Anda di halaman 1dari 26

perpustakaan.uns.ac.

id

digilib.uns.ac.id

BAB II
KAJIAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka
1. Dasar-dasar Komposit
a. Pengertian Komposit
Menurut Gibson (1994) material komposit adalah perpaduan dari
bahan yang dipilih berdasarkan kombinasi sifat fisik masing-masing
material penyusun untuk menghasilkan material baru dengan sifat yang unik
dibandingkan sifat material dasar sebelum dicampur dan terjadi ikatan
permukaan antara masing-masing material penyusun.
Karakteristik dan sifat komposit dipengaruhi oleh material-material
yang menyusunnya. Interaksi antar unsur-unsur penyusun komposit, yaitu
serat dan matrik sangat berpengaruh terhadap kekuatan ikatan antarmuka.
Kekuatan ikatan antarmuka yang optimal antara matrik dan serat merupakan
aspek yang penting dalam penunjukan sifat-sifat mekanik komposit.
Material komposit terdiri dari lebih dari satu tipe material dan
dirancang untuk mendapatkan kombinasi karakteristik terbaik dari setiap
komponen penyusunnya. Penggabungan material yang berbeda bertujuan
untuk menemukan material baru yang mempunyai sifat antara material
penyusunnya yang tidak akan diperoleh jika material penyusunnya
berdiri sendiri. Sifat material hasil penggabungan ini diharapkan saling
memperbaiki kelemahan dan kekurangan material penyusunnya. Bahan
komposit memiliki banyak keunggulan, diantaranya berat yang lebih ringan,
kekuatan dan ketahanan yang lebih tinggi, tahan korosi dan ketahanan aus.
Dapat disimpulkan bahwa komposit merupakan kombinasi dari dua
bahan atau lebih yang apabila di gabungkan secara makroskopis akan di
dapat material baru. Namun apabila di gabungkan secara mikroskopis hanya
akan di dapat suatu alloy / paduan.
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

7
b. Bagian-Bagian Utama Dari Komposit
1) Serat
Serat berperan sebagai penyangga kekuatan dari struktur
komposit, beban yang awalnya diterima oleh matrik kemudian diteruskan
ke serat oleh karena itu serat harus mempunyai kekuatan tarik dan
elastisitas yang lebih tinggi daripada matrik. Serat secara umum terdiri
dari dua jenis yaitu serat alam dan serat sintetis.
Serat alam adalah serat yang dapat langsung diperoleh dari
alam. Biasanya berupa serat yang dapat langsung diperoleh dari tumbuhtumbuhan dan binatang. Serat ini telah banyak digunakan oleh manusia
diantaranya adalah kapas, wol, sutera, pelepah pisang, sabut kelapa, ijuk,
bambu, nanas dan kenaf atau goni. Keunggulan serat alam sebagai filler
komposit dibandingkan dengan serat sintetis sudah dapat diterima dan
mendapat perhatian khusus dari para ahli material di dunia. Keunggulan
tersebut antara lain densitas rendah, harga lebih murah, ramah
lingkungan, dan tidak beracun. Serat alam memiliki kelemahan yaitu
ukuran serat yang tidak seragam, kekuatan serat sangat dipengaruhi oleh
usia.
Serat sintetis adalah serat yang dibuat dari bahan-bahan
anorganik dengan komposisi kimia tertentu. Serat sintetis mempunyai
beberapa kelebihan yaitu sifat dan ukurannya yang relatif seragam,
kekuatan serat dapat diupayakan sama sepanjang serat. Serat sintetis
yang telah banyak digunakan antara lain serat gelas, serat karbon, kevlar,
nylon, dan lain-lain (Rianto, 2011).
2) Matriks
Matriks dalam susunan komposit bertugas melindungi serat agar
dapat bekerja dengan baik. Matriks harus bisa meneruskan beban dari
luar ke serat. Umumnya matriks terbuat dari bahan-bahan yag lunak dan
liat. Polimer (plastik) merupakan bahan umum yang biasa digunakan
sebagai matrik. Matriks biasanya juga dipilih dari kemampuan menahan
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

8
panas. Polyester dan epoksi adalah bahan-bahan polimer yang sejak
dahulu telah dipakai sebagai bahan matriks.
Menurut Gibson (1994), bahwa matrik dalam struktur komposit
dapat berasal dari bahan polimer, logam, maupun keramik. Syarat utama
yang harus dimiliki oleh bahan matrik adalah bahan matrik tersebut harus
dapat meneruskan beban, sehingga serat harus bisa melekat pada matrik
dan kompatibel antara serat dan matrik. Umumnya matrik yang dipilih
adalah matrik yang memiliki ketahanan panas yang tinggi.
Persyaratan di bawah ini perlu dipenuhi sebagai bahan matriks
untuk bahan komposit :
a) Resin yang dipakai memiliki viskositas rendah sesuai dengan bahan
penguat.
b) Dapat diukur pada temperature kamar dalam waktu yang optimal.
c) Mempunyai penyusutan yang kecil pada pengawetan.
d) Memiliki kelengketan yang baik dengan bahan penguat.
Dalam proses pembuatan material komposit, matrik harus
memiliki kemampuan meregang yang lebih tinggi dibandingkan dengan
serat. Apabila tidak demikian, maka material komposit tersebut akan
mengalami patah pada bagian matriknya terlebih dahulu. Akan tetapi
apabila hal itu dipenuhi, maka material komposit tersebut akan patah
secara alami bersamaan antara serat dan matrik.
c. Klasifikasi Komposit
1) Berdasarkan struktur penyusunnya
Komposit dibedakan menjadi 5 kelompok menurut bentuk
struktur dari penyusunnya (Rianto, 2011), yaitu:
a) Komposit Serat (fiber composite)
Komposit

serat

merupakan

jenis

komposit

yang

menggunakan serat sebagai bahan penguatnya. Dalam pembuatan


komposit, serat dapat diatur memanjang (unidirectional composites)
atau dapat dipotong kemudian disusun secara acak (random fibers)
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

9
serta juga dapat dianyam (cross-ply laminate). Komposit serat sering
digunakan dalam industri otomotif dan pesawat terbang.

a. unidirectional fiber composite b. random fiber composite


Gambar 2.1. Komposit Serat
(Sumber: Yanu Rianto, 2011: 8)
b) Komposit Serpih (flake composite)
Flake Composites adalah komposit dengan penambahan
material berupa serpih kedalam matriksnya. Flake dapat berupa
serpihan mika, glass dan metal.

