Anda di halaman 1dari 31

Kejadian Luar Biasa Diare Puskesmas

K
William Alexander Setiawan
102010098, C6
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna utara no.6 Kebon Jeruk, Jakarta
William.alexanders11@gmail.com

Pendahuluan
Kejadian luar biasa (KLB) penyakit menular menjadi masalah kesehatan
masyarakat karena dapat menyebabkan jatuhnya korban kesakitan dan kematian
yang

besar,

menyerap

anggaran

biaya

yang

besar

dalam

upaya

penanggulangannya, berdampak pada sektor ekonomi, pariwisata serta berpotensi


menyebar

luas

lintas

kabupaten/kota,

propinsi

bahkan

internasional

yang

membutuhkan koordinasi dalam penanggulangannya. Diare adalah penyakit yang


pada umumnya memiliki prognosis baik, namun jika tidak ditangani dengan baik
dan dideteksi secara dini, kemungkinan terjadinya KLB semakin besar. Dengan
melakukan penyelidikan epidemiologi, kita dapat mengumpulkan data, mengolah,
menganalisis, melaporkan hasil data cakupan program pelayanan kesehatan. 1
Diare atau penyakit diare (Diarrheal disease) berasal dari bahasa Yunani yaitu
diarroi

yang

berarti

mengalir

terus,

merupakan

keadaan

abnormal

dari

pengeluaran tinja yang terlalu frekuen. 1


Terdapat beberapa pendapat tentang definisi penyakit diare. Menurut
Hippocrates definisi diare yaitu sebagai suatu keadaan abnormal dari frekuensi dan
kepadatan tinja,
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, diare atau penyakit diare adalah bila
tinja mengandung air lebih banyak dari normal. Menurut WHO diare adalah berak
cair lebih dari tiga kali dalam 24 jam, dan lebih menitik beratkan pada konsistensi
tinja dari pada menghitung frekuensi berak. Ibu-ibu biasanya sudah tahu kapan

PBL Blok 26 Community Medicine

Page 1

anaknya menderita diare, mereka biasanya mengatakan bahwa berak anaknya


encer atau cair. Menurut Direktur Jenderal PPM dam PLP, diare adalah penyakit
dengan buang air besar lembek/ cair bahkan dapat berupa air saja yang
frekuensinya lebih sering dari biasanya (biasanya 3 kali atau lebih dalam sehari).
Di Indonesia penyakit diare masih merupakan salah satu masalah kesehatan
masyarakat yang utama, dimana insidens diare pada tahun 2000 yaitu sebesar 301
per 1000 penduduk, secara proporsional 55 % dari kejadian diare terjadi pada
golongan balita dengan episode diare balita sebesar 1,0 1,5 kali per tahun. 1
Secara operasional diare balita dapat dibagi 2 klasifikasi, yaitu yang pertama
diare akut adalah diare yang ditandai dengan buang air besar lembek/cair bahkan
dapat berupa air saja yang frekuensinya lebih sering dari biasanya (3 kali atau lebih
sehari) dan berlangsung kurang dari 14 hari, dan yang kedua yaitu diare
bermasalah yang terdiri dari disentri berat, diare persisten, diare dengan kurang
energi protein (KEP) berat dan diare dengan penyakit penyerta. 1
Beberapa hasil survei mendapatkan bahwa 76 % kematian diare terjadi pada
balita, 15,5 % kematian bayi dan 26,4 % kematian pada balita disebabkan karena
penyakit diare murni. Menurut hasil survei rumah tangga pada tahun 1995
didapatkan bahwa setiap tahun terdapat 112.000 kematian pada semua golongan
umur, pada balita terjadi kematian 2,5 per 1000 balita. 1
Hasil Survei Kesehatan Nasional (Surkesnas) tahun 2002 mendapatkan
prevalensi diare balita di perkotaan sebesar 3,3 % dan di pedesaan sebesar 3,2 %,
dengan angka kematian diare balita sebesar 23/ 100.000 penduduk pada laki-laki
dan 24/100.000 penduduk pada perempuan, dari data tersebut kita dapat
mengukur berapa kerugian yang ditimbulkan apabila pencegahan diare tidak
dilakukan dengan semaksimal mungkin dengan mengantisipasi faktor risiko apa
yang mempengaruhi terjadinya diare pada balita. 1
Faktor risiko yang sangat berpengaruh untuk terjadinya diare pada balita
yaitu status kesehatan lingkungan (penggunaan sarana air

bersih, jamban

keluarga, pembuangan sampah, pembuangan air limbah) dan perilaku hidup sehat
dalam

keluarga. Sedangkan secara klinis penyebab diare dapat dikelompokkan

dalam enam kelompok besar yaitu infeksi (yang meliputi infeksi bakteri, virus dan

PBL Blok 26 Community Medicine

Page 2

parasit), malabsorpsi, alergi, keracunan (keracunan bahan-bahan kimia, keracunan


oleh racun yang dikandung dan diproduksi baik jasad renik, ikan, buah-buahan,
sayur-sayuran, algae dll), imunisasi, defisiensi dan sebab-sebab lain. 1
Upaya pemerintah dalam menanggulangi penyakit diare, terutama diare
pada balita sudah dilakukan melalui peningkatan kondisi lingkungan baik melalui
program proyek desa tertinggal maupun proyek lainnya, namun sampai saat ini
belum mencapai tujuan yang diharapkan, karena kejadian penyakit diare masih
belum menurun. Apabila diare pada balita ini tidak ditangani secara maksimal dari
berbagai sektor dan bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja tetapi
masyarakatpun diharapkan dapat ikut serta menanggulangi dan mencegah
terjadinya diare pada balita ini, karena apabila hal itu tidak dilaksanakan maka
dapat menimbulkan kerugian baik itu kehilangan biaya untuk pengobatan yang
cukup besar ataupun dapat pula menimbulkan kematian pada balita yang terkena
diare.1
Berhubungan dengan perincian diatas telah diperoleh data-data di Desa K,
yaitu pada bulan Juni lalu Puskesmas K mendapatkan sekitar 50 orang penderita
diare akut. Angka kejadian ini cukup tinggi dibandingkan dengan bulan Mei lalu, dan
hal ini menujukkan peningkatan kejadian diare di desa K. Sebagian besar penderita
diare akut ini adalah balita. Selain itu juga diketahui

tentang tingkat pendidikan

penduduknya yang rendah serta Sumber air minum di desa K menggunakan air
PAM.
Untuk mengetahui apakah penyebab dari peningkatan kejadian diare di desa
K ini, maka dilakukan

penelitian ini. Berdasarkan rumusan masalah diatas kami

akan mencari faktor resiko apa saja yang mempengaruhi terjadinya penyakit diare
terutama balita di desa K. Apakah tingginya angka kejadian diare di desa K
berhubungan atau disebabkan dengan pengetahuan dan perilaku masyarakat di
desa K yang rendah, atau tidak.
Kejadian Luar Biasa
sebelum memasuki penjabaran mengenai KLB, kita perlu memahami
mengenai penyebaran penyakit. Penyebrana penyakit terdiri atas:

PBL Blok 26 Community Medicine

Page 3

1. Sporadic

: penyakit yang dalam kurun waktu 1 tahun tidak muncul,

mendadak muncul
2. Endemic
: penyakit yang muncul sepanjang tahun dengan angka kejadian
menetap
3. Epidemic

: penyakit yang pada suatu waktu mendadak mengalami

peningkatan angka
kejadian yang bermakna (minimal 2 kali dari biasa)
a) KLB : terjadi di wilayah local
b) Wabah
: meliputi seluruh negara
4. Pandemic
: wabah yang terjadi di seluruh dunia
Kriteria tentang Kejadian Luar Biasa (KLB) mengacu pada Keputusan Dirjen PPM
& PLP No. 451-I/PD.03.04/1999 tentang Pedoman Penyelidikan Epidemiologi dan
Penanggulangan KLB. Menurut aturan itu, suatu kejadian dinyatakan luar biasa bila
terdapat unsur:2
Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak
dikenal.
Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus selama 3 kurun
waktu berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu).
Peningkatan kejadian penyakit/kematian 2 kali lipat atau lebih dibandingkan
dengan angka rata-rata per bulan tahun sebelumnya.
Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan 2 kali lipat
atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun
sebelumnya.
Angka rata-rata perbulan selama satu tahun menunjukkan kenaikan > 2 kali
dibandingkan angka rata-rata per bulan tahun sebelumnya.
CFR suatu penyakit dalam satu kurun waktu tertentu menunjukkan kenaikan
50 % atau lebih dibanding CFR periode sebelumnya.
Proporsional Rate penderita baru dari suatu periode tertentu menunjukkan
kenaikan > 2 kali dibandingkan periode yang sama dan kurun waktu/tahun
sebelumnya.
Beberapa penyakit

khusus,

seperti

kolera

dan

DHF/DSS:

1)

Setiap

peningkatan kasus dari periode sebelumnya (pada daerah endemis); 2)


Terdapat satu atau lebih penderita baru dimana pada periode 4 minggu
sebelumnya

daerah

tersebut

dinyatakan

bebas

dari

penyakit

yang

bersangkutan.
Beberapa penyakit yang dialami 1 atau lebih penderita, seperti keracunan
makanan dan keracunan pestisida.

