Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Delusi (waham) merupakan salah satu respon mal adaftif pada rentang respon
neurobiolgi. Saat individu berada pada rentang respon adaftif, maka individu tersebut dapat
berfikir secara logis. Namun jika individu berada pada rentang respon maladaftif, maka terjadi
distrosi pikiran dan gangguan pikir. Delusi adalah salah satu keyakinan yang salah yang di
pertahankan secara kuat/terus-menerus namun tidak sesuai dengan kenyataan. Pasien dengan
gangguan piker/delusi mengalami masalah dalam fungsi kognitif, khususnya isi piker (thought
content).
Individu mengalmi ketidak mampuan dalam memproses data di otak secara akurat
sehingga mengakibatkan timbulnya waham curiga, kebesaran, agama, nihilistic, dan somatic.
Kondisi delusi dapat menyebabkan individu mengalami gangguan dalam menjalankan aktivitas
kehidupan sehari-hari bahkan jika orang lain memberikan argumentasi dan tidak menerima
waham pasien, maka pasien mungkin akan tidak senang dan akhirnya marah. Keadaan seperti ini
memungkinkan seluruh perilakunya akan dikendalikan oleh isi pikirnya yang tidak tepat. Pasien
benar-benar kehilangan kemampuan melakukan penilaian realitas terhadap lingkungan.

1.2. Tujuan
1. Untuk Mengetahui Konsep Gangguan Isi Pikir : Waham
2. Untuk Mengetahui Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Isi Pikir : Waha

1.3 Sistematika Penulisan


1

Adapun untuk sistematika penulisan makalah ini terdiri dari 3 bab yang saling berkaitan,yaitu:
BAB I, PENDAHULUAN
Pada bab ini menerangkan tentang latar belakang penulisan makalah ini, maksud dan
tujuan, metode penulisan dan sistematika penulisan.
BAB II, PEMBAHASAN
Dalam bab ini dijelaskan mengenai apa yang menjadi judul makalah ini.
BAB III, PENUTUP
Bab ini merupakan bab akhir yang menerangkan kesimpulan dari makalah ini dan disertai
dengan saran-saran yang berguna.
1.4 Metode Penulisan
Metode yang digunakan adalah :
a. Studi Dokumentasi
Yaitu suatu metode yang dilakukan dengan mempelajari naskah-naskah dan dokumendokumen lainnya baik berbentuk buku sumber ataupun dari internet.
b. Studi Kepustakaan
Yaitu metode penelitian yang dilakukan dengan mempelajari teori-teori dalam buku atau
literature lainnya yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.

BAB II

PEMABAHASAN

2.1 KONSEP GANGGUAN ISI PIKIR : WAHAM


1. Pengertian Waham
Gangguan isi pikiran meliputi (isi pikiran non verbal atau isi pikiran yang diceritakan)
Suatu kepercayaan yang terpaku dan tidak dapat dikoreksi atas dasar fakta dan kenyataan. Tetapi
harus dipertahankan, bersifat patologis dan tidak terkait dengan kebudayaan setempat. Adanya
waham menunjukan suatu gangguan jiwa yang berat, isi waham dapat menerangkan pemahaman
terhadap factor factor dinamis penyebab gangguan jiwa. Terbentuknya kepercayaan yang
bersifat waham adalah sebagai pelindungan diri terhadap rasa takut dan untuk pemuasan
kebutuhan. Waham ada yang simetris dan tidak simetris, di klasifikasi menurut isinya dan isi
waham biasanya mempunyai kecenderungan untuk menguasai atau menonjol.
Berdasarkan pengertian di atas maka waham adalah suatu gangguan perubahan isi pikir yang
dilandasi adanya keyakinan akan ide-ide yang salah yang tidak sesuai dengan kenyataan,
keyakinan atau ide-ide klien itu tidak dapat segera diubah atau dibantah dengan logika atau halhal yang bersifat nyata.