Gambar 2.2. Komposit serpih


(Sumber: Yanu Rianto, 2011: 8)
c) Komposit Butir (particulate composite)
Particulate composites adalah salah satu jenis komposit di
mana dalam matrik ditambahkan material lain berupa serbuk/butir.
Perbedaan dengan flake dan fiber composites terletak pada distribusi
dari material penambahnya. Dalam particulate composites, material
penambah terdistribusi secara acak atau kurang terkontrol daripada
flake composites.

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

10

Gambar 2.3. Komposit partikel


(Sumber: Yanu Rianto, 2011: 9)
d) Komposit Isian (filled composite)
Filled composites adalah komposit dengan penambahan
material ke dalam matriks dengan struktur tiga dimensi dan biasanya
filler juga dalam bentuk tiga dimensi.

Gambar 2.4. Filled (skeletal) composites


(Sumber: Yanu Rianto, 2011: 9)

e) Komposit Lapisan (laminar composite)


Laminar composites adalah komposit dengan susunan dua
atau lebih layer, dimana masing-masing layer dapat berbeda-beda
dalam hal material, bentuk, dan orientasi penguatannya.

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

11

Gambar 2.5. Laminar Composites


(Sumber: Yanu Rianto, 2011: 10)
2) Berdasarkan matriknya
Berdasarkan bentuk dari matriksnya komposit dibedakan
menjadi sebagai berikut (Rianto, 2011):
a) Komposit Matrik Polimer (Polymer Matrix Composites PMC)
Komposit jenis ini terdiri dari polimer sebagai matriks baik
itu thermoplastic maupun jenis thermosetting. Thermoplastic adalah
plastik yang dapat dilunakkan berulang kali (recycle) dengan
menggunakan panas. Thermoplastic merupakan polimer yang akan
menjadi keras apabila didinginkan. Thermoplastic akan meleleh pada
suhu tertentu, serta melekat mengikuti perubahan suhu dan
mempunyai sifat dapat kembali (reversibel) kepada sifat aslinya, yaitu
kembali mengeras bila didinginkan. Thermoplastic yang lazim
dipergunakan sebagai matriks misalnya polyolefin (polyethylene,
polypropylene),

vinylic

polytetrafluorethylene),

(polyvinylchloride,

nylon,

polyacetal,

polystyrene,

polycarbonate,

dan

polyfenylene.
Thermosets

tidak

dapat

mengikuti

perubahan

suhu

(irreversibel). Bila sekali pengerasan telah terjadi maka bahan tidak


dapat dilunakkan kembali. Pemanasan yang tinggi tidak akan
melunakkan termoset melainkan akan membentuk arang dan terurai
karena sifatnya yang demikian sering digunakan sebagai tutup ketel,
commitThermosets
to user
seperti jenis-jenis melamin.
yang banyak digunakan saat

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

12
ini adalah epoxy dan polyester tak jenuh. Resin polyester tak jenuh
adalah matrik thermosetting yang paling banyak dipakai untuk
pembuatan komposit. Resin jenis ini digunakan pada proses
pembuatan dengan metode hand lay-up.
b) Komposit Matrik Logam (Metal Matrix Composites MMC)
Metal Matrix composites adalah salah satu jenis komposit
yang memiliki matrik logam. Komposit ini menggunakan suatu logam
seperti alumunium sebagai matrik dan penguatnya dengan serat seperti
silikon karbida. Material MMC mulai dikembangkan sejak tahun
1996. Komposit MMC berkembang pada industri otomotif digunakan
sebagai bahan untuk pembuatan komponen otomotif seperti blok
silinder mesin, pully, poros, dan gardan.
c) Komposit Matrik Keramik (Ceramic Matrix Composites CMC)
CMC merupakan material 2 fasa dengan 1 fasa berfungsi
sebagai reinforcement dan 1 fasa sebagai matriks, dimana matriksnya
terbuat dari keramik. Reinforcement yang umum digunakan pada
CMC adalah oksida, carbide, dan nitrid. Salah satu proses pembuatan
dari CMC yaitu dengan proses DIMOX, yaitu proses pembentukan
komposit dengan reaksi oksidasi leburan logam untuk pertumbuhan
matriks keramik di sekeliling daerah filler (penguat).
3) Berdasarkan Strukturnya
a) Struktur laminate
Merupakan jenis komposit yang terdiri dari dua lapis atau
lebih yang digabung menjadi satu dan disetiap lapisnya memiliki
karakteristik sifat sendiri.
b) Struktur sandwich
Komposit sandwich merupakan gabungan dua lembar skin
yang disusun pada dua sisi material ringan (core) serta adhsive.
Fungsi utama skin adalah menahan beban aksial dan bending,
sedangkan core berfungsi untuk menditribusikan beban aksial menjadi
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

