Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN KEGIATAN MAHASISWA PKPA

EVALUASI PENYIMPANAN OBAT HIGH-ALERT


DI DEPO FARMASI RAWAT JALAN DAN DEPO FARMASI INSTALASI GAWAT
DARURAT RUMAH SAKIT MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO

Disusun Oleh:
Kelompok 6
Bayu Wirasmanto
Wibisana Biwigita. S
Arlina Yevilayanti
Nurul Irna Windari

1520303136/ USB
1508020169/ UMP
15811184/ UII
1507062104/ UAD

PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER


RSUD Prof. Dr. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Permasalahan yang sering terjadi dalam dalam proses pemberian obat salah satunya
adalah terjadinya tipe kesalahan yang terus terulang. Sebagai contoh adalah dimana seorang
pasien mendapatkan pengobatan overdosis untuk golongan obat yang memiliki indeks terapi
sempit seperti digoksin ataupun theophiline sehingga pasien tersebut keracunan atau bahkan
meninggal. Contoh lain yaitu untuk asam mefenamat dan asam traneksamat dimana kedua
obat tersebut memiliki penyebutan yang hampir sama, apabila seorang pasien yang sedang
mengalami perdarahan dan membutuhkan asam traneksamat malah diberikan asam
mefenamat maka pasien tersebut tidak akan sembuh, bahkan dapat membahayakkan nyawa
pasien tersebut.
Tingginya angka kejadian medication error pada pasien di tempat pelayanan
kesehatan mendorong pemerintah untuk meningkatkan pengawasan terhadap faktor-faktor
yang memicu terjadinya medication error salah satunya yaitu pengelolaan terhadap obat high
alert. Pemerintah melalui Permenkes RI No.1691/MENKES/PER/VIII/2011 Tentang
Keselamatan Pasien Rumah Sakit, disebutkan Rumah Sakit harus berperan secara kritis
untuk memastikan keselamatan pasien dalam hal ini termasuk pengawasan terhadap obat
high alert. Selain itu pada permenkes RI no 58 tahun 2014 tentang standar pelayanan
kefarmasian di rumah sakit disebutkan, Rumah Sakit perlu mengembangkan kebijakan
pengelolaan Obat untuk meningkatkan keamanan, khususnya Obat yang perlu diwaspadai (highalert medication). Sehingga setiap rumah sakit wajib memperhatikan pengawasan dan
pengelolaan obat high alert untuk meminimalkan medication error dan meningkatkan
keselamatan hidup pasien.

B. Tujuan
Mengetahui cara penataan dan penyimpanan (pengelolaan) obat High Alert di Depo
Farmasi Rawat Jalan dan Depo Farmasi Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Prof. Dr.
Margono Soekarjo.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Obat-obatan yang perlu diwaspadai (high-alert medications) adalah obat yang sering
menyebabkan terjadi kesalahan/kesalahan serius (sentinel event), obat yang berisiko tinggi
menyebabkan dampak yang tidak diinginkan (adverse outcome) (Anonim, 2011). Kelompok
Obat high-alert diantaranya:
a. Obat yang terlihat mirip dan kedengarannya mirip (Nama Obat Rupa dan Ucapan
Mirip/NORUM, atau Look Alike Sound Alike/LASA).
b. Elektrolit konsentrasi tinggi (misalnya kalium klorida 2 meq/ml atau yang lebih pekat,
kalium fosfat, natrium klorida lebih pekat dari 0,9%, dan magnesium sulfat 50% atau
lebih pekat).
c. Obat-obat sitostatika (Anonim, 2014).
Menurut ISMP (Institute for Safe Medication Practices) tahun 2014, high-alert
medication adalah obat yang memiliki risiko tinggi yang menyebabkan kerugian pada pasien
secara signifikan ketika penggunaannya salah.
Tatalaksana pengelolaan high-alert medication untuk meningkatkan keselamatan
pasien adalah sebagai berikut:
1. Membuat daftar obat-obatan baik yang aman maupun yang harus diwaspadai (high
allert)
2. Memberi label yang jelas pada obat-obat high allert
3. Membatasi akses masuk dimana hanya orang tertentu yang boleh masuk ke dalam
tempat penyimpanan obat high allert untuk mencegah pemberian yang tidak disengaja
atau kurang hati-hati (restricted area)
4. Obat/konsentrat tinggi tidak boleh diletakkan di dalam ruang pelayanan
5. Tempat pelayanan obat-obat yang terlihat mirip dan kedengarannya mirip tidak boleh
diletakkan di dalam satu rak atau disandingkan (Salmon, 2012).