PBL Blok 26 Community Medicine

Page 4

KLB penyakit masih menjadi masalah kesehatan masyarakat karena dapat


menyebabkan jatuhnya korban kesakitan dan kematian yang besar sehingga perlu
diantisipasi dan dicegah penyebarannya dengan tepat dan cepat. Kejadian-kejadian
KLB perlu dideteksi secara dini dan diikuti tindakan yang cepat dan tepat, perlu
diidentifikasi adanya ancaman KLB beserta kondisi rentan yang memperbesar risiko
terjadinya KLB agar dapat dilakukan peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan
menghadapi kemungkinan KLB, dan oleh karena itu perlu diatur dalam pedoman
Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (SKD-KLB).
Penyelidikan Epidemiologi
Epidemiologi adalah cabang ilmu yang mempelajari distribusi kejadian
kesakitan

dan

kematian,

serta

faktor-faktor

yang

mempengaruhi

frekuensi

kejadiannya pada kelompok dan masyarakat. 3 Penyelidikan epidemiologi (PE)


adalah

rangkaian

kegiatan

untuk

mengetahui

suatu

kejadian

baik

sedang

berlangsung maupun yang telah terjadi, sifatnya penelitian, melalui pengumpulan


data primer dan sekunder, pengolahan dan analisa data, membuat kesimpulan dan
rekomendasi dalam bentuk laporan. Pengertian istilah-istilah dalam penyelidikan
epidemiologi KLB, antara lain:
1. Infektifitas
Adalah kemampuan unsur penyebab masuk dan berkembang biak,
dapat dianggap dengan menghitung jumlah minimal dari unsur penyebab
untuk menimbulkan infeksi terhadap 50% pejamu spesies sama. Dipengaruhi
oleh sifat penyebab, cara penularan, sumber penularan, serta faktor pejamu
seperti umur, sex dll.
2. Patogenesitas
Adalah kemampuan yang dimiliki oleh bibit penyakit untuk membuat
orang menjadi sakit, atau untuk membuat sekelompok penduduk yang
terinfeksi menjadi sakit.4 Patogenesitas sangat dipengaruhi oleh infektivitas,
sehingga penghitungannya mengunakan formulasi yang sama dengan
infektifitas

(patogenesitas

infektifitas).

Dengan

tingkatan

penyakit

berdasarkan gejala dibagi menjadi:


A = tanpa gejala
B = penyakit ringan
C = penyakit sedang
D = Penyakit Berat

PBL Blok 26 Community Medicine

Page 5

E = Mati

Maka, infektifitas = patogenesitas dapat dihitung yaitu (B+C+D+E /


A+B+C+D+E) artinya kasus infeksi dibagi dengan jumlah yang terkena
infeksi. Pengertian patogenestias = infektifitas adalah 50% pejamu spesies
yang sama. Misalnya, dalam suatu kelompok penyelidikan (individu-individu
dalam suatu kelompok) telah memiliki gejala yang sama diatas 50 % dari
jumlah individu dalam suatu kelompok) maka dapat dipastikan bahwa
kelompok masyarakat dalam suatu penyelidikan epidemiologi sudah dapat
diketahui

unsur

penyebabnya

alias

sudah

dapat

ditetap

diagnosa

epidemiologi komunitasnya.
3. Virulensi
Adalah nilai proporsi penderita dengan gejala klinis yang berat (D+E)
terhadap seluruh penderita dengan gejala klinis yang jelas (B+C+D+E).
Virulensi dipengaruhi oleh dosis, cara masuk/penularan, faktor pejamu.
4. Reservoir
Adalah organisme hidup atau mati (misalnya tanah) dimana penyebab
infeksi biasanya hidup dan berkembang biak. Reservoir dapat berupa
manusia, binatang, tumbuhan serta lingkungan lainnya. Reservoir merupakan
pusat penyakit menular, karena merupakan komponen utama dari lingkaran
penularan dan sekaligus sebagai sumber penularan.
5. Bentuk KLB/Wabah didasarkan pada cara penularan dalam kelompok
masyarakat.

Gambar 1. Betuk KLB/Wabah yang didasarkan pada cara penularan dalam kelompok
masyarakat
Sumber: http://arali2008.wordpress.com/2012/05/13/pentingnya-penyelidikan-epidemiologiklbwabah/

PBL Blok 26 Community Medicine

Page 6

6. Kasus adalah mereka dimana suatu agen infektif telah masuk dan tinggal
dalam tubuh mereka dan telah ada gejala infeksi.
7. Karier adalah mereka yang menyimpan agen infektif di dalam tubuhnya.
Menurut jenis dibagi menjadi: tanpa gejala (misalnya polio, hepatitis), karier
dalam penyembuhan (contoh: diphteriae), dan karier kronik (contoh: tifus).
Terdapat

macam-macam

penyelidikan

epidemiologi,

yaitu

epidemiologi

observasional (dimana peneliti hanya mengamati dan tidak melakukan intervensi)


dan epidemiologi eksperimental (pembuktian bahwa suatu faktor sebagai penyebab
terjadinya suatu keluaran penyakit dengan diuji kebenarannya di laboratorium). 4
Epidemiologi observasional dibagi menjadi dua, yaitu untuk menjelaskan
masalah kesehatan digunakan pendekatan epidemiologi deskriptif, sedangkan
untuk mencari faktor penyebab digunakan pendekatan epidemiologi analitik. 3
Epidemiologi

deskriptif

adalah

bagian

dari

ilmu

epidemiologi

yang

mempelajari distribusi penyakit atau masalah di dalam masyarakat berdasarkan


orang (person), tempat kejadian (place), dan waktu kejadiannya (time).3 Di dalam
epidemiologi

deskriptif

dijelaskan

suatu

kejadian

berdasarkan

karakteristik

masyarakat yang terkena (who), daerah-daerah tempat kejadian (where), kapan,


berapa lama, atau bagaimana kecenderungan suatu kejadian ditinjau dari aspek
waktu timbulnya kejadian (when). Epidemiologi analitik berkaitan dengan upaya
epidemiologi untuk menganalisis faktor risiko dan faktor penyebab (determinan)
masalah kesehatan.
Kegiatan penyelidikan epidemiologi dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu:
1. Tahap
a)
b)
c)

Survei pendahuluan:
Menegakan diagnosa
Memastikan adanya KLB
Membuat hipotesa mengenai penyebab, cara penyebaran, dan faktor

yang mempengaruhinya
2. Tahap pengumpulan data:
a) Identifikasi kasus ke dalam variabel epidemiologi (orang, tempat,
waktu)
b) Tentukan

agen

penyebab,

cara

penyebaran,

dan

faktor

yang mempengaruhinya
c) Menentukan kelompok yang rentan atau beresiko.
3. Tahap pengolahan data:

PBL Blok 26 Community Medicine

Page 7

a) Lakukan pengolahan data menurut variabel epidemiologi, ukuran


epidemiologi: ukuran frekuensi (proporsi, rate, ratio, mean, median,
dan modus), ukuran morbiditas (incidence rate, point prevalence rate,
periode prevalence rate), dan ukuran mortalitas (crude death rate,
infant mortality rate, perinatal mortality rate, neonatal mortality rate,
post neonatal mortality rate, angka kematian bayi, cause spesific
mortality rate, maternal mortality rate, case fatality rate, proportional
mortality rate), dan nilai statistik (mean, median mode, dan deviasi)
b) Lakukan analisa data kemudian bandingkan nilai-nilai tersebut dengan
kejadian atau nilai-nilai yang sudah ada
c) Buat intepretasi hasil analisa
d) Buat laporan hasil penyelidikan epidemiologi
4. Tentukan tindakan penanggulangan dan pencegahannya:
a) Tindakan penanggulangan, terdiri dari pengobatan penderita dan
isolasi kasus
b) Tindakan pencegahan, terdiri dari surveilans yang ketat, perbaikan
mutu lingkungan, proteksi diri, dan perbaikan status kesehatan
masyarakat
Penyelidikan epidemiologi berkaitan dengan input, proses, output, dan efek.
Input berkaitan dengan jenis dan sumber data. Data yang dibutuhkan dapat
dikelompokkan menjadi:
1. Data

umum,

meliputi

jumlah

penduduk,

jumlah

kelahiran,

kesakitan,

kematian, luas wilayah, mata pencaharian, dan sebagainya. Pada kasus 1,


data umum diperoleh dari monografi Kecamatan Bojong Gede.
2. Data penduduk sasaran yang disesuaikan dengan program yang dibina. Pada
kasus campak, sasaran program imunisasi campak adalah balita. Pada kasus
diare, sasaran program kesehatan lingkungan adalah wilayah Kecamatan
Bojong Gede.
3. Data sumber daya berupa sarana, dana, dan tenaga.
4. Data cakupan program adalah jumlah penduduk yang mendapat pelayanan di
wilayah kerja Puskesmas.
Setelah data dikumpulkan, data tersebut diolah dan dianalisa. Hal ini disebut
proses. Di tingkat pelaksana program (misalnya di Puskesmas), pengolahan data
hanya dilakukan sampai dengan analisis data sesuai dengan kegiatan program

PBL Blok 26 Community Medicine

Page 8

pelayanan kesehatan yang dilaksanakan di tempat tersebut. Untuk program


pelayanan kesehatan terpadu, cakupan yang dihitung, antara lain:5
1. Cakupan KIA dianalisis melalui perhitungan jumlah kunjungan baru ibu hamil,
ibu menyusui, bayi, dan anak balita dibagi dengan jumlah ibu hamil, ibu
menyusui, bayi, atau anak balita sebagai penduduk sasaran. 5
2. Cakupan gizi berupa hasil bagi antara jumlah balita yang datang dan
ditimbang (D) dengan jumlah semua balita yang ada di wilayah kerja
posyandu (S). Selain perhitungan D/S tersebut, masih ada perhitungan lain
yang dapat dipakai untuk menghitung cakupan gizi. Hasil D/S ini dipakai
untuk menilai tingkat partisipasi masyarakat. Rumus perhitungan: Cakupan
Gizi = (Jumlah D : Jumlah S) x 100%.5
3. Cakupan imunisasi adalah hasil pencapaian kegiatan imunisasi (bagian
program P2M), dengan membandingkan jumlah penduduk yang telah
diberikan imunisasi DPT1, polio 3, campak, BCG, dan TT2 dengan jumlah
masing-masing penduduk sasaran imunisasi. Penduduk sasaran untuk
imunisasi TT adalah ibu hamil atau wanita usia subur (WUS), dan penduduk
sasaran untuk imunisasi dasar adalah bayi yang berumur 3 12 bulan.
Berdasarkan kasus 1, hasil cakupan imunisasi Kecamatan Bojong Gede
sebesar 45% masih rendah apabila dibandingkan dengan target yang telah
ditetapkan dalam buku stratifikasi Puskesmas 1987, yaitu 80%. Contoh
analisis cakupan kegiatan imunisasi campak yang didasarkan pada buku
catatan

imunisasi

didistribusikan

berdasarkan

tempat

(bagaimana

penyebaran cakupan imunisasi campak di tiap-tiap desa di wilayah kerja


Puskesmas?), waktu (bagaimana penilaian hasil cakupan setiap bulan,
triwulan, atau enam bulan? kapan terjadi penurunan hasil cakupan atau
kapan cakupan yang terendah?), dan orang: (kelompok penduduk yang mana
cakupan imunisasinya terendah). Hal ini dapat dilihat dari latar belakang
pekerjaan, pendidikan penduduk (sosial ekonominya) di suatu wilayah atau
yang lainnya. Rumus perhitungan:5
a) Cakupan Imunisasi TT

: (Jumlah bumil yang mendapat TT :

Jumlah semua bumil) x 100%


b) Cakupan Imunisasi Dasar : (Jumlah bayi yang diimunisasi : Jumlah
semua bayi) x 100%
c) Cakupan Imunisasi Campak

(Jumlah

bayi

yang

diimunisasi

campak : Jumlah semua bayi) x 100%

PBL Blok 26 Community Medicine

Page 9

4. Cakupan program penanggulangan diare dianalisis dengan menghitung


jumlah balita yang menderita diare atau mencret dan mendapat pengobatan
garam oralit dibagi dengan semua balita yang menderita diare. Jumlah balita
yang menderita didapatkan dari laporan kader, kunjungan balita di posyandu,
atau puskesmas. Laporan kejadian diare memang leboh sukar didapatkan
karena tidak semua penderita berobat kepada petugas Puskesmas (provider),
sehingga sering dipakai angka perkiraan berdasarkan besarnya angka insiden
diare

di

suatu

wilayah.

Sedangkan

kasus

yang

berobat

atau

yang

memperoleh oralit dicatat dalam laporan mingguan puskesmas atau laporan


posyandu. Rumus perhitungan: Cakupan Diare = (Jumlah balita diare yang
diobati / Jumlah semua balita yang diare) x 100%.5
Epidemiologi Diare
Diare akut adalah buang air besar dengan frekuensi yang meningkat dari
biasanya atau lebih dari tiga kali sehari dengan konsistensi tinja yang lebih lembek
atau cair dan bersifat mendadak datangnya serta berlangsung dalam waktu kurang
dari dua minggu.6 Bila diare berlangsung 2-4 minggu disebut diare persisten, namun
jika berlangsung lebih dari 4 minggu disebut sebagai diare kronik.
Dalam bidang epidemiologi, terdapat tiga model yang dikenal, yaitu segitiga
epidemiologi, jaring-jaring sebab akibat, dan roda. Segitiga epidemiologi merupakan
teori dasar yang terkenal sejak disiplin ilmu epidemiologi mulai digunakan di dunia.
Segitiga epidemiologi yang saling terkait satu sama lain, yaitu:
1. Agent-Host-Environment (AHE)
Segitiga epidemiologi ini sangat umum digunakan oleh para ahli dalam
menjelaskan konsep berbagai permasalahan kesehatan, termasuk terjadinya
penyakit.

Gambar 2. Model Segitiga Epidemiologi

PBL Blok 26 Community Medicine

Page 10

Sumber: Prasetyawati AE. Ilmu kesehatan masyarakat untuk kebidanan holistik


(integrasi commnity oriented ke family oriented). Yogyakarta : Nuha Medika; 2011.
h. 253 61.

a) Agent
Agens (agent) adalah faktor yang menjadi penyebab suatu
penyakit. Penyebab penyakit dapat mencakup agent biologis, kimia,
atau

fisik.

Dalam

kesehatan

masyarakat,

penyakit

biasanya

diklasifikasikan sebagai penyakit akut atau kronis, atau sebagai


penyakit menular (infeksius) atau tidak menular (non-infeksius).
Penyakit menular (infeksius) merupakan penyakit yang agent biologis
atau produknya menjadi penyebab dan yang dapat ditularkan dari satu
individu ke individu lain. Proses penyakit dimulai saat agens siap
menetap dan tumbuh atau bereproduksi dengan tubuh pejamu. Proses
penetapan dan pertumbuhan mikroorganisme atau virus di dalam
tubuh pejamu adalah infeksi. Penyakit tidak menular (non-infeksius)
atau kesakitan merupakan penyakit yang tidak dapat ditularkan dari
orang yang terkena pada orang sehat yang rentan. Penetapan
penyebab penyakit tidak menular ini seringkali lebih sulit karena
adanya beberapa atau bahkan banyak faktor yang berkontribusi dalam
perkembangan kondisi kesehatan tidak menular.

