Anda di halaman 1dari 26

BAB I

STATUS PASIEN
I.

II.

IDENTITAS
a. Nama

: Tn. M

b. Umur

: 86 tahun

c. Jenis kelamin

: Laki laki

d. Status Menikah

: Menikah

e. Pekerjaan

: tidak bekerja

f. Alamat

: Desa Karangsasri, Kec Pakenjeng, Kab Garut

g. Tanggal pemeriksaan

: Senin, 04 April 2016

h. No CM

: 85-13-79

ANAMNESA
Anamnesa dilakukan secara autoanamnesis
Keluhan Utama

: Pengihatan mata kanna dan kiri buram

a. Anamnesa Khusu
Pasien datang ke poliklinik RSU. Dr. Slamet Garut dengan keluhan
penglihatan mata kanan dan kiri pasien buram, keluhan mata buram seperti
tertutup kabut asap. Keluhan mata buram terutama dirasakan pada mata
kiri pasien. Penglihatan buram pada kedua mata pasien dirasakan sejak
krang lebih 1,5-2 tahun yang lalu. Pada awalnya keluhan mata buram,
pasien masih dapat melihat jauh namun semakin lama keluhan mata buram
semakin memberat, pasien juga mengeluhkan sering merasa silau jika mata
tersorot sinar atau cahya matahari. Saat ini keluhan mata buram sudah
sangat parah, pasien mengaku hampir sudah tidak dapat melihat, terutama
jika hanya melihat dengan menggunakan mata kiri. Riwayat trauma pada
mata kanan dan kiri pasien disangkal, riwayat seperti melihat pelangi
disangkal oleh pasien, riwayat mata merah dan nyeri pada mata disangkal
oleh pasien. Riwayat penggunaan kacmata sebelumnya disangkal oleh
pasien.

b. Anamnesa Keluarga
-

Riwayat penyakit atau keluhan yang sama dalam keluarga


disangkal oleh pasien

c. Riwayat Penyakit Dahulu


-

Riwayat Penyakit Hipertensi tidak diketahui oleh pasien

Riwayat Penyakit Diabetes Mellitus disangkal oleh pasien

Riwayat TB/ pengobatan OAT disangkal oleh pasien

Riwayat penyakit asma bronkhiale disangkal oleh pasien

d. Keadaan Sosial Ekonomi


Pasien sekarang sudah tidak bekerja. Pasien tinggal bersama anak dan
menantunya, anak pasien bekerja sebagai buruh tani. Pembiayaan
pengobatan pasien menggunakan BPJS .
Kesan :Sosial ekonomi menengah kebawah
e. Riwayat Gizi
Kesan gizi pasien cukup baik.
III.

PEMERIKSAAN FISIK
a. Status pasien

Keadaan umum

: Tampak sakit ringan

Kesadaran

: Composmentis

Tekanan darah

: 170/90 mmHg

Nadi

: 88 x/menit

Pernafasan

: 24 x/menit

Suhu

: 36,5 oC

b. Status Generalis

Kepala
o

Bentuk

: Normocephalic

Mata

: Status Oftalmologis

Hidung

: tidak ada kelainan

Telinga

: tidak ada kelainan

Mulut

: tidak ada kelainan

Thoraks
o

Jantung

: dalam batas normal

Paru

: dalam batas normal

Abdomen
o

Hepar

: tidak teraba

Lien

: tidak teraba

Ekstremitas

: tidak ada kelainan

c. Status Oftalmologis

DEXTRA
1/300

SINISTRA
Visus

1/

Tidak dilakukan

Koreksi

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Siaskopi

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Sensus coloris

Tidak dilakukan

Baik ke segala arah

Gerakan Bola Mata

Baik ke segala arah

Tidak ada kelainan

Supersilia

Tidak ada kelainan

Tidak

ada

kelainan,

Edema (-), Hematoma (-)


Enteropion (-) , Ektropion

Tidak
Palpebra superior

ada

kelainan,

Edema (-), Hematoma (-),


Enteropion (-) , Ektropion

(-), Trikiasis (-), Ditrikiasi

(-), Trikiasis (-), Ditrikiasi

Tidak

Tidak

ada

kelainan,

Edema (-), Hematoma (-)


Enteropion (-) , Ektropion
(-), Trikiasis (-), Ditrikiasi

Palpebra inferior

ada

kelainan,

Edema (-), Hematoma (-)


Enteropion (-) , Ektropion
(-), Trikiasis (-), Ditrikiasi

Hiperemis (-), Folikel (-),


Papil (-) , Litiasis (-),
Distrikiasis (-)
Anemis, Hiperemis

(-),

Folikel (-), Papil (-) ,


Litiasis (-), Distrikiasis (-)
Tenang,

Conjungtiva Tarsal
superior
Conjungtiva Tarsal
inferior

Injeksi Silier (-), Injeksi


Konjungtiva

(-),

Subconjungtiva
(-),

bleeding

pingekula

Hiperemis (-), Folikel (-),


Papil (-) , Litiasis (-),
Distrikiasis (-)
Anemis, Hiperemis

(-),

Folikel (-), Papil (-) ,


Litiasis (-), Distrikiasis (-)
Tenang,
Injeksi Silier (-), Injeksi

Conjungtiva bulbi

(-),

Konjungtiva
Subconjungtiva
(-),

Pterigium (-)

(-),
bleeding

pingekula

(-),

Pterigium (-)

Putih, anikterik

Sclera

Putih,anikterik

Jernih, arcus senilis (+)