2. Rentang Respon

Rentang respon gangguan adaptif dan maladaptif dapat dijelaskan sebagai berikut :
Rentang respon neurobiologist
Respon adaptif

Pikiran
logis
persepsi akurat
Emosi konsisten
dengan
pengalaman
Prilaku
sesuai
dengan hubungan
social

respon maladaptive

Kadang-kadang
isi
pikir
terganggu ilusi
Reaksi
emosional berlebihan
atau
kurang
Prilaku
ganjil
atau
tidak
lazim

Gangguan
isi
pikir
waham
halusinasi
Ketidakmampuan
untuk mengalami
emosI
Ketidakmampuan
isolasi social

3. Proses Informasi
Masuk informasi

informasi di otak

respon prilaku

Perhatian pada
Gerakan
informasi yang
morotik
Biokimia
Proses piker
masuk
Emosi
Respon social
Diskriminasi
informasi
Sensori eksternal
Pengorganisasi
Penglihatan
an
Informasi
Pendengaran
menjadi respon
Perabaan
Rentang
respon
neurobiologis
di
atas dapat dijelaskan bila individu merespon secara
Pengecapan
penghidung
adaptif maka
individu akan berpikir secara logis. Apabila individu berada pada keadaan diantara
Sensori internal

adaptif dan maladaptif kadang-kadang pikiran menyimpang atau perubahan isi pikir terganggu.
Bila individu tidak mampu berpikir secara logis dan pikiran individu mulai menyimpang maka ia
akan berespon secara maladaptif dan ia akan mengalami gangguan isi pikir : waham
4. Faktor Predisposisi
4

Faktor predisposisi dari perubahan isi pikir : waham kebesaran dapat dibagi menjadi 2
teori yang diuraikan sebagai berikut :
a. Teori Biologis
Faktor-faktor genetik yang pasti mungkin terlibat dalam perkembangan suatu
kelainan ini adalah mereka yang memiliki anggota keluarga dengan kelainan yang sama
(orang tua, saudara kandung, sanak saudara lain).
Secara relatif ada penelitian baru yang menyatakan bahwa kelainan skizofrenia
mungkin pada kenyataannya merupakan suatu kecacatan sejak lahir terjadi pada bagian
hipokampus otak. Pengamatan memperlihatkan suatu kekacauan dari sel-sel pramidal di
dalam otak dari orang-orang yang menderita skizofrenia.
Teori biokimia menyatakan adanya peningkatan dari dopamin neurotransmiter yang
dipertukarkan menghasilkan gejala-gejala peningkatan aktivitas yang berlebihan dari
pemecahan asosiasi-asosiasi yang umumnya diobservasi pada psikosis.
b. Teori Psikososial
Teori sistem keluarga Bawen dalam Lowsend (1998 : 147) menggambarkan
perkembangan skizofrenia sebagai suatu perkembangan disfungsi keluarga. Konflik diantara
suami istri mempengaruhi anak. Penanaman hal ini dalam anak akan menghasilkan keluarga
yang selalu berfokus pada ansielas dan suatu kondsi yang lebih stabil mengakibatkan
timbulnya suatu hubungan yang saling mempengaruhi yang berkembang antara orang tua dan
anak-anak. Anak harus meninggalkan ketergantungan diri kepada orang tua dan anak dan
masuk ke dalam masa dewasa, dan dimana dimasa ini anak tidak akan mamapu memenuhi
tugas perkembangan dewasanya.
Teori interpersonal menyatakan bahwa orang yang mengalami psikosis akan
menghasilkan hubungan orang tua anak yang penuh akan kecemasan. Anak menerima pesanpesan yang membingungkan dan penuh konflik dan orang tua tidak mampu membentuk rasa
percaya terhadap orang lain.

Teori psikodinamik menegaskan bahwa psikosis adalah hasil dari suatu ego yang
lemah. Perkembangan yang dihambat dan suatu hubungan saling mempengaruhi antara orang
tua, anak. Karena ego menjadi lebih lemah penggunaan mekanisme pertahanan ego pada
waktu kecemasan yang ekstrim menjadi suatu yang maladaptif dan perilakunya sering kali
merupakan penampilan dan segmen diri dalam kepribadian.
5. Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi dari perubahan isi pikir : waham, yaitu :
1. Biologis
Stressor biologis yang berhubungan dengan neurobiologis yang maladaptif termasuk
gangguan dalam putaran umpan balik otak yang mengatur perubahan isi informasi dan
abnormalitas

pada

mekanisme

pintu

masuk

dalam

otak

yang

mengakibatkan

ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi rangsangan.


