Anda di halaman 1dari 17

Mata Kuliah : Kesehatan Ibu Dan Anak

Dosen
: Dr. Sitti Patimah, S. Km., M. Kes.

PROGRAM KESEHATAN
PADA NEONATUS DAN BAYI

OLEH:
KELOMPOK 7
KELAS B2

KELAS B6

1. MAULINA MURSALIM
2. RESKI WULANDARI
3. ANDRIANI MUSTIRAH

(0056)
(0069)
(0315)

1. NURWAHYUNI HARMA
2. NURHIDAYAH
3.

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR 2016

PROGRAM KESEHATAN PADA NEONATUS DAN BAYI

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan
karuniaNyalah sehingga penulisan makalah ini yang berjudul Program Kesehatan
Pada Neonatus dan Bayi dapat terselesaikan dengan baik tepat pada waktunya.
Apapun yang kami sajikan semoga selalu bermanfaat bagi para pembacanya.
Kami juga mengucapkan terima kasih bagi orang-orang yang telah berjasa
membatu dalam pembuatan makalah ini. Karna berkat merekalah dapat terciptanya
makalah ini. maka kami terima kasih kepada:
1.
Dosen pemimbing mata kuliah Kesehatan Ibu dan Anak Ibu Ety Apriyanti, S.
2.

KM yang telah memimbing kami dalam mata kuliah ini.


Orang tua yang telah memberikan fasilitas

kepada

kami

sehingga

mempermudah dalam pembuatan makalah ini.


3.
Teman-teman yang turut membantu dalam penyempurnaan makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan baik isi
maupun teknik penulisan. Untuk itu kritik dan saran sangat diperlukan untuk perbaikan.
Makassar, 10 Maret 2016
Penulis

PROGRAM KESEHATAN PADA NEONATUS DAN BAYI

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.........................................................................................................i
KATA PENGANTAR.......................................................................................................ii
DAFTAR ISI....................................................................................................................iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.................................................................................................1
B. Rumusan Masalah............................................................................................1
C. Tujuan...............................................................................................................2
BAB II TINJAUAN TEORI
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.

Pengertian dan Tujuan dari Pelayanan Kesehatan Neonatus dan Bayi............3


Pemeriksaan Fisik............................................................................................3
Tata Laksana dari Pemeriksaan Awal..............................................................4
Pemeriksaan Lengkap yang Dilakukan dalam Beberapa Jam Kemudian........6
Perawatan Imediat yang Diberikan untuk Neonatus........................................7
Perawatan Lanjutan yang Dapat Dilakukan untuk Bayi Baru Lahir................8
Cara Pengkajian Neonatus Awal....................................................................12

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan.....................................................................................................14
B. Saran...............................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................15

PROGRAM KESEHATAN PADA NEONATUS DAN BAYI

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pelayanan kesehatan untuk bayi baru lahir dan anak balita merupakan salah
satu program kesehatan anak yang bertujuan untuk menjamin kelangsungan hidup,
tumbuh kembang anak secara optimal dan perlindungan khusus dari kekerasan dan
diskriminasi. Hal ini dilakukan dalam rangka mewujudkan anak Indonesia yang
sehat, cerdas ceria, berakhlaq mulia dan terlindungi sebagai modal dasar bagi
pembangunan bangsa.
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, menegaskan
bahwa seorang anak berhak untuk hidup, tumbuh dan berkembang secara optimal,
terhindar dari kekerasan dan diskriminasi. Selain itu, Undang Undang
Perlindungan Anak juga mengamanahkan bahwa pemerintah, masyarakat, keluarga
dan orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan
perlindungan anak; Pemerintah wajib menyediakan fasilitas dan menyelenggarakan
upaya kesehatan yang komprehensif bagi anak agar setiap anak memperoleh
derajat kesehatan yang optimal sejak dalam kandungan.
Anak merupakan harapan masa depan. Oleh karena itu mereka perlu
dipersiapkan agar kelak menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, sehat dan
cerdas.