Cornea

Jernih, arcus senilis (+)

Sedang

Camera oculi anterior

Gambaran kripta baik

Iris

Sedang
Gambaran kripta baik

Bulat, refleks cahaya (+)

Pupil

Bulat, refleks cahaya (+)

14,6 mmHg

TIO

14,6 mmhg

Pemeriksaan Funduscopy
OD
Keseluruhan

OS
keruh

Lensa

Keseluruhan keruh

Shadow test (+)


Sulit dinilai

Vitreus

Shadow test (-)


Sulit dinilai

Refleks fundus (-)

Fundus

Refleks fundus (-)

Pemeriksaan Slit Lamp


OD

OS

Tumbuh Teratur

Cilia

Tumbuh Teratur

Tenang

Conjungtiva

Tenang

Jernih

Cornea

Jernih

Sedang

COA

Sedang

Bulat, isokor, ditengah

Pupil

Bulat, isokor, ditengah

Coklat, kripta jelas


Keruh sebagian

Iris

Coklat, kripta jelas

Lensa

Keruh seluruhnya

Tekanan Intra Okular


Tonometri Schiotz : OD = 5/5,5 17,3 mmHg
Tonometri Schiotz : OS = 6/5,5 14,6 mmHg
Palpasi
: Normal/palpasi

RESUME
Pasien laki-lakiusia 86 tahun datang dengan keluhan mata kanan dan kiri buram yang
dirasakan sejak kurang lebih 1,5-2 tahun SMRS, keluhan penglihatan buram seperti
tertutup kabut asap. Pasien juga mengeluhkan mata silau jika tersorot sinar atau
cahaya matahari. Awalnya buram yang dirasakan pasien tidak terlalu parah dan pasien
masih dapat melihat jauh, tapi semakin lama keluhan terasa semakin parah dan saat
ini pasien hampir tidak dapat melihat. Riwayat trauma pada kedua mata sebelumnya
disangkal, riwayat terdapat keluhan seperti melihat pelangi / halo disangkal, riwayat
terdapat keluhan nyeri pada mata disangkal, riwaat penggunaan kacamat sebelumnya
disangkal oleh pasien.
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o

Visus
: 1/ 300 // 1/
Gerak Bola mata
: Baik / Baik
Conj. Tarsal Sup
: Tenang / Tenang
Conj. Tarsal Inf
:Tenang / Tenang
Conj. Bulbi
: Tenang/ Tenang
Cornea
: Jernih / Jernih
COA
: Sedang / Sedang
Pupil
: dbn / dbn
RCL / RTCL
: +/+ // +/+
Lensa
: Keruh / Keruh
Funduskopi
Lensa
: Keruh Sebagian / Keruh Seluruhnya
Vitreous
: Sdn / Sdn
5

o Tonometri

Fundus

OD = 5/5,5 17,3 mmHg


OS = 6/5,5 14,6 mmHg

IV.

Diferensial Diagnosis

V.

Diagnosis Kerja

: Refleks Fundus menurun / Refleks Fundus -

Katarak Senilis Imatur OD + Katark Senilis Matur OS


VI.

Rencana Pemeriksaan
a. Darah rutin ( Hb, Ht, leukosit, Trombbosit, eritrosit )
b. Homeostasis ( BT, CT)
c. Kimia klinik (Gula Darah Sewaktu)
d. Urine (Glukosa Urin)

VII.

Rencana Penatalaksanaan
a.

Medika Mentosa

Cendo Xytrol Ed 6 dd I gtt OS

Cefadroxyl tab 500mg 2 x 1 /PO

Metil Prednisolon tab 8mg 3 x 1 /PO

As. Mefenamat tab 500mg 3x 1 /PO

Ranitidine tab 150mg 2x 1 /PO

b. Non-medikamentosa

R/ Operasi katarak SICS + IOL OS jika hasil lab baik

Edukasi pasien mengenai penyakit katarak dan operasi katarak

Kontrol rutin ke dokter mata setelah dilakukan operasi

VIII. Prognosa
Quo Ad Vitam

: Ad Bonam

Quo Ad Functionam

: Dubia Ad Bonam

BAB II
PEMBAHASAN
II.
II.1

KATARAK
Definisi
Katarak adalah kelainan pada lensa berupa kekeruhan lensa yang

menyebabkan tajam penglihatan penderita berkurang. Kata katarak berasal dari


Yunani katarraktes, atau dalam bahasa Inggris (Cataract) dan Latin (Cataracta)
yang berarti air terjun, karena pada awalnya katarak dipikirkan sebagai cairan yang

mengalir dari otak ke depan lensa. Penuaan merupakan penyebab katarak terbanyak,
tetapi banyak juga faktor lain yang mungkin terlibat antara lain : trauma, toksin,
penyakit sistemik, merokok dan herediter.
Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan (opasitas) pada lensa yang tidak
dapat menggambarkan obyek dengan jelas di retina, yang dapat terjadi akibat hidrasi
(penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa atau kedua-duanya.

