Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN KUNJUNGAN INDUSTRI (FIELDTRIP)

DI PT NIPPON INDOSARI CORPINDO TBK SEMARANG

EDWARD MARHANNES PURBA


J3E114085

PROGRAM KEAHLIAN SUPERVISOR JAMINAN MUTU PANGAN


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2016

DAFTAR ISI
1 PENDAHULUAN................................................................................................1
1.1 Latar Belakang...............................................................................................1
1.2 Tujuan.............................................................................................................4
2 METODE KERJA.................................................................................................2
2.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Kunjungan Industri.....................................2
2.2 Pengumpulan Data.........................................................................................2
2.3 Metode Kerja..................................................................................................2
3 TINJAUAN PERUSAHAAN...............................................................................3
3.1 Sejarah Perusahaan.........................................................................................3
3.2 Produk Perusahaan.........................................................................................3
4 PROSES PRODUKSI...........................................................................................4
4.1 Bahan Baku....................................................................................................4
4.1.1 Tepung Terigu..........................................................................................4
4.1.2 Ragi..........................................................................................................5
4.1.3 Garam......................................................................................................5
4.1.4 Gula..........................................................................................................5
4.1.5 Cairan.......................................................................................................5
4.1.6 Lemak......................................................................................................5
4.2 Proses Produksi..............................................................................................6
4.1.7 Susu dan Telur.........................................................................................6
4.2.1 Sponge Mixing.........................................................................................6
4.2.2 Fermentasi................................................................................................6
4.2.3 Dough Mixing..........................................................................................7
4.2.4 Divider.....................................................................................................7
4.2.5 Rounding..................................................................................................7
4.2.6 Proofing...................................................................................................7
4.2.7 Fermentasi Akhir.....................................................................................8
4.2.8 Pemanggangan (Baking)..........................................................................8
4.2.9 Glazing.....................................................................................................8
4.2.10 Pendinginan...........................................................................................8
4.2.11 Packing...................................................................................................8
4.2.12 Pengecekan............................................................................................9
5 SIMPULAN DAN SARAN..............................................................................9
5.1 Simpulan.........................................................................................................9
5.2 Saran...............................................................................................................9

1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Karbohidrat merupakan salah satu zat gizi yang dapat menghasilkan energi
sebesar 4 kalori dalam tiap gramnya. Energi yang dihasilkan karbohidrat setara
dengan energi yang dihasilkan protein dan lebih kecil dari pada energi yang
dihasilkan oleh lemak dengan energi yang dihasilkan sebanyak 9 kalori dalam tiap
gramnya. Karbohidrat menjadi zat gizi yang banyak dikonsumsi sehari-hari
sebagai bahan makanan pokok. Hal ini disebabkan sumber bahan makanan yang
mengandung karbohidrat lebih murah harganya dibandingkan sumber bahan
makanan kaya lemak maupun protein.
Karbohdirat di negara berkembang terutama negara tropis dapat di temui
dalam bentuk nasi sebagai makanan pokok. Selain nasi, karbohidrat dapat ditemui
dalam bentuk makanan olahan roti. Roti termasuk makanan yang praktis sehingga
hampir semua masyarakat membutuhkannya, terutama untuk masyarakat dengan
tingkat kesibukan tinggi. Roti merupakan makanan yang menyehatkan dan dapat
memberikan rasa kenyang lebih lama karena memiliki indeks glikemik yanag
rendah.
Titik kritis dalam pengolahan roti ialah proses fermentasi. Proses fermentasi
menjadi tolak ukur dari mutu suatu olahan roti. Berbagai macam proses
pengolahan ini membuat perusahaan-perusahaan dalam bidang pangan tertarik
membuat roti dengan kualitas yang berbeda di tiap perusahaannya. Perbadingan
proses pengolahan dan fermentasi inilah yang menjadi bagian yang sering
digunakan perusahaan untuk mendapatkan kualitas produk roti yang baik dan
bernilai jual tinggi.
Permintaan akan roti yang semakin meningkat, membuat industri roti di
Indonesia semakin berkembang. PT Nippon Indosari Corpindo adalah produsen
roti manis dan roti tawar terbesar di Indonesia yang telah menerapkan HACCP
(Hazard Analysis Critical Control Point) pada proses produksinya. Perusahaan ini
memiliki produk utama roti dengan merek Sari Roti yang proses produksinya
sudah terjamin kehieginisannya karena prinsip 3H (Halal, Health, Hygienic) yang
telah diterapkan oleh perusahaan.
1.2 Tujuan
Tujuan khusus pelaksanaan kunjungan industry (fieldtrip) ini adalah untuk
memberikan pengetahuan kepada mahasiswa tentang teknologi pengolahan roti
secara langsung berhadapan dengan ruang produksi. Pengetahuan mahasiswa
bertambah dari cara pengolahan dimulai dari tahap persiapan bahan hingga
pengemasan produk.