13
beban geser pada seluruh luasan yang terjadi akibat pembebanan gaya
dari luar.
2. Rem
a. Pengertian Rem
Rem adalah suatu alat untuk memperlambat atau menghentikan
kendaraan. Tujuan utama dipasang rem pada kendaraan untuk melakukan
kontrol terhadap kecepatan kendaraan untuk menghindari kecelakaan dan
merupakan alat pengaman yang berguna utuk menghentikan kendaraan
secara berkala (Utomo, 2013). Oleh karena itu baik tidaknya kemampuan
rem secara langsung menjadi persoalan yang sangat penting bagi pengemudi
di waktu mengendarai kendaraan. Jadi fungsi rem harus dapat mengatasi
kecepatan kendaraan yang meningkat. Syarat rem yang baik adalah :
1) Dapat bekerja dengan baik dan cepat
2) Beban pada roda yang satu dengan roda yang lain pasti sama
3) Mempunyai daya tahan yang cukup tinggi
4) Mudah disetel dan diperbaiki
Rem bekerja dengan berdasar gaya gesek antara disk atau drum
dengan kampas rem. Gaya gesek merupakan akumulasi interaksi mikro
antar kedua permukaan yang saling bersentuhan.
Menurut Utomo jenis rem yang biasa digunakan dalam kendaraan
yaitu (2013):
1) Menurut penggeraknya :
a) Rem hidrolik, yaitu rem yang bekerja karena adanya fluida yang
bergerak menurut hukum pascal.
b) Rem mekanik, yaitu gerakan pengereman disalurkan ke roda melalui
komponen-komponen mekanis.
2) Menurut konstruksinya :
a) Rem tromol, yaitu tenaga pegereman disalurkan ke tromol (tromol
sebagai alat pengereman).
b) Rem piringan (cakram), yaitu tenaga pengereman yang dihasilkan
commit to(piringan
user sebagai alat pengereman).
disalurkan ke cakram piringan

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

14
3) Menurut media pengereman :
a) Rem dengan media pengereman roda.
b) Rem dengan media pengereman gas buang.
4) Menurut cara pelayanannya :
a) Rem tangan, digunakan untuk menahan kendaraan pada saat sedang
parkir.
b) Rem kaki, pengoperasiannya dengan pedal kaki yang merupakan rem
utama, digunakan untuk mengurangi kecepatan maupun menghentikan
kecepatan.
b. Rem Cakram
Rem cakram merupakan suatu perangkat pengereman yang terdiri
dari cakram yang dibuat dari logam, cakram ini akan dijepit oleh kampas
rem (brake pad) yang didorong oleh sebuah torak yang ada dalam silinder
roda. Proses penjepitan cakram ini diperlukan tenaga yang cukup kuat,
tenaga ini dihasilkan dari sistem hidrolik. Sistem hidrolik ini terdiri dari
master silinder, silinder roda, reservoir dan komponen penunjang lainnya.
Daya pengereman dihasilkan oleh adanya gesekan antara kampas rem dan
cakram (Utomo, 2013).
Sistem hidrolik ini bekerja ketika handel pada master rem kita
tekan maka torak yang ada di master silinder akan mendorong oli rem ke
arah saluran oli, yang selanjutya masuk ke dalam ruangan torak kaliper rem.
Pada bagian sebelah luar torak dipasang kampas rem atau brake pad, brake
pad ini akan menjepit piringan cakram dengan memanfaatkan gaya/tekanan
torak kearah luar yang diakibatkan oleh tekanan oli rem tadi, sehingga efek
gesekan antara cakram dan kampas rem terjadi.

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

15
c. Komponen Rem Cakram
1) Kampas rem

Gambar 2.6. Kampas rem


(Sumber: Fitrianto, 2012: 17)

Kampas rem terdiri dari campuran metalic fiber dan sedikit


serbuk besi. Pada kampas rem umumnya diberi garis celah untuk
menunjukkan tebal kampas rem. Dengan demikian dapat mempermudah
dalam pengecekan keausan kampas rem saat dilakukan pembongkaran
(Utomo, 2013). Pada beberapa kampas rem, penggunaaan metalic plate
dipasangkan pada sisi piston dari kampas rem yang fungsinya untuk
mencegah bunyi saat pengereman.
Kampas rem juga merupakan komponen rem yang utama karena
berfungsi sebagai pencengkeram cakram (disc) agar laju dari kedaraan
bisa dikurangi hingga akhirnya berhenti dengan sempurna, biasanya
terbuat dari bahan komposit atau pasta. Kampas rem yang umum dipakai
dalam kendaraan modern saat ini adalah sesuai jenis remnya, apakah
memakai rem cakram ataukah rem drum/tromol. Untuk kampas yang
dipakai pada rem cakram umumnya disebut dics pad atau brake pad,
sedangkan yang dipakai pada rem tromol sering disebut brake shoe.
Persyaratan bahan untuk kampas rem, baik untuk drum maupun
disc sangatlah sulit. Disamping agar dapat memberikan koefisien gesek
yang tinggi, juga diharapkan tidak terpegaruh oleh temperatur, tekanan,
kecepatan gesek, air, oli dan secara mekanis harus mampu di keling atau
di lem pada sepatunya, tidak menimbulkan suara (noise) akibat
commit to user
pengereman, berharga murah dan mempunyai umur pakai panjang.