Gambar 1 . lensa yang mengalami katarak

Gambar 2 . lensa yang mengalami katarak


II.2

Epidemiologi
Katarak senilis terjadi pada usia lanjut, yaitu usia di atas 50 tahun. Insidensi

katarak di dunia mencapai 5-10 juta kasus baru tiap tahunnya. Di Afrika katarak senile
merupakan penyebab utama kebutaan. Katarak senilis sangat sering ditemukan pada
manusia, bahkan dapat dikatakan sebagai suatu hal yang dapat dipastikan timbulnya
dengan bertambahnya usia penderita. Horlacher mendapatkan bahwa 65% dari
seluruh individu antara usia 51-60 tahun menderita katarak, sedangkan Barth
menemukan bahwa 96% dari individu di atas usia 60 tahun mempunyai kekeruhan
lensa yang dapat terlihat jelas pama pemeriksaan slitlamp. Di negara berkembang
katarak merupakan 50-70% dari seluruh penyebab kebutaan, selain kasusnya banyak
dan munculnya lebih awal. Di Indonesia tahun 1991 didapatkan prevalensi kebutaan
1,2% dengan kebutaan katarak sebesar 0,67%, dan tahun 1996 angka kebutaan

meningkat 1,47%. Berbagai studi cross sectional melaporkan prevalensi katarak pada
individu berusia 65-74 tahun adalah sebanyak 50%, prevalensi ini meningkat hingga
70% pada individu diatas 75 tahun.
II. 3
-

Etiologi
Penyebab paling banyak adalah akibat proses lanjut usia/ degenerasi, yang

mengakibatkan lensa mata menjadi keras dan keruh.


Dipercepat oleh faktor lingkungan, seperti merokok, sinar ultraviolet, alkohol,
kurang vitamin E,radang menahun dalam bola mata, polusi asap motor/pabrik

karena mengandung timbal.


Cedera mata, misalnya pukulan keras, tusukan benda, panas yang tinggi,

bahan kimia yang merusak lensa.


Peradangan/infeksi pada saat hamil, penyakit yang diturunkan.
Penyakit infeksi tertentu dan penyakit metabolik misalnya diabetes mellitus.
Obat-obat tertentu (misalnya kortikosteroid)

II. 4

Patofisiologi
Patogenesis katarak belum sepenuhnya dimengerti. Walaupun demikian, pada

lensa

katarak

secara

karakteristik

terdapat

agregat-agregat

protein

yang

menghamburkan berkas cahaya dan mengurangi transparaninya. Perubahan protein


lainnya akan mengakibatkan perubahan warna lensa menjadi kuning atau coklat.
Temuan tambahan mungkin berupa vesikel di antara serat-serat lensa atau migrasi sel
epitel dan pembesaran sel-sel epitel yang menyimpang. Sejumlah faktor yang diduga
turut berperan dalam terbentuknya katarak, antara lain kerusakan oksidatif (dari
proses radikal bebas), sinar ultraviolet dan malnutrisi.
Secara umum ada dua proses patogenesis katarak, yaitu :
1. Hidrasi
Terjadi penimbunan komposisi ionik pada korteks lensa dan penimbunan
cairan di antara celah-celah serabut lensa
2. Sklerosis
Serabut-serabut lensa yang terbentuk lebih dahulu akan terdorong ke arah
tengah sehingga bagian tengah menjadi lebih padat (yang disebut nucleus),
mengalami dehidrasi serta penimbunan kalsium dan pigmen.
II.5 Klasifikasi
Klasifikasi menurut usia
A. Katarak Kongenital
Katarak Kongenital katarak yang mulai terjadi sebelum atau segera setelah
lahir dan bayi berusia kurang dari 1 tahun. Kekeruhan sebagian pada lensa yang

sudah didapatkan pada waktu lahir umumnya tidak meluas dan jarang sekali
mengakibatkan keruhnya seluruh lensa. Letak kekeruhan tergantung pada saat
mana terjadi gangguan pada kehidupan janin.
Dibagi menjadi 2 jenis :
a. Katarak kapsulolentikular
Katarak yang mengenai kapsul dan korteks.
b. Katarak lentikular
Katarak yang mengenai korteks atau nukleus saja, tanpa disertai kekeruhan
kapsul. Dalam kategori ini termasuk kekeruhan lensa yang timbul sebagai
kejadian primer atau berhubungan dengan penyakit ibu dan janin lokal atau
umum.
B. Katarak infantil
Merupakan kelanjutan dari katarak kongenital di mana usia penderita
di bawah 1 tahun.
C. Katarak Juvenil
Katarak juvenil adalah katarak yang lunak dan terdapat pada orang muda,
yang mulai terbentuknya pada usia lebih dari 1 tahun dan kurang dari 50 tahun.
Merupakan katarak yang terjadi pada anak-anak sesudah lahir yaitu kekeruhan
lensa yang terjadi pada saat masih terjadi perkembangan serat-serat lensa sehingga
biasanya konsistensinya lembek seperti bubur dan disebut sebagai soft cataract.
Biasanya katarak juvenil merupakan bagian dari suatu gejala penyakit keturunan
lain. Pembedahan dilakukan bila kataraknya diperkirakan akan menimbulkan
ambliopia.
Tindakan

untuk

memperbaiki

tajam

penglihatan

ialah

pembedahan.