2 METODE KERJA
2.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Kunjungan Industri
Pelaksanaan kunjungan industri dilaksanakan di PT Nippon Indosari
Corpindo yang berlokasi di Jalan Tugu Jaya III No. 1 Randu Garut Semarang pada
hari Jumat tanggal 5 Februari 2016. Kegiatan kunjungan dilaksanakan pada jam
kerja, yaitu pukul 08.00-10.00 WIB.
2.2 Pengumpulan Data
Metode pelaksanaan kunjungan industri yang dilakukan adalah
mengumpulkan data berdasarkan pengamatan selama kunjungan, penjelasan staff
industri, dan studi pustaka untuk mendapatkan kelengkapan data. Pengamatan
berlangsung selama proses produksi.
Pengumpulan data yang dilakukan selama kegiatan kunjungan industri
adalah :
a. Pengumpulan data primer
Pengumpulan data primer dilakukan berdasarkan penjelasan dari staff
perusahaan yang memandu selama proses kunjungan. Pengumpulan dilakukan
dengan cara melihat, mengamati, dan mencatat setiap proses produksi hingga
proses pengemasan.
b. Pengumpulan data sekunder
Pengumpulan data sekunder diperoleh dengan melakukan studi pustaka dari
beberapa referensi yang mendukung. Sumber studi pustaka yang dapat dikaji
berasal dari buku, media elektronik seperti internet yang terkait dengan teknologi
pengolahan pangan.
2.3 Metode Kerja
1. Mempelajari proses produksi pengolahan roti
2. Mengamati proses produksi pengolahan roti
3. Mengamati teknologi pengemasan roti

3 TINJAUAN PERUSAHAAN
3.1 Sejarah Perusahaan
Perusahaan yang digagas oleh tiga ahli mendirikan perusahaan yang
bernama PT Nippon Indosari Corporation pada tahun 1995 dengan sistem
penanaman modal asing. Pada tahun 1996, Perseroan beroperasi secara komersial
dengan memproduksi roti Sari Roti dan mengoperasikan pabrik pertama di
Cikarang, Jawa Barat. Pada tahun 2001, Meningkatkan kapasitas produksi dengan
menambahkan dua lini mesin (roti tawar dan roti manis). Pada tahun 2003,
Merubah nama Perseroan dari PT Nippon Indosari Corporation menjadi PT
Nippon Indosari Corpindo. PT Nippon Indosari Corpindo melebarkan sayap
dengan mengoperasikan pabrik kedia di Pasuruan, Jawa Timur pada tahun 2005.
Pembentuk pabrik ini didasarkan oleh permintaan konsumen yang semakin tinggi
dan ketidakmampuan pabrik pertama di Cikarang untuk memenuhi permintaan
konsumen di wilayah Jawa Timur dan Bali. Pada tahun 2008, Perseroan
mengoperasikan pabrik ketiga di Cikarang, Jawa Barat. Pada tahun 2010,
Perseroan melakukan Penawaran Umum Saham Perdana pada tanggal 28 Juni
2010 di Bursa Efek Indonesia dengan kode emiten ROTI. Pada tahun 2011
Perseroan mengoperasikan dua pabrik baru di Semarang (Jawa Tengah) and
Medan (Sumatera Utara). Pada tahun 2012, Perseroan mengoperasikan pabrik
keenam di Cibitung (Jawa Barat), serta menambahkan masing-masing satu lini
mesin pada tiga pabrik yang telah ada di Pasuruan, Semarang dan Medan. Pada
tahun 2013, Perseroan mengoperasikan dua pabrik baru di Makassar (Sulawesi
Selatan) dan Palembang (Sumatera Selatan). Pada tahun 2014, Perseroan
mengoperasikan dua pabrik berkapasitas ganda di Purwakarta dan Cikande.
3.2 Produk Perusahaan
PT Nippon Indosari Corpindo memproduksi roti olahan seperti white Bread,
Sweet Bread, Cakes, dan Tepung Roti. White bread terdiri dari produk roti tawar
spesial 6 Slices, roti tawar, roti tawar gandum, roti tawar kupas, roti tawar coklat
chip, roti tawar pandan, sandwich isi (coklat, krim peanut), roti plain rolls, roti
burger bun, sedangkan sweet bread terdiri dari roti isi krim (coklat vanilla, moka,
keju, coklat), roti kasur keju, roti sobek isi (coklat nanas, coklat blueberry, coklat
sarikaya, coklat strawberry, coklat keju, dan coklat), roti isi chicken teriyaki.
Produk lainnya adalah cake berupa roti chiffon cup (Strawberry, pandan, dan
coklat).

