Anda di halaman 1dari 19

TUGAS FISIOLOGI

KEDOKTERAN OLAHRAGA

KELOMPOK C GERIATRI
2008

UNIVERSITAS MALAHAYATI
JLN. PRAMUKA NO.27 KEMLING- BANDAR
LAMPUNG

KELOMPOK C GERITARI 2008


1. ALDION F W
2. ANARIA NAFTALI
3. ANDI PRASETYA
4. ANDRI DARMAWAN
5. ANGGI DIANTI
6. ANGGUN NURSARI
7. ANGGUN PERMATASARI
8. WINDA ASTARIA
9. WIRZA RAHMI
10. WITA TRIANTI
11. YAYU SILVIA
12. YOGI OKTIANDI
13. YOKENTARI
14. YOSEP KRISDIANTO
15. YOYO KUSMIANTO

JUDUL TUGAS

1.
Olahraga bagi penderita diabetes
2.
Tips olahraga yang tidak
membahayakan jantung
3.
Kondisi fisik

Olahraga bagi Penderita Diabetes


20-11-2009 | Bekti-medicastore.com
Diambil dari berbagai sumber

Diabetes merupakan penyakit yang memiliki komplikasi (menyebabkan


terjadinya penyakit lain) yang paling banyak. Hal ini berkaitan dengan
kadar gula darah yang tinggi secara terus menerus dapat menimbulkan
kerusakan pada pembuluh darah, saraf dan organ tubuh lainnya.
Penderita diabetes bisa mengalami berbagai komplikasi jangka panjang
jika diabetesnya tidak dikelola dengan baik. Komplikasi yang lebih sering
terjadi dan mematikan adalah serangan jantung dan stroke. Selain itu
komplikasi lain yang mungkin terjadi adalah kerusakan pada pembuluh
darah di retina mata (retinopati diabetikum) yang bisa menyebabkan
gangguan penglihatan, kelainan pada fungsi ginjal yang bisa
menyebabkan gagal ginjal sehingga penderita harus menjalani cuci
darah (hemodialisa) dan kerusakan pada saraf yang menyebabkan kulit
lebih sering mengalami cedera. Selain itu luka/infeksi pada penderita
diabetes biasanya berjalan lambat penyembuhannya karena kadar gula
yang tinggi dalam darah menyebabkan bakteri dapat tumbuh dengan
subur, akibatnya pada beberapa kasus terkadang amputasi mejadi salah
satu pilihan untuk menghentikan penyebaran infeksi.

Olahraga secara teratur sangat penting bagi penderita diabetes karena


dapat mengontrol kadar gula darah serta menurunkan berat badan dan
tekanan darah. Penderita diabetes yang berolahraga secara rutin juga
lebih jarang untuk mengalami serangan jantung ataupun stroke
dibandingkan yang kurang berolahraga.
Penyebab kenapa olahraga dapat membantu mengontrol kadar gula

darah adalah karena pada saat olahraga, sel-sel di otot bekerja lebih
keras sehingga lebih membutuhkan gula dan oksigen untuk dibakar
menjadi tenaga dibandingkan saat beristirahat. Olahraga juga
membantu kerja dari insulin karena gula dalam darah dialirkan ke dalam
sel otot untuk dirubah menjadi energi sehingga otomatis kadar gula
didalam darah akan menurun sehinga akan meringankan kerja dari
insulin.
Berikut adalah beberapa manfaat lain dari
olahraga secara rutin terhadap penderita
diabetes :
Mengontrol gula darah, terutama pada
diabetes tipe 2, sedangkan bagi diabetes
tipe 1 masih merupakan problematik.
Menghambat dan memperbaiki faktor resiko penyakit
kardiovaskular yang banyak terjadi pada penderita diabetes,
seperti Penyakit Jantung Koroner (PJK), stroke dan penyakit
pembuluh darah perifer.
Membantu program penurunan berat badan pada penderita
diabetes yang juga mengalami obesitas, terlebih lagi apabila
dilakukan bersama dengan pengaturan pola makan.
Memberikan keuntungan psikologis, olah raga yang teratur dapat
memperbaiki tingkat kesegaran jasmani karena memperbaiki
sistem kardiovaskular, respirasi, pengontrolan gula darah sehingga
penderita merasa fit, mengurangi rasa cemas terhadap
penyakitnya, timbul rasa senang dan lebih meningkatkan rasa
percaya diri serta meningkatkan kualitas hidupnya.
Mengurangi kebutuhan pemakaian obat oral dan insulin.
Mencegah terjadinya diabetes yang dini terutama bagi orang
orang dengan riwayat keluarga penderita diabetes ataupun bagi
yang masuk dalam golongan pre diabetes.
Olah raga yang dianjurkan untuk penderita diabetes adalah olahraga