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

16
Bahan dasar kampas rem secara umum adalah asbestos
dilengkapi dengan bahan inorganic seperti; logam oksida, sulphat, Mn
atau Co dan silikat. Semuanya dilekatkan bersama dengan berbagai resin
organik, karet dan lain-lain. Kampas rem dari bahan asbestos hanya
memiliki 1 jenis fiber yaitu asbes yang merupakan komponen yang
menimbulkan karsinogenik, sehingga kampas rem ini memiliki
kelemahan pada saat kondisi basah yang mengakibatkan efek licin waktu
pengereman (Haroen dan Waskito, 2009). Kampas rem yang terbuat dari
asbestos hanya bisa bertahan sampai dengan suhu 200C sedangkan non
asbestos bertahan sampai 360C. Namun saat ini banyak digunakan
material sintetis dimana semua bahan dicampur jadi satu termasuk
asbestos fibers, kawat seng dan kuningan dengan menambahkan resin
bahan pengikat. Sehingga dengan demikian lebih mudah untuk
ditambahkan bahan lain guna meningkatkan kemampuan dari kampas
rem.
Bahan kampas terbuat dari bahan non asbestos biasanya terdiri
dari 4 s/d 5 macam fiber diantaranya kevlar, steel fiber, rock
wool,cellulose dan carbon fiber yang memiliki serat panjang. Kampas
rem berbahan non asbetos ini bisa mengatasi efek licin pada pengereman.
Kampas rem non asbestos bisa bertahan sampai suhu 360C sehingga
kemungkinan rem blong relatif kecil. Bahan kampas rem yang tebuat dari
material berkualitas seperti kevlar/aramid. Kevlar ini adalah bahan utuk
membuat baju anti peluru disini kevlar berfungsi utuk meghambat laju
putaran peluru sampai berhenti bukan memantulkan peluru seperti baja.
Inilah yang menyebabkan orang berpendapat non asbetos keras padahal
tidak, buktinya putaran peluru dapat dihentikan apalagi putaran disc
brake pada kendaraan bermotor (Utomo, 2013).
Kemampuan bahan material kampas rem setiap kendaraan
memiliki titik kritis masing-masing. Titik kritis bahan material kampas
rem ditunjukan dengan mengerasnya permukaan kampas rem dan
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

17
menjadi licin. Keadaaan seperti itu yang mengakibatkan kendaraaan
mengalami pengereman kurang maksimal.
2) Disc (cakram)
Pada umumnya cakram atau piringan terbuat dari besi tuang dan
diberi lubang-lubang yang fungsinya untuk ventilasi serta pendingin.
Selain itu, lubang-lubang tersebut juga memjadikan umur kampas rem
lebih panjang dan tahan lama.
3) Kaliper
Kaliper juga disebut cylinder body, yang berfungsi untuk
memegang piston-piston dan dilengkapi saluran dimana minyak rem
disalurkan dari master rem ke silinder kaliper. Komponen-komponen
yang terdapat pada rangkaian kaliper sebagai berikut:
a) Piston
b) Ring piston
c) Karet pelindung
d) Torque plate
4) Saluran minyak rem
Saluran minyak rem menghubungkan master silinder dengan
kaliper, umumnya terbuat dari logam (baja atau tembaga), kecuali
beberapa bagian dari selang karet fleksibel, hal ini disebabkan oleh
pemasangan roda karena adanya gerakan dan getaran yang cukup kuat.
3. Bahan dan Proses Pembuatan Kampas Rem
a. Serbuk Bonggol Jagung

Gambar 2.7. Serbuk Bonggol Jagung


Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan dunia
commit to user
yang terpenting, selain gandum dan padi. Tanaman jagung merupakan salah

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

18
satu jenis tanaman pangan biji-bijian dari keluarga rumput-rumputan.
Berasal dari Amerika yang tersebar ke Asia dan Afrika melalui kegiatan
bisnis orang-orang Eropa ke Amerika. Sekitar abad ke-16 orang Portugal
menyebarluaskannya ke Asia termasuk

Indonesia. Orang Belanda

menamakannya mais dan orang Inggris menamakannya corn.


Potensi energi limbah pada komoditas jagung sangat besar dan
diharapkan akan terus meningkat sejalan dengan program pemerintah dalam
meningkatkan produksi jagung secara nasional. Limbah jagung diantaranya
adalah bonggol jagung. Bonggol jagung dapat dimanfaatkan untuk bahan
pakan tenak dan sebagai bahan bakar konvensional. Pemanfaatan bonggol
jagung sebagai pakan ternak perlu diikuti oleh penambahan bahan lain
sebagai sumber protein mineral, dan vitamin agar ternak dapat tumbuh
optimal. Hal ini menyebabkan pemanfaatan bonggol jagung sebagai pakan
tenak kurang begitu maksimal dan masih banyak yang terbuang sebagai
sampah.
Serbuk bonggol jagung ini mempunyai bentuk yang halus dan
lembut. Serbuk ini sifatnya mudah terbakar dan serbuk bonggol jagung ini
biasanya berfungsi sebagai serat penguat dari sebuah adonan fiberglass
ketika akan dicetak, agar hasilnya menjadi lebih kuat dan tidak mudah
terjadi retakan pada bahan (Sarwanto, 2010)
Kandungan serat yang cukup tinggi menyebabkan bonggol jagung
memiliki pori-pori yang cukup banyak. Bonggol jagung termasuk bahan
selulosa yang bisa menyerap air namun mempunyai sifat cukup kesat
(Purboputro, 2014). Bonggol memiliki sifat-sifat seperti salah satu
bagiannya keras dan sebagian bersifat menyerap (absorbent), juga sifat-sifat
yang merupakan gabungan beberapa sifat, seperti: tidak terjadi reaksi kimia
bila dicampur dengan zat kimia lain (inert), dapat terurai secara alami dan
ringan (Teguh Wikan, dkk., 2007).