Pembedahan dilakukan bila tajam penglihatan seduah mengganggu pekerjaan


sehari-hari. Hasil tindakan pembedahan sangat bergantung pada usia penderita,
bentuk katarak apakah mengenai seluruh lensa atau sebagian lensa apakah disertai
kelainan lain pada saat timbulnya katarak, makin lama lensa menutupi media
penglihatan menambah kemungkinan ambliopia.
D. Katarak Presenil
Terjadi pada usia lebih dari 9 tahun
E. Katarak Senil

10

Katarak senil adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut,
yaitu usia di atas 50 tahun kadang-kadang pada usia 40 tahun. Perubahan yang
tampak ialah bertambah tebalnya nukleus dengan berkembangnya lapisan korteks
lensa. Secara klinis, proses ketuaan lensa sudah tampak sejak terjadi pengurangan
kekuatan akomodasi lensa akibat mulai terjadinya sklerosis lensa yang timbul
pada usia dekade 4 dalam bentuk keluhan presbiopia.
Dikenal 3 bentuk katarak senil, yaitu katarak nuklear, kortikal, dan
subkapsular posterior.
Katarak Nuklear
Inti lensa dewasa selama hidup bertambah besar dan menjadi sklerotik.
Lama kelamaan inti lensa yang mulanya menjadi putih kekuningan menjadi
cokelat dan kemudian menjadi kehitaman. Keadaan ini disebut katarak
brunesen atau nigra.

Gambar 2. Katarak Nuklear

Katarak Kortikal
Pada katarak kortikal terjadi penyerapan air sehingga lensa menjadi
cembung dan terjadi miopisasi akibat perubahan indeks refraksi lensa. Pada
keadaan ini penderita seakan-akan mendapatkan kekuatan baru untuk melihat
dekat pada usia yang bertambah.

11

Gambar 3. Katarak Kortikal

Katarak Subkapsular Posterior


Katarak subkapsular posterior ini sering terjadi pada usia yang lebih muda
dibandingkan tipe nuklear dan kortikal. Katarak ini terletak di lapisan
posterior kortikal dan biasanya axial. Indikasi awal adalah terlihatnya
gambaran halus seperti pelangi dibawah slit lamp pada lapisan posterior
kortikal. Pada stadium lanjut terlihat granul dan plak pada korteks subkapsul
posterior ini. Gejala yang dikeluhkan penderita adalah penglihatan yang silau
dan penurunan penglihatan di bawah sinar terang. Dapat juga terjadi
penurunan penglihatan pada jarak dekat dan terkadang beberapa pasien juga
mengalami diplopia monokular.

Gambar 4. Katarak Subkaspular Posterior


Katarak Senil dapat dibagai atas 4 stadium :
1) Katarak Insipien
Kekeruhan yang tidak teratur seperti bercak-bercak yang membentuk
gerigi dasar di perifer dan daerah jernih membentuk gerigi dengan dasar di
perifer dan daerah jernih di antaranya. Kekeruhan biasanya teletak di

12

korteks anterior atau posterior. Kekeruhan ini pada umumnya hanya


tampak bila pupil dilebarkan.
Pada stadium ini terdapat keluhan poliopia karena indeks refraksi yang
tidak sama pada semua bagian lensa. Bila dilakukan uji bayangan iris akan
positif.
2) Katarak Imatur
Pada stadium yang lebih lanjut, terjadi kekeruhan yang lebih tebal
tetapi tidak atau belum mengenai seluruh lensa sehingga masih terdapat
bagian-bagian yang jernih pada lensa.

Gambar 5. Katarak imatur


Pada stadium ini terjadi hidrasi korteks yang mengakibatkan lensa
menjadi bertambah cembung. Pencembungan lensa ini akan memberikan
perubahan

indeks

refraksi

dimana

mata

akan

menjadi

miopik.

Kecembungan ini akan mengakibatkan pendorongan iris ke depan


sehingga bilik mata depan akan lebih sempit.
Pada stadium intumensen ini akan mudah terjadi penyulit glaukoma.
Uji bayangan iris pada keadaan ini positif.
3) Katarak Matur
Bila proses degenerasi berjalan terus maka akan terjadi pengeluaran air
bersama-sama hasil disintegrasi melalui kapsul. Di dalam stadium ini lensa
akan berukuran normal. Iris tidak terdorong ke depan dan bilik mata depan
akan mempunyai kedalaman normal kembali. Kadang pada stadium ini
terlihat lensa berwarna sangat putih akibat perkapuran menyeluruh karena
deposit kalsium. Bila dilakukan uji bayangan iris akan terlihat negatif.

13

Gambar 6. Katarak Matur


4) Katarak Hipermatur
Merupakan proses degenerasi lanjut lensa sehingga korteks mengkerut
dan berwarna kuning. Akibat pengeriputan lensa dan mencairnya korteks,
nukleus lensa tenggelam ke arah bawah (katarak morgagni). Lensa yang
mengecil akan mengakibatkan bilik mata menjadi dalam. Uji bayangan iris
memberikan gambaran pseudopositif.
Akibat masa lensa yang keluar melalui kapsul lensa dapat
menimbulkan
penyulit

berupa uveitis

fakotoksik

atau glaukom

fakolitik.

Gambar 7. Katarak Hipermatur

Insipien

Imatur

Matur

Hiperma
tur

Kekeruhan

Ringan

Sebagian

Seluruh

Masif
14

Cairan

Normal

Lensa

Iris

Normal

Bertamb

Normal

ah (air

g (air

masuk)

keluar)