Program

kesehatan

anak

merupakan

salah

satu

kegiatan

dari

penyelenggaraan perlindungan anak di bidang kesehatan, yang dimulai sejak bayi


berada di dalam kandungan, masa bayi, balita, usia sekolah dan remaja. Program
tersebut bertujuan untuk menjamin kelangsungan hidup bayi baru lahir,
memelihara dan meningkatkan kesehatan anak sesuai tumbuh kembangnya, dalam
rangka meningkatkan kualitas hidup anak yang akan menjadi sumber daya
pembangunan bangsa di masa mendatang.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai
berikut:
1. Apa pengertian dan tujuan dari program kesehatan neonatus dan bayi?
2. Bagaimana pemeriksaan fisik yang dilakukan pada bayi baru lahir ?
3. Bagaimana tata laksana dari pemeriksaan awal yang dilakukan pada bayi baru
lahir?

4. Pemeriksaan lengkap seperti apa yang dilakukan dalam beberapa jam


kemudian setelah bayi baru lahir?
5. Bagaimana perawatan imediat yang diberikan untuk neonatus dan bayi?
6. Apa saja perawatan lanjutan yang dapat dilakukan untuk bayi baru lahir?
7. Bagaimana cara pengkajian neonatus awal ?
C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka dapat diuraikan tujuan
penulisan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Menjelaskan tentang pengertian dan tujuan dari program kesehatan neonatus
dan bayi.
2. Mengetahui pemeriksaan fisik yang dilakukan pada bayi baru lahir.
3. Mengetahui beberapa cara tatalaksana dari pemeriksaan awal yang dilakukan
pada neonatus dan bayi.
4. Mengetahui pemeriksaan lengkap yang dilakukan dalam beberapa jam
kemudian setelah bayi baru lahir.
5. Memaparkan tentang perawatan imediat yang diberikan untuk neonatus dan
bayi.
6. Mengetahui tentang perawatan lanjutan yang dapat dilakukan untuk bayi baru
lahir.
7. Memaparkan cara pengkajian neonates awal.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian dan Tujuan Program Kesehatan Neonatus dan Bayi
Program kesehatan neonatus adalah pelayanan kesehatan sesuai standart
yang di berikan oleh tenaga kesehatan yang kompeten kepada neonatus sedikitnya
3 kali, selama periode 0 sampai 28 hari setelah lahir, baik di fasilitas maupun
melalui kunjungan rumah.
Program kesehatan bayi adalah pelayanan kesehatan sesuai standart yang di
berikan oleh tenaga kesehatan kepada bayi sedikitnya 4 kali, selama periode 29
hari sampai dengan 11 bulan setelah bayi lahir.
Pelaksana pelayanan kesehatan bayi:
1. Kunjungan bayi satu kali pada umur 29 hari 2 bulan
2. Kunjungan bayi satu kali pada umur 3 5 bulan
3. Kunjungan bayi satu kali pada umur 6 8 bulan
4. Kunjungan bayi satu kali pada umur 9 11 bulan
Tujuannya, resiko terbesar kematian neonatus terjadi pada 24 jam pertama
kehidupannya. sehingga jika bayi lahir di fasilitas kesehatan sangat di anjurkan
untuk tetap tinggal di fasilitas kesehatan tersebut selama 24 jam setelah
kelahirannya.
B. Pemeriksaan Fisik
Bidan didorong untuk mengembangkan sistem pengakajian fisik dan
mempraktikan secara konsisten untuk mencegah terjadinya kelalaian, urutan
komponen pengakajian harus bergantung pada perilaku dan kenyamanan bayi.
Lakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh dalam 12 jam pertama setelah bayi
lahir. Pemeriksaan dimulai dengan serangkaian pengukuran seperti:
1. Menimbang berat badan, rata-rata bayi baru lahir beratnya adalah 3. 5 kg
2. Mengukur panjang badan, rata-rata panjang bayi baru lahir adalah 50 cm
3. Mengukur lingkar kepala.
Selanjutnya menilai kulit, kepala dan wajah, jantung dan paru-paru, sistem
saraf, perut dan alat kelamin bayi. Kulit biasanya kemerahan, walaupun jari-jari
tangan dan jari-jari kaki nampak agak kebiruan karena sirkulasi darah yang kurang
baik dalam jam-jam pertama kehidupan bayi baru lahir.
Periksa adanya kelainan pada saraf-saraf dan menguji refleks bayi. Refleks
penting pada bayi baru lahir adalah refleks Moro, refleks mencucur dan refleks
menghisap:

a. Refleks Moro: bila bayi baru lahir dikejutkan, tangan dan kakinya akan
terentang ke depan tubuhnya seperti mencari pegangan, dengan jari-jari
terbuka.
b. Refleks Mencucur: bila salah satu sudut mulut bayi disentuh, bayi akan
memalingkan kepalanya ke sisi tersebut. Refleks ini membantu bayi baru lahir
untuk menemukan putting.
c. Refleks Manghisap: bila suatu benda diletakkan dalam mulut bayi, maka bayi
akan segara menghisapnya.
Pemeriksaan alat kelamin pada anak laki-laki salah satunya untuk
memastikan bahwa kedua buah pelirnya lengkap dalam kantong buah zakar.
Meskipun jarang dan tidak menimbulkan rasa nyeri pada bayi baru lahir, buah pelir
bisa terpelintir (torsio testis), yang perlu diatasi dengan tindakan pembedehan
darurat pada bayi perempuan, bibir vaginanya mononjol.
C. Tatalaksana Pemeriksaan Awal
1. Membersihkan jalan nafas
a. Bersihkan darah/lendir dari wajah bayi dengan kain bersih dan kering/
kassa.
b. Periksa ulang pernafasan.
c. Bayi akan segera menagis dalam waktu 30 detik pertama setelah lahir.
2. Jika tidak dapat menangis spontan dilakukan:
a. Letakkkan bayi pada posisi terlentang di tempat yang keras dan hangat.
b. Gulung sepotong kain dan letakkan di bawah bahu sehingga leher bayi
ekstensi.
c. Bersihkan hidung, rongga mulut, dan tenggorokan bayi dengan jari tangan
yang dibungkus kassa steril.
d. Tepuk telapak kaki by sebanyak 2-3x / gosok kulit bayi dengan kain
kering dan kasar.
3. Perawatan tali pusat
Setelah plasenta lahir dan kondisi ibu stabil, ikat atau jepit tali pusat.
Caranya:
a. Celupkan tangan yang masih menggunakan sarung tangan ke dalam klorin 0,
b.
c.
d.
e.

5% untuk membersihkan darah & sekresi tubuh lainnya.


Bilas tangan dengan air matang /DTT
Keringkan tangan (bersarung tangan)
Letakkan bayi yang terbungkus diatas permukaan yang bersih dan hangat.
Ikat ujung tali pusat sekitar 1 cm dari pusat dengan menggunakan benang
DTT. Lakukan simpul kunci/ jepitkan Jika menggunakan benang tali pusat,
lingkarkan benang sekeliling ujung tali pusat & lakukan pengikatan kedua

dengan simpul kunci dibagian TP pdsisi yang berlawanan, Lepaskan klem


penjepit & letakkan di dalam larutan klorin 0, 5%.
4. Mempertahankan suhu tubuh, Dengan cara:
a. Keringkan bayi secara seksama
b. Selimuti bayi dengan selimut/kain bersih, kering 8 hangat
c. Tutup bagian kepala bayi
d. Anjurkan ibu untuk memeluk 8 menyusukan bayinya
e. Lakukan penimbangan setelah bayi mengenakan pakaian
f. Tempatkan bayi di lingkungan yang hangat
5. Pencegahan infeksi
a. Memberikan obat tetes mata/salep
b. Diberikan 1 jam pertama bayi lahir ryaitu ; eritromysin 0, 5%/tetrasiklin 1%.
Bayi baru lahir (BBL) sangat rentan terjadi infeksi, sehingga perlu
diperhatikan hal-hal dalam perawatannya.
a. Cuci tangan sebelum 8 dan setelah kontak dengan bayi
b. Pakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang blm dimandikan
c. Pastikan semua peralatan (gunting, benang tali pusat) telah di DTT, jika
menggunakan bola karet penghisap, pastikan dalam keadaan bersih
d. Pastikan semua pakaian, handuk, selimut serta kain yang digunakan untuk bayi
dalam keadaan bersih
e. Pastikan timbangan, pipa pengukur, termometer, stetoskop dan benda2 lainnya
akan bersentuhan dengan bayi dalam keadaan bersih (dekontaminasi setelah
digunakan)
f. Lanjutkan dengan Asuhan bayi baru lahir 1-24 jam pertama kelahiran serta
lakukan pemantauan.
D. Pemeriksaan Lengkap Beberapa Jam Kemudian
Semua bayi harus diperiksa lengkap beberapa jam kemudian, setelah
membiarkan bayi beberapa waktu untuk pulih karena kelahiran. Bayi secara
keseluruhan, bayi normal berbaring dengan posisi fleksi (menekuk). la mungkin
meregang atau menguap. Warnanya merah muda. la menangis. Pernapas-annya
teratur. la memberikan respon terkejut yang normal, jika tiba-tiba diberi sentakan
(ia akan melemparkan tangannya ke arah depan luar seperti hendak meraih
seseorang). Ini disebut refleks Moro.
1. Pemeriksaan Kepala
a. Ukurlah lingkar kepala. Ukuran kepala yang tidak normal besarnya
disebut