aerobic low impact dan rithmis seperti senam, jogging, berenang dan
naik sepeda, sedangkan latihan resistensi statis tidak dianjurkan (seperti
angkat beban dll). Porsi latihan juga harus diperhatikan, latihan yang
berlebihan akan merugikan kesehatan, sedangkan latihan yang terlalu
sedikit tidak begitu bermanfaat. Penentuan porsi latihan tersebut harus
memperhatikan intensitas latihan, lama latihan dan frekuensi latihan.
Secara praktis intensitas latihan yang dilakukan oleh klub klub bagi
penderita diabetes dinilai dengan :
Target nadi / area latihan.
Kadar gula darah sebelum dan sesudah latihan.
Tekanan darah sebelum dan sesudah latihan.

Di Indonesia sendiri ada senam kesehatan yang terutama ditujukan


untuk penderita diabetes, senam tersebut adalah senam diabetes.
Senam diabetes dibuat oleh para spesialis yang berkaitan dengan
diabetes, diantaranya adalah rehabilitasi medis, penyakit dalam,
olahraga kesehatan, serta ahli gizi dan sanggar senam.
Gerakan senam diabetes merupakan gerakan yang energik, tapi tidak
mengentak seperti pada senam kesegaran jasmani (SKJ) namun juga
tidak low impact seperti pada senam lansia. Yang terutama gerakan
senam diabetes sendiri mampu untuk membakar kalori tubuh sehingga
juga dapat menurunkan kadar gula darah. Variasi gerakan dalam senam
diabetes sendiri cukup banyak sehingga senam diabetes tersebut bisa
menggerakkan semua bagian tubuh, mulai dari kepala hingga ujung
kaki. Gerakan yang bervariasi pada senam tersebut juga berfungsi
sebagai media latihan mengingat pada otak, karena dengan
membiasakan otak bekerja akan dapat membantu meningkatkan daya
ingat dan mencegah terjadinya pikun.
Karena manfaatnya yang banyak, senam diabetes sebenarnya tidak
hanya diperuntukkan bagi kalangan diabetisi saja. Tapi, senam diabetes
tersebut juga bisa dilakukan oleh orang yang bukan penderita diabetes,
dengan tujuan untuk mencegah supaya tidak terkena penyakit diabetes.

Berikut adalah gerakan senam diabetes :