2. Stres lingkungan
Secara biologis menetapkan ambang toleransi terhadap stres yang berinterasksi
dengan sterssor lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan prilaku.
3. Pemicu gejala
Pemicu yang biasanya terdapat pada respon neurobiologis yang maladaptif
berhubungan dengan kesehatan lingkungan, sikap dan prilaku individu, seperti : gizi buruk,
kurang tidur, infeksi, keletihan, rasa bermusuhan atau lingkungan yang penuh kritik, masalah
perumahan, kelainan terhadap penampilan, stres gangguan dalam berhubungan interpersonal,
kesepain, tekanan, pekerjaan, kemiskinan, keputusasaan dan sebagainya.
6. Proses Terjadinya Waham
1. Fase lack of human need
Waham yang diawali dengan terbatasnya kebutuhan-kebutuhan klien baik secara fisik
maupun psikis. Secara fisik klien dengan waham dapat terjadi pada orang-orang dengan
status social dan ekonomi yang sangat terbatas. Biasanya klien sangat miskin dan menderita.
6

Keinginan dia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mendorongnya untuk melakukan


kompensasi yang salah. Ada juga klien yang secara social dan ekonomi terpenuhi tetapi
kesenjanganantara reality dengan self ideal sangat tinggi. Missal ia seorang sarjana tetapi
menginginkan dipandang sebagai seseorang yang dianggap sangat cerdas, sangat
berpengalaman dan diperhitungkan dalam kelompoknya. Waham terjadi karena sangat
pentingnya pengakuan bahwa ia sangat eksis di dunia ini. Dapat dipengaruhi oleh rendahnya
penghargaan saat tumbuh kembang (life span story).
2. Fase lack self esteem
Tidak adanya pengakuan dari lingkungan dan tingginya kesenjangan antara self ideal
dan self reality (kenyataan dengan harapan) serta dorongan kebutuhan yang tidak terpenuhi
sedangkan stansar lingkungan sudah melampaui kemampuannya. Misaal, saat lingkungan
sudah banyak yang kaya, menggunakan tekhnologi komunikasi yang canggih, berpendidikan
yang tinggi serta memiliki kekuasaan yang luas, seseorang tetap memasang self ideal yang
melebihi lingkungan tersebut, padahal self realitynya sangat jauh. Dari aspek pendidikan
klien, materi, pengalaman, pengaruh support system semuanya sangat rendah.
3. Fase control internal
Klien mencoba berfikir rasional bahwa apa yang ia yakini atau apa-apa yang ia
rasakan adalah kebohongan, menutupi kekurangan dan tidak sesuai denga kenyataan. Tetapi
menghadapi kenyataan bagi klien adalah sesuatu yang sangat berat, karena kebutuhannya
untuk diakui, kebutuhan untuk dianggap penting dan diterima dilingkungan menjadi prioritas
dalam hidupnya. Karena kebutuhannya tersebut belum terpenuhi sejak kecil secara optimal.
Lingkungan sekitar klien mencoba memberikan koreksi bahwa sesuatu yang dikatakan klien
itu tidak benar, tetapi hal ini tidak dilakukan secara adekuat karena besarnya toleransi dan
keinginan menjaga perasaan. Lingkungan hanya menjadi pendengar pasif tetapi tidak mau
konfrontatif berkepanjangan dengan alas an pengakuan klien tidak merugikan orang lain.
4. Fase environment support
Adanya beberapa orang yang mempercayai klien dalam lingkungannya menyebabkan
klien merasa di dukung, lama kelamaan klien menganggap sesuatu yang dikatakan tersebut
7