hidrosefalus.

Ukuran

kepala

yang

terlalukecil

disebut

mikrosefalus. Lingkar kepala rata-rata adalah33 cm.


b. Rabalah fontanela anterior seharusnya tidak menonjol (membengkak).

c. Lihatlah adanya celah bibir (seperti bibir kelinci) atau celah palatum.
2. Pemeriksaan Punggung
Spina bifida merupakan kelainan tulang belakang pada bayi. Tidak
didapatkan tulang dan kadang-kadang tidak ada kulit yang menutupi sumsum
tulang belakang bayi.
3. Anus
Periksalah apakah anus terbuka dan mekonium dapat keluar. Ini untuk
meyakinkan tidak adanya anus imper-forata.
4. Anggota tubuh
Asuhan bayi baru lahir adalah asuhan yang diberikan pada bayi baru
lahir selama satu jam pertama setelah kelahiran. Sebagian besar BBL akan
menunjukkan usaha pernafasan spontan dengan sedikit bantuan/gangguan oleh
karena itu penting diperhatikan dalam memberikan asuhan SEGERA, yaitu
jaga bayi tetap kering & hangat, kotak antara kulit bayi dengan kulit ibu
sesegera mungkin.
E. Perawatan Imediat Pada Bayi Baru Lahir
Dengan memahami tentang perubahan fisiologis yang tejadi pada bayi baru
lahir, rasional terhadap perawatan dapat dimungkinkan. Praktisi harus menghindari
menggagalkan keberhasilan upaya bayi baru lahir itu sendiri untuk beradaptasi
dengan kehidupan ekstrauterin.
Tujuan perawatan adalah mendukung transisi, mencegah komplikasi
potensial, mengidentifikasi abnormalitas, dan melakukan intervensi bila perlu.
Kondisi bayi dikaji dengan segera melalui observasi warna, tonus, dan upaya
pernapasan. Meskipun pengisapan segera setelah kelahiran adalah praktik umum,
pembersihan sekresi sederhana dari wajah bayi sama efektifnya.
Keuntungan potensial dari pengisapan adalah mengurangi aspirasi sekresi
dan mengurangi kesempatan infeksi pada saluran pernapasan. Namun kerugiannya
meliputi aritmia jantung, spasme laring, dan vasospasme arteri pulmonal.
Pernapasan normalnya mulai secara spontan. Bila tidak, penggosokan perlahan
punggung bayi terutama efektif dalam merangsang pernapasan bayi dengan warna
dan tonus baik.
Pengeringan bayi yang segera dan mempertahankan kontak kulit dengan
kulit dengan ibunya membantu termoregulasi. Riset menunjukkan bahwa kontak
kulit dipilih untuk mempertahankan lingkungan termal netral bagi bayi baru lahir