Pemanasan 1
Berdiri di tempat. Angkat kedua tangan ke
atas selurus bahu. Kedua tangan bertautan.
Lakukan bergantian dengan posisi kedua
tangan di depan tubuh.
Pemanasan 2
Berdiri di tempat. Angkat kedua tangan ke
depan tubuh hingga lurus bahu. Kemudian,
gerakkan kedua jari tangan seperti hendak meremas. Lalu, buka
lebar. Lakukan secara bergantian, namun tangan diangkat ke
kanan-kiri tubuh hingga lurus bahu.
Inti 1
Posisi berdiri tegap. Kaki kanan maju selangkah ke depan. Kaki
kiri tetap di tempat. Tangan kanan diangkat ke kanan tubuh selurus
bahu. Sedangkan tangan kiri ditekuk hingga telapak tangan
mendekati dada. Lakukan secara bergantian.
Inti 2
Posisi berdiri tegap. Kaki kanan diangkat hingga paha dan betis
bentuk sudut 90 derajat. Kaki kiri tetap di tempat. Tangan kanan
diangkat ke kanan tubuh selurus bahu. Sedangkan tangan kiri
ditekuk hingga telapak tangan mendekati dada. Lakukan secara
bergantian.
Pendinginan 1
Kaki kanan agak menekuk, kaki kiri lurus. Tangan kiri lurus ke
depan selurus bahu. Tangan kanan ditekuk ke dalam. Lakukan
secara bergantian.
Pendinginan 2
Posisi kaki bentuk huruf V terbalik. Kedua tangan direntangkan ke

atas dengan membentuk huruf V.


Senam ini sebaiknya rutin dilakukan setiap hari atau setidaknya 2-3 kali
seminggu sehingga akan mendapatkan manfaat yang maksimal. Di
rumah sakit ataupun klub penderita diabetes, biasanya mereka rutin
mengadakan acara senam tersebut setiap pagi selama dua kali
seminggu.

Sabtu, 05/02/2011 16:23 WIB

Tips Berolahraga yang Tidak Membahayakan


Jantung
Merry Wahyuningsih - detikHealth
<p>Your browser does not support iframes.</p>

Jakarta, Beberapa kasus orang meninggal usai melakukan olahraga berat seperti
sepakbola, tenis, badminton membuat sebagian orang takut untuk melakukan
olahraga tersebut. Permasalahan bukan pada cabang olahraganya, melainkan
karena terlalu memaksa berolahraga pada kondisi tubuh yang tidak siap.
Kasus publik figur yang meninggal usai melakukan olahraga, seperti Basuki yang
meninggal setelah terjatuh saat bermain futsal, Benyamin S meninggal setelah
koma beberapa hari usai main sepakbola, serta yang terbaru Adjie Massaid yang

meninggal usia bermain futsal, membuat tanda tanya tersendiri apakah olahraga
futsal atau sepakbola dapat menyebabkan kematian?
"Yang harus diingat bukan karena cabang olahraganya, tapi memang olahraga
prestasi atau fun dapat mengandung bahaya yang fatal untuk kesehatan bila
dilakukan saat tubuh tidak siap secara fisik dan mental," jelas dr Michael Triangto,
SpKO, Spesialis Kedokteran Olahraga di RS Mitra Kemayoran saat dihubungi
detikHealth, Sabtu (5/2/2011).

Menurut dr Michael, semua jenis olahraga mengandung risiko untuk kesehatan,


yang paling sering misalnya cedera, putus tendon atau robekan di daerah otot,
bahkan yang fatal dapat menyebabkan stroke atau serangan jantung. Namun karena
kebanyakan tidak menyebabkan kematian, hal tersebut tidak terlalu dihebohkan.
"Tapi bukan berarti saya melarang orang untuk berolahraga atau menakut-nakuti.
Olahraga tetap dibutuhkan tubuh, asalkan orang itu siap secara fisik dan mental,
serta tidak memaksakan olahraga melebihi 100 persen tubuhnya," lanjut dr
Michael yang juga menjabat sebagai Kepala Sub Bidang Kedokteran Olahraga,
Litbang PB PBSI.
dr Michael mengatakan, kebanyakan orang yang mengalami cedera atau masalah
kesehatan saat melakukan olahraga adalah karena tubuhnya tidak siap secara fisik
dan mental. Apalagi bila sebelumnya orang tersebut sudah memiliki masalah
kesehatan, seperti hipertensi atau kolesterol tinggi, tapi tidak pernah diperiksakan
melalui check up.
Selain itu, orang awam yang tidak terlatih biasanya sering memaksakan diri
melakukan olahraga kompetitif atau olahraga berat melampaui 100 persen
kemampuan tubuhnya.
"Memaksakan diri berolahraga berat dengan melebihi 100 persen kemampuan
tubuh dapat membahayakan organ-organ di tubuh, termasuk jantung. Untuk itu,
perlu juga diperhatikan olahraga apa dan seberapa kemampuan tubuh kita," jelas dr