sebagai suatu kebenaran karena seringnya diulang-ulang. Dari sinilah mulai terjadinya
kerusakan control diri dan tidak berfungsinya norma (super ego) yang ditandai dengan tidak
adanya lagi perasaan dosa atau berbohong.
5. Fase conforting
Klien merasa nyaman dengan keyakinan dan kebohongannya serta menganggap
semua orang sama yaitu akan mempercayai dan mendukungnya. Keyakinan sering disertai
halusinasi pada saat klien menyendiri dari lingkungannya. Selanjutnya klien lebih sering
menyendiri dan menghindari interaksi social (isolasi sosial).
6. Fase improving
Apabila tidak adanya konfrotasi dan upaya-upaya koreksi, setiap waktu keyakinan
yang salah pada klien akan meningkat. Tema waham yang muncul sering berkaitan denga
traumatic masalalu atau kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi (rantai yang hilang).
Waham bersifat menetap dan sulit untuk dikoreksi. Isi waham dapat menimbulkan ancaman
diri dan orang lain. Penting sekali untuk mengguncang keyakinan klien dengan cara
konfrontatif serta memperkaya keyakinan religiusnya bahwa yang dilakukan itu dosa besar
serta ada konsekuensi social.

7. Jenis-Jenis Waham
Waham terbagi atas beberapa jenis, yaitu :
1. Waham Kejar
Individu merasa dirinya dikejar-kejar oleh orang lain atau sekelompok orang yang
bermaksud berbuat jahat kepada dirinya, sering ditemukan pada klien dengan stres anektif tipe
depresi dan gangguan organik.

2. Waham Kebesaran
Suatu kepercayaan palsu dimana seseorang memperluas atau memperbesar kepentingan
dirinya, baik mengenai kualitas tindakan atau kejadian / orang yang disekeliling, dalam bentuk
tidak realistic. Waham ini timbul akibat perasaan yang tidak wajar, tidak aman, dan rasa rendah
diri secara sadar dihalangi oleh komponen ideal dan efektif dari waham itu sendiri. Isi dari
waham kebesaran menunjukan kekecewaan , kegagalan, dan perasaan tidak aman.
3. Waham Somatik (waham hipokondria)
Kecenderungan yang menyimpang dan bersifat dungu ( bizarre) mengenai fungsi dan
keadaan tubuhnya, misalnya penderita merasa tubuhnya membusuk atau mengeluarkan bau
busuk.
4. Waham Agama
Waham dengan tema agama, dalam hal ini klien selalu meningkatkan tingkah lakunya
yang telah ia perbuat dengan keagamaan.
5. Waham Curiga
Individu merasa dirinya selalu disindir oleh orang-orang sekitarnya sehingga ia merasa
curiga terhadap sekitarnya.
6. Waham Nihilistik
Suatu kenyataan bahwa dirinya atau orang lain sudah meninggal atau dunia ini sudah
hancur.
7. Waham hubungan
kenyakinan bahwa ada hubungan langsung antara interpretasi yang salah dari
pembicaraan, gerakan atau digunjingkan .
8. Waham pengaruh
Keyakinan yang palsu bahwa dia adalah merupakan subjek pengaruh dari orang lain atau
tenaga gaib yang tak terlibat.
9

8. Pohon Masalah
Kerusakan komunikasi verbal
Perubahan proses: Waham
Gangguan konsep diri: harga diri rendah

9. Tanda Dan Gejala


Tanda dan gejala dari perubahan isi pikir waham yaitu : klien menyatakan dirinya sebagai
seorang besar mempunyai kekuatan, pendidikan atau kekayaan luar biasa, klien menyatakan
perasaan dikejar-kejar oleh orang lain atau sekelompok orang, klien menyatakan perasaan
mengenai penyakit yang ada dalam tubuhnya, menarik diri dan isolasi, sulit menjalin hubungan
interpersonal dengan orang lain, rasa curiga yang berlebihan, kecemasan yang meningkat, sulit
tidur, tampak apatis, suara memelan, ekspresi wajah datar, kadang tertawa atau menangis sendiri,
rasa tidak percaya kepada orang lain, gelisah.
10. Sumber Koping
Ada beberapa sumber koping individu yang harus dikaji yang dapat berpengaruh
terhadap gangguan otak dan prilaku kekuatan dalam sumber koping dapat meliputi seperti :
modal intelegensi atau kreativitas yang tinggi. Orang tua harus secara aktif mendidik anakanaknya, dewasa muda tentang keterampilan koping karena mereka biasanya tidak hanya belajar
dan pengamatan. Sumber keluarga dapat berupa pengetahuan tentang penyakit, finansial yang
cukup, ketersediaan waktu dan tenaga dan kemampuan untuk memberikan dukungan secara
berkesinambungan.

