Anda di halaman 1dari 13

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS
PRESENTASI KASUS
TEHNIK TIVA (TOTAL INTRAVENA ANESTESI) PADA PASIEN DENGAN KISTA
GANGLION
Disusun untuk Memenuhi Sebagian Syarat dalam Mengikuti Kepaniteraan Klinik
Bagian Anestesi Dan Reanimasi
RSUD Jogjakarta

Diajukan kepada:
dr. Aryono Hendrasto, M. Si, Med, Sp. An
Disusun oleh:
Raditya Priambodo
20100310058

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
BAGIAN ANESTESI DAN REANIMASI RSUD JOGJA
2016

BAB I
A. Kista Ganglion

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS

Pendahuluan
Kista ganglion merupakan nodul yang paling sering ditemukan di tangan.

Lokasi khas di aspek dorsal pergelangan tangan, aspek volar radial pergelangan
tangan, aspek dorsal tangan, dan aspek palmar jari-jari di dekat sendi
Metakarpophalangeal. Jika kistanya kecil, aspirasi dapat dilakukan dengan jarum
ukuran 22-gauge dan penyuntikan steroid. Namun, diperlukan aspirasi beberapa kali
untuk penyembuhan. Jika kista nyeri atau besar atau penyebabnya diragukan, harus
diperkirakan rujukan kebagian ortopedi untuk diangat secara bedah.
Kista Ganglion atau biasa disebut Ganglion merupakan kista yang terbentuk
dari kapsul suatu sendi atau sarung suatu tendo. Kista ini berisi cairan kental jernih
yang mirip dengan jelly yang kaya protein. Kista merupakan tumor jaringan lunak
yang paling sering didapatkan pada tangan. Ganglion biasanya melekat pada sarung
tendon pada tangan atau pergelangan tangan atau melekat pada suatu sendi, namun
ada pula yang tidak memiliki hubungan dengan struktur apapun. Kista ini juga dapat
ditemukan di kaki. Ukuran kista bervariasi, dapat bertambah besar atau mengecil
seiring berjalannya waktu dan bahkan menghilang. Selain itu kadang dapat
mengalami inflamasi jika teriritasi. Konsistensi dapat lunak hingga keras seperti batu
akibat tekanan tinggi cairan yang mengisi kista sehingga kadang didiagnosis sebagai
i.

tonjolan tulang. Ganglion timbul pada tempat-tempat berikut ini:


Pergelangan tangan punggung tangan ("dorsal wrist ganglion"), pada telapak
tangan ("volar wrist ganglion"), atau kadang pada daerah ibu jari. Kista ini
berasal dari salah satu sendi pergelangan tangan, dan kadang diperberat oleh
cedera pada pergelangan tangan.
Telapak tangan pada dasar jari-jari ("flexor tendon sheath cyst"). Kista ini

ii.

berasal dari saluran yang menjaga tendon jari pada tempatnya, dan kadang
terjadi akibat iritasi pada tendon - tendinitis.
Bagian belakang tepi sendi jari ("mucous cyst"), terletak di sebelah dasar kuku.

iii.

Kista ini dapat menyebabkan lekukan pada kuku, dan dapat menjadi terinfeksi
dan menyebabkan infeksi sendi walaupun jarang. Hal ini biasanya disebabkan
arthritis atau taji tulang pada sendi.

Etiologi
Penjelasan yang paling sering digunakan untuk etiologi kista ganglion
adalah pembentukan kista hingga degenerasi mukoid dari kolagen dan jaringan
ikat. Teori ini menunjukkan bahwa sebuah ganglion mewakili struktur
2

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS
degeneratif yang melingkupi perubahan miksoid dari jaringan ikat. Teori yang
lebih baru, oleh Angelides pada 1999, menjelaskan bahwa kista terbentuk akibat
trauma jaringan atau iritasi struktur sendi yang menstimulasi produksi asam
hialuronik. Proses ini bermula di pertemuan sinovial-kapsular, musin yang
terbentuk membelah sepanjang ligamentum sendi serta kapsul yang melekat
untuk kemudian membentuk duktus kapsular dan kista utama. Duktus pada
akhirnya akan bergabung menjadi kista ganglion soliter yang besar.