Tabel 1. Etiologi diare akut infektif

PBL Blok 26 Community Medicine

Page 11

b) Host
Pejamu (host) adalah manusia yang mudah terkena atau rentan
(susceptible) terinfeksi suatu bibit penyakit yang menyebabkan sakit.
Faktor utama pada host yang mempengaruhi mudah tidaknya ia
terkena

penyakit

adalah

sistem

kekebalan

atau

imunitas

dan

perilakunya sendiri.2 Sistem kekebalan sendiri sangat dipengaruhi oleh


umur, jenis kelamin, status ekonomi, dan ras. Perilaku atau gaya hidup
host (seseorang) juga akan mempengaruhi timbulnya penyakit. Untuk
mengetahui apa yang diderita pasien, seorang dokter perlu melakukan
anamnesis. Anamnesis merupakan kumpulan informasi subjektif yang
diperoleh dari apa yang dipaparkan oleh pasien terkait dengan keluhan
utama yang menyebabkan pasien mengadakan kunjungan ke dokter. 7
Anamnesis

bisa

langsung

dilakukan

kepada

pasien

(disebut

autoanamnesis) atau kepada pihak pengantar pasien (alloanamnesis).


Komponen anamnesis komprehensif akan menyusun informasi yang
diperoleh dari pasien menjadi lebih sistematis. Akan tetapi ulasan
dibawah ini sebaiknya tidak mendikte rangkaian anamnesis yang akan
anda

lakukan

diklinik,

karena

biasanya

wawancara

akan

lebih

bervariasi dan anamnesis harus lebih dinamis mengikuti kebutuhan


pasien. Komponen anamnesis komprehensif mencakup:
Mencantumkan tanggal pengambilan anamnesis
Mencantumkan waktu pengambilan sangat penting dan pertama
kali dilakukan pada saat mencatat hasil anamnesis yang
dilakukan pada pasien, terutama dalam keadaan darurat atau
pada rumah sakit.
PBL Blok 26 Community Medicine

Page 12

Mengidentifikasi data pribadi pasien


Komponen ini mencakup nama, usia, dan jenis kelamin. Sumber
informasi dapat diperoleh dari pasien sendiri, anggota keluarga
atau

teman,

atasan,

konsultan,

atau

data

rekam

medis

sebelumnya.
Tingkat Reliabilitas (dapat dipercaya atau tidak)
Sebaiknya dicatat jika dapat diketahui. Komponen ini penting
untuk menentukan kualitas dari informasi yang diberikan oleh
pasien dan biasanya ditentukan pada akhir anamnesis.
Keluhan Utama
Keluhan utama merupakan salah satu dari beberapa keluhan
lainnya yang paling dominan sehingga mengakibatkan pasien
melakukan

kujungan

klinik.

Usahakan

untuk

mendokumentasikan kata-kata asli yang dipaparkan oleh pasien.


Anamnesis terpimpin
Anamnesis terpimpin merupakan infomasi yang lengkap, jelas,
detail, dan bersifat kronologik terkait dengan keluhan utama
yang dialami pasien. Komponen ini harus mencakupi onset
keluhan,

keadaan

yang

memicu

terjadinya

keluhan,

manifestasinya, dan pengobatan yang telah dilakukan. Gejala


yang didapatkan harus memiliki karakteristik yang menjelaskan
(1) lokasi; (2) kualitas; (3) kuantitas atau keparahan; (4) waktu
yang mencakup onset, durasi, dan frekuensi; (5) keadaan yang
memicu terjadinya keluhan; (6) faktor lain yang memperberat
atau memperingan gejala; (7) gejala lain yang terkait dengan
keluhan utama. Pengobatan yang telah dikonsumsi sebaiknya
didokumentasi, termasuk nama obat, dosis, cara pemberian, dan
frekuensi. Jika ia telah atau pernah berhenti, tanyakan sejak
kapan ia berhenti dan seberapa lama.
Riwayat Penyakit Dahulu
Penyakit pada masa kecil seperti cacar, rubella, mumps, polio,
dll perlu ditanyakan dalam anamnesis. Termasuk penyakit kronis
yang dialami sejak masa kecil. Selain itu, informasi mengenai
riwayat penyakit pada masa dewasa perlu didapatkan dan
mencakup empat hal yaitu sebagai berikut:

PBL Blok 26 Community Medicine

Page 13

i.

Riwayat medis, tanyakan mengenai adanya diabetes,


hipertensi, asma, hepatitis, HIV, dan informasi riwayat

ii.

opname.
Riwayat operasi, tanyakan mengenai waktu, indikasi, dan

iii.

jenis operasi yang dilakukan.


Riwayat
ginekologis,
tanyakan

mengenai

riwayat

obstetrik, riwayat menstruasi, keluarga berencana, dan


iv.

fungsi seksual.
Riwayat Psikiatrik, tanyakan mengenai waktu, diagnosis,

riwayat opname, dan pengobatan yang dijalani.


Riwayat Penyakit Pada Keluarga
Dalam memperoleh informasi ini, tanyakan mengenai usia,
penyebab kematian, atau penyakit yang dialami oleh keluarga
terdekat pasien seperti orang tua, kakek-nenek, saudara, anak,
atau cucu. Tanyakan mengenai keberadaan penyakit atau
keadaan yang dicantumkan berikut: hipertensi, penyakit jantung
koroner, dislipidemia, stroke, diabetes, gangguan tiroid atau
ginjal, kanker, arthritis, tuberkulosis, asma atau penyakit paru
lainnya, sakit kepala, kejang, gangguan mental, kecanduan
obat-obatan, dan alergi, serta keluhan utama yang dilaporkan
oleh pasien.
Faktor pejamu yang dapat menimbulkan diare akut terdiri atas
faktor-faktor daya tangkis dan lingkungan intern traktus intestinalis,
seperti

keasaman

lambung,

motilitas

usus,

imunitas,

dan

juga

mencakup lingkungan mikroflora usus, sekresi mukosa, dan enzim


percernaan.6 Kejadian diare akut pada anak laki-laki hampir sama
dengan anak perempuan. Penderita gizi buruk akan mengalami
penurunan produksi antibodi serta terjadinya atropi pada dinding usus
yang menyebabkan berkurangnya sekresi berbagai enzim sehingga
memudahkan masuknya bibit penyakit ke dalam tubuh terutama
penyakit diare. Pemberian makanan berupa ASI sampai bayi mencapai
usia 4-6 bulan, akan memberikan kekebalan kepada bayi terhadap
berbagai macam penyakit karena ASI adalah cairan yang mengandung
zat kekebalan tubuh yang dapat melindungi bayi dari berbagai
penyakit infeksi bakteri, virus, jamur dan parasit. Oleh karena itu,

PBL Blok 26 Community Medicine

Page 14

dengan adanya zat anti infeksi dari ASI, maka bayi ASI eksklusif akan
terlindungi dari berbagai macam infeksi baik yang disebabkan oleh
bakteri, virus, jamur dan parasit.
c) Environment
Lingkungan (environment) adalah situasi atau kondisi di luar agens dan
pejamu yang memudahkan terjadinya sakit pada pejamu. Lingkungan
dapat dibedakan menjadi lingkungan biologis, fisik, kimia, dan sosial. 3
Seperti pada kasus 4, lingkungan terjadinya KLB diare adalah di Desa
K. Penduduknya menggunakan air hujan dan sungai sebagai sumber
air, yang juga digunakan untuk mandi, cuci dan kakus, dan sumber air
minum. Dalam kasus ini, sungai dikatakan sebagai lingkungan biologis
yang memudahkan terjadinya sakit pada pejamu. Faktor lingkungan
yang berkaitan dengan penyebab terjadinya diare, meliputi sarana air
bersih (SAB), sanitasi jamban, saluran pembuangan air limbah (SPAL),
kualitas bakteriologis air, dan kondisi rumah. Sanitasi yang buruk
dituding sebagai penyebab banyaknya kontaminasi bakteri E.coli
dalam air bersih yang dikonsumsi masyarakat.
2. Person-Place-Time (PPT)
Person
(individu)
adalah
karakteristik
dari

individu

yang

mempengaruhi keterpaparan yang mereka dapatkan, berupa faktor genetik,


umur, jenis kelamin, pekerjaan, kebiasaan, dan status sosial ekonomi. Place
(tempat) berkaitan dengan karakteristik geografis. Time (waktu) dapat
dinyatakan dalam jam, hari, bulan, atau tahun. Informasi waktu dapat
menjadi pedoman tentang kapan kejadian timbul dalam masyarakat.
3. Frekuensi Distribusi-Determinan (FDD)
Frekuensi menunjuk pada besarnya masalah kesehatan yang terdapat
pada sekelompok masyarakat. Distribusi menunjuk pada pengelompokan
masalah
menunjuk

kesehatan
pada

berdasarkan

faktor

penyebab

suatu
dari

keadaan
suatu

tertentu.