2.2 DIAGNOSIS GANGGUAN JIWA : ISI PIKIR (WAHAM)


1. Gangguan Waham Menetap
Kelompok ini meliputi serangkaian gangguan dengan waham2 yang berlangsung lama,
sebagai satu-satunya gejala klinis yang khas atau yang paling mencolok dantidak dapat

10

digolongkan sebagaigangguan mental organic, skizofrenik, atau gangguan afektif, pentingnya


factor genetic cirri-ciri kepribadian dan situasi kehidupan dalam pembentukan gangguan
kelompok ini tidak pasti dan mungkin bervariasi.
Pedoman diagnostic
Waham-waham merupakan satu-satunya cirri khas klinis atau gejala yang paling mencolok.
Waham-waham tersebut (baik tunggal maupyn sebagai suatu system waham) harus sudah ada
sedikitnya 3 bulan lamanya, dan harus bersifat khas pribadi (personal) dan bukan budaya
setempat
Gejala-gejal depresif atau bahkan suatu episode depresifyang lengkap / full brown
mungkin terjadi secara intermiten, dengan sayrat bahwa waham-waham tersebut menetap
pada saat-saat tidak terdapat gangguan afektif itu
Tidak boleh ada bukti-bukti tentang adanya penyakit otak
Tidak boleh ada halusinasi audiotorik atau hanya kadang-kadang saja dan bersifat
sementara
Tidak ada riwayat gejala-gejala skizofrenia (waham dikendalikan, siar pikiran,
penumpulan afek,dsb)

2. Gangguan Waham Induksi


Diagnosis waham dengan gangguan induksi harus dibuata hanya jika :
a) Dua orang atau lebih mengalami waham atau system waham yang sama, dan saling
mendukung dalam keyakinan waham itu
b) Mereka mempunyai hubungan dekat yang tak lazim dalam bentuk seperti yang
diuraikan diatas
c) Ada bukti dalam kaitan waktu atau konteks lainnya bahwa waham tersebut diinduksi
pada anggota yang pasif dari suatu pasangan atau kelompok melalui kontak dengan
anggota yang aktif (hanya satu orang anggota aktif yang menderita gangguan psikotik
yang sesungguhnya, waham diinduksi pada anggota pasif, dan biasanya waham
tersebut menghilangbila mereka dipisahkan)
11

d) Jika ada alasan untuk percaya bahwa dua orang yang tinggal bersama mempunyai
gangguan psikotik yang terpisah maka tidak satupun diantaranya boleh dimasukan
dalm kode diagnosis ini, walaupun beberapa diantara waham2 itu diyakini bersama.

2.2 ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN ISI PIKIR :


WAHAM
1. Pengkajian
1. Pengumpulan Data
Hal-hal yang perlu dikaji pada klien dengan gangguan isi pikir : waham kebesaran yaitu :
1. Data Subjektif
Klien merasa dirinya sebagai orang besar, mempunyai kekuatan, kepandaian yang
luar biasa, misalnya dapat membaca atau membawa pikiran orang lain, dialah ratu adil.
2. Data Objektif
Klien kadang-kadang tampak panik, tidak mampu untuk berkonsentrasi, waham atau
ide-ide yang salah, ekspresi muka kadang sedih kadang gembira, tidak mampu membedakan
khayalan dengan kenyataan, sering tidak memperlihatkan kebersihan diri, gelisah, tidak bisa
diam (melangkah bolak-balik), mendominasi pembicaraan, mudah tersinggung, menolak
makan dan minum obat, menjalankan kegiatan agama secara berlebihan atau tidak sama
sekali melakukannya, merusak diri-sendiri dan orang lain serta lingkungannya, jarang
mengikuti atau tidak mau mengikuti kegiatan-kegiatan sosial, sering terbangun pada dini
hari, penampilan kurang bersih.
3. Daftar Masalah
Masalah yang lazim muncul pada klien dengan perubahan isi pikir : waham
kebesaran, yaitu :

12

1) Kerusakan komunikasi verbal.