Patofisiologi Kista Ganglion


Kista ganglion dapat berupa kista tunggal ataupun berlobus. Biasanya
memiliki dinding yang rata, jernih dan berwarna putih. Isi kista merupakan
musin yang jernih dan terdiri dari asam hialuronik, albumin, globulin dan
glukosamin. Dinding kista terbuat dari serat kolagen. Kista dengan banyak lobus
dapat saling berhubungan melalui jaringan duktus. Tidak terdapat nekrosis

dinding atau selularitas epitel atau sinovia yang terjadi.


i.
Normalnya, sendi dan tendon dilumasi oleh cairan khusus yang terkunci di
dalam sebuah kompartemen kecil. Kadang, akibat arthritis, cedera atau
tanpa sebab yang jelas, terjadi kebocoran dari kompartemen tersebut.
Cairan tersebut kental seperti madu, dan jika kebocoran tersebut kecil maka
akan seperti lubang jarum pada pasta gigi jika pasta gigi ditekan,
walaupun lubangnya kecil dan pasta di dalamnya kental, maka akan
mengalir keluar- dan begitu keluar, tidak dapat masuk kembali. Hal ini
bekerja hampir seperti katup satu arah, dan akan mengisi ruang di luar area
lubang. Ketika kita menggunakan tangan kita untuk bekerja, sendi akan
meremas dan menyebabkan tekanan yang besar pada kompartemen yang
berisi cairan tersebut, ini dapat menyebabkan benjolan dengan tekanan
ii.

yang besar sehingga sekeras tulang.


Cairan pelumas mengandung protein khusus yang menyebabkannya kental
dan pekat dan menyulitkan tubuh untuk me-reabsorbsi jika terjadi
kebocoran. Tubuh akan mencoba untuk menyerap kembali cairan tersebut,
tapi hanya sanggup menyerap air yang terkandung di dalamnya sehingga
membuatnya lebih kental lagi. Biasanya, pada saat benjolan cukup besar
untuk dilihat, cairan tersebut telah menjadi sekental jelly.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS
Kadang disebutkan bahwa ganglion berasal dari protrusi dari membran
sinovial sendi atau dari selubung suatu tendo. Namun, kami tidak dapat
memperlihatkan adanya hubungan antara rongga kista dengan selubung tendon atau
sendi yang berhubungan. Namun, terdapat kemungkinan bahwa kista berasal dari
bagian kecil membran sinovia yang mengalami protrusi dan kemudian terjadi
strangulasi sehingga terpisah dari tempat asalnya; bagian ini kemudian berdegenerasi
dan terisi oleh materi koloid yang berakumulasi dan membentuk kista.

Penatalaksanaan
Terdapat tiga pilihan utama penatalaksanaan ganglion.
i.
Pertama, membiarkan ganglion tersebut jika tidak menimbulkan keluhan
apapun. Setelah diagnosis ditegakkan dan pasien diyakinkan bahwa massa
tersebut bukanlah kanker atau hal lain yang memerlukan pengobatan segera,
pasien diminta untuk membiarkan dan menunggu saja.
Jika ganglion menimbulkan gejala dan ketidaknyamanan ataupun
masalah

mekanis,

terdapat

dua

pilihan

penatalaksanaan:

aspirasi

(mengeluarkan isi kista dengan menggunakan jarum) dan pengangkatan kista


ii.

secara bedah.
Aspirasi melibatkan pemasukan jarum ke dalam kista dan mengeluarkan
isinya setelah mematirasakan daerah sekitar kista dengan anestesi lokal.
Karena diperkirakan bahwa inflamasi berperan dalam produksi dan
akumulasi cairan di dalam kista, obat anti inflamasi (steroid) kadang
diinjeksikan ke dalam kista sebagai usaha untuk mengurangi inflamasi serta
mencegah kista tersebut terisi kembali oleh cairan kista. Penelitian terbaru
menunjukkan bahwa menggunakan substansi lain seperti hialuronidase
bersama dengan steroid setelah aspirasi meningkatkan angka kesembuhan

iii.