4 PROSES PRODUKSI
Roti merupakan produk makanan sederhana yang terbuat dari bahan utama
tepung terigu. Roti memiliki beberapa macam jenis, yaitu roti manis dan roti
tawar. Prinsip pembuatan roti, baik roti tawar maupun roti manis adalah
penerapan teknologi fermentasi oleh khamir Saccharomyces cereviceae. Mutu roti
ditentukan berdasarkan banyaknya jumlah gas karbon dioksida yang dihasilkan
oleh ragi selama proses fermentasi. Jumlah produksi gas karbon dioksida
ditentukan berdasarkan mutu bahan baku penyusun roti. Banyaknya jumlah
karbon dioksida berpengaruh terhadap besarnya adonan roti mengembang.
Selama proses fermentasi, khamir akan memecah karbohidrat dari tepung
terigu menjadi gas karbon dioksida dan alkohol. Alkohol yang dihasilkan dapat
mempengaruhi aroma dan flavor roti. Penambahan lemak pada pembuatan roti
dapat memperbaiki tekstur roti dan meningkatkan aroma dan flavor roti.
4.1 Bahan Baku
Untuk menghasilkan produk yang berkualitas, salah satu faktor yang
sangat berperan adalah pemilihan bahan baku. Bahan baku yang berkualitas akan
memberikan hasil dengan kualitas yang cukup baik.
Dalam proses pembuatan SARI ROTI, bahan baku dipilih melalui proses
seleksi yang ketat sesuai standar yang telah ditetapkan di internal perusahaan.
Bahan baku yang terpilih harus memenuhi syarat dapat memberikan hasil berupa
roti yang berkualitas, baik dari segi penampakan, tekstur, aroma, hingga rasa.
Selain itu, bahan baku yang digunakan harus memenuhi persyaratan halal agar
dapat menjamin status kehalalan roti yang dihasilkan.
Bahan baku yang dikirim oleh Pemasok diperiksa terlebih dahulu melalui
proses yang cukup ketat, dengan tujuan agar Pemasok yang telah terpilih dapat
menjaga konsistensi kualitas dari bahan baku yang diterima. Bahan baku yang
diterima selanjutnya disimpan di gudang bahan baku sesuai dengan persyaratan
standar penyimpanan masing-masing bahan.
Pada saat proses pembuatan roti akan dimulai, bahan baku ditimbang sesuai
dengan standar formulasi yang telah ditetapkan. Operator yang bertugas harus
memastikan bahwa masing-masing bahan baku yang digunakan telah ditimbang
dengan benar agar dapat menjaga konsistensi kualitas roti yang dihasilkan.
Bahan baku yang digunakan untuk membuat roti adalah tepung terigu tinggi
protein. Selain tepung terigu, formulasi lainnya adalah ragi, gula, lemak, air,
garam, susu, dan telur.
4