Terdoron

Normal

g
Bilik Mata

Berkuran

Tremulan
s

Normal

Dangkal

Normal

Dalam

Normal

Sempit

Normal

Terbuka

Pseudo

Depan
Sudut Bilik
Mata
Shadow
Test
Penyulit

(+)
-

Glaukom
a

Uveitis +
Glaukom
a

Katarak Berdasarkan Etiologi


a. Katarak Primer
Katarak primer merupakan katarak yang terjadi karena proses penuaan atau
degenerasi, bukan karena penyebab yang lain, seperti penyakit sistemik atau
metabolik, traumatik, toksik, radiasi dan kelainan kongenital
b. Katarak Sekunder
1. Katarak Metabolik
Katarak metabolik atau disebut juga katarak akibat penyakit sistemik,
terjadi bilateral karena berbagai gangguan sistemik berikut ini : diabetes
melitus, hipokalsemia (oleh sebab apapun), defisiensi gizi, distrofi miotonik,
dermatitis atopik, galaktosemia, dan sindrom Lowe, Werner, serta Down.
2. Katarak Traumatik
Katarak traumatik paling sering disebabkan oleh trauma benda asing
pada lensa atau trauma tumpul pada bola mata. Peluru senapan angin dan
petasan merupakan penyebab yang sering; penyebab lain yang lebih jarang
adalah anak panah, batu, kontusio, pajanan berlebih terhadap panas

15

(glassblowers cataract), dan radiasi pengion. Di dunia industri, tindakan


pengamanan terbaik adalah sepasang kacamata pelindung yang bermutu baik.
Lensa menjadi putih segera setelah masuknya benda asing karena
lubang pada kapsul lensa menyebabkan humor aqueous dan kadang-kadang
vitreus masuk ke dalam struktur lensa. Pasien sering kali adalah pekerja
industri yang pekerjaannya memukulkan baja ke baja lain. Sebagai contoh,
potongan kecil palu baja dapat menembus kornea dan lensa dengan kecepatan
yang sangat tinggi lalu tersangkut di vitreus atau retina.
3. Katarak Komplikata
Penyakit intraokular atau penyakit di bagian tubuh yang lain dapat
menimbulkan

katarak

komplikata.

Penyakit

intraokular

yang

sering

menyebabkan kekeruhan pada lensa ialah iridosiklitis, glukoma, ablasi retina,


miopia tinggi dan lain-lain. Katarak-katarak ini biasanya unilateral.
Pada uveitis, katarak timbul pada subkapsul posterior akibat gangguan
metabolisme lensa bagian belakang. Kekeruhan juga dapat terjadi pada tempat
iris melekat dengan lensa (sinekia posterior) yang dapat berkembang
mengenai seluruh lensa.
Glaukoma pada saat serangan akut dapat mengakibatkan gangguan
keseimbangan cairan lensa subkapsul anterior. Bentuk kekeruhan ini berupa
titik-titik yang tersebar sehingga dinamakan katarak pungtata subkapsular
diseminata anterior atau dapat disebut menurut penemunya katarak Vogt.
Katarak ini bersifat reversibel dan dapat hilang bila tekanan bola mata sudah
terkontrol.
Ablasio dan miopia tinggi juga dapat menimbulkan katarak
komplikata. Pada katarak komplikata yang mengenai satu mata dilakukan
tindakan bedah bila kekeruhannya sudah mengenai seluruh bagian lensa atau
bila penderita memerlukan penglihatan binokular atau kosmetik.
Jenis tindakan yang dilakukan ekstraksi linear atau ekstraksi lensa
ekstrakapsular. Iridektomi total lebih baik dilakukan dari pada iridektomi
perifer.
Katarak yang berhubungan dengan penyakit umum mengenai kedua
mata, walaupun kadang-kadang tidak bersamaan. Katrak ini biasanya btimbul
pada usia yang lebih muda. Kelainan umum yang dapat menimbulkan katarak
adalah diabetes melitus, hipoparatiroid, miotonia distrofia, tetani infantil dan
lain-lain.
Diabetes melitus menimbulkan katarak yang memberikan gambaran khas
yaitu kekeruhan yang tersebar halus seperti tebaran kapas di dalam masa lensa.
16

Pada hipoparatiroid akan terlihat kekeruhan yang mulai pada dataran


belakang lensa, sedang pada penyakit umum lain akan terlihat tanda
degenerasi pada lensa yang mengenai seluruh lapis lensa.
4. Katarak Toksik
Katarak toksik atau disebut juga katarak terinduksi obat, seperti obat
kortikosteroid sistemik ataupun topikal yang diberikan dalam waktu lama,
ergot, naftalein, dinitrofenol, triparanol, antikolinesterase, klorpromazin,
miotik, busulfan. Obat-obat tersebut dapat menyebabkan terjadinya kekeruhan
lensa.
5. Katarak Ikutan (membran sekunder)
Katarak ikutan merupakan kekeruhan kapsul posterior yang terjadi
setelah ekstraksi katarak ekstrakapsular akibat terbentuknya jaringan fibrosis
pada sisa lensa yang tertinggal, paling cepat keadaan ini terlihat sesudah 2 hari
pasca ekstraksi ektrakapsular. Epitel lensa subkapsular yang tersisa mungkin
menginduksi regenerasi serat-serat lensa, memberikan gambaran telur ikan
pada kapsul posterior (mutiara Elschnig). Lapisan epitel berproliferasi tersebut
dapat membentuk banyak lapisan dan menimbulkan kekeruhan yang jelas. Selsel ini mungkin juga mengalami diferensiasi miofibroblastik. Kontraksi seratserat tersebut menimbulkan banyak kerutan kecil di kapsulposterior, yang
menimbulkan distorsi penglihatan. Semua faktor ini dapat menyebabkan
penurunan ketajaman penglihatan setelah ekstraksi katarak ekstrakapsular.
Katarak ikutan merupakan suatu masalah besar pada hampir semua
pasien pediatrik, kecuali bila kapsul posterior dan vitreus anterior diangkat
pada saat operasi. Dulu, hingga setengah dari semua pasien dewasa mengalami
kekeruhan

kapsul

posterior

setelah

mengalami

ekstraksi

katarak

ekstrakapsular. Namun, tehnik bedah yang semakin berkembang dan materi


lensa intraokular yang baru mampu mengurangi insiden kekeruhan kapsul
posterior secara nyata.
II. 6 Gejala Klinis
-

Penurunan visus, merupakan keluhan yang paling sering dikeluhkan pasien


dengan katarak senilis.