penyakit

Determinan

atau

masalah

kesehatan, baik yang menjelaskan frekuensi, penyebaran, ataupun yang


menerangkan penyebab munculnya masalah itu sendiri.
Model jaring-jaring sebab akibat ingin menunjukkan apabila terjadi
perubahan dari salah satu faktor akan mengubah keseimbangan antara
mereka, yang berakibat bertambah atau berkurangnya penyakit yang
bersangkutan. Menurut model ini, suatu penyakit tidak bergantung pada satu
sebab yang berdiri sendiri tetapi sebagai akibat dari serangkaian proses

PBL Blok 26 Community Medicine

Page 15

sebab akibat. Dengan demikian, timbulnya penyakit dapat dicegah atau


dihentikan dengan memotong rantai pada berbagai titik.
Seperti halnya model jaring-jaring sebab akibat,

model

roda

memerlukan identifikasi dari berbagai faktor yang berperan dalam timbulnya


penyakit dengan tidak begitu menekankan pentingnya agens. Di sini
dipentingkan hubungan antara manusia dengan lingkungan hidupnya.

Penanggulangan Kejadian Luar Biasa


Penanggulangan KLB adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk menangani
penderita, mencegah perluasan kejadian dan timbulnya penderita atau kematian
baru pada suatu kejadian luar biasa yang sedang terjadi. 1 Penanggulangan KLB
dikenal dengan nama Sistem Kewaspadaan Dini (SKD-KLB), yang dapat diartikan
sebagai suatu upaya pencegahan dan penanggulangan KLB secara dini dengan
melakukan kegiatan untuk mengantisipasi KLB. Kegiatan yang dilakukan berupa
pengamatan yang sistematis dan terus-menerus yang mendukung sikap tanggap
atau waspada yang cepat dan tepat terhadap adanya suatu perubahan status
kesehatan masyarakat. Kegiatan yang dilakukan adalah pengumpulan data kasus
baru dari penyakit-penyakit yang berpotensi terjadi KLB secara mingguan sebagai
upaya SKD-KLB. Data-data yang telah terkumpul dilakukan pengolahan dan analisis
data untuk penyusunan rumusan kegiatan perbaikan oleh tim epidemiologi.

Gambar 3. Program Penangggulangan KLB

PBL Blok 26 Community Medicine

Page 16

Sumber: Peraturan Menteri Republik Indonesia No. 949/Menkes/SK/VIII/2004.


Pedoman penyelengaraan sistem kewaspadaan dini kejadian luar biasa. Agustus
2004.

Tahapan penanggulangan KLB, yaitu:


1. Isolasi Kasus
Diare akut karena infeksi bakteri yang mengandung atau memproduksi toksin
akan menyebabkan diare sekretorik dengan atau tanpa demam yang
umumnya ringan, disertai atau tanpa nyeri (kejang perut), dengan feses
lembek/cair.6 Umumnya gejala diare sekretorik timbul dalam beberapa jam
setelah

makan/minum

yang

terkontaminasi.

Diare

sekretorik

yang

berlangsung beberapa waktu tanpa penanggulangan medis yang adekuat


dapat

menyebabkan

kematian

karena

kekurangan

cairan

yang

mengakibatkan renjatan hipovolemik atau karena gangguan biokimiawi


berupa asidosis metabolik yang lanjut. Karena kehilangan cairan seseorang
akan merasa haus, berat badan berkurang, mata menjadi cekung, serta suara
menjadi

serak.

Sedangkan

kehilangan

karbonas

dan

asam

karbonas

berkurang yang mengakibatkan penurunan pH darah. Penurunan ini akan


merangsang pusat pernapasan sehingga frekuensi nafas lebih cepat dan
lebih dalam (pernafasan Kussmaul). Gangguan kardiovaskular pada tahap
hipovolemik yang berat dapat berupa renjatan dengan tanda-tanda denyut
nadi yang cepat (>120/menit), tekanan darah menurun sampai tak terukur.
Bakteri yang invasif akan menyebabkan diare yang disebut diare inflamasi
dengan gejala mual, muntah, dan demam yang tinggi, disertai nyeri perut,
tenesmus, diare yang disertai lendir dan darah.
2. Mengobati kasus
Pada kasus diare, ada tiga tahapan penatalaksanaan, yaitu:
a) Rehidrasi oral
Penggunaan terapi rehidrasi oral (TRO) telah semakin luas diterima di
seluruh dunia karena merupakan terapi yang cepat, aman, efektif, dan
murah untuk diare. Larutan rehidrasi yang optimal harus dapat
mengganti air, natrium, kalium, dan bikarbonat, dan larutan tersebut
juga harus isotonik atau hipotonik. Penambahan glukosa ke dalam
larutan meningkatkan penyerapan natrium dengan memanfaatkan
kotransportasi natrium yang digabungkan dengan glukosa, yang

PBL Blok 26 Community Medicine

Page 17

maksimal apabila konsentrasi glukosa tidak lebih daripada 110 sampai


140 mmol/L. Kontraindikasi pemakaian TRO adalah syok, volume tinja
lebih dari 10 mL/kg/jam, ileus, atau intoleransi monosakarida. 7,8
b) Pemulihan diet
Setelah rehidrasi yang adekuat tercapai, masalah berikutnya yang
perlu diatasi adalah pemulihan makanan yang normal sesuai usia.
Pilihan makanan awal mungkin mencakup makanan yang mudah
diserap, misalnya nasi dan mi gandum serta makanan komplementer,
seperti pisang (yang banyak mengandung kalium). 7,8
c) Obat antidiare
Terdapat tiga kategori obat diare, yaitu obat intralumen, antimotilitas,
dan antisekretorik. Obat intralumen yang paling luas digunakan adalah
suspensi tanah liat atau silikat yang berfungsi sebagai adsorben
(penyerap). Opiat, termasuk paregorik serta obat sintetik, seperti
kodein, difenoksilat, dan loperamid sering digunakan sebagai obat
antimotilitas untuk pengobatan diare ringan pada orang dewasa
sehingga karena efek sampingnya jangan digunakan pada anak-anak.
Okteotrid sangat efektif dalam menghambat diare sekretorik yang
berkaitan dengan tumor penghasil hormon dan dalam mengurangi
volume diare akibat AIDS.7,8
3. Pencegahan Kasus
Ada tingkat pelaksanaan tindakan pencegahan dalam pengendalian penyakit,
yaitu:
a) Pencegahan primer, tujuannya untuk mencegah awitan suatu penyakit
selama masa prapatogenesis. Pencegahan primer meliputi health
promotion dan spesific protection. Health promotion merupakan suatu
tindakan preventif yang dilakukan pada saat masih sehat sehingga
tidak menjadi sakit, seperti perilaku sehat (cuci tangan sebelum
makan), olahraga, kebersihan lingkungan, dll). Spesific protection
merupakan tindakan preventif yang dilakukan pada saat masih sehat
sehingga tidak sakit dengan menggunakan suatu alat pelindung
khusus, seperti melakukan vaksinasi terhadap penyakit tertentu.
b) Pencegahan sekunder adalah diagnosis dini dan pengobatan segera
penyakit sebelum penyakit itu berkembang dan disabilitas menjadi
parah. Salah satu tindakan pencegahan sekunder yang paling penting
adalah

skrinning

kesehatan.