4.1.1 Tepung Terigu


Tepung terigu adalah tepung/bubuk halus yang berasal dari biji gandum, dan
digunakan sebagai bahan dasar pembuat roti yang mengandung protein dalam
bentuk gluten, protein yang tidak larut dalam air dan elastis, yang berperan
menjadi kerangka roti. Gluten inilah yang dapat membuat roti berkembang baik.
Kerja sama gluten dengan ragi dan pati, akan membentuk jaringan sel yang cukup
elastis untuk membuat roti mengembang dan kuat menahan gas yang terbentuk
oleh ragi, sehingga adonan tidak mengempis kembali. Berdasarkan proteinnya,
tepung terigu dibagi menjadi 3 jenis, yaitu tepung terigu protein tinggi, tepung
terigu protein sedang, dan tepung terigu protein rendah. Masing-masing jenis
tepung terigu memiliki fungsi masing-masing. Makin tinggi kandungan protein
dalam tepung, makin baik hasil produksinya. Untuk hasil roti yang lembut,
berserat dan elastis, dapat mengkombinasikan tepung terigu protein tinggi dengan
sedang.
4.1.2 Ragi
Pada proses pembuatan roti, jenis ragi yang digunakan adalah ragi
Saccharomyces cereviceae. Ragi atau fermen merupakan zat yang menyebabkan
fermentasi karbohidrat pada tepung dan menghasilkan gas karbon dioksida yang
dapat menyebabkan roti mengembang serta alkohol yang berperan dalam
membentuk aroma roti.
4.1.3 Garan
Garam berfungsi memberi aroma dan rasa, mengatur kadar peragian dan
memutihkan warna roti. Sedikit garam pada roti (sekitar 10-12% dari jumlah
tepung terigu) dapat meningkatkan kekuatan gluten sehingga adonan roti lebih
mudah diuleni dan mencegah ragi berkembang biak terlalu cepat. Sifat garam
dapat menurunkan kadar aw, sehingga roti memiliki umur simpan yang lebih
lama.
4.1.4 Gula
Berfungsi sebagai energi bagi ragi untuk memulai aktivitasnya sehingga
proses pengembangan menjadi lebih cepat, memberi rasa manis, membuat roti
lebih empuk dan memberi warna kulit roti dengan proses karamelisasinya.
4.1.5 Cairan
Cairan dapat berupa air putih, air es dan susu cair, atau kombinasi
ketiganya. Cairan yang dipakai dengan cara dimuaikan dapat membantu
melarutkan dan membagi ragi ke seluruh bagian tepung dan untuk pembentukan
gluten.
4.1.6 Lemak
Lemak termasuk komponen penting dalam pembuatan roti. Lemak dapat
berupa margarin, mentega atau shortening. Jika menggunakan mentega, pilih yang
tawar, karena mentega yang tinggi garam (salted butter) dapat mematikan kerja
5

ragi. Lemak-lemak tersebut dapat memperbaiki tekstur, aroma, dan falvor dari roti
yang dihasilkan. Penambahan lemak dapat memperkuat jaringan gluten,
menghambat terjadinya pelepasan gas karbon dioksida sehingga roti mampu
berkembang secara potimal, berserat lunak, dan tingkat elastisitas roti lebih baik.
Roti tidak akan cepat mengeras dan juga tidak melunak. Lemak juga dapat
memberi warna cerah dan membuat roti lebih tahan lama.
4.1.7 Susu bubuk dan Telur
Susu bubuk dapat berupa susu bubuk full cream atau pun susu skim.
Membuat struktur roti makin kokoh, kuat dan stabil serta menaikkan rasa dan nilai
gizi. Susu dapat digunakan sebagai pengikat air, pembentuk flavor, memberikan
porous karena susu mengandung asam amino kasein, dan membantu memberikan
warna kecoklatan pada roti karena adanya gula pereduksi laktosa. Susu memiliki
kandungan protein dan lemak, sehingga penambahan susu diharapkan dapat
meningkatkan nilai gizi dari roti. Telur umumnya yang dipakai hanya kuningnya,
karena sifatnya serupa dengan telur utuh. Saat pengulenan, kuning telur akan
beremulsi sehingga mampu mengentalkan dan mengikat bahan lain menjadi
adonan yang kompak dan seragam. Sedangkan saat pemanggangan, protein
kuning telur akan naik ke permukaan, dan membentuk kulit yang lunak, empuk
dan kecoklatan.

4.2 Proses Produksi

Proses produksi yang dilakukan di pabrik Sari Roti meliputi penimbangan


bahan baku, pencampuran dengan alat mixer. Dalam proses pembuatan roti,
dikenal beberapa metode proses pembuatannya. Mulai dari proses yang hanya
memerlukan satu kali pencampuran seperti straight dough mixing dan no time
dough mixing, hingga proses pembuatan roti yang memerlukan dua kali proses
pencampuran seperti sponge and dough mixing.
Masing-masing metode memiliki kelebihan dan kekurangan. Dalam proses
pembuatan roti, SARI ROTI menggunakan metode sponge and dough mixing.
Metode ini memiliki kekurangan berupa proses yang diperlukan memerlukan
waktu yang lebih lama, namun kelebihannya adalah dapat memberikan roti
dengan kualitas terbaik, baik dari segi tekstur, kelembutan, aroma, dan rasa dari
roti yang dihasilkan.