Silau ( Fotofobia ), keluhan ini termasuk seluruh spectrum dari penurunan


sensitivitas kontras terhadap cahaya terang lingkungan atau silau pada siang
hari hingga silau ketika endekat ke lampu pada malam hari.

17

Penglihatan seakan-akan melihat asap/kabut dan lensa mata tampak berwarna


keputihan

Ukuran kacamata sering berubah

Penglihatan ganda

Kesulitan melihat di waktu siang

Perlu penerangan lebih terang untuk membaca

Seperti ada titik gelap didepan mata


Gejala klinis katarak menurut tempat terjadinya sesuai anatomi lensa :

a. Katarak Inti/Nuclear
Menjadi lebih rabun jauh sehingga mudah melihat dekat, dan untuk melihat

dekat melepas kaca mata nya


Penglihatan mulai bertambah kabur atau lebih menguning , lensa akan lebih

coklat
Menyetir malam silau dan sukar

b. Katarak Kortikal
Kekeruhan putih dimulai dari tepi lensa dan berjalan ketengah sehingga
mengganggu penglihatan
Penglihatan jauh dan dekat terganggu
Penglihatan merasa silau dan hilangnya penglihatan kontra
c. Katarak Subscapular
Kekeruhan kecil mulai dibawah kapsul lensa, tepat jalan sinar masuk
Dapat terlihat pada kedua mata
Mengganggu saat membaca
Memberikan keluhan silau dan halo atau warna sekitar sumber cahaya
Mengganggu penglihatan
II.7

Diagnosis banding
Katarak merupakan penyakit pada mata yang dapat menyebabkan penglihatan

menjadi turun tanpa disertai mata merah, oleh karena itu diagnosa banding yang dapat
ditegakkan adalah:
1. Glaukoma
Yang membedakan dengan katarak adalah pada kelainan ini terdapat
peningkatan tekananan bola mata, dan atrofi papil saraf optik.
2. Retinopati

18

Yang membedakan dengan katarak adalah pada kelainan terdapat pada retina
yang tidak disebabkan radang.
II.8

Penatalaksanaan
Penyakit katarak tidak dapat diobati dengan tetes atau obat minum. Sampai

saat ini penanganan yang terbaik adalah melalui tindakan operasi dengan mengambil
lensa

yang

keruh

dan

menggantinya

dengan

lensa

buatan

yang

jernih.

Pelaksanaan operasi disesuaikan dengan kebutuhan penderita, sampai dengan batas


sangat

terganggunya

penglihatan

dalam

melakukan

aktifitas

sehari-hari.

Pada sebagian besar penderita, operasi katarak berhasil dengan baik, dan penderita
akan mendapat perbaikan tajam penglihatan. Penderita katarak setelah dilakukan
tindakan operasi disarankan untuk kemakai kacamata afakia, lensa kontak atau
pemakaian lensa tanam.
Ada dua teknik pembedahan katarak, yaitu :
1. Intra-Capsular Cataract Extraction(ICCE)
Pengambilan lensa dilakukan secara in toto sebagai satu potongan utuh, dimana
nukleus dan korteks diangkat didalam kapsul lensa dengan menyisakan vitreus
dan membrana Hyaloidea. Kapsula posterior juga diangkat sehingga IOL tidak
dapat diletakkan di bilik mata posterior. IOL dapat diletakkan di bilik mata
anterior dengan risiko infeksi kornea. Selain itu tidak ada lagi batasan antara
segmen anterior dan posterior yang dapat meningkatkan kemungkinan
komplikasi lainnya seperti vitreus loss, cystoid macular edema, dan
endophtalmitis. Teknik ini digunakan dalam kasus tertentu antara lain bila
terjadi subluksasio lensa atau dislokasi lensa.

2. Extra-Capsular Cataract Extraction (ECCE)


Nukleus dan korteks diangkat dari kapsul dan menyisakan kapsula posterior
yang utuh, bagian perifer dari kapsula anterior, dan zonula zinii. Pembedahan
katarak

telah

berkembang

dengan

signifikan,

dimulai

dengan

mulai

ditinggalkannya teknik operasi intrakapsular, dan dilanjutkan dengan adanya


lensa intraokular, dan dilanjutkan dengan variasi pengangkatan lensa
ekstrakapsular. Pembedahan katarak extracapsular cataract membutuhkan insisi
19

