Anda di halaman 1dari 3

STUDI KASUS

HUKUM UDARA DAN RUANG ANGKASA


THE LOCKERBIE CASE
Semester Ganjil Tahun Ajaran 2009/2010

Nama
DYAH AYU PARAMITA
NPM
1101 1006 0071

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2009
Kasus Insiden Udara di Lockerbie
antara

Libyan Arab Jamahiriya v. United States of America

Kasus

1. Pada 21 Desember 1988, Pesawat Boeing 747 – 100 terdaftar N739PA yaitu penerbangan harian
Pan American World Airways milik Amerika, meledak di udara pada saat terbang di atas
Lockerbie, Skotlandia, Inggris.
2. Pesawat tersebut terbang dari Bandar Udara Internasional Heathrow, London, ke Bandar Udara
Internasional, J.F. Kennedy di New York, Amerika Serikat dan meledak ketika sebuah 340-450
gram peledak plastik diledakkan di tempat kargo depan.
3. Akibat dari ledakan itu, 271 orang dari 21 negara yang berbeda meninggal dunia. Dan
diantaranya terdapat 189 orang penumpang berkewarganegaraan Amerika Serikat.
4. Melalui investigasi selama 3 tahun yang dilakukan oleh pihak Amerika Serikat, Inggris, kemudian
bergabung juga Perancis, ditemukan fakta bahwa yang bertanggung jawab atas musibah
tersebut adalah 2 (dua) orang intelijen Libya yakni Abdelbase Ali Mohmed Al Megrahi dan Al
Amin Khalifa Fhimah. Dan keduanya adalah warga negara Libya.
5. Libya menolak untuk menyerahkan kedua orang warga negaranya tersebut kepada
pemerintahan Amerika Serikat dan Inggris, karena tidak adanya perjanjian ekstradisi yang
disepakati sebelumnya.
6. Pada tanggal 18 Januari 1992, Libya memohon untuk diadakan pembahasan berdasarkan Article
14 (1) Montreal Convention for the Suppression of Unlawful Acts Against the Safety of Civil
Aviation melalui arbitrase.
7. Pada 21 Januari 1992, PBB melalui resolusinya 731(1992) yang mendesak Libya untuk memehuhi
permintaan para negara-negara tersebut untuk menyerahkan kedua orang pelaku pemboman
tersebut.
8. Pada tanggal 3 Maret 1992, Penduduk Sosialis Libyan Arab Jamajiriyah mengajukan sengketa ini
ke ICJ. Sebagai bentuk protesnya atas “Penafsiran atau tuntutan terhadap Konvensi Montreal –
Provisional Measures” dan perlindungan terhadap negaranya. Konvensi ini juga mengatur
tentang keselamatan penerbangan sipil.
9. Pada 31 Maret 1992, DK PBB kembali mengeluarkan resolusi (Resolusi 748(1992)) yang
menetapkan sanksi kepada Libya karena tidak mematuhi resolusi yang telah dikeluarkan
sebelumnya.
Apakah Resolusi Dewan Keamanan PBB ini sesuai dengan Konvensi Montreal
1971?

Pemerintah Libya sempat mengeluarkan permohonan kepada ICJ untuk menerapkan Konvensi Montreal
dalam penyelesaian sengketa ini, termasuk di dalamnya tidak adanya kewajiban Pemerintah Libya untuk
menyerahkan Abdelbase Ali Mohmed Al Megrahi dan Al Amin Khalifa Fhimah.

Pemerintah Libya berkeinginan untuk memproses kedua orang ini di negaranya sendiri berdasarkan
prinsip aut dedere aut judicare, atau either to surrender or prosecute yang juga tertuang dalam Pasal 5
(1) Konvensi Montreal. Dan berdasarkan Article 14 (1) Konvensi Montreal, Pemerintah Libya
mengajukan permohonan untuk dapat memproses kasus ini melalui ICJ, karena tidak dapat dibentuknya
panel arbitrase untuk penyelesaian sengketa.

Kedua Resolusi Dewan Keamanan PBB tersebut memang bertentangan dengan Konvensi Montreal 1971.
Namun hal ini tetap terlaksana karena adanya tekanan yang cukup tinggi dari masyarakat internasional
atas Libya.

Dalam putusan dari para Hakim di ICJ, terdapat beberapa pendapat yang menyatakan bahwa di dalam
kasus ini terdapat perselisihan hukum dan forum, antara ICJ dan Dewan Keamanan PBB, di mana
kepentingan politik pun dapat menjadi hukum.

Dan akhirnya, Libya menyerahkan Ali Mohmed Al Megrahi dan Al Amin Khalifa Fhimah ke Belanda untuk
diadili menggunakan hukum Skotlandia.