4.2.1 Sponge Mixing


Proses Sponge mixing merupakan tahapan pertama dalam pembuatan roti
produk SARI ROTI. Pada proses pencampuran pertama atau sponge mixing,
sebagian bahan baku dicampurkan terlebih dahulu untuk menghasilkan adonan
biang. Tujuan pencampuran pertama adalah untuk membuat dan mengembangkan
daya rekat. Pada proses pencampuran pertama atau sponge mixing, sebagian
bahan baku dicampurkan terlebih dahulu untuk menghasilkan adonan biang.
Bahan baku yang telah tercampur selanjutnya disimpan pada tempat khusus untuk
kemudian disimpan pada ruang fermentasi.
4.2.2 Fermentasi
Pada proses fermentasi ini, ragi yang ada pada adonan akan bekerja
memecah karbohidrat yang terdapat pada tepung terigu dan beberapa bahan
lainnya menjadi alkohol dan beberapa jenis asam. Alkohol dan asam tersebut yang
akan berperan besar terhadap aroma dan rasa khas dari adonan roti yang
dihasilkan.
Pada proses fermentasi ini juga dihasilkan gas CO 2 yang kemudian
terperangkap di dalam adonan sehingga volume adonan akan mengembang
beberapa kali lipat dari volume adonan awal.
Proses fermentasi ini berlangsung antara 3 hingga 4 jam pada ruangan
khusus yang dijaga suhu dan kelembabannya agar proses fermentasi dapat
berlangsung secara sempurna.

4.2.3 Dough Mixing


Setelah fermentasi, adonan kembali masuk ke mesin mixer untuk
pengadukan kedua atau dough mixing.Doughmixing adalah tahap pencampuran
kedua.Tahapan ini bertujuan untuk memastikan bahwa adonan benar-benar kalis.
Gula, garam, susu, dan bahan-bahan yang dapat meningkatkan cita rasa
ditambahkan pada tahapan ini. Adonan dipastikan sudah kalis, elastis, dan tidak
lengket pada mesin untuk dapat dikatakan cukup untuk proses selanjutnya. Pada
proses pencampuran kedua ini, adonan yang dihasilkan harus dipastikan telah
dalam kondisi kalis, elastis, dan tidak lengket pada mesin. Kedua hal ini
merupakan indikator utama bahwa adonan roti telah cukup baik dan dapat
dilanjutkan ke proses selanjutnya.
4.2.4 Divider
Sebelum proses divider (pemotongan khusus), adonan roti diistirahatkan
selama beberapa menit untuk menstabilkan suhu adonan dan untuk menjagai
kualitas adonan. Setelah waktu pengistirahatan selesai, dilanjutkan proses divider
untuk membagi jenis adonan. Adonan dibagi menjadi beberapa macam,
bergantung jenis roti yang akan dihasilkan sesuai dengan standar berat yang telah

ditetapkan untuk setiap produk. Adonan yang dibagi berasal dari adonan yang
sama.
4.2.5 Rounding
Rounding berfungsi untuk mengasilkan permukaan adonan yang halus dan
rata, sehingga gas CO2 dalam adonan tidak dapat keluar dan dapat
mempertahankan pengembangan adonan.
4.2.6 Proofing

Adonan selanjutnya diistirahatkan selama beberapa menit untuk


menstabilkan suhu adonan dan untuk menjaga kualitas adonan.
Selanjutnya adonan roti dipotong sesuai dengan standar berat yang telah
ditetapkan untuk setiap produk menggunakan mesin pemotong khusus (divider)
dan kemudian dibulatkan secara otomatis menggunakan rounder.
Adonan yang telah dipotong dan dibulatkan tersebut selanjutnya akan
masuk ke dalam intermediate proofer. Proses ini bertujuan agar adonan lebih
relaks sehingga adonan menjadi lebih lembut dan mudah untuk dibentuk pada
proses selanjutnya.
Untuk menghasilkan adonan roti dengan ukuran pori yang seragam,
adonan dipipihkan terlebih dahulu. Pada proses ini gas yang terdapat pada
kantung udara akan dikeluarkan sehingga adonan akan memiliki pori-pori yang
halus dan seragam
Adonan selanjutnya dibentuk sesuai dengan bentuk yang dikehendaki.
Bentuk dapat berupa bentuk bulat, oval, bentuk seperti tabung, atau bentuk-bentuk
lainnya. Khusus untuk roti manis, sebelum dibentuk biasanya adonan akan diisi
terlebih dahulu dengan isian roti.