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

19
b. MgO (Magnesium Oksida)

Gambar 2.8. Magnesium Oksida


MgO dipilih sebagai bahan pengisi yang juga berfungsi sebagai
bahan abrasif dan penguat karena karakteristik yang baik. Magnesium
oksida adalah logam yang agak kuat, dengan warna putih keperakan
beratnya ringan ( satu pertiga lebih ringan dari alumunium ) dan akan
menjadi kusam bila diungkapkan pada udara. MgO adalah material
berstruktur logam yang sangat ringan dengan berat jenis ( 1,74 gr/cm3 ),
titik lebur ( 650 oC ), titik didih (1097 oC), modulus elastis (110 MPa),
kekuatan luluh (255 MPa), kekerasan (12 VHN). Serbuk MgO merupakan
jenis zat tambahan yang dicampurkan pada pembuatan CMCs, selain itu
juga magnesium oksida sebagai wetting agent yang membuat ikatan antar
Alumina dan Aluminium lebih kuat, tidak mudah terkikis permukaannya.
Komposit dengan penambahan sedikit kadar MgO dengan yang
tanpa serbuk MgO lebih baik dengan yang memakai kadar MgO. Serbuk
MgO walaupun persentasenya kecil memegang peranan penting dalam
meningkatkan kemampuan pembasahan (wettability) dengan mengkodisikan
permukaan padat juga mempunyai kemampuan untuk mengisi setiap
perbedaan ketinggian dari permukaan yang kasar dan menurunkan tegangan
interfacial. Ketahanan aus dapat ditingkatkan melalui penambahan unsure
magnesium oksida. Selain MgO ada beberapa pilihan bahan yang dapat
dijadikan alternatif sebagai zat pengisi seperti Al2O3, SiO2, Fe3O4, Cr2O3,
SiC, ZrSiO4 namun harganya relatif lebih mahal dibandingkan dengan
commit to user
MgO.

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

20
c. Serbuk Kuningan

Gambar 2.9. Serbuk Kuningan


Kuningan adalah logam yang merupakan campuran dari tembaga
dan seng. Tembaga merupakan komponen utama dari kuningan, dan
kuningan biasanya diklasifikasikan sebagai paduan tembaga. Warna
kuningan bervariasi dari coklat kemerahan gelap hingga ke cahaya kuning
keperakan tergantung pada jumlah kadar seng. Seng lebih banyak
mempengaruhi warna kuningan tersebut. Kuningan lebih kuat dan lebih
keras daripada tembaga, tetapi tidak sekuat atau sekeras seperti baja.
Kuningan sangat mudah untuk di bentuk ke dalam berbagai bentuk, sebuah
konduktor panas yang baik, dan umumnya tahan terhadap korosi dari air
garam. Karena sifat-sifat tersebut, kuningan kebanyakan digunakan untuk
membuat pipa, tabung, sekrup, radiator, alat musik, aplikasi kapal laut, dan
casing cartridge untuk senjata api.
Komponen utama kuningan adalah tembaga. Jumlah kandungan
tembaga bervariasi antara 55% sampai dengan 95% menurut beratnya
tergantung pada jenis kuningan dan tujuan penggunaan kuningan. Kuningan
yang mengandung persentase tinggi tembaga terbuat dari tembaga yang
dimurnikan dengan cara elektrik. Yang setidaknya menghasilkan kuningan
murni 99,3% agar jumlah bahan lainnya bisa di minimalkan. Kuningan yang
mengandung persentase rendah tembaga juga dapat dibuat dari tembaga
yang dimurnikan dengan elektrik, namun lebih sering dibuat dari scrap
tembaga. Ketika proses daur ulang terjadi, persentase tembaga dan bahan
lainnya harus diketahui sehingga produsen dapat menyesuaikan jumlah
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

21
bahan yang akan ditambahkan untuk mencapai komposisi kuningan yang
diinginkan.
Komponen kedua dari kuningan adalah seng. Jumlah seng
bervariasi antara 5% sampai dengan 40% menurut beratnya tergantung pada
jenis kuningan.
Kuningan dengan persentase seng yang lebih tinggi memiliki sifat
lebih kuat dan lebih keras, tetapi juga lebih sulit untuk dibentuk, dan
memiliki ketahanan yang kurang terhadap korosi. Seng yang digunakan
untuk membuat kuningan bernilai komersial dikenal sebagai spelter.
Beberapa kuningan juga mengandung persentase kecil dari bahan
lain untuk menghasilkan karakteristik tertentu, Hingga 3,8% menurut
beratnya. Timbal dapat ditambahkan untuk meningkatkan ketahanan.
Penambahan timah meningkatkan ketahanan terhadap korosi, Membuat
kuningan lebih keras dan membuat struktur internal yang lebih kecil
sehingga kuningan dapat dibentuk berulang dalam proses yang disebut
penempaan. Arsenik dan antimony kadang-kadang ditambahkan ke dalam
kuningan yang mengandung seng lebih dari 20% untuk menghambat korosi.
Bahan lain yang dapat digunakan dalam jumlah yang sangat kecil yaitu
mangan, silikon, dan fosfor.
d. Polyester

Gambar 2.10. Polyester


Unsaturated Polyester merupakan jenis resin thermoset yang biasa
disebut dengan polyester saja. Polyester berupa resin cair dengan viskositas
commit topada
user suhu kamar dengan penggunaan
yang relatif rendah dan mengeras