yang normal. Bayi yang ditempatkan dalam kontak kulit dengan kulit dengan
ibunya mempunyai suhu rektal lebing tinggi 45 menit pertama setelah lahir bila
dibandingkan dengan mereka yang mengalami periode awal dibawah alat
penghangat.
Selimut basah harus diganti segera dengan selimut kering, aliran udara
harus dihilangkan dan kepala bayi harus tetap ditutup. Permukaan apapun yang
kontak dengan bayi harus yang hangat. Bidan harus terus melakukan pengkajian
dengan melakukan penilaian APGAR, pemeriksaan fisik, dan penentuan gestasi.
mereka harus mengkaji setiap bayi dengan nilai APGAR, pada menit 1 dan 5
sampai 2 untuk setiap kategori berikut: warna, tonus otot, upaya pernapasan,
frekuensi jantung, dan kepekaan refleks, Nilai APGAR menit 1 digunakan untuk
membutuhkan kebutuhan resusitasi.
F. Perawatan Lanjutan Pada BBL
1. Status Perilaku Bayi
Perawatan lanjutan di Dasar kan pada pemahaman tentang perubahan
neurobehavioral yang terjadi pada bayi baru lahir. Desmond, rudolph dan
phitakshraiwan (1966) adalah yang pertama kali menggambarkan transisi
neorobehavioral neonatus. bayi baru lahir yang normal dan tidak disedasi
mengalami suatu periode reaktifitas segera setelah lahir yang berakhir kira-kira
30 menit. mata bayi terbuka, dan ia sadar. frekuensi jantung dan pernafasan
sedikit meningkat. warna bayi bervariasi. mungkin ada mukus, rales, dan renti.
bayi mudah terkejut dan mungkin mengalani remor transier. setelah fase awal
kreatifitas, bayi memasuki periode tidur dan responsif.
Fase kedua ini mungkin berakhir dari 20 menit sampai 2 jam. frekuensi
jantung menurun, dan murmur sistolik sering terdengar. fase ketiga yang
berakhir dari 2-6 jam setelah kelahiran, dikarakteristikkan oleh kreatifitas. bayi
sadar dan responsif. riset terakhir dan albert(1996) menunjukkan sifat kritis
periode pertama reaktifitas. stimuli multiple berdampak pada bayi sebelum dan
sesudah kelahiran-stimulasi proprioseptif dari gerakan maternal, stimulasi
taktil selama kelahiran, dan stimulasi lingkungan setelah kelahiran (udara
dingin, sumbatan tali pusat).
Dalam responnya bayi manusia mempunyai dorongan katekolamin dan
status peningkatan stimulasi. penulis menegaskan bahwa kesadaran ini
memainkan

peran

dalam

membantu

transisi

pada

kehidupan

ekstrauterindengan mengakibatkan perilaku khusus yang perlu untuk bertahan


hidup atau sintasan (survival). misalnya stimulasi taktil terutama dikaitkan
dengan produksi dan katekolamin, yang pada gilirannya dikaitkan dengan
awaitan pernafasan. status bangun juga memudahkan pembelajaran awal yang
dilaitkan dengan makan. telah ditunjukkan bahwa bayi baru lahir ditempatkan
diantara payudara ibu selama fase pertama reaktifitas akan melokalisasi puting
tanpa bantuan.
2. Memulai Menyusui
Memulai menyusui selama fase pertama reaktifitas mengoptimalkan
kesempatan keberhasilan. Selama tahap kedua tidurtidak responsif, upaya
menyusui air susu ibu (ASI) mungkin akan gagal, yang akan menurunkan
kepercayaan diri ibu. Selanjutnya meyusui dini menurunkan resiko hipoglikemia
neonatus yang dapat terjadi selama nadir fisiologis gula darah 1 sampai 1, 5 jam
setelah lahir. Keterlambatan memulai menyusui dikaitkan dengan peningkatan
suplementasi dan periode pendek menyusui ASI 9hossain et al, 1995)ibu yang
mulai menyusui ASI dalam 2 jam setelah lahir sangat mungkin untuk menyusui
ASI ekslusif selama 11 minggu pertama kehidupan bayi. Ibu yang menyusui dalam
jam pertama setelah kelahiran menyusui ASI dipertimbangkan lebih lama dari ibu
yang menunda memulai menyusui ASI. Percobaan lain secara konsisten
melaporkan menyusui ASI lebih tinggi angkanya pada 13 bulan pada wanita yang
diizikan untuk melakukan kontak ekstra dini dengan bayi mereka.
Bayi yang normal lahir dengan reflek rooting dan menghisap utuh, mereka
mampu mengkoordinasi isapan dan menelan. Kuatnya isapan diikuti dengan
penghentiaan singkat untuk menelan, bayi yang hrus belajar untuk menghisap
cukup lama untuk merangsang aliran susu dan proses ejeksi pada ibu, penolong
kelahiran dapat membantu ibu untuk memposisikan bayi nya dengan cara yang
meningkatakan upaya menyusui ASI. Penting untuk mengajarkan ibu tentang
reflek rooting.
Bila sudut mulut ditekan bayi akan memalingkan kepala kearah tersebut
dan membuka mulutnya lebar. Ketika atap rongga mulut bayi bersentuhan dengan
puting, bayi akan menghisap. Ketika bayi telah mencakup seluruh areola dan
puting, penting untuk tidak menekan pipi karena ini dapat menyebabkan kembali