Michael.
Menurut dr Michael, berapapun usia seseorang bila ia memiliki kesiapan secara
fisik dan mental, maka tidak bermasalah saat melakukan olahraga berat sekalipun.
Tapi bila Anda memaksakan diri melakukan olahraga berat saat tubuh tidak siap,
secara fisik mungkin bisa menerimanya, tetapi tidak dengan jantung Anda.

Agar tidak terjadi masalah kesehatan saat melakukan olahraga, dr Michael


memberikan beberapa tips sehat dan aman, yaitu:
1. Cek denyut nadi sebelum berolahraga
Sebelum olahraga sebaiknya cek tekanan darah (tensi). Tapi bagi orang awam bisa
dengan mengecek denyut nadi di pergelangan tangan atau di leher. Denyut nadi
yang normal adalah 60-90 denyut per menit.
Bila denyut nadi di atas atau di bawah jumlah tersebut, sebaiknya jangan
memaksakan diri untuk berolahraga, apalagi olahraga berat. Denyut nadi di bawah
atau di atas normal menandakan bahwa tubuh Anda dalam kondisi yang tidak
prima.
2. Tidak pusing saat bergerak dari jongkok ke berdiri
Bila Anda merasa pusing saat ganti posisi tubuh saat jongkok ke berdiri, artinya
jantung tidak mampu memompa darah secara maksimal. Dalam kondisi ini juga
jangan paksakan diri untuk berolahraga berat.
3. Jangan paksakan diri saat pertama kali olahraga
"Perhatikan kemampuan tubuh, jangan lakukan olahraga melebihi 100 persen
kemampuan tubuh. Jantung harus dilatih secara teratur dan berkesinambungan,
setidaknya seminggu 3 kali. Bila Anda sudah lama tidak berolahraga, maka jangan
memaksakan diri untuk olahraga kompetitif seperti sepakbola yang harus kejarkejaran skor. Lakukan secara bertahap sambil dilihat keluhannya," jelas dr
Michael.

PENINGKATAN KONDISI FISIK

PENDAHULUAN
Kemampuanerobik adalah kemampuan individu menyediakan oksigen untuk
metabolisme tenaga. Kemampuan ini sangat penting artinya dalam penyediaan
tenaga untuk kerja otot, sehingga segala upaya untuk memperbaiki kemampuan
tersebut secara keseluruhan, atau komponen-komponen yang
akanmeningkatkan kemampuan tersebut perlu mendapat perhatian khusus.
Dari sekian banyak unsur kemampuan fisik (Physical fitness)maka kemampuan
erobik termasuk salah satu unsur yang dapat dan mudahdilatih. Banyak cara
untuk meningkatkan kemampuan erobik tersebut, tetapi cara yang tepat untuk
dilaksanakanmasih tergantung banyak faktor sesuai dengan
keadaan yang berlaku pada suatu saat dan kebutuhan akan peningkatan itu sendiri.
Faktor faktor pembatas.
Umur
: Kemampuan erobik pada anak-anak relatif besar, dengan
bertambahnya usia akan meningkat dan mencapai maksimum pada usia
dewasa muda (16 20 tahun) untuk kemdian menurun kembali sejalan
dengan kenaikan umur. Sebagai contoh maka pada usia 70 tahun
seseorang akan mengalami dystro pia o to t sekitar 40%, sel hati 50%, sel-sel
ginjal 50%.Hal-hal inimenyebabkan menurunnya kemampuan kerja secara
drastis atau dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa pada saat tersebut
didapati kematian fungsionil dari sebagian organ pada organisme yang
masih hidup. Atau dapat puladikatakan sebagaiInvolutio et atropia ex
inactivitate. Oleh karena itu orang-orang tua lebih suka istirahat, untuk