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

22
katalis tanpa menghasilkan gas sewaktu pengesetan seperti banyak resin
lainnya.
Mengenai sifat termalnya karena banyak mengandung monomer
stiren, maka suhu deformasi thermal lebih rendah daripada resin thermoset
lainnya dan ketahanan panas jangka panjangnya adalah kira-kira 110 - 1400
C. Ketahanan dingin adalah baik secara relatif. Sifat listriknya lebih baik
diantara resin thermoset. Mengenai ketahanan kimianya, pada umumnya
kuat terhadap asam kecuali asam pengoksid, tetapi lemah terhadap alkali.
Bila dimasukkan dalam air mendidih untuk waktu yang lama (300 jam),
bahan akan pecah dan retak-retak. Bahan ini mudah mengembang dalam
pelarut, yang melarutkan polimer stiren. Kemampuan terhadap cuaca
sangat baik. Tahan terhadap kelembaban dan sinar ultra violet bila
dibiarkan di luar, tetapi sifat tembus cahaya permukaan rusak dalam
beberapa tahun. Secara luas digunakan untuk konstruksi sebagai bahan
komposit.
Penggunaan resin jenis ini dapat dilakukan dari proses hand lay-up
sampai dengan proses yang kompleks yaitu dengan proses mekanik. Resin
ini banyak digunakan dalam aplikasi komposit pada dunia industri dengan
pertimbangan harga relatif murah, curing yang cepat, warna jernih,
kestabilan dimensional dan mudah penanganannya (Rianto, 2011).
Tabel 2.1. Spesifikasi resin Unsaturated Polyester Yukalac BQTN 157
Item
Berat jenis
Kekerasan

Satuan
Gr/

C
Suhu distorsi panas
%
Penyerapan air
(suhu ruangan)
Kekuatan Fleksural
Kg/
Modulus Fleksural
Kg/
Daya Rentang
Kg/
Modulus rentang
Kg/
%
Elongasi
commit to user
Sumber : Justus Kimia Raya, 1996

Nilai tipikal
1.215
40
70
0.188
9.4
300
5.5
300
1.6

Catatan
Barcol GYZJ
934-1
1 hari

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

23
e. Katalis

Gambar 2.11. Katalis


Cairan ini biasanya berwarna bening dan berbau. Cairan ini
berfungsi untuk mempercepat proses pengerasan adonan, semakin banyak
katalis maka akan semakin cepat adonan mengeras tetapi hasilnya kurang
bagus. Cairan ini jika mengenai kulit akan terasa panas, seperti cairan air
zuur.
f. Proses Kompaksi
Proses kompaksi adalah proses pemampatan serbuk sehingga
serbuk akan saling melekat dan rongga udara antar partikel akan terdorong
keluar. Semakin besar tekanan kompaksi jumlah udara (porositas) diantara
partikel akan semakin sedikit, namun porositas tidak mungkin mencapai
nilai nol. Hasil kompaksi biasa disebut Green Body. Proses pemampatan
adalah suatu proses mesin kompaksi yang memberikan gaya penekanan
uniaksial (Sarwanto, 2010). Pemberian tekanan yang sangat besar terhadap
material serbuk yang bertujuan untuk mendapatkan spesimen benda uji yang
diinginkan, proses kompaksi dapat dilihat pada Gambar 2.12 dibawah ini.

Gambar 2.12. Proses Kompaksi


(Sumber: Fitrianto, 2012: 25)
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

24
Kompaksi dapat dilakukan dengan satu arah sumbu, dua arah
sumbu atau dari segala arah. Kompaksi dua arah ini bisa jadi dengan arah
berlawanan.

Kebanyakan proses kompaksi menggunakan penekanan

(punch) atas dan bawah. Penekanan bawah sekaligus berfungsi sebagai


injektor untuk mengeluarkan benda yang telah dicetak. Permukaan dalam
cetakan (dies) harus halus untuk mengurangi gesekan. Berdasarkan cara
kompaksi dapat dibagi dengan dua cara yaitu :
1) Hot Compaction (Kompaksi Dengan Temperatur)
Proses kompaksi pada dies dimana terdapat dua punch yaitu upper punch
dan lower punc yang berfungsi menekan campuran homogen serbuk
didalam dies dan diberikan temperatur tertentu saat proses kompaksi
berlangsung.

Gambar 2.13. Metode Kompaksi Dengan Temperatur


(Sumber: Fitrianto, 2012: 26)
2) Cold Compaction (Kompaksi Tanpa Temperatur)
Proses pada kompaksi metode cold compaction adalah sama halnya
dengan hot compaction pada punch serta dies yang digunakan, akan
tetapi

tidak diberikan temperatur pada saat proses kompaksi

berlangsung.

Gambar 2.14. Metode Kompaksi Tanpa Temperatur


commit to user
(Sumber: Fitrianto, 2012: 26)

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

25
g. Proses Sintering
Istilah sintering berasal dari bahasa jerman, sinter dalam bahasa
inggris seasal dengan kata cinder yang berarti bara. Sintering merupakan
metode pembuatan material dari serbuk dengan pemanasan sehingga
terbentuk ikatan partikel. Sintering adalah pengikatan bersama antar partikel
pada suhu tinggi. Sintering dapat terjadi dibawah suhu leleh (melting point)
dengan melibatkan transfer atomic pada kondisi padat. Selama proses sinter
akan terjadi penggabungan antar partikel, sehingga saling mengikat. Dengan
adanya proses sinter maka akan terjadi proses penggerakan partikel antar
serbuk pada bagian permukaan serbuk.

Gambar 2.15. Mekanisme Pemadatan Serbuk Dengan Proses Sintering


(Sumber: Sarwanto, 2010: 13)
Keterangan :
(a) Ikatan partikel akibat proses kompaksi ikatan partikel masih rapuh,
ikatan mudah terlepas.
(b) Ikatan partikel setelah disintering, ikatan antara partikel satu dengan
yang lain menjadi satu, ikatan tidak mudah terlepas.
Peralatan yang paling penting dalam proses sintering adalah dapur
sinter. Dapur ini harus dapat mengatur temperetur, waktu pemanasan,
kecepatan pemanasan dan lingkungan dalam dapur itu sendiri. Pemilihan
dapur

sinter

bergantung

pada

penggunaannya.

