Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PRAKTIKUM

PEMETAAN MODEL SINTESIS KARTOGRAFI (GKP 0108)


ACARA VI
SPATIAL PATTERN (Network Connectivity)

Disusun oleh :
Nama

: Muh Adi Eko R

NIM

: 13/352876/GE/07678

Program Studi : Kartografi dan Penginderaan Jauh


Hari, Tanggal : Senin, 4 April 2016
Waktu

: 13.00 15.00

Asisten

: 1. Yogi Prabowo
2. Valentian Sidik W

LABORATORIUM KARTOGRAFI
PROGRAM STUDI KARTOGRAFI DAN PENGINDERAAN JAUH
FAKULTAS GEOGRAFI UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016

I.

DIAGRAM ALIR
Peta
Rupabumi
Grid Geografis 6x6
Mendeliniasi
Jaringan jalan

Menempatkan node
di ujung dan Membuat
di
jalan baru
persimpangan
sesuai ground distance
yang telah dibuat
Menghitung
jumlah node Peta Jaringan Jalan
dan ruas jalan
Baru
Menghitung
konektivitas jalan
dengan rumus
C=A/3(n-2)

Menghotung
Ground distyance
sudut 20 dan 60

II.

HASIL PRAKTIKUM
1. Transparansi Jaringan jalan dan node (terlampir)
2. Perhitungan Konektivitas Jalan (Terlampir)
3. Perhitungan Ground Distance ( Terlampir)
4. Peta Jaringan Jalan Baru (Terlampir)

III.

PEMBAHASAN
Peta merupakan representasi dari permukaan bumi ke bidang datar. Peta memiliki
berbagai macam objek yang tergambar didalamnya, masing-masing objek memiliki
karakteristik yang berbeda. Garis merupakan salah satu symbol dalam peta, garis
umumnya menggambarkan kenampakan yang berbentuk memanjang seperti sungai
maupun jalan. Objek garis memiliki karaktristik macam-macam terlebih lagi jalan,
karena jalan merupakan objek yang dibuat oleh manusia dan memiliki ukuran yang
berbeda, karakteristik pembuatan jalan juga terdapat aturan, tidak hanya menerobos
atau mengasal dalam pembuatannya, banyak hitungan matematis dan juga
pertimbangan terhadap kondisi alam sekitar.
Jalan identic dengan aksesibilitas. Aksesibilitas merupakan kemampuan untuk
menjangkau suatu tempat. Jalan juga mempunyai fungsi sebagai konektivitas yaitu
menghubungkan tempat-tempat yang ada. Konektivitas jalan dapat dicari dengan
perhitungan yang ada. Tipe jalan yang digunakan adalah simetris planar, karena jalan
yang diambil adalah jalan yang berasal dari peta Rupabumi Indonesia. Jalan pada peta
Rupabumi Indonesia merupakan jalan yang memiliki arah bolak-balik, dan setiap
pertemuan jalan dianggap sebagai persimpangan, padahal dikondisi nyata jalan bias
bersifat 1 arah dan dipersimpangan bias berarti flyover. Karena jalan yang ada
bertiipe simetrik planar maka rumus yang digunakan adalah C=A/3(n-2). Rumus
tersebut digunakan untuk menghitung konektivitas pada tipe jalan simetrik planar, A
dirumus berarti ruas jalan dan n berate node jalan. Dari hasil deliniasi peta RBI
terdapat 40 ruas jalan dan 32 node jalan. Untuk ukuran grid 6x6 grid geografis jumlah
40 ruas merupakan jumlah yang sedikit, hal tersebut disebabkan karena sedikitnya
permukiman yang ada didaerah tersebut, selain itu daerah tersebut konturnya tidak
begitu datar jadi hanya sedikit jalan yang ada didaerah tersebut. Pada daewrah kajian

node yang ada hanya seikit karena persimpangan jalan juga hanya sedikit. Hasil
perhitungan konektivitas menunjukan angka 66,6%. Angka tersebut menunjukan pera
jalan memiliki angka 66,6% sebagai penghubung antrar fasilitas atau wilayah
tertentu. Konektivitas ini hanya dipengaruhi jumlah ruas dan node, semakin banyak
persimpangan dan jalan buntu maka akan semakin banyhak node dan konektivitasnya
semakin jelak, jika ruas jalan semakin banyak danpersimpangannya sedikit maka
konektivitasnya semakin tinggi.
Jalan dibuat dengan berbagai pertimbangan salah satunya adalah kontur. Jalan
dibuat untuk menghubungkan satu lokasi dengan lokasi lain. Untuk menempuh suatu
perjalanan manusia dapat menempuh dengan kendaraan dan juga dengan berjalan.
Karena kendaraan yang dipakai memiliki batas tenaga tertentu maka perlu adanya
perhitungan yang dapat memperingan perjalanan, selain memperingan perjalanan
juga untuk memperkecil resiko kecelakaan. Dari daerah kajian akan dibuat jalan baru
yang

menghubungkan

jalan

yang

sudah

ada

sebelumnya,

untuk

kriteria

menghubungkannya adalah dengan mempertimbangkan sudut kemiringan lereng.


Sudut yang dipertimbangkan adalah 20 dan 60. Sudut yang diambil kecil karena
kemiringan didunia nyata juga tidak besar sehingga akan lebih mudah menempuhnya.
Supaya kemiringan bias kecil maka harus mengorbankan jarak, semakin kecil
kemiringan yang diinginkan maka jaraknya akan semakin besar karena perlu
memotong kontur. Sebelum membuat jalan baru maka perlu menghitung ground
distance. Untuk sudut 20 ground distancenya adalah 2,8 cm sedangkan uyntuk 60
ground distancenya adalah 0,9cm. Dari hasil pengukuran ground distance dapat
diketahui bahwa kemiringan 20 memiliki jarak yang lebih besar, bahkan 3 kali dari
sudut 60. Hasil dari pembuatan jalan baru adalah peta jalan baru, peta ini
menampilkan jalan-jalan baru yang dibuat sesuai dengan kriteria berupa ground
distance. Sebenarnya dalam pembuatan jalan tidak hanya mempertimbangkan kontur
tetapi juga mempertimbangkan aspek lain seperti jenis tanah, dan kerawanan bencana.

IV.

KESIMPULAN
1. Jaringan jalan pada peta RBI adalah simetrik planar karena dianggap semua jalan
memiliki 2 arah dan setiap persimpangan adalah persimpangan biasa.
2. Perhitungan konektivtias dilakukan dengan perhitungan simetik planar dan
menghasilkan angka 66,6%, angka tersebut menunjukan konektivitas yang
ditimbulkan oleh jaringan jalan sebesar itu.
3. Pembuatan jalan baru memerlukan beberapa parameter, salah satunya adalah
mempertimbangkan kontur atau kemiringan lereng, jika kemiringan yang
diinginkan kecil maka jarak yang akan ditempuh semain besar.

DAFTAR PUSTAKA
Kamal, Muhammad. 2010. Petunjuk Praktikum Model SItesis Kartografi. Yogyakarta :
Laboratorium Desain dan Konstruksi Peta, Fakultas Geografi UGM.