menjauhkan diri dari rangsang social dan fisik. Peningkatanko


ndisifisik,khususnya kemampuan erobik akan
memperlambat/mengurangi terjadinya proses senilitas tersebut (3, 4).
Dalam olahraga pemanfaatan kemampuan erobiktertinggi sangat
pentingartinya , terutama bagi cabang olahraga yang memerlukan unsur
ketahanan (endurance).Khusus pada cabang olahraga yang memerlukan
ketahanan submaksimal maka usia setengah umur, merupakan saat yang
tepat, hal ini terbukti pada banyaknya juara-juara yang dihasilkan pada usia
tersebut. Berikut ini adalah data-data yang kami susun berdasar :
(1).Klasifikasitentang jenis kegiatan jasmani secara biomekanis olehDAL
MONTE(1975).
(2).Kumpulan data olehASTRANDdanSALTIN(1967).
(3).Olympic Medical Archieves Tokyo 1964.
Jenis olah raga
Usia rata - rata
Latihan teratur
Lari jarak jauh dan
26 th/ 22,8 th
7,5 th/ 5,5th
menengah
Balap sepeda
21,6
5,3
Berenang
20,3/18,9
7,1/5,7
Dari data tersebut terlihat jelas bahwa pemanfaatan umur yang tepat
dengan jenis latihan yang tepat baru akan menghasilkan juara-juara.
Pada wanita maka usia terbaik agaknya berada pada tingkat yang lebih
rendah dibandingkan pria. Begitu pula lama latihan yang diperlukan cenderung
lebih singkat dibandingkan pria. Beberapa teori tentang sebab-sebab terjadinya
antara lain :
(i)Tingkatmaturitas pada wanita dicapai lebih dini karena proses-proses
hormonal
(ii)Karakteristik bawaan
(iii) Komposisi tubuh (otot & lemak) yang berbeda antara pria dan wanita
dan sebagainya.
Kebenaran dan ketelitian dari teori-teori tersebut masih harus ditelaah
kembali.
Suatu penelitian Longitudinal yang dilakukan oleh Y.ATOMI &
M.MIYASHITAmenunjukkanadanya hubungan antaraumur dengan kemampuan
erobik.
Gol.umur
Gol. umur
Vo2 max 1
Vo2 max 2
35-50th
49-60th
42,3 4,6
52,83,3
25,62,1
24,3 7,9
43,1 4,6
54,63,2
22,63,5
24,7 4,5

(n=8)
tahun)

(n= 5)

(setelah latihan selama 2

Jangka panjang, n = 17 (setelah lebih 4 tahun latihan) 42,6 3,2|52,0 1,3 |


29,6 2,9I 26,9 2,1
Catatan :Vo2max 1 adalah perubahan pada group 35 50 tahun.
Vo2max 2 adalah perubahan pada group 9 60 tahun.
Penelitian ini membuktikan bahwa sekalipun latihan yang diberikan ringan
pada orang-orang setengah umur, tetap dapat diharapkan kenaikan kemampuan
erobik, walaupun semakin
lama kenaikan tersebut semakin kecil.
Keadaan alat-alat tubuh.Kemampuan erobik seseorang sangat tergantung
pada fungsi organ-organ tubuh, kelainan walaupun kecil akan memberikan
pengaruh terhadap semua sistim pengadaan dan transport oksigen.
Kelainan tersebut dapat bersifat organik maupun fungsionil .
Jenis kelamin.Seperti telah kami uraikan diatas bahwa jenis kelamin
merupakan salah satu faktor pembatas dari kemungkinan dapat dilatihnya
kemampuan erobik seseorang. Pada akhir-akhir ini telah ada usaha untuk
mengatasi hal ini yaitu dengan pemberian beberapa jenis obatobatan/hormon yang sedikit banyak mengurangi keterbatasan tersebut.
(Contoh atlit Jerman Timur pada Olympic Games baru-baru ini).
Beberapa aspek penting dalam peningkatan kemampuan erobik.