Secara

umum

pemeliharaannya tergantung pada daerah kerja, ukuran green body, atmosfer


atau lingkungan yang diinginkan dan biaya produksinya.
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

26
Ada dua tipe dapur sinter, yaitu dapur satuan (batch furnace) dan
dapur kontinyu (continuous furnace). Batch furnace diisi material yang akan
disinter lalu temperatur diatur sesuai dengan kebutuhan. Sedangkan dapur
kontinyu dilengkapi dengan sabuk yang terdiri dari jalinan kawat dimana
diletakkan green

body. Sabuk ini bergerak menuju daerah pemanasan,

kemudian ke daerah pendingin. Proses sinter dengan dapur kontinyu


biasanya digunakan untuk memproduksi komponen dalam jumlah banyak.
Sedangkan batch furnace digunakan pada siklus sintering khusus dengan
produksi terbatas. Pemilihan temperature sinter untuk terjadinya ikatan antar
partikel akan sangat tergantung dari jenis material itu sendiri. Tidak ada
kondisi temperature yang tepat untuk proses sinter pada suatu bahan
tertentu, akan tetapi ada ketentuan umum

mengenai sinter padat yang

dilakukan dibawah temperature lebur dari bahan tersebut.


4. Pengujian Spesimen
a. Pengertian Prony Brake
Prony brake merupakan salah satu alat uji performansi pengereman
kampas rem dimana prinsip kerjanya sama dengan pengereman pada rem
cakram sepeda motor. Pada Prony brake ini menggunakan motor penggerak
berupa motor listrik bertenaga 1 HP. Putaran motor ditransmisikan dengan
menggunakan gear dan rantai untuk menggerakan cakram. Pada komponen
pengeremannya menggunakan komponen dari motor yamaha jupiter Z. Pada
rumah kampas rem diberi tambahan lengan yang panjangnya 35 mm yang
bertujuan untuk meneruskan gaya, kemudian gaya pada lengan ayun
tersebut diukur dengan timbangan (massa). Timbangan yang digunakan
adalah timbangan digital merk FORTUNO.
Prinsip kerja Prony Brake adalah dengan melawan torsi yang
dihasilkan dengan suatu gaya pengereman. Besarnya gaya berat diukur
dengan menambahkan suatu lengan ayun, kemudian gaya pada ujung lengan
ayun diukur dengan timbangan (massa). Besarnya torsi didapat dari
mengalikan gaya berat dengan panjang lengan ayun. Jari-jari efektif
to user dengan jangka sorong. Tekanan
pengereman dan diameter commit
piston diukur

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

27
minyak rem dapat dibaca di manometer yang dipasang pada selang minyak
rem. Setelah kita dapat data tersebut, kita masukan ke rumus untuk
mengetahui koefisien gesek kampas rem.

Gambar 2.16. Mesin Prony Brake


b. Rumus Prony Brake
Torsi atau usaha adalah hasil kali antara gaya berat yang dihasilkan
pada timbangan dikalikan dengan jarak antara titik tekan timbangan dengan
poros benda yang bergerak (panjang lengan). Dengan catatan bahwa lengan
ayun tidak ikut berputar. Dari pernyataan berikut maka didapat rumus :

T = w L ................................................................ (1)
Gaya berat yang terukur ditimbangan (w)
Dimana

w = m x g ............................................................... (2)

Untuk menghitung gaya efektif pengereman menggunakan persamaan


dibawah ini :

T = F x R .............................................................. (3)
Dimana

F = T / R ................................................................ (4)

Untuk menghitung gaya yang menekan kampas rem menggunakan


persamaan, yaitu :

0,785 (D+d) ...................................... (5)

Serta koefisien gesek didapat dari :

F =
Dimana

........................................................... (6)

to user
= F / commit
.............................................................
(7)

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

28
Keterangan :
T = Torsi ( Nm )

m = Gaya pada timbangan (kgf)

F = Gaya efektif pengereman ( N )

g = Percepatan grafitasi bumi (m/ )

w = Gaya berat (N)

D = Diameter Piston besar (m)

Pe = Tekanan minyak rem (Pa)

d = Diameter Piston kecil (m)

R = Jari-jari efektif pengereman ( m ) = Koefisien gesek


L = Panjang lengan ( m )
= Gaya yang menekan kampas rem (N)
Sumber : Teguh Arif Prabowo (2008)

B. Penelitian Yang Relevan


Penelitian yang akan dilakukan ini merujuk pada penelitian yang telah
dilakukan sebelumnya.
Fuad Dwi Fitrianto (2012) meneliti tentang pemanfaatan serbuk bonggol
jagung sebagai alternatif bahan friksi kampas rem non-asbestos sepeda motor.
Dalam penelitian ini disimpulkan komposisi yang paling optimal yang mendekati
tingkat kekerasan dan keausan kampas rem non-asbestos merk Indoparts dengan
nilai kekerasan brinell 18,5 kg/mm2 dan nilai keausanya 0,87 10-8 mm2/kg yaitu
pada komposisi 30% serbuk bonggol jagung, 30% serbuk kuningan dan 20%
MgO dan resin. Pada komposisi tersebut nilai kekerasannya sebesar 17,1 kg/mm2
dan nilai keausannya sebesar 0,80 10-8 mm2/kg.
Yudi Agus Sarwanto (2010) meneliti tentang pengaruh penekanan
terhadap sifat fisis dan mekanis bahan kampas rem sepeda motor dengan serat
alam bonggol jagung. Dalam penelitiannya variasi penekanan (kompaksi) yang
digunakan yaitu beban 0,5 ton, 1 ton dan 1,5 ton selama 10 menit, kemudian
disintering dengan suhu 200 oC. Hasil penelitian ini diperoleh nilai kekerasan
yang paling optimal pada penekanan 1,5 ton yaitu 12,71 HB dan nilai keausan
yang paling optimal pada penekanan 1 ton yaitu 0,000000954 mm2/kg pada bahan
30 % Al, 30 % serbuk bonggol jagung, 30 % MgO, 10 % resin. Dari hasil
penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa peningkatan tekanan pada saat proses
commit
to user
kompaksi sangat berpengaruh terhadap
nilai
kekerasan dan nilai keausan.