reflek rooting dan bayi akan kehilangan cakupan mulutnya terhadap puting.
Penting untuk mengajarkan ibu bahwa memerlukan waktu untuk mempelajari
menyusui yang tepat dan berhasil. Selain itu ibu salah meninterpretasikan proses
belajar normal sebagai masalah menyusui ASI.
3. Ikatan Orang Tua Bayi (Bounding Attachement)
Periode pertama reaktivitas juga penting untuk perkembangan hubungan
orang tua anak. Riset menunjukkan bahwa kontak ekstra awal antara ibu dan bayi
secara positif mempengaruhi hubungan tersebut. Klaus dan Kennell adalah yang
petama kali mempopulerkan gagasan tentang periode sensitif segera setelah lahir.
Mereka menemukan bahwa ibu yang mempunyai kontak yang ekstra dengan bayi
mereka setelah lahir menunjukkan perilaku lebih afeksi dan mengekspresikan
perhatian lebih pada bayi mereka pada bulan pertama.
Kontak awal ektra dikaitkan dengan perhatian lebih oleh ibu selama
pengkajian, pengkajian fisik terstandartrisasi pada tahun pertama, dan ibu dengan
dukungan sosial buruk yang mengalami kontak awal dengan bayi mereka
menunjukkan perilaku afeksi meningkat. Kontak bayi dan ibu awal juga dikaitkan
dengan penurunan penganiayaan, pengabaian anak dan kegagalan untuk
bertumbuh. Sebaliknya banyak peneliti mencatat pelaku kurang afeksi, perasaan
tidak mampu dan kurang percaya diri pada ibu yang mereka teliti mengalami
kontak awal terbatas dengan bayi mereka. Karenanya penting untuk memberi
perawatan awal pada bayi tanpa memisahkannya dari ibu, atau yang sering
dikatakan untuk melakukan rawat gabung agar perasaan kasih sayang timbul dan
semakin mempererat jalinan kasih antara ibu dengan bayinya, secara tidak
langsung kita mengurangi angka kejadian depresi post partum blues, atau perasaan
ibu yang tidak percaya bahwa dia sudah memiliki anak. Ketika dilakukan rawat
gabung ibu juga bisa belajar merawat bayinya dan terus menyusui bayinya
sehingga ASI EKSKLUSIF dapat terlaksana dengan baik sampai 6 bulan kedepan.
4. Tanda Vital, Berat Badan Medikasi
Pengkajian terus menerus terhadap transisi fisiologis, pada kehidupan
ekstrauterin penting riset masih kurang mengenai frekuensi normal untuk
mengukur tanda vital, tindakkan pertama dilakukan dalam 30 menit pertama
sementara bayi masih diatas abdomen ibu. Setelahnya tanda vital diukur pada
sedikitnya setiap 30 menit sampai neonatus stabil selama 2 jam, bila setelah stabil,