PBL Blok 26 Community Medicine

Tujuan

skrinning

ini

bukan

untuk

Page 18

mencegah terjadinya tetapi lebih untuk mendeteksi keberadaannya


selama masa patogenesis awal, sehingga intervensi (pengobatan) dini
dan pembatasan disabilitas dapat dilakukan.
c) Pencegahan tersier bertujuan untuk melatih
kembali,

dan

merehabilitasi

pasien

yang

kembali,

mengalami

mendidik
disabilitas

permanen. Tindakan pencegahan tersier mencakup tindakan yang


diterapkan setelah berlangsungnya masa patogenesis.
4. Surveilans
Surveilans epidemiologi adalah kegiatan pengamatan

secara

sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau masalah-masalah


kesehatan serta kondisi yang mempengaruhi risiko terjadinya penyakit atau
masalah-masalah

kesehatan

tersebut agar

dapat

melakukan

tindakan

penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan,


pengolahan

data

dan

penyebaran

informasi

epidemiologi

kepada

penyelenggara program kesehatan. Tujuan surveilans adalah mengetahui


perubahan epidemiologi

kasus, mengidentifikasi populasi risiko tinggi,

memprediksi dan mencegah terjadinya KLB, dan penyelidikan epidemiologi


setiap KLB. Surveilans penyakit di tingkat desa dilaksanakan oleh kelompok
kerja surveilans tingkat desa, dengan melakukan kegiatan pengamatan dan
pemantauan situasi penyakit/kesehatan masyarakat desa dan kemungkinan
ancaman terjadinya KLB secara terus menerus. Pemantauan tidak hanya
sebatas penyakit tetapi juga dilakukan terhadap faktor risiko munculnya
suatu penyakit.
Ada dua jenis surveilans, yaitu surveilens sindromik dan surveilens
penyakit menular. Surveilans sindromik merupakan awal dari sistem deteksi
dini penyakit menular. Surveilens sindromik itu penting karena dengan
mencatat dan mendata secara rapi, kemunculan penyakit menular dapat
ditemukan sejak awal. Jika deteksi dini dapat dilakukan, koordinasi dengan
ahli pun dapat dilakukan dengan cepat, gangguan akibat meluasnya wabah
antara lain berupa penularan massal serta penularan sekunder dapat
dikendalikan

sebelum

meluas.

Surveilans

penyakit

menular

adalah

pengamatan dan analisis tren kemunculan penyakit menular dengan cara


memahami kondisi munculnya penyakit berdasarkan diagnose, peraturan
perundang-undangan terkait pencegahan penyakit menular dan pengobatan
terhadap pasien penyakit menular. Jenis laporan surveilans penyakit menular

PBL Blok 26 Community Medicine

Page 19

dapat berupa: W1 (KLB/Wabah), W2 dan EWARS (mingguan), STP (bulanan).


Strategi surveilans meliputi:
a) Surveilans Rutin
Surveilans rutin merupakan pengamatan epidemiologi kasus diare
yang telah dilakukan secara rutin selama ini berdasarkan sumber data
rutin yang telah ada serta sumber data lain yang mungkin dapat
dijangkau pengumpulannnya.
b) SKD dan Respon KLB
Pelaksanaan SKD dan Respon KLB campak dilakukan setelah diketahui
atau adanya laporan 1 kasus pada suatu daerah serta pada daerah
yang memiliki populasi rentan lebih 5%.
c) Penyelidikan dan penanggulangan setiap KLB
Setiap KLB harus diselidiki dan dilakukan penanggulangan secepatnya
yang meliputi pengobatan simtomatis pada kasus, pengobatan dengan
antibiotika bila terjadi komplikasi, pemberian vitamin A dosis tinggi,
perbaikan gizi dan meningkatkan cakupan imunisasi campak/ring
vaksinasi (program cepat,sweeping) pada desa-desa risiko tinggi.
d) Pemeriksaan laboratorium pada kondisi tertentu
Contoh: pada tahap reduksi campak dengan pencegahan KLB,
pemeriksaan laboratorium dilakukan terhadap 10 15 kasus baru pada
setiap KLB. Pada tahap eliminasi/eradikasi, setiap kasus campak
dilakukan pemeriksaan laboratorium.
e) Studi epidemiologi
Melakukan survei cepat, penelitian operasional atau operational
research (OR) sebagai tindak lanjut hasil analisis surveilans untuk
melengkapi data/informasi surveilans yang diperlukan sebagai dasar
pengambilan keputusan dalam perbaikan program (corrective action).
Pelayanan Kesehatan Primer
Untuk

dapat

memberikan

pelayanan

kesehatan

secara

menyeluruh

(comprehensive health care services) kepada seluruh masyarakat di wilayah


kerjanya, Puskesmas menjalankan beberapa usaha pokok (basic health care
services) yang meliputi 12 program sebagai berikut: kesehatan ibu dan anak (KIA),
keluarga berencana (KB), pemberantasan penyakit menular (P2M), peningkatan gizi,
kesehatan lingkungan (kesling), pengobatan, penyuluhan kesehatan masyarakat,
laboratorium, kesehatan sekolah, perawatan kesehatan masyarakat, kesehatan

PBL Blok 26 Community Medicine

Page 20

jiwa, dan kesehatan gigi.3 Dari ke-12 program pokok Puskesmas, dipilihlah empat
program yang sesuai dengan kasus 4, yaitu:
1. Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
Tujuan umum dari KIA adalah menurunkan kematian (mortality) dan
kejadian sakit (morbidity) di kalangan ibu serta meningkatkan derajat
kesehatan anak, melalui pemantauan status gizi dan pencegahan sedini
mungkin berbagai penyakit menular yang bisa dicegah dengan imunisasi
dasar sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Sasaran
primernya adalah ibu hamil, ibu menyusui, anak-anak (sampai dengan usia 5
tahun), sedangkan sasaran sekunder adalah dukun beranak dan kader
kesehatan. Jumlah sasaran ibu hamil dan anak ditetapkan menggunakan dua
cara, yaitu pendataan langsung dan perkiraan (estimasi).
Kegiatan KIA terdiri dari kegiatan pokok dan kegiatan integratif.
Kegiatan integratif adalah kegiatan program lain (misalnya kegiatan imunisasi
merupakan kegiatan pokok P2M) yang dilaksanakan pada program KIA karena
sasran penduduk program P2M juga menjadi sasaran program KIA. Kegiatan
KIA terdiri dari:
a) Memeriksa kesehatan ibu hamil (ANC).
b) Mengamati perkembangan dan pertumbuhan

anak-anak

balita

(integrasi program gizi).


c) Memberikan nasihat tentang makanan, mencegah timbulnya masalah
gizi karena kekurangan protein dan kalori.
d) Memperkenalkan jenis makanan tambahan

(vitamin

dan

garam

yodium) Integrasi program PKM dan gizi.


e) Memberikan pelayanan KB kepada pasangan usia subur Integrasi
program KB.
f) Merujuk para ibu atau anak-anak yang memerlukan pengobatan
Integrasi program pengobatan.
g) Memberikan pertolongan persalinan dan bimbingan selama nifas
Integrasi dengan program perawatan kesehatan masyarakat.
h) Mengadakan latihan untuk dukun bersalin.
2. Pemberantasan Penyakit Menular (P2M)
Di berbagai wilayah di Indonesia terdapat perbedaan tingkat dan jenis
endemisitas penyakit menular. Tujuan dari program P2M adalah menemukan
kasus penyakit menular sedini mungkin dan mengurangi berbagai risiko
kesehatan masyarakat yang memudahkan terjadinya penyebaran suatu
penyakit menular.3 Sasaran primernya adalah ibu hamil, balita, dan anak-

PBL Blok 26 Community Medicine

Page 21

anak sekolah untuk kegiatan imunisasi, sedangkan sasaran sekunder adalah


lingkungan pemukiman masyarakat.
3. Peningkatan Gizi
Masalah gizi masih cukup rawan di beberapa wilayah di Indonesia,
terutama di wilayah pemukiman kumuh. Tujuan program peningkatan gizi
adalah meningkatkan status gizi masyarakat melalui upaya pemantauan
status gizi kelompok-kelompok masyarakat yang mempunyai risiko tinggi,
pemberian makanan tambahan, baik yang bersifat penyuluhan maupun
pemulihan.3 Sasarannya adalah ibu hamil, ibu menyusui, anak-anak (sampai
dengan usia 5 tahun).
4. Kesehatan Lingkungan
a) Menyediakan Air Bersih
Air merupakan kebutuhan dasar yang dipergunakan sehari-hari untuk
minum, mandi, cuci, dan keperluan lainnya. Air merupakan suatu unsur
yang sangat penting dalam aspek kesehatan masyarakat, dimana air
dapat menjadi sumber dan tempat perindukan dan media kehidupan
bibit penyakit. Banyak penyakit terkait dengan air, baik air kotor dan
bahkan juga air yang bersih secara fisik, seperti diare. kimiawi. Secara
fisik,

air

harus

memenuhi

syarat

berikut:

tidak

berwarna

(bening/jernih), tidak keruh (bebas dari lumpur, sampah, busa, dll),


tidak berasa (asin, pahit, asam), tidak berbau (amis, anyir, busuk,
belerang, dll). Kegiatan yang dapat dilakukan, antara lain:
Perlindungan terhadap sumber mata air yang

digunakan

penduduk, misalnya dengan kaporitisasi sumur.