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

29
Pramuko Ilmu Purboputro (2014) meneliti tentang pengembangan
ketahanan keausan pada bahan kampas rem sepeda motor dari komposit bonggol
jagung. Dalam penelitian ini disimpulkan bahwa untuk pengujian keausan Ogoshi
pada kondisi kering, maka bahan kampas rem mempunyai nilai keausan yang
paling rendah yaitu sebesar 0,00041 mm/kg. Untuk pengujian keausan Ogoshi
kondisi basah dengan air, diperoleh bahwa, bahan kampas rem paling rendah
keausannya yaitu sebesar 0,0062 mm/kg, namu masih lebih tinggi sedikit dari
bahan kampas rem pasaran yaitu sebesar 0,0032 mm/kg.
Dari beberapa penelitian di atas maka penulis mencoba membuat bahan
rem yang terbuat dari serbuk bonggol jagung sebagai alternatif pengganti bahan
serat dan resin polyester sebagai matriksnya. Dengan membuat variasi komposisi
yang lebih beragam maka di harap akan di dapat hasil yang lebih maksimal dan
penulis mencoba lebih teliti lagi dalam pembuatan bahan rem ini agar penelitian
ini dapat bermanfaat bagi masyarakat pengguna kampas rem.

C. Kerangka Berpikir
Kampas rem merupakan bagian dari mekanisme pengereman yang
bersentuhan langsung dengan cakram atau piringan. Bahan kampas rem yang
terdapat dipasaran biasanya bahan asbestos yang berbahaya terhadap kesehatan
dan tidak ramah lingkungan. Penggunaan bahan baku bukan asbes pada kampas
rem ini sangat aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan, memiliki daya
cengkram kuat pada suhu pengereman di atas 300o C dan faktor keamanan yang
lebih baik.
Material komposit adalah perpaduan dari bahan yang dipilih berdasarkan
kombinasi sifat fisik masing-masing material penyusun untuk menghasilkan
material baru dengan sifat yang unik dibandingkan sifat material dasar sebelum
dicampur dan terjadi permukaan antara masing-masing material penyusun
(Purnomo, 2012). Pencampuran komposisi serat yang tepat dalam pembuatan
spesimen diduga akan menyebabkan meningkatnya nilai koefisien gesek serta
sifat mekanik lainnya. Campuran komposisi yang seimbang diduga akan
commit
to user
menghasilkan nilai koefisien gesek
yang tinggi.

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

30
Pada penelitian ini, bahan penyusun utama spesimen komposit terdiri
dari resin polyester sebagai bahan pengikat, serbuk bonggol jagung sebagai
seratnya, kuningan dan MgO sebagai bahan pengisi. Serbuk bonggol jagung dan
serbuk kuningan yang digunakan berukuran mesh 60. Komposisi resin dibuat
tetap yaitu 20 % dan MgO juga dibuat tetap yaitu 20 % mengacu pada penelitian
yang dilakukan oleh Fitrianto (2012) dengan hasil yang paling optimal pada 30%
serbuk bonggol jagung, 30% serbuk kuningan dan 20% MgO dan resin. Dalam
penelitian ini yang menjadi variasi ialah perbandingan fraksi massa antara serbuk
bonggol jagung dan serbuk kuningan.
Serbuk bonggol jagung dan serbuk kuningan mempunyai kandungan dan
karakteristik yang sangat berbeda, sehingga variasi komposisi di antara keduanya
akan menghasilkan nilai koefisien gesek yang berbeda-beda pada spesimen uji
kampas rem. Ada dua variabel pokok yang dipakai dalam penelitian ini yaitu
variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah
variasi komposisi bahan kampas rem. Variabel terikatnya adalah nilai koefisien
gesek dari kampas rem berbahan bonggol jagung. Untuk lebih jelasnya hubungan
antar variabel bebas dan variabel terikat dapat dilihat pada Gambar 2.17. di bawah
ini:

X1
X

X2

X3

Gambar 2.17. Kerangka Berfikir


Keterangan :
X

: Variasi komposisi kampas rem


X1

: Komposisi I (Serbuk bonggol jagung 20%)

X2

: Komposisi II (Serbuk bonggol jagung 30%)

X3

: Komposisi III (Serbuk bonggol jagung 40%)


commit to user
: Nilai koefisien gesek

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

31
D. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah dan kerangka pemikiran di atas dapat
diambil hipotesis yaitu sebagai berikut :
1. Ada pengaruh variasi komposisi bahan kampas rem serbuk bonggol jagung,
kuningan (Cu-Zn), Magnesium Oksida (MgO), dan resin polyester terhadap uji
performansi pengereman (nilai koefisien gesek) kampas rem.
2. Komposisi campuran pada variasi serbuk bonggol jagung dan serbuk kuningan
yang sedang (tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil) diduga mempunyai
nilai koefisien gesek yang paling optimal yang mendekati nilai koefisien gesek
kampas rem merk indoparts.
3. Suplemen materi bahan ajar yang disusun dari hasil penelitian dapat menambah
variasi bahan ajar mata kuliah komposit di Prodi Pendidikan Teknik Mesin
Universitas Sebelas Maret Surakarta.

commit to user