dari 57% (aspirasi dan steroid) menjadi 89% dengan substansi tambahan.
Jika kista rusak, menimbulkan nyeri, masalah mekanis dan komplikasi saraf
(hilangnya fungsi motorik dan sensorik akibat tekanan ganglion pada saraf)
atau timbul kembali setelah aspirasi, maka eksisi bedah dianjurkan. Hal ini
melibatkan insisi di atas kista, identifikasi kista, dan mengangkatnya bersama
dengan sebagian selubung tendo atau kapsul sendi dari mana kista tersebut
berasal. Lengan kemudian dibalut selama 7-10 hari. Eksisi kista ini biasanya
merupakan prosedur minor, tapi dapat menjadi rumit tergantung pada lokasi

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS
kista dan apakah kista tersebut melekat pada struktur lain seperti pembuluh
darah, saraf atau tendon.
B. Total Intravena Anestesi

Definisi Total intravenous anesthesia


Total intravenous anesthesia (TIVA) adalah teknik anestesi umum dengan
hanya menggunakan obat-obat anestesi yang dimasukkan lewat jalur intravena
tanpa penggunaan anestesi inhalasi. Indikasi dilakukan TIVA adalah obat induksi
anesthesia umum, obat tunggal untuk anestesi pembedahan singkat, tambahan
untuk obat inhalasi yang kurang kuat, obat tambahan anestesi regional, dan
menghilangkan keadaan patologis akibat rangsangan SSP (SSP sedasi).
TIVA digunakan buat mencapai 4 komponen penting dalam anestesi yang
menurut Woodbridge (1957) yaitu blok mental, refleks, sensoris dan motorik. Atau
trias A (3 A) dalam anestesi yaitu
1. Amnesia
2. Arefleksia otonomik
3. Analgesik
4. +/- relaksasi otot
Jika keempat komponen tadi perlu dipenuhi, maka kita membutuhkan
kombinasi dari obat-obatan intravena yang dapat melengkapi keempat komponen
tersebut. Kebanyakan obat anestesi intravena hanya memenuhi 1 atau 2 komponen
di atas kecuali Ketamin yang mempunyai efek 3 A menjadikan Ketamin sebagai
agen anestesi intravena yang paling lengkap.

Kelebihan dan kekurangan TIVA


TIVA memiliki beberapa keuntungan dibandingkan tenik anestesi umum lainnya
yaitu;
1. Onset yang diperlukan untuk induksi sangat cepat
2. Masa penyembuhan lebih cepat
3. Tidak menyebabkan polusi lingkungan
4. Mengurangi insidensi mual dan muntah posoperasi
5. Metode terpilih pada pasien yang memiliki resiko hipertermi malignansi
6. Metode terpilih pada pasien dengan myopati kongenital

1.

Kekurangan TIVA diantaranya:


Nyeri selama injeksi propofol
5

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS
Rasa sakit karena injeksi terjadi pada sebagian besar pasien ketika propofol
diinjeksikan ke dalam vena tangan yang kecil. Ketidaknyamanan ini dapat
dikurangi dengan memilih vena yang lebih besar atau dengan pemberian 1%
lidokain (menggunakan lokasi injeksi yang sama seperti propofol) atau opioid
2.
3.
4.
5.

kerja jangka pendek


Variabilitas farmakokinetik dan farmakodinamik interindividual lebih besar
Sulit untuk memperkirakan konsentrasi propofol di darah
Sulit untuk memantau administrasi terus menerus agen intravena ke pasien
Sindroma infuse propofol
Sindroma infus propofol adalah kejadian yang jarang terjadi dan merupakan
suatu keadaan yang kritis pada pasien dengan penggunaan propofol yang lama
(lebih dari 48 jam) dan dosis yang tinggi (lebih dari 5 mg/kgBB/jam).
Biasanya Mterjadi pada pasien yang mendapat sedasi di unit perawatan
intensif.