Pemanasan (Warming-up).Pemanasan bertujuan menyiapkan sebagian


besar sistim yang akan terlibat dalam kegiatan kerja otot tertentu. Dikenal
dua jenis pemanasan :
(a)Pemanasan formil.Misalnya lempar bola pada basketball.
(b)Pemanasan informil/general.Dapat (i) aktip, gerakan-gerakannya tidak
langsung menunjang atau identik dengan olahraga yang dilakukan
(ii)menggunakan sarana/cara lain seperti massage , mandi air dingin/panas.
Sampai dengan tahun 1936 orang sangat percaya akan manfaat pemanasan
tersebut sehingga hampir tidak ada persoalan yang timbul. Tetapi kemudian
banyak penyelidik menemukan
hal-hal yang berlainan tentang manfaat pemanasan tersebut. Sebagian
mengatakan berguna, sebagian lain menegaskan tak berguna,malahan ada yang
mengatakan merugikan. Untuk
menentukan secara pasti efek pemanasan terhadap prestasi tersebut atau
terhadap kemampuan erobik masih perlu kiranya dilakukan pengamatan secara
lebih intensif.

Suasana.Yang dimaksud dengan suasana disini adalah physical& mental


environtment termasuk makanan, kebutuhan psychis dan lain-lain.

Alat/methodeukur.Alat/methode ukur selalu diperlukan untuk rnenilai


hasil dari suatu latihan erobik. Dalam hubungan ini bermacam-macam
alat/methode ukur telah dikembangkan baik yang sophisticated maupunyang praktis dan dapat diterapkan
dengan mudah.
Dalam hubungan dengan waktu latihan dan tes/pengukuran ini suatu hal
baru yang saat ini sangat menarik perhatian adalah masalahCircadia rhythmsyang
melalui banyak penemuan
menunjukkan bahwa ada hubungan erat antara siklus circadia tersebut dengan :

Perubahan kurve denyut nadi harian

Perubahan denyut jantung sebagai akibat dari test pembebanan yang


submaksimum, yang menunjukkan bahwa, kurve maksimal dicapai pada
sore hari dan kurve minimal
pada pagi-pagi sekali.
Kelemahan
Skills dan lain-lain.
Sekalipun pengetahuan tentang hal tersebut masih sangat langka tetapi
hendaknya uraian ini merupakan pacuan bagi yang berminat untuk mencari lebih
banyak lagi.
Keseimbangan antara latihan dan rekreasi. Sifat spesifikdari berbagai jenis
latihan, suatu jenis latihan akan memberikan efek tertentu yang khas
dan tidak atau kurang didapati pada latihan yang lain. Untuk
kemampuan erobik maka efek lain tersebut dapat dianggap sebagai
efek sampingan (positif atau negatif). Sehubungan dengan hal
tersebut saat ini, dapat dikemukakan dua pendapat :
1 . Spesialisasi sedini mungkin.Latihan keahlian
dilaksanakansedari usia sangat muda, sehingga sebagai hasilnya
akan didapati tingkat ketrampilan tinggi yang diatur puncaknya
pada masa terbaik sesuai dengan sifat dan perkembangan
biologik.
2.
Latihan umum yang disusul dengan spesialisasi. Latihan jenis
ini lebih banyak dan panjang serta memberikan bentuk-bentuk
gerakan umum baru pada masa yang dapat dianggap tepat
memberikan spesialisasi. Tentu saja kedua jenis latihan
mempunyai kebaikan dan kekuranganyangmasing-masing
dapat dipertanggung jawabkan. Pada saat ini untuk menutupi