Penyuluhan melalui demonstrasi tentang pembuatan sumur.
Penyediaan sumur pompa tangan, baik dangkal maupun dalam,
sarana air minum, dan sebagainya.
Mengadakan penyuluhan kesehatan tentang air minum sehat.
b) Memperbaiki sistem pembuangan kotoran manusia
Kementerian Kesehatan telah menetapkan syarat dalam membuat
jamban sehat. Ada tujuh kriteria yang harus diperhatikan, yaitu:
Tidak mencemari air, artinya:
o Saat menggali tanah untuk lubang kotoran, usahakan
agar dasar lubang kotoran tidak mencapai permukaan air
tanah maksimum. Jika keadaan terpaksa, dinding dan
dasar lubang kotoran harus dipadatkan dengan tanah liat
atau diplester.

PBL Blok 26 Community Medicine

Page 22

Jarang lubang kotoran ke sumur sekurang-kurangnya 10

meter
Letak lubang kotoran lebih rendah daripada letak sumur
agar air kotor dari lubang kotoran tidak merembes dan

mencemari sumur.
Tidak membuang air kotor dan buangan air besar ke

dalam selokan, empang, danau, sungai, dan laut


Tidak mencemari tanah permukaan, artinya:
o Tidak buang besar di sembarang tempat, seperti kebun,
pekarangan, dekat sungai, dekat mata air, atau pinggir
o

jalan.
Jamban yang sudah penuh agar segera disedot untuk
dikuras kotorannya, atau dikuras, kemudian kotoran

ditimbun di lubang galian.


Bebas dari serangga
o Jika menggunakan bak air

atau

penampungan

air,

sebaiknya dikuras setiap minggu. Hal ini penting untuk


o

mencegah bersarangnya nyamuk demam berdarah.


Ruangan dalam jamban harus terang. Bangunan yang

gelap dapat menjadi sarang nyamuk.


Lantai jamban diplester rapat agar tidak terdapat celahcelah yang bisa menjadi sarang kecoa atau serangga

o
o

lainnya.
Lantai jamban harus selalu bersih dan kering.
Lubang jamban, khususnya jamban cemplung, harus

tertutup
Tidak menimbulkan bau dan nyaman digunakan, artinya:
o Jika menggunakan jamban cemplung, lubang jamban
o

harus ditutup setiap selesai digunakan.


Jika menggunakan jamban leher angsa, permukaan leher

angsa harus tertutup rapat oleh air.


Lubang buangan kotoran sebaiknya dilengkapi dengan
pipa ventilasi untuk membuang bau dari dalam lubang

kotoran.
Lantan jamban harus kedap air dan permukaan bowl licin.

Pembersihan harus dilakukan secara periodik.


Aman digunakan oleh pemakainya, artinya:
o Pada tanah yang mudah longsor, perlu ada penguat pada
dinding lubang kotoran dengan pasangan batau atau

PBL Blok 26 Community Medicine

Page 23

selongsong anyaman bambu atau bahan penguat lai yang


terdapat di daerah setempat.
Mudah dibersihkan dan tak menimbulkan

gangguan

bagi

pemakainya, artinya:
o Lantai jamban rata dan miring ke arah saluran lubang
o

kotoran.
Jangan membuang plastik, puntung rokok, atau benda lain

ke saluran kotoran karena dapat menyumbat saluran.


Jangan mengalirkan air cucian ke saluran atau lubang

kotoran karena jamban akan cepat penuh.


Hindarkan cara penyambungan aliran dengan sudut mati.
Gunakan pipa berdiameter minimal 4 inci. Letakkan pipa

dengan kemiringan minimal 2:100.


Tidak menimbulkan pandangan yang kurang sopan, artinya:
o Jamban harus berdinding dan berpintu
o Dianjurkan agar bangunan jamban beratap sehingga
pemakainya terhindar dari kehujanan dan kepanasan.

PBL Blok 26 Community Medicine

Page 24

Gambar 5. Syarat Jamban Sehat


Sumber: http://promkes-banyuurip.blogspot.com/2011_03_01_archive.html

c) Pembuangan Sampah
Sampah adalah limbah yang bersifat padat, terdiri dari bahan
yang bias membusuk (organik) dan tidak membusuk (anorganik) yang
dianggap sudah tidak berguna lagi dan harus dikelola agar tidak
membahayakan lingkungan dan masyarakat. Sampah harus dikelola
dengan baik dan benar, karena bila tidak akan dapat menjadi tempat
perindukan vektor bibit penyakit. Untuk pedesaan, pada umumnya
sampah biasanya ditangani dengan beberapa cara, yaitu dibakar,
dibuang ke lubang galian, atau dibuat kompos. Kegiatan pembuangan
sampah

dilaksanakan

bekerjasama

dengan

kelompok-kelompok

masyarakat. Masyarakat digerakkan untuk melakukan pembuangan


sampah yang baik sehingga sampah tidak lagi mencemari lingkungan
pemukiman mereka.3

PBL Blok 26 Community Medicine

Page 25

Namun dengan berkembangnya dunia usaha dan juga ilmu


pengetahuan,

kini

sampah

dapat

dikelola

dengan

lebih

menguntungkan, yaitu yang dikenal dengan istilah pendekatan 3R


(reduce, reuse dan recycle). Reduce adalah upaya pengelolaan
sampah dengan cara mungurangi volume sampah itu sendiri. Cara ini
sifatnya lebih mengarah ke pendekatan pencegahan. Contoh: kalo beli
sayuran pilihlah sayuran yang sesedikit mungkin dibuang, kalo ambil
makanan jangan berlebihan, sehingga akan mengurangi makanan
yang menjadi sampah. Reuse adalah suatu cara untuk menggunakan
kembali sampah yang ada, untuk keperluan yang sama atau fungsinya
yang sama. Contoh: botol sirop digunakan kembali untuk botol sirop,
atau untuk botol kecap. Tentunya proses ini harus dilakukan dengan
baik, missal dengan dicuci yang benar. Recycle adalah pemanfaatan
limbah melalui pengolahan fisik atau kimia, untuk menghasilkan
produk yang sama atau produk yang lain. Contoh: sampah organik
diolah menjadi kompos, besi bekas diolah kembali menjadi barangbarang seni dari besi, dll.
d) Pengawasan terhadap tempat-tempat umum
Pengawasan biasanya dilakukan di

perusahaan-perusahaan

penghasil limbah cair, tempat pengolahan dan penjualan makanan,


tempat-temapt

umum,

dan

sanitasi

lingkungan.

Kegiatan

ini

dikoordinasikan secara lintas sektoral terutama dengan camat. 3


Limbah cair rumah tangga dapat berasal dari kamar mandi, peturasan,
cucian barang/bahan dari dapur rumah tangga. Dalam pengertian ini
limbah cair ini tidak termasuk limbah cair yang berasal dari jamban
keluarga. Limbah cair dari kegiatan rumah tangga volumenya relatif
sedikit dibanding dengan luas lahan yang ada di desa tersebut. Namun
demikian limbah cair tersebut tetap harus dikelola, karena kalo
dibuang sembarangan akan membuat lingkungan kotor, berbau, dan
mengurangi estetika dan kebersihan lingkungan. Limbah cair harus
dikelola dengan baik dan benar, karena bila tidak akan dapat menjadi
tempat perindukan vektor bibit penyakit penyakit.
Promosi Kesehatan

PBL Blok 26 Community Medicine

Page 26

Dalam konteks kesehatan, promosi berarti upaya memperbaiki kesehatan


dengan cara memajukan, mendukung, dan menempatkan kesehatan lebih tinggi
dari agenda, baik secara perorangan maupun secara kelompok. Definisi WHO,
berdasarkan piagam Ottawa/Ottawa Charter (1986) mengenai promosi kesehatan
sebagai hasil Konferensi Internasional Promosi Kesehatan di Ottawa Canada adalah
sebagai berikut: Health promotion is the process of enabling people to control over
and improve their health. To reach a state of complete physical, mental, and social
well-being, an individual or group must be able to identify and realize aspiration, to
satisfy needs, and to change or cope with the environment. 9 Berdasarkan definisi
tersebut, WHO menekankan bahwa promosi kesehatan merupakan suatu proses
yang bertujuan memungkinkan individu meningkatkan kontrol terhadap kesehatan
dan

meningkatkan

kesehatannya

berbasis

filosofi

yang

jelas

mengenai

pemberdayaan diri sendiri.