Sindroma ini ditandai dengan terjadinya kegagalan jantung,

rabdomiolisis, asidosis metabolik dan gagal ginjal. Penanganannya adalah


oksigenasi yang adekuat, stabilisasi heodinamik, pemberian dekstrosa,dan
hemodialisa.

Obat-obatan Anestesia Intravena


Ada 3 cara pemberian anesthesia intra vena :
1. Sebagai obat tunggal/suntikan intravena tunggal (sekali suntik )
Untuk induksi anestesi atau pada operasi-operasi singkat hanya obat ini saja yang
dipakai
2. Suntikan berulang.
Untuk prosedur yang tidak memerlukan anesthesia inhalasi : dengan dosis
ulangan lebih kecil dari dosis permulaan sesuai kebutuhan
3. Lewat infuse (diteteskan)
Untuk menambah daya anestesi inhalasi. Dari bermacam-macam obat anesthesia
intravena, hanya beberapa saja yang sering digunakan yakni golongan
barbiturate, ketamin dan diazepam.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS

BAB II
A. IDENTITAS
Nama

: Tn. A.Y.

Usia

: 63 tahun

No RM

: 503569

Alamat

: Gedong Kuning, Yogyakarta

Pekerjaan

: Buruh Angkat

Pendidikan

: SD

Status

: Menikah

Pemeriksaan

: 18 April 2016

B. AUTOANAMNESIS (Bangsal Bugenville Senin, 17 April 2016, pukul 19.00)


Keluhan utama

: Benjolan pada pergelangan tangan kanan


7

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien seorang pria berumur 63 tahun datang ke poliklinik bedah RSUD Jogjakarta
dengan keluhan terdapat benjolan pada pergelangan tangan kanan. Benjolan dirasakan
sudah sejak 4 bulan SMRS. Benjolan tidak dirasa nyeri, sewarna dengan kulit, luka
(-), awalnya kecil lalu membesar. Keluhan lain yang dirasakan (-), pasien mengaku
bekerja sebagai seorang buruh angkat karung padi.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Riwayat darah tinggi sebelumnya (-), riwayat diabetes melitus (-), batu ginjal (-),
infeksi saluran kencing (-), riwayat operasi (-), riwayat asma (-), riwayat alergi obat
(-).
Riwayat Penyakit Keluarga :
Pasien mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit keluarga seperti darah tinggi,
DM, asma dan tb, dan dikeluarga pasien tidak ada yang memiliki gejala sama seperti
pasien.
Anamnesis system
Sistem saraf pusat

: penurunan kesadaran (-), kejang (-), pusing (-),demam (-),


menggigil (-), nyeri kepala (-)

Sistem kardiovaskuler

: nyeri dada (-), berdebar-debar (-), mimisan (-), gusi


berdarah(-)

Sistem respirasi

: sesak nafas (-), batuk (-), pilek (-)

Sistem pencernaan

: mual (-), muntah (-), diare (-), nyeri ulu hati (-), sulit BAB
(-), BAB disertai darah (-)

Sistem urogenital

: hematuria (-), sulit BAK(-)

Sistem muskuloskletal

: gerakan terbatas (-), nyeri otot (-), nyeri sendi (-), nyeri
tulang (-), bengkak sendi (-)