kekurangan tersebut telah dilakukan bermacam-macam


modifikasi.
Beban Latihan.Dalam kaitan dengan beban latihan. Beberapa faktor
perlu mendapat perhatian khusus yaitu :
1 . Sebanyak mungkin otot turut serta dalam latihan.
2 . Takaran absolut dari beban latihan.
3 . Masa pembebanan.
4.
Periodisitas pembebanan/latihan.
Jumlah beban absolut yang akan diberikan dalam suatu program latihan
hendaknya diketahui dan diukur berdasar kemampuan fisik atau kemampuan
erobik yang ada pada saat dimulainya latihan. Jumlah beban tersebut dibagi dalam
satuan waktu dan periodisitas tetapi harus tetap melampaui ambang
pembebanan. Pada dasamya agar dicapai hasil latihan yang baik,maka beban dan
jenis latihan harus diatur secara individuil,kecuali apabila saran untuk itu tidak
memungkinkan. Akibat dari kenaikan kemampuan fisik/kemampuan erobik pada
saat dari suatu program latihan, maka diperlukan penambahan beban yang terus menerus sampai suatu saat tertentu. Setelah dicapai
target kemampuan fisik/kemampuan erobik yang diinginkan dapat dilakukan
suatu program pemeliharaan.Khusus untuk pembinaan kemampuan erobik maka
pembinaan alat-alat kardiorespirasi sangat mutlak diperlukan.
Beberapa cara latihan.Untuk membina kemampuan erobik maka
latihan/pembebanan dapat dilaksanakan secara :
1. Terus menerus (Continous exercise).
2. Berselang (Intermittent exercise).
3. Kombinasi kedua cara tersebut.
Latihan terus menerus.
Latihan jenis ini memberikan efek utama :
1 . Kenaikan daya konsumsi oksigen.
2.
Merubah otot-otot dari low caloric user menjadi high caloric user.
3 . Menambah persediaan glikogen otot.
4.
Mo bilisasi dan utilisasi Free Fatty Acids.
5.
Menurut beberapa penyelidik maka beban latihan yang dibutuhkan
cukup 60 sampai 100% dari kemampuan maksimum.
Dr KCOOPERmengemukakan suatu prinsip dasar latihan erobik (8).
Latihan ini merupakan transformasi praktis dari hasil laboratorium dalam
peningkatan kemampuan erobik. Dasar-dasar pembagian kemampuan tersebut
adalah :
Fitness Category
Oxygen Consumption

() 28.0 mukg BW/min


1. Very poor
2. Poor
28,3-34
3. Pair
34,1-42
4. Good
42,1-52
5. Excellent
(+) 52,1
Konsumsi O2tersebut ditransformasikan kedalam bentuk beban latihan
sebenarnya misalnya berjalan, berlari, bersepeda, dan sebagainya, baik untuk
keperluan penilaian maupun pembebanan.Motivasidiberikandengan cara
pemberian penghargaan.
System latihan dari Arthur Lydiar
Pada periode permulaan dari pembinaan atlit, diberikan pembebanan
dengan beban ringan dahulu berangsur dinaikkan tetapi tetap dibawah maksimal.
Pemberian beban sedemikian tanpamerangsangtimbulnya kemampuan anerobik.
Lebih baik memberikan beban yang ringan daripada terlalu berat sehingga dapat
mengatur tingkat kelelahan tepat sampai di
Finish.
Misalnya : Senin 10 mildari tenaga di daerah naik turun.
Selasa15 mil1 dari tenaga di dataran.
Rabu 12mil dari tenaga di pegunungan.
Kamis10 mil dari tenaga di dataran.
Sabtu 20-25 mil dari tenaga di dataran.
Minggu 15 mildari tenaga di dataran.
Bila ini sudah dapat dilakukan maka baru atlit diberikan latihan
khusus.
Latihan berselang.
Latihan interval.Latihan diselang-seling antara pembebanan dan
istirahat Pada dasarnya adalah beban absolut yang dibagimenurut
porsi-porsi tertentu diselingi dengan pemberian istirahat untuk
rnengurangi timbulnya akumulasi asam laktat. Dikenal dua macam
interval yaitu : (i) Pembebanan yang diikuti dengan istirahat penuh.
(ii) Pembebanan yang diikuti dengan beban lebih ringan, beban ringan
yang digunakan biasanya berkisar antara 30 60% dari kemampuan
pada suatu saat.
Untuk memudahkan maka dipakai patokan-patokan subjektif (misalnya
sampai tidak kuat lagi diikutidengan istirahat sampai perasaan baik kembali)
tetapi dapat pula dipakai patokan- patokan yang lebih objektif dengan