10 mm pada limbus dan memerlukan penutupan luka dengan penjahitan dengan


pertimbangan teknik "fall back" yang lebih mudah dilakukan tetapi memiliku
keterbatasan. Teknik ini selain menyediakan lokasi untuk menempatkan intra
ocular lens (IOL), juga dapat dilakukan pencegahan prolaps vitreus dan sebagai
pembatas antara segmen anteror dan posterior. Sebagai hasilnya, teknik ECCE
dapat menurunkan kemungkinan timbulnya komplikasi seperti vitreusloss, edem
kornea, ada 3 teknik operasi ECCE, yaitu :

a. Konvensional
b. Small Incision catarct surgery
c. Phacoemulsification

Phacoemulsification
Merupakan teknik modern yang hanya melakukan sayatan sangat kecil (sekitar
3 mm) di sisi kornea. Lensa dihancurkan menjadi kepingan halus dengan
getaran ultrasonic kemudian disedot keluar. Kemudian lensa akan diganti
dengan lensa intra-okuler yang dapat dilipat dan dimasukkan melalui sayatan
kecil tadi. Sayatan ini dapat pulih sendiri tanpa memerlukan jahitan. Hanya
dibutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk proses operasi dengan teknik
Fakoemulsifikasi. Phacoemulsification digunakan oleh sebagian besar ahli
bedah pada negara berkembang dan memungkinkan hasil pembedahan yang
anggun namun dengan biaya yang besar.
Small incision cataract surgery (SICS), memiliki hampir semua keuntungan dari
" Phacoemulsification " tetapi dapat dilakukan dengan biaya yang lebih rendah
dan lebih mudah diaplikasikan dalam banyak program.
Tujuan dari pembedahan katarak modern:

Mobilisasi pasien cepat

Minimal induced astigmatism

Rehabilitasi visus dini

Berikut ini adalah perbandingan antara "Phaco" dan SICS:


1. Phacoemulsification
20

Keuntungan:

Insisi 2.8-3.5 mm tanpa jahitan

Dapat memasang lensa yang dapat ditekuk

Dapat dilakukan dengan cepat (10 minutes)

Kerugian:

Sulit dilakukan dengan nukleus yang kaku

Sulit dilakukan pada katarak hipermatur

Mahal, membutuhkan peralatan dan perawatan yang mahal

Memerlukan bahan habis pakai yang mahal

Banyak negara yang tidak menggunakan lensa yang dapat ditekuk bahkan
dengan phaco; cenderung melakukan pembedahan yang sia-sia karena
melakukan pembedahan 3 mm lalu dilebarkan menjadi 6 mm

2. Small incision cataract surgery


Keuntungan

Insisi kecil 5.5 mm tanpa jahitan

Dapat menggunakan lensa implan yang kaku shingga lebih murah

Dapat dilakukan degan cepat (6 menit)

Peralatan dan bahan habis pakai yang lebih murah

Sukses pada lebih dari 99% kasus

Kerugian

II.9

Insisi yang lebih besar dari phaco

Harus menggunakan lensa yang kaku

Komplikasi
Glaucoma dikatakan sebagai komplikasi katarak. Glaucoma ini dapat timbul

akibat intumesenensi atau pembengkakan lensa.


Komplikasi katarak yang tersering adalah glaukoma yang dapat terjadi karena
proses fakolitik, fakotopik, fakotoksik.

Fakolitik

21

Pada lensa yang keruh terdapat kerusakan maka substansi lensa akan
keluar yang akan menumpuk di sudut kamera okuli anterior terutama
bagian kapsul lensa.

Dengan keluarnya substansi lensa maka pada kamera okuli anterior


akan bertumpuk pula serbukan fagosit atau makrofag yang berfungsi
merabsorbsi substansi lensa tersebut.

Tumpukan akan menutup sudut kamera okuli anterior sehingga timbul


glaukoma.

Fakotopik
-

Berdasarkan posisi lensa

Oleh karena proses intumesensi, iris, terdorong ke depan sudut kamera


okuli anterior menjadi sempit sehingga aliran humor aqueaous tidak
lancar

sedangkan

produksi

berjalan

terus,

akibatnya

tekanan

intraokuler akan meningkat dan timbul glaukoma

Fakotoksik
-

Substansi lensa di kamera okuli anterior merupakan zat toksik bagi


mata sendiri (auto toksik)

Terjadi reaksi antigen-antibodi sehingga timbul uveitis, yang kemudian


akan menjadi glaukoma.

Jika katarak ini muncul dengan komplikasi glaukoma, maka diindikasikan


ekstraksi lensa secara bedah. Selain itu uveitis kronik yang terjadi setelah adanya
operasi katarak telah banyak dilaporkan. Hal ini berhubungan dengan terdapatnya
bakteri pathogen termasuk Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis.
II.10 Prognosis
Prognosis penglihatan untuk pasien anak-anak yang memerlukan pembedahan
tidak sebaik prognosis untuk pasien katarak senilis. Adanya ambliopia dan kadangkadang anomali saraf optikus atau retina membatasi tingkat pencapaian penglihatan
pada kelompok pasien ini. Prognosis untuk perbaikan ketajaman penglihatan setelah
operasi paling buruk pada katarak kongenital unilateral dan paling baik pada katarak
kongenital bilateral inkomplit yang progresif lambat.
Sedangkan pada katarak senilis jika katarak dapat dengan cepat terdeteksi serta
mendapatkan pengobatan dan pembedahan katarak yang tepat maka 95 % penderita
dapat melihat kembali dengan normal.

22

II.11

Pencegahan
Umumnya katarak terjadi bersamaan dengan bertambahnya umur yang tidak

dapat dicegah. Pemeriksaan mata secara teratur sangat perlu untuk mengetahui adanya
katarak. Bila telah berusia 60 tahun sebaiknya mata diperiksa setiap tahun. Pada saat
ini dapat dijaga kecepatan berkembangnya katarak dengan :

Tidak merokok, karena merokok dapat meningkatkan radikal bebas dalam

tubuh, sehingga risiko katarak dapat bertambah.