mereka mengukur nya setiap 4 8 jam. Warna tonus otot dan upaya penafasan bayi
dikaji pada waktu yang sama, praktisi harus mengukur berat badan kelahiran
dengan akurat, memberi medikasi bayi baru lahir dan melakukan pengkajian
seksama terhadap bayi.
Ketepatan waktu penting menyusui dan mendekatkan pada ibu adalah
prioritas pertama pada bayi sehat dan tidak boleh diganggu demi kenyamanan
pemberian perawatan. Berat badan bayi yang akurat penting karena ini membantu
untuk mengidentifikasi masalah kesehatan potensial, memberi perbandingan untuk
pengkajian selanjutnya terhadap bayi, dan membimbing pemberi perawatan dalam
menghitung dosis medikasi yang tepat untuk bayi baru lahir. Penimbangan berat
badan dapat ditunda sampai setelah pemberian ASI pertama pada bayi cukup bulan
normal yang tampak secara nyata bergizi baik.
Bayi yang ada dibawah persentil kesepuluh untuk kelompok cohor mereka
diklasifikasikan kecil untuk usia gestasi. Bayi dengan berat badan kurang dari 2500
gram diklasifikasikan sebagai berat badan rendah, dan bayi dengan berat badan
kurang dari 1500 g dipertimbangkan berat badan sangat rendah. Bayi yang berada
diatas persentil ke 90 diklasifikasikan sebagai besar untuk usia gestasi. Baik LGA
dan SGA merupakan resiko untuk masalah neonatus tertentu dan perlu pemantauan
lebih ketat.
5. Pemberian Vitamin K
Sudah menjadi standar praktik untuk memberi Vitamin K selama 2 jam
pertama kehidupan bayi untuk mencegah penyakit hemoragik bayi baru lahir.
Vitamin K adalah kofaktor dalam koagulasi dan diproduksi oleh bakteri dalam
usus. sampai kolonisasi usus sempurna, bayi berisiko mengalami perdarahan.
karena terdapat vitamin k dalam ASI. dari pada formula, bayi menyusu ASI lebih
mungkin terinfeksi.
6. Pemberian Profilaksis oftalmia neonatal
Pemberian agens untuk mencegah oftalmia neonatorum adalah praktik
standar, meskipun percobaan terkontrol masih kurang untuk mendukung
pengobatanprofilaktik pada observasi klinis dan pengobatan yang di dasarkan pada
simtomatologi. penetesan salep eritromisin 0, 5% sebanyak inci pada setiap mata
1 sampai 2 jam setelah kelahiran, adalah praktik paling umum karena ini efektif
untuk prngobatan baik klamidia dan gonore. Infeksi dapat juga disebabkan oleh

haemophilus influenzae, stophylococcus aureus, esherichia coli, dan pseudomonas


(Nsanze et al., 1996; Gao, 1993).
Penelitian yang mengevaluasi keefektifan profilaksis menggunakan
povidon iodin, nitrat perak 1% salep eritromisin, dan salep tetrasiklin telah gagal
memberi bukti bahwa salah satu metode tertentu lebih baik dari yang lain
(chen, 1992; isenberg, Apt, dan wood, 1995). Temuan menunjukkan bahwa
penelitian lanjut diperlikan mengenai epidemiologi oftalmia noenatus di
berbagai tempat geografis yang berbeda dan keefektifan agens yang berbeda
dalam mencegah infeksi. Profilaksis mata harus ditunda sampai sampai setelah
periode reaktivitas pertama ketika neonatus sadar dan merasakan stimuli visual
di sekitarnya.
7. Pemberian makanan
Bayi normal memiliki refleks mencucur dan refieks menghisap yang
aktif, dan dapat segera mulai makan setelah lahir. Jika bayi tidak disusui oleh
ibunya di ruang persalinan, pemberian makan biasannya dimulai dalam 4 jam
setelah kelahiran.
Meludah dan memuntahkan lendir adalah hal yang biasa terjadi pada
hari pertama. Bayi baru lahir akan berkernih sabanyak 6-8 kali sehari. Mereka
juga buang air besar setiap hari. menangis keras, keadaan kulitnya bagus dan
mempunyai refleks menghisap yang kuat. Semua ciri-ciri ini menandakan
bahwa bayi mendapat cukup ASI atau susu formula(jika ada indikasi untuk
tidak menyusui langsung kepada ibunya). Penambahan berat badan akan
memperkuat hal tersebut.
G. Pengkajian Neonatus Awal
Pengkajian neonatus awal meliputi riwayat, pemeriksaan fisik, dan
pengkajian usia gestasi. Pemeriksaan normalnya ditunda selama fase reaktifitas
pertama karena mempengaruhi menyusu dan kedekatan serta menyebabkan
keletihan dan stres yang tidak perlu. Bayi mungkin secara relatif tidak respon
selama fase reaktifitas kedua. karenanya pengkajian paling baik dilakukan pada
fase ketiga, ketika bayi tenang dan terbangun.
Penting untuk meninjau ulang cacatan medis ibu dan bayi dan
mewawancarai pemberi perawtan untuk mendapatkan riwayat yang kompleks.
kategori meliputi riwayat keluarga ibu dan ayah, riwayat obstetri yang lalu, riwayat