BAB III
PEMBAHASAN
Pengelolaan obat high alert seperti penyimpanan, pencatatan, pendistribusian dan
pelabelan perlu diperhatikan untuk meminimalkan dan mencegah terjadinya kesalahan yang
dapat membahayakan pasien. Penyimpanan sendiri merupakan kegiatan menyimpan dan
memelihara dengan cara menempatkan perbekalan farmasi yang diterima pada tempat yang
dinilai aman dari pencurian serta gangguan fisik yang dapat merusak mutu obat.
Penyimpanan yang baik adalah dengan cara memelihara mutu sediaan farmasi, menghindari
penggunaan yang tidak bertanggungjawab serta menjaga ketersediaan dan memudahkan
pencarian.
Persyaratan penyimpanan yang baik harus memenuhi persyaratan stabilitas dan
keamanan, sanitasi, cahaya, kelembaban, ventilasi dan penggolongan jenis sediaan farmasi
baik alat kesehatan maupun bahan medis habis pakai. Penyimpanan obat high alert harus
dipisahkan dengan golongan obat lainnya untuk menghindari kekeliruan pengambilan obat.
Secara umum penyimpanan obat di RSMS mengikuti aturan alfabetis, terpisah berdasarkan
bentuk sediaan, Generik-Paten, serta suhu untuk obat-obat yang rentan atau tidak stabil pada
suhu ruangan. Akan tetapi untuk penyimpanan obat high alert diberi perlakuan khusus,
karena obat tersebut sering kali menimbulkan medication error.
Pencatatan atau dokumentasi sangat penting dilakukan, tidak hanya untuk obat high
alert tetapi juga semua sedian farmasi sehingga menurukan resiko kehilangan barang dan
memudahkan pengontrolan sediaan tersebut. Pendistribusian obat-obat high alert dari gudang
bangsal-bangsal atau satelit farmasi perlu diperhatian sehingga sediaan tersebut sampai
dengan aman di tangan pasien. Untuk pendaan atau pelabelan obat high alert sangat penting
dilakukan untuk membedakan sekaligus memberi peringatan bagi petugas kesehatan yang
hendak mengambil obat-obatan tersebut. Obat high alert diberi label berwarna merah
mencolok dengan tulisan HIGH ALERT.

Gambar 1. Logo obat High Alert di RSUD Prof. Dr Margono Soekarjo


Pada standar prosedur operasional yang telah ditentukan, setiap obat high alert yang
masuk dan diterima di gudang farmasi sentral Rumah Sakit diberi tanda Obat High Alert
4

pada kotak pembungkus (box obat). Sedangkan penandaan pada tiap sediaan obat (ampul,
vial, atau obat oral) dilakukan di masing-masing depo farmasi sebelum obat diberikan.
A. Depo Farmasi Rawat Jalan
Jenis obat yang termasuk dalam kategori high alert yaitu obat sitostatika, inotropik
(dopamin, dobutamin, epineprin dll), obat anastesi dan sedasi, narkotika injeksi dan trans
dermal, trombolitik, sterptokinase dan disolf, konsentrat elektrolit ( KCl, NS 3%, BicNat,
kalsium glukonas, MgSO4 ), antikoagulan (heparin IV, warfarin), insulin injeksi, dextrosa
40%. Penyimpanan obat kategori high alert di apotek rawat jalan yaitu dipisahkan dari obat
lainnnya dimana obat disusun dalam lemari terpisah untuk penyimpanan obat yang disimpan
dalam lemari pendingin pun penyimpanannya dipisahkan yaitu pada lemari es khusus obat
high alert, serta pada setiap obat diberi stiker high alert dengan warna latar merah dan
tulisan berwarna putih. Stiker high alert juga ditempelkan pada lemari dan kulkas tempat
penyimpanan obat high alert. Selain itu pada resep bila terdapat obat yang termasuk high
alert diberi cap HA yang berwarna merah disamping nama obat. Di sini juga menerapkan
sistem FIFO (First In First Out) dan FEFO (First Expired First Out). Hal ini bertujuan agar
obat dan alat kesehatan yang mempunyai ED pendek dapat segera dikeluarkan dan nantinya
akan mengurangi obat near ED. Penyimpanan obat high alert di instalasi rawat jalan RSMS
sudah sesuai dengan standar prosedur operasional pengelolaan obat high alert yang sudah
dibuat.