4.2.7 Fermentasi Akhir


Produk diletakkan pada loyang khusus dan ditempatkan pada rak khusus
dan dimasukkan kedalam ruang fermentasi akhir. Proses fermentasi akhir ini
memerlukan waktu yang lebih singkat dari fermentasi awal. Fermentasi akhir ini
akan menghasilkan roti yang lebih mengembang dan sesuai dengan standar yang
dimiliki.
4.2.8 Pemanggangan (Baking)
Proses pemanggangan adonan (baking) PT Nippon Indosari Corpindo
menggunakan mesin tunnel oven yang memiliki pajang 12 meter selama kurang
lebih 10 menit hingga 30 menit. Lamanya waktu pemanggangan tergantung jenis
roti yang akan dihasilkan. Pemanggangan menjadi salah satu tahapan yang kritis
dan harus dijaga ketat agar dihasilkan roti yang dengan tingkat kematangan
sempurna.
8

4.2.9 Glazing
Glazing adalah tahapan untuk membuat permukaan roti mengkilat. Bahan
yang biasa digunakan untuk proses glazing sama seperti roti-roti pada umumnya,
yaitu putih telur dan mentega. Tepat sebelum matang, adonan dikeluarkan untuk
diolesi bahan glazing. Setelah diolesi, adonan dimasukkan ke dalam oven.
4.2.10 Pendinginan
Roti yang telah matang selanjutnya akan dikeluarkan dari loyang
(depanning) dan dilakukan proses pendinginan (cooling) padacooling
tower terlebih dahulu sebelum roti siap untuk dikemas. Proses pendinginan ini
bertujuan agar uap air yang terdapat pada roti dapat keluar terlebih dahulu secara
optimal. Apabila roti dikemas dalam kondisi yang masih panas akan lebih
berpotensi menyebabkan roti mudah berjamur.
Roti yang baru keluar dari oven juga umumnya kondisinya masih lembek.
Khusus untuk roti tawar, jika roti tersebut langsung dipotong, maka roti akan lebih
mudah rusak sehingga bentuknya tidak sesuai dengan standar yang telah
ditetapkan.
Setelah mencapai suhu yang telah ditetapkan, roti selanjutnya siap untuk
dikemas. Khusus untuk roti tawar, roti akan dipotong terlebih dahulu. Selain itu
juga dilakukan proses sortir untuk memastikan bahwa roti yang akan dikemas
adalah roti yang telah memenuhi persyaratan mutu yang ditetapkan.

4.2.11 Packing
Tahapan selanjutnya yaitu pengemasan.Pada kemasan Sari Roti dilengkapi
dengan kode produksi dan label baik digunakan sebelum.Untuk roti tawar,
kemasan dilengkapi dengan kwiklok yang memudahkan konsumen untuk menjaga
keawetan dari roti. Kemasan kwiklok ini merupakan salah satu strategi perusahaan
untuk memudahkan konsumen dalam penyimpanan roti.
4.2.12 Pengecekan
Roti yang sudah dikemas kemudian memasuki tahapan pengecekan, baik
kemasan maupun produknya. Roti yang tidak memenuhi standar akan dilakukan
reject dan akan diberikan kepada pihak ketiga untuk pakan ternak. Pengecekan
kemasan meliputi ketepatan seal dan kelengkapan atribut kemasan. Selanjutnya
roti akan memasuki alat metal detector untuk memastikan bahwa roti tidak
terkontaminasi oleh logam. Hal ini bertujuan agar roti yang akan dijual kepada
konsumen bebas dari kontaminasi fisik dan tidak membahayakan konsumen.
Proses metal detecting ini juga merupakan salah satu bagian implementasi sistem
HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Point) pada proses pembuatan
SARI ROTI.

5 SIMPULAN DAN SARAN


5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil pengamatan di industri roti PT NIPPON INDOSARI
CORPINDO untuk mendapatkan produk roti yang berkualitas dimulai dari
pemilihan bahan baku yang terbaik hingga proses pengolahan dengan pengawasan
ketat. Peran di setiap lini akan menjamin mutu dari produk SARI ROTI, sehingga
diperlukan teknologi yang modern dan juga quality control yang berkualitas.
Produk yang berkualitas merupakan jaminan bagi SARI ROTI untuk tetap
menjadi penguasa produksi roti.
5.2 Saran
Berdasarkan hasil pengamatan, saran yang dapat diberikan adalah kontrol
disetiap lini area produksi untuk menjamin mutu produk tetap berkualitas. Kontrol
yang baik dapat tercipta dengan pengawasan tenaga ahli yang berkompeten dalam
bidangnya.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Sejarah PT. Nippon Indosari Corpindo. Diunduh pada 25 Februari 2016.
Tersedia pada : [www.sariroti.com]

10