pemahaman

tentang

pola

kepribadian

lansia

sebelumnya dapat memberikan pengertian yang lebih diperlukan dalam


proses pengambilan keputusan ini.

KESIMPULAN
Menua (aging) adalah proses menghilangnya secara perlahan-lahan
kemampuan

jaringan

untuk

memperbaiki

diri/

mengganti

diri

dan

mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan


terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita
(Constantinides, 1994).
Menua merupakan proses yang dapat dilihat sebagai sebuah kontinum
kejadian dari lahir sampai meninggal (Ignativicus, Workman, Mishler, 1999).
Proses penuaan dapat ditinjau dari aspek biologis, sosial dan psikologik.
Teori-teori biologik sosial dan fungsional telah ditemukan untuk menjelaskan dan
mendukung berbagai definisi mengenai proses menua.
Dan pendekatan multi disiplin mengenai teori penuaan, perawat harus
memiliki

kemampuan

untuk

mensintesa

berbagai

teori

tersebut

dan

menerapkannya secara total pada lingkungan perawatan klien usia lanjut termasuk
aspek fisik, mental/emosional dan aspek-aspek sosial. Dengan demikian
pendekatan eklektik akan menghasilkan dasar yang baik saat merencanakan suatu
asuhan keperawatan berkualitas pada klien lansia.
Teori biologis mencoba untuk menjelaskan proses fisik penuaan, termasuk
perubahan fungsi dan struktur, pengembangan, panjang usia dan kematian.
Perubahan-perubahan dalam tubuh termasuk perubahan molekular dan seluler

dalam sistem organ utama dan kemampuan tubuh untuk berfungsi secara adekuat
dan melawan penyakit.

DAFTAR PUSTAKA
http://ejurnalp2m.poltekkesmajapahit.ac.id/index.php/HM/article/download/64/54
Pringgoutumo, dkk. 2002. Buku Ajar Patologi 1 (umum), Edisi 1. Jakarta. Sagung
Seto.
Jurnal psikologi vol. 34 No. 2 164-176. Sukma Adi Galuh A dan Muhana Sofiati
Utami. Religiusitas dan psychological well being pada korban gempa.
Jurnal Psikologi Undip Vol.10, No.2, Oktober 2011. Yeniar Indriana, Dinie Ratri
Desiningrum, Ika Febrian Kristiana.
Pringgoutumo, dkk. 2002. Buku Ajar Patologi 1 (umum), Edisi 1. Jakarta. Sagung
Seto.
Sutisna Hilawan (1992), Patologi. Jakarta, Bagian Patologi Anatomi FKUI.
Gunawan S, Nardho, Dr, MPH, 1995, Upaya Kesehatan Usia Lanjut. Jakarta: Dep
Kes R.I.