2) Perubahan isi pikir : waham kebesaran
3) Kerusakan interaksi sosial : menarik diri
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa yang sering muncul, yaitu :
1. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan perubahan isi pikir : waham
2. Perubahan isi pikir : waham berhubungan dengan kerusakan interaksi sosial : menarik
diri.
3. Kerusakan interaksi sosial : menaruh diri berhubungan dengan gangguan konsep diri :
harga diri rendah.
3. Perencanaan dan Intervensi
Tindakan keperawatan yang lazim dilakukan pada klien dengan perubahan isi pikir: waham
kebesaran yaitu :
1. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan perubahan isi pikir : waham
kebesaran :
Tujuan umum : klien mampu berkomunikasi verbal dengan baik sehingga klien dapat

melakukan hubungan dengan orang lain.


Tujuan khusus :
- Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat.
- Dapat mengidentifikasi pikiran yang realita, mengarahkan pikiran yang realita.
Intervensi dan Rasional
1) Bina hubungan saling percaya dengan klien, ciptakan lingkungan yang hangat dan
bersahabat.
Rasional : dengan rasa saling percaya, klien dapat mengungkapkan perasaannya
sehingga akan mempermudah melakukan tindakan keperawatan.
2) Diskusikan dengan klien penyebab perubahan isi pikirnya.
Rasional : dengan mengetahui penyebab, maka akan mempermudah dalam
melakukan tindakan keperawatan.
3) Diskusikan, anjurkan serta arahkan klien berpikir secara realita.
Rasional : klien dapat melakukan hal-hal yang realita sesuai dengan kenyataan.
4) Libatkan keluarga dalam perawatan klien terutama terhadap perubahan isi pikir
klien.
Rasional : keluarga merupakan support sistem yang baik untuk mendukung
penyembuhan klien.

2. Perubahan isi pikir : waham kebesaran berhubungan dengan menarik diri


Tujuan umum : klien tidak mengalami perubahan isi pikir : waham kebesaran
Tujuan khusus :
13

Klien dapat menyebutkan penyebab dirinya menarik diri dengan kriteria evaluasi,

klien dapat mengetahui penyebabnya.


Klien dapat menyebutkan keuntungan dan kerugian berhubungan dengan orang

lain.
Intervensi dan rasional
1) Kaji pengetahuan klien dengan prilaku menarik diri sehingga dapat mengenali
tanda-tanda menarik diri.
Rasional : klien dapat menyadari tanda-tanda menarik diri sehingga memudahkan
perawat memberikan intervensi selanjutnya.
2) Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya terutama penyebab
prilaku menarik diri.
Rasional : klien dapat mengungkapkan penyebab prilaku menarik diri dapat
membantu perawat dalam mengidentifikasi tindakan yang dilakukan.
3) Berikan pujian terhadap kemampuan berhubungan dengan orang lain dan
kerugian bila tidak mau berhubungan dengan orang lain.
Rasional : pujian akan dapat memotivasi klien untuk mau berhubungan dengan

orang lain.
3. Kerusakan interaksi sosial : menarik diri berhubungan dengan konsep diri, harga diri
rendah.
Tujuan umum : klien mau berinteraksi sosial dan tidak menarik diri.
Tujuan khusus : dapat meningkatkan kemampuan yang dimiliki dan digunakan

dengan kriteria evaluasi, dapat mengungkapkan kemampuan yang dimiliki.


Intervensi dan rasional
1) Diskusikan dan anjurkan klien untuk melakukan kegiatan sesuai kemampuan
yang masih dapat dipergunakan selama sakit.
Rasional : memberi kesempatan pada klien untuk melakukan kegiatan sesuai

kemampuan hingga klien merasa harga dirinya meningkat.