C. PEMERIKSAAN FISIK
a. Kesan Umum : Baik, compos mentis
b. Tanda Utama : TD
: 110/70 mmHg
8

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS
Nadi

: 84 x/menit, isi & tegangan cukup, teratur,

simetris
Suhu
: 36,6OC (axila)
Pernapasan : 24x/menit, tipe abdominothorakal
c. Antropometri : TB : 157 cm
BB : 49 kg
d. Pemeriksaan Umum
a. Kulit: sianosis (-), pucat (-), ikterik (-), rash (-)
b. Otot: eutrofi (+), tonus baik (+), tanda radang (-), kekuatan: 5/5/5/5
c. Tulang: tanda radang (-), deformitas (-)
d. Sendi: tanda radang (-), gerakan bebas (+)
e. Pemeriksaan Khusus dan Status Interna
1) Kepala : mesosefal, rambut: hitam, tidak mudah dicabut
- Mata: CA -/-, SI -/-, edema palpebra -/- Hidung: rhinorea -/-, epistaksis -/- Sinus: tanda peradangan (-)
- Mulut: mukosa bibir basah (+), stomatitis (-), gusi berdarah (-),
-

hiperemis faring (-), tonsil hipertrofi (-)


Telinga: ottorea - /-, tragus pain - / -

2) Leher
Simetris (+), pembesaran limfonodi (-)
3) Thorak
Cor

Pulmo

Inspeksi:
- Iktus kordis tidak tampak

Palpasi:
- Ictus kordis teraba pada SIC
V
Perkusi:
- Batas

jantung

tidak

mengalami pergeseran
Auskultasi:
- Suara jantung:
S1-S2 reguler, bising jantung (-),

Inspeksi:
- Bentuk dada simetris (+) N
- Nafas abdominothoracal (+)
- Ketinggalan gerak (-)
- Retraksi (-)
Palpasi:
- Fremitus suara hemithorak dextra
= sinistra
- Pergerakkan dada kesan simetris
Perkusi:
- Sonor pada semua lapang paru,
- Pemeriksaan batas paru hepar
SIC V
Auskultasi:
- Suara paru: Suara dasar vesikuler
+/+, suara tambahan -/-.

gallop (-)
4)
-

Abdomen
Inspeksi : tanda peradangan (-)
Auskultasi
: peristaltik usus (+) normal
Perkusi : timpani (+), nyeri ketok ginjal (-)
9

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS
- Palpasi : supel (+), nyeri tekan suprapubik (-), hepar/lien tak teraba
5) Ekstremitas
Pemeriksaan
Perfusi akral
Pulsasi a. Brachialis
Pulsasi a. Dorsalis Pedis
Kekuatan
Reflek fisiologis

Superior
Dextra/Sinistra
Hangat
+/+, kuat

+/+, kuat
5/5
+/+, N

5/5
+/+, N

f. Status Anestesi
1. Airway

Inferior
Dextra/Sinistra
Hangat

: jalan nafas bersih, buka mulut > 3 jari,

gigi palsu (-), pembesaran kelenjar tiroid (-), mallapaty 1.


2) Breathing : suara dasar vesikuler +/+, wheezing -/-, ronkhi -/-,
sesak (-), ekspansi paru simetris (+)
3) Circulation
: nadi 84 x/menit, s1-s2 reguler, bising (-),
gallop (-), akral hangat nadi kuat dengan CRT < 2
4) Disability : GCS E4V5M6, Kesadaran kompos mentis, KU: baik
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 17 April 2016 pukul 13.22 WIB
PARAMETER

HASIL

NILAI

UNIT

RUJUKAN
HEMATOLOGI
Leukosit
6,0
Eritrosit
4,75
Hemoglobin
13,9
Hematokrit
41,0
MCV
86,4
MCH
29,3
MCHC
33,9
Trombosit
332
Differential Telling Mikroskopis
Neutrofil%
52,3
Lymposit%
35,1
Monosit%
7,8
Eosinofil%
4,3
Basofil%
0,5
Neutrofil#
3,16
Lymposit#
2,12
Monosit#
0,47
Eosinofil#
0,26
Basofil#
0,03