gestasi bayi, dan pengkajian sosial serta komunitas, riwayat persalinan dan
kelahiran dan riwayat neonatus.
1. Riwayat keluarga
Riwayat keluarga harus didapat pada prenatal dan ditinjau ulang pada saat
pengkajian bayi baru lahir.
2. Riwayat obstetri terdahulu
Riwayat obstetri ibu masa lalu mengenai usia, jenis kelamin dan jumlah
saudara kandung harus ditinjau ulang. kumpulan keluarga mempunyai dampak
pada penyesuaian keluarga. riwayat anomali kongenital, ikterik, atau mordibitas
/mortalitas perinatal lain harus dicatat karena beberapa kondisi meningkatkan
resiko bayi ini untuk juga mengalami komplikasi tersebut.
3. Riwayat gestasi bayi terkini
Golongan darah ibu, Rh, dan pemeriksaan antibodi harus diidentifikasi
untuk mengaji risiko penyakit hemolitik pada bayi, riwayat ibu tentang penyakit
dalam atau infeksi yang mungkin telah mengganggu janin harus diidentifikasi.
4. Pengkajian lingkungan sosial
Lingkungan sosial dan kemampuan menjadi orangtua sangat mempengaruhi
kesehatan bayi baru lahir. Penting untuk memiliki pemahaman tentang konteks
keluarga ketika bayi bergabung pada keluarga tersbut. usia, bahasa, dan tingkat
pendidikan ibu dapat mempengaruhi kemampuannya untuk berkomunikasi secara
efektif dengan pemberi perawatannya.
Identifikasi tentang orang yang ia pertimbangkan sebagai keluarga dan
pendukungnya penting ketika mempertimbangkan pengaruh budaya dan praktik
melahirkan. Jumlah orang yang tinggal dirumah, ukuran dan sifat hunian, dan
hubungan orang terhadap ibu harus ditinjau ulang, serta ketersediaan makanan,
fasilitas memasak, serta ketersediaan makanan, lemari pendingin, pemanas, air,
listrik, fasilitas kamar mandi, dan transportasi. Pengkajian rumah dan komunitas
harus juga mengidentifikasi bahaya atau potensi bahaya seperti kekerasan emosi,
fisik, atau seksual. Adanya penyakit mental atau penyalahgunaan zat dapat
mempengaruhi adaptasi menjadi orang tua. Idealnya, kunjungan rumah dilakukan
untuk setiap keluarga selama periode pascapartum.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pelayanan kesehatan neonatus adalah pelayanan kesehatan sesuai standart
yang di berikan oleh tenaga kesehatan yang kompeten kepada neonatus sedikitnya
3 kali, selama periode 0 sampai 28 hari setelah lahir, baik di fasilitas maupun
melalui kunjungan rumah. Tujuannya, resiko terbesar kematian neonatus terjadi
pada 24 jam pertama kehidupannya. Sehingga jika bayi lahir di fasilitas kesehatan
sangat di anjurkan untuk tetap tinggal di fasilitas kesehatan tersebut selama 24 jam
setelah kelahirannya. Adapun beberapa pelayanan kesehatan yang dapat dilakukan
pada masa neonatus yaitu pemeriksaan fisik bayi, pemeriksaan lengkap yang dapat
dilakukan beberapa jam kemudian, perawatan imediat untuk bayi baru lahir,
perawatan lanjutan untuk bayi baru lahir, dan pengkajian neonatus awal.
B. Saran
Dengan adanya penulisan makalah ini penulis berharap agar pembaca dapat
lebih mengetahui dan memahami tentang apa saja pelayanan kesehatan yang dapat
dilakukan pada neonatus dan bayi.

DAFTAR PUSTAKA
Wahidayat, Iskandar. 2007. Buku Kuliah 1 Ilmu Kesehatan Anak - Bagian Ilmu
Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Muslihatun, Nur Wafi. 2010. Asuhan Neonatus Bayi dan Balita. Yogyakarta.
www.gizikia.depkes.go.id
Hidayat Alimul, A.Aziz. 2008. Asuhan Neonatus Bayi dan Belita - Buku Praktikum
Kebidanan - EGC. Jakarta.
https://novafebriantiyusuf.wordpress.com/2013/07/18/pelayanan-kesehatanpada-bayi-dan-balita/