2) Anjurkan klien meminta obat pada petugas dan dapat merasakan manfaat.
Rasional : memastikan klien minum obat.
4. Gangguan konsep diri harga diri rendah berhubungan dengan ideal diri tidak realistis dan
gambaran diri yang terlalu tinggi.
Tujuan umum : klien tidak merasa harga diri rendah
Tujuan khusus :
- Mengenal masalah, mengidentifikasi sikap menyebut masalah mengetahui

pemecahannya.
- Mampu mengenal harapan-harapan nyata dan tidak nyata.
Intervensi dan rasional

14

1) Bimbing keluarga untuk menghargai kemampuan hal-hal yang dimiliki klien


walaupun tidak sebanding dengan kemampuan anggota keluarga lain.
Rasional : dengan menghargai kemampuan klien akan meningkatkan harga diri
2)
3)
4)
5)
6)

rendah.
Identifikasi bersama kilen tentang prilakunya yang maladaptif.
Rasional : klien dapat mengenal, mengungkapkan serta menerimanya
Identifasi bersama klien cara untuk memecahkan masalah.
Rasional : dapat meningkatkan kemampuan klien.
Beri tanggapan dan dengarkan harapan yang diinginkan.
Rasional : membuat klien menjadi terbuka.
Dorong individu untuk mengungkapkan harapan yang dimilikinya.
Rasional : memudahkan perawat dalam melakukan harapan yang dimiliki.
Tunjukkan pada klien harapan yang nyata.
Rasional : menunjukkan pada harapan yang bersifat nyata sehingga dapat

menerima kenyataan.
7) Alihkan pada harapan yang tidak sesuai keaktivitas sesuai hoby.
Rasional : dapat membimbing untuk melakukan tindakan sesuai kemampuannya.
4. Evaluasi
Hasil yang diharapkan setelah melakukan intervensi pada klien dengan perubahan isi
pikir : waham kebesaran yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Klien dapat membina hubungan saling percaya.


Klien dapat mengendalikan isi pikir : waham kebesaran.
Klien dapat mengekspresikan perasaannya.
Klien dapat mengembangkan persepsi diri yang positif.
Klien dapat berhubungan dengan lingkungan.
Klien dapat terlibat dalam perawatannya

BAB III

15

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Waham adalah suatu gangguan perubahan isi pikir yang dilandasi adanya keyakinan
akan ide-ide yang salah yang tidak sesuai dengan kenyataan, keyakinan atau ide-ide klien itu
tidak dapat segera diubah atau dibantah dengan logika atau hal-hal yang bersifat nyata.
Individu mengalmi ketidakmampuan dalam memproses data di otak secara akurat sehingga
mengakibatkan timbulnya waham curiga, kebesaran, agama, nihilistic, dan somatic. Kondisi
delusi dapat menyebabkan individu mengalami gangguan dalam menjalankan aktivitas
kehidupan sehari-hari bahkan jika orang lain memberikan argumentasi dan tidak menerima
waham pasien, maka pasien mungkin akan tidak senang dan akhirnya marah.
Keadaan seperti ini memungkinkan seluruh perilakunya akan dikendalikan oleh isi
pikirnya yang tidak tepat. Pasien benar-benar kehilangan kemampuan melakukan penilaian
realitas terhadap lingkungan.Terbentuknya kepercayaan yang bersifat waham adalah sebagai
pelindungan diri terhadap rasa takut dan untuk pemuasan kebutuhan. Waham ada yang
simetris dan tidak simetris, di klasifikasi menurut isinya dan isi waham biasanya mempunyai
kecenderungan untuk menguasai atau menonjol.

DAFTAR PUSTAKA
16

Aziz R, dkk, Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa Semarang : RSJD Dr. Amino Gonohutomo,
2003
Keliat, BA, 2003, Proses keperawatan Kesehatan Jiwa, EGC, Jakarta.
Maramis W.F, 2000, Ilmu Kedokteran Jiwa, Airlangga University, Press Surabaya
Maslim Rusdi, 2003, Buku Saku Diagnosa Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III,
Jakarta.
Tim Direktorat Keswa, Standar Asuhan Keperawatan Jiwa, Edisi 1, Bandung, RSJP Bandung,
2000

17