Gambar 2. Pelabelan untuk obat-obatan high alert

Gambar 3. A. Lemari penyimpanan obat HA B. Kulkas penyimpanan obat HA


B. Depo Farmasi Instalasi Gawat Darurat
Dalam penyimpanannya, obat high alert di Depo Farmasi Instalasi Gawat Darurat
disimpan secara terpisah dengan obat lainnya dan diberi tanda HIGH ALERT pada tempat
penyimpanannya, meskipun masih dalam satu rak dengan alkes tetapi diberi batas dengan
memberi tanda HIGH ALERT pada sekeliling rak, serta masing-masing obat seperti ampul
di beri tanda HIGH ALERT. Tanda HIGH ALERT pada ampul tidak mentupi nama obat, tidak
menutupi tanggal kadaluarsa, tidak menutupi titik pada leher ampul/vial dan tidak menutupi
kekuatan sediaan obat. Penyimpanannya pun berdasarkan kestabilan obat. Obat high alert
yang stabil pada suhu ruangan disimpan di rak, sedangkan untuk obat yang penyimpanannya
pada suhu dingin disimpan di lemari pendingin.
Penyimpanan obat high alert di IGD sudah tertata dengan baik dan rapi baik yang
disimpan dalam lemari, maupun yang disimpan pada lemari es. Penyimpanan obatnya
disimpan terpisah dari obat-obat lainnya dan di beri label HIGH ALERT pada masing-masing
obat dan disetiap rak obat. IGD juga menerapkan sistem FIFO (First In First Out) dan FEFO
(First Expired First Out). Hal ini bertujuan agar obat dan alat kesehatan yang mempunyai ED
6

pendek dapat segera dikeluarkan dan nantinya akan mengurangi obat near ED. Penyimpanan
obat high alert

di instalasi rawat jalan RSMS sudah sesuai dengan standar prosedur

operasional pengelolaan obat high alert yang sudah dibuat.

Gambar 4. A. Lemari penyimpanan obat HA B. Kulkas penyimpanan obat HA

Gambar 5. Daftar obat high allert di depo farmasi rawat jalan


dan depo farmasi IGD RSMS

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pengelolaan obat high alert di depo farmasi rawat jalan dan IGD di Rumah Sakit
Margono Soekarjo sudah sesuai dengan standar prosedur operasional (SPO) pengelolaan obat
high alert, dimana penyimpanan obat high alert dipisahkan dari obat lainnya, serta memiliki
label HIGH ALERT dengan tulisan berwarna putih dan memiliki dasar merah yang
bertujuan mempermudah pengenalan obat tersebut sehingga dapat meminimalkan terjadinya
medication error.
B. Saran
Perlu meningkatkan kerapihan dalam penyimpanan obat high alert baik dalam lemari
maupun lemari es, serta memperhatikan pemberian label agar label terlihat dengan jelas.

10

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2011, Permenkes Nomor 1691 tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia., Jakarta
Anonim, 2014, Permenkes 58 tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Rumah
Sakit, Departemen Kesehatan Republik Indonesia., Jakarta.
Anonim, 2014. ISMP List of High-Alert Medications in Acute Care Setting, Institute for Safe
Medication Practices, United States.
Salmon, N., and DiLeonardi, B.C., 2012, High Allert Medications: Safe Practices, AMN
Healthcare Education Services, RN.Com.

11