Promosi kesehatan meliputi dan merangkum pengertian dari pendidikan
kesehatan, penyuluhan kesehatan, komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE), dan
istilah lainnya. Sasaran promosi kesehatan terdiri dari sasaran primer, sekunder,
dan tersier. Sasaran primer adalah sasaran yang mempunyai masalah, yang
diharapkan mau berperilaku sesuai harapan dan memperoleh manfaat paling besar
dari perilaku tersebut. Dalam kasus 4, sasaran primer adalah penduduk yang
terkena diare dan balita yang terkena campak. Sasaran sekunder adalah individu
atau kelompok yang memiliki pengaruh atau disegani oleh sasaran primer. Sasaran
sekunder, seperti ketua RT, RW, Lurah, dan Camat, diharapkan mampu mendukung
pesan-pesan yang disampaikan kepada sasaran primer. Sasaran tersier adalah para
pengambil kebijakan, penyandang dana, pihak-pihak yang berpengaruh di berbagai
tingkatan pemerintahan.9
Kegiatan PKM dilaksanakan secara integratif dengan semua usaha pokok
puskesmas karena semua program memerlukan komponen kegiatan penyuluhan
untuk kelompok-kelompok sasaran program. Di tingkat kabupaten, disediakan
tenaga

koordinator

PKM

yang

akan

membantu

petugas

PKM

puskesmas

mengembangkan usaha pokok kesehatan dalam rangka peningkatan peran serta


masyarakat. Bantuan tenaga PKM dari Dinkes tingkat II biasanya diberikan apabila
di wilayah kerja puskesmas timbul KLB penyakit menular. Karena kegiatan PKM
adalah bagian integral dari semua program pokok puskesmas, semua staf
PBL Blok 26 Community Medicine

Page 27

puskesmas harus mampu melaksanakannya, baik sasarannya individu pasien


maupun kelompok-kelompok masyarakat sasaran program. Tetapi kenyataannya di
puskesmas masih sulit mengembangkan kegiatan PKM karena berbagai kendala,
kecuali terjadi wabah (KLB). PKM sebaiknya merupakan kegiatan rutin dilakukan
oleh staf, jangan hanya dilaksanakan pada saat timbulnya KLB penyakit menular.

Menurut Notoatmodjo (1993) dan WHO (1992), metode pendidikan kesehatan


diklasifikasikan menjadi tiga bagian, yaitu:3
1. Metode pendidikan individu
a) Bimbingan dan konseling (guidance and counseling) serta wawancara.
Bimbingan berisi penyampaian informasi yang berkenaan dengan
masalah pendidikan, pekerjaaan, pribadi, dan masalah sosial yang
disajikan dalam bentuk pelajaran. Konseling memungkinkan peserta
didik mengenal dan menerima diri sendiri serta realistis dalam proses
penyelesaian dengan lingkungannya.
b) Wawancara yang sebenarnya bagian dari bimbingan dan konseling.
2. Metode pendidikan kelompok
a) Ceramah adalah pidato yang disampaikan oleh seorang pembicara
dalam waktu yang terbatas di depan sekelompok pendengar biasanya
orang dewasa yang memahami kata-kata yang digunakan pembicara.
Namun cara ini sulit diterapkan pada anak-anak, kurang menarik
minat, dan menghalangi respon pendengar.
b) Seminar adalah presentasi dari satu atau beberapa ahli tentang suatu
topik yang dianggap penting dan dianggap hangat di masyarakat.
Metode ini hanya cocok untuk sasaran kelompok besar dengan
pendidikan menengah ke atas.
c) Diskusi kelompok adalah percakapan terencana di antara tiga orang
atau lebih dan salah satunya sebagai pemimpin diskusi. Ini merupakan
pendekatan demokratis dan tiap anggota dapat mengemukakan
pendapat.

PBL Blok 26 Community Medicine

Page 28

d) Curah pendapat adalah semacam pemecahan masalah ketika tiap


anggota mengusulkan dengan cepat semua kemungkinan pemecahan
yang dipikirkan. Metode ini cocol digunakan untuk membangkitkan
pikiran kreatif, merangsang partisipasi, dan menciptakan suasana yang
menyenangkan dalam kelompok.
e) Snowball
dilakukan
dengan

membagi

secara

berpasangan,

mendiskusikan masalah dan mencari kesimpulan. Selanjutnya, setiap


dua pasang yang sudah beranggotakan empat orang ini bergabung
lagi dengan pasangan lainnya, demikian seterusnya akhirnya terjadi
diskusi seluruh kelas.
f) Buzz group dilakukan dengan membagi kelompok sasaran yang lebih
besar menjadi kelompok kecil, kemudian membahas suatu masalah
dan melaporkan hasilnya kepada kelompok besar.
g) Role play adalah permainan sebuah situasi dalam hidup manusia
mengenai kasus tertentu. Hal ini sulit diterapkan karena banyak yang
tidak senang memainkan peran dan dibutuhkan pemimpin yang
terlatih.
h) Simulasi adalah suatu cara peniruan karakteristik atau perilaku
sehingga

para

sebenarnya.
3. Metode pendidikan

peserta
massa

dapat

dilakukan

bereaksi
dengan

seperti
ceramah

pada

keadaan

umum

yaitu

memberikan pidato di hadapan massa dengan sasaran yang sangat besar.


Kesimpulan
Dalam penyelidikan epidemiologi (PE), setiap kasus penyakit yang dinyatakan
sebagai KLB/wabah dapat diketahui penyebab, tahu cara terjadinya, tahu sumber
terjadinya dan tahu faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pada individu
sebagai host dari kasus penyakit yang terjadi. Dengan mengerti dan memahami ini
semua maka upaya pencegahan dapat dilakukan, kasus penyakit tidak akan muncul
dengan penyebab yang sama.

PBL Blok 26 Community Medicine

Page 29

Daftar Pustaka
1. Departemen Kesehatan RI. Peraturan Menteri Republik Indonesia No.
949/Menkes/SK/VIII/2004

tentang

pedoman

kewaspadaan dini kejadian luar biasa.


2. Departemen Kesehatan RI. Keputusan
I/PD.03.04/1999

tentang

pedoman

penyelengaraan

Dirjen

PPM&PLP

penyelidikan

sistem

No.

451-

epidemiologi

dan

penanggulangan KLB.
3. Muninjaya AAG. Manajemen kesehatan. Jakarta : EGC; 1999. h. 115 38.
4. Prasetyawati AE. Ilmu kesehatan masyarakat untuk kebidanan holistik
(integrasi commnity oriented ke family oriented). Yogyakarta : Nuha Medika;
2011. h. 253 61.
5. Soegijanto S. Campak. Dalam : Ranuh IGN, Suyitno H, Hadinegoro SRS,
Kartasasmita

CB,

Ismoedijanto,

Soedjamtmiko.

Pedoman

imunisasi

di

Indonesia. Edisi ke-3. Jakarta : Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2008. h. 171
7.
6. Budi Setiawan. Diare akut karena infeksi. Dalam : Sudoyo AW, Setyohadi B,
Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi ke-5. Jilid
ke-3. Jakarta : InternaPublishing; 2009. h. 2836 42.
7. Bickley LS. Bates : buku ajar pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan. Edisi
ke-8. Jakarta : EGC; 2009. h. 392 406.
8. Maulana HDJ. Promosi kesehatan. Jakarta : EGC; 2009. h. 13 42.

PBL Blok 26 Community Medicine

Page 30

9. Cohen MB. Evaluasi pada anak dengan diare akut. Dalam : Alper A, et al.
Buku ajar pediatri rudolph. Edisi ke-20. Jakarta : EGC; 2006. h. 1142 7.

PBL Blok 26 Community Medicine

Page 31