menghitung denyut nadi. Dikatakan maksimal bila nadi 170 180 per menit
dan recover pada nadi 120 per menit.
Dengan latihan interval akan didapatkan kenaikan yang hampir tidak
berbeda dengan latihan kontinu , akan tetapi unsur bertambah baiknya daya
pemulihan tidak atau sukar didapat pada latihan kontinu. Repetisi dapat dilakukan
berdasar beban absolut yang direncanakan akan diberikan pada
orang yang dilatih.
Kombinasi latihan interval dan latihan kontinu. Latihan kombinasi ini
untuk kemampuan erobik merupakan latihan yang paling banyak
dilakukan saat ini. Kekurangan dari cara yang satu dapat ditutupi
dengan cara yang lainnya.
Kesimpulan

Kemampuan erobik merupakan faktor yang sangat penting


dalam pembinaan kemampuan fisik yang mempunyai derajat dapat
dilatih cukup tinggi dan panjang.

Peningkatan kemampuan fisik dengan sendirinya memerlukan


peningkatan kemampuan erobik.
Dalam melaksanakan latihan untuk meningkatkan kemampuan
tersebut maka faktor umur, jenis kelamin, rythme biologi perlu
mendapat perhatian.

Rangsangdalam bentuk beban latihan yang adekwat


sangatdiperlukandalam peningkatan kemampuan erobik tersebut.

Masalah pemanasan perlu penyelidikan lebih lanjut.

Latihankontinumaupun interval sebenarnya sama-sama


rnenghasilkan peningkatan kemampuan erobik, hanya
aplikasinyadalam kegiatan sehari-hari perlu disesuaikan dengan
kebutuhan.
Kepustakaan
1.P D ASTRAND,K RODAKL :Textbook of work physiology.
2.Y ATOMI, M MIYASHITA : Effect of moderate recreational activities on the
aerobic work capacity of middle age woman.The jour of Sport med & Physical
fitness16 : Dec, 1976.
3.Encyclopedia of Sport Sciences & Medicine.The American college of sport
medicine.
4.SUTARMAN :Latihan fisik dan umur.

5.Olympic Medical Archives.Tokyo 1964.


6.R T W L CONRAY & J N MILLS :Human Circadian Rhythms. London, 1970.
7.DIET MARHITT & ARTHUR LYDIARD :System study course in Athletics for top
Asian Coaches,1974.
8.K H COOPER :Aerobic. Cermin Dunia Kedokteran No. 12, 1978

Referensi
1.P D ASTRAND,K RODAKL :Textbook of work physiology.
2.Y ATOMI, M MIYASHITA : Effect of moderate recreational activities on
the aerobic work capacity of middle age woman.The jour of Sport med &
Physical fitness16 : Dec, 1976.
3.Encyclopedia of Sport Sciences & Medicine.The American college of sport
medicine.
4.SUTARMAN :Latihan fisik dan umur.
5.Olympic Medical Archives.Tokyo 1964.
6.R T W L CONRAY & J N MILLS :Human Circadian Rhythms. London,
1970.
7.DIET MARHITT & ARTHUR LYDIARD :System study course in Athletics
for top Asian Coaches,1974.
8.K H COOPER :Aerobic. Cermin Dunia Kedokteran No. 12, 1978
Detikhealth.com