4.0-10
4.00-5.50
11.0-16.0
32-44
81-99
27-31
33-37
150-450

10e3/ul
10e3/ul
gr/dl
%
Fl
Pg
Gr/dl
10e3/ul

50-70
20-40
3-12
0,5-5,0
0-1
2-7
0,8-4
0,12-1,2
0,02-0,50
0-1

%
%
%
%
%
10e3/ul
10e3/ul
10e3/ul
10e3/ul
10e3/ul
10

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS
Masa Pendarahan
Masa Penjendalan
KIMIA
Glukosa Darah Sewaktu

230
930

<6
<12

104

70-140

mg/dl

E. DIAGNOSIS KERJA
1. Diagnosis klinis : Kista Ganglion pada Regio Manus Dextra
2. Status anestesi : ASA I
F. PLANNING DAN PERSIAPAN PRE-OPERASI
a. Puasa 8 jam sebelum induksi anestesi
b. Planning anestesi : digunakan TIVA (Total Intravena Anestesi)
G. STATUS ANESTESI (INTRAOPERASI) tanggal 18 April 2016
Nama

: Tn. AY

Umur

: 63 tahun

Bangsal/ kelas

: Bougenville kelas III

Diagnosis Pra-Bedah

: Kista Ganglion pada Regio Manus Dextra

Rencana Tindakan

: Eksisi

Diagnosis Pasca Bedah : Post Eksisi Kista Ganglion


ASA

:I

Ahli anestesi

: dr. Aryono Hendrasto, M. Si, Med, Sp. An

Ahli bedah

: dr. Yunada R, Sp. BKBD

Perawat anestesi

: Rokhim

Pemeriksaan Fisik

- Vital sign TD
Nadi

: 110/80 mmHg
: 82 x/menit

Suhu

: 36oC

Respiration rate

: 24x/menit

- Berat badan
: 49 kg
- Jantung dan Paru : BJ regular, bising (-), ronkhi -/-, wheezing -/Jenis anestesi: TIVA
-

Propofol 10 mg

Pemeliharaan: O2 2 liter per menit

Teknik penguasaan jalan nafas : nasal kanul


Ijin Operasi

: (+)

Tanggal Operasi

: 18 April 2016
11

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS
Jenis Operasi

: Eksisi

Hb

: 13,9 gr/dl

GDS

: 104 mg/dl

Obat

:
-

Ondansetron 4 mg

Ketorolac 30 mg

Jumlah Cairan
Infus:

Maintenance
: 49 kg x 2 cc = 98 cc/ jam
Pengganti puasa
: 8 jam x 98 cc= 784 cc/jam
Stres operasi sedang
: 6 x 49 kg = 294 cc/jam
Pada jam I
: 50% (784) + 294 + 98 = 784 cc/jam
Pada jam II/III
: 25% (784) + 294 + 98 = 588 cc/jam

Instruksi Pasca Bedah


a. Posisi pasien

: Supine tanpa kepala ditinggikan sampai sadar penuh

b. Diet

: sadar penuh makan dan minum bebas

c. Oksigenasi: Udara bebas


d. Infus

: RL 20 tpm

e. Antibiotika

: Sesuai operator

f. Analgesika: Injeksi ketorolac i.v 30 mg / 8 jam


g. Anti muntah

: Injeksi ondansetron i.v 4 mg / 8 jam (bila perlu)

h. Lain-lain : Awasi KU & VS


H. PROGNOSIS
Dubia ad bonam

12

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS
DAFTAR PUSTAKA
1. Hurford, William E, et all. Clinical Anesthesia Procedures of theMassachusetts
General Hospital 6th edition. Massachusetts GeneralHospital Dept. Of Anesthesia and
Critical Care. Lippincott williams &Wilkins Publishers. 2002; hal : Chapter 11
Intravenous and Inhalation Anasthetic.
2. Tevor AJ, Miller RD. Obat Anestesi Umum . Dalam : Krtzung BG, Editors,
Farmakologi Dasar dan Klinik. Edisi VI. EGC; 1998, hal 409 412.
3. Mangku G. Diktat Kumpulan Kuliah buku I. Laboratorium Anestesiologidan
Reanimasi FK UNUD, Denpasar 2002; hal : 66-733.

13