Pola makan yang sehat, memperbanyak konsumsi buah dan sayur.
Lindungi mata dari sinar matahari, karena sinar UV mengakibatkan katarak

pada mata.
Menjaga kesehatan tubuh dari penyakit seperti kencing manis dan penyakit
lainnya.
BAB III
PEMBAHASAN

1. Apakah diagnosa yang ditegakkan sudah tepat?


Dari anamnesa didapatkan keluhan penglihatan kedua mata kabur yang makin
bertambah, yang dirasakan kurang lebih sejak 1,5-2 tahun yang lalu. Keluhan
penglihatan kabur terjadi secara kronis. Pasien juga mengeluh penglihatan kedua
matanya seperti melihat asap, sering silau jika terkena cahya atau sinar matahari.
Riwayat trauma pada mata disangkal oleh pasien.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan kelainan pada kedua mata, yaitu:

Mata kanan (OD) : visus 1/300 ; cornea jernih , COA sedang, lensa keruh
dengan shadow test (+).

Mata kiri (OS) : visus 1/ ; cornea jernih , COA sedang, lensa keruh dengan
shadow test (-).

Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik yang dilakukan menunjukkan


adanya gangguan visus yang disebabkan oleh kelainan pada lensa, yaitu
kekeruhan pada lensa. Kedua mata mengalami kelainan yang sama. Tampak pada

23

pemeriksaan fisik visus OD lebih baik dari OS. Dan pada mata kanan didapatkan
shadow test (+), sedangkan pada mata kiri didapatkan shadow test (-). Maka
diagnosa yang ditegakkan adalah Katarak Senilis Imatatur OD + Katarak Senilis
Matur OS
2. Apakah penatalaksanaan sudah tepat?
Pasien dengan kelainan katarak tidak dapat diatasi dengan pemberian obat tetes
mata maupun peroral. Sampai saat ini penanganan katarak yang terbaik adalah
melalui tindakan operasi dengan mengambil lensa yang keruh dan menggantinya
dengan lensa buatan (IOL) yang jernih.
Pada pasien ini penatalaksanaan yang diberikan untuk mengatasi penyakit
kataraknya adalah dengan dilakukan operasi. Tindakan operasi yang dilakukan
adalah Small Incision Cataract Surgery (SICS)
Perlu dijelaskan kepada pasien bahwa penyakit yang dialaminya adalah penyakit
kekeruhan lensa yang mengenai kedua matanya akibat proses ketuaan. Oleh
karena itu pasien harus memperhatikan gejala gejala pada penyakit ini, yaitu
penurunan penglihatan, tampak seperti melihat asap, seperti melihat pelangi dan
terkadang sedikit silau.
Pada mata yang telah menjalani operasi disarankan untuk mengikuti intruksi
post operatif katarak selama sekitar satu bulan, yaitu:
1. Mata tidak boleh basah. Jika mandi hanya dari leher kebawah, dan usahakan
berwudhu dengan tayamum.
2. Mata tidak boleh terbentur atau diucek-ucek.
3. Tidak boleh menunduk secara berlebihan. Diperhatikan pada posisi solat
duduk atau tidur.
4. Tidak boleh miring pada mata yang sakit.
5. Tidak boleh mengedan.
6. banyak makan buah dan sayur.
Pada pasien ini setelah operasi juga diberikan terapi medikamentosa :
1. Cendo Xytrol Ed 6 dd I gtt

24

2. Metil Prednisolon tab 8mg 3 x1 /PO


3. Cefadroxy 500mg 2 x 1 /PO
4. Asam Mefenamat 500mg 3 x 1 /PO
5. Ranitidine 150 mg 2 x 1 /PO
3. Bagaimana prognosis yang pada pasien?
Prognosis katarak dapat dikatakan baik jika penyakit cepat dideteksi. Dengan
dilakukan operasi katarak dapat membantu pasien untuk melihat yang sebelumnya
terjadi gangguan penglihatan. Sekitar 95 % pasien dapat melihat kembali setelah
operasi katarak namun tidak dengan visus yang normal. Namun sekiranya pasien
dapat terbantu dengan penanaman lensa buatan yang di tanam untuk
menggantikan lensa yang dihancurkan.

Quo ad vitam
Quo ad fungtionam
Quo ad sanactionam

OD
Ad bonam
Dubia Ad bonam
Dubia Ad bonam

OS
Ad bonam
Dubia Ad bonam
Dubia Ad bonam

25

DAFTAR PUSTAKA
1. Ilyas, Sidharta. Ilmu Penyakit Mata. Edisi ketiga. Balai Penerbitan FKUI. Jakarta.
2013.
2. Vaughan, Daniel; Asbury, Taylor; Riordan-Eva, Paul. Oftalmologi Umum. Edisi
17. EGC. Jakarta. 2009
3. Ilyas,Sidharta. Katarak Lensa Mata Keruh. Glosari Sinopsis. Cerakan Kedua.
Balai Penerbitan FKUI. Jakarta. 2007.
4. Kanski, Jack .J . Alat Bantu Oftalmologi. Edisi pertama. Penerbit HIPOKRATES.
Jakarta. 1992.
5. Cataract . tersedia di

https://nei.nih.gov/health/cataract/cataract_facts diambil

tanggal 04 april 2016 , 20:45


6. Cataract,

tersedia

di

http://www.aoa.org/patients-and-public/eye-and-vision-

problems/glossary-of-eye-and-vision-conditions/cataract?sso=y diambil tanggal 4


april